[That Thing and I]
Cast:
Min Yoongi X Park Jimin
Kim Namjoon X Kim SeokJin
Kim Taehyung X Jeon Jungkook
Jung Hoseok
Genre: romantic, fantasy, school life AU
[!] Typo(s), OOC, GS, OC, mature content
Chapter 14
© Red Casper
Rumah itu berada di tepi hutan, dengan dinding kotor berlumut dan terlihat sangat tua. Tak ada perabot sama sekali, cat merah tua di kusen pintu mengelupas termakan usia, hingga kolam renang kosong yang luas. Hanya tersisa gorden putih tipis yang menggantung di pintu balkon lantai dua. Rumah itu sudah kosong sejak berpuluh tahun yang lalu –menurut cerita Jay, di kelilingi ilalang tinggi dan beberapa pohon besar terlihat tumbuh menutupinya. Jika tidak masuk lebih dalam, orang tak akan tau ada sebuah rumah tua tingkat dua cukup besar dengan kolam renang di sana.
Jimin mengedarkan pandangannya di ruang tamu saat dia masuk. Ruangan itu luas dan lapang, lantainya kotor tak terurus, bahkan ada beberapa marmer yang terlepas dari tempatnya. merasa ngeri karena letaknya yang tak terkena sinar matahari terlalu banyak, membuat perutnya sakit.
"Jay.." Jimin memanggil dengan suara serak gugup
Lelaki yang sejak dari tadi mondar-mandir dari kamar yang satu ke kamar yang lain menghentikan langkahnya kemudian menatap Jimin. Menyadari bahwa gadis itu terlihat cemas, Jay tersenyum menghibur lalu berkata, "Tenanglah. Aku akan memperlihatkanmu sesuatu yang menarik. Kau akan suka. tunggu sebentar, aku sedang mencari peralatannya –sepertinya kemarin kutaruh disini" dia kemudian kembali sibuk mengobrak-abrik ruangan-ruangan itu menimbulkan bunyi ribut pintu yang dibuka tutup.
Jimin menghela nafas berat, kembali mengedarkan pandangannya, menyadari bahwa langit-langit ruang tamu itu dipenuhi lukisan-lukisan yang tak kentara karena di tutupi lumut. Beberapa ventilasi kecil berbentuk aneh melubangi dinding di atas jendela, membuat Jimin merasa seseorang bisa saja mematainya diam-diam dari sana. Gadis itu berdehem beberapa kali, mencoba tidak terlalu mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi. Dia mengambil kesimpulan bahwa kesunyian yang membuatnya gugup itu, jadi dia bersuara keras-keras pada Jay yang masih sibuk di dalam sebuah kamar di pinggir tangga.
"Yang di luar itu kolam renang ya?"
Jay menjawab dengan suara keras juga, dari cara bicaranya yang tidak jelas sepertinya lelaki itu sedang bicara sambil menggigit sesuatu, "Iya. Mau kesana?"
"Nanti denganmu, aku agak takut ada disini" Jawab Jimin jujur membuat Jay tertawa masih dengan sesuatu di mulutnya.
"Jangan takut. Tak ada orang lain disini selain kita"
"Itulah yang membuatku takut" Bisik Jimin pada dirinya sendiri. Bagaimanapun juga Jay waterson pernah jadi sesuatu yang hampir membunuhnya –walaupun mereka berteman sekarang. Selama ini Jimin merasa aman bersamanya karena mereka selalu berada di lingkungan yang bisa dilihat orang, sedangkan di dalam sini mereka terkurung berdua tanpa siapapun yang melihat. Hal itu cukup membuat Jimin khawatir.
Tapi kekhawatiran itu langsung lenyap saat Jay keluar dari kamar yang tadi dimasukinya dengan sebuah teleskop bintang cukup besar di kedua tangan, tripod yang di jepit di ketiak dan kantong plastik hitam di giginya. Jimin segera menyadari bahwa dia sudah mempercayai lelaki ini lebih dari yang diinginkannya.
"Holong –tolong" katanya setengah tersengal
Jimin kemudian tertawa melihat tampang sahabatnya itu, berlari kecil ke arahnya lalu mengambil kantong plastik dan tripod. Lelaki itu tersenyum lega, melangkah naik ke tangga, "Lewat sini. Kita ke lantai dua"
Jimin mengikutinya dari belakang, memperhatikan setiap lekukan yang terukir di pegangan tangga juga pemandangan yang bisa dilihat dari jendela saat kakinya naik semakin tinggi. Ada sesuatu di depan sana, Jimin melihatnya sekilas dari jendela. Dan saat mereka sampai di lantai dua, Jimin bisa melihat pantai dari balkon yang tertutup tirai putih transparan. Pantai itu cukup jauh, tapi jika sedang hening, mereka bisa mendengar deburan ombaknya. Dia tak sengaja menggumam woah dan Jay tertawa saat mendengarnya.
