Char :

Sasuke Uchiha

Sakura Haruno

Iruka

Sasori

Hayate

Genma

Matsuri

Juugo

Suigetsu

Inuzuka Hana

CATCH HIM

Sasuke berjalan di belakang Sakura dan Matsuri, ia tak berniat mengganggu cerita kedua gadis itu.

"Sasuke" terdengar suara terkejut Sakura memanggil Sasuke.

"Ada apa Sakura"

Sakura tidak menjawab, Sasuke mengikuti pandangan Sakura, ia juga terkejut, ternyata di depan mereka muncul kawanan yang sebelumnya mengincar Matsuri. Mereka berjumlah tiga orang.

"Sial" Sasuke segera menarik Sakura dan Matsuri, mencari tempat aman.

"Sakura, Matsuri, kalian pergilah aku akan menghalangi mereka"

"Tapi.."

"Jangan membantah Sakura!" potong Sasuke. "Aku akan segera menyusul kalian, aku hanya mengulur-ulur waktu. Percayalah, aku tidak akan apa-apa", Sasuke tahu kekhawatiran Sakura, ia berusaha menenangkan.

Sakura tidak ingin berdebat, "baiklah Sasuke, hati-hati" wajah kekhawatiran dari Sakura tidak hilang.

Sasuke menganggukan kepala petanda kalau semua baik-baik saja.

"Ayo" Sakura menarik lengan Matsuri.

Sementara Sakura dan Matsuri melarikan diri, Sasuke bergerak kembali menyongsong para pengejar.

"Hei, tunggu! Mau ke mana kalian...?" seru salah seorang pengejar berbadan besar berambut jabrik kuning, yang segera mencegah ketika melihat gadis berambut merah muda itu mengajak Matsuri meninggalkan tempat itu. Bersamaan dengan itu, ia segera mengejar mereka.

"Biarkan mereka pergi...," ujar Sasuke dan menghadang pengejaran pria itu.

"Brengsek!" bentak lelaki itu sambil melontarkan pukulannya ke Sasuke. Cepat Sasuke berkelit ke samping, guna menghindarkan pukulan maut lawannya. Kemudian ia segera melepaskan serangan balasan yang cepat dan susul-menyusul. Serangkaian serangan yang dilancarkan Sasuke bermaksud untuk mengalihkan perhatian, ternyata membawa hasil yang baik.

Lelaki itu menjadi sibuk menghindarkan serangan-serangan Sasuke yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Sehingga, ia terpaksa menghadapi serangan pemuda itu, dan tidak mempedulikan buruannya lagi. Namun pengejar lainnya, berambut cepak dengan gigi yang diasah tajam hingga meruncing, tidak mau membiarkan gadis berambut coklat itu lolos. Tanpa mempedulikan kawannya yang melawan Sasuke, ia memerintahkan kawannya yang lain untuk mengeroyok Sasuke, ia sendiri segera mengejar Sakura dan Matsuri.

Tentu saja perbuatan pria itu membuat Sasuke terkejut, ia pun segera bergerak meninggalkan lawannya, dan mencegah yang lainnya mengejar Sakura dan Matsuri. Sayangnya usaha Sasuke kembali terhalang, ia kembali di hadang pria oleh pria besar lainnya, ia mirip dengan pria besar berambut jabrik, yang membedakan adalah pria yang ini memiliki rambut klimis.

Sasuke tak bisa menunggu lama, jika dibiarkan, maka orang yang telah mengejar Sakura dan Matsuri bisa menyusul, ini berarti Sakura atau Matsuri dalam bahaya.

"Haiiit..!"

Sasuke memberikan isyarat menyerang dengan teriakannya. Sehingga, para penghadangnya menyambut serangan Sasuke.

"Haaat..!"

Sambil berkelit, penghadang itu berseru dan melancarkan serangan balasan yang cepat dan kuat.

Plakkk! Plakkk...!

Sasuke cepat merendahkan tubuhnya sambil melepaskan dua buah tamparan guna memapaki serangan pria berbadan besar.

"Yeaaat..!"

Rupanya pria besar berambut klimis tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Dibarengi sebuah teriakan nyaring, tubuhnya kembali melesat menerjang Sasuke. Sementara itu, kembaran pria berambut klimis juga tidak tinggal diam, ia segera membantu saudara berambut klimisnya.

"Hiyaa,….!"

Pria berambut jabrik itu, membentak diiringi dengan pukulan kerasnya.

Plakk!

Sambil melesat menyambut pukulan pria berambut jabrik, Sasuke memiringkan tubuhnya menghindari pukulan pria berambut klimis.

"Sial!"

