Our new neighbour
By dikitlagisampe
"Appa! Baba! Appa! Baba! Ayo kita ke sebelah!"
Adalah teriakan cempreng Ziyu yang membuat Sehun mau tidak mau menggeram kesal. Anak itu kelihatannya terobsesi sekali dengan tetangga baru misterius yang kemarin baru saja pindah tepat di sebelah rumah mereka. Misterius, yang benar saja. Sehun benci membuat julukan itu namun entah mengapa benar adanya.
Adat istiadat membesarkannya untuk 'bersosialisasi' dengan tetangga begitu mereka pindah ke rumah baru. Namun sepertinya hal tersebut tidak berlaku bagi orang baru itu. Terhitung dua puluh tiga jam lima menit sejak keluarga misterius itu pindah, namun mereka sama sekali belum menerima undangan untuk jamuan makan malam atau lainnya. Bahkan Sehun sama sekali tidak tahu nama mereka. Ia mulai berpikiran parno.
Jangan-jangan mereka imigran gelap?
Namun Luhan, dengan segala kepolosan dan hati lugunya mengajak sang suami bersama Ziyu dan Haowen untuk berkenalan dengan sang tetangga misterius, sekaligus menawari mereka untuk makan siang bersama ; mencicipi hidangan lezat yang dibuat oleh Luhan si koki amatiran.
"Aku sudah siap!" Luhan keluar dari kamar dengan penampilan rapi. Rambut cokelat madunya tertata sementara kemeja biru langit yang ia kenakan entah mengapa membuat semuanya menjadi lebih menarik dan mempesona. Sehun, dengan segala kerendahan hati, mengakui bahwa Luhan adalah orang paling manis yang pernah dilihat oleh dua bola matanya.
Melihat Luhan yang nyaris sama antusiasnya seperti Ziyu membuat wajah Haowen semakin tertekuk. Sejak awal ia tidak menyukai gagasan yang diutarakan oleh ayahnya. "Baba, tugasku masih banyak! Kita bertamu kapan-kapan saja."
"Setidaknya kau harus berkenalan dengan mereka, Haowen," Luhan tersenyum lebar. "Ayo, lima menit saja. Berkenalan lalu kau bisa pulang ke rumah dan mengerjakan tugasmu." Ekor matanya melirik Sehun yang masih duduk dengan malasnya. "Hun-ah, kau tidak ganti baju?"
"Kenapa harus ganti baju?"
Luhan menatap Sehun dengan pandangan mencela. "Setidaknya gunakan pakaian yang lebih layak."
"Apa yang salah?" Sehun tidak terima. Kaus putihnya memang sudah agak kumal tapi amat berharga. Terlebih ini adalah pakaian favorit Sehun. "Ini sudah cukup bagus untukku. Tidak perlu ganti baju."
Tahu benar watak Sehun yang keras kepala membuat Luhan tidak dapat berbuat apa-apa kecuali membiarkan lelaki itu memakai kaus kebanggaannya ke 'jamuan agung' yang sebentar lagi mereka hadiri. Ia akhirnya merangkul Haowen, yang sedang berjalan terseok-seok secara menyedihkan seolah tenaganya habis karena suatu hal.
"Baba harus janji hanya lima menit!" rengek Haowen malas. Ia benar-benar sedang tidak dalam keadaan terbaiknya untuk bertemu dan berkenalan dengan orang lain.
Luhan mengacak-acak rambut Haowen pelan. Anak itu sudah berusia sepuluh tahun tapi kadang kelakuannya jauh lebih manja dibandingkan dengan Ziyu yang berusia lima tahun. "Tentu saja, Baba janji. Nah, sekarang senyum. Kau kelihatan lebih tampan ketika tersenyum, sayang."
Mau tidak mau Haowen menarik kedua ujung bibirnya, menciptakan sebuah senyuman jelek kurang enak di pandang yang hadir disana. Luhan hanya tertawa, dan tawanya semakin nyaring mendengar Ziyu yang riuhnya luar biasa ketika mereka sudah berada di depan pagar rumah 'tetangga baru'.
"Appa! Tekan belnya!" teriak Ziyu histeris. Ia menggoyang-goyangkan tangan kekar Sehun yang bertautan dengan jemari kecilnya. "Tetangga baru kita tidak tahu kita datang. Ayo tekan belnya!"
