"Appa, eomma.. bolehkah aku tidur sekarang? Aku-, aku benar-benar lelah."

Seokjin yang awalnya ingin mengatakan tidak, pada akhirnya harus mengangguk juga saat di sisi lain Namjoon menggenggam tangannya seraya tersenyum. Memberikan isyarat 'tolong biarkan Jimin beristirahat. Dia sudah terlalu lelah.'

Setelah mendapatkan kecupan di kening dari Namjoon dan Seokjin, pada akhirnya mata sipit itu tertutup. Membuat pemiliknya bisa tidur dengan tenang, tanpa memikirkan apapun lagi. Karena memang inilah waktunya untuk dia beristirahat.

Waktunya Kim Jimin mereka tidur. Waktunya Kim Jimin mereka menutup mata. Waktunya Kim Jimin mereka beristirahat.

Tepat sebelum helaan nafas itu terdengar untuk yang terakhir kalinya, Namjoon dan Seokjin bisa dengan jelas mendengar suara lemah itu berkata..

"Tolong sayangi Kookie. Karena Jimin sangat menyayanginya, seperti Jimin sangat menyayangi appa dan eomma. Selamat tinggal.."

Dan setelah itu, hanya suara tangis yang terdengar. Tak ada yang bisa memilah suara tangis siapa yang paling keras, atau suara tangis siapa yang paling lirih. Karena semua terdengar sama. Mengisyaratkan kehilangan yang sangat.

Pada akhirnya, mereka harus merelakan. Merelakan seseorang yang sangat mereka sayangi pergi.

Seperti yang pernah Seokjin katakan.. setidaknya Jimin pergi setelah mengucapkan selamat tinggal.

...


...

Tujuh bulan adalah waktu yang sangat singkat bagi Namjoon dan Seokjin untuk bisa menjadi orang tua yang baik bagi Jimin. Waktu yang terlalu singkat untuk memberikan seluruh kasih sayang yang seharusnya mereka berikan selama 16 tahun sebelumnya.

Waktu yang terlalu singkat untuk tau betapa membahagiakannya saat melihat senyum seorang Kim Jimin. Waktu yang terlalu singkat untuk merasakan bahwa memiliki seorang Kim Jimin di kehidupan mereka adalah anugrah terindah yang harus sangat mereka syukuri.

Tapi mereka tak menyesal, karena selama tujuh bulan itu mereka sudah menjalankan kewajiban mereka untuk menyayangi Jimin. Walaupun terlalu singkat, setidaknya mereka sudah membuat tujuh bulan itu menjadi tujuh bulan yang sangat berharga bagi Jimin.

..

Tujuh bulan ini adalah tujuh bulan terbaik yang pernah Taehyung temui. Tujuh bulan yang sangat dia nantikan selama hidupnya.

Karena di tujuh bulan itulah dirinya bisa melihat seorang Kim Jimin mendapatkan kebahagiaannya. Kebahagian yang selama 16 tahun lalu hanya bisa Kim Jimin impikan.

Seandainya bisa, maka Taehyung akan memohon agar Tuhan bisa memberikan lebih dari sekedar tujuh bulan untuk Kim Jimin. Tapi tidak, karena Taehyung yakin Tuhan pasti sudah mempunyai rencana yang lebih baik dari pada ini.

Taehyung akan dengan tulus berdoa, semoga di kehidupan selanjutnya Jimin berada di keluarga yang akan sangat menyayanginya. Di keluarga yang sangat mengharapkan kehadirannya. Di keluarga yang akan membuatnya bahagia, di seberapapun pendek umurnya. Karena Kim Jimin adalah sosok yang sangat pantas bahagia.

..

Tujuh bulan adalah waktu yang sangat indah bagi Hoseok dan Yoongi. Singkat memang, tapi mereka rasa tujuh bulan itu adalah waktu yang sangat berharga yang sangat pantas mereka kenang.

Melihat seorang Kim Jimin yang sudah mereka anggap sebagai anak kandung mereka, merasakan apa yang namanya mempunyai orang tua yang sempurna.

...


...

01 September, 08.30

Masih dengan piyama dan mata sembabnya, Seokjin berjalan menuju kamar Jimin.

Tersenyum sekilas saat hidungnya menghirup aroma Jimin. Seokjin sadar, bahwa itu hanyalah aroma dari beberapa sumber bau yang ada di kamar Jimin, bukan bau asli dari tubuh mungil anaknya itu.

Seokjin duduk diranjang, lalu mengelus perlahan permukaan kasur yang biasanya menjadi tempat Jimin tidur. Sungguh nyaman ketika kepalanya menyentuh bantal milik Jimin. Bantal yang mempunyai aroma manis, bantal yang biasanya menemani tidur Kim Jimin.

Menangis adalah kebiasaannya beberapa hari ini. Tak pernah sekalipun dalam satu jam, dilewatinya tanpa menangis.

"Sayang.. eomma merindukanmu."

Entah karena lelah menangis selama hampir setengah jam, atau karena aroma Jimin yang tertinggal di tempat tidurnya begitu menenangkan, akhirnya Seokjin tertidur.

.

"Jimin?"

Seokjin terus mengekor di belakang seseorang berjarak 10 langkah di depan, yang diyakininya adalah sosok Jimin. Terus dia ikuti, hingga sosok itu masuk ke dalam ruangan. Seokjin mengikutinya.

Oh! Ternyata ini adalah ruang tengah rumahnya. Tapi ada yang berbeda. Disini sama sekali tidak ada fotonya, foto Namjoon, foto Jimin ataupun foto ketiganya. Seingat Seokjin, dirinya sudah meletakkan beberapa foto mereka di setiap sudut ruangan. Bahkan di atas tv, ada satu foto keluarga kecilnya yang berukuran besar terpampang indah di tembok.

Perhatiannya kini teralih pada suara yang berasal dari sisi kanannya. Terlihat dua orang berbeda gender yang sedang saling berteriak. Membuat suasana yang tadinya hening kini berubah suram. Bahkan Seokjin baru sadar jika cuaca diluar sana sedang hujan sangat deras, ditambah lagi suara petir yang saling bersahutan semakin membuat suasana mencekam.

"Apa hakmu untuk melarangku pulang malam ha?!" teriak si wanita.

"Aku adalah suamimu. Aku ber-hak melarangmu pulang malam, atau bahkan melarangmu untuk keluaar dari rumah ini!" jawab satu orang lainnya.

Ini bukan deja vu. Seokjin tau siapa pemilik suara itu.

"Suami kau bilang? Ingatlah Kim Namjoon, kita menikah hanya karena perjodohan. Jangan pernah menganggapku sebagai istrimu, kecuali di depan orang tua kita. Cam kan itu!"

"Karena perjodohan atau bukan, kau tetap istriku Seokjin. Dan kau punya kewajiban untuk merawat anak sialan itu. Setidaknya urusi dulu anakmu itu sebelum kau melakukan hal-hal tak berguna di luar sana."

"Dia juga anakmu, urusi saja kalau kau mau. Aku tidak mau."

Keduanya kini saling melempar tatapan tajam, seakan sedang berlomba untuk memperlihatkan siapa yang paling benar disini. Di sisi lain, seorang anak kecil yang terlihat sedang ketakutan berlari memasuki ruang tengah. Berhenti di samping sang eomma, lalu menarik-narik ujung dress merah eomma-nya.

Seokjin terdiam di tempatnya. Tak habis pikir, bagaimana dia dulu bisa berbuat seperti itu? orang tua macam apa yang tega tak mau mengakui anaknya sendiri?