Sasuke segera melompat kebelakang. Memang saat itu, pria jabrik melancarkan serangannya. Sebentar saja Sasuke kembali bertarung menghadapi keroyokan dua pria besar kembar itu. kedua pria itu benar-benar sangat kuat. Meski Sasuke menjalani pelatihan dari sejak dari bocah itu, tetap masih bisa di imbangi oleh kedua pria besar itu.

"Berhenti, jangan lari!" teriak pria jabrik saat Sasuke hendak berlari menjauh dari dua pengoroyoknya.

Sasuke gusar ia tak bisa menunggu lama lagi, Sakura dalam bahaya karena dikejar oleh kawan dari dua pria besar ini.

"Brengsek"

Sasuke membentak dan menyerang balik, ia menambah kecepatan dari setiap gerakannnya, membuat dua pria itu terkejut dengan kecepatan garakan Sasuke. Setiap pukulan maupun tendangan Sasuke selalu membuat kedua pria besar itu kelabakan. Sasuke meneruskan serangan ke pria berambut klimis. Pria berambut klimis yang belum pulih dari keterkejutannya, segera dia membentak nyaring sambil memutar tubuh dengan kuda-kuda rendah. Tangan kanannya dilintangkan ke depan, memapaki kibasan lengan Sasuke yang disertai tenaga kuat. Akibatnya...

Dukkk!

"Ahhh...?!"

Bukan main terperanjatnya Pria berambut klimis ketika tangkisannya justru membuat tubuhnya hampir terjengkang ke tanah. Untunglah tubuhnya yang besar masih sempat dikuasai dan sempat juga saudaranya menahan tubuhnya.

"Aku tidak ingin berurusan dengan kalian lagi, aku harus menolong kekasihku yang dikejar oleh teman kalian" ucap Sasuke ketika berhasil menjatuhkan kedua lawannya.

Sasuke balik badan dan segera menyusul pengejar Sakura dan Matsuri.

"Tunggu!" teriak si rambut klimis.

Sasuke tidak mempedulikan teriakan orang dibelakangnya

Dorr!

Dorr!

"Sugo" teriak pria jabrik ke kembarannya. Ketika panggilan pria klimis yang dipanggil Sugo itu, di abaikan oleh Sasuke, ia segera meraih pistol dan menembak Sasuke. Sasuke yang memang yakin kalau ia akan dibokong, sudah siap. Ia tinggal mengegoskan tubuhnya, dan dengan cepat ia membalikan badan dan membalas tembakan Suugo hingga melubangi dahi suugo.

"Bangsat! Ku bunuh kau!" teriak jabrik. Ia segera mencabut pistolnya.

Dorr!

Kembali nasib yang sama dialami seperti kembarnya, Sasuke mendahului menembak dan juga sudah melubangi dahinya.

.

.

.

Pria berambut putih yang mengejar Sakura dan Matsuri semakin memeperpendek jarak dengan buruannya.

"Berhenti..!" teriaknya pria berambut putih ketika berhasil menyusul keduanya.

"Apa yang kau inginkan? Aku sama sekali tidak memiliki kesalahan, kenapa kalian mengejar dan ingin membunuhku?" Matsuri seprtinya sudah putus asa, ia mulai memberanikan diri untuk bertanya.

"Aku hanya melakukan perintah Nona"

"Tapi apa salahku? Kau tidak bodoh kan, melakukan pekerjaan tanpa alasan"

"Yang pertama kesaksianmu bisa sangat memberatkan Bossku di pengadilan nanti. Dan yang kedua, kurasa kau mengerti, ini akibat ulah tunangan dan ayahmu"

"Aku mengerti sekarang, tapi kumohon satu hal padamu, Sakura tidak ada hubungannya dengan semua ini. Kumohon, jangan libatkan dia" Matsuri melirik ke Sakura yang semakin khawatir setelah mendengar keputusan Matsuri yang mulai menyerah.

"Dia dan pria itu sudah berani ikut campur, dia juga harus kuhabisi, mungkin pria itu sudah dihabisi sikembar itu"

"Tidak! Kau bohong! Sasuke.. tidak mungkin.., dia.."

"Jika kau berani menyentuhnya, kau akan kuhabisi seperti kedua temanmu tadi" suara bariton muncul dari arah lain.

"Sasuke" betapa senangnya Sakura saat tahu kalau yang muncul adalah Sasuke.

"Kau.."

"Iya, aku sudah menghabisi kedua temanmu tadi, apa kau ingin segera menyusul?"

"Bangsat..!"

Dorr!

"Kyaaaa.."

