Saigomade (Until The End)
A Story by
Vanilla Sky
Main cast :
Jeon Jung Kook (Kim Jung Kook)
Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)
BTS members
Hurt/comfort; shou-ai; romance
VKOOK punya aku! Cerita punya aku! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja. Mohon maaf untuk typo yang mengganggu, aku manusia biasa, wajar jika sudah di edit berulang kali pun typonya masih gak mau pergi :D
Chapter 14
...
-PREVIEW-
"Halo, Yoon Gi Hyung, Nam Joon Hyung, Seok Jin Hyung, Tae Hyung, dan Jung Kook. Kalian benar-benar tidak merindukanku, ya?"
Spontan, kelima pemuda yang Ji Min sebutkan namanya itu berlari menaiki panggung. Memeluk Ji Min secara bersamaan.
"Ji Min, bodoh! Kupukul bokongmu jika berani kabur lagi!" pekik mereka kompak.
...
Berkumpul di apartemen Ji Min setelah festival kampus selesai. Malam ini mereka semua memutuskan untuk menginap di sana. Sedikit berpesta, memesan ayam goreng dengan soju. Ji Min senang melihat kebahagiaan yang sekarang berada di depan matanya, menyaksikan semua sahabatnya berkumpul, saling mengejek, dan bahkan memukul satu sama lain. Inilah yang ia inginkan. Cinta memang penting, tapi persahabatan tentu yang paling utama.
"Jim, kau melamun lagi."
Ji Min tersentak, kemudian melirik Ho Seok yang merangkulnya. Ya, ia memang sempat membenci Ho Seok, bahkan sangat membenci pemuda itu. Tetapi itu semua tak sebanding dengan pengorbanan Ho Seok selama ini. Ia tidak bisa menyalahkan siapapun. Tidak Yoon Gi, Ho Seok, atau dirinya sendiri.
Ini takdir yang harus ia terima. Sekeras apapun ia ingin mengubah, meminta, atau bahkan merebut kembali kebahagiaan Ho Seok, semua tidak akan pernah menjadi miliknya.
"Hyung, antar aku membeli ayam dan beberapa soju di depan," pinta Ji Min pada Ho Seok.
"Tentu saja."
Ji Min dan Ho Seok pergi, meninggalkan Yoon Gi yang masih sibuk bermain kartu dengan Nam Joon dan Seok Jin. Di sinilah Jung Kook dan Tae Hyung, memutuskan untuk pergi menuju balkon apartemen Ji Min.
"Jung-ie..."
Jung Kook menoleh, menatap Tae Hyung dari samping. "Ya?"
"Seandainya saja kita tidak bertemu, pasti kau tidak akan berada dalam kesulitan."
Jung Kook kesulitan mencerna ucapan Tae Hyung. "Maksudmu apa, Tae?"
"Ayo berpisah..."
Terdiam, Jung Kook mematung, dengan tatapan masih tertuju pada Tae Hyung. Ini bukan mimpi, kan? Seseorang, tolong tampar Jung Kook sekarang juga.
Aliran darahnya berdesir, degupan jantungnya berdetak lebih cepat, kelopak matanya bahkan telah menjatuhkan sebutir airmata. Jung Kook bingung, perkataan Tae Hyung terlalu cepat, menohok hatinya.
"Kenapa?" itulah yang bisa Jung Kook ucapkan. Ini rasanya tak bisa dipercaya dan membuatnya tak mampu melakukan apapun.
Sementara itu, Tae Hyung dengan susah payah mempertahankan ekspresi wajahnya. Ia pun memberanikan diri untuk menatap Jung Kook.
"Aku bosan padamu."
Kalimat itu yang membuat Jung Kook hampir limbung, kehilangan keseimbangan tubuhnya. Ini adalah kalimat yang benar-benar menyakiti hatinya. Bagaimana mungkin Tae Hyung mampu melakukan hal semenyakitkan ini padanya?
