Precious

Bagian 13

HUNHAN/WINKDEEP

YAOI! Family

a/n

sorrryyyy untuk karakter Jesper itu bukan Jesper yg w maksud sebenernya JACKSON kuy maap salah orang. enjoy!

(different setting of time: on Haowen's birthday)

Taehyung dan Haowen kini sedang berada di dalam ruang tamu keluarga Park. Mereka hanya di rumah sendiri tanpa ada Chanyeol dan Baekhyun yang menemani karena ternyata keduanya belum pulang dari Seoul untuk menghadiri pesta ulang tahun Haowen yang kini malah ada di rumah mereka.

Karena gemas menunggu, Taehyung pun segera mengirim pesan pada papihnya agar segera kembali ke rumah menggunakan pesawat saja yang hanya memakan waktu satu jam.

Taehyung: pih, dimana?

Chanyeol: di hotel, di Seoul tepatnya, ada apa?

Taehyung: ada yang nyari mamih, buruan pulang

Chanyeol: gak bisa Tae, nanti malam papih sama mamih mau ke tempat Sehun ngerayain ulang tahun Haowen

Taehyung melirik Haowen yang sedang tertidur pulas di sampingnya.

Taehyung: habis selesai pesta langsung pulang naik pesawat aja

Chanyeol: kenapa sih? Emangnya penting banget orang yang nyariin itu?

Taehyung: penting pih, katanya dia mantan pacarnya mamih

Tak ada balasan selama setengah jam, Taehyung bersiap menelfon Chanyeol dan menyiapkan alasan agar orang tuanya segera kembali. Tapi belum sempat ia memencet tombol dial, pesan baru dari Chanyeol masuk.

Chanyeol: papih udah pesen tiket penerbangan. malem ini juga papih sama mamih pulang

Taehyung menyeringai. Ia bohong dan itu ia lakukan tanpa perasaan terpaksa seringan menjetikkan jari karena membohongi kedua orang tuanya memang merupakan kesehariannya. Alasan ia membohongi Chanyeol adalah demi Haowen. Jika menyangkut mantan-mantan pacar mamanya yang dulu memang terkenal sebagai cabe-cabean yang punya banyak gandengan, Chanyeol pasti mau melakukan apapun juga secara tergesa, karena ia sangat mencintai istrinya yang terkenal ganjen dan genit itu.

Malamnya, setelah sampai di rumah, Chanyeol terkejut karena Taehyung lagi-lagi membohonginya. "Kamu kenapa bohong sama papih kamu sih Tae?! Kan mamih yang kena marah! Siapa sih yang ngajarin kamu bohong terus? Mamih sama papih gak pernah didik kamu kayak gini kan? Jadi anak tuh harusnya nurut jangan membangkang! Itu mobil bensin habis pasti kamu pakai keluar lagi kan?! Kamu itu belum punya sim! Kalau kena polisi gimana? Kalo ada apa-apa di jalan gimana? Kamu pikir mamih sama papih gak khawatir? Paham gak sih kamu?!" Baekhyun marah-marah ketika sampai di rumah.

Taehyung hanya diam mendengarkan ocehan pedas mamihnya. Bicara dengan mamanya hanya membuang waktu karena Baekhyun memang sangat cerewet, jika diladeni pasti selesainya lama, maka dari itu ia selalu memilih mengganti topik bahwa Jackson kangen dan butuh mamihnya di atas.

"Mamih disuruh ke kamar Jackson, dia kangen gitu tadi katanya." Dengan itu, Baekhyun langsung naik dan ketika masuk ke kamar Jackson tanpa tahu Haowen ada di rumah ini, adiknya akan meneruskan rencana Taehyung tanpa diberi penjelasan.

Chanyeol yang dari tadi hanya diam karena masih kesal Taehyung yang membohonginya. "Kamu masih belum selesai dengan papih." Kali ini Chanyeol mengambil bagian kedua untuk memarahi anak sulungnya.