Sehun tersenyum, mengangkat tubuh Ziyu sehingga anak manis itu bisa meraih bel yang memang tergantung amat tinggi. "Ayo Ziyu tekan belnya."
Ziyu terkikik pelan, menekan bel sebanyak empat kali secara beruntun—barangkali agak terlalu bersemangat—sebelum meminta Sehun untuk menurunkannya sembari mengeluh bahwa pinggangnya terlalu geli. Tidak lama kemudian terdengan sahutan suara lelaki dewasa dari dalam rumah. Pintu kemudian terbuka, menampilkan profil wajah tetangga baru mereka yang sesungguhnya.
"Oh!" Tetangga baru tersebut kelihatan terkejut, sebelum mengendalikan ekspresi wajahnya dan memasang sebuah senyuman lebar. "Ada yang bisa kubantu?"
"Kami tetanggamu, rumah nomor seratus empat. Kau belum muncul sejak kemarin jadi kami memutuskan untuk berkunjung kesini. Apakah tidak apa-apa?" tanya Luhan dengan senyuman lebarnya.
Tetangga itu bertepuk tangan dua kali, wajahnya lebih antusias dibandingkan dengan tadi. "Kalian perhatian sekali. Aku sangat sibuk membereskan rumah, jadi belum sempat keluar rumah." Pintu terbuka lebar-lebar. "Ayo silahkan masuk, agak sedikit berantakan tapi sudah tidak terlalu berdebu."
Mereka masuk, disuguhi pemandangan ruang tamu yang tidak terlalu luas namun entah mengapa terkesan kosong. Barangkali karena tidak adanya pajangan—lukisan atau foto—di dinding. Ziyu sibuk berbisik akan suatu hal, entah pada siapa. Barangkali pada dirinya sendiri. Sementara Haowen tetap mempertahankan rengekan pelannya tentang betapa banyak tugas yang harus ia kerjakan untuk besok.
"Aku Huang Zitao." Tetangga baru itu akhirnya memperkenalkan diri, memilih untuk dipanggil 'Tao' sebagai panggilan kesayangan. Dengan ramah Tao menceritakan segala hal, mulai dari urusan tetek bengek tentang kepindahannya, suaminya yang masih berada di Kanada, lalu—hal ini membuat Haowen agak bersemangat—ia dan suaminya mengadopsi seorang anak bernama Lauren yang sekarang ini berusia lima tahun,seusia dengan Ziyu.
Haowen yang agaknya terlalu penasaran sulit menahan diri untuk tidak bertanya. "Dimana Lauren?"
Ziyu mengerutkan alis.
"Ada di kamarnya, sayang." Jawab Tao antusias, bangkit dari duduk nyamannya di sofa. "Tunggu sebentar, akan kupanggilkan."
Melihat tingkah Haowen yang kelihatan bersemangat membuat Ziyu merasa aneh. Oh, terlalu janggal. Apa yang akan kakaknya lakukan? Meninggalkannya, begitu? Ziyu tidak pernah terbiasa untuk melakukan sesuatu sendirian. Tiba-tiba mendapati gagasan bahwa Haowen mendapatkan seorang teman baru—ditambah fakta bahwa Lauren adalah seorang gadis—membuatnya merasa asing.
Tidak lama kemudian, Tao datang dengan Lauren yang berjalan di sampingnya. Gadis itu mengenakan bandana merah muda, sama dengan warna pakaiannya. Sedetik kemudian Haowen berdiri, menatap Lauren dengan senyum lebar penuh kekaguman.
"Halo, namaku Haowen. Senang berkenalan denganmu!"
Alis Ziyu semakin berkerut penuh ketidaksukaan.
-oOo-
Yang tak disangka oleh kedua kakak beradik itu adalah ternyata Lauren memiliki banyak mainan. Ia memiliki berbagai macam koleksi lego—meskipun Lauren mengaku bahwa ia tidak pernah mencobanya—puzzle, dan yang lebih aneh, mobil-mobilan. Namun seperti gadis kecil kebanyakan, yang menjadi favoritnya adalah barbie dan juga boneka Winnie The Pooh yang menggemaskan.
Meskipun sebal, Ziyu tetap senang karena ada berbagai potongan puzzle disana. Baba dan Appa menyuruhnya untuk pergi mengikuti Haowen dan Lauren—tentu saja ia menurut. Bisa jadi Ziyu mati bosan kalau harus mendengarkan percakapan tua antara Tao dan juga Appa - Babanya. Ia nyaris berteriak bahagia karena Lauren memiliki Puzzle dengan gambar Sailor Moon.