"Kubilang aku bosan."
Mudah sekali Tae Hyung mengatakan hal tersebut, di saat ia berhasil mengambil separuh hati Jung Kook. Bahkan kini Tae Hyung menganggapnya seperti barang, jika sudah tak terpakai, dengan mudah ia dilupakan dan dibuang.
"Apa selama ini kau hanya menjadikanku alat pemuas nafsumu?"
Tae Hyung tak menjawab. Ia justru berdiri dan memilih membelakangi Jung Kook. Tae Hyung menghela napasnya dalam. Dan...
"Jika itu julukan yang pantas untukmu, sepertinya iya." Tae Hyung kembali membalikkan tubuhnya, berusaha tersenyum normal.
"Jadi... kau! Brengsek!" Jung Kook memukuli Tae Hyung tanpa ampun. Dan Tae Hyung tetap bergeming, sampai pada saat dirinya mencengkram tangan Jung Kook erat.
"Kau tak lebih dari pemuda murahan. Dan sekarang aku bosan, jadi... aku tak membutuhkanmu lagi. Apa kurang jelas? Aku bosan, Kim Jung Kook."
Jung Kook masih berusaha mencari celah kebohongan dari tatapan Tae Hyung. Tapi sayangnya, ia tak bisa melihat itu. Apakah Tae Hyung benar-benar mengatakan hal ini? Benarkah semua ucapan menyakitkan itu berasal dari mulut Tae Hyung?
"Jangan pernah menemuiku lagi. Aku muak melihatmu. Selamat tinggal."
Kini, Jung Kook hanya mampu menangis saat Tae Hyung meninggalkannya seorang diri.
"Aku salah menilaimu, Tae Hyung-ah. Kenapa aku begitu bodoh..."
Jung Kook limbung, tubuhnya luruh di lantai. Ia menangis tersedu. Bahkan pertengkarannya dengan Tae Hyung membuat ketiga pemuda yang tengah bermain kartu di ruang tengah terdiam seperti patung. Mereka terkejut dengan ini. Tidak adakah yang mau menjelaskan ini pada Yoon Gi, Seok Jin, atau pun Nam Joon?
Yoon Gi dengan cepat berdiri, berjalan menuju balkon, ia langsung memeluk tubuh Jung Kook yang bergetar. Mengalirkan sedikit ketenangan pada Jung Kook.
"Tidak apa-apa, Jung-ie..." tangannya terus menepuk lembut punggung Jung Kook.
"Kenapa rasanya sakit sekali, Hyung..."
Yoon Gi mengerutkan kening, sekarang ia bisa menarik kesimpulan jika antara Jung Kook dan Tae Hyung memang ada hal istimewa.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu sedikit lebih tenang. Tidak apa."
Jung Kook kembali tersedu, kali ini isakannya semakin kencang, dan cukup membuat Nam Joon serta Seok Jin berlari menghambur menuju balkon.
Saat Tae Hyung pergi, ia berpapasan dengan Ho Seok dan Ji Min di lobi. Bahkan, kedua pemuda itu sempat memanggilnya, namun Tae Hyung tak mengindahkan teriakan Ji Min.
...
Pagi itu ia dan Won Woo bertemu, walaupun secara tak sengaja di samping gerbang kampus. Won Woo yang mengajak Tae Hyung berbicara sebelum dirinya masuk ke dalam kampus.
"Lama tak bertemu, Tae Hyung-sshi."
"Ya, lumayan cukup lama setelah pertemuan kita di kafe waktu itu."
Won Woo tersenyum, kemudian menyeruput kopinya, dan menatap nanar ke arah jalan. "Oh ya, kau akan hadir di pesta pertunanganku dengan Jung Kook, kan?"
"Ya, tentu saja," ucap Tae Hyung setenang mungkin.