Matsuri menjerit kaget saat Sasuke dengan cepat menembak mendahului pria berambut putih, sebelum pria itu mencabut dan menembak. Buat Sakura pemandangan Sasuke membunuh didepan matanya sudah berapa kali ia saksikan.

Sasuke menatap Sakura 'kau tidak apa-apa?'

Sakura menganggukkan kepala, ia mengartikan tatapan mata Sasuke.

"Ayo pulang" Sakura merasa kalau sekarang sudah aman, ia segera mengajak Matsuri.

"Eh!" Sakura kaget, ia melihat Sasuke mencengkeram tangan Matsuri.

"Siapa kau sebenarnya?" Sasuke menatap tajam Matsuri.

"Tunggu Sasuke! Bukankah sudah jelas mereka adalah pembunuh bayaran yang ingin membunuh Matsuri" Sakura berusaha melepaskan cengkeraman Sasuke pad Matsuri.

"Aku bukan orang bodoh, aku tahu kalau pengakuanmu tadi itu adalah bohong, aku sudah mempelajari fsikologi, aku bisa mendeteksi kejujuran hanya dengan melihat tatapan mata dan gerak tubuh, dan aku tahu kau berbohong"Sasuke masih menatap tajam pada Matsuri.

Matsuri merasa tidak mungkin lagi untuk berbohong, ia mulai bercerita.

"Baiklah, aku sengaja berbohong kepada kalian, karena berapa kali aku tertipu dengan orang yang ingin membunuhku, mulai dari pura-pura sekarat dan butuh pertolongan sampai pura-pura menjadi sepasang kekasih seperti kalian, maaf"

Sasuke dan Sakura masih menunggu kelanjutan cerita Matsuri.

"Aku dan ayahku menyaksikan pembunuh bertopeng hitam yang melakukan aksinya bahkan wajah asli dari pembunuh itu sudah kami ketahui, karenanya semua suruhan orang bertopeng itu mengincar kami, mengenai tunanganku dia bernama Gaara, aku kesini mencarinya, dan mengatakan kalau keadaan kami makin bahaya. Akhir-akhir ini, orang suruhan pembunuh itu makin gencar mengincar kami" Matsuri mengakhiri ceritanya.

Sasuke menatap intens pada kedua bola mata Matsuri sampai ia yakin kalau Matsuri mengungkapkan kejujuran.

"Jadi Gaara adalah seorang agen militer khusus" Sasuke langsung mengambil kesimpulan.

Matsuri mengangguk.

"Sasuke" Sakura menatap Sasuke, ia meyakinkan dan sekaligus meminta agar ia mau menjaga sekalian Matsuri. Sasuke mengangguk sembari menatap Sakura, yang dibalas dengan senyuman Sakura.

"Kau bilang kau sudah mengenali pembunuh bertopeng hitam yang di panggil Black Mask itu, bagaimana rupanya?"

"Dia berambut pirang panjang, dia mempunyai poni yang selalu menutupi mata kirinya"

Sasuke mengangguk, karena Black Mask yang dimaksud sudah dia habisi.

"Tapi.."Sakura ingin berbicara kalau orang yang dia maksudkan sudah tewas, ia menatap Sasuke untuk meminta izin untuk mengatakan dan dibalas oleh anggukan Sasuke tanda membolehkan, "dia sudah tewas oleh Sasuke".

"Tidak mungkin, tapi kenapa anak buahnya masih memburuku?" Matsuri heran.

"Karena mereka memiliki komplotan", jelas Sasuke. "Ada kemungkinan yang memerintahkan untuk membunuhmu adalah pemimpin atau orang yang menyuruh black Mask, dan atau bisa saja orang suruhan dari Black Mask yang belum tahu kalau orang yang menyuruh mereka telah tewas", Sasuke melanjutkan.

"Sakura" Sasuke menatap Sakura, "ia tidak boleh ikut dengan kita, aku sudah pernah bilang padamu kalau ada suruhan Black Mask ada yang bekerja dalam kantor kejaksaan wilayah, jika ia melihat Matsuri, ada kemungkinan ia akan mengacaukan kantor wilayah"

"Lalu?"

"Titip saja ia ke Saara, setelah semua ini selesai, kita akan mengantarnya ke Gaara"

"Tapi…"

"Kenapa harus dengan Saara?" Sakura memotong ucapan Matsuri. Ada nada kecemburuan dari Sakura.

"Hanya dia yang bisa kita percayai untuk sekarang", Sasuke memberi pengertian.

Seperti biasa Sakura hanya menundukan kepalanya, ia kecewa dengan keputusan Sasuke.