"Kesini" Jay menuntunnya ke balkon, tempat itu cukup luas dan dari sana pantai benar-benar terlihat. Jimin berlari ke ujung balkon, menengadah untuk bisa melihat pemandangan itu dari atas pepohonan rendah yang menutupinya. Sambil memasang teleskop ke atas tripod, Jay tersenyum dan berkata, "Ini dulunya rumah peristirahatan keluarga kerajaan, tapi sudah di tinggalkan setelah pemberontakan seratus tahun yang lalu"
"Jadi rumah ini sudah berusia seratus tahun?" Jimin menggigit jari, mengingat tempat itu sudah kosong cukup lama –sangat lama.
Jay mengangguk, berjalan kedalam rumah untuk mengambil bangku kayu yang cukup lebar untuk di duduki berdua lalu merentangkan selimut yang diambilnya dari kantong plastik ke atasnya. Setelah semuanya teratur rapi, Jay mendekati Jimin yang masih memandangi panorama di depannya, terkekeh pelan melihat wajah damai gadis itu, sepertinya sudah tidak cemas lagi.
"Jadi, kau sudah tau kan kita kesini untuk apa?" Jay bersuara, menatap apa yang di pandang Jimin. Gadis itu mengangguk, tersenyum sesaat tapi kemudian mengerutkan kening.
"Kau bilang kita akan melihat Andromeda bulan November. Ini masih Agustus"
Jay mengukir senyuman sedih tak kentara, membiarkan angin meniup rambutnya, "Mungkin aku tidak akan bisa mengajakmu November nanti"
"Kenapa? –lagipula Andromeda tak akan tampak dibulan ini kan?"
Lelaki itu hanya terdiam. Otaknya berputar untuk mencari alasan, tapi tak menemukan yang tepat. Jadi dia bersuara, "Awal agustus rasi Leo akan tampak jadi–"
" –Kau menjanjikan Andromeda, Jay"
Terdiam lagi. mereka membiarkan suara pantai mendominasi pembicaraan itu. bagi Jimin Jay terdengar seperti seseorang yang akan pergi jauh, bagi Jay pembicaraan ini mencekik lehernya. Dia terjebak antara tugas dan perasaannya sendiri.
"Jimin-ah"
"hm"
Mengambil keputusan, Jay meraih jemari Jimin yang berpegangan pada pinggiran balkon, "Maaf" katanya lalu menarik gadis itu kedalam pelukan hangat ditengah angin dan matahari siang yang perlahan mulai turun, "Kau percaya padaku kan?"
Jimin tertawa, "Ini ketiga kalinya kau bertanya pertanyaan yang sama hari ini–"
" –dan jawabanmu?"
"Kau tau jawabanku juga selalu sama"
.
.
Yoongi mengusap wajahnya frustasi saat lagi-lagi panggilannya di telpon tak terjawab. Ingin rasanya dia memaki suara operator perempuan yang selalu menjawabnya dengan kata-kata yang sama sejak tadi; sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Kakinya menghentak kesal saat dia berjalan mondar mandir di kantin sedangkan Taehyung dan Jungkook mematainya cemas, mereka mengabaikan bisik-bisik siswa lain yang bertanya-tanya tentang penyebab mood swing Min Yoongi hari ini. Jelas-jelas tadi jam istirahat, pangeran sekolah itu sedang dalam mood yang baik, dia tersenyum kepada hampir semua orang yang ditemuinya. Lalu sekarang keningnya bertaut kesal dan sudah melakukan hal yang sama sekitar lima menit, matanya tak berhenti menatap tajam pada siapa saja yang mencoba melakukan kontak dengannya, bahkan kontak mata.
"Aish. Park Jimin, kenapa kau selalu membuatku kesal?" Yoongi mencebik pada ponselnya, hampir membanting benda itu saat operator yang kembali menjawabnya.
"Tidak diangkat?" Jungkook bertanya dengan tatapan resah.
"Ponselnya tidak aktif" Yoongi menjawab, lebih pada dirinya sendiri dari pada Jungkook. Lalu sekali lagi dia melakukan dial pada nomor Jimin. Masih tidak aktif, Yoongi dengan sebal melempar ponselnya ke tempat sampah terdekat.
"Apa menurutmu Jimin baik-baik saja?" Taehyung bertanya lirih, berusaha agar pertanyaan itu tidak membuat kakaknya semakin jengkel. Tapi Taehyung tidak berhasil karena Yoongi langsung menendang angin di bawah kakinya.
"Tentu saja dia baik-baik saja. mereka sedang bersenang-senang" kata Yoongi, berharap Jimin mendengar keluhannya ini, "Dia selalu mementingkan vampir sialan itu –padahal kami baru saja berbaikan"
"Kau terlalu lama menandainya, hyung"
"Aku sudah menandainya" Yoongi menekankan setiap kata dalam kalimatnya dan itu membuat Jungkook dan Taehyung mengangkat alis penasaran.
"Kalian sudah–"
"Tidak. Bukan yang seperti itu" Yoongi langsung menghela nafas berat, memotong pertanyaan adiknya, "Aku sudah menciumnya kan?"
Taehyung menggeleng remeh atas kelakuan kakaknya ini. mungkin Yoongi memang tak pernah jatuh cinta dan berhubungan dengan wanita, tapi tetap saja –masa meniduri Jimin saja tidak bisa? Taehyung ingin sekali mengomeli kakaknya tapi terpaksa melakukannya dalam hati karena sekarang mood Min Yoongi sedang tidak baik. Bisa-bisa Taehyung malah balik di omeli karena berani mengganggunya di saat seperti ini.
