Boku wa Exorcist

Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media yang punya

Warning : Typo, alur kecepetan, OC.

.

.

.

Chapter 14

Keluarga Maroon.

Kini kami sedang dalam kereta menuju Halloween City tempat tinggal Kaito, karena ingin mencobanya, kini kami sedang menaiki kereta untuk jarak yang jauh.

"Aku bahkan tidak menyangka kalau hantunya beneran datang." Kataku, kini kami berada di gerbong restoran, masih ada waktu 10 jam lagi hingga sampai ke Halloween City.

"Habisnya, Rinny sih tiba-tiba ingin melakukan hal itu, datang betulan kan?" Kata Len.

"Lagipula kita juga kan yang tidak menyadari siapa yang menghitung dari satu sampai empat, dan tiba-tiba saja kita sendiri yang meneruskannya." Kata Kaito.

"Jadi menurut pengalaman kita di lorong itu, aula keluarga tempat Kaito ada petunjuk?" Kata Rin-chan. Len hanya menyahuti dengan mengangguk.

"Aku juga belum tahu apa-apa tentang aula di rumahku, aku jarang berada di sana, mungkin bisa bertanya kepada kedua orangtuaku untuk lebih jelasnya, mungkin sesuatu yang di tinggalkan oleh Akitou-jii." Kata Kaito.

"Mungkin ada ruang rahasia milik Akitou-jii-san. Sama seperti milik kedua orangtua Miku-chan." Kata Rin-chan menduga.

"Jadi bolehkah kami menggeledah rumahmu?" Tanya Len. Kaito hanya mengangguk.

"Kalian bebas melakukan apapun, tetapi tolong hiraukan ketiga kakak dan kedua adikku. Kemungkinan yang memiliki kelakuan normal hanya Kaiko-chan. Sedangkan adikku, Nigaito, mulai terpengaruh kakak-kakakku yang lainnya." Kata Kaito. "Sebaiknya Miku berhati-hati deh kesana." Kata Kaito kepadaku.

"Eh? Kenapa aku?" Tanyaku.

"Kau belum pernah kesana, ketiga kakakku akan menggila untuk mengetahui tentang dirimu, mereka bahkan sungguh takjub aku bisa menemukan seorang gadis untuk aku pacari, yang mereka tahu, aku ini Brother Complex." Kata Kaito pundung yang membuatku menahan tawa.

"Jadi ketiga kakakmu juga Brother Complex?" Tanyaku.

"Setengah sih. Mereka juga memiliki pasangannya masing-masing." Kata Kaito sambil menggaruk kepalanya.

"Aku pasti berhati-hati kok Kaito." Kataku sambil tersenyum.

"Jadi menurut buku yang di temukan Lenny, orang yang di temui Lucifer saat itu persis dengan Meiko-san?" Tanya Rin-chan. "Benar juga di album ini, adalah foto setiap kelas dengan wali kelas dan kepala sekolah, dia sedikit mencurigakan, lihat sudah beberapa tahun ini dia tidak menua, juga tidak ada jeda dimana dia menjadi reinkarnasi." Kata Rin-chan lagi.

"Tetapi, kita tidak bisa menuduhnya. Tidak ada bukti kalau Meiko-san yang ini adalah orang yang sama yang di temui Lucifer dulu. Jadi wujudnya dulu seperti apa?" Tanyaku.

"Di buku ini, lihatlah orang ini." Kata Len sambil membuka bukunya, kami sudah selesai makan beberapa menit yang lalu. "Di sini Sakine Meiko dan Ryozaburo Genza. Lucifer menyamar menjadi seorang bernama Ryozaburo Genza." Kata Len. Aku hanya mengangguk.

"Siapa nama lengkap Meiko-san? Aku lupa." Kata Kaito, Rin-chan langsung menjitak kepala Kaito. "Ittai! Kau ini ada apa Rin?" Tanya Kaito.

"Kau ini dasar pelupa, nama marga Meiko-san itu.. Itu.." Kata Rin-chan kemudian terhenti.

"Ayo, siapa nama marganya? Bukankah tadi kau menghinaku?" Kata Kaito.

"Kau kan anak angkatnya, tapi margamu tetap menjadi Hatsune?" kata Len kepadaku.

"Iya juga, saat itu Meiko-san tidak menginginkanku untuk mengubah nama marganya, jadi aku tetap menjadi penerus Hatsune." Kataku. "Kalau tidak salah, namanya, Sa.. Sa.. kenapa aku bisa tidak ingat?" Tanyaku menggosok kepalaku frustasi. "Kan aku sudah lama mengenal Meiko-san, kenapa aku bisa lupa nama marganya?" Kataku.

