XIV.
"He who fight with monsters might take care lest he thereby become a monster.
And if you gaze for long into an abbys, the abbys gazes also into you."
"...AHHH- AHHHH...! AH-"
Riku mengerang seperti binatang. Berkali-kali... Belasan... Puluhan...
Ia kehilangan fokus menghitung kala rajaman terus, dan terus menggalinya- dalam... sangat- sangat- SANGAT dalam... dan cara deret kuku jemari kedua tangan yang mencakar bidang dadanya... Lalu deret kuku serupa dari kedua tangan yang berbeda pada pak otot perutnya selama pemuda bertubuh jangkung di depannya terus, dan terus menungganginya sesuai irama dari posisi-
"...NINE...! AH- NINE! AHH- HENTI- AHHH-H...! AH-"
Nine tersenyum menatap ekspresi "berusaha bertahan di titik puncak" yang teranimasi jelas pada wajah Tuannya, dan dirinya pantang berhenti karena ini sesuai sifatnya, yaitu membuat semuanya menjadi sulit. Sementara dalam keadaan punggungnya yang merebah pada permukaan ranjang... Kini, kedua matanya semakin berbinar-binar memperhatikan bagaimana si King yang berada di belakang Tuannya... telah hanyut meresapi momen intimasi "threesome" yang terlalu liar untuk didefinisikan.
King tahu Tuannya mengharapkan rasa- cara yang "keras", namun jika dirinya yang "memimpin" dalam kegiatan seks... maka sudah sepatutnya bersikap lembut sesuai kualitas perasaan karena ini adalah Tuannya. Tapi keinginan Tuannya adalah tema yang "kasar", dan tubuh Tuannya ini... luar biasa dari definisi perempuan,
Dan King... hendak mengambil kembali semua perhatian Tuannya yang sekarang dihibahkan penuh pada Nine.
"...AAAHH! KING- AHH-"
Alunan erangan Riku semakin keras saat barisan gigi merajam lehernya, membuatnya mendongak agar memberikan keleluasaan penuh karena perih dari gigitan sebelumnya belum menutup. Dan dirinya belum pernah merasakan kenikmatan digigit berulang kali di tempat yang sama... terus, dan terus... Pemuda bernama "King" ini sangat brutal, membuatnya nyaris melelehkan air mata karena tingkat rasa sakit yang luar biasa.
Kini, kedua mata Riku menatap rancu pada langit-langit batu berdesain mewah milik gedung penginapan.
Tempat terbaik untuk bersembunyi kala Kerajaan Milites mengerahkan ratusan pasukan robot "Madou Armor" ke segala penjuru benua Oriense... adalah Kerajaan Milites sendiri.
Berada tidak jauh dalam ruangan kamar di puncak gedung; ruangan kamar berkelas Suite ini,
Ace masih duduk pada sofa panjang, kedua tangannya masih menyusun kartu khas miliknya di atas meja kaca selama menonton pertunjukan gila yang terjadi di atas ranjang dan bagaimana rusuhnya darah segar yang berceceran pada permukaan seprei.
Tadi, meski Trey dan Jack sedikit sungkan... Toh berakhir memperoleh secercah "berkah" dari leher Tuannya, bahkan sampai dihadiahi dengan aksi oral- setidaknya itu menjelaskan dari mana bercak-bercak darah yang berantakan pada permukaan lantai di dekat ranjang.
Setidaknya juga, Trey dan Jack pergi bersama Eight untuk menemani para gadis dan berbaur dalam masyarakat Kerajaan Milites: mengumpulkan informasi sekaligus melatih... untuk menahan diri.
Ace mengakui "suka" dengan Tuannya di luar batas pengabdian, namun tidak begini. Aturan "liar" memang berada dalam lingkarannya, namun tidak se-"rusak" ini.
Kegilaan Tuannya... sungguh mengkhawatirkan.