"Hei semua…"
Yoongi, Jungkook dan Taehyung menoleh saat mendengar suara itu, terkejut karena melihat Namjoon dan Seokjin datang bergandengan sambil tersenyum lebar lalu duduk di antara mereka. Bagi Yoongi ini biasa saja, tapi Taehyung senang sekali melihat pasangan itu kembali bersama. dia sengaja memberikan saran agar Namjoon meninggalkan Seokjin waktu itu karena dia ingin Namjoon berpikir kembali tentang hubungannya sendiri, memikirkan apa yang sudah di lakukannya dan di korbankan Seokjin untuknya. Taehyung lega karena Namjoon memilih untuk kembali pada kekasihnya.
"Sudah pesan makanan?" Namjoon bertanya sambil melihat-lihat sekitar, merasa perlu membelikan sosis dan ramyun untuk Seokjin. Mereka membiarkan Seokjin memeluk Jungkook antusias dan bergumam aku merindukanmu hampir sepuluh kali dalam lima detik.
"Kami belum pesan," jawab Taehyung yang ternyata sempat lupa bahwa mereka datang ke kantin untuk makan. Berita tentang perginya Jimin bersama pria lain membuat suasana menjadi buruk lalu akhirnya membuat mereka melupakan makan siang.
"Kalian ingin pesan apa? Aku akan ke konter makanan untuk memesan" Namjoon mengerling mereka satu persatu, sengaja mengabaikan Yoongi yang dikelilingi aura hitam familiar. Namjoon tau aura itu menandakan bahwa Yoongi akan meledak jika di sentuh sedikit saja.
"Jungkookie ingin makan bibimbap dari semalam jadi–" Taehyung melirik kekasihnya yang tersenyum padanya.
Namjoon mengangguk mengerti, "Bibimbap untuk Taehyung dan Jungkook, ramyun dan sosis untuk Jin. Itu saja?"
"Hyung, aku ingin makan ramyun juga" protes Taehyung
"Loh? Kalian sudah tidak melakukan hal menjijikkan itu lagi?" Namjoon melihat kening Taehyung dan Jungkook berkerut lalu dia melanjutkan, "Sepiring berdua?"
Jungkook langsung menyembunyikan wajahnya malu di pundak Seokjin yang sedang menertawakan fakta itu, sedangkan Taehyung hanya menggaruk belakang kepalanya, "Bibimbap untuk Jungkook, ramyun untukku" kata Taehyung final dan Namjoon mengangguk bersiap berdiri tapi suara Yoongi menghentikannya.
"Aku ramyun juga, tolong"
"Astagah. Kau disini?" Kata Namjoon pura-pura terkejut. Yoongi hanya membalasnya dengan suara malas.
"Dan cola, dengan banyak es batu. Aku butuh mendinginkan sesuatu disini"
Namjoon mengangkat bahu tak peduli, tapi mencatat semua pesanan itu dalam ingatannya lalu melenggang ke konter makanan. Dia kembali dari sana dengan dua orang tukang masak yang membantu membawakan pesanannya ke meja mereka.
"Jadi, apa yang membuat uri Yoongi hyung muram begini?" Namjoon bersuara setelah semua pesanan teratur rapi di depan masing-masing pemesan. Dia sendiri memesan tteokbokki porsi besar dan memakannya seorang diri. Umur Yoongi dan Namjoon hanya berbeda satu tahun membuat Namjoon jarang memanggil Yoongi dengan sebutan hyung, tapi sekali melakukannya berarti dia sedang berada dalam mode benar-benar perhatian membuat Yoongi hampir muntah karena jijik.
Taehyung menertawakan kelakuan dua kakaknya itu lalu mejawab (Karena Yoongi tak menunjukkan tanda-tanda akan menjawab), "Soal Jimin–"
"Jimin kenapa?" Seokjin yang memotong perkataan Taehyung, merasa bertanggung jawab jika ada masalah dengan Jimin atau Jungkook, karena dia lebih tua dari keduanya.
"Dia bolos–"
"Cuma itu?"
"Pergi dengan seorang pria–"
"Siapa?" Kali ini Namjoon yang bertanya membuat Taehyung menghela nafas kesal.
"Bisakah kalian mendengarkanku dulu?"
"Ups. Okey. Maaf" kata Seokjin, akhirnya membiarkan Taehyung bicara. Namjoon memilih memakan lagi tteokbokinya.
"Jungkook melihat Jimin pergi dengan Jay"
Seokjin dan Namjoon sama-sama terdiam mendengar itu, tetapi pikiran mereka berbeda. Seokjin langsung menatap Jungkook lalu bertanya, "Kau yakin itu mereka?"
Jungkook mengangguk dengan mulut penuh.
"Yoongi-ah, Jimin bukan cewek seperti itu kok" Kata Seokjin tidak enak. Fakta bahwa sahabatnya pergi dengan pria lain terang-terangan membuat Seokjin cemas.
Berbeda dengan pandangan kekasihnya, Namjoon malah berbisik setelah meneguk air mineral, "Kau tidak khawatir?"