"Apa menurutmu, Meiko-san adalah reinkarnasi dari gadis di foto ini? Umurnya sama loh." Kata Rin-chan, aku hanya menggeleng, begitu juga yang lainnya.

"Entahlah, aku juga tidak tahu, kemungkinan sih iya." Kata Kaito.

"Wah lihat! Kita sudah ada di tepi pantai!" Kata Len sambil melihat keluar, kami juga melihat keluar, jalurnya keretanya berada di tepian pantai yang luas, terlihat satu dua kapal di lautan itu. "Dan di gunung itu, adalah tempat tinggal Kaito." Kata Len lagi.

"Waaahh.. bahkan gunungnya pun kelihatan menakutkan." Kataku.

"Tetapi kotanya tidak sebegitu menakutkan kok, hanya waktu malam saja menakutkan, di kotaku berlaku jam malam, karena Yokai dan sebangsanya akan berkeliaran di malam hari di Halloween City. Bisa di bilang, di situ adalah tambang emasnya Exorcist untuk mencari uang untuk hasil buronan. Tetapi, hingga beberapa tahun yang lalu, walikota tempatku berhasil membuat perjanjian damai dengan ketua Yokai disana. Dengan syarat mereka hanya boleh berkeliaran saat malam hari, bahkan ada blok sendiri untuk aktifitas para Yokai itu, bahkan setiap toko tidak boleh ada yang tutup, karena bila malam usaha mereka di ambil alih oleh para Yokai itu. Bahkan kami tidak perlu takut Yokai akan membunuh atau memakan kita di malam hari, karena itu adalah isi dari perjanjian tersebut, para exorcist tidak boleh berburu Yokai, Bakemono dan Hantu di kota kami, sebagai gantinya mereka tidak boleh memakan kita ketika kita terlelap." Jelas Kaito, aku hanya mengangguk.

"Ayo kembali ke kompartemen kita, sudah sore nih. Aku masih ingin membaca buku ini." Kata Len sambil berdiri. Kereta ini memiliki beberapa kabin yang terpisah, setiap kabin berisi 4 orang. Dan kami beruntung dapat satu kompartemen. Kami pun kembali dan aku melihat ke arah lautan, ada terlihat sebuah rumah sangat besar di arah barat.

"Kaito, itu bangunan apa?" Tanyaku sambil menunjuk ke arah rumah di tengah lautan itu.

"Itu adalah rumah yang aku ceritakan kemarin, rumah dari keluarga Maroon, kita sudah memasuki wilayah Halloween City, tetapi perlu beberapa jam lagi untuk sampai di kota, karena gunung sekaligus rumah itu adalah Halloween City." Kata Kaito, aku pun kembali mengangguk.

"Kita akan sampai di sana siang hari, jadi kita aman sampai di rumah Kaito." Kata Len.

"Kalau tidak salah, sekarang kan ada festival peringatan keluarga Maroon itu kan?" Kata Rin-chan.

"Festival keluarga Maroon?" Tanyaku.

"Benar, sebuah Festival untuk mengenang keluarga Maroon, selama 3 hari, tiap terbenamnya matahari hingga jam malam yaitu jam 12 malam para penghuni Halloween City harus ke kuil secara bergantian untuk memanjatkan doa atas kesalahan nenek moyang mereka kepada keluarga Maroon, jadi walaupun tidak sempat hari ini tidak apa-apa yang penting dalam waktu 3 hari itu, kita harus bisa ke kuil itu, tenang saja, tidak ada yang tidak berhasil berdoa kok pada hari ketiga berakhir. Karena kuil di tempatku sungguh banyak." Kata Kaito.

"Kita harus memanjatkan doa juga, kita kan hendak tinggal di sana sementara, kita harus menghormati tradisi di kota tertentu agar selamat." Kata Rin-chan, aku hanya mengangguk.

"Memang apa yang terjadi bila orang itu sakit di saat perayaan mereka kan tidak bisa ke kuil?" Tanyaku.

"Maka anggota keluarga mereka harus menggantikan yang tidak bisa datang ke kuil tersebut, jadi orang itu menyebutkan nama orang yang akan dia wakilkan doa'nya sebelum dia menyebutkan namanya. Kalau anggota keluarga yang di titipkan itu lupa menyebutkan nama orang yang menitip doa itu, tidak apa-apa, asalkan tidak ada unsur sengaja, dan kau sudah bilang kepada orang terdekatmu untuk menitipkan doa." Kata Kaito.