"Eomma.. chim tatut. Peyuk~" Si kecil mengangkat dua tangannya.

"Aku sibuk. Pergi ke kamar sana!" bukannya memeluk dan menggendong Jimin kecil yang sedang ketakutan, yang dipanggil eomma itu malah membentak dan menolak permintaan Jimin kecil.

Seokjin menangis kencang saat melihat perlakuannya pada Jimin kecil yang tak bersalah. Padahal anaknya itu hanya ingin dipeluk, ingin diberikan rasa aman, ingin diberi perlindungan saat ketakukan seperti ini.

Si kecil yang masih belum menyerah kini berganti memandang appa nya. Baru juga mulut kecilnya ingin berkata-kata, suara penuh amarah sudah membungkamnya terlebih dahulu.

"Apa kau tidak dengar?! Cepat pergi ke kamar dan jangan ganggu kami!"

Bisa Seokjin lihat tubuh Jimin kecil yang bergetar sambil menahan tangis itu berbalik, berjalan pelan kembali menuju kamarnya.

Seokjin terus mengikuti Jimin kecil sampai keduanya sampai di kamar.

Seokjin hanya diam di dekat ranjang sambil memperhatikan Jimin kecil yang sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Isakan kecil terdengar jelas dari dalam selimut, bahkan gundukan itu terlihat bergetar dengan ritme yang tak teratur. Jelas sekali kalau siapapun yang ada didalamnya sedang menangis hebat namun tak berani mengeluarkan suaranya.

Perlahan Seokjin mendudukkan diri di pinggir ranjang. Lalu mengelus salah satu bagian gundukan itu yang diyakininya adalah kepala Jimin. Mengelusnya perlahan, hingga tak terdengar lagi isakan dari Jimin kecil.

Benar saja, ketika selimut itu di buka terlihat Jimin kecil yang sudah tertidur. Seokjin mengambil tissue yang ada di atas nakas lalu diusapkannya ke wajah Jimin kecil yang masih basah oleh air mata.

"Maafkan eomma yang sudah berbuat buruk padamu sayang. Setelah ini bisa eomma pastikan kalau kau akan selalu hidup bahagia. Eomma berjanji." Seokjin mengecup penuh kasih sayang kening Jimin. Setelahnya ikut berbaring sambil menepuk pelan bokong Jimin agar tidur anaknya itu semakin nyenyak.

Tak lama kemudian Seokjin pun ikut tertidur.

..

Brakk

Seokjin terbangun saat mendengar suara pintu lemari yang ditutup agak keras. Saat melihat sekeliling, Seokjin tau bahwa Jiminlah yang menutup pintu lemari tersebut. Anaknya itu kini sedang sibuk memakai baju SD nya. Walaupun terlihat agak kesulitan, Jimin tetap berusaha untuk mengancingkan bajunya.

Setelah semua kancing sudah terkait dan sepatu juga sudah terpasang tanpa terbalik, Jimin mengambil tas kecil berwarna biru mudanya dan berlari keluar kamar. Seokjin mengikuti dari belakang sambil tersenyum.

"Ini pasti hari pertamanya masuk SD." Gumam Seokjin sambil memperhatikan Jimin yang sedang berlari kecil menuju ruang makan. Sedikit kesusahan saat akan duduk, mengingat kursi itu posisinya agak tinggi.

"Pagi appa. Pagi eomma."

Seokjin mengernyit heran saat melihat 'Namjoon dan dirinya' yang hanya diam saja tanpa menjawab sapaan pagi dari anak imut mereka. Saat menoleh ke samping, terlihat jelas raut kecewa dan sedih di wajah Jimin.

"Appa dan eomma hari ini mau mengantar Chim ke sekolah?" tanya Jimin kecil dengan suara lirih. Seokjin heran, kenapa harus dengan nada ketakutan saat Jimin meminta hal itu? bukankah ini sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mengantarkan anaknya di hari pertama masuk sekolah?

"Aku sibuk."

Sibuk apa?! Seokjin tau bahwa Namjoon tidak pernah terlalu sibuk saat di kantor. Karena CEO Kim itu lebih suka menyerahkan pekerjaannya yang melelahkan ke sekretarisnya.

"Kalau eomma pasti bisa, iya kan?"

"Jangan harap. Aku punya hal lain yang lebih penting untuk kukerjakan."

Seokjin menggeram marah tanpa bisa melakukan apapun.

Memang hal apa yang lebih penting dari pada menuruti keinginan sederhana anak mungilnya itu? toh, yang dirinya lakukan di butik hanyalah duduk tanpa melakukan banyak hal. Tak datang hari ini pun bukan suatu musibah untuk butiknya.

Yang membuat Seokjin lebih marah adalah.. 'Namjoon dan dirinya' yang tanpa rasa bersalah pergi begitu saja dengan urusan masing-masing. Tanpa sedikitpun memikirkan perasaan Jimin kecil, yang saat ini hanya bisa menunduk kecewa. Bagaimanapun juga Jimin masihlah anak kecil yang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang terdekatnya.

Seokjin berjalan mendekat, mencium pucuk kepala Jimin. Lalu berbisik "Maafkan eomma dan appa mu yang bodoh ini sayang. Kau adalah anugrah terindah yang seharusnya kami jaga dan sayangi dengan baik. Bukan malah mendapat perlakuan yang tak pantas seperti ini. Jimin adalah anak yang kuat dan tidak mudah putus asa, jadi.. bangkitlah. Eomma yakin di luar sana pasti banyak yang menyayangimu dan selalu ingin melihat senyuman manismu."

Beberapa detik kemudian, bisa Seokjin lihat Jimin berhenti menangis lalu menghapus air matanya.

"Benar. Jimin adalah anak appa dan eomma yang kuat dan tidak cengeng. Jadi Jimin tak boleh menangis. Karena kalau Jimin menangis, pasti nanti appa dan eomma kecewa. Dan Jimin tak mau membuat orang yang paling Jimin sayangi kecewa."

Bagai mantra, Jimin tersenyum dan kembali bersemangat. Setelah memakan habis sarapannya, si kecil turun dari kursi lalu berjalan ke dapur untuk mengambil kotak bekal makannya.

Kembali lagi ke ruang makan untuk mengambil roti dan mengolesnya dengan selai coklat. Setelah merasa cukup, tangan mungil itu kemudian memasukkannya ke dalam kotak bekal makanan.

Tepat saat Jimin selesai memasukkan kotak bekal makannya ke dalam tas, dari arah luar terdengar klakson mobil yang disusul panggilan dari seorang bocah laki-laki.

"Chim ayo berangkaaat~ jangan lupa bekal makan siangmu dibawa."

Tak menunggu lama, Jimin langsung turun dari kursi dan berlari keluar. Agak kesusahan saat menutup pintu utama yang ukurannya sangat besar. Bahkan Jimin harus berjinjit untuk bisa memegang handle pintu itu.

Seokjin masih mengikuti Jimin sampai anaknya itu masuk ke dalam mobil. Ternyata Yoongi dan Hoseok yang menjemput Jimin untuk pergi ke sekolah bersama Taehyung.

'Terima kasih. Karena kalian begitu sayang dan memperlakukan Jimin dengan sangat baik. Aku berhutang banyak pada kalian.' Gumam Seokjin sambil terus memandang Jimin yang sedang bercanda dengan Taehyung.

Perjalanan yang terasa sangat jauh membuat Seokjin sedikit lelah, hingga akhirnya wanita cantik itu tertidur di dalam mobil yang masih berjalan dan penuh dengan candaan dari dua bocah berusia 6 tahun tersebut.