"Apanya? Jimin baik-baik saja, dia selalu memilih vampir itu dari pada aku" Yoongi hampir berteriak membuat Taehyung segera mengusap punggung kakaknya, Namjoon berdecak sebal karena semua orang langsung memperhatikan mereka setelah kata vampir dari mulut Yoongi, Seokjin semakin merasa bersalah sedangkan Jungkook sibuk menghabiskan makanannya.
"Bukan begitu," Namjoon mengecilkan suaranya setelah perhatian orang-orang kembali pada makan siang masing-masing, "Kita tau dipihak mana Jay berdiri–"
" –Kita tidak tau" Yoongi membantah, "Dia seperti berdiri di pihak musuh tapi dia menyelamatkan Mr. Han melalui Jimin"
"Kita tau dia berdiri untuk musuh" Namjoon bersikeras, "Penyelamatan Mr. Han itu hanyalah bentuk dari sesuatu yang menyesaki dadanya saat kita mengampuninya dulu. Dia berada dipihak musuh untuk dendam karena kita memusnahkan James"
"Sesuatu yang menyesak? apa?" Taehyung bertanya lalu dia menyadari Jungkook yang sudah selesai makan merasa mual karena pembicaraan tentang dua bersaudara yang hampir memakan mereka waktu itu. Taehyung mengusapkan tangannya yang berpendar keperakan samar di punggung kekasihnya, lalu memeluk gadis itu.
"Balas budi. Semua manusia memilikinya –tolong, bisakah kalian tidak berpelukan di depan umum?"
Taehyung tidak merespon, malah mengeratkan pelukannya membuat Namjoon dan Yoongi ingin melempar piring-piring pada adik mereka itu.
"Itu bukan balas budi, Jay menyukai Jimin –lagipula Jay Waterson bukan manusia" Kata Yoongi akhirnya terlihat lesu.
"Tapi Jimin menyukaimu" Seokjin meyakinkan, dan dia bisa melihat Yoongi menatapnya seakan berkata benar kah?
"Terserah" Namjoon memilih mendorong mangkuk makanannya ke samping lalu melipat tangan diatas meja, "Yang jadi masalah adalah bagaimana kalau Jay benar-benar punya rencana untuk melakukan sesuatu pada Jimin. Katakanlah Jay memang menyukai Jimin, tapi jika dia berpihak pada musuh dan mereka ingin Jimin terluka, maka mereka akan menyuruh Jay kan? dia yang paling dekat dekat dengan Jimin –Dengar. Aku baru memikirkan ini semalam" Namjoon berdehem, lalu perhatian semua orang yang duduk mengitari satu meja itu teralih padanya, "Jika memang ada rencana pemberontakan lain kali ini, mereka akan menetapkan target pada mulia ratu –lebih gampangnya, mereka ingin membunuh–" Namjoon mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan, berharap tak ada yang mendengarkan mereka, dan memang begitu, "–ehem, ibunda. Tapi kau tau apa yang membuat ibunda tak tersentuh? Kita. Jadi mereka ingin menyingkirkan kita sebelum invasi benar-benar dimulai. Aku menyadari ini setelah bertengkar dengan Seokjin kemarin, mereka ingin Seokjin tertekan dan merasa aku tidak mencintainya. Pikiran paling pendek manusia adalah bunuh diri –kita tau, kalau holder mati maka tuannya juga akan mati."
"Aku tidak berniat bunuh diri" Seokjin menyangkal dan Namjoon mengangguk tak sabar.
"Aku tau sayang. Tapi coba pikir, kau merasa aku tidak mencintaimu tapi kau sudah terikat pada satu hubungan abadi yang tak bisa lepas, kau tidak bisa meninggalkanku walaupun kau membenciku. Apalagi sebagai wanita, kau sudah memberikan segalanya untukku, untuk orang yang kau anggap brengsek karena memanfaatkanmu. Saat kau tidak punya jalan keluar –pernah terbersit, sedikit saja, untuk bunuh diri?"
Seokjin terdiam, dan mereka langsung tau jawabannya. Gadis itu pernah berpikir untuk mengiris nadinya sendiri saat berada di puncak stres.
"Tidakkah kita terlalu berani karena membicarakan hal ini di tempat umum?" Taehyung berbisik dan mereka menyadari bahwa adiknya itu sudah melepaskan pelukannya pada Jungkook.
Tepat setelah pertanyaan itu, bel masuk berdering keras. Para siswa segera bubar dari kantin dan berjalan bergerombol menuju kelas masing-masing. Namjoon menunggu semua siswa keluar dari sana lalu melanjutkan. "Aku ingin membicarakannya sekarang. Mereka sudah bergerak, jadi kita tidak boleh buang-buang waktu lagi."
Yoongi menghela nafas berat lalu meneguk cola-nya hingga habis, mengesampingkan segala rasa cemburunya yang menggebu di dada.