"Hanya sampai besok Sakura, mudah-mudahan masalahnya selesai, kami juga sudah menemukan titik terang mengenai komplotan Black Mask. besok juga kalian boleh ke pestival bersama", Sasuke tahu kekcewaan Sakura.

"Mmhm" Sakura mengangkat kepalanya sambil tersenyum.

"Sekarang ku antar kalian kerumah Saara"

"Sasuke tahu alamat rumah Saara? Sejak kapan?" lagi-lagi kecemburuan Sakura muncul.

"Jangan berfikir macam-macam Sakura, aku juga tidak tahu. Kita kan bisa telpon untuk meminta alamatnya. Aku yang akan menjelaskan nantinya", lagi Sasuke tahu isi kepala Sakura.

.

.

.

"Sasuke, kalian tidak apa-apa kan?" Iruka menyambut mereka dengan pertanyaan.

Sasuke menautkan alisnya, ia bingung dengan maksud pertanyaan Iruka barusan, atau apakah Iruka sudah tahu kejadian yang baru saja mereka alami.

"Nona Sakura yang menelpon ketika kekacauan terjadi tadi di mal", Iruka tersenyum menatap Sakura.

Sasuke mengalihkan pandangan ke Sakura dan dijawab oleh Sakura dengan angkat bahu.

"Kuharap kau tidak memarahi Nona Sakura kali ini Sasuke, bukankah itu lebih baik daripada kau bertindak sendiri. Kalau terjadi apa-apa? bagaimana? Kasihan kan?" Iruka melirik ke Sakura. "Oh ya, kami sudah mengirim tim kesana untuk menetralisir keadaan, mudah-mudahan cepat selesai", Iruka menambahkan.

"Ada yang ingin aku bicarakan, bagaimana persiapan penyergapan yang telah direncanakan"

"Sebaiknya jangan bicarakan disini Sasuke, sebaiknya kira bicarakan didalam. Nona, apa kau mau ikut?" Iruka menawarkan.

Sakura menatap Sasuke, yang kali ini dijawab dengan mengangkat bahu 'terserah'

"Kurasa tidak perlu, lagipula aku kelelahan dan aku ingin istirahat" alasan Sakura sebenarnya ia tak ingin mengganggu kinerja Sasuke jika ia ada di antara mereka. Sasuke tersenyum, ini salah satu yang ia sukai dari Sakura, Sakura tidak pernah mau mengganggu stiap urusan genting.

"Begini Sasuke, ada hal lain yang ingin kubicarakan, ini mengenai isteriku Hana, aku menemukan simbol aneh yang ia simpan dengan baik dalam lemarinya, simbol itu adalah awan merah, apa kau tahu tentang simbol awan merah Sasuke?", tanya Iruka saat mereka hanya berdua.

Sasuke menjawab dengan gelengan kepala, ia benar tidak pernah mendengar tentang organisasi yang memiliki simbol awan merah. Seandainya Itachi ada disini, mungkin Itachi tahu, mengingat kalau Itachi sudah banyak menjalankan misi. Mengingat kakaknya, entah mengapa terbesit rasa rindu didalam dada Sasuke.

Tokk! Tokk! Tokk!

"Masuk!" suara iruka mempersilakan masuk.

"Ada apa Hayate?" kembali Iruka bertanya begitu mengetahui siapa yang muncul.

"Begini Tuan Iruka dan Sasuke, mengenai organisasi Akatsuki. Ternyata dugaan Sasuke benar, mereka adalah organisasi kriminal yang ingin menancapkan pengaruhnya disetiap wilayah yang ia anggap strategis. Dan bisa saja negara dan ibu kota Oto adalah salah satu target mereka"

"Dari mana kau tahu?" Sasuke bertanya tiba-tiba.

"Dari anak muda kenalanku, dia bernama Gaara, sekarang ia berada di desa Nin, tetangga desa tempat Sasuke dan Sakura tinggal" jawab Hayate.

"Gaara?"

"Iya, kau mengenalnya Sasuke?"

Sasuke mengangguk.

"Dia juga pernah bentrok dengan The Gunder, sayangnya ia takluk, beruntung The Gunder tidak menjadikan dia sebagai bagian dari korban pembantaiannya", terang Hayate, kemudian ia melanjutkan, "kembali mengenai Akatsuki, mereka memiliki simbol Awan Merah"

"Apa?" Iruka sangat terkejut dengan keterangan Hayate barusan. "Apa kau yakin Hayate?"

"Tentu, karena informasi ini kudapatkan dari Gaara, dan dia adalah seorang agen, jadi aku sangat mempercayainya. Memangnya ada apa Tuan Iruka?"