Bicara tentang kata "Tuan", Ace tidak mengerti... kapan kata itu pernah ada dalam kamusnya. Ingatannya beserta kesadarannya sangat jelas bahwa pemuda berambut perak itu adalah Tuannya dan dirinya seharusnya berdiri di samping Tuannya, walau sejauh kata "janggal"... kenyataannya telah mengikrarkan bahwa dirinya adalah Pelayan abadi dan milik Tuannya.
"..." Ace membalikkan sebuah kartu Tarot yang baru diambilnya dari deck Major Arcana yang tertutup. Pandangannya menjadi sayu saat menatap gambar "The Hanged Man", angka "XII". Sosok seorang pria digantung terbalik dengan satu kaki menekuk, membentuk angka "4"; angka kematian.
Sisi selebihnya dari penjabaran itu adalah... pengorbanan, kesabaran, awal dari pandangan yang baru, atau... menyerah.
Ace lebih mengartikannya pada perdebatan "hati".
Untuk pertanyaan hati siapa?
Kedua matanya sekarang menatap pada Tuannya yang masih mengerang dan menikmati alur persetubuhan "threesome".
Si King luar biasa, menggigit bak hewan sembari memainkan irama.
Si Nine pun... lebih luar biasa, kini maju dan merampas irama erangan dengan menyegel mulut Tuannya menggunakan mulut sendiri. Pemuda itu selalu mempunyai keahlian untuk memperkeruh suasana- dalam arti disini: menuangkan minyak ke dalam api yang membara.
Ace meletakkan kartu itu di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya pada tahanan sofa dan menikmati pemandangan sinting yang masih berjalan. Mereka adalah Vampir, masing-masingnya mempunyai energi tanpa diferensiasi limit, walau yang tersebut "limit" tetaplah ada.
Tiba-tiba suara Tuannya melengking keras,
"...AAAAAAAAAAHHHHHH!"
Tuannya buyar dalam asap hitam, kemudian melebur dan bentuk Tuannya telah hadir di pelataran balkon yang luas, sambil memegangi batok kepala dengan tingkah antara frustasi dan kesakitan- parah, sangat parah. Seolah-olah lagi berperang dengan pikiran.
Ace langsung muncul menahan King yang hendak menyusul untuk menenangkan Tuannya, sedangkan Nine sudah muncul di belakang Tuannya dan hendak memegang pundak kanan Tuannya,
"NINE, JA-" Seruannya terlambat,
Ratusan bilah pedang katana tanpa gagang merebak keluar dari miasma hitam nyaris secara reflek, sekaligus nyaris merobek tubuh Nine jika Ace tidak sigap menjauhkan temannya dari Tuannya.
Tiga pasang sayap berbulu bilah itu, masing-masing bilahnya terbalut api hitam berlapis kilatan-kilatan aliran petir- seperti bentuk "keagungan" dari makhluk tertinggi kelas... "Neraka".
Seketika sayap-sayap itu membentang panjang secara ketidakharmonisan, energi yang terpancar menggerus permukaan lapisan lantai batu. Untungnya tidak sampai merusak lapisan beton dari keseluruhan pembatas balkon karena bila sampai runtuh, sudah pasti akan memancing keributan dari masyarakat di sekitar gedung.
Nine langsung memasang tameng "Safety Guard" di seputar dirinya dan Ace sewaktu bebatuan beserta debu berisi potongan-potongan tajam, bahkan kursi-kursi peristirahatan dekat kolam beserta gulungan air terlempar ke arah mereka.
Kaca pembatas balkon pecah dan buyar berantakan. Metal-metal baja ringsek dan dinding bergetar diikuti retakan-retakan yang menjalar. King memutuskan untuk menarik Nine dan Ace ke dalam ruangan.
Sedangkan Ace masih menatap tidak percaya. Apa... yang terjadi...?
