Author: aurorarosena
Cast: GOT7, BTS, etc.
Pairing: MarkBam
Rate: T
Genre: school-life, romance, friendship.
Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.
Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.
Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)
.
.
.
.
"Mwo!?"
"Sudah, jangan dipikirkan! Kita bicara di tempat yang lain saja, yeoja itu menggangguku." tegas Mark lalu segera menggandeng kekasihnya ke tempat lain, yang pasti agar menjauh dari yeoja yang membuatnya naik darah itu.
Siapa yang sangka, kalau Mark akan memberi tahu orang tuanya tentang hubungannya dengan Bambam, yang merupakan suatu hubungan tak lazim dijalankan oleh orang-orang. Mark pun awalnya berpikir kalau semuanya akan kacau balau ketika orang tuanya tahu mengenai hal ini, mengenai Bambam, tapi mungkin alam semesta menyayangi Mark, sudah cukup banyak masalah yang dihadapi olehnya untuk mendapatkan Bambam, makanya orang tuanya dibuat jadi sangat mengerti terhadap jiwa Mark. Selama itu baik untuk anak mereka.
"Hyung!" Bambam menggenggam tangan Mark erat-erat, niat Bambam untuk makan Samgyeopsal seketika hilang ditelan perasaan galau. "Bagaimana hyung mengatakan hal ini kepada orang tuamu?"
"Yaa... tidak gimana-gimana, hanya bicara biasa saja." jawab Mark santai, sementara Bambam, hatinya masih belum tenang sebelum ada penjelasan nyata.
"Kapan kau memberi tahu mereka?"
- flashback -
"Hi Kylie!" Mark melambaikan tangannya di depan laptopnya yang bersinar di dalam gelap kamarnya. Wajah Mark berseri-seri melihat seorang gadis kecil di balik layar laptopnya sedang asyik mencubit-cubit boneka beruang di tangannya, di samping gadis cilik itu, kedua orang tua Mark duduk mendampinginya.
"Hi uncle Mark!" kata si gadis kecil bernama Kylie.
"Wow, your hair gets longer, you are so pretty." Mark tersenyum-senyum meihat keponakannya walau hanya dari jauh. "Where's Leila?"
"Here's Leila!" sang ibu pergi menghilang sejenak lalu kembali sambil menggendong seorang gadis yang masih sangat kecil, lebih kecil daripada Kylie. Rambutnya pendek dan tipis, di ikat ke atas seperti apple dengan tangkai dan daunnya. Wajah Mark semakin bersinar saat melihat kedua keponakannya, Kylie dan Leyla berkumpul dalam satu gambar, dan tentunya karena melihat kedua orang tuanya berada di sana menyambut Mark dengan bahagia.
"How are you guys? I miss you."
"We miss you too!" jawab Kylie sambil bersemangat. "We ate pancake today."
"And how was the pancake?"
"The pancake was very good, but Leila didn't finish it." jawab Kylie. Berhubung Leila masih sangat kecil, kemampuannya untuk berbicara belum sesempurna Kylie, tapi itu bukan menjadi halangan bagi Mark untuk tetap berkomunikasi dengan mereka, keponakan tersayangnya.
"You should feed Leila next time." Mark terkekeh.
"I think Kylie and Leila have to bath first, they've been playing outside for hours." kata papa Tuan-yang tentu saja adalah ayah dari Mark. Ayah Mark menggandeng kedua cucunya dan menghilang dari kamera untuk sementara, kini yang tertinggal di dalam layar hanyalah sang ibu yang daritadi sudah tersenyum-senyum melihat anaknya di belahan dunia lain.
"Hi mom." sapa Mark.
"Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja di sekolah? Kau makan dengan baik hari ini?" tanya ibunya, ada sedikit rasa khawatir terdengar di dalam suaranya, tapi Mark sudah biasa mendengar hal itu setiap kali mereka melakukan face-time.
"Aku baik, tidak ada masalah dengan sekolah, aku juga makan sangat baik belakangan ini." jawab Mark, terlintas bayangan Bambam di kepalanya kalau mengingat bahwa yang selama ini membuatnya selalu makan dengan baik adalah Bambam.
"Syukurlah, ibu senang mendengarnya. Kuharap kau tidak tersangkut masalah apapun di sana." kata sang ibu sambil mengelus dada. Tepat saat mengucapkan kalimat itu, ayah Mark datang dan duduk di samping sang istri, wajahnya terlihat sangat lega mengetahui Mark yang baik-baik saja di negara orang lain yang jauh. Bagaimana pun juga, mereka adalah orang tua, sejauh apapun anak mereka berada, insting dan nurani mereka akan tetap terhubung walau terhalang jarak dan waktu.
"Hi dad." Mark tersenyum.
"Glad to know you are fine, son." kata sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang sudah agak putih itu membuat Mark ingin segera terbang ke Amerika dan memeluk merek berdua.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Mark.
"Kami sangat baik, selama kau mengabari kami setiap hari kami pasti akan baik-baik saja."