"Dulu, ketika Jung Kook memutuskan untuk kuliah lagi rasa cemasku bertambah karena aku takut ia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Tetapi, kupikir setelah ia kuliah, aku senang karena lambat laun, seperti yang diceritakan oleh dokter pribadi yang menangani Jung Kook, phobia yang dialami olehnya lambat laun berkurang, dan bahkan Jung Kook juga semakin bisa menguasai dirinya lebih baik. Terima kasih."
Tae Hyung mengernyit, merasa bingung dengan ucapan Won Woo. "Mengapa kau berterima kasih padaku?"
Won Woo tersenyum. "Karena telah menjaga Jung Kook-ku," ada penegasan dari pengucapan nama 'Jung Kook', dan itu jelas membuat Tae Hyung tak nyaman.
"Kapan pesta pertunangannya akan dilaksanakan, Won Woo-sshi?"
"Empat hari lagi. Tadinya aku ingin segera mengikat Jung Kook, menjadikan dia milikku seutuhnya. Tetapi mengingat bahwa ia ingin lulus kuliah lebih dulu, maka orang tua kami pun memutuskan untuk mengadakan pesta pertunangan lebih dulu."
Tae Hyung menelan ludah, lidahnya kaku bukan main, apalagi sekarang ekspresi Won Woo terlihat seperti tengah mengintimidasi dirinya.
"Tae Hyung-sshi..."
"Ya?"
Won Woo menghela napasnya dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan, dan melanjutkan ucapannya. "Jauhi Jung Kook."
Tae Hyung tentu saja terkejut, atas dasar apa Won Woo melarangnya untuk tetap bersama dengan Jung Kook?
"Aku tahu semuanya. Toilet kafe, saat di parkiran kafe Jong Woon Hyung, aku... melihat semua yang kalian lakukan!" kali ini Won Woo benar-benar tak bisa menahan emosinya. Tangannya terkepal, bahkan napasnya juga benar-benar memburu. "Aku tahu semua yang kalian lakukan di belakangku!" sungguh batinnya perih bukan main, dikhianati oleh orang yang begitu ia cintai merupakan pukulan terberat bagi Won Woo.
"Aku..."
"Sudah berapa lama kau berhubungan dengan, Jung Kook?" lagi, Won Woo memotong ucapan Tae Hyung.
"Enam bulan ini."
"Dan kau, memanfaatkan keadaan dan cinta Jung Kook juga untuk mengambil apa yang tak seharusnya kau ambil, kan, Tae Hyung-sshi."
Tae Hyung tahu ke arah mana arti dari ucapan Won Woo. "Aku mencintainya," dengan tegas ia mengucapkan itu di depan Won Woo tanpa takut sedikit pun.
"Dan bukan berarti—oh astaga bajingan ini! Bahkan aku pun mati-matian menjaganya, tapi kau!"
"Lalu, kau ingin aku melakukan apa? Menjauhinya? Meninggalkannya, begitu?"
"Ya, tinggalkan dia. Atau Na Ra yang menderita."
Tae Hyung hampir melayangkan pukulan di wajah Won Woo, tapi ia menahannya. "Apa maksud ucapanmu, Jeon Won Woo?"
"Kau hanya tinggal memilih, Jeon Tae Hyung. Aku tahu semuanya tentangmu, tentang kekasih wanitamu juga. Kau mungkin bisa saja meniduri Jung Kook karena dia tidak akan hamil. Tapi bagaimana jika kita bertukar tempat saja, aku akan memerintahkan beberapa orang untuk meniduri Na Ra, dan membuatnya gila."
Ancaman Won Woo benar-benar gila. Tae Hyung kali ini tak bisa menahannya. Ia langsung melayangkan tinju di rahang Won Woo. Memukul pria itu membabi buta.
"Kau ingin mati, huh!"
Dengan perasaan tanpa bersalah sedikit pun Won Woo terkekeh. "Kau hanya tinggal memilih salah satu, Jeon Tae Hyung. Saat ini beberapa orang yang aku perintahkan sedang menuju ke tempat wanitamu berada, mungkin beberapa saat lagi mereka akan sampai."