"Memang apa yang terjadi bila orang itu sengaja untuk tidak datang ke kuil untuk berdoa, atau mereka sengaja tidak menyebutkan orang yang menitipkan doa?" Tanyaku.

"Maka orang itu akan menderita penyakit yang sama yang di derita kota ini pada masa keluarga Maroon itu. Tetapi walaupun di obati, mereka tidak akan bisa sembuh hingga akhirnya mati karena penyakit itu." Kata Rin-chan lagi. Aku kembali menatap bangunan tengah laut itu.

"Kawai so na. Padahal keluarga itu tidak salah apa-apa. Mereka juga korban bukan." Gumamku, dua temanku dan kekasihku tidak mendengar apa yang aku katakan tadi. Aku pun keluar dari kompartemen.

"Kau mau kemana Miku?" Tanya Kaito.

"Ha-hanya ingin ke toilet kok." Kataku kepada Kaito. Kaito hanya mengangguk dan meneruskan membaca. Aku langsung keluar dari Kompartemen itu dan menatap gunung itu di kejauhan, mereka menempuh jarak yang lumayan jauh ya ke kota. Aku kemudian bertabrakan dengan seseorang, tidak dua orang kembar. Salah satunya terjatuh karena aku tabrak. "Gomenasai! Aku tidak memperhatikan jalan!" Kataku sambil membantu salah satu dari dua orang kembar itu yang berambut panjang.

"Tidak apa-apa kok, Kakakku memang ceroboh." Kata orang yang berambut pendek, aku tetap membantu gadis berambut panjang itu untuk berdiri lagi, tetapi ada yang aneh, mereka memakai baju abad pertengahan.

"Mou Anon-chan. Jangan mengatai aku dong!" Kata orang itu.

"Ah, perkenalkan, namaku Anon, dan ini kakakku Kanon." Kata gadis berambut pendek itu.

"Ah, perkenalkan juga, namaku Miku Hatsune!" Kataku sambil membungkuk sedikit sebagai tanda sopan.

"Wah, si keturunan terkenal, kau rendah hati juga yah Hatsune-san." Kata Anon-san.

"A-anoo.. aku memanggil langsung nama kalian terasa tidak enak.." Kataku bingung bagaimana harus mengatakan 'aku ingin tahu nama marga kalian' dengan sopan.

"Ah, bodohnya adikku, sampai lupa memperkenalkan nama marga kami, aku Kanon Maroon. Dan ini adikku Anon Maroon. Kami hanya berbeda 10 menit. Hehehe" Katanya, aku hanya mengangguk.

"Salam kenal juga, aku mau permisi sebentar, a-aku sudah tidak tahan, maafkan aku." Kataku sambil sedikit menyilangkan kakiku.

"Ah, maafkan kami juga karena menghambatmu." Kata Kanon-san.

"Tidak apa-apa kok, kan aku salah yang menabrak kalian." Kataku sambil pergi melewati mereka.

"Seandainya saja masa kami orangnya seramah kau Miku Hatsune-san Tou-san dan Kaa-san tidak perlu menderita.." Kata kedua orang itu lirih, eh? Apa katanya? Tetapi ketika aku berbalik kedua gadis itu menghilang, mungkin sudah masuk ke kompartemen mereka di gerbong ini. Aku pun mengangkat bahu dan menuju toilet di gerbon ini, kereta ini memiliki 15 gerbong dan tiga gerbong barang. Aku sendiri ada di gerbong 4, karena gerbong 1 sampai 5 adalah gerbong VIP dan gerbong 15 adalah gerbong restauran, jadi kami berjalan lama sekali untuk kembali ke kompartemen ini, dan satu gerbong ada 5 kompartemen, kereta ini hanya ada satu kali perjalanan dalam satu hari dari stasiun kota Rin-chan, ketika telat, maka harus menunggu keesokan harinya untuk kembali dan kita harus memesan tiket kompartemen mana kita akan berada sehari sebelum keberangkatan. Kereta ini berjalan dari satu stasiun ke stasiun lainnya dalam jangkauan 10 kota di negeri ini. Dan kota tempat Rin-chan adalah yang terakhir sebelum menuju Halloween City yang luasnya tidak terkira.