..

Brakk!

Seokjin terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara benturan yang cukup keras. Beberapa detik mengamati, barulah Seokjin sadar bahwa posisinya saat ini sedang ada di ruang kerja Namjoon.

Kemudian pandangannya teralih pada sosok bocah imut yang sedang berlari sambil menenteng sebuah kertas di tangan kanannya.

"Appa~ coba lihat. Jimin naik kelas dan dapat juara satu~" bocah itu, Jimin, berujar dengan riang dan membentangkan kertas yang ada ditangannya agar sang appa bisa langsung melihat.

'Kau anak yang pintar Jiminie. Eomma sangat bangga padamu.' Gumam Seokjin tersenyum bahagia. Namun itu hanya sesaat, karena apa yang kemudian diucapkan suaminya itu benar-benar diluar dugaan. Bukannya ikut senang dengan prestasi yang diperoleh anaknya, Namjoon malah mengucapkan kalimat yang membuat Jimin menunduk takut.

"Kenapa tidak mengetuk pintu dulu? Apa kau tidak diajari sopan santun oleh gurumu?"

"Ma-maaf. Maafkan Jimin, appa. Lain kali Jimin akan mengetuk pintu terlebih dulu."

Seokjin yang menyaksikan itu membeku di tempatnya. Tak tau lagi harus berekspresi apa saat melihat melihat respon Namjoon yang benar-benar keterlaluan. Padahal Jimin hanya ingin menunjukkan hasil dari kerja kerasnya, hanya ingin membuat orang tuanya bangga. Tapi apa yang didapat? Malah bentakan dan sikap acuh yang menyakitkan.

"Sekarang cepat keluar dan jangan menggangguku lagi."

"Iya appa." Jimin keluar ruangan kerja Namjoon sambil menunduk. Seokjin tau, Jimin merasa kecewa, sedih dan tentunya sangat terluka dengan respon appanya.

Seokjin kembali menangis untuk yang kesekian kali.

'Namjoon dan dirinya dulu.' Bisa-bisanya mereka memperlakukan anak kandungnya sebegitu kejam. Membentak, memarahi, acuh, bahkan menganggap keberadaannya adalah sebuah musibah.

Dari arah belakang, Seokjin bisa melihat punggung Jimin yang bergetar dengan kepala yang terus tertunduk. Dengan sedikit mempercepat langkahnya untuk mendekati Jimin. Sedikit lagi tangannya menyentuh pucuk kepala Jimin. Namun sebelum itu terjadi, terdengar benturan yang cukup keras. Disusul dengan suara teriakan penuh amarah.

"Oh tuhan handphone ku! APA KAU TIDAK PUNYA MATA HA! Lihat. Karena perbuatanmu sekarang handphone ku jadi rusak seperti ini!"

Entah berguna atau tidak, tapi Seokjin berusaha menutup telinga Jimin agar tak mendengar hardikan itu. Namun sepertinya percuma.

Karena walaupun lirih, Seokjin bisa menangkap suara bergetar Jimin yang jelas sedang berusaha menahan tangis.

'Dimata eomma, handphone itu lebih berharga dari pada aku.'

Tanpa semangat sama sekali, Jimin melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ditutupnya pintu kamar dengan sangat pelan, berusaha tak menimbulkan suara sekecil appaun.

Kertas yang tadi dipegangnya dengan bangga kini teronggok tak berguna di lantai. Kertas yang tadinya rapi itu kini lecek penuh remasan. Angka 100 yang tadinya terlihat sangat membanggakan kini tak ubahnya seperti angka-angka biasa, tak ada yang istimewa.

Seokjin mendekati Jimin yang saat ini berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut. Dari luar selimut, Seokjin terus mengelus kepala Jimin. Sampai terdengar hembusan nafas teratur dari hidung Jimin.

"Percayalah Jiminie. Dimata eomma dan appa, kau lebih berharga dari apapun yang ada di dunia ini. Maaf karena pernah membuatmu harus merasakan hidup seperti ini. Eomma menyayangimu, sangat sangat menyayangimu."

..

Suara berisik di sekitarnya membuat Seokjin terpaksan bangun. Ah~ dirinya sedang berada-tertidur- di salah satu meja restoran seafood favoritnya.

Pandangannya kini tertuju pada meja sudut yang ada di depannya. Seorang anak dengan seragam SD sedang duduk berhadapan dengan wanita cantik. Dilihat dari jas yang dipakai Jimin, Seokjin tau bahwa hari ini anaknya itu baru saja mengikuti wisuda kelulusan.

Seokjin bersyukur, setidaknya walaupun satu kali dirinya pernah mengajak Jimin untuk makan bersama. Tak lama kemudian datang dua orang pelayan yang mengantar pesanan. Mangkuk sup untuk si kecil, dan sepiring spaghetti untuk si nyonya.

Seokjin tak tau kenapa dari tadi Jimin hanya mengaduk-aduk sup nya tanpa memakan sedikitpun. 'Ah, mungkin Jimin masih kenyang.' pikir Seokjin positif thinking. Namun tak lama kemudian terdengar kalimat bentakan yang ditujukan untuk Jimin.

"Kenapa diam saja? Ayo cepat dimakan!"

"Tapi eomma..."

"Cih. Aku mengajakmu kesini bukan hanya untuk memandangi makananmu saja. Sudah untung aku mau mengajakmu."

"Iya eomma..."

Seokjin masih mengamati keduanya. Tak habis pikir, kenapa 'dirinya' dulu hobi sekali menyakiti hati Jimin? bahkan itu dengan kata-kata. Segitu besarnyakah dia membenci Jimin?

Mata Seokjin melotot kaget saat tak sengaja melihat sup yang ada di depan Jimin.'Sup Kepiting?! Bagaimana bisa aku memesankan makanan itu untuk Jimin?!'

"Uhuk" benar saja. Jimin langsung terbatuk di suapan pertamanya.

"Jimin!-" Eomma Jimin yang awalnya ingin memarahi Jimin karena sudah menjatuhkan sendoknya seketika berhenti berteriak setelah melihat raut wajah anaknya itu. Eomma Jimin berpikir Jimin memuntahkan makannya karena dia tidak menyukai sup kepiting itu.

"Uhuk uhuk" sementara Jimin terus saja terbatuk sambil memegangi lehernya. Tenggorokannya terasa panas, gatal dan tidak nyaman. Bahkan mata Jimin sekarang dipenuhi air mata karena ia terus saja merasakan tenggorokannya yang sakit.

"Kau ini benar-benar merepotkan. Tidak bisakah kau membiarkanku makan dengan tenang?!"

Seokjin menganga tak percaya dengan perlakuan yang diterima Jimin. Bukannya mendapat elusan sayang, tapi Jimin malah ditarik dengan kasar keluar dari restoran. Bahkan di dalam mobil, perlakuan yang didapat Jimin masih sama.

Tangis dan ringisan kesakitan Jimin tak berarti apa-apa. Karena wanita cantik yang disebut eomma nya itu sama sekali tak peduli. Malah sesekali terdengar bentakan bernada tinggi.

"BERISIK JIMIN! pindah ke bangku belakang sekarang juga!"

Seokjin benar-benar tak percaya dengan sikapnya pada Jimin kecil. Anak yang tak tau apa-apa itu menjadi korban dari sikap egoisnya dan Namjoon. Mereka melimpahkan semua kekesalannya pada Jimin. Selalu menganggap Jimin sebagai akar dari takdir buruk yang menghampiri mereka. Tanpa mau mengkoreksi diri sendiri.