"Dan kau Min Yoongi, keabadianmu membuat mereka resah. Mengerjai holdermu pun tak akan mempan, karena holdermu juga mendapat keabadian yang sama. Mereka tau kau mengincar Jimin jadi mereka menyuruh Jay mendekatinya. Pernah terpikirkan kenapa tiba-tiba Jimin berteman dengan vampir yang hampir menggigit lehernya?" Pertanyaan Namjoon itu membuat mereka semua terdiam dan berpikir, "Mereka ingin bulan purnama yang membunuhmu. Kau hanya jatuh cinta sekali sepanjang hidupmu, mereka membiarkanmu mencintai Jimin dulu lalu menghabisinya. Mereka tau kau akan kesulitan mengganti Jimin dengan orang lain hingga purnama tiba. Aku tidak tau mereka akan bergerak sekarang"
Jungkook tiba-tiba merasa menyesal sudah makan banyak karena sekarang perutnya sakit mendengar semua ini, di bawah meja dia mencengkram celana seragam Taehyung. Kekasihnya mengerti lalu mengganti cengkraman itu dengan genggaman tangan yang kuat, "Tenang saja, kita akan baik-baik saja" Taehyung berbisik menenangkan.
"Aku mencurigai seseorang tapi aku yakin kalian akan mencibirku lagi"
"Siapa?" Desak Yoongi.
Dan saat satu nama itu keluar dari mulut Namjoon, mereka menatap Namjoon tak percaya sambil menggeleng kepala samar, sepakat bahwa Namjoon benar-benar sedang dilanda dilema patah hati yang parah.
"Jung Hoseok"
"Hyung, sudahlah" Kata Taehyung
"Hentikan omong kosong ini" Kata Yoongi, menyeringai kesal.
Namjoon mengangkat dua tangannya di udara, "See? Kalian tidak akan setuju denganku. Tidak bisakah kalian berpikir? Aku sering bertengkar dengan Seokjin sejak Hoseok datang, masalah-masalah ini muncul sejak ada dia. Lalu ingat sejak kapan Jay berteman dengan Jimin? Di hari yang sama dengan hari dimana Hoseok berdiri di depan pintu kamarku. Mereka merencanakan ini. Hoseok lah penyusup dalam Olympus karena semua orang mempercayainya; Kalian dan ibunda ratu."
Taehyung dan Yoongi masih menggeleng tak percaya, sedangkan Seokjin mulai menatap kekasihnya dengan tatapan kita baru saja berbaikan Kim Namjoon, jangan memulai.
"Aku sudah berdamai dengannya –dengan Jung Hoseok, percayalah. Tapi pemikiran ini muncul begitu saja semalam. Tiba-tiba semua masalah dan Jung Hoseok menjadi benang merah kusut yang saling terjalin"
Jungkook hampir menangis saat dia berbisik di tengah keheningan, "Se-sebenarnya aku pernah melihat Hoseok oppa melakukan hal aneh; dia masuk ke kamar Jimin beberapa hari yang lalu"
Sekarang perhatian semua orang teralih pada gadis itu, "Apa maksudmu?" Tanya Taehyung.
"Waktu Namjoon oppa di serang di dalam rumah waktu itu, Aku naik ke kamar Jimin untuk menemuinya tapi Hoseok oppa yang keluar dari sana. Dia tidak melihatku karena langsung berlari ke atas. Hoseok oppa juga pernah berkeliling halaman belakang untuk mencari sesuatu, aku tidak tau apa tapi sepertinya sesuatu yang penting karena saat aku kembali dari rumah utama dua jam kemudian, dia masih disana mencari. Beberapa kali aku sempat memergokinya mondar-mandir di lantai tiga, di depan kamar yang mulia ratu"
Yoongi mengerutkan keningnya berpikir, Taehyung merasa nafasnya sesak karena dia begitu mempercayai Jung Hoseok, Namjoon mengangkat tangan lagi seperti berkata dengar kan? dan Seokjin yang langsung memeluk pundak Jungkook.
"Kau tidak pernah cerita padaku?" Taehyung bertanya, suaranya serak.
"Kau bilang kau percaya Hoseok oppa dengan hidupmu, jadi aku juga mempercayainya. Tapi mendengar semua ini dari Namjoon oppa membuatku khawatir, apalagi pada Jimin" Jungkook gemetar saat Taehyung bergerak melepaskan genggamannya.
"Dengar" Namjoon melipat tangannya di atas meja, menatap mereka semua satu persatu, "Lebih baik jika dugaanku ini salah. Tapi jika benar, berarti kita dalam masalah. Apalagi kau, Min Yoongi. Jelas-jelas sekarang Jimin berada dalam genggaman mereka. Kita perlu bergerak sekarang, atau kita akan mati. Mungkin sekarang aku dan Seokjin terlihat kuat karena kami sudah bersama lagi, tapi aku tidak tau apa yang akan mereka lakukan pada kami. Aku rasa mereka tidak terlalu mempermasalahkan Taehyung karena dia selalu berada di belakang layar –dia tak pernah turun berperang. Mereka tidak tau kekuatan Taehyung yang sebenarnya, kita masih punya Taehyung sebagai senjata rahasia. Untuk sekarang, kita harus bicara pada Ibunda ratu atau Mr. Han"
"Ke ruang kepala sekolah" Putus Yoongi, dia berdiri dari tempat duduknya, lalu bergerak memungut ponselnya dari tempat sampah. Setelah itu di berjalan keluar dari kantin "Bicarakan ini secepatnya. Jiminku dalam masalah"
Mereka semua mengikuti Yoongi dari belakang dan Namjoon bergumam, "Kau yang dalam masalah."