"Haowen ada disini pih." Tanpa peringatan, Taehyung langsung jujur pada papanya dan menarik tangan papihnya yang masih mencerna perkataan anaknya itu ke kamar yang ada di lantai satu dimana Haowen berada disana. Sesuai perintah Taehyung, Haowen hanya diam disana tanpa mengeluarkan suara. Dengan mengikuti rencana Taehyung, semuanya pasti berjalan lancar.

"Haowen? Kenapa kau ada disini? Ayahmu mencarimu tadi." Chanyeol yang masih terlihat lelah kini panik karena mendapati anak Sehun malah ada di Busan.

"Aku mau ngomong sama aunt Baekhyun, uncle." Ucap Haowen polos.

Chanyeol yang sudah tidak bisa berpikir lagi karena terlalu banyak kejadian yang dialaminya hari ini langsung berbalik dan coba memanggil Baekhyun.

"Jangan pih." Taehyung menahan papihnya untuk tetap berada di ruangan.

"Kenapa?" Chanyeol bingung.

"Kalau papih bilang ke mamih, nanti mamih bocor ke semua orang. Kalo sampe bocor nanti malah tambah runyam. Nanti uncle Sehun dan uncle-uncle yang lain di Seoul pasti panik dan mereka bakal kesini. Padahal kalian kan baru pulang dari tour. Papih tega bikin temen-temen papih tambah capek?" Taehyung berceloteh meyakinkan papihnya yang langsung menurut saja.

Mendengar ocehan Taehyung, niat Haowen yang tadinya ingin bertanya pada Baekhyun pun ia buang jauh-jauh ketika mengetahui bahwa Sehun dan Luhan sedang kebingungan mencari dirinya di Seoul.

"Baiklah, lalu papih harus bagaimana?" tanya Chanyeol ke Taehyung.

"Dengerin dulu cerita Haowen." Taehyung memberikan waktu untuk Chanyeol dan Haowen berdua. Dengan itu, Haowen pun bercerita panjang lebar tentang apa yang sebenarnya terjadi.

"Seingatku, Irene memang sangat dekat dengan ayahmu setelah Jinyoung lahir. Tapi tidak ku sangka bahwa Sehun sebejat itu." Ucap Chanyeol setelah mendengar semua cerita Haowen.

Ketika tau bahwa Taehyung berkeliaran lagi dengan salah satu mobil keluarga tanpa SIM bahkan sampai ke Seoul, Chanyeol hanya bisa memarahi si sulung seperti hari-hari biasanya. Memarahi Taehyung memang sama saja seperti menghembuskan angin ke wajahnya. Tidak berefek dan dia tetap akan membandel.

Setelah bercerita Haowen langsung memeluk Chanyeol kencang dan menangis meraung-raung karena bingung.

"Aku memang jarang ke Seoul dan bergabung dengan Sehun, Jongin dan Junmyeon hyung disana. Aku saja tidak tau kalau Sehun sudah punya dua anak. Kabar Luhan hamil lagi saja aku tidak dengar. Ayahmu sangat menyembunyikan identitas anak-anaknya Haowen. Makanya ketika kau ulang tahun kemarin aku tidak tau kau umur berapa. Ya karena itu. Karena Sehun jarang menceritakan tentangmu. Tak seperti ketika ia menceritakan Baejin." Chanyeol terlihat kecewa dengan cerita Haowen bahwa ibunya yang sebenarnya adalah Irene.

"Aku tidak menyangka Sehun sebrengsek itu." Ungkapnya lagi terlihat kesal. Chanyeol mencengkeram kedua tangannya kuat menahan amarahnya pada Sehun.

Sehun memang berbeda, ia tidak pernah menunjukkan pada dunia bahwa Baejin dan Haowen adalah anaknya. Tidak seperti Junmyeon dan Chanyeol yang malah memamerkan kehebatan putra dan putri mereka pada dunia dan fans.

Seperti bakat Guan Lin yang turun dari papa dan mamanya, menjadikannya model dan penyanyi cilik yang banyak diincar industri hiburan. Kecerdasan dan pengetahuan Taehyung yang sering memenangkan olimpiade penelitian dan juga kejeniusan otak Jackson yang mengharumkan nama kedua orang tuanya atas keahliannya memecahkan kode-kode canggih teknologi di umurnya yang masih 10 tahun.