Iruka menatap Sasuke seolah meminta pendapat, tentang simbol awan merah yang ia temukan di lemari Hana, apakah ia akan ceritakan pada Hayate atau tidak. Sasuke diam tidak memberikan respon.

"Simbol serupa telah kutemukan dalam lemari Hana" akhirnya Iruka membuat keputusan untuk menceritakan pula pada Hayate.

"Bagaimana ceritanya sehingga Tuan bisa menemukan benda seperti itu?"

"Ini berdasar pada kecurigaan Sasuke, dan saya berusaha mencari tahu bukti untuk membuktikan kecurigaan Sasuke. Dan akhirnya aku menemukan simbol awan merah itu".

"Jadi, maksud Tuan Iruka, Hana terlibat dengan semua kekacauan ini?"

"Kita lihat saja besok, mudah-mudahan prediksi Sasuke kembali terbukti" Iruka menutup pertemuan mereka.

.

.

.

.

Iruka dan Hana duduk di atas panggung, mata mereka mengarah ke satu tempat yang akan dijadikan sebagai ceremony pembukaan pestival untuk merayakan hari jadi kota Oto.

Sementara itu Hayate dan beberapa pasukan keamanan khusus telah bersiap diposisi masing-masing.

Sasuke juga meminta agar para pengawal dibekali dengan senjata tajam, karena kemungkinan bentrok fisik akan terjadi. Lengkaplah perlengkapan para pengawal, pistol di pinggang dan pedang di sisi samping lainnya. Bahkan ada beberapa yang membawa tombak.

"Bagaimana Sasuke? Apa kau menemukan tanda-tanda mencurigakan?" suara dari ear phone yang digunakan Sasuke terdengar.

"Belum tuan Hayate, kurasa ini masih belum momennya. Oh ya, apakah Sasori ada di sana?" Sasuke balik bertanya.

"Iya, dia masih berada tepat diantara tamu undangan lain" jawab Hayate di sebrang.

"Aku minta agar terus mengawasi dia, hubungi aku jika dia mulai melakukan pergerakan"

"Baiklah, tetap fokus Sasuke"

.

.

.

.

Sasori masih ditempatnya mengawasi sekeliling, seperti sedang mencari sesuatu. sementara upacara pembukaan sedang berlangsung.

Duarr!

Terdengar sebuah ledakan ketika acara puncak upacara sedang berlangsung. Semua yang hadir menyaksikan menjadi panik dan berlarian tak tentu arah.

"Semua keamanan, tetap amankan Tuan Iruka" teriak Hayate pada sekelompok pasukan keamanan yang bertugas.

"Sasuke, Sasori tidak ada di tempatnya" Hayate berbicara pada Sasuke melalui komunikasi Ear Phone. "Untuk semua pasukan khusus, tetap siaga, awasi tuan Iruka dan pejabat yang lain" lanjutnya pada pasukan khusus yang ditunjuk untuk bekerja sama menyergap Black Mask. Mereka semua berpakaian biasa seperti pengunjung yang lain.

"Semua, segera laporkan padaku jika kalian melihat Sasori bergerak, cari tahu juga jika ada yang memakai jas dengan pita warna merah dan biru yang di simpul didepan dada. Kalau bisa amankan juga mereka, jika kalian melihat ada yang memakai pakaian tersebut" Sasuke berbicara pada semua pasukan khusus.

"Siap!" jawab semuanya.

"Sakura, dimana kau, segera menjauh dari tempat ini, jangan membantah!" Sasuke berbicara melalui telepon, tanpa menunggu jawaban sakura ia segera menutup sambungan teleponnya.

Di tengah-tengah kekacauan itu, tiba-tiba muncul Black Mask. Para pengawal yang bersama Iruka tidak tinggal diam, mereka semua serentak menyerang Black Mask.

"Seraaang...!" teriak salah seorang diantara pasukan pengawal itu. Hanya pertarungan fisik yang bisa digunakan saat ini. Karena menyerang dengan berondongan senapan justru akan menelan korban lebih banyak yang tidak bersalah.

Black Mask tidak tinggal diam, "Hm...," gumam Black Mask yang sama sekali tidak merasa gentar sedikit pun menghadapi serangan pengawal itu.

Tanpa bergeser dari tempatnya, kedua tangannya digerakkan untuk menyambut serangan para pengawal itu.

"Sial!" gusar salah seorang diantaranya. "Serbuuu!" teriaknya lagi, sepertinya ia adalah komandan dari pasukan pengawal ini, ia berfikir jika ia bisa membekuk Blackk Mask pasti ada batasnya. Jadi, kalau diserang terus-menerus, bukan tidak mungkin Black Mask akan kehilangan banyak tenaga. Pikiran itulah yang membuat komandan memerintahkan para prajuritnya untuk menerjang kembali.