.
.
Jay Waterson menghela nafas panjang. Dia sudah menengok arlojiya lebih dari sepuluh kali hari ini dan Jimin terkikik saat melihanya. Pemuda vampir itu berkali-kali mengatur posisi teleskop bintangnya, menggeser benda itu kekiri lalu lima menit kemudian dia akan menggesernya ke kanan. Jimin sendiri sedang duduk di pinggiran balkon menghadap ke pantai sambil menggigit beberapa kimbap yang dibawa Jay. Pemuda vampir itu benar-benar well-prepared untuk rencananya hari ini, dia bahkan menyiapkan beberapa kaleng soda yang di tumpuk di atas bangku, berkotak-kotak kimbap, dan beberapa buah lilin besar-besar (Mereka akan sampai malam disana, dan tak ada penerangan)
"Sunsetnya lama sekali" Kata Jay, tiba-tiba sudah berdiri di samping tempat Jimin duduk, "Aku sudah tidak sabar melihat regulus malam ini"
Jimin terkekeh, meneguk soda rasa lemon, "Tepat setelah matahari tenggelam kan?"
"Yep. Pukul delapan belas tepat."
Jimin mengangguk, kembali sibuk mematai alam yang bersorak riuh di depan sana; ombak terdengar seperti saling berlomba untuk sampai ke pantai lebih cepat dan siapa yang bisa menimbulkan bunyi hantaman paling keras. Pepohonan seperti tak mau kalah; dedaunannya bergoyang tertiup angin, bergesekan berisik meramaikan suasana.
"Aku punya pacar" Kata Jay tiba-tiba.
Jimin memalingkan pandangan terkejut, lalu pura-pura merajuk, "Heol, Kau tidak pernah cerita padaku? Sejak kapan?"
"Ini kan sedang cerita" Jay memutuskan untuk tidak menatap Jimin saat menceritakan hal ini, "Aku menyukai wanita, tapi pacarku pria–"
" –Biseks?"
Jay mengangguk ragu. Anggukan itu malah menjadi gelengan samar saat dia berpikir, "Awalnya aku sangat menyukainya, karena dia manis. Aku pernah bilang punya wanita yang kutaksir di sekolah, ternyata saat kudekati, dia pria. Walaupun begitu aku tetap menyukainya. Kami saling menyukai –mungkin"
Entah kenapa Jimin merasa sedikit kecewa. Dia menyukai Yoongi. Sangat. Tapi mengingat Jay, sahabat lelaki satu-satunya, menyukai orang lain, membuatnya sedikit terganggu. Jadi Jimin memilih tak menjawab, membiarkan Jay menceritakan apapun yang ingin diceritakannya.
"Kau kenal Jacob kan? Linley, Jacob Linley?"
Jimin menatap Jay tak percaya. Jacob Linley Kepala pelayan itu? pacaran dengan Jay?
Melihat ekspresi di wajah Jimin, Jay segera tertawa lalu melambaikan tangan di depan wajah gadis itu, "Bukan dia, tolong. Seleraku bukan orang tua seperti dia."
Jimin ikut tertawa, membayangkan Jay berkencan atau bahkan berciuman dengan Jacob Linley membuat Jimin geli. Jacob adalah orang baik, tapi perawakannya tinggi dengan badan tegap dan kumis tipis, sangat jelas dia berumur lebih tua dari Mr. Han. Jika disandingkan dengan Jay, mereka seperti pasangan ayah dan anak.
"Jacob punya adik" Jay menyambung dan Jimin langsung bergumam aah panjang, "Namanya Julian. Dia sedikit lebih pendek dariku tapi dia vampir paling cepat yang pernah kutemui –Ingat ini, Jimin-ah. Jika kau melihatnya, kau harus membunuhnya"
Jimin terdiam, "Kau bercanda kan?"
Jay menatap Jimin serius, lalu nyengir, "Aku bercanda"
.
.
Mr. Han menatap anak-anaknya dengan tatapan yang sulit di artikan. Mereka datang bersama Jungkook dan Seokjin, berdiri di depan meja kerjanya lalu mulai mengungkapkan dugaan-dugaan tentang invasi. Mr. Han tidak terlalu terkejut dengan hal-hal seperti ini, yang membuatnya resah adalah keberadaan Jimin yang entah dimana sekarang. Dia juga tak ingin langsung mengambil keputusan untuk memerintahkan penangkapan dan lain sebagainya, bagaimanapun juga semua ini baru hipotesa, belum pasti kebenarannya. Mereka harus bergerak sesuai sistem; melakukan rapat dengan para petinggi kerajaan, membicarakan setiap tindakan, dan merencanakan setiap langkah secara hati-hati. Mereka juga butuh ratu mereka disaat seperti ini.
Jadi lelaki paruh baya itu berdehem lalu berkata, "Prioritas kita sekarang adalah menemukan Jimin. Kalian akan mencarinya. Dan aku akan menemui yang mulia ratu untuk membicarakan ini. Aku juga perlu bertemu Jung Hoseok"
Anak-anaknya setuju, mengangguk serentak lalu mulai saling berpandangan.