"GAAAAAAAAAHHH! BANGSAT!" Teriak Riku, sambil mencakar kulit kepalanya,
"...Heeheheeheheehe... menikmati malam yang sangat- sangat- SANGAT luar biasa, huh?
Oh, kekasihku. Kamu membuatku iri. Tahukah kamu... kalau aku... merindukan... tubuhmu yang indah... Mmmmh-h..."
"...GGGRRHH! MENYINGKIR DARIKU!" Geram Riku, jemari kedua tangannya mulai menjambak rambutnya karena kekesalan dan kemarahan.
Suara itu...
Suara itu... berderik dan mengoyak kepalanya. Mencabik-cabik seakan-akan mencacah otaknya, dan seperti cakar, hendak menguak tengkorak kepalanya dari dalam,
"...Kekasihku... Kekasihku... Bintang fajar-ku... Aku merindukanmu... Aku sangat- sangat- SANGAT MERINDUKANMU!"
Riku seharusnya sudah melapisi pikirannya agar tidak terkena "invasi" nyasar. Tapi kalimat-kalimat itu... ditujukan memang baginya. Hanya baginya,
"...Kamu membuatku kesepian.
Oh, kekasihku... kekasihku... Aku ingin bercinta denganmu... keras, keras, keras, dan kasar... terus dan terus dan terus... mengisimu dan membuatmu merintih, mengerang keras, lalu membuatmu memohon dan memohon... hanya namaku... hanya namaku... namaku, kekasihku...
namaku..."
"...Ohh-" desah Riku, sambil memejamkan kedua matanya dengan pasrah, dan meredakan energi sebareng membebaskan pelindung dari pikirannya, membiarkan ilustrasi-ilustrasi erotika terlukis jelas di dalam kepalanya...
"...Ahhh... Cantik..."
Desahan dari pemuda berambut biru tua; sebiru malam yang kelam... sembari merayapkan jemari kedua tangan yang diliputi lapisan semacam "kulit" berwarna hitam dan berhias merah, pada setiap lekuk lembah pak otot perutnya... menyusuri hingga bidang dadanya... selama barang kepemilikan milik pemuda itu mengisinya dan merajam tubuhnya, memainkan alur persetubuhan dengan irama keras, keras, keras, dan kasar... membuatnya mengejang di batas antara hidup dan mati...
"...Ohhh-h... Ohh..."
Desahan Riku semakin terdengar keras. Jemari tangan kirinya memegang metal baja pembatas balkon, sementara jemari tangan kanannya bekerja mengocok barang kepemilikannya. Dirinya belum pernah memuaskan diri dengan cara... imajinasi nyata. Meski secara sadar... pemuda berambut biru tua itulah yang mengirimkan seluruh variasi imajinasi ini.
"...Ohh- Mmmhhh-h... Kamu sungguh cantik, kekasihku..."
Suara yang keluar dari bibir yang membentuk garis seringai... Bagaimana tingkat intimidasi dari kedua iris kuning yang berpendar di tengah pemandangan hitam... lalu... lalu... wajah tanpa cela, namun...
Wajah itu...
"...Masih Sora, hm...?"
Sora...?
"...Kalau kamu terus memandangnya, aku akan sangat marah padamu..."
Sora... Langit... Sora...
Langit biru yang cerah...
Langit...
Langit-
"BERHENTILAH MEMANGGIL SORA!"
"...!" Riku membelalak, dan jemari kedua tangannya langsung menggerat kulit kepalanya, sementara baris gigi saling menggerat karena menahan sengatan-sengatan bak pecutan cambuk berduri yang sangat menyakitkan.
"...Keparat... Berhenti... Bermain dengan kepalaku..." bata Riku, setengah memohon.
"Aku akan berhenti, jika kamu... bisa menemukanku.
Meski kamu adalah Pelayan abadi-ku, aku tidak akan memanggilmu. Dan teruslah merana dengan suaraku. Kamu tidak akan pernah bisa menghindariku. AKU ADALAH TUANMU!"