..

Saat membuka mata, hal pertama yang Seokjin lihat adalah kamar rumah sakit dengan seorang remaja laki-laki yang sedang duduk diatas ranjang. Menghadap ke arah luar jendela dan sesekali menghembuskan napas.

Seokjin sempat melirik ke papan informasi yang ada di ujung ranjang, tertulis"Park Jimin, 15 tahun. Dirawat sejak tanggal 16." Itu artinya Jimin sudah di sini selama satu minggu.

"Apa mungkin appa dan eomma benar-benar sedang sibuk? Hingga menjengukku pun mereka tidak sempat." Lirih Jimin masih dengan memandang ke arah luar.

Seokjin ingat. Waktu itu ia memutuskan untuk pergi ke Osaka dengan dalih ada urusan penting bersama teman bisnisnya. Padahal itu hanya alasan untuk menghindari Jimin yang sedang sakit dan sangat membutuhkan perhatiannya. Namjoon pun begitu, pergi ke Sidney untuk mengurus anak cabang perusahaannya. Padahal sama sekali tak ada hal penting yang mengharuskan Sang Presdir itu datang kesana.

Memang, yang mereka berdua lakukan hanyalah menghindar. Tanpa mau memikirkan bagaimana kondisi fisik dan batin anak mereka. Benar-benar orang tua yang tak bertanggung jawab.

Lama berdiam diri, akhirnya Jimin memutuskan untuk merebahkan tubuhnya yang mulai merasa kelelahan. Dalam waktu singkat, Jimin yang tadinya susah memejamkan mata kini perlahan mulai tertidur... berkat elusan lembut di kepalanya oleh tangan Seokjin.

...

"Eomma.."

Seokjin terus mengedarkan pandangan dan menajamkan pendengarannya. Berusaha menemukan sumber suara yang sangat familiar itu.

"Jin Eomma.. "

Nihil. Sepertinya suara itu datang dari berbagai sudut. Membuat Seokjin benar-benar kesulitan. Apalagi tempat ini semakin lama semakin gelap, warna putih yang tadinya mendominasi tempat ini perlahan berubah menjadi abu-abu. Hingga lama kelamaan akhirnya menjadi hitam sempurna.

Sedetik sebelum kegelapan menguasai, Seokjin merasakan sebuah tangan kecil menggenggam dan menariknya untuk berlari dari tempat itu. Melewati sebuah pintu, membawanya dari tempat yang gelap dan dingin itu ke tempat yang terang dan terasa hangat.

Keduanya berhenti tepat di tengah ruangan. Si kecil yang tadi menariknya kini perlahan berjalan menjauh, menjauh dan menjauh..

"Jimin!" teriak Seokjin, membuat si kecil itu berhenti berjalan. "Jimin anakku.." Namun yang dipanggil tetap diam. Tak lanjut berjalan menjauh, ataupun menoleh ke arah Seokjin.

"Kemarilah sayang, eomma sangat merindukanmu."

Akhirnya si kecil berbalik, tersenyum lebar sambil berjalan mendekat ke arah Seokjin yang disambut dengan pelukan erat.

"Jangan pergi, jangan tinggalkan eomma dan appa. Tetaplah bersama kami Jiminie." Seokjin semakin mengeratkan pelukannya, seakan renggang sedikit saja tubuh bocah kecil itu akan hilang terbawa angin.

Dan benar saja, sepersekian detik kemudian tubuh Jimin menghilang, digantikan dengan udara yang kini berada di pelukan Seokjin. Wanita itu baru saja akan berteriak, sebelum melihat Jimin yang kini berdiri 5 meter di depannya.

"Eomma... jangan menangis ne." Jimin dengan tubuh 3 tahunnya berbicara sambil tersenyum.

Seokjin mengangguk sambil ikut tersenyum. Jiminnya yang berumur 3 tahun itu terlihat sangat menggemaskan dengan pakaian serba putih ditambah beanni warna serupa yang menutup kepalanya. Membalut dengan sempurna tubuh gembul berisi itu. Seokjin berkedip satu kali, dan kini tubuh Jimin sudah terlihat berbeda.

"Jiminie tidak suka melihat eomma menangis." Jimin yang berumur 6 tahun itu mempoutkan bibirnya sambil menggeleng.

"Eomma lebih cantik kalau tersenyum." Jimin berjalan mendekat, membersihkan sisa-sisa air mata eomma nya dengan sapu tangan berwarna putih. Kemudian bocah berusia 9 tahun tersebut berjalan kembali ke tempatnya.

"Eomma dan appa tau kan kalau Jimin sangat menyayangi kalian melebihi apapun?" Seokjin menjawab pertanyaan Jimin yang berumur 12 tahun itu dengan sebuah anggukan.

"Appa, Eomma dan Jungkookie adalah sumber kebahagiaanku. Kalau kalian bahagia, Jimin akan ikut bahagia. Tapi kalau kalian bersedih, Jimin juga akan ikut sedih. Jimin harap setelah ini eomma dan appa hidup bahagia, bersama Jungkookie. Eomma harus berjanji akan selalu hidup bahagia bersama appa dan Jungkook. Bisa kan eomma?"

"Tidak Jimin, jangan pergi. Eomma mohon.. " Seokjin mengiba dan kembali menangis. "Kami akan bahagia kalau kau ada disamping kami. Kalau kau tidak ada, bagaimana mungkin kami akan hidup bahagia? Jangan pergi..."

Jimin berjalan mendekat, lalu memeluk Seokjin yang saat ini masih dalam posisi berlutut. "Jimin yakin kalian akan bahagia."

"Tidak! Jangan Pergi. Jimin jangan pergi!" Seokjin semakin keras meneriakkan nama Jimin, saat si pemilik nama itu makin lama makin tak terlihat. Sejauh apapun Seokjin berlari, hanya ruangan tak berujung yang didapatinya.

"Jim-" dari arah belakang, Seokjin merasakan sebuah tangan mungil menarik bajunya.

"Eomma.."

..

Namjoon menunggu dengan cemas di depan pintu. Berharap bahwa Seokjin dan calon anak mereka baik-baik saja di dalam sana. Entah apa yang akan dia lakukan kalau sampai dua orang terkasihnya itu dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Hatinya benar-benar tak tenang sejak satu jam yang lalu. Masih jelas diingatannya, bagaimana Seokjin yang terus memanggil nama Jimin dengan putus asa. Terlihat sekali bahwa istri cantiknya itu masih belum bisa menerima kepergian Jimin. Masih berharap bahwa anak mungil mereka itu hanya pergi sebentar dan akan kembali lagi.

Namjoon hafal betul apa kebiasaan Seokjin beberapa hari belakangan ini. Istrinya itu akan datang ke kamar Jimin, menangis sepanjang waktu sampai kelelahan dan tertidur. Lalu akan bangun untuk mandi dan makan, setelah itu kembali lagi ke kamar Jimin untuk menangis. Begitu setiap hari.

Namjoon tak mempermasalahkan hal tersebut, asalkan Seokjin tetap memperhatikan kesehatannya dan calon anak mereka. Namjoon paham dengan apa yang dirasakan Seokjin, kehilangan orang yang baru saja sangat dia sayangi, pasti akan mengguncang jiwanya. Namjoon pun sebenarnya juga merasakan hal yang sama dengan Seokjin, namun sebagai kepala keluarga dia sadar harus kuat agar tetap bisa menjaga istri dan anaknya.

