Disclaimer: Naruto and all of its characters belong to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.

.

.

Sakura Haruno membuka matanya untuk ketiga kali pada malam ini. Ia lelah sekali seharian mengurus dua tim shinobi yang sepulang dari misi dengan badan penuh luka. Ia butuh istirahat. Super, super, butuh istirahat.

Tapi, ia memiliki masalah besar. Tidak membiarkan dirinya sepenuhnya terlelap untuk mengawasi segala gerakan Sasuke untuk malam ini adalah sebuah penderitaan karena Naruto Uzumaki, dengan anehnya tidak bisa diam. Naruto terus menerus berpindah tempat dari kamar, dapur, kamar mandi, ruang tamu, dan entah ke mana lagi. Pasalnya Sakura hari ini sangat lelah, benar-benar sangat lelah. Pergerakan Naruto malam ini benar-benar membuatnya kesal—Sai pun merasakan hal yang sama karena ia pun terus terbangun karena gerakan Naruto yang tidak bisa diam.

Menarik napas dalam-dalam, Sakura pun menarik selimut untuk menutupi bagian wajahnya. "Tidur saja, Sai," ujarnya di dalam tutupan selimut. Hal ini berarti tak perlu berjaga malam ini. Toh Naruto sedang bangun, ia akan menjaga Sasuke, Sakura yakin itu. Maka dirinya dan Sai hanya perlu tidur nyenyak malam ini, sebuah hal yang benar-benar ia butuhkan.

.

Tubuhnya digoyangkan.

Bagus. Saat tidurnya telah nyenyak tubuhnya digoyangkan. Tebak oleh siapa? Pasti Naru—

"—Sai?" Sakura terkejut saat menarik selimutnya sampai hidung dan melihat siapa yang membangunkan tidur nyenyaknya yang, oh, sangat ia butuhkan. Seorang Sai tidak akan membangunkan jika tidak ada yang penting, apalagi dengan wajah kaku begitu. "Ada ap—"

Sebelum sebuah pertanyaan dasar terselesaikan untuk keluar dari mulutnya, Sakura merasa kulitnya mengerut dan darahnya berhenti mengalir. Kepalanya segera tertoleh ke arah lain, pada dua buah pintu berhadapan yang terbuka, di mana tidak ada seorang pun di ruangan yang berseberangan dengan kamarnya. Tidak ada dua orang pemuda tertidur di atas futon mereka seperti biasa.

Sakura beranjak bangun dari tidurnya, berlari menuruni lantai dua, berharap menemukan dua pemuda yang ia cari di lantai satu (sekali pun ia tidak merasakan chakra mereka di sana, tapi ia berdoa semoga kemampuan mencari chakranya meleset entah karena apa dan menemukan dua pemuda itu sedang bertengkar di lantai satu seperti mereka biasanya).

Nihil.

Deru napasnya makin kencang, sesak di dadanya makin menjadi. Bahkan kedua napasnya tak lagi keluar dari hidung melainkan dari mulut yang terbuka menganga ditemani keringat dingin yang menyusuri pelipisnya.

Ia menutup matanya, rapat, berusaha berkonsentrasi untuk menemukan di mana dua pemuda itu, mengikuti chakra mereka. Namun, jantungnya makin berdetak cepat, keringat dinginnya menderas, serta deru napasnya mengencang saat berhasil menemukan kedua chakra mereka berada di dekat—

.

.

—gerbang.

.


3 + 1 = 7

oleh LuthCi


.

"Miyako-chan, ayolah, beri tahu kami sesuatu," ujar Naruto dengan kedua telapak tangan merapat di depan dagunya, memohon pada seorang kunoichi desa yang sedang menjaga gerbang malam itu. Mengerling pada Sasuke yang berdiri di sebelahnya, Naruto menyikut Sasuke untuk membuatnya membantunya bicara. Namun, nihil, sikutannya tidak dapat membuat si bungsu Uchiha membuka mulutnya.

Ck! Kalau gitu untuk apa aku ajak dia!—rutuk Naruto dalam hati.