Tae Hyung bergetar, ini sungguh pilihan yang sulit. Jung Kook, pemuda itu benar-benar Tae Hyung cintai, bahkan ia rela menukar nyawanya dengan apapun asal Jung Kook selamat. Tetapi Na Ra, gadis itu tidak bersalah, ia tidak seharusnya melibatkan Na Ra pada permasalahan ini.
"Bagaimana? Melepaskan Jung Kook atau menyelamatkan Na Ra?"
Tae Hyung masih diam, otaknya mendadak tidak bisa berfungsi untuk memikirkan hal tersebut.
"Aku..."
Won Woo menyeringai, posisinya masih berada di bawah tubuh Tae Hyung. "Ya, Jeon Tae Hyung?"
"Baiklah, aku akan melepaskan Jung Kook!"
...
tiga hari berlalu, detik-detik menuju pesta pertunangan Jung Kook pun semakin dekat. Tae Hyung, sejak malam itu tak pernah lagi menampakkan diri di depan Jung Kook atau pun sahabatnya yang lain. Bahkan Ji Min tak pernah bosan menghubunginya, tetapi Tae Hyung terus mengabaikannya.
Di sini, Tae Hyung berada, di pantai favoritnya bersama mendiang adiknya. Langit bertabur bintang, deburan ombak, dan hembusan angin membuat Tae Hyung merasa damai. Ya, mungkin semua orang—terutama Jung Kook—pasti menganggapnya pengecut. Tetapi, pilihan yang ditawarkan Won Woo benar-benar membuatnya tak bisa memilih salah satu.
Jung Kook, bagaimana kabar si manis sekarang? Hati Tae Hyung mencelos ketika pikirannya kembali menerawang pada kejadian Jung Kook menangis. Sungguh, ia tak bermaksud membuat Jung Kook terluka. Ia melakukan itu hanya untuk melindungi Na Ra. Jika ia memilih Jung Kook, mungkin Na Ra akan hancur. Tetapi sekarang, justru saat dirinya memilih melindungi Na Ra, Jung Kook lah yang sangat terluka.
"Maafkan aku..."
Sebutir airmata telah lebih dulu menetes mewakili betapa rapuhnya Tae Hyung saat ini. Terkadang ia ingin sekali mengutuk takdir, atau bahkan mengutuk Tuhan yang menciptakan takdir rumit untuknya. Tetapi, apa dengan seperti itu semua akan kembali membaik?
Ponselnya kembali bergetar, kali ini bukan Ji Min atau sahabatnya yang lain, tetapi Na Ra yang menghubungi Tae Hyung. Dengan cepat Tae Hyung segera mengangkat telepon.
"Halo?"
"Tae, kau di mana? Kau baik-baik saja, kan?"
Suara Na Ra di seberang telepon sana Tae Hyung yakini begitu mengkhawatirkan keadaannya.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak apa-apa, kan, Na?"
"Aku khawatir padamu, bodoh! Kau... bagaimana bisa pergi tanpa memberiku pesan, huh?"
"Maaf, aku hanya sedang ingin menyendiri. Maafkan aku, Na." hening, tidak ada jawaban dari Na Ra di sana. "Na, kau masih ada di sana?"
"Tae, bisakah kita bertemu?" pinta Na Ra dengan suara ragu.
"Apa mendesak?"
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Apa besok kau ada waktu?"
Tae Hyung terdiam, namun ia mengangguk tanpa Na Ra ketahui. "Ya, besok aku akan menemuimu di apartemen."
"Sampai jumpa besok, Tae."
...
"Bajingan itu! Bagaimana bisa Tae Hyung dan kau merahasiakan ini pada kami, Jung-ie?!" Nam Joon yang jarang sekali berbicara kali ini angkat suara.