Namun berbeda dengan tadi siang. Seokjin tiba-tiba saja berteriak histeris memanggil nama Jimin dengan mata tertutup rapat, seolah menolak untuk dibangunkan. Namjoon yang panik segera membawa istrinya itu ke rumah sakit.

Sepanjang perjalanan menjadi waktu yang sangat menakutkan bagi Namjoon. Teriakan Seokjin perlahan mengecil, setelahnya hilang sama sekali. Wanita cantik itu seolah kehilangan tenaga, ditambah lagi dengan kulitnya yang berubah pucat membuat kepanikan Namjoon menjadi berkali lipat.

Yang bisa dilakukannya hanya memeluk Seokjin, memberi kehangatan dan kekuatan sembari terus berdoa. Berharap semuanya bisa segera teratasi dan baik-baik saja.

Sesampainya di rumah sakit, Namjoon seperti orang linglung. Duduk di lantai dengan pandangan kosong, namun air mata mengalir perlahan tanpa mau berhenti. Biarlah orang lain menganggapnya laki-laki cengeng, Namjoon tak peduli.

Suasana rumah sakit yang sepipun semakin memperburuk keadaan.

Namjoon ingat bagaimana saat dulu Seokjin melahirkan Jimin. Karena kecelakaan kecil yang berakibat fatal, Seokjin harus melahirkan saat usia kandungannya masih 26 minggu. Beruntung operasi waktu itu berjalan lancar, sehingga keduanya dalam kondisi baik-baik saja.

Namjoon sangat menyesal karena ketika Jimin lahir, dirinya tak sempat atau lebih tepatnya tak mau melihat kondisi Jimin kecil. Seandainya waktu bisa diputar, Namjoon ingin sekali melihat Jimin kecil. Menurut cerita Yoongi dan Hoseok, Jimin bayi sangatlah mungil namun menggemaskan. Sedari kecil pipi bulat Jimin sudah terlihat, mata sipitnya bahkan hanya seperti garis, hidung mungilnya menurun dari Namjoon, sementara bibirnya mewarisi dari Seokjin.

"Argh!" Namjoon mengerang pelan, namun benar-benar syarat akan keputus asaan. Dirinya sadar bahwa waktu tak akan bisa diputar, kesalahan di masa lalu tak akan pernah bisa diperbaiki. Namun masa depan, bisa dia tentukan. Dalam hatinya mengucap janji akan selalu menyayangi keluarganya, anak dan istrinya, apapun yang akan terjadi.

..

"Jung-kookie.." tanpa dikomando lagi, Seokjin langsung memeluk sosok bocah yang ada dihadapannya itu. Kembali menangis sambil terus menggumamkan namanya, Jungkook.

"Iya eomma, ini Kookie." Jungkook menghapus air mata Seokjin menggunakan jempol mungilnya. "Kenapa eomma menangis? Apa eomma tidak senang dengan kehadiran Kookie?"

"Tidak sayang, eomma senang dengan kehadiran Kookie. Sangat senang sekali. Tapi..."

"Tapi apa eomma?"

"Jiminie.."

Jungkook melepaskan pelukan Seokjin, lalu berjalan mundur beberapa langkah. "Eomma tak perlu khawatir, Jimin hyung baik-baik saja. Mulai sekarang Jimin hyung akan hidup bahagia. Eomma ingat kan dengan pesan Jimin hyung tadi?"

"..."

"Kita harus hidup bahagia, dengan atau tanpa Jimin hyung."

"..." bukannya berhenti, Seokjin malah makin menangis saat mengingat Jimin yang sudah pergi dan tak akan bisa dia temui lagi. Seokjin merasa bahwa dirinya baru saja menemukan kebahagiaannya, namun semua itu hilang dalam sekejap. Bahkan dia belum sempat melakukan semua hal yang sudah direncanakannya dengan Jimin.

"Eomma.. apa eomma tau bahwa Jimin hyung sudah berusaha dengan keras agar Kookie bisa lahir ke dunia, dan hadir di tengah-tengah Appa dan Eomma? Lalu, apa eomma tega membuat perjuangan Jimin hyung selama ini untuk Kookie menjadi sia-sia?" yang menjadi lawan bicara hanya diam.

Seokjin berhenti menangis, lalu menatap wajah Jungkook sambil sesekali mengusap pipi basahnya. "Kau benar sayang. Berkat usaha keras hyungmu, eomma dan appa sadar dengan kesalahan kami selama ini. Eomma dan appa berjanji akan selalu menyayangimu, seperti kami menyayangi hyungmu."

Jungkook tersenyum. Maju beberapa langkah lalu memeluk wanita cantik yang dipanggilnya eomma itu. "Terima kasih karena eomma mau menerima kehadiran Kookie. Jimin Hyung pasti akan sangat senang saat tau bahwa Kookie akan hidup bahagia bersama Keluarga Kim. Iya kan eomma?"

"Tentu sayang. Tidak hanya Jimin hyung yang akan bahagia, tapi appa dan eomma pasti juga akan sangat bahagia dengan kehadiran Kookie."

"Yeii! TERIMA KASIH JIMIN HYUNG. KOOKIE SANGAT MENYAYANGIMU!" Teriak Jungkook yang seolah sedang ditujukan pada seseorang di hadapannya.

..

Sudah 3 jam lebih Namjoon menunggu di depan ruang operasi. Dan rasanya kepala Keluarga Kim itu ingin mendobrak pintu yang sejak tadi tak bergerak sedikitpun. Sebenarnya apa yang sedang mereka semua lakukan pada istri dan calon anaknya? Kenapa dari tadi belum ada tanda-tanda mereka akan keluar dari ruangan itu dan memberikan kabar baik padanya?

Tangan kanan Namjoon sudah terulur untuk membuka paksa pintu. Namun sebelum itu terjadi, pintu terbuka dari arah dalam. Menampakkan raut lelah beberapa dokter dan suster.

"Ba-bagaimana keadaan istri dan an-nak ku?" Namjoon tak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya saat ini. Walau sudah berusaha ia lenyapkan, namun pikiran-pikiran buruk tetap saja berkeliaran di otaknya.

"Kondisi Seokjin sempat kritis tadi, tapi kami berhasil melakukan yang terbaik." Ucap Dokter Reika setelah melepas maskernya. "Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang rawat dan dia baru akan sadar sekitar 3 jam-an lagi. Aku harap kau bisa menjaganya, jangan biarkan Seokjin kembali mengalami depresi. Karena itu akan sangat berpengaruh untuk kesehatannya."

"Aku mengerti." Akhirnya Namjoon bisa bernafas lega. " Lalu, bagaimana dengan kondisi Jungkook?"

"Jungkook baik-baik saja, dia sangat sehat. Kau bisa menemuinya nanti." Dokter Reika berjalan meninggalkan Namjoon, namun sebelum itu berbalik sebentar. "Ah, tapi sebelum itu kuharap kau mandi lebih dulu. Penampilanmu sekarang benar-benar mengerikan. Buatlah kesan pertama yang menyenangkan untuk Kookie saat bertemu appa nya."

Dokter Reika benar. Kalau dilihat-lihat Namjoon sekarang terlihat seperti gembel yang sudah beberapa hari tak mandi. Walaupun masih terlihat tampan, tapi rambut dan bajunya yang acak-acakan sangat tak enak dipandang. Mungkin sebentar lagi satpam rumah sakit akan mengusirnya karena dikira orang gila.

