AA: -PLOP- Lalala... Petit petit ano hi... Kono mune ni... Ai no mahou... Kaketa! Ashita ni nare... Hayaku hayaku... Ichiban ni ohayou.... -nyanyi lagu opening Mirumo de Pon!-
BLETAK! BREEESK!!! -digeplak nenas-
Claire, Ann dan Kai: Berisik! Udah nyanyinya salah lagi! Cepetan mulai!
AA:....
Claire: Lho? Kok diem?
Elli: Kyaa! Kepala authoressnya kebeset nanas! Sekarang dia pingsan!!
Ann: Lho?
Jack: Ah, gara-gara kamu Kai! Kamu yang nabok authoress pake nanas kan?! Jadi pingsan tuh!!
Kai: Enggak kok! Claire yang mukul!
Claire: Enak aja!
-semuanya berantem-
AA: -siuman- Untung aja masih idup... Oke, I do not own of any HM series and its characters except this fic and the new OC, Emily. Lalala... Hazukashiika nara, nanoda! Sono shunkan kimi ga~ Hayaku hayaku... -nyanyi lagi-
--- (Claire's POV) ---
"Emily, tolong ambilin tepung 200 gram dong!" aku sedang sibuk membuat kue untuk Jack. Aku lupa membuatkan roti selai strawberry untuknya.
"Sip, boss!!!" sahut Emily semangat sambil mengambil karung tepung dan mengambilnya dengan gelas pengukur. "Hem... Hem... Nah, cukup! Ini bos!"
Aku mengambil segelas pengukur berisi tepung. Tanpa basa-basi langsung kutuangkan ke adonan yang sedang kubuat.
BOFFF!
"Uhuk! Uhuk!!" aku terbatuk-batuk. Tepung yang dituangkan ke adonan yang sedang kubuat membludak sampai ke mukaku dan ke celemek yang sedang kupakai.
"Ahahahahahahahahahaha! Bos kayak nenek-nenek!! Ha ha ha ha!!!!" Emily tertawa terbahak-bahak sambil tengkurap di lantai dan memukul-mukul lantai yang masih keropos. "Ahahaha! Enggak percuma beli petasankecil... Emily taruh deh di tepung!! Ha ha ha!! Bos jadi nenek-nenek!! Enggak cocok banget!! Ha ha ha ha haaa!!!!"
"E... Mi... Ly... Rasain nih!!" aku mengambil tepung yang masih ada di dekat mangkuk adonan dan kulempar ke muka Emily.
Emily bisa menghindar dan...
CPLOK!
Tepung yang kelempar tadi sukses kena muka Gotz.
Kedua gadis pirang itu tertawa bersama.
"Hahahaha! Gotz kayak kakek-kakek!!!" Emily tertawa lagi.
"Iya, ya, kayak Santa Claus!! Ha ha ha!!!" aku tertawa sambil memegangi perutku. "Santa Gotz... Ha ha ha..."
Gotz ngelap mukanya pakai handuk yang melingkar di lehernya lalu kerja lagi. Sebelumnya dia melotot, mengancam untuk tidak iseng padanya. Kedua gadis itu langsung sibuk lempar-lemparan tepung lagi.
"Rasain nih!!" aku melempar tepung ke muka Emily. Meleset.
"Enggak! Bos yang harus kena. Nih!!!" Emily melempar telur ke dekat pintu masuk toko. Meleset! Dan telur itu mengenai...
CRAAK!!!
Hening.
"Claire... Ini telur untuk hari ini..." Rick masuk sambil membersihkan mukanya dari putih telur. "Lagi perang-perangan ya?"
"Iya, Rick mau ikutan...?" tanyaku.
"Enggak apa-apa nih..." Rick menunduk.
"Enggak ada yang ngelarang ko—"
CRAAK!!
"Kena! Emily kena!" teriak Rick senang karena berhasil melempar telur ke muka Emily. Emily sekarang belepotan dengan putih telur dengan kuning telur di keningnya, seperti benjol ditabok teve 12 inchi.