"Sebenarnya apa yang membuat kalian merahasiakan ini dari kami, huh? Jika sudah begini, mau tak mau kami pun harus ikut campur dalam masalah kalian," kali ini Seok Jin yang berbicara.
"Maaf, Hyung..." sementara itu, Jung Kook sendiri tak sanggup melakukan pembelaan apapun.
"Jung-ie..."
Jung Kook menengadah, menatap Yoon Gi yang kini mengusap lembut rambutnya. "Ya, Hyung."
"Kau mencintai, Tae Hyung?"
Kembali, si manis menundukkan wajahnya. Nama Tae Hyung entah mengapa menjadi lebih sensitif terdengar di telinganya. Apalagi setelah Tae Hyung mencacinya dengan kalimat yang begitu menyakitkan.
"Aku akan bertunangan, tidak seharusnya memikirkan yang lain," sangkalnya.
"Kau bahagia?" itu Ji Min yang bertanya.
"Bahagia atau tidak bukankah sekarang tidak lagi penting, Jim Hyung? Jika aku terus mengharapkan Tae Hyung, apakah ia akan kembali? Tentu tidak." Ji Min yang kali ini bungkam. "Aku hanya perlu membiasakan diri lagi seperti dulu; sebelum mengenal Tae Hyung. Kupikir aku bisa, dan tentu akan baik-baik saja."
Semua memandang Jung Kook dengan tatapan iba. Bagaimana bisa pemuda semanis ini harus memiliki kisah cinta yang menyakitkan?
"Aku harus melanjutkan hidup, ada atau tanpa Tae Hyung."
Yoon Gi tak kuasa menahan tangis sejak tadi, akhirnya pemuda cantik itu memeluk Jung Kook begitu erat dengan terisak lirih. "Maafkan Tae Hyung, Bunny..."
Jung Kook sendiri tidak berkata apapun, bahkan untuk menangis pun rasanya ia sudah tak sanggup. "Besok, datanglah ke pesta pertunanganku."
...
Beberapa jam lagi menuju pertunangan Jung Kook dan Won Woo. Di sini justru Tae Hyung tampak gelisah, ia tak bisa lagi menyembunyikan kekalutannya. Ia marah pada dirinya sendiri, membenci dirinya yang tak berdaya bahkan untuk sekedar mempertahankan Jung Kook.
"Tae..."
Na Ra, gadis itu berdiri di hadapan Tae Hyung, menatapnya iba. Kemudian, dengan cepat ia berlari untuk memeluk tubuh Tae Hyung.
"Maaf..." Tae Hyung tetap bungkam, mengunci mulutnya untuk tak mengeluarkan apapun. "Kenapa kau melakukan ini semua?" Na Ra melepaskan pelukannya, menatap Tae Hyung yang terlihat menyedihkan di matanya.
"Karena aku tidak bisa melihatmu hancur, Na..."
"Dengan melepaskan Jung Kook ke tangan pria tak berhati itu?"
"Lalu aku harus melakukan apa? Jika aku tidak melepaskan Jung Kook, maka kau yang akan celaka!" pekik Tae Hyung disisa tenaganya.
"Dasar bodoh. Hanya karena kau takut aku celaka, justru kau mengirim orang yang kau cintai ke tangan psikopat seperti Won Woo."
Tae Hyung akhirnya limbung, sejak tadi ia menahan mati-matian rasa lemas yang melanda tubuhnya. Bukan karena ia tak mendapatkan asupan nutrisi pada tubuhnya, melainkan memikirkan Jung Kook yang justru membuat tenaganya terkuras habis.
"Kau mencintainya, kan, Tae?"