"Jangan khawatir, aku akan mengabari kalian setiap pulang sekolah."
Banyak hal yang mereka bicarakan bersama walaupun hanya lewat video-call saja, Mark biasa melupakan waktu kalau sudah berbicara dengan orang tuanya, hingga lewat tengah malam pun Mark akan tetap terjaga jika orang tuanya masing ingin berbicara. Perbedaan waktu memang merupakan sesuatu yang paling menyusahkan bagi anak-anak seperti Mark, mau tidak mau mereka harus memnggunakan waktu tidur mereka demi berkomunikasi dengan keluarga atau kerabat di belahan dunia lain. Tapi bagi Mark itu bukanlah sebuah paksaan, semalam apapun waktu yang harus ia tempuh, yang penting mereka bisa saling bertatap wajah.
"Mark, kau masih single?" tanya ayahnya, reaksi Mark hanya terkekeh malu sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba memanas.
"Hehe, ya begitulah."
"Tidak apa-apa pacaran selama tugas dan nilai sekolahmu tidak keteteran." lanjut sang ibu.
"Siapa tahu kau butuh penyemangat selagi kau tinggal sendiri."
"Iya." Mark menjawab singkat, lagi-lagi perasaannya dilanda suasana biru karena ia teringat akan Bambam yang selama ini adalah orang yang ia sukai, orang yang ia cintai, orang yang mungkin tidak diharapkan orang tuanya untuk menjadi seorang kekasih yang merawat Mark dengan baik di asramanya. Hal ini adalah satu-satunya yang tidak ia bicarakan dengan orang tuanya, kalau dipikir-pikir lagi, bagaimana Mark harus mengatakannya? Bayangkan saja seperti apa kecewanya orang tua Mark ketika mengetahui kalau anak mereka adalah seorang gay.
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, insting dan nurani orang tua akan berhubungan kuat dengan batin sang anak. Walaupun dari kejauhan, mereka dapat merasakan ada sesuatu yang mengganggu hati anak laki-laki tampan mereka, Mark. Sang ayah pelan-pelan berusaha mengetahui apa yang terjadi hingga senyuman bahagia Mark pudar begitu saja dalam waktu sekejap mata.
"Ada yang ingin kau bicarakan dengan kami, nak?" tanya ayahnya dengan lembut.
"Ehh, entahlah..." Mark membiarkan orang tuanya menunggu kalimat selanjutnya, sementara Mark mencoba menata dan merangkai kata-katanya dengan baik walaupun ia tahu hasilnya tidak akan berujung baik. Di bawah meja, tangannya terkepal dengan kuat seperti ia akan segera memukul sesuatu sekeras mungkin, tapi tidak.. itu hanyalah caranya menguatkan diri tanpa harus diketahui orang lain. Beberapa kali ia melakukan exhale dan inhale untuk membuang segala pikiran negatif yang tertera di kepalanya, ia perlahan mulai membicarakan segala yang bisa ia katakan dari akar hingga ke ujung rantingnya.
Terlihat wajah orang tuanya yang lama-kelamaan menajadi senyuman masam, tapi senyuman adalah senyuman, sebisa mungkin mereka tidak menghilangkan setitikpun rasa bahagia mereka di depan Mark, tidak perduli bagaimana buruknya keadaan yang terjadi. Pahit rasanya, tapi sama saja seperti minum obat, rasa pahit itu membawanya ke dalam perasaan yang lebih lega dan lebih baik.
"Aku tahu ayah dan ibu mungkin tidak bisa menerima hal ini dengan akal sehat kalian, tapi..." Mark berdehem, "...inilah yang terjadi padaku."
Tak ada jawaban, hanya ekspresi bahagia campur kekhawatiran yang terpasang jelas di wajah papa dan mama Tuan.
"Aku tidak meminta atau memohon dukungan apapun dari kalian, aku hanya butuh pengertian kalian, karena sulit bagiku untuk merubah diri." lanjutnya. "Bambam adalah orang yang baik, dia yang membuatku tetap sehat dan makan dengan baik selama ini, dia yang membuatku semakin rajin ke sekolah walau tugas menumpuk untuk dikerjakan."
"Kami paham, nak." suara sang ayah bergetar. "Kami paham kalau ini adalah situasi yang tidak dapat kau hindari."
"Sepertinya Bambam adalah anak yang sangat baik." kata ibunya seraya tersenyum tipis nan rapuh itu, Mark mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan ibunya. Mark melihat kedua orang tuanya saling bertatap dalam mata yang sayu, mereka tersenyum tapi tidak terlihat bahagia, senyumannya bagai menyimpan berbagai macam rasa sakit dan dibuat hanya untuk menjaga perasaan Mark.
"Apa aku mengecewakan kalian?" tanya Mark dengan berani.
"Tidak." kata ayahnya dengan teguh. "Kami bangga dan kami percaya padamu."
Tidak ada jawaban, kali ini giliran Mark yang menunggu orang tuanya untuk berbicara lebih banyak mengenai pengakuannya yang terdengar tabu itu.