Malam ini ia gelisah setengah mati. Pasalnya saat tadi sore ia berkeliaran di kantor Hokage, ia mencuri dengar pembicaraan para shinobi yang mengatakan hasil rapat Kakashi sebagai Hokage dengan para tetua desa beberapa minggu lalu sudah membuahkan hasil. Seorang Naruto, tidak dapat diam saja dan bersabar untuk menunggu hasil keputusan rapat itu keluar secara resmi. Di samping fakta bahwa hasil keputusan tidak kunjung keluar padahal sudah hampir genap sebulan setelah rapat tersebut diadakan. Ada yang aneh, Naruto, dengan otaknya yang pas-pasan bahkan dapat menyimpulkan itu.

Maka dari itu ia cari tahu siapa shinobi yang sekiranya memiliki bocoran informasi rapat—siapa lagi kalau bukan Akizuki Miyako yang saat itu bertugas untuk mengantar berkas-berkas rapat sebagai bahan pembuatan keputusan. Naruto pun mencari tahu kembali untuk mendapatkan jadwal tugas Miyako di luar kantor Hokage (yang ternyata malam ini berjaga di gerbang desa) agar dapat bertanya, ditambah dengan mengajak Sasuke dengan harapan jika ada Sasuke maka Miyako akan angkat bicara. Katanya wajah Sasuke setampan itu hingga sangat sakti dalam membuat perempuan mana pun akan menuruti omongannya, kan.

Namun, khusus malam ini wajah Sasuke ternyata percuma, tidak berguna. Entah karena Miyako yang kebal atau karena Sasuke tidak membuka mulut sedikit pun untuk bertanya, Miyako sama sekali tidak memberitahunya informasi apapun.

"Aku benar-benar tidak tahu, Naruto, bukannya pura-pura tidak tahu," jelas Miyako pada Naruto yang sangat keras kepala. "Aku memang berada di rapat itu, tapi saat pengambilan keputusan akhir, selain para Tetua, Hokage, dan Anbu yang berjaga, yang lain diminta keluar. Aku tidak sepintar itu untuk bisa menebak jalan pikiran mereka dalam mengambil keputusan yang menurutku selalu aneh." Tangannya kini ia tolakkan di pinggang. "Sekarang kau dan Sasuke sebaiknya menjauh dari gerbang atau aku akan melaporkan kau berusaha membantu Sasuke Uchiha untuk dapat kabur dari desa."

"Cih!" Sasuke memasukkan kedua tangannya pada kantung celana dan berbalik badan. Memutuskan untuk kembali ke rumah mereka saja karena perempuan bernama Miyako itu meremehkannya. Kalau ia ingin melarikan diri, ia tidak perlu bantuan Naruto, enak saja.

"Ahhh!" Naruto mengasak-usuk rambutnya depresi, lalu berbalik mengejar Sasuke sambil berkata, "kalau dapat bocoran apapun langsung beritahu aku!" pada Miyako yang hanya menggelengkan kepalanya dengan kedua tangan terlipat di dada.

"Kau ini!" Naruto menepuk bahu Sasuke cukup keras, "bantu aku bicara, kek! Siapa tahu kita dapat bocoran info, kan. Ini tentang kau dan Kakashi, tahu! Penting!"

Sasuke menghela napas sesaat, "kalau sangat penting, Kakashi akan langsung beritahu kita," ujarnya. Walau memang hatinya penasaran atas hasil rapat tersebut, tapi ia tidak mau menunjukkan rasa penasarannya sejelas itu pada siapa pun, termasuk Naruto. Lebih baik mereka cepat kembali ke rumah dan ti—

"—OY! SAKURA-CHAN!" pekik Naruto yang melambaikan tangan pada Sakura dan Sai yang berlari mendekati mereka. Sasuke dapat mendengarnya, derap langkah Sakura dan Sai yang makin mendekat (plus deru napas yang cukup kencang tidak seperti biasanya).

Kini Sakura dan Sai berada beberapa langkah di depan mereka, Sasuke dan Naruto menghentikan langkah mereka sementara, Sai pun. Namun, tidak dengan Sakura. Sakura masih terus melangkah maju, mendekati ia dan Naruto. Sasuke (bahkan dalam pejaman matanya) merasa ada yang aneh. "Sakura-chan, kenapa kau ba—"

plak!