"...Tuan...ku..." Ulang Riku, selama memandang parau pada barisan gedung dan suasana ibu kota Kerajaan Milites. Kedua matanya kini mengamati gugusan bintang yang membentang sepanjang warna hitam.
Ah, hitam. Malam selalu indah, kalau ditambahkan warna... darah.
Bintang Fajar, huh?
King dan Nine sudah berpakaian sedari tadi, sementara Ace memperhatikan Tuannya berjalan sedikit terhuyung, menjauh dari pinggir balkon dan... terkekeh, sangat asing dan maniak, lalu...
"...Heehehee- AHAHAAHAAHAHAAHAAA!" Riku terbahak seperti orang kesetanan, bahkan berkata seperti orang tidak waras,
"...Bajingan... Pemuda bajingan... Aku akan merobekmu... mengoyak-ngoyak seluruh organ dalam beserta dagingmu... dan menyebarkannya ke tujuh samudera... Dasar bajingan... Aku pasti menemukanmu... Aku pasti-"
Kalimat gila itu berhenti meluncur dari mulutnya bertepatan kedua mata Riku membelalak dan wajahnya memaling, seiring ngiang dari suara "PLAK!" akibat tamparan keras dari telapak tangan kanan yang barusan mendarat di pipi kirinya...
Seketika Riku menatap datar dengan pancaran aura "hukuman mati", acuan seluruh ujung bilah katana dari sayap langsung berhenti serempak dalam posisi mengancam di seputar sosok Ace.
Tiga pasang sayap berbulu bilah tajam itu sama sekali tidak menggemingkan Ace untuk tetap berdiri di depan Tuannya.
Ace tadi sudah mengambil kartu "The Hanged Man", kali ini... arti disini: menunggu; menunggu untuk bisa memberikan pengarahan pada jiwa Tuannya yang telah berada di ambang... kemunafikan.
"Lihatlah dirimu," ucap Ace dengan suara pelan, namun menusuk.
"Semua Pelayan abadi-mu memandangmu seperti alien," sambung Ace, dan tetap meneruskan, walau kedua mata Tuannya semakin memicing penuh kemarahan,
"...Membiarkan tubuhmu dimanfaatkan oleh semua... bahkan mereka menggerakkan pikiranmu seperti boneka. Lihat dirimu! Lihat KAMI!" Bentak Ace.
Riku kini terhenyak, dan menatap sayu pada Agito-nya seraya mengucap dengan suara pelan,
"Kenapa... kamu seperti diriku, Agito-ku."
Petunjuk "diriku" karena... Riku merasa pernah mengucapkan kalimat yang nyaris serupa... dulu... dulu... pada...
Riku memejamkan kedua matanya dengan erat. Kesedihan yang seketika mengalir dalam seluruh pembuluh darahnya... Kesedihan karena merasa kalimat-kalimat itu adalah kalimat terakhir bagi seseorang yang disayanginya, dan dirinya tidak bisa mengingat satupun selain... sosok Kairi dan Roxas, juga...
Déjà vu.
Jemari tangan kanan Riku menyeka rambut pirang Agito-nya. Dua jari mengambil sejumput, lalu menyusuri kumpulan helai itu hingga ujung.
Apa yang senyata pandangannya... Inilah yang ada, baginya.
Ace hanya bisa tersenyum lega saat Tuannya memudarkan ketiga pasang sayap berbulu bilah pedang, dan tarian asap hitam di sekujur tubuh itu membentuk pakaian serba hitam: jaket panjang yang khas dan sepasang sarung tangan, berpasang celana panjang dan sepasang sepatu boot.
Kain hitam yang terbentuk di telapak tangan kanan Riku, dipasang menutupi kedua mata dan panjang selebihnya digantungkan ke belakang daun telinga.
Riku tidak membutuhkan senyata pandangan karena pandangan yang ingin diperolehnya adalah...