"Enak aja! Kubalas kau, Rick!!!" Emily langsung mengambil sesendok besar tepung, lalu dilemparkan ke Rick.
BOOOF!
Aku bengong.
Kok rambut Rick yang pirang jadi putih... Matanya tetap hijau tua... Kenapa... Perlahan-lahan jadi mirip sama Skye sih?!
PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK
Aku menampar kedua pipiku sendiri sambil berusaha menghilangkan ingatanku dari Skye. Udah, udah! Jangan diingat!!! "Rick, rasain nih!!"
"Adaw! Perih! Rasain nih, Claire!"
"Aku akan melindungi bos! Rasain!!!"
--
--
--
"Bos, capek nih..." keluh Emily sambil melap keringat.
"Kau yang beresin ya! Karena kamu duluan yang buat kita main perang-perangan kayak gini." suruhku santai sambil memberikan sapu dan lap pel.
"Lho, kenapa aku bos?!" protes Emily.
"Yang duluan bikin mukaku belepotan tepung itu kamu kan?" tebakku.
"Oh iya ya..." jawab Emily dengan logat oon Temon. "Oke, bos, aku beresin. Tapi gak usah ditambahin gaji bulan depan ya!"
"Sip," aku mengacungkan jempol tanda setuju. Emily langsung membersihkan toko yang berantakan bagai kapal Titanic pecah. Setelah beberapa detik, toko sudah bersih seperti sediakala.
"Aku mau manggang kue dulu ya, bos!!" Emily mengambil adonan kue yang sudah siap dipanggang. Aku membiarkan saja.
"Emily rajin juga ya," sahut Rick, masih menunggu uang kembalian. "Orangnya aktif banget."
"Iya juga," jawabku. "Baru kali ini aku punya pekerja yang selalu semangat 45 kayak gini. Hebat juga sih, baru dua hari udah seaktif ini. Ngomong-ngomong, Rick..."
"Apa?"
"Kok kamu masih disini terus?"
"Aku nungguin kamu bayar telur untuk hari ini, sama telur yang sudah dipakai untuk perang-perangan tadi."
"Oh! Ya! Sampai lupa. Hehehe... Ini dia, Rick, uangnya." Aku menyerahkan uang.
"Makasih Claire. Aku datang lagi besok!"
Rick lalu pergi.
"Bos naksir sama Rick ya?" tanya Emily setelah Rick pergi.
"Hah? Enggak lah! Kan aku udah bilang, dia itu cuma temanku." Jawabku sambil setengah tertawa. "Kenapa?"
"Abisnya bos keliatan cocok banget ama Rick... Lagian Rick juga dari tadi senyum-senyum melulu... Jadi ngiri... Ups!" Emily langsung menyumpal mulutnya dengan celemeknya.
"Hah? Ngiri?" aku bingung. Ah, jangan-jangan... Aku langsung nyengir.
"Eee, bos! Bukan seperti yang kau kira—Aduh, gimana bilangnya ya... Uh—Aku enggak..." Emily mulai kebingungan harus bilang apa. Ha, kena kau.
"Ahaha. Pasti Emily..." aku tertawa kecil, mengerti apa yang dirasakan pekerjaku yang satu ini.
"Kyaa! Enggak kok bos!! Bukan seperti yang bos pikir!!! Aku—Ah, jangan diingetin deh, bos!! Aku mau pergi dulu ya, beli cokelat dan tepung!! Tunggu ya, bos!!!" Emily langsung ngibrit keluar toko.
Aku ketawa cekikikan. Sekarang, tinggal aku berdua, dengan pak Gotz. Aku menunggu pelanggan yang datang di meja kasir.
"Yo, Claire!!!" Jack memasuki tokoku. "Mana roti yang kuminta?"
"Hai, Jack!!" sapaku. "Lagi dipanggang. Tunggu aja sebentar. Makan roti paling enak kalau masih baru dari oven. Duduk aja di sini." Aku menunjuk ke arah kursi yang ada di dekat etalase roti.
Jack mengambil kursi itu lalu duduk di sebelahku.