"Cari di tempat manapun yang terpikirkan oleh kalian," Kata Mr. han lagi, dia meraih gagang telpon di ujung mejanya lalu berbicara pada seseorang di seberang line yang sepertinya staff tata usaha, karena dia meminta data diri Park Jimin beserta kontak orang tuanya. Setelah itu dia menghadap anak-anaknya lagi, "Aku akan mengonfirmasi keberadaan Jimin di rumah atau keluarganya lalu memberitahukan padamu. Pergilah setelah bel pulang berbunyi. Walaupun kalian anak-anakku, aku tidak ingin kalian melanggar peraturan sekolah –kalian terlalu banyak pelanggaran akhir-akhir ini, apalagi sekarang kalian tidak masuk kelas."
"Tapi ayah–" itu suara Taehyung. Kecuali Mr. Han, mereka semua terkejut dengan kenyataan bahwa Taehyung baru saja memanggil Mr. Han dengan sebutan ayah. Mereka tak pernah memanggil suami ibu mereka itu dengan sebutan seperti itu, karena mereka punya ayah masing-masing. Mereka menganggap Mr. Han sebagai seseorang yang perlu di hormati, tapi bukan sebagai ayah. Namun sepertinya Taehyung sudah mengubah pandangannya itu terhadap Mr. Han.
"Tidak nak," Mr. Han membantah dengan tegas, "Walaupun sesuatu terjadi pada dunia kita, manusia tidak tau apa-apa. Mereka menjalani hidup dengan baik tanpa tau tentang kita. Aku yang bertanggung jawab atas kelas matahari dan semua manusia yang bernaung di bawahnya. Jadi tolong, hormati peraturanku. Kalian akan pergi setelah bel pulang berbunyi. Tunggu di kelas masing-masing. Aku tidak menerima tapi dalam bentuk apapun."
Mereka semua berpandangan lalu memilih mematuhi kata-kata Mr. Han, bergerak keluar ruangan hingga Mr. Han kembali bersuara, "Min Yoongi…"
Yoongi berbalik, menatap lelaki itu, "Ya?"
"Jimin belum menjadi holder, jadi dia belum punya jejak. Walaupun begitu aku tau kau bisa menemukannya dengan –bau tubuhnya?"
Yoongi mengangkat kening, terperangah. Maksud kata-kata Mr. Han adalah Yoongi bisa mengenali bau tubuh Jimin karena Yoongi pernah menciumi seluruh tubuhnya. Salah satu ritual dari penyatuan adalah mereka wajib menandai calon holder dengan mengindra setiap inchi tubuhnya, seperti kucing yang melakukan spraying untuk menandai daerah kekuasaannya. Yoongi hanya melakukan ritual itu pada Jimin –Yoongi menandainya, tapi belum melakukan penyatuan. Yang membuat Yoongi terkejut adalah, dari mana Mr. Han tau itu?
Berdehem salah tingkah –karena ketahuan– Yoongi mengangguk pasti lalu berjalan keluar ruangan. Dengan perasaan tak karuan tentang Park Jimin.
.
.
Jimin baru selesai memakan kimbapnya yang ke tujuh saat Jay melambaikan tangan menyuruhnya mendekati teleskop. Gadis itu menyeka tangan lengketnya ke rok seragam setelah meneguk soda, lalu mendatangi Jay dengan antusias.
"Sebentar lagi matahari tenggelam" Kata Jay sambil menyorong teleskopnya ke arah barat, "Bulan sudah terbenam."
"Aku mau lihat"
Jay terkekeh sambil bergeser dari tempatnya, membiarkan Jimin mengamati langit dengan teleskop. Sedangkan dirinya menatap matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat, menimbulkan semburat jingga yang indah di atas air laut. Jay mengangkat tangan kiri lalu menatapnya dengan sedih.
"Jimin-ah" Katanya, Jimin merespon panggilan itu dengan gumaman. Dia masih sibuk mengamati langit yang berubah kelam di atas sana, "Kau akan selalu mengingat ini; Dracula menjadi lemah sesaat sebelum matahari terbit dan tenggelam"
Gadis itu tak terlalu memperhatikan karena dia tiba-tiba berteriak senang, "Jay lihat, bintang kejora"
Jay menghela nafas berat, menatap pantai yang semakin lama semakin gelap lalu memutuskan untuk tersenyum melihat semangat Jimin, "Kita akan menyebutnya Venus," Kata Jay akhirnya, "Aku lebih menyukai Venus dari pada sebutan bintang kejora. Apa kau sudah melihat Regulus?"
"Yep, diantara Merkurius dan Venus –dan Leo minor, astagah. Jay lihat sini"
Pemuda vampir itu terkekeh saat Jimin menariknya mendekat untuk mengintip di balik teleskop, "Wah, Jupiter, merkurius dan Venus berada dalam satu garis lurus"
"Benar kan?" Jimin memekik antusias, menggoyang-goyangkan tangannya, tak sabar untuk melihat lagi.