Hitam.
Itulah warna yang seharusnya "ada" untuk dirinya. Dan "sendirian", itulah pedomannya.
Jemari tangan kanan Riku kini meraba pusat dada, lalu asap-asap hitam menganimasikan "sihir" di seputar jemari seakan-akan mengeluarkan sesuatu dari lapisan kain jaket.
"..." Ace terhenyak saat sebuah kartu terbentuk dan disodorkan ke hadapannya, kemudian Tuannya mengucap,
"Jiwa, hati, dan cinta. Tertanda namamu, Agito-ku."
Ace menerimanya, dan kedua matanya terbuka lebar kala memandang gambar di dalam kartu,
Sosok Tuannya dalam versi "The Devil", angka "XV", namun... terdapat gerbang pintu besar berwarna putih yang berdiam di belakang sosok Tuannya, dan di depan sosok Tuannya terdapat hati merah; semerah darah yang dirantai oleh rantai metal hitam, terhubung dengan dua sosok; pemuda dan pemudi,
Yang pemudi, berparas manis dan berambut merah sepertengahan punggung. Yang pemuda, berparas imut dan berambut coklat tatanan "spike".
Rantai-rantai metal hitam itu menutupi bagian-bagian personal dari tubuh mereka yang tanpa mengenakan selembar benang pun. Keseluruhan dari lukisan di kartu berupa potongan kaca mirip pada jendela gereja. Bila semua itu diatur, akan tertulis...
Ace melafalkannya, "Kingdom Heart."
Tapi Tuannya sudah mengambil duduk di atas pembatas balkon, dan Ace sudah tidak dapat melihat jendela jiwa disana.
Riku memanggil, "King, Nine!"
Begitu King dan Nine muncul di hadapannya, Riku menerangkan, "King, tugasmu adalah memimpin koordinasi seluruh bidak. Nine, kamu adalah bidak Benteng."
Nine mengangkat kedua alisnya, namun tidak membantah saat Tuannya memanggil kembali dengan cara komando absolut "Tuan" terhadap "Pelayan abadi"-nya,
"Queen, Deuce, Trey, Cater, Cinque!"
Lingkaran-lingkaran portal hitam terbentuk di permukaan lantai batu seiring kehadiran sosok-sosok bermunculan.
Riku mengamati baik-baik gadis yang bernama "Deuce". Gadis itu mirip... Ah, lupakan.
Ia segera menerangkan, "Deuce, kualitas pengendalianmu luar biasa dan aku ingin kamu mengembangkan sistem Necromancer. Gunakan pasukan itu sebagai bidak Prajurit-mu."
Lalu memperhatikan pemuda yang bernama "Trey". Pemuda itu elegan dan santai, mirip...
Riku mengacuhkan perasaannya, dan menerangkan,
"Trey, kamu adalah bidak Dayang, mulai sekarang kamu memiliki kuasa penuh terhadap Hellhound-ku." Kemudian melanjutkan,
"Cater, kamu juga bidak Dayang, prioritasmu adalah menjaga King dan Queen, aku akan menciptakan pasukan Assassin sebagai bidak Prajurit-mu. Queen, tugasmu adalah informasi apapun yang bisa kamu peroleh. Cinque, kamu adalah bidak Benteng dan aku ingin kamu ber-partner dengan Nine."
Nine kini mengernyit, dan komentar, "Ayolah, Tuan. Aku tidak mau ber-partner dengan gadis yang tindakannya tidak bisa diprediksikan."
"Hehehe~" Cinque tertawa manis pada Nine, namun sudah memanggil senjatanya untuk persiapan menyerang- entah pada siapa. Dan Nine hanya bisa menghela nafas panjang saat Tuannya tidak memberikan ekspresi apapun sewaktu memanggil,
"Sice, Seven, Eight, Jack."
Lingkaran-lingkaran portal hitam serupa beserta sosok-sosok yang hadir tidak jauh dari Riku.