Na Ra mengusap bahu Tae Hyung yang kini bergetar hebat. Jung Kook hebat, ini kali pertama Na Ra melihat Tae Hyung menangis seperti anak kecil yang terpisah dari Ibunya. Jujur saja ia merasa marah, karena lagi-lagi ada Jung Kook lain yang berhasil merebut hati Tae Hyung darinya. Tetapi, setelah Yoon Gi menceritakan semua padanya kemarin, Na Ra sadar, sekuat apapun ia berusaha membuat Tae Hyung hanya memandangnya seorang, pada kenyataannya dari awal Na Ra telah kalah.
"Kali ini dengarkan aku."
Na Ra kemudian mulain menceritakan siapa Won Woo sebenarnya kepada Tae Hyung.
Won Woo, pria dengan segala obsesinya pada Jung Kook, membuat pria itu justru menjadi seorang pesakitan yang kejam; menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Kenapa Na Ra tahu tentang Won Woo? Ada seseorang yang menceritakan tentang Won Woo padanya.
Jeon Won Woo, pernah tercatat sebagai pasien di rumah sakit jiwa pada usia 10 tahun ketika itu. melakukan tindakan kriminal, membunuh sahabat masa kecilnya, dan menyembunyikan mayatnya selama beberapa hari di kamarnya. Sejak saat itu, Won Woon kecil jadi penghuni rumah sakit jiwa di Jepang. Memulihkan penyakit kejiwaan akibat obsesinya yang terlalu berlebihan jika menyangkut hal-hal yang menurut Won Woo adalah miliknya.
Hingga beberapa tahun kemudian, ketika usianya menginjak ke-15 tahun, Won Woo dinyatakan sembuh, dan bisa menjalani kehidupan normal seperti remaja seusianya. Saat itulah Won Woo kecil bertemu dengan Jung Kook yang merupakan pasien pribadi ayahnya, dan mereka menjadi dekat satu sama lain.
Tidak ada yang tahu jika penyakit Won Woo belum pulih sepenuhnya, seperti seseorang yang berkpribadiaan ganda, ketika bersama Jung Kook ia akan bersikap lembut, bahkan tak jarang Won Woo begitu melindungi Jung Kook. Tetapi, sifat aslinya akan muncul jika ia sudah berada di rumah, Won Woo aku berubah kasar dan mengerikan.
Obsesif Kompulsif Disorder(OCD) adalah gangguan otak dan perilaku. Itulah yang dialami Won Woo. Fisiknya memang baik-baik saja, tetapi secara psikis, Won Woo sakit, ia bisa saja menghalalkan segala cara untuk melakukan tindakan kriminal lain seperti yang dilakukannya ketika itu.
"Selamatkan Jung Kook sekarang, atau kau akan menyesal seperti kau kehilangan adikmu, Tae."
Setelah mendengar cerita Na Ra, Tae Hyung sudah tak bisa lagi menahan emosinya. Jika benar apa yang diceritakan Na Ra tentang Won Woo seperti itu kenyataannya, maka saat ini Jung Kook dalam bahaya. Ia tak bisa membiarkan Jung Kook hidup bersama pria mengerikan seperti Won Woo.
"Pergilah Tae. Pergi dan selamatkan Jung Kook."
Tae Hyung bangkit. "Terima kasih, Na. Berbahagialah setelah ini."
Na Ra mengangguk dan tersenyum. "Tentu, dan akan aku pastikan bahwa aku bisa mendapat pria yang lebih keren darimu, Tuan Tae Hyung."
Setelah itu Tae Hyung pergi, meninggalkan Na Ra yang terdiam dengan tatapan sendu. Sembari mengulas senyumanya, Na Ra hanya bergumam. "Aku sudah melakukan hal yang benar. Berbahagialah, Tae Hyung-ie."
...
Yoon Gi, Nam Joon, Seok Jin, Ho Seok, dan Ji Min tengah menunggu Jung Kook yang belum muncul. Pestanya sangat meriah, tentu saja karena keluarga Jung Kook maupun Won Woo memang keluarga kaya raya di Jepang. Tamu undangannya pun bukan tamu sembarang, mungkin hampir semua yang hadir adalah kolega bisnis atau kerabat.