Jongin juga sama seperti Sehun, ia lebih memilih untuk tidak begitu menonjolkan sosok Jihoon walaupun anak itu berbakat dalam akting karena juga mengikuti ekstrakuliluler drama. Banyak juga piala yang sudah didapatkan dari kompetisi monolog dan pantomim. Kemungkinan besar bisa menjadi bintang film, sebuah profesi yang memang menurun dari kedua orang tuanya, yang selain berprofesi sebagai penyanyi, mereka adalah aktor drama dan film layar lebar Korea.

Berbeda dengan Sehun, ia sendiri tidak tau apa bakat anaknya. Yang ia inginkan hanyalah satu, menjaga dan melindungi mereka sampai dewasa nanti. Walaupun bakat Baejin dalam bermain musik sudah nampak.

"Irene masih mencintai ayahmu, Haowen. Sampai sekarang wanita itu bahkan belum menikah." Ucap Chanyeol lagi.

Haowen bersikeras ingin segera bertemu Irene saat itu juga walaupun hari sudah malam. Hari ulang tahunnya harus menjadi hari dimana dia bertemu dengan Irene, bertemu dengan ibu kandungnya.

"Baiklah, uncle akan antar kamu kesana Haowen." Dan malam itu juga, Park Chanyeol mengantarkan Oh Haowen ke neraka.

(one day later: Trio kwek-kwek has arrived in Busan)

Setelah melewati perjalanan membosankan selama 6 jam, akhirnya ketiga anak itu sampai di kediaman Park Chanyeol dan keluarga. Walaupun di perjalanan sempat ada masalah ketika Jihoon muntah-muntah karena sakitnya.

Baejin merasa sangat bersalah karena mengajak anak itu ikut dengannya. Ia melarang Jihoon melanjutkan perjalanan dan akan menemaninya pulang ke Seoul namun Jihoon tetap bersikeras ingin ikut.

"Kalo terjadi apa-apa sama lo, gue gak akan maafin diri gue sendiri." Ucap Baejin saat ia dan Daehwi memapah Jihoon berdiri di depan rumah Chanyeol. Kondisi anak itu sudah sangat lemas karena panas tubuhnya naik.

Jihoon merasakan hangat di pipinya atas ucapan Baejin barusan, Daehwi yang mengetahui rona merah di pipi Jihoon langsung menyeletuk, "aduh aduh bisa tambah panas nih lo Wink." Godanya yang langsung dibalas dengan injakan Jihoon pada kaki Daehwi.

"Kampret lu."

Baejin tidak sabaran menekan bel dari tadi. Ia menatap tajam pada kamera cctv di sudut atas pintu, yang kini sedang diawasi langsung oleh Jackson, anak bungsu dari Chanyeol.

"ANNYONG HASEO!" Baejin melambaikan tangannya dan berseru pada kamera.

Jackson agak asing dengan wajah orang tersebut tapi ketika melihat Jihoon, akhirnya anak itu ingat kalau lelaki yang melambaikan tangannya tadi adalah Jinyoung, anak sulung dari teman ayahnya di EXO.

Pintu rumah pun terbuka dengan sendirinya secara otomatis. Ketiganya masuk namun tidak mendapati seorangpun di dalam rumah. "Uncle Chanyeol!" seru Baejin memanggil sang empunya rumah.

Sedangkan Daehwi membantu Jihoon berjalan dan membaringkannya di sofa ruangan itu.

Jackson bangkit dari duduk manisnya di kamarnya, dimana dia mengatur sistem keamanan rumah besar itu sendirian tanpa ikut campur dari ayahnya. Anak laki-laki jenius dengan IQ di atas rata-rata itu kemudian mendengus lesu, berjalan lunglai dari kamarnya menuju ke bawah.

Piama kusut masih melekat pada tubuh anak laki-laki berambut coklat kriting tersebut. Wajahnya kusut karena seharian yang dilakukannya adalah duduk dan mengutak-atik internet di kamarnya dan juga mengawasi kamera cctv.