Melihat para prajurit meluruk dengan senjata di tangan, Black Mask pun segera menyambutnya. Kaki dan tangannya bergerak kian kemari. Setiap kali Black Mask itu menampar atau menendang, selalu ada tubuh yang terjengkang tanpa mampu bangkit lagi. Black Mask berniat membunuh para prajurit yang menurutnya telah mengganggu pekerjaannya. Maka, para pengeroyoknya pun mulai dibantai dengan senjata yang ia pegang.

Merasa kurang yakin dengan pertarungan pisik, beberapa pengawal mencoba menyerang dengan pistol.

Dor! Dor!

Dengan sigap Black Mask menghindar, dengan kecepatannya ia membabatkan pedangnya pada pengawal yang memegang pistol.

Bwet! Bwet!

Cras..cras

Para pengawal tumbang dengan serangan trengginas dari Black Mask

"Heaaat...!"

Dua perwira yang melihat Black Mask memporak porandakan pasukannya, segera memasuki kancah pertempuran. Begitu tiba, pedangnya langsung berkelebat ke arah tubuh Black Mask.

Bettt! Bettt!

Black Mask bergegas menggeser tubuhnya untuk menghhindari sambaran dua batang pedang perwira itu. Di susul tamparan balasan yang lebih kuat, ketika kedua batang pedang lawan kembali berputar mengancam tubuhnya.

Plakkk! Plakkk!

"Aaak...!"

"Aaa...!"

Akibatnya, kedua perwira itu memekik kesakitan. Tubuh mereka terlempar deras ke belakang.

Kesempatan itu digunakan Black Mask untuk menerobos kepungan. Sepasang tangannya bergerak meghajar para pengawal yang tersisa.

"Keparat, akan kuhabisi kau bajingan!" teriak Hayate yang telah muncul ditempat itu setelah mengamankan Iruka. Hayate tentu saja tidak sudi membiarkan Black Mask melanjutkan aksi pembantaiannya. Cepat dia mencegah disertai tebasan pedang yang menimbulkan angin bercuitan.

Wuuut...!

Merasakan ada serangan berbahaya, Black Mask bergegas menarik mundur tubuhnya dua langkah. Setelah senjata lawan lewat di depan tubuhnya, Black Mask segera membalas dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Buagh!

Hayate tak mampu lagi menghindar pukulan telak mengenai bahu sebelah kirinya sehingga ia jatuh terguling di lantai.

Bughk!

Selanjutnya Black Mask dengan cepat kembali menendang perutnya sehingga Hayate tak bisa bangun lagi. 'Maaf Tuan Iruka, Sasuke, cepatlah' Hayate di hujung kesadarannya

"Saatnya menghabisi mu Iruka" Black Mask segera menuju tempat Iruka disembunyikan, ia sepertinya tahu dimana Iruka disembunyikan.

"Keparat kau" teriak Iruka saat Black Mask menemukan tempat ia disembunyikan.

Dorr!

Black Mask memiringkan kepalanya menghindari lesatan peluru Iruka. Black Mask tersenyum meremehkan Iruka. "Saatnya mengakhirimu, dan aku, maksudku Akatsuki akan menjadi penguasa kota ini", Sasori makin mendekat ke Iruka.

Iruka menembak beberapa kali kearah Black Mask, tapi semuanya sia-sia, Black Mask mampu menghindari semua tembakan Iruka, sampai Iruka kehabisan peluru dalam magasinnya pun belum ada satu dari tembakannya yang mengenai sasaran. Iruka makin ketakutan, tidak ada siapa-siapa disana selain dirinya, Hana yang dari tadi duduk katakutan, dan Black Mask.

"Jangan harap kali ini kau lolos, bangsat!" suara dari arah lain muncul, membuat Iruka yang sudah putus asa kembali memiliki harapan saat ia tahu siapa yang muncul.

"Hm.. rupanya kau lagi" jawab Black Mask setelah melihat kearah pendatang baru.

"Iya tentu, urusan kita belum selesai bukan?" jawab orang yang baru datang yang tak lain adalah Sasuke.

"Lalu"

"Hentikan dan menyerahlah, Sasori" mendengar ucapan Sasuke, Hana yang dari tadi hanya diam ketakutan kini mengangkat kepalanya, ia tak mempercayai kalau pembunuh selama ini adalah Sasori, kekasih gelapnya.