Kedua bola mata Naruto membulat seketika saat rasa perih menjalar dari pipi kirinya. Tangannya perlahan, agak bergetar karena terkejut Sakura-chan-nya baru saja menamparnya keras, terangkat untuk menyentuh pipinya yang terasa panas. Mata Naruto bergerak untuk mencari penjelasan dari Sakura yang wajahnya terlihat begitu keras (Naruto dapat menyimpulkan rahang yang saling menekan begitu rapat tidak cocok berada di wajah Sakura-chan-nya, pun dengan alis yang saling bertaut tanpa ampun). Kini matanya melirik Sai dan Sasuke yang juga terlihat terkejut dengan apa yang baru saja Sakura lakukan.

Perlahan, cengiran kaku terkembang di wajahnya, "Sa-Sakura-chan? Daijobu?" Ia tahu dirinyalah yang baru saja ditampar dan dirinyalah yang merasa pipinya perih. Namun, ekspresi keras Sakura yang kini berangsur melemah seiring dengan bola matanya yang membasah membuat pertanyaan 'kau tak apa?' keluar dari sepasang bibirnya, sebab rasa khawatir melihat Sakura yang terlihat begitu tersiksa tak dapat ia tampung dalam diam, sedangkan rasa sakit atau terkejut dapat ia tahan sebesar apapun itu.

Sakura-chan-nya tidak menjawab. Bola matanya masih dibasahi air mata yang tak kunjung menetes, Naruto mengutuk dirinya yang tidak mengerti apa yang terjadi.

"Kau—" suara berat dari sebelahnya terdengar. Naruto menoleh untuk mendapati Sasuke dalam pejaman matanya mengerutkan alis dan mengarahkannya pada Sakura, "—apa-apaan."

Hati Naruto mencelus melihat Sasuke bersikap sekasar itu pada Sakura yang sedang menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menangis. "Hey, Sa—" cengiran kaku masih terkembang di bibir Naruto untuk membangun suasana menyenangkan (walau ia tahu tidak mungkin), tapi ucapannya tertahan saat melihat Sakura-chan-nya (akhirnya) meneteskan air mata.

Tangan Sakura segera terangkat untuk mengelap air mata di pipinya seraya mendongak. Naruto hanya mematung, masih hanya dapat mematung tanpa tahu harus bagaimana dan harus mengatakan apa. Tanpa bicara apa pun, Sakura pun membalik badan dan menjauh—melompat cepat dari satu genting ke genting lainnya.

"Sa-Sakura-chan!" Naruto pun segera menyusul, mengejar Sakura untuk meminta maaf, walau ia belum tahu untuk apa.

Sasuke memutar bola matanya dalam pejaman saat Naruto mengejar Sakura yang pergi meninggalkan mereka. Bukan masalah untuknya ditinggal, hanya saja kejadian tadi menurutnya sangat berlebihan. Tangannya masuk ke dalam kantung celananya, "berlebihan," gumamnya singkat sebelum mulai melangkah.

"Menurutku tidak berlebihan."

Ucapan Sai membuat Sasuke hanya dapat maju satu langkah karena saat mendengar, langkahnya sontak berhenti. Kebiasaan Sai adalah bertanya, Sasuke tahu itu, tapi yang baru ia katakan bukanlah sebuah pertanyaan. Pun bukan sebuah komentar tidak masuk akal yang hanya berdasarkan sebuah buku. Ucapannya barusan adalah sebuah komentar—makanya, langkah Sasuke terhenti disertai kepalanya yang tertoleh sedikit.

"Jangankan Sakura-san," lanjutnya sedikit sebelum berhenti, "aku pun merasa takut Sasuke-san akan pergi." Kali ini bukan 'Uchiha-san', melainkan 'Sasuke-san'. Sai mengarahkan berdirinya menghadap Sasuke. Mimiknya tak lagi datar seperti biasa, melainkan mimik bingung sekaligus getir entah karena apa. "Aku belum lama mengenal Sasuke-san, tapi aku merasakan takut Sasuke-san akan pergi dari desa. Apalagi Sakura-san yang terkenal sebagai gadis yang selalu menangisi Sasuke-san."