Ah~~ lebih parahnya lagi jangan sampai Seokjin tidak mengenali karena penampilannya ini.

Namjoon memutuskan pulang sebentar untuk mandi, mengambil keperluan Seokjin dan Jungkook serta memberi tahu kabar bahagia ini ke Keluarga Jung.

..


..

Seokjin tak henti-hentinya menciumi kening Jungkook yang sedang dia gendong. Air mata bahagia juga tak ada hentinya mengalir.

"Jungkookie.. eomma sangat menyayangimu. Sangat sangat menyayangimu. Seperti eomma menyayangi Jimin Hyung. Eomma-"

Seokjin hampir saja mengumpat marah kalau tak ingat ada bayi mungil dalam dekapannya. Suara pintu yang di dobrak sangat keras benar-benar membuatnya emosi. Beruntung si bayi mungil itu tak kaget dan menangis.

"Sayang, bagaimana keadaanmu? Kata dokter baru 1 jam-an lagi kau siuman? Tapi tiba-tiba aku dapat kabar kalau kau sudah sadar. Dan saat aku menengok Kookie tadi dia sudah menghilang~~" ucap si pelaku pendobrak pintu, Kim Namjoon, dengan cepat.

"Lalu apa masalahmu Kim Namjoon?" desis Seokjin dengan suara lirih, takut membangunkan Jungkook.

"Aku benar-benar khawatir sayang~~"

"Seharusnya aku yang lebih khawatir dengan kelakuan bar bar mu itu!" Seokjin geleng-geleng kepala sambil mengusap sisa air matanya. Merasa prihatin dengan nasibnya sendiri.

"Tapi kan aku hany-"

"Ssstt! Diam! Apa kau ingin membangunkan Kookie?!" gertak Seokjin yang masih kesal dengan kelakukan Namjoon.

"Tidak.."

"Kalau begitu jangan berisik. Dan.. kemarilah."

Namjoon berjalan mendekat dengan pelan, takut membangunkan Jungkook dan membuat bayi mungil itu terbangun. "Apa aku boleh mencium anak kita Seokjin?"

Yang di tanya tersenyum. Mana mungkin dia melarang Namjoon mencium anak mereka. "Lakukan dengan pelan. Jangan terburu-buru, atau kau malah akan membangunkannya."

Sesuai instruksi Seokjin, Namjoon mencium kening Jungkook dengan sangat lembut. Beberapa detik kemudian Namjoon menegakan tubuhnya dan membuka mata. Selanjutnya yang dia lakukan adalah menangis.

"Apa aku terlihat cengeng karena menangis?"

"Aku bahkan lebih cengeng lagi karena sudah menangis sejak membuka mata tadi." Seokjin tersenyum ke arah Namjoon.

Entah Namjoon, ataupun Seokjin saat ini merasa sangat bahagia.

Bukan mereka sudah tak peduli, atau seakan lupa dengan kepergian Jimin beberapa hari yang lalu. Jimin akan selalu ada di hati mereka. Menjadi kenangan paling indah yang akan selalu mereka ingat.

"Semua ini berkat Jiminie. Walau tidak mungkin, tapi aku sangat berharap Jimin ada disini melihat kita semua berkumpul. Menyaksikan betapa bahagianya kita sekarang."

"Ya, aku pun juga berharap seperti itu Jin. Tapi tak apa, aku yakin dari atas sana Jimin menyaksikan kita, melihat Jungkookie hadir di tengah-tengah kita. Pasti Jimin sagat bahagia."

"Tentu. Lihatlah, setiap kita menyebut nama Jimin, Kookie selalu tersenyum."

Seokjin tak mengada-ada, Jungkook memang selalu tersenyum ketika ada yang mengucapkan nama Jimin, sekalipun bayi itu masih tertidur.

"Kau benar. Jungkookie pasti juga sangat menyayangi Jimin hyungnya.."

"Oh iya, apa kau sudah mengabari Yoongi"

"Sudah, mungkin setengah jam lagi mereka datang."

.

Sayup-sayup Seokjin mendengar suara orang yang sedang mengobrol. Barulah ketika matanya terbuka sempurna, dia ketahui bahwa di dalam ruangan itu kini ada Hoseok, Yoongi dan Taehyung yang sedang mengobrol dengan Namjoon.

"Oh Eonni! Kau sudah bangun?" Yoongi yang pertama menyadari Seokjin bangun langsung menghampirinya.

"Yoongi-ya, kapan kalian datang?"

"Sekitar satu jam yang lalu. Tapi ketika kami datang kau masih tidur."

"Terima kasih sudah datang jauh-jauh dari Daegu kemari."

"Tak masalah. Lagi pula urusan kami di Daegu juga sudah selesai. Ah iya! Taehyung membawakan oleh-oleh untuk Kookie. Tae, kemari sayang."

"Iya eomma." Taehyung berjalan kearah Yoongi sambil membawa sebuah paper bag warna merah ukuran agak besar.

"Apa itu Taehyung?" Tanya Seokjin.

Taehyung mengambil salah satu isi dari paper bag yang dibawanya. Sebuah selimut berbentuk persegi dengan tudung bertelinga kelinci di salah satu sudutnya. "Jimin bilang Jungkook sangat menyukai warna merah, jadi aku membeli beberapa perlengkapan berwarna merah. Maaf kalau pilihanku tidak bagus."

"Tidak Taehyung, itu sangat bagus. Pasti Kookie akan senang. Terima kasih. Terima kasih banyak." Seokjin sadar, mungkin Taehyung masih membencinya dan Namjoon, yang dianggapnya sudah menyakiti Jimin. Itulah sebabnya sampai sekarang terkadang Taehyung masih terlihat canggung saat harus bicara dengannya.

"Emm, bolehkah ku pakaikan pada Jungkook sekarang? sep-pertinya dia agak kedinginan."

Belum sempat Seokjin menjawab, Taehyung sudah berbalik untuk menghampiri baby box Jungkook. Dengan pelan Taehyung memakaian selimut itu pada Jungkook.

"Kookie, Jimin bilang kau sangat menyukai warna merah. Jadi aku membelikanmu barang-barang warna merah. Apa kau suka?"

Baby Jungkook yang masih tertidur menggeliat pelan sambil tersenyum ketika nama Jimin disebut. Sementara Taehyung menganggap hal itu sebagai jawaban dari pertanyaannya, Jungkook senang dengan pemberiannya.

"Sayang, aku dan Namjoon akan pergi keluar membeli makanan. Kau ingin makan sesuatu?"

"Seperti biasa saja."

"Baiklah. Taehyung, bagaimana denganmu?"

"Samakan dengan milik appa saja."

Sepeninggal Hoseok dan Namjoon, Taehyung sibuk bermain dengan Jungkook yang tiba-tiba bangun. Sementara Yoongi sedang mengupas jeruk untuk Seokjin. "Yoongi-ya, kapan baby lahir? Dan bagaimana kondisinya sekarang?"

"Dokter bilang masih 6 minggu lagi aku melahirkan, tapi bisa maju atau mundur. Dan kondisinya baik, dia sehat dan tumbuh sempurna di dalam sini."

"Ah~ syukurlah. Aku tidak sabar menunggu kelahiran baby mu. Pasti akan sangat ramai, Kookie akan mempunyai teman, dan Taehyung akan mempunyai 2 adik laki-laki."

"Benar sekali. Apa perlu aku pindah rumah tepat disampingmu supaya kita lebih dekat lagi? Ku dengar Keluarga Kang akan pindah, itu berarti satu rumah di sampingmu akan kosong."