Nyaris.
Karena suara teriakannya mendadak teredam secara tragis ketika melihat Haowen yang lebih memilih menghabiskan waktu dengan bermain bersama Lauren. Apa yang salah dengan puzzle? Apakah bermain puzzle tidak lagi menyenangkan sampai-sampai Haowen meninggalkan Ziyu—beserta puzzlenya—dan justru memutuskan untuk bermain boneka Snoopy dan Barbie?
Pikiran polos Ziyu mengatakan bahwa barangkali Haowen belum menyadari keberadaannya. Ia memutuskan untuk menunggu ; duduk di sudut ruangan bukanlah tempat yang tepat untuk menunggu, tapi sudut selalu menjadi tempat favorit Ziyu.
Lima, sepuluh menit. Haowen masih sibuk dengan Lauren dan bonekanya.
"Gege!" Mata Ziyu mulai berkaca-kaca. "Ziyu...Ziyu dapat puzzle Sailor Moon!"
Di tengah ruangan, Haowen yang kedua tangannya sedang menggenggam boneka—barbie di kanan, snoopy di kiri—hanya menoleh sesaat. "Itu bagus. Coba bongkar lalu pasang lagi."
Setelah itu Haowen kembali bermain dengan Lauren, terkikik geli penuh kebahagiaan dan membahas berbagai topik yang sama sekali tidak diketahuinya. Haowen selalu membahas Sailor Moon dan koboi sepanjang waktu. Bagaimana bisa kakaknya membicarakan hal lain? Dan bagaimana bisa kakaknya mengabaikan eksistensi Ziyu?
Anak lima tahun itu menatap puzzle Sailor Moon yang masih terbungkus plastik. Ia benar-benar menyukai puzzle, dan Ziyu lebih dari yakin Haowen juga menyukai puzzle ini. Sailor Moon dengan latar belakang warna biru selalu menjadi kesukaan mereka berdua. Ini aneh sekali.
Ziyu menatap Sailor Moon-nya dengan pandangan sedih.
"Haowen gege jahat."
-oOo-
"Mungkin minggu depan ia akan kembali dari Kanada."
Tao bercerita cukup antusias dan berlebihan. Agak kedengaran berlebihan dalam membanggakan suaminya—yang kata Tao sendiri tampan, tinggi, putih, berambut pirang, keturunan Kanada- Cina, dan hal lainnya yang tidak bisa Luhan ingat secara jelas karena terlalu banyak kalimat kebanggaan yang dilontarkan.
Luhan sendiri menyadari bahwa Tao adalah tetangga yang baik—ia bersyukur akan hal itu. Meskipun agak sedikit berlebihan, lelaki itu cukup memiliki jiwa lelaki dan menyenangkan untuk diajak bicara. Ia juga amat bersyukur ketika Tao mengatakan bahwa lelaki itu lahir di Qingdao. Barangkali Luhan bisa mempraktekkan kembali kemampuan Bahasa Cina yang sudah lama tidak digunakannya.
"Luhan, kau punya vas bunga? Aku membutuhkannya untuk meletakkan bungaku disana. Lauren tidak sengaja memecahkan vas bunga kesayanganku kemarin."
"Aku punya," Luhan mengangguk. "Lagipula aku tidak suka bunga. Kau bisa memilikinya."
"Wah!" Tao kegirangan. "Terima kasih banyak. Aku senang sekali punya tetangga baik seperti kalian. Dan, oh, bisa bantu aku menggeser sofa ini? Kupikir sudutnya agak salah, kelihatan aneh sekali."
"Biar Sehun yang membantumu, aku akan mengambilkan vasnya. Hun-ah, bantu Tao, ya?"
Tentu saja Sehun tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan Luhan. Sejujurnya menolong Tao bukanlah gagasan yang bagus—bukan berarti Sehun tidak suka menolong orang lain, tentu saja ia masih memiliki hati nurani. Tapi Luhan bisa menjadi orang paling cemburu ketika berhadapan dengan Oh Sehun yang penolong.
Bahkan Luhan pernah mengabaikannya selama tiga hari—itu artinya adik kecilnya kesepian selama tiga hari—ketika Sehun menolong seorang wanita karir muda (lumayan seksi) yang barang belanjaannya terjatuh di tepi jalan Apgujeong. Yang ia lakukan hanya membantu, astaga. Wanita itu memang agak terlalu berlebihan, tapi itu semua bukan salah Sehun, 'kan?