Sasuke menemukan bibirnya terkatup rapat. Bukan ia tak mau membalas ucapan Sai, tapi entah karena yang berbicara adalah seorang Sai (yang belakangan mulai ia akui keberadaannya) atau lebih karena seberapa benar ucapan tersebut. Yang jelas seorang Sasuke kini diam dengan bibir terkatup dan mata terpejam, otaknya mengulang berkali-kali kalimat dari Sai bagai sebuah kaset rusak—

apalagi Sakura-san yang terkenal sebagai gadis yang selalu menangisi Sasuke-san.

.

.

apalagi Sakura-san.

.

.

Sakura adalah gadis yang cengeng, Sasuke tahu benar itu. Tapi kini ia bukan lagi gadis yang ia kenal beberapa tahun lalu, sudah tumbuh. Kata 'gadis' yang digunakan sebagai penggambaran tak lagi tepat, lebih tepat menggunakan wanita atau perempuan. Maka dari itu, mungkin kata 'cengeng' pun sudah terganti menjadi kuat atau tegar. Sasuke tidak tahu, Sasuke tidak berada di sekitarnya saat Sakura berkembang.

"Sakura-san memang terlihat kuat. Tapi kalau tentang Sasuke-san, ia tidak sekuat itu."

Kalimat penjelasan Sai semalam masih terngiang di otak Sasuke.

"Seolah Sasuke-san adalah pengecualian."

Sasuke tidak pernah mengenal arti sebuah pengecualian, maka dari itu ia tidak mengerti. Dendamnya menyebar membabi buta, kebenciannya pun. Pengecualian adalah hal yang tidak ada di dalam kamusnya, tak ada yang cukup berharga untuk dijadikan pengecualian. Tepatnya, sebelum hal itu berharga, akan lebih dulu ia singkirkan. Seperti dahulu saat ia menyingkirkan Kakashi, Naruto, dan Sakura sebelum mereka menjadi terlalu berharga.

Tapi bagi gadis yang ia tinggalkan, kata 'berharga' bahkan mungkin terlalu murah untuk menggambarkan pentingnya ia yang pergi kala itu.

Dengan mata terkatup dan mulut tetutup Sasuke Uchiha berpikir keras.

Kali ini bukan tentang mereka dalam sebuah tim, melainkan mereka per orang. Yang saat itu Sasuke coba tinggalkan bukanlah sebuah tim, melainkan seorang guru yang hampir ia terima dorongannya dengan perasaan suka cita, seorang sahabat yang hampir ia terima rangkulan dengan cengirannya yang ceria, dan seorang gadis yang ia temukan selalu ia cari saat sedang berada dalam situasi genting—untuk mengetahui gadis tersebut tak apa, yang sampai sekarang belum ia ketahui alasannya.

Sasuke yakin ia adalah orang kedua yang mengakui kemampuan Sakura kala itu. Orang pertama yang mengakui kemampuan Sakura adalah Kakashi, yang disusul oleh Sasuke tepat setelahnya (seorang Naruto tidak sepintar itu untuk berpikir hingga ke titik ini). Sasuke tahu benar Sakura akan dapat mengatasi suatu masalah entah bagaimana caranya—mungkin akan teratasi saat ia benar-benar sudah hampir kalah, karena di situlah saat lawannya lengah. Namun, Sasuke yang kala itu mengetahui, tidak juga dapat menahan gerakan matanya untuk mencari—untuk sekedar memastikan.

Pernah ia temukan dirinya yang kala itu merasa begitu remuk setelah sebuah pertempuran terlentang dengan nyaman di pangkuan Sakura. Pernah ia temukan pula kala badannya begitu perih saat puluhan jarum menusuk tubuhnya pelukan Sakura dan suara tangisannyalah yang membuatnya tenang. Juga pernah ia temukan saat seluruh tubuhnya memanas dan menolak ia kendalikan dengan akal sehat, pelukan Sakuralah yang membuat rasa sejuk menjalar, menyesapi setiap pembuluh darahnya untuk menghapuskan kemarahan, membuatnya tenang dengan sebuah pelukan dan suara tangisan yang memohonnya untuk berhenti.*

Seorang Sakura pernah hampir menjadi pengecualian. Namun ia menolak, tidak mau mengakui bahwa ia semudah itu untuk terbuka, maka ia gembok paksa hatinya.