Setelah selesai, aku kemudian berfikir, nama marga kedua anak tadi Maroon, apakah dia keturunan dari keluarga Maroon yang itu yah? Ah sudahlah, ketika aku kembali ke kompartemen ku, kereta mulai memasuki terowongan dan mulai gelap, aku pun mencari-cari kedua gadis itu karena penasaran, aku melihat ke kompartemen-kompartemen di gerbong ini tidak ada mereka, benar juga, aku kan tertabrak di hadapan kompartemen 4, aku pun mencari mereka, tetapi kompartemen mereka kosong? Bukankah setiap kompartemen harus diisi? Kenapa yang satu ini kosong?

Aku pun berkeliling kereta ini dan setiap gerbong kompartemennya penuh. Akhirnya aku pun bertanya di kondektur gerbong 4 tempatku.

"Permisi, bukankah setiap kompartemen harus di isi 4 orang dan tidak boleh menyisakan satu ruangan pun?" Tanyaku, kondektur itu hanya mengangguk.

"memang ada apa nona?" Tanya kondektur itu.

"Lalu kenapa kompartemen 4 kosong?" Tanyaku.

"Oh, kau baru naik kereta ini yah nona?" tanyanya, aku hanya mengangguk. "Kompartmen 4 di gerbong 4 memang tidak pernah di jual tiketnya, karena itu adalah tempat favorit bangsawan Maroon, jadi setelah mereka terkena musibah legenda itu, kompartemen mereka tidak pernah di jual tiketnya untuk menghargai bangsawan Maroon. Sebenarnya setelah Easter City, kami berhenti di stasiun khusus keluarga itu." Jelas kondektur itu. Jadi itu sebabnya mereka bisa sampai ke kota.

"Eh? Jadi keluarga Maroon bangsawan juga? Aku baru tahu. Habisnya di cerita tidak pernah ada keterangan bangsawan sih, jadinya aku tidak tahu mereka itu keluarga bangsawan." Kataku. "Oh iya, apakah keluarga Maroon memiliki keturunan yang selamat dari peristiwa itu?" Tanyaku. Kondektur itu mulai berfikir.

"Kurasa tidak ada, mereka hanya memiliki dua anak yang meninggal karena wabah itu, dan kedua orangtua mereka, yah kau tahu sendiri lah. Jadinya tidak mungkin ada keturunan dari keluarga Maroon." Kata kondektur itu kemudian aku mulai berkeringat dingin.

"Pak kondektur sedari tadi di sini bukan?" Tanyaku. Orang itu hanya mengangguk. "Anda tidak melihat aku tadi menabrak dua orang gadis? Mereka seumuran denganku! Mereka berkata nama marga mereka Maroon." Kataku semakin berkeringat dingin.

"Aku hanya melihatmu tiba-tiba diam membeku di sana nona, ada apa?" Tanyanya.

"Ti-tidak apa-apa, terima kasih waktunya pak kondektur." Kataku sambil membungkuk sedikit. Aku kemudian kembali ke kompartemen milikku, kompartemen 1.

"Dari mana saja kau kenapa lama?" Tanya Kaito tiba-tiba di belakang pintu, pintu kompartemen adalah pintu geser tertutup. Aku langsung terkejut.

"Kyaa! Maafkan aku Kaito, habisnya aku.. aku.." Kataku tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan kalau aku bertemu orang yang tidak mungkin ada. "Kaito! Kau menakutiku!" Kataku sambil memukulnya perlahan, akan aku sembunyikan kejadian tadi hingga aku memiliki petunjuk.

-skip time-

Akhirnya kami sampai di Halloween City, seperti namanya, nuansa di sini pun seperti perayaan Halloween bedanya, hanya bangunan-nya saja, sedangkan orang-orang di sini berpakaian biasa, kami pun menaiki taksi menuju rumah Kaito. Sedari tadi aku merasa pusing.

"Nanti kita ke kuil yang mana Kaito?" Tanya Rin-chan.

"Kita lihat dulu, keluargaku ingin kemana, kita akan bersama-sama berdoa di kuil. Sekarang kan masih hari kedua, masih ada waktu." Kata Kaito sambil bersandar.

"Huaaahh! Perjalanan tadi sungguh panjang!" Kata Len sambil meregangkan otot-otot nya, aku tidak mengerti kenapa rasanya aku sangat lemas sekarang.

"Kau kenapa Miku?" Tanya Kaito tiba-tiba merangkul leherku.