Melihat tatapan mendesak yang dilontarkan oleh Tao membuat Sehun tidak bisa berkutik. Ia bangkit, lalu mendengar instruksi yang diberikan oleh pemuda berkantung mata hitam itu dengan setengah hati. Mereka mendorong sofa panjang dan empuk itu dengan aba-aba 'satu dua tiga' keras dari Tao. Cukup sukses—setidaknya sesuai dengan harapan sang pemilik.
Sofa kedua lebih kecil—kapasitas dua orang—jadi Tao meminta Sehun untuk mengangkat alih-alih mendorong sofa tersebut. Lagipula suaranya terlalu gaduh dan tidak enak didengar. Dengan aba-aba 'satu dua tiga', sofa tersebut terangkat.
Lalu selanjutnya gaduh.
Tao memekik, melepaskan cengkeramannya pada sofa secara mendadak, membuat Sehun ikut melepaskan pegangannya pada sofa tersebut sehingga menimbulkan suara 'brak' yang cukup nyaring terdengar. Ia menatap Tao. Alih-alih membalas, lelaki itu menatap jari telunjuknya sendiri yang berdarah cukup banyak.
"Kau baik-baik saja?"
Reflek membuat Sehun mendekatkan tubuhnya kearah Tao, menarik jari telunjuk panjang yang sekarang sudah terlumuri oleh darah dan menatapnya dengan seksama.
"Sepertinya ada paku di sana. Aku sendiri tidak tahu." Nada suara Tao setengah menangis. "Aduh, ini perih sekali."
Sehun menatap darah merah segar itu secara seksama. "Sepertinya kulitmu tergores cukup dalam. Mungkin kita harus membersihkan luka ini dengan air. Atau kau punya alkohol? Barangkali itu lebih bagus. Coba—"
Kata-kata selanjutnya mendadak ogah keluar dari tenggorokan Sehun. Di depan pintu, ia melihat Luhan yang wajahnya memerah penuh gejolak. Lelaki itu tidak marah meledak-ledak, dan justru menurut Sehun itu amat berbahaya. Luhan yang pendiam jauh lebih menakutkan dibandingkan dengan Luhan yang marah secara terbuka.
"Tao, kau kenapa?"
Barangkali Tao terlalu panik untuk sekedar menyadari perubahan nada dalam suara Luhan. Ia menjawab seadanya, diiringi dengan rengekan pada Sehun untuk segera membantunya membersihkan luka karena lelaki itu tidak suka melihat darah.
Luhan meletakkan vas bunganya dengan gusar—menimbulkan suara nyaring yang cukup menyakitkan untuk didengar oleh telinga. "Maaf sekali Tao, aku baru menyadari ternyata rumahku ada sedikit masalah. Aku harus segera kembali. Biar dia membantumu."
Luhan pergi ; membawa pergi perasaan mencekam yang sedari tadi nyaris mencekik Sehun.
Astaga, ini benar-benar gawat.
-oOo-
Suasana benar-benar buruk ketika mereka kembali dari rumah Tao. Sehun menggendong Ziyu, yang entah sejak kapan menangis terisak-isak. Rasa bahagia Haowen yang muncul sejak ia bermain bersama Lauren langsung surut ketika melihat adik kesayangannya dalam keadaan menyedihkan. Anak itu bahkan tidak mau diajak bicara oleh siapapun.
"Ziyu lapar?"
Yang ditanya hanya menggeleng pelan, menggumamkan satu dua kata yang tidak dapat diterima oleh kedua telinga Sehun dengan baik. Bocah lima tahun itu memeluk puzzle Sailor Moon-nya (Tao memberi Ziyu puzzle tersebut dengan harapan semoga ia tidak menangis lagi), sedang duduk di pojok ruangan dengan mata berkaca-kaca.
"Ziyu mau Appa buatkan susu cokelat?"
Kedua kalinya, Ziyu menggeleng.
"Kue tiramisu? Permen lolipop?"
Mendapati respon Ziyu masih sama seperti sebelumnya membuat Sehun menghela napas panjang. Nasib baik sepertinya ogah berpihak pada Sehun. Ada satu orang lagi yang perlu ia urus, dan masalahnya jauh lebih runyam dibandingkan dengan ini. Ia lebih tahu saat ini Luhan sedang mengurung diri di kamar dengan wajah tertekuk masam.