Sasuke membuka matanya, melihat siluet Sakura yang tengah makan di depannya. Pagi ini mereka makan dalam keheningan tidak seperti biasanya, mungkin karena kejadian semalam. Belakang Sakura adalah pintu ke halaman belakang rumah mereka yang selalu Sai buka setiap paginya agar udara masuk ke dalam, sekaligus membantu Sasuke untuk melihat siluet pergerakan. Tidak sulit melihat siluet dengan cahaya yang ada, seperti bagaimana Sasuke dapat melihat Sakura yang kini sedang menyendokkan sesuap kare ke dalam mulutnya.

Tangan Sasuke terangkat untuk mengambil sebotol bubuk nori kecil di depannya. Botol yang sengaja diletakkan tepat di depannya untuk ditambahkan sesuai selera—yang saat ia mencoba ambil malah membuat jemarinya bersinggungan dengan jemari perempuan yang duduk di depannya. Membuat siluet perempuan di depannya terlihat terkejut sesaat, lalu menarik tangannya untuk mengalah pada Sasuke dengan mengucapkan sebuah kata, "maaf."

Jika matanya kini tidak terlalu buta maka ia akan dapat melihat seberapa terkejutnya mata Sakura (yang seingatnya berwarna hijau itu) ketika jemari mereka tidak sengaja bersentuhan atau seberapa kentara rona merah di pipinya. Walau mungkin, hijau mata terkejut dan rona merah itu tak ada lagi ada di sana, tapi Sasuke mempercayai omongan Sai semalam bahwa dirinya masih sebuah pengecualian.

Maka ia tarik napasnya panjang dengan tangan masih menyentuh botol kecil bubuk nori dengan ketiga jarinya. Menghembuskan napasnya, Sasuke kini mendorong botol tersebut dengan telunjuknya hingga terantuk piring Sakura.

"Kau duluan saja," ujarnya sebelum menarik tangan dan menyuap sesendok kare ke dalam mulutnya.

Sai, Naruto, juga Sakura mengamatinya lekat-lekat, terkejut dengan tindakannya, mungkin. Sebuah tindakan kecil kontan membuatnya menjadi bahan pengamatan. Respons yang agak berlebihan, memang, tapi ia adalah sebuah pengecualian, kan.

Ia tidak mengerti apa yang terjadi padanya kini, apalagi mereka. Mengalah pada seseorang (walau hanya sebuah bubuk nori) bukanlah kebiasaannya. Tapi kali ini, entah karena pemikiran panjangnya barusan atau karena rasa bersalah atas kejadian semalam (walau yang salah sebenarnya adalah Naruto), Sasuke akan mengalah. Karena semalam Sasuke telah membuatnya ketakutan hingga menampar Naruto—menampar, bukan meninju, itu berbeda, di mana menampar Naruto bagi Sakura bukanlah sebuah hal yang mudah, Sasuke tahu itu—dan hal itu jika ditambah dengan ucapan Sai semalam mau tidak mau membuat hati batunya merasa bersalah.

.

.

Maka untuk pertama kali sejak ia kembali menginjakkan kaki di Konoha, ia mengalah (untuk Haruno Sakura).

.

.


Bersambung

Di tanda * 'pernah' di pertama adalah saat movie 1, 'pernah' kedua adalah saat lawan zabuza, 'pernah' ketiga adalah di hutan kematian.

Chapter ini hanya chapter pengantar untuk chapter SasuSaku nanti. Yang nunggu SasuSaku tunggulah chapter selanjutnya ya, sabar :p makasih juga yang mau ingetin aku buat update. Sepertinya harus diingetin dulu baru aku bisa ngupdate WKAK

Saran masukan selalu diterima. Silakan review jika berkenan :D

Story only: 2320 words