"A-aku tidak apa-apa, aku hanya takjub saja melihat kota ini." Kataku menutupi sebenarnya aku sungguh pusing, aku pun mulai menyandarkan kepalaku ke pundak Kaito, rasanya sungguh berat kepalaku ini. Mereka mulai berkata sesuatu yang tidak bisa aku dengar, entah rasanya mereka berbicara sangat cepat.

"Sudah sampai!" Kata Kaito, aku seketika tersadar dan mulai turun, setidaknya aku masih kuat untuk berjalan. Astaga! Rumahnya seperti kastil abad pertengahan! Seperti keluarga vampir yang tinggal di sini! "Tidak usah takut, di dalamnya tidak ada peti mati ataupun kerangka manusia kok." Gurau Kaito, aku hanya terkekeh pelan, apa aku kelihatan setakut itu?

"Kaito-Nii! Tadaima!" Kata seorang gadis berambut biru sama seperti Kaito. "Wah, kalian teman-temannya Kaito-nii! Otou-san! Okaa-san! Kaito-nii sudah sampai!" Kata gadis itu sambil berlari ke dalam, aku seperti pernah melihatnya, Shion Kaiko?

"Wah jadi ini pacarnya Kaito, hmm, lumayan juga." Kata seseorang di belakangku yang membuatku terkejut. "Watashi wa Shion Taito, Kaito no Onii-san." Kata orang berambut ungu dan memiliki eyepatch di mata kanannya. "Panggil saja dengan nama depan di sini agar tidak ada yang keliru menoleh ketika kau panggil. Hehehe.." Kata orang itu sambil pergi.

"Taito, jangan menakutinya seperti itu." Kata Kaito. Apa kakak kakak Kaito seperti ini.

"Kaito-nii!" Kata seorang anak kecil sambil merangkul kaki Kaito, dia seperti berumur 10 tahun.

"Oh ini, Nigaito, adikku yang paling kecil." Kata Kaito. Ternyata saat Len dan Rin-chan kemari Kaito sedang sendirian jadi tidak mengetahui tentang keluarga besar Kaito.

"Watashi wa Nigaito Yoroshiku." Kata anak itu sambil membungkuk, kami bertiga juga ikut membungkuk (Kaito tidak ikut).

"Ayo, Okaa-san mengundang kalian untuk makan siang bersama!" Kata Kaiko-san. "Untuk barang kalian tinggal saja di sana, pelayan kami akan membereskannya, ayo ayo.." Kata Kaiko-chan tiba-tiba menarikku dan Rin-chan, Shion Kaiko adalah orang yang bersemangat. Kami semua sangat terperangah dengan ruang makannya, seperti abad pertengahan.

"Miku, Rin, Len, dua makhluk ini adalah kakak kakakku, yang tampang surem itu Kageito, dan yang merah hobi cabe-cabean itu Akaito." Kata Kaito sedikit enggan memperkenalkan kedua orang itu, mereka langsung merangkul leher Kaito dari dua sisi.

"Jangan begitu Otouto-yo. Kami jadi tambah sayang nih!" Kata kedua kakak-nya kompak.

"Huaaa! Aku bukan Brocon! Aku bukan Brocon!" Kata Kaito histeris.

"Begitulah kalau kekurangan perempuan di keluarga ini." Kata Kaiko-san.

"Umm, Kaiko-san, pasti berat ya tinggal sebagai anak perempuan satu-satunya." Kata Rin-chan.

"Enggak juga sih, mereka juga lumayan protektif kok, jadi seperti di sayangi di sini." Kata Kaiko-san. "Ayo duduk!" Kata Kaiko, aku dan Rin-chan duduk di kanan dan kiri Kaiko-san, sedangkan Len, berada di pojokan karena merasa tidak di perhatikan sedari tadi. "Wah! Ternyata ada Len-nii juga! Ayo sini-sini!" Kata Kaiko-san, Len semakin pundung. Gelas pun berbunyi tanda ada yang ingin meminta perhatian, ternyata sang kepala keluarga Shion.

"Selamat datang kepada teman-teman Kaito, Kagime Rin, Kagamine Len, dan Hatsune Miku." Kata Shion-san. "Kami sungguh menyambut kalian di rumah ini, kalian bebas melakukan apapun di rumah ini, tetapi jangan lupa, nanti malam kita harus berdoa di kuil." Kata Shion-san lagi. "Dan untuk calon menantuku! Hatsune Miku. Kuharap kau betah di sini." Aku hampir saja menyemburkan minumanku! Aku hanya tersenyum sambil mengangguk.