Membayangkan Luhan cemburu membuat Sehun sulit menahan senyum.
Ia menatap Ziyu, membelai rambut hitam halusnya lalu mencium puncak kepala anak itu. "Appa harus ke kamar. Baba sakit, jadi jangan mendekat dulu, oke?"
Mata Ziyu membelalak. "Baba—" suaranya tercekat. "—sakit?"
Sehun mengangguk pelan. "Mm, tadi Baba merasa agak kurang baikan. Ziyu bermain bersama Haowen gege dulu, ya?"
Sang ayah beranjak pergi, meninggalkan dua kakak beradik sendirian di kamar. Haowen mendekati Ziyu, yang mana sekarang sedang membelai puzzle Sailor Moon-nya penuh kasih sayang. Sudah pasti adiknya sedang merajuk, tapi kenapa? Bahkan tadi mereka berdua tidak berbicara satu sama lain. Haowen baru menyadari tangisan Ziyu ketika mereka bergegas pulang.
Ia tidak bersalah...kan?
"Ziyu," Haowen berjongkok, merasakan lantai marmer di kamar mereka yang cukup dingin. "Jangan duduk disini, nanti Ziyu kedinginan. Ayo ke kasur gege. Ziyu belum tidur siang, 'kan?"
Adik lima tahun itu hanya menatap Haowen sesaat—dengan pandangan kosong, sebelum ia kembali memusatkan seluruh perhatiannya pada puzzle Sailor Moon terkasihnya. Hal ini membuat Haowen menghela napas ; ia duduk bersila di hadapan Ziyu dengan wajah penuh rona penyesalan.
"Kenapa Ziyu tidak menjawab pertanyaan gege?" Tangan Haowen bersedekap di depan dada. "Baba mengajari kita untuk tidak mengabaikan orang lain."
"Baba mengajari Ziyu untuk tidak berbicara dengan orang asing."
Dua alis Haowen bertaut bingung. "Tapi Ziyu tidak berbicara dengan orang asing." Ia menunjuk dirinya sendiri. "Lihat? Ziyu sedang berbicara dengan Haowen ge. Haowen gege bukan orang asing."
Ziyu mengkerut sedih, suaranya pelan sekali sampai-sampai Haowen nyaris tak mendengar perkataannya. "Ziyu hanya punya Sailor Moon jiejie."
"Ziyu punya Haowen gege juga!"
"Haowen gege tidak mau menemani Ziyu!" Sang adik suaranya tersendat-sendat, nyaris pecah oleh tangisan yang sebentar lagi meledak. "Sailor Moon jiejie yang menemani Ziyu."
Kalimat tersebut membuat Haowen terpaku. Apa katanya? Jadi—uh, Ziyu berpikir Haowen mengabaikannya? Mungkin memang benar, setelah berkaca dari apa yang telah ia lakukan di rumah Lauren tadi, tapi tentu saja semua itu merupakan ketidaksengajaan. Haowen sama sekali tidak bermaksud untuk mengabaikan Ziyu. Astaga, kakak mana yang sengaja mengabaikan adik paling menggemaskan sedunia?
Yang ia lakukan bersama Lauren hanya bermain bersama—itupun berakhir secara agak membosankan karena bagaimanapun Haowen adalah seorang anak laki-laki. Anak laki-laki tidak pantas dicekoki permainan yang terlalu bersifat kewanitaan seperti boneka barbie atau masak-masakan.
"Haowen gege minta maaf," ia memberi isyarat bagi Ziyu untuk duduk di pangkuannya. Anak itu sejenak ragu sebelum akhirnya menuruti keinginan kakaknya akan hal tersebut. "Dengar, Haowen gege tidak akan mengabaikan Ziyu lagi."
"Tapi tadi Lauren jiejie—"
"Permainan itu membosankan." Haowen mengubah posisi duduk adiknya agak menyamping supaya mereka dapat bertemu pandang secara langsung. Ia menusuk-nusuk pipi gembul yang ada di hadapannya. "Ziyu jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan mainan milik Lauren. Bahkan Ziyu lebih menggemaskan daripada Lauren."
Mata Ziyu berkedip. Sekali. Dua kali. "Benarkah?"
Haowen tertawa pelan. "Tentu saja. Baba mengajari kita untuk jangan pernah berbohong. Lagipula, mana mungkin gege bohong?"