"Kau lihat dulu, aku akan menyalakan lilin"
Jimin kembali berkutat dengan teleskopnya sedangkan Jay berjongkok di sudut balkon, mengambil beberepa lilin dan mulai menyalakannya. Dia mengerling Jimin di belakangnya, lalu perlahan tangan kanannya masuk ke dalam tas ransel yang dari tadi tergeletak begitu saja di lantai, menarik keluar sebuah pisau dari dalamnya. Menghela nafas berat sekali lagi, Jay waterson menelisipkan pisau itu di ikat pinggangnya, tersembunyi oleh mantel coklat tebal miliknya. Dia akan menggunakan benda itu pada saatnya.
Jay berjalan mendekati Jimin lalu berbisik sendu pada dirinya sendiri, "Jimin-ah, maafkan aku"
.
.
Para pelayan tau siapa itu Julian Linley, jadi pada saat vampir muda itu masuk ke dalam kamar kakaknya, tak ada yang mempermasalahkan. Dia masuk dengan leluasa dan duduk di atas tempat tidur yang rapi, berlagak terlalu nyaman seperti berada di rumah sendiri.
"Sedang apa kau disini?" Suara berat Jacob yang keluar dari kamar mandi menyita perahatian sang adik.
Julian tersenyum, walaupun Jacob tidak tau untuk apa senyuman itu, "Aku hanya ingin naik ke atap lagi. Aku masih harus mencari itu di atas. Boleh kan, kakak?"
Jacob bergerak menutup pintu, memastikan tak ada seorangpun yang melewati kamarnya. Lelaki itu berdiri di depan adiknya sambil melipat tangan di dada, "Kau mencari masalah dengan menusuk pangeran Kim kemarin dulu. Kalau kau ketahuan bagaimana? Para pelayan tau kau datang hari ini"
Julian tertawa seperti menusuk pangeran Kim adalah permainan menyenangkan yang sudah lama tak dilakukannya. Dia mengusap tangannya sendiri lalu menjawab dengan santai, "Dia sedang lemah waktu itu, aku hanya mengambil kesempatan bagus. Yang mulia raja senang-senang saja"
Jacob mendesis keras, "Jangan menyebut-nyebut yang mulia raja disini"
Adiknya itu mengangkat bahu tak peduli, "Aku akan naik ke atas, kau harus melindungiku. Seperti waktu itu"
Saat Julian berjalan mendekati pintu, Jacob berbisik kentara, "Jangan sampai melakukan kontak dengan siapapun di dalam sini. Jangan sampai bertemu anggota keluarga kerajaan lagi. Jangan membuat kesalahan lagi"
Adiknya itu menyeringai, "Mereka tidak akan berada dalam kastil malam ini, mereka akan pergi mencari Park Jimin"
"Apa maksudmu?"
Julian membuka pintu lalu berkata sebelum keluar dari sana, "Kami membunuh Park Jimin. Hihi"
Jacob tercengang lalu menunggu sesaat. Setelah dia yakin Julian sudah pergi ke atas, dia mengambil ponsel dari laci nakas lalu menekan nomor yang tidak disimpan dalam daftar kontak, dia menghafalnya di luar kepala. Berbunyi tut dua kali, seseorang di seberang line menjawab.
"Halo?"
"Yang mulia pangeran?"
"Ada apa Linley?"
Jacob memutar tubuhnya untuk meyakinkan diri bahwa dia benar-benar sendirian disana, "Mereka bergerak, seperti perkiraanmu. Mereka akan membunuh Park Jimin"
Dia terdiam lalu berkata "Bagus, kita juga bisa bergerak sekarang"
Jacob Linley mengangguk patuh, kemudian dia mendengar di seberang sana seseorang masuk ke dalam ruangan tempat pangerannya berada lalu berkata, "Tuan Jung Hoseok, the monarch Han ingin bertemu denganmu"
Setelah itu panggilan terputus.
.
.
To Be Continued
.
A/N:
Halo, sorry for long awaited. Saya sudah pernah bilang mau hiatus kan? sebulan sekali atau sebulan dua kali baru update.
Saya mau jawab pertanyaan dari Naa77 yang nanya "Bukannya inang itu Cuma satu? Kok Ratu punya anak beda ayah, emang boleh tidur dengan yang lain walaupun udah punya inang?"
Boleh. Inang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (untuk tumbuhan) adalah tanaman yang menjadi tempat hidup dan berkembangnya tumbuhan atau hewan lain sebagai parasit. Dengan kata lain, Ratu adalah parasit untuk Mr. Han, karena Mr. Han bukan hanya suami tetapi juga sumber makanannya. Vampir dalam TTAI hanya bisa makan darah inangnya (Dan inang memang cuma boleh ada satu), kalau untuk urusan tidur, boleh dengan siapa saja, tergantung persetujuan vampir dengan inang itu; hubungan mereka akan hanya jadi pasangan makanan atau pasangan hidup.
Itu aja. kalo ada yang pengen nanya juga silahkan. Kalo saya rasa perlu dijawab, akan saya jawab. Terima kasih –dan maaf sudah lama menunggu.
.
Review?
.
Deep bow, Red Casper
[Instagram-Kaspernim]