"Lebih baik begini," Jack tertawa, "Lebih enak dekat sama adikku,"
"Ah, Jack ini..."
TING!
"Ah, kuenya sudah matang. Tunggu bentar ya, Jack," aku memakai sarung tangan untuk mengambil cetakan oven yang panas. Setelah mengambil cetakan kue, roti yang sudah selesai kuletakkan di keranjang.
"Aaah! Aku! Aku duluan yang makaaan!!" Jack loncat-loncat di kursinya.
"Jangan kayak anak kecil ah, Jack, malu lho," sindirku. "Nih, roti selai strawberry yang kujanjikan."
Jack langsung rakus meraup roti yang baru saja kupanggang tanpa ditiup. "Fuuh, fuuh... Panass!!"
"Ditiup dulu dong, Jack,"
Jack lalu meniup uap putih yang keluar dari roti. Setelah itu dikunyahnya roti itu dengan perlahan.
"Enak... Selainya lembut banget..." puji Jack.
"Oh ya, Rick, dari tadi Rick aneh terus lho. Dia senyum-senyum sendiri. Kenapa ya?" tanyaku heran sambil menyeduhkan teh dingin untuk Jack.
"Oh... Kalau kamu jalan-jalan, kamu pasti liat semua cowok-cowok disini senyum-senyum semua." jawab Jack santai.
"Ah, masa?"
"Enggak percaya?" Jack menarik lenganku. "Coba kita liat orang-orang."
Aku dan Jack mengintip toko Saibara.
Benar, disana ada Gray, dia sedang bekerja sambil senyum-senyum.
"Ke... Kenapa..."
"Masih gak percaya? Kita liat cowok-cowok lain."
Jack menarik tanganku, ke arah pertanian Rick. Benar juga. Rick sedang memberi makan ayam-ayamnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Rick juga..."
"Mau liat yang lain?"
Jack menarikku ke gereja. Benar, Carter tersenyum (eh, dia memang selalu tersenyum ya?) dan Cliff di sebelahnya, asyik berbicara pada Carter sambil senyum-senyum.
"Ada apa sih? Kok semuanya..."
"Kalau cewek-cewek sih, pada nangis. Mau bukti?" Jack narik lagi lenganku ke Clinic. Disana terlihat Elli sedang sibuk terisak-isak dengan berpuluh-puluh ton tisu sedangkan Doctor asyik kerja sambil senyum-senyum.
Karen beda lagi. Dia duduk di kursi taman, ditemani 2 lusin botol wine. Pemiliknya sendiri sudah mabuk.
Popuri lari-lari di jalanan sambil nangis gak karuan. Sesekali kepalanya matuk-matuk jalanan kayak ayam kelaparan. Eh, tunggu, bukan matuk, tapi kejeduk alias kepleset ternyata.
Ann sibuk ngebersihin piring dengan mata mengkerut.
Mary sibuk ngebuat novel sambil ngapus air mata yang kadang membasahi halaman novelnya.
"Se... Semuanya kenapa sih...?" tanyaku heran.
"Ini karena Kai. Sekarang kan tanggal 30 Summer. Ini hari terakhir Kai di kota ini." jelas Jack. "Oh ya, hari ini ada acara di restorannya Kai. Mau ikut?"
"Mau deh. Aku tutup toko dulu." jawabku mengerti.
--
--
--- Kai's Seaside Lodge ---
"Hei..." Kai sweatdropped saat melihat aku dibarikade total oleh Gray, Cliff, Emily dan Jack. "Kalian enggak usah takut, aku lagi enggak mau dekat-dekat Claire kok,"
"Beneran, hah?" tanya Gray dingin.
"Suer, bener kok." Kai mengacungkan satu tangannya. "Lagian ini cuma acara kecil-kecilan sebelum aku pergi meninggalkan Mineral Town nanti sore."
"Memangnya Kai enggak tinggal di sini?" tanyaku.
"Enggak, aku tinggal berpindah-pindah," jelas Kai. "Di musim-musim lain, aku pergi ke tempat-tempat lain. Kalau Summer pasti aku kesini."