Ziyu terkikik geli ketika Haowen mendaratkan bibirnya di pipi gembul bagian kanannya sementara pipi kirinya dicubit pelan. Rasanya menyenangkan sekali mendengar penuturan yang baru saja diungkapkan oleh kakak tersayangnya. Ia memang merasa sulit sekali mengabaikan Haowen dalam jangka waktu lama. Kakaknya ini seperti memiliki satu feromon 'ayo-dekat-denganku' yang membuat Ziyu kesulitan untuk menjauhinya.
"Gege," Ziyu menjauhkan wajahnya—atau pipinya—yang masih dicubiti oleh Haowen. "Tunggu sebentar."
Selanjutnya Ziyu mengecup bibir Haowen ; singkat, lembut, polos.
"Baba bilang, itu untuk menunjukkan rasa sayang kita pada seseorang."
Haowen terpaku.
"Tapi Ziyu harap gege tidak melakukan itu pada Lauren."
-oOo-
Luhan yang sedang marah adalah hal paling buruk kedua setelah Luhan dalam kondisi mengigau. Lelaki itu terlalu membabi buta ketika sedang mengigau ; kadang bahkan mencekik Sehun secara kurang berperikemanusiaan. Baru dua hari yang lalu Luhan mengigau dengan menendang—ehm—selangkangan Sehun dan sekarang ia harus menghadapi kemarahan (atau kecemburuan)nya.
"Kau tidur di sofa."
Suara itu langsung menyapa Sehun ketika ia memasuki kamar tidur mereka berdua. Luhan sedang berbaring tengkurap dengan kepala yang terbenam dibawah bantal. Ia terdengar seperti sedang mengucapkan beberapa patah kata namun tidak dapat Sehun pahami dengan jelas karena teredam oleh bantal.
Mungkin sedang merutuki Sehun.
Ia mendekat, memasang wajah sepolos yang pernah dimungkinkan sebelum membelai dua gunduk pantat kenyal Luhan. Astaga, bagian tubuh itu terlalu mencolok dan menggoda untuk sekedar diabaikan atau dilihat. Melihat lelaki itu yang masih diam tak bergeming membuat Sehun semakin berani. Dengan pelan ia menarik celana pendek yang sekarang ini sedang dikenakan oleh Luhan, membuat lelaki itu terkesiap dan berbalik.
"Mesum!"
Sehun mengaduh ketika mendapati sebuah bantal mendarat secara tragis di wajahnya. Ia menatap Luhan, yang juga sedang menatapnya dengan pandangan mengerikan seolah-olah lelaki itu memiliki tatapan bersuhu seribu derajat celcius. Pandangannya beralih kearah pundak Luhan yang agak terekspos karena kaus putihnya tersingkap. Uh, Sehun amat sangat menyukainya. Melihat hasil karya merah-keunguannya yang masih bertahan disana meskipun sudah tiga hari berlalu membuatnya amat bangga.
Ia mulai menganggap kemampuannya ini prestasius.
"Aku melakukan hal yang sama padamu tiga hari lalu dan justru kau menyambutku."
Wajah Luhan mulai diwarnai oleh semburat merah yang menggemaskan. "Itu...berbeda."
Sehun mengangkat alis penuh ekspresi tidak mengerti. "Berbeda bagaimana? Tanganku masih panjang seperti tiga hari yang lalu, dan aku yakin sentuhanku pun masih sama berkualitasnya."
"Yang benar saja," ujar Luhan dengan nada jijik. "Urusi saja tetangga barumu itu."
"Kau cuma cemburu, Hannie sayang."
"Ya, memang. Kau mau apa?"
Sehun berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya, sebisa mungkin agar tidak kelihatan terlalu terkejut karena ungkapan penuh kejujuran yang baru saja diucapkan oleh Luhan. Tidak biasanya lelaki itu frontal akan sesuatu yang berhubungan dengan rasa cemburu. Berbeda sekali dengan sekarang yang dikatakan dalam satu kalimat penuh penekanan dan spesifikasi yang jelas.
"Oh," Sehun berusaha mencari kalimat apapun yang bisa terlontar. "Jangan cemburu."