"Benarkah?" Tanya Seokjin antusias. Hanya dengan membayangkannya saja, Seokjin merasa sangat senang saat bisa bertetangga sebelah dengan Yoongi.

...


...

Usia Jungkook sudah dua minggu. Kondisinya sangat sehat dengan perkembangan yang sangat pesat. Selama dua minggu itu pula Namjoon dan Seokjin mengambil cuti dari semua pekerjaannya.

Mereka tak ingin melewatkan sedikitpun perkembangan Jungkook. Semua mereka lakukan sendiri tanpa bantuan baby sitter. Hanya ada satu pembantu yang membantu mereka untuk mengurus rumah. Selebihnya mereka lakukan sendiri.

Ah, tidak lupa dengan bantuan Yoongi yang sudah seperti mentor untuk keduanya. Memberi tahu apa-apa saja yang harus dan tak harus mereka lakukan.

Setiap pagi dan sore Yoongi akan ke rumah Namjin untuk membantu mengurus Jungkook. Karena bagaimanapun juga, ini adalah pengalaman pertama NamJin mengurus bayi. Banyak hal yang mereka tak mengerti dan sangat membutuhkan bantuan Yoongi.

Fyi saja, Keluarga Jung benar-benar pindah di samping rumah Namjin sekitar seminggu yang lalu. Sehingga Yoongi bisa pergi sendiri kesana. Taehyung akan kesana sepulang sekolah dan setelah berganti pakaian. Sementara Hoseok akan kesana sore hari sekaligus untuk menjemput Yoongi.

..

"Yoongi-ya.."

"Hm?"

"Aku ingin berterima kasih padamu."

"Tentang apa?"

"Semuanya. Aku tidak tau bagaimana jadinya kalau tidak ada kalian. Aku dan Namjoon terlalu buta untuk bisa melihat bahwa mempunyai Jimin adalah sebuah anugrah yang sangat besar. Yang patut kami syukuri, bukan malah kami sia-siakan seperti itu. Kami bukan orang tua yang baik. Kami buruk, kami orang tua yang sangat buruk."

"Hei Eonni. Apa kau tau betapa Jimin menyayangi kalian? Tak pernah sekalipun Jimin berpikir untuk membenci kalian. Setiap hari Jimin bercerita bahwa dia sangat bangga mempunyai orang tua seperti kalian. Bahkan Jimin tidak pernah menyesal hadir di tengah-tengah kalian. Jimin hanya berharap, dia hadir di waktu yang tepat. Di saat kalian sudah saling mencintai. Karena disaat itu tiba, pasti hanya kebahagiaan yang ada."

"..."

"Dan apa kau tau? Jimin pernah bilang padaku, salah satu keinginan terbesarnya adalah melihat appa dan eomma nya bahagia. Apapun akan Jimin lakukan dan korbankan untuk melihat appa dan eomma nya bahagia. Sekalipun dia harus menunggu sangat lama, atau bahkan mengorbankan nyawanya. Jimin bilang rela."

Seokjin tak sanggup lagi untuk menahan air matanya. Sungguh, sampai kapanpun penyesalan itu tak akan pernah bisa ia hapus. Terbayang bagaimana wajah sedih Jimin. Hanya keinginan kecil, tapi ia dan Namjoon tak bisa mengabulkannya.

Jimin hanya ingin di sayang oleh orang tuanya. Diperlakukan dengan lembut seperti anak-anak lain. Disaat dunia seolah tak memihaknya, Jimin yang malang bahkan masih memikirkan perasaan orang tuanya.

"Jim-Jimin anakku, maafkan eomma sayang. Maafkan eomma yang bodoh ini..."

Yoongi hanya bisa mengelus punggung Seokjin, sambil sesekali mengucapkan kalimat penenang. Sedikit banyak Yoongi tau apa yang dirasakan Seokjin.

Jangankan Seokjin yang baru sebentar menyayangi Jimin, dirinya yang sudah menyayangi Jimin sejak baru lahir pun masih merasa sangat kehilangan. Yoongi rasa apa yang selama ini keluarganya berikan untuk Jimin masih kurang. Jimin sangat pantas untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian lebih banyak lagi dari semua orang, termasuk orang tuanya sendiri.

..

"Sayang, tidurlah dulu. Aku tau kau lelah. Aku yang akan menjaga Jungkookie." Namjoon menghampiri Seokjin yang sedang duduk dan mengelus kepala Jungkook pelan. Sedangkan baby Kim itu baru saja tertidur setelah tadi sempat menangis karena haus.

"Aku masih belum lelah sayang. Lagi pula aku tidak mau kehilangan satu detikpun untuk menatap anak kita." Seokjin mencium kening Jungkook pelan.

Setelahnya Namjoon menggendong Seokjin ala bridal dan membawanya ke kamar utama. Dari pada tiduran di kasur, Namjoon lebih memilih duduk di sofa dengan Seokjin yang ada di pangkuannya.

"Hey sayang.." Panggil Namjoon.

"Hm?"

"Aku penasaran, sejak kapan kita saling jatuh cinta?"

"Jatuh cinta? Siapa bilang aku jatuh cinta padamu?"

"Sayaaaaang ~~~"

"Hahaha, ingat umur Tuan Kim. Kau sudah tidak pantas merajuk seperti itu. Kau terlihat jelek. Tersenyumlah." Seokjin menarik-narik ke dua pipi Namjoon.

"Bagaimana aku bisa tersenyum? Kalau ternyata orang yang kucintai tidak mencintaiku juga.. cintaku bertepuk sebelah tangan."

Seokjin masih saja terkekeh sambil merapikan rambut suaminya itu. "Entahlah, aku tak yakin. Mungkin sejak sebelum Jungkook ada." Seokjin tampak sedikit ragu dengan perkataannya sendiri.

"Benarkah?" Namjoon tampak tak percaya dengan ucapan Seokjin. sejak sebelum Jungkook ada, itu berarti sejak sebelum istri cantiknya itu hamil..

"Aku.. ingin sedikit mengakui sesuatu.."

"..."

"Sebenarnya.. malam itu aku tidak sedang mabuk berat. Aku-, aku hanya sedikit merasa frustasi saja. Hingga aku memutuskan untuk mabuk, tapi entahlah. Baru satu tegukkan, seperti ada sesuatu yang membuatku ingin pulang ke rumah. Dan yah, waktu itu aku tidak mabuk. Jadi.."

"Jadi kita melakukannya dengan sadar?"

"Kita? Maksudmu.."

"Ya. Sebenarnya waktu itu aku juga tidak mabuk. Aku benar-benar melakukannya dengan sadar." Namjoon menghela napas. "Waktu itu aku sedang berkunjung ke rumah salah satu pegawaiku, istrinya baru saja melahirkan. Dan entah kenapa saat aku melihatnya, tiba-tiba saja aku ingin pulang dan memb-"

Plakk

"Dasar mesum!" teriak Seokjin setelah memukul lengan Namjoon sekuat tenaga.

"Hei! Kenapa kau marah sayang? Apa salahku? Aku hanya ingin menyalurkan kebutuhan biologisku. Lelaki mana yang betah tidak melakukan itu 10 tahun lebih?! Aku memang bukan orang tua yang baik, tapi setidaknya aku adalah orang yang setia. Aku tidak akan mengkhianati keluargaku."

"Tapi kan kau bisa minta izin dulu.." Cicit Seokjin dengan suara yang hampir tak terdengar.

"Lalu setelah itu kau akan melempar kursi ke arahku. Tidak terima kasih. Aku masih sayang wajahku."

