BAB 13

"Kau akan merusak rencana liburanku. Aku seharusnya berangkat ke Incheon siang ini!"

"Mengantarnya ke klinik tidak akan memakan waktu lama. Kau hanya mengantarnya saja dan aku yang akan menjemputnya. Jadi kau tidak perlu membatalkan rencana keberangkatanmu ke Incheon sama sekali. Ayolah, Sehun. Apakah kau tidak pernah menimbang bagaimana jika hal ini terjadi pada dirimu? Bagaimana jika wanita yang mengandung anakmu berada dalam posisi Jongin, ia butuh bantuan tapi tidak ada seorangpun yang mau membantunya."

"Aku tidak akan membiarkan wanita yang mengandung anakku berlibur bersama dengan sepupu yang selalu membuat masalah sepertimu." Potong Sehun galak.

"Kenapa kau selalu merepotkanku?"

"Aku juga tidak tau mengapa kau terlalu baik dan selalu bersedia untuk kurepotkan!"

Sehun terdiam sejenak, menatap Daisy dengan pandangan yang berbeda, Karena selama ini aku menyukaimu. Gumamnya dalam hati. Sehun takut terlena. Secepat mungkin ia berusaha membuang wajahnya menjauh dari pandangan Baekhyun, tapi ia kembali lagi kepada Baekhyun dan mengangguk tidak rela.

"Baiklah, aku hanya perlu mengantarnya saja, kan?"

"Ya, aku tunggu di bawah. Terimakasih, Sehun!"

Sehun menyesali keputusannya. Ia kalah lagi. Dan akan menuruti kehendak Baekhyun seperti bisa. Kali ini ia akan mengabulkan permintaan Baekhyun, tapi untuk yang terakhir kali karena Sehun tidak ingin terus menerus melunak kepada wanita yang sudah menjadi milik orang lain. Persetan dengan perasaan cintanya, Sehun sudah bertekad melupakan Baekhyun dan ia nyaris bisa melakukannya.

Sehun kembali ke dalam apartemennya dan mengambil kunci mobil. Ia tidak perlu ganti baju, tidak perlu menggunakan parfum dan tidak perlu berusaha untuk terlihat sempurna. Hari ini ia hanya akan jadi supir, kan? Ia hanya akan mengantar Jongin dan segera pulang lalu melarikan diri untuk mengelilingi Incheon beberapa hari.

Di sepanjang perjalanan Sehun berusaha untuk tidak memandang Jongin meskipun Jongin terus mengajaknya bicara. Ternyata Jongin memiliki banyak topik pembicaraan untuk ukuran orang-orang yang baru berkenalan, atau baru bertemu beberapa hari. Suaranya membuat Sehun frustasi, Setiap kali melihat Jongin meskipun tanpa sengaja Sehun akan mendapati bayangan Jongin di dalam kepalanya. Ia tidak pernah mengerti mengapa itu bisa terjadi, rasa bersalah atau menyesalkah yang menjadi penyebabnya? Ia tidak yakin. Sehun tidak pernah merasakan perasaan bersalah itu. Mungkin hatinya sudah sangat beku.

"Terimakasih kau sudah mau mengantarkanku."

"Aku tidak akan melakukannya jika Baekhyun tidak memaksa!" ujar Sehun.

Ia tidak bermaksud mengatakan itu keras-keras. Ia hanya ingin tersenyum dan mengucapkan kata 'sama-sama'. Tapi mulutnya berujar tanpa kendali. Ia sudah berhasil membuat Jongin diam dan memandangnya dengan tatapan penuh penyesalan.

"Maafkan aku karena merepotkanmu!" Sehun hanya bisa menghela nafas. Ia tidakakan mengatakan kata-kata kasar apapun lagi.

"Kau sangat sibuk hari ini?"

"Aku seharusnya bersiap-siap. Siang ini aku akan berangkat ke Incheon. Tapi aku bisa menundanya. Kau tidak perlu khawatir. Berkemas-kemas tidak akan memakan banyak waktu."

"Kalau begitu berhentilah. Aku bisa pergi dengan Bus. Kau bisa kembali ke apartemenmu!" Sehun terdiam sejenak.

Apakah ia menyinggung perasaan Jongin? Ia menoleh untuk memandang Jongin, tapi wanita itu menatap ke luar jendela mobil, memandangi gedung-gedung dan setiap ruas pertokoan di pinggir jalan. Sehum rasa Jongin tidak marah, ia hanya mengerti kalau Sehun tidak suka diganggu.

"Kau serius? Aku bisa mengantarmu, hanya mengantar saja, kan?"

"Aku baik-baik saja. Aku sudah pernah kesana bersama Baekhyun untuk mendaftar."

Sehun benar-benar menghentikan mobilnya dan membiarkan Jongin turun di pinggir jalan. Jongin berusaha tersenyum dan melambaikan tangannya dengan ramah, selang beberapa saat wanita itu sudah berjalan menuju sebuah arah yang Sehun tau adalah arah menuju stasiun. Tapi Sehun belum tenang jika belum memastikan Jongin benar-benar aman menaiki Bus. Ia mengikuti setiap langkah Jongin dengan pandangannya.

Gadis itu menoleh secara mendadak ke arahnya dan Sehun melihat sesuatu yang lain. Jongin menangis, dan Sehun mendapati sebuah luka dihatinya saat melihat air mata itu.Jadi dia tersinggung? Aku sudah menyinggungnya?

"Kau mengantarnya ke klinik itu, kan? Aku tidak bisa menemukannya dimana-mana!" Baekhyun berteriak-teriak di telpon.