Luhan mendengus keras-keras, melipat kedua tangannya di depan dada dan memandang penuh benci kearah Sehun. Sehun seharusnya cukup tahu Luhan memiliki pikiran parno dan bisa jadi menjalar kemana-mana ; barangkali Sehun melakukan sesuatu pada Tao, atau justru Tao yang melakukan sesuatu pada Sehun. Mungkin mereka berdua sama—
"Hentikan pikiran negatifmu itu, Lu." Tangan Sehun menjalar, dengan lembut meraih pergelangan tangan Luhan dan menggenggamnya. "Aku hanya membantu Tao memindahkan kursi. Tangannya tergores."
"Tapi dia memintamu membantunya!"
Sehun tertawa kecil, senang dengan rasa posesif yang ditunjukkan oleh Luhan. "Aku hanya membantu mengobati dan memberi perban. Apakah itu salah?"
Mata Luhan memicing penuh ketidakpercayaan. "Oh, apakah perlu kusebutkan fakta bahwa kau orang yang suka mencuri kesempatan? Bisa jadi kalian berciuman, atau—" Luhan ogah sekali mengatakannya. Bahkan hanya memikirkan hal tersebut sudah membuat otaknya mendidih. "—atau melakukan hal-hal yang lebih ekstrim."
"Menurutmu aku melakukan ini?" Sehun mendekat, meraup penuh bibir merah muda Luhan yang menggoda sebelum melepaskannya pada detik kelima. Ia mendorong Luhan agar jatuh terlentang lalu menindihinya dengan kedua tangan yang mencekal kedua lengan lelaki tersebut.
"Atau seperti ini?"
Pinggul Sehun mulai bergerak, perlahan namun penuh dengan godaan karena kedua kejantanan mereka menghimpit satu sama lain. Luhan merasa alat kebanggan Sehun mulai berdiri dengan keras, membuatnya mau tidak mau ikut merasa tegang.
Napas mereka saling bersahutan, sementara mulut kotor Luhan mengeluarkan lenguhan-lenguhan pelan yang justru membuat Sehun semakin bergairah untuk melecehkan tubuh lelaki di hadapannya. Astaga, siapa yang tahan? Luhan terlalu seksi dan menggoda—bahkan dengan cara-cara tertentu yang tidak pernah disadari oleh lelaki itu sendiri. Rasanya memabukkan sekali, mendapati 'pedangnya' yang masuk ke tempat yang cocok, ketat, dan sempit seperti lubang milik Luhan.
"Mungkin saja—uh—kalian melakukannya." Luhan tetap bersikeras mempertahankan egonya.
Sehun menyeringai kecil. "Kau mencoba menggodaku? Supaya aku menyetubuhimu, begitu?"
"Ti-dak, engh." Sebuah desahan lolos ketika Sehun memutuskan untuk memberi lebih banyak tanda merah keunguan kebanggaannya. Semakin banyak semakin baik, batin Sehun. Atau barangkali lebih tepatnya ; semakin nampak semakin baik. Entah mengapa tubuhnya bergejolak senang melihat bekas merah-ungu tersebut yang terlihat oleh pandangan mata orang lain. Barangkali sebagai bukti sah bahwa Luhan miliknya.
"Kalau kau tidak ingin Tao mendekatiku lagi, akan kulakukan." Sehun melepas cengkeraman tangannya di lengan Luhan, memutuskan untuk mulai bergerilya menjamahi tubuh berkulit putih susu di hadapannya. "Tapi aku butuh bantuanmu. Butuh desahanmu, lebih tepatnya."
Hari bahkan belum beranjak malam, namun Sehun memutuskan tidak peduli akan waktu. Ia berolahraga dan melakukan aktivitas yang biasa dilakukannya di malam hari ; mengecupi, memanjakan, meremas, menggoda, dan melakukan tugasnya sebagai penggenjot secara baik dan profesional. Dan yang lebih penting, Sehun puas. Lelaki di hadapannya mendesah tak karuan, keras—bahkan mungkin amat keras, sampai membuat Sehun cukup yakin barangkali saja Tao mendengarnya.
"AHH SEHUN! Jangan goda lubangku dengan jari panjangmu itu!"
Uh, Tao pasti mendengarnya.
The
End
Kak seluminati, maaf kalo gak sesuai harapan~
Muah muah :*
Note: Wah! Thank you udh ngebuat cerita ini author dikitlagisampe (sampe kemana?hihihi) :D
ceritanya bagus kan readers? Yang belum baca (tp pasti kebanyakan udh baca) FF2 dari author dikitlagisampe ayo kunjungin page ffn nya! Ceritanya keren2 loh! :D