"Jadi kau sudah tahu, kau fikir aku juga tidak tahu tentangmu, Uchiha!" teriak Sasori dibalik topengnya. "Kau sudah terlalu banyak ikut campur, Uchiha, dan aku akan menghabisimu terlebih dahulu"

Setelah berkata demikian, Sasori atau Black Mask kembali menyerang. Mau tak mau, Sasuke meladeninya. Tentu saja Sasuke tidak sudi mati secara sia-sia. Menghadapi orang selihai Sasori tanpa
melakukan perlawanan, adalah suatu perbuatan bodoh. Bukan tidak mungkin dirinya akan tewas di tangan lawannya ini. Sasori yang sudah mencabut pedangnya, segera melompat menerjang Sasuke. Pedang di tangannya meluncur deras. Sasuke melompat menghindar.

Pemuda Uchiha itu terkejut bukan main. Serangan susulan yang dilakuan lawan datang begitu tiba-tiba. Tidak ada lagi kesempatan baginya untuk mengelak. Apalagi tubuhnya tengah berada di udara. Segera dijumput pedangnya yang tersampir di punggung, kemudian disorongkan ke arah pedang yang tengah meluncur deras ke dada.

Tranggg...!

Suara berdentang nyaris terdengar begitu kedua benda itu berbenturan.

"Hup...!"

Sasuke mendaratkan kedua kakinya di tanah. Pertarungan tidak bisa dihindari lagi. Sasori menyerang Sasuke selalu dengan bertubi-tubi kebagian-bagian tubuh yang mematikan.
Diam-diam Sasuke merasa kagum melihat kepandaian yang dimiliki pria bertopeng ini.

Serangan-serangan pedangnya datang susul-menyusul laksana gelombang laut. Jelas kalau Sasori memiliki ilmu pedang yang patut diperhitungkan. Tapi yang dihadapinya kali ini adalah Sasuke. Seorang yang walaupun masih muda, tapi cukup lama ditempa oleh pelatihan yang mempertaruhkan nyawa. Dengan menggunakan kemampuan beladiri dan kelincahannya serta kecepatan reaksinya, pemuda Uchiha itu tidak mengalami kesulitan untuk menghindari setiap serangan yang dilancarkan Sasori.

Sasori menggertakkan gigi tatkala mengetahui semua serangannya mudah sekali dielakkan lawan. Padahal di perkumpulan Akatsuki, dialah satu-satunya orang yang memiliki kepandaian bermain pedang telah mencapai tingkat tertinggi. Kini kepandaian yang telah dia miliki sama sekali tidak berarti ketika menghadapi pemuda berambut mirip pantat ayam ini.

Yang lebih menyakitkan hati Sasori, ternyata lawannya sama sekali belum balas menyerang.

Kesabaran Sasuke akhirnya akhirnya habis juga. Sasuke memutuskan untuk menundukkannya dengan
kekerasan.

Setelah memutuskan demikian, Sasuke mulai mencabut pasangan pedangnya yaitu pistol sebagai gayanya dalam setiap pertarungan.

Sasori mulai merasakan beratnya tekanan setiap serangan Sasuke. Tak sampai bebrapa lama Saori sudah terdesak hebat. Ganti Sasuke yang melakukan desakan. Sasori kini lebih banyak mengelak, ketimbang
menyerang. Bahkan menangkis pun hampir tidak dilakukannya. Karena setiap kali ia mau menahan laju pedang Sasuke, tangan kiri Sasuke yang memegang pistol di ayunkan dan diarahkan ke Sasori, membuat Sasori pontang panting menghindari moncong pistol Sasuke, sebelum Sasuke menarik pelatuknya.
Saat Sasori sudah pontang-panting ke sana kemari untuk mengelakkan serangan Sasuke. Sudah bisa diperkirakan kalau robohnya pria ini hanya tinggal menunggu saat saja. Benar saja, Saat Sasuke menebaskan pedangnya ke kaki Sasori, Sasori tentu tak ingin kakinya menjadi korban, ia melompat untuk menghindar. Sementara sasuke memutar tubuh dan menyapukan kakinya tepat mengarah keperut Sasori.

Dughk!

Tendangan Sasuke tepat mengenai perut Sasori dan membuat Sasori tejungkal kebelakang. Sasuke mendekat ke Sasori.

Dorr!

Kembali Sasuke menembak ketika melihat Sasori akan mengayunkan pedangnya keleher Sasuke. Sasuke menembak tepat dipegangan Sasori sehingga pedang yang tadi akan diayunkan terlepas.

Desss...!

Tanpa dapat dielakkan lagi, telapak kaki Sasuke, mendarat telak di dada Sasori.

"Huakhhh...!"

Tanpa ampun, tubuh itu terpental deras kebelakang.

Sasuke bergerak cepat, sebelum Sasori kembali bertindak, Sasuke sudah berdiri didepannya dan mengarahkan pedangnya ke leher Sasori.