Sehun sekarang tengah menunggu pesawatnya menuju Incheon tinggal landas. Ia sudah berada di dalam pesawat saat ini dan pramugari berkali-kali memintanya menon-aktifkan telpon genggamnya.

"Dia berkeras untuk naik Bus, katanya kalian sudah pernah kesana dan dia mengingat jalannya."

"Dan kau membiarkannya pergi dengan Bus? Kau keterlaluan sekali. Dia baru di Kota ini, bagaimana bila ia dibawa Bus ke suatu tempat yang tidak dikenalnya? Aku bersumpah tidak akan meminta bantuanmu lagi."

Baekhyun terdengar seperti orang yang sedang menahan tangisanya. Sebuah bunyi gebrakan kuat mengakhiri bunyi telpon. Baekhyun sudah memutuskan telponnya, mungkin dengan membanting ponsel di lantai?

"Tolong matikan ponsel anda, pak. Kita akan segera berangkat menuju Incheon dan anda tidak diizinkan menggunakan ponsel selama penerbangan!"

Sehun menggenggam ponselnya erat-erat. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Karena Baekhyun marah padanya atau karena membuat Jongin menghilang? Sehun bisa menghadirkan kembali pemandangan memilukan tadi siang saat Jongin menoleh ke arah mobilnya dan Sehun melihata wajah sedihnya. Ia gelisah, sangat gelisah.

"Pak, sekali lagi saya peringatkan untuk mematikan pon..." Sehun berdiri seketika dan keluar dari dalam pesawat.

Ia tidak bisa pergi jika digelayuti dengan beban seperti ini. Mungkin ia harus menemukan Jongin, barulah kembali melanjutkan rencananya ke Incheon. Ya, harus begitu. Sehun tidak bisa pergi begitu saja jika Jongin masih tidak diketahui keberadaannya hingga sekarang.

Dalam waktu singkat Sehun sudah berkeliling Mokpo demi mencari Jongin, Ia juga sempat bertemu dengan Baekhyun dan Chanyeol, Baekhyun benar-benar tidak bisa membenci orang dalam waktu yang lama. Sepupunya itu sudah menyapanya, mengeluh tentang betapa takutnya ia jika terjadi sesuatu pada Jongin dan seterusnya. Chanyeol juga terpaksa menutup cafenya lebih awal demi pencarian ini. Pada akhirnya mereka benar-benar melakukan segala pencarian itu bersama-sama dan tidak mendapatkan apa-apa.

Sehun semakin merasa bersalah, wanita itu tidak ditemukan juga. Jongin menghilang seolah-olah ditelan bumi begitu saja. Atau dia terbawa ombak? Tidak mungkin, kan? Sehun akan membenci dirinya jika terjadi sesuatu pada Jongin karena ulahnya. Ia selalu memberi masalah pada wanita itu.

Setelah menghilang selama nyaris seminggu, beberapa buah jejak Jongin terbaca. Ia sempat berangkat dengan Bus menuju Seogwipo. Sehun mengerti mengapa ia bisa tidak menemukan Jongin di Mokpo. Wanita itu ternyata sudah tidak berada di dalam kota Mokpo lagi.

Sayangnya, dengan cepat jejaknya di Seogwipo menghilang lagi dan pada akhirnya, kantor polisi memanglah satu-satunya tempat terbaik untuk mendapatkan informasi. Sehun mendapatkan jejak Jongin melalui penelusuran dari satu kantor polisi ke kantor polisi lain. Gadis itu sudah berada di sebuah klinik kepolisian di wilayah Hangyeong. Tidak perduli jika itu sudah malam, Sehun tetap berangkat kesana untuk menjemput Jongin.

Ia sangat khawatir dan selalu dirongrong perasaan seperti itu selama Jongin belum ditemukan. Sehun merasa kalau dirinya tidak akan pernah bisa hidup tenang, kecuali bila ia bisa melihat Jongin lagi.

"Dia di temukan sedang pingsan di jalan. Saya rasa karena kelaparan. Kami kesulitan mencari informasi tentangnya karena ia hanya membawa kartu identitas dari Seoul. Kami bisa tenang jika anda memang keluarganya."

Sehun mengerang. Wanita bodoh itu, bagaimana mungkin ia bisa bepergian tanpa membawa identitas lengkapnya. Jika saja Sehun tidak mencarinya, mungkin Jongin sudah dalam masalah sekarang. Ia bisa saja dianggap sebagai imigran gelap dan dihukum karena itu, atau mungkin orang-orang akan memanfaatkannya. Jika saja Sehun tidak berinisiatif mencari dengan bantuan polisi, ia tidak yakin akan menemukan Jongin.

Klinik kepolisian itu tidak begitu penuh. Hanya terdapat beberapa orang yang mengisi ranjang khas militer untuk diobati. Di salah satu ranjang kecil itu, Sehun mendapati Jongin yang duduk bersandar dengan sangat lemah. Ia memandangi semangkuk bubur yang berada dalam pangkuannya dengan tatapan iba. Airmata itu terjatuh lagi. Sehun semakin marah, entah pada siapa.

Dengan cepat ia menyongsong Jongin dan duduk di dekat kaki-kakinya. Pada saat itu Jongin menatapnya.

"Kau baik-baik saja?" Sehun berusaha untuk tidak marah.

Jongin mengangguk sambil menghapus air matanya.

"Kenapa bisa begini? Kau sadar sudah berapa hari dirimu menghilang? Baekhyun dan Chanyeol sangat mengkhawatirkanmu. Dan lihat kau sekarang, berada disini dengan alasan kelaparan? Kau tidak punya uang?"

Tbc.

Novel by PHOEBE