"Benar juga ya.. mana mungkin aku menuruti permintaanmu itu."

Keduanya lalu tertawa keras. Merasa konyol kala mengingat kisahnya dulu.

Baik Namjoon maupun Seokjin sebenarnya menyimpan rasa untuk keduanya. Namun ego yang terlalu besar dan tinggi membuat keduanya tak ada yang mau mengakui perasaan masing-masing. Berlagak seperti orang yang saling membenci, namun di sisi lain saling membutuhkan dan saling tak ingin berjauhan.

Tapi sekali lagi.. ego masing-masing membuat mereka seolah menutup mata dan telinga dengan keadaan sebenarnya. Bahkan Jimin, anak pertama mereka yang tak tau apa-apa, juga harus menjadi korban keegoisan orang tuanya.

"Tapi untung saja waktu itu kau tidak bermain kasar sehingga ak-"

"Sehingga apa sayang? Katakan saja.."

Namjoon menyeringai senang sambil berusaha membuka tangan Seokjin yang masih menutup mulutnya sendiri sambil menggeleng tak mau.

"Oh ayolaaaaah~~ jangan menyembunyikan sesuatu Jin-ah.."

Sementara yang ditanya masih diam sambil menggelengkan kepala.

"Padahal waktu itu aku sangat menikmatinya. Tubuhmu benar-benar indah sayang, aku begitu menikmati setiap jengkal tubuhmu. Kulitmu yang putih dan mulus ini.. " Namjoon mengusap dengan seduktif paha Seokjin. " ..membuatku ingin merasakannya lagi. Bolehkah?"

"Apa kau gila?! Jungkook bahkan belum genap 2 minggu dan kau ingin melakukannya?! Mati saja kau!"

"Owch~ kenapa mulutmu pedas sekali sayang? Apa Yoongi yang mengajarimu?"

Seokjin memalingkan mukanya dan menyilangkan tangan di depan dada. Namun masih dengan posisi di pangkuan Namjoon. Sama sekali tak niat beranjak dari pangkuan suaminya itu.

"Akhhh.. " Namjoon sengaja mendesah saat Seokjin sedikit bergerak untuk memperbaiki posisi duduknya. "Apa kau bisa merasakannya sayang? Ada sesuatu dibawah sana yang ingin dimanjakan dan dipu- AW AW! Hentikan Seokjin!"

"Hanya jika kau berjanji tak melakukan hal yang macam-macam sayang.. " Ucap Seokjin sambil menyeringai.

"I-iya baiklah, ak-ku janj-ji."

"Janji?"

"Janji. Jadi sek-karang cepat lepaskan tanganmu saya-yang." Namjoon yakin kedua nipple nya berwarna merah saat ini. Cubitan Seokjin sungguh tak main-main.

"Hahaha, semua ilmu yang Yoongi berikan benar-benar bermanfaat. Aku harus mentraktirnya sesuatu besok."

Sementara Namjoon masih sibuk meniup-niup nipple nya yang terasa perih karena cubitan Seokjin.

"Aku akan memperkosamu saja kalau begitu." Ucap Namjoon yang tanpa aba2 menggendong Seokjin, sedikit berlari lalu merebahkan tubuh istrinya itu di kasur. Bukannya berontak, Seokjin malah memeluk tubuh Namjoon sambil melesakkan wajahnya ke dada bidang lelaki itu.

Seokjin tau suaminya itu hanya bercanda dan tak akan berani macam-macam padanya. Perkataan Dokter Reika masih benar-benar mereka ingat, tentang apa saja yang mungkin terjadi kalau keduanya berhubungan intim dalam waktu dekat ini.

"Kau tak perlu memperkosaku sayang.. karena aku akan dengan sukarela menyerahkan tubuhku padamu. Tapi nanti, setelah waktunya tiba.." Seokjin mencium pipi Namjoon.

"Aku akan menunggumu sayang. Sampai kapanpun.."

...


...

Seokjin sudah siap dengan baju serba putihnya, begitupun dengan Jungkook. Bocah kecil itu terlihat begitu bersinar dengan selimut dan beannie warna putih yang membalut tubuhnya. Namjoon juga memakai baju warna senada dengan anak istrinya.

Dan disinilah mereka.. di tempat peristirahatan terakhir Kim Jimin.

Masing-masing dari mereka yang hadir, termasuk Taehyung Hoseok dan Yoongi, berdoa dalam hati.

'Jiminie anak ku.. bagaimana keadaanmu sekarang? Eomma yakin kau baik-baik saja. Bagaimana kehidupanmu disana? Pasti menyenangkan ya.. buktinya kau lebih memilih pergi ke tempat itu dan meninggalkan kami semua. Tapi tak apa, asalkan kau bahagia.. Eomma rela melepasmu. Maafkan sikapku selama ini Jiminie, Eomma benar-benar minta maaf. Eomma janji akan menjadi orang tua yang baik untuk Jungkook, sesuai permintaanmu sayang.'

'Hei jagoan.. apa kau merindukan Appa, Eomma dan Jungkookie? Maaf baru mengunjungimu sekarang. Salahkan Dokter Reika yang melarang Jungkook bepergian dua minggu ini. Sehingga kami tak bisa kemana-mana. Dua minggu menjadi waktu yang saaaangat lama.. tapi tenang saja. Setelah ini, Appa Eomma dan Jungkookie akan sering-sering mengunjungimu. Kami sangat menyayangimu Jiminie..'

'Hai Chim, apa kabar? Kau merindukanku tidak? Ah~ aku harap kau merindukanku, karena aku juga saaaangat merindukanmu. Kata Eomma, disana kau sudah bahagia. Walaupun sebenarnya aku tak rela kau pergi meninggalkan kami.. tapi kalau untuk kebahagiaanmu kurasa aku tak keberatan. Karena sejak dulu, prioritasku adalah melihatmu bahagia. Ku harap di kehidupan selanjutnya kau benar-benar mendapatkan kebahagiaanmu.'

'Apa kau tau Jiminie? Sampai sekarang terkadang Taehyung masih sering menggerutu. Dia bilang 'Kenapa Jimin tidak menjadi adikku saja? Kenapa Jimin tidak lahir dari rahim eomma? Kenapa Jimin mempunyai marga Kim, bukannya Jung?' Dan banyak sekali pertanyaan lain yang sejak dulu tak berubah. Mama sampai pusing memikirkannya, hahaha. Mama bersyukur mempunyai anak seperti Taehyung, yang sangat peduli dengan keluarganya, termasuk sangat peduli padamu Jiminie. Terima kasih karena sudah hadir di kehidupan kami. Memberikan kami kebahagiaan yang tak mungkin kami dapatkan di tempat lain. Mama menyayangimu, sangat sangaat menyayangimu.'

'Walau bukan ayah kandung, tapi aku sangat bahagia ketika kau memanggilku Papa. Sama membahagiankannya seperti saat Taehyung memanggilku Appa. Terima kasih Jiminie, karena sudah membuatku merasakan kebahagiaan berkali-kali lipat sebagai orang tua. Papa harap di kehidupan selanjutnya kau mendapatkan kebahagiaan yang selama ini kau inginkan. Mendapatkan orang tua yang akan sangat menyayangi dan mengasihimu, hingga membuatmu tak tau apa itu kesedihan. '

...

..

.

"Terima kasih.. waktu yang sesaat ini bukanlah hal yang percuma."

...


ONE OK ROCK - Good Goodbye

17 Oktober 2018