"Kau fikir kau sudah menang Sasuke, aku tidak bodoh, aku sudah menduga hal ini", Sasori tertawa. "lihat" Sasori menunjuk kearah lain. Semula Sasuke tidak mau tahu maksud Sasori, tapi….

"Sasuke.." Suara yang begitu dikenal Sasuke memanggil.

"Sakura? Keparat kau Sasori" geram Sasuke.

Wutt!

Sasori meraih pedangnya yang tadi jatuh dan berada tidak jauh dari tempatnya. Ia menebas kearah Sasuke, kendati tiba-tiba, Sasuke masih sempat mengelak dan melompat mundur kebelakang.

"Turunkan kedua senjatamu, kalau tidak, kau tidak akan pernah bermesraan lagi dengan kekasihmu itu. Cepat!" Sasori menghardik.

Sasuke menatap Sakura yang berada dalam ketakutan, dengan terpaksa ia harus menuruti keinginan Sasori.

"Yah, begitu, ternyata kau masih sayang pada kekasihmu" ucap Sasori saat melihat Sasuke perlahan menurunkan kedua senjata ditangannya.

"Sasuke! Jangan!" teriakan Sakura sempat mengalihkan pandangan Sasori dan si penyandera Sakura. Kesempatan yang sangat sedikit ini dimanfaatkan Sasuke. Maka…

Wust!

Crassh!

"Ughk!"

Sasuke melempar pedangnya secara tiba-tiba ke penyandera Sakura dan tepat mengenai leher si penyandera.

"Keparat"

Sasori bergerak hendak kembali menyandera Sakura, tapi..

Dorr!

Sasuke menembak membuat gerakan sasori berhenti, kesempatan ini kembali dimanfaatkan Sasuke, usai menembak ia mendaratkan beberapa pukulan dan tendangan keras secara bertubi-tubi ke tubuh Sasori. Sasori yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi berakhir dengan tubuh yang tak berdaya.

Dughk! Dughk! Dess!

Sasori dengan susah payah bangkit, ia meraih serum dan menyuntikan ke tubuhnya persis yang dilakukan oleh Black Mask yang satunya.

Dorr!

Akhh!

Sasuke sudah tidak mau kompromi lagi, Sasuke tahu efek yang timbul jika serum itu mulai bekerja setelah disuntikan, maka sebelum hal itu terjadi, Sasuke telah menembak tepat di jantung Sasori.

"Sasukeee.." Sakura berlari kedalam pelukan Sasuke. Sasuke lega, tidak ada yang kurang dari Sakura.

"Sakura, bukankah kau bersama Saara dan Matsuri, apa yang terjadi dengan mereka?" Sasuke membelai Sakura dengan lembut.

"Aku tidak tahu, tadi ketika terjadi ledakan, kami terpisah dan ada yang menarikku, lalu.."

"Ceritanya nanti saja, kita juga akan cari mereka berdua, mudah-mudahan mereka tidak apa-apa. Yang penting sekarang kau selamat" potong Sasuke sambil mengeratkan pelukannya.

"Ehemm" kedua pasangan SasuSaku menghentikan aksi pelukan mereka. "Maaf menganggu" ucap Iruka sambil tersenyum. Iruka bergerak memeriksa Black Mask. Ia membuka topengnya yang di gabungkan dengan rambut palsu sehingga jika memakai topeng, maka akan sekaligus memakai rambut palsu, dan tampaklah wajah imut ala Sasori. Iruka benar-benar menyesali tindakan yang telah diambil oleh orang yang selama ini di anggap sebagai saudaranya.

Sakura yang melihat siapa dibalik topeng hitam sempat kaget, tapi tidak ia ungkapkan, ia merasa sudah cukup dengan kejut-kejutan yang ia alami.

"Sasuke, bukankah kau bisa membekuknya hidup-hidup, kenapa kau membunuhnya?" tanya Iruka sekedar ingin tahu .

"Tadi ia menyuntikan serum yang ada ditangannya" mendengar ucapan Sasuke, Iruka segera menoleh ke tangan Sasori. "Jika ia menyuntikan serum itu, akibatnya sangat berbahaya, kekuatannya akan meningkat berkali lipat, dan lagi ia tidak akan merasa sakit"

Iruka menatap Sasuke lekat-lekat.

"Black Mask yang satunya pernah memakainya", Sasuke menambahkan.

Suasana di luar tampaknya mulai tenang, suara keributan sudah tidak terdengar lagi, sepertinya para keamanan khusus sudah berhasil mengendalikan situasi.

TO BE CONTINUE