Jackson memang tidak sekolah seperti anak-anak lainnya karena kepandaiannya sudah tidak diragukan. Badan intelegen negara Amerika Serikat juga sudah mengontraknya untuk ketika ia berumur 16 nanti menjadi bagian dari mereka.

"Good morning~" sapa Jackson dengan nada malas. Ia melompat dan duduk di sofa lain yang berbeda dari Daehwi dan Jihoon berbaring.

"Jackson, Haowen kesini kan? Dia dimana? Uncle Chanyeol sama aunt Baekhyun mana? Kakak lo dimana?" Baejin langsung berlari dan berdiri di hadapan anak itu, menghujaninya denga berbagai macam pertanyaan.

Jackson menguap, membuat Baejin memasang wajah kesalnya karena memang diantara kakak beradik Park tak ada yang bisa cocok dengannya. Ia sebenarnya malas pergi ke rumah Chanyeol, malas untuk berinteraksi dengan Taehyung dan Jackson yang selalu memberikan respon menyebalkan padanya, tapi kali ini ia mengabaikannya hanya demi sang adik.

"Papih nganter mamih ke kantornya. Satu pertanyaan 500 won. Diskon karena gue udah ngasih jawaban." Jackson tersenyum licik. Membuat Baejin naik darah.

"GAK SUDI!" tolaknya mentah-mentah.

"Ya sudah, berarti gak ada jawaban." Jackson bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke atas. Tanpa peduli pada ketiga sahabat yang ada di ruang tamu rumahnya.

"Heh tuyul kriting! Kita kesini penuh perjuangan tau! Hampir mati bosen di bus, pegel nih pantat gue! Jihoon juga lagi sakit begini sampe muntah-muntah di jalan. Apa susahnya ngasih tau gitu aja setan!"

Daehwi yang memang baru pertama kali bertemu dengan Jackson langsung meledak. Ia memang tahu anak itu di tv, tapi tidak menyangka bahwa kepribadiannya lebih menyebalkan dari Baejin.

"Diem lu jelek." Jackson nyolot.

"Apa lu bilang?!" Daehwi merasa dilecehkan, ia berdiri dan hampir menerkam Jackson. Tapi untung saja Baejin berhasil menahannya agar tidak menerkam singa dalam tubuh kucing.

Karena bagi Baejin, Jackson itu anak yang tidak bisa diprediksi, dan baginya, segala sesuatu yang tidak bisa diprediksi adalah mengerikan.

"Dia cuma bocah Wi." Bisik Baejin menepuk bahu Daehwi beberapa kali untuk menenangkan sahabatnya tersebut. Wajah Daehwi masih merah padam karena tidak terima, namun Jackson malah ngupil seperti tidak punya dosa.

"Fuck you!" seru Daehwi karena muak dengan tingkah Jackson.

Akhirnya Jihoon yang dari tadi berbaring pun mendudukkan dirinya sekuat tenaga, walaupun merasakan pusing luar biasa karenanya. Ia mengeluarkan 1000 won dari tasnya dan memberikannya pada Baejin.

"Tapi Hoon? Ini duit lo. Gue gak mau utang apapun dari lo." Tolak Baejin.

Jihoon hanya menggeleng dan berujar pelan, "demi adek lo Baejin.." kemudian tersenyum.

"Sialan." Baejin menggigit bibir bawahnya, terpaksa ia menerima uang Jihoon tersebut dan menyerahkan satu dolar pada Jackson. Otaknya merumuskan pertanyaan yang tidak boleh sia-sia ditanyakan pada anak licik di depannya.

Ia membuang pertanyaan dimana kedua orang tua Jackson dan hanya menanyakan apa yang diyakininya benar.

"Dimana Haowen?"

"Aku tidak tahu. Itu urusan Tae hyung, dia yang tahu semuanya."

Baejin mendecih pelan. "Brengsek." Ia mengumpat karena sudah kalah telak di babak pertama adu cerdas melawan Park Jackson.

xoxo,Josie