Riku mengamati seksama penampilan pemuda bernama "Eight". Ya, mirip... Ugh, lupakan. Ia segera menerangkan pada pemuda itu,
"Eight, kamu adalah bidak Kuda karena kamu cepat seperti kilat dan pukulanmu mematikan. Aku menginginkan kelas Werewolf menjadi bidak Prajurit-mu."
Lalu Riku mengarahkan wajahnya pada Sice, dan melanjutkan, "Sice, kamu juga bidak Kuda, dan aku juga menginginkan kelas Reaper menjadi bidak Prajurit-mu." Kemudian memberi perintah khusus pada Eight dan Sice,
"Kalian HARUS mendapatkan kedua kelas itu dengan cara apapun, terserah jumlahnya. Sekarang, jalan!"
Eight dan Sice mengangguk, lalu membuka Portal Kegelapan dan lenyap dari pandangan.
Riku kini memperhatikan pemuda bernama "Jack". Pedang katana... dan bibir itu selalu tersenyum penuh keyakinan, sedikit mirip dengan...
Ia menghela nafas panjang, kemudian bicara pada Jack, "Jack, seranganmu menarik dan mampu bertahan dalam keadaan terburuk. Aku menyukaimu. Tapi harapanku, kamu bisa bersikap tanpa pandang bulu. Libas saja semua yang ada di hadapanmu... kecuali teman-temanmu, tentu. Prioritasmu adalah menjaga Deuce."
Lalu Riku bicara pada Seven, "Seven, kamu mempunyai perasaan terhadap Sice. Hilangkan itu,"
Wajah Seven merona atas keikutsertaan nama "Sice", namun tetap mendengarkan kala Tuannya meneruskan,
"Kamu punya fokus. Tapi biasakan jangan maju sembarangan. Karena itu, aku mau kamu mengambil kelas Eidolon milik para Pemburu sebagai pengganti War-God. Prioritasmu adalah menjaga Agito-ku."
Riku mengarahkan wajah pada Agito-nya, kemudian pada kesembilan anggota Kelas Zero, dan mengucap,
"Aku ingin mengetes formasi yang ada, sekarang. Tujuan pertama kita adalah Midgar; ibu kota negara Cetra. Tujuan kedua adalah membumi-hanguskan Valhalla."
Queen menyela, "Tuan, kenapa... Midgar?"
Riku turun memijak permukaan lantai batu, dan tersenyum saat menjawab, "Karena aku ingin melihat... Sektor 7." Lalu menambahkan kalimat di dalam hati,
...Dan aku ingin menghabisi Tuanku.
TBC...
A/N:
Wah... Ri-Riku melakukan threesome! *Author bisa merasakan bagaimana perasaan si Ace yang jadi penonton*
Baiklah, yang penting... Riku sudah serius. Yay! *Author sorak-sorak ala cheerleader*
Author membayangkan Jack sebagai "Sephiroth", Eight sebagai "Loz", Trey sebagai "Yazoo", dan Ace sebagai "Kadaj". Huhuhu~ Mirip sih, cuma minus kegilaan dari sel-sel Jenova. Ahahaha~ Lalu Deuce... coba tebak sebagai siapa?
Seven dan Sice? Yuri? Author memilih melewatkan bagian itu.
Judul bab diambil dari quote Friedrich Nietzsche, "Beyond Good and Evil".
Makasih reviewnya~ *hugz Not*
Untuk Not: Ayo-ayo main kartu, Riku sudah siapin formasi tuh. Sepertinya, jadwal untuk melawan Organisasi terpaksa diundur gara-gara si Vanitas iseng. Hehehe~
Bab selanjutnya...
Mari bermain dengan kartu Tarot Major Arcana angka "XV", Author akan membuka tirai panggung untuk... *tadaaa~* sambutlah, "The Devil".
Ditunggu reviewnya ^^