"Tenang saja, Miku-chan, kalau Kaito melakukan hal yang aneh kepadamu aku akan menolongmu." Kata laki-laki berambut merah itu, siapa namanya, Akaito-san. Saat tersenyum taringnya kelihatan..

"Ayolah, jangan mengganggu kedua orang yang kasmaran ini." Kata Taito-san.

"Mou! Urusai! Aku ingin makan!" Kata Nigaito-san, dia lebih dewasa dari empat kakak laki-lakinya.

-Skip time-

"Baiklah pencariannya besok saja, sekarang ayo bersiap ke Kuil!" Kata Kaito, kami hanya mengangguk, Rin-chan membantuku memakai Kimono begitu pula sebaliknya, semua orang di sini memakai Kimono, termasuk yang laki-laki. Kami mulai memasuki 3 buah mobil, yang aku naiki adalah mobil yang di kendarai Kaito, Len duduk di sebelahnya sedangkan Rin-chan duduk di sampingku.

"Daijobu yo Miku-chan?" Tanya Rin-chan. "Mukamu pucat." Katanya lagi.

"Ah, tidak apa-apa kok Rin-chan." Kataku menyembunyikan kalau aku sudah pusing sekali dari tadi.

Kami akhirnya sampai di sebuah kuil yang lumayan ramai, kami pun mengantri terlebih dahulu dan setelah sampai di altar, kami memanjatkan doa meminta maaf kepada keluarga Maroon juga harapan kedepannya.

"Ayo kita serbu pasar malamnya!" Kata Kaito, yang lainnya pun mengangguk semangat, kami pun mulai berpencar tinggal aku dan Kaito sendirian.

"Kaito.." Kataku, aku mulai kehilangan pandanganku.

"Hei, Miku, ada apa? Astaga badanmu panas sekali!" Kata Kaito sambil memegangi kepalaku.

"Aku.. tidak kuat.." Kataku kemudian pandanganku menggelap.

Normal Pov

Kaito yang melihat Miku mulai kehilangan kesadarannya itu langsung membopong tubuh Miku.

"Dimana kliniknya!" Kata Kaito kepada orang di sana.

"Lu-lurus saja, ada klinik di sana!" Kata orang itu, setiap titik festival selalu di lengkapi dengan tenda klinik, Kaito langsung menuju tenda itu dan petugas medis di sana langsung berdiri melihat Kaito membopong Miku.

"Tolong letakkan dia di sini saja!" Kata salah satu dokter disana.

"Kaito!" Panggil seseorang, Kaito pun menoleh.

"A-ada apa dengan Rin?" Tanya Kaito melihat Len juga membopong Rin yang sedang tidak sadarkan diri.

"Tubuhnya tiba-tiba demam tinggi!" Kata Len yang membaringkan tubuh Rin di kasur di sebelah Miku. "Ada apa dengan Miku." Kata Kaito.

"Sama seperti Rin, tubuhnya tiba-tiba panas." Kata Kaito.

"Ada apa Kaito?" Kata seseorang.

"Kageito-nii? Miku dan Rin tiba-tiba saja tubuhnya panas." Kata Kaito. "Kenapa dengan mereka sensei?" Tanya Kaito.

"Kami tidak tahu. Badannya memang panas tetapi pemeriksaan mengatakan kalau mereka sehat." Kata dokter itu.

"Permisi." Kata Kageito langsung menghampiri kedua gadis yang tidak sadarkan diri itu. "Apa mereka bertemu dengan keluarga Maroon sebelumnya?" Tanya Kageito. Kaito dan Len hanya menggeleng tidak tahu. "Mungkin salah satu dari mereka telah bertemu keluarga Moroon tetapi dia menyembunyikannya. Kaito, lebih baik kita bawa pulang dua gadis ini, aku dan para kakakmu akan mencoba untuk mengeluarkan mereka dari dimensi yang menjebak mereka." Kata Kageito, Kaito dan Len hanya mengangguk dan membawa tubuh kedua gadis itu ke mobil dan akhirnya seluruh keluarga Shion pun pulang dari perayaan itu.

.

.

.

TBC

Akhirnya sampai juga di rumah kaito nyaawwnn.. maaf kalau alurnya kecepetan-desu, habis selama seminggu di rumah masing-masing anggota itu tidak ada kegiatan-desu, alias hanya bersenang-senang menikmati musim panas-desu. Tehehehehe. Jadinya Clara skip untuk cerita ini agar segera selesai.

Akhir kata RnR minna?