"Hee?" tanyaku. "Kirain mau ngegoda cewek kota lain..."
Ucapanku sepertinya menusuk hati Kai dalam. Liat aja, dia langsung nyengir.
"Ah, ketahuan... Claire tau aja..." Kai mendekatiku.
"Heh, jangan dekat-dekat ama bos!" ancam Emily sambil menodongkan pisau ke depan batang hidung Kai. Kai langsung nyengir lebar ketakutan dan menjauh beberapa senti. "Bagus," bisik Emily tenang.
"Ja... Jangan kaku lagi deh, guys... Peace... Yang lalu biarlah berlalu, oke? Yuk, kita makan es serut Jepang sama-sama..."
"Nah, kalau itu, kita setuju." jawab orang-orang yang masih membarikadeku.
Semua orang yang masih membarikadeku melepaskanku lalu kami semua makan es serut sama-sama.
"Tambah lagi, dong, Kai! Baru kali ini aku makan es serut..." Emily baru saja menghabiskan semangkuk.
"Sip!"
"Kaiii! Mwi..ntha laghhiii..." pinta Clif lirih sambil tetap memegangi gigi geraham kanannya yang senut-senut karena es serut.
"A, aku jjj... Jughaaa.... Uurrgghh...." Gray ikut minta es sambil sibuk meremas pipinya yang dingin.
"Aku mau lagi, Kai! Tambah dua mangkuk!!" teriak Jack, yang kebetulan masih sehat.
"Oke, semuanya dapat es serut!" Kai sibuk menggiling es menjadi es serut sesuai permintaan kami.
--
--
--
--
--
"Aduuuuh..." rintih Jack, sambil memegangi perutnya. "Kayaknya aku sakit perut.... Aku mau pulang ah..."
"Jack, aku ikut dong! Sekalian minta obak gosok buat perut, mules nih...." aku mengikuti Jack pergi.
Tinggal Kai, Emily, Gray dan Cliff.
"Adudududuh..." Cliff memegangi perutnya. "Aku mau balik ke Inn ya, soalnya aku sakit perut...."
"Aku ikut dong,...." pinta Gray, sambil ikut pergi.
--
--- (Emily's POV) ---
Tinggal Kai dan Emily berduaan aja.
"Hei, Kai,"
"Mmm?"
"Memangnya kamu pikir aku bakalan memaafkanmu hanya karena pertandingan es serut ini? Hah! Aku takkan memaafkanmu," ucapku tajam.
"Kenapa sih, kamu overprotektif banget sama Claire?" tanya Kai sinis.
"Hah?!! Maksudnya bos?! Ya iyalah! Bos kan sahabatku! Aku enggak akan ngebiarin serangga pengganggu macam kau menjahili bos kesayanganku!" ancamku mantap.
"... Huh, kamu itu manis, tapi berisik..." keluh Kai. "Coba kalau kamu agak dewasa dikit... Enggak grasa-grusu sendiri kayak anak kecil..."
"Terserah aku!! Bweeek! Aku mau ke Inn!!" bentakku sambil menjulurkan lidah. Oh, ya, hampir lupa. Sejak aku kerja dengan bos di toko roti, aku juga sudah memilih tempat menginap di Doug's Inn bersama bos, lho.
--- Doug's Inn ---
"Selamat siaang!" sapaku ceria.
"Hei, Emily!" sapa Ann. "Tumben enggak sama Claire?"
"Bos lagi sakit perut, jadi dia mampir ke rumah kakak kembarannya." jelasku santai sambil mengambil air putih di dispenser. "Boleh minta obat gosok enggak Ann? Mules nih..."
"Oh, tunggu bentar," Ann pergi ke kamarnya. Beberapa menit kemudian, dia keluar lagi sambil membawa obat berbentuk balsam. "Nah, ini dia, Emily."
Langsung saja kugosokkan obat itu ke perutku. Aah, lebih enakan sekarang.