"Apa Tae Hyung akan ke sini?" tanya Yoon Gi cemas.
"Kuharap Na Ra sudah menceritakan semuanya pada Tae Hyung," harap Nam Joon.
Tak lama kemudian, seorang pria yang bertugas sebagai MC mengumumkan bahwa acara pertunangan Won Woo dan Jung Kook akan segera dimulai. Di sana, semua memandang sosok Jung Kook dan Won Woo yang berjalan menuruni tangga.
Kelima sahabat Jung Kook semakin cemas manakala Tae Hyung belum muncul, bahkan berkali-kali Seok Jin mencoba menghubungi Tae Hyung dan hasilnya nihil. Ponsel Jung Kook tidak bisa dihubungi, panggilan Seok Jin hanya tersambung ke kotak suara.
Jung Kook dan Won Woo berhadapan, tangan Won Woo menggenggam jemari Jung Kook, bersiap akan melingkarkan cincin platina polos itu di jari manis Jung Kook. Namun...
"Lepaskan aku!"
Semua tamu undangan terkejut dengan kegaduhan yang terjadi di luar. Jung Kook sendiri langsung menghentakkan tangan Won Woo yang hampir saja memasukkan cincin di jarinya. Itu suara Tae Hyung, Jung Kook sangat yakin jika itu Tae Hyung.
"Jung Kook! Lepaskan aku!"
Lagi, Tae Hyung membrontak, berusaha melepaskan diri dari orang-orang bertubuh kekar yang menghalangi jalannya.
"Tae Hyung!"
Jung Kook berteriak, memanggil Tae Hyung yang kini berdiri di ambang pintu utama. Ketika Jung Kook akan melangkah pergi, tiba-tiba tangannya dicekal oleh Won Woo. Dengan cepat Won Woo menarik Jung Kook dalam dekapannya, merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya, dan...
"Jangan ada yang bergerak, atau akan aku pastikan peluru dalam pistol ini bersarang tepat di kepala Jung Kook!"
Semua orang yang berada di sana panik, Tae Hyung hendak berlari untuk menyelamatkan Jung Kook, tetapi Won Woo justru menarik pelatu pistol itu dan menekannya di kepala Jung Kook.
"Berikan jalan atau kau akan melihat pemuda kesayanganmu ini mati dengan kepala pecah."
Semua orang menyingkir, Tae Hyung pun tak memiliki pilihan selain membiarkan Won Woo pergi membawa Jung Kook. Tetapi sebelum Won Woo sampai ke pintu utama, tiba-tiba Ji Min melemparkan vas bunga ke punggung Won Woo, membuat pemuda itu memekik dan mengarahkan pistolnya pada Ji Min, kemudian...
DOOR!
-TBC-
Hallo, ketemu lagi sama Vanilla. Maaf ya lama banget update lanjutannya -_-
Maaf kalo chapter ini juga pendek, maaf juga kalo chapter ini aneh, gak ngefeel, maafin ya -_-
Vanilla udah berusaha kembangin idenya, tapi hasilnya Cuma begini #pundung
Oh ya, dengan berat hati Vanilla mau umumin kalau FF ini akan selesai di chapter 15. Tenang, penggemar Vkook, Vanilla bakalan bawa FF baru kok selain kekasih abadi, ada FF baru hasil kolaborasi sama sahabat Vanilla juga nanti.
Terima kasih buat sambutannya sama FF ini, Vanilla nggak nyangka bakalan banyak yang suka, meskipun Vanilla tau kalau tulisan Vanilla masih jauh dari kata bagus, terima kasih atas saran, kritik, keluhannya. Terima kasih juga karena sampai saat ini FF ini masih ditunggu lanjutannya.
Vanilla sayang kalian semua #pelukdulu
Sampai jumpa di chapter ending nanti :*
-Vanilla Sky-