"Aku mau ke kamar ya, Ann,"
--- (Claire's POV) ---
"Wah, ngadain makan es serut tapi aku gak diajak... Tega banget..." keluh Blue, sambil mengipas-ipaskan udara dengan buku tipis di sekitar badannya.
"Sori, deh, aku lupa..." keluh Jack. "Adudududududuh... Sakiiit...."
"Aduh, Jack, kayaknya kamu mulesnya parah... Makanya jangan makan es serut banyak-banyak..." keluhku sambil sibuk mengoleskan minyak gosok ke perut Jack yang kembung. "Awas, lho, jangan kentut."
"Ah, Claire, biar aku yang urus Jack. Kau harus ngucapin sampai jumpa lagi ke Kai kan?" Blue mengambil obat gosok yang masih kupegang.
"O... Oke, Blue, makasih ya!" aku pergi meninggalkan Jack yang masih kesakitan di tempat tidur.
--
--
---Beach---
Kai sudah bersiap dengan kopernya. Di belakangnya sebaris cewek-cewek menangis ria, sedangkan para cowok yang ada di sana (Doctor dan Rick aja) cuma sumringah senyum-senyum ngeliat kepergian Kai.
"Kai, ati-ati yaa!" teriak Popuri.
"Jaga diri baik-baik, Kai-san!!!" teriak Elli.
"Hati, hati lho, jangan ampe item lagi!" ledek Karen.
"I will miss you, Kai!!!" Mary berteriak dengan logat Claifornia.
"Jangan bandel, Kai!!" ucap Ann.
"Summer tahun depan datang lagi ya," ucapku sambil menepuk bahu Kai.
Kai senyum santai aja, saat melihat kapal yang mengangkutnya datang.
"Yup, sudah waktunya aku pergi," Kai mengambil kopernya dan naik ke kapal.
Beberapa menit kemudian, kapal mulai berbunyi lagi, tanda kalau akan segera berangkat.
Semua gadis-gadis melambaikan tangan.
"Hati-hati Kai!!"
"Hati-hati di jalan!!!"
"Sampai jumpa Summer depan Kai!!"
"Hati-hati yaaaa!!!!"
"Be careful, Kai-san!!!"
"Jaga baik-baik hati Popuri lho!!!"
"Sip! Sampai jumpa Summer depan, semuanya!!!" teriak Kai sambil melambaikan lengan kanannya diikuti hilir angin, membuat bandana ungu yang dipakainya mengikuti arah angin, bergoyang-goyang.
Popuri berlari ke ujung pelabuhan. Dia melambaikan tangannya tinggi-tinggi. "Hati-hati Kaiiiii!!!!"
"Pasti Popuri!!!!" teriak Kai.
Kapal makin jauh dari Mineral Town.
"Dia sudah pergi... Yuk pulang," ajak Doctor pada semua gadis-gadis.
Semua gadis-gadis pergi.
"Claire, pulang bareng ke Inn yuk." ajak Ann.
"Ayuk."
--
--
--
--- Doug's Inn ---
"Kami pulang," aku dan Ann baru saja memasuki Inn.
"Selamat datang, bos, selamat datang Ann!!!" sapa Emily ceria, langsung menghambur memelukku.
"Hei, Emily! Baik-baik saja di sini?" tanyaku sambil menepuk-nepuk kepala Emily.
"Baik dong, bos! Oh ya, besok sudah musim gugur nih! Jadi enggak sabaran lagi..." ucap Emily. "Bentar lagi mau Halloween!"
"Iya juga ya..." aku tersenyum kecil. "Oke, sudah sore nih,"
"Kita ngemil yuk!" ajak Ann.
Aku dan Emily langsung mengangguk setuju.
_+_
AA: Selesai! Chapter musim panas, selesaiii! Chapter berikutnya, musim gugur~~
Popuri: Kai, Kai, Kai, Kai~!!!!!!!!
AA:...
Elli: Kyaa! Popuri, jangan teriak dong! Authoressnya pingsan lagi kan?
Popuri: Aku bukan teriak tapi nyanyi kangen ama Kaiiii!!!
AA:.... Read and... Review~ -collapse-