"Kau percaya padamu sejak setahun yang lalu kami melepasmu ke Korea, dan kau membuktikan kepada kami kalau kau memang mampu. Yang penting selama itu baik untukmu, kami akan mendukungmu."
Timbul senyuman puas tepat di bibir Mark begitu mendengar kalimat dari orang tuanya yang bagaikan sebuah penyinaran bagi hatinya yang dilanda awan kelabu.
"Kalau Bambam adalah anak yang baik, kau juga harus berlaku baik kepadanya."
Speechless... tak sanggup lagi Mark mengucapkan sepatah kata apapun dari lidahnya, hanya mimik wajahnya yang dapat menjelaskan suasana hati dan perasaannya saat itu; terharu, bahagia, bahkan rasa rindu yang mengendap daritadi kini semakin membesar dan nyaris meledak. Sulit dipercaya bahwa orang tuanya akan dengan mudah mengatakan hal seperti itu, pertanda bahwa mereka menerima Mark dalam keadaan apapun, walaupun Mark bukanlah seorang straight lagi. Jika dia boleh menangis, Mark akan menangis dalam bahagia malam itu.
"Kau sudah pacaran dengannya?" tanya sang ayah lagi.
"Belum, aku masih takut mengatakannya."
"Kalau kalian saling menyukai kenapa tidak secepatnya saja saling mengatakan."
"Heey, tenang," Mark tertawa seraya merenggangkan tubuhnya di kursi, berhubung ia sudah lama terduduk di sana menatap layar monitor karena terlalu serius berbicara, "memang dulu ayah langsung mengatakan cinta begitu saja kepada ibu?"
"Ibumu ini sangat mudah kena tipu daya ayah yang mempesona."
Mereka bertiga terkekeh bersamaan.
"Iya, kalau sudah saatnya pasti aku akan segera mengatakan kepadanya."
"Jangan membuatnya menunggu terlalu lama."
"Iya, bu."
"Jangan lupa dikenalkan ke ayah dan ibu, ya Mark."
"Siap!" Mark menjawabnya dengan tegas.
Malam itu memiliki berbagai rasa bagi Mark; ada rasa takut, puas, senang, sedih, rindu, bahkan mungkin kecewa, tapi semuanya diakhiri oleh suasana kebahagiaan di antara mereka, lebih indahnya lagi ketika orang tua Mark mengucapkan banyak kalimat yang mendukung mental Mark untuk tetap tegar menjalani hidupnya yang sendirian di asrama, di Korea, yang jauh dari pelukan ayah dan ibu. Pencerahan yang sangat manjur di tengah pahitnya kehidupan seorang pelajar SMA, apalagi pahitnya persoalan cinta.
Yang pasti, Mark tidak perlu lagi khawatir menjadi orang yang mengecewakan bagi orang tuanya, ia hanya perlu berusaha menjadi orang yang lebih baik setelah ini.
- flashback end -
"Aduh, hyung, Bambam jadi malu deh." Bambam menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa malu? Bukannya kau senang?"
"Senang, senang sekali. Tapi itu artinya Bambam kan harus mempersiapkan diri." rengek kekasih dari Mark itu, dirinya tak berhenti melompat-lompat seperti sedang menahan buang air kecil, padahal hatinya hanya sedikit panik karena cepat atau lambat ia akan bertemu dengan orang tua Mark.
"Jangan khawatir, mereka pasti menerimamu dengan baik." kata Mark seraya mengelus lembut rambut Bambam.
"Kalau begitu Bambam harus membicarakan juga tentang hal ini kepada orang tua Bambam." tukasnya, itu cukup membuat Mark terkejut sekaligus kagum dengan Bambam.
"Yakin? Ini bukan main-main loh, kau harus punya keberanian untuk mengatakannya."
"Berani."
"Kalau orang tuamu tidak setuju?"
"Pasti setuju, lagian mereka kan tahu tidak ada anak perempuan yang mau denganku." Bambam mengotot.
"Iya, kau lebih cantik daripada mereka sih, makanya mereka iri." sindir Mark sambil mencolek dagu Bambam yang lancip dan kecil. "Tapi jangan terburu-buru ya, itu bisa menjadi mental breakdown juga untuk orang tuamu."
"Memangnya orang tua hyung tidak mengalami mental breakdown?"
"Awalnya pasti, hanya saja mereka tidak menunjukkannya dan lebih memilih untuk mendukung kita."
Bambam mengerucutkan bibir dan menghela nafas berat, "orang tua hyung baik sekali, aku jadi harus menjagamu lebih baik lagi."
"Memangnya kau tidak ingin menjaga hyung, hm?" Mark mendekatkan wajahnya ke wajah Bambam dan mulai mengeluarkan tatapan menggodanya yang maut itu, sambil tangan nakalnya mulai meraba-raba pinggul Bambam yang ramping dari luar bajunya.
"Bukan begitu, Bambam kan tidak ingin mengecewakan orang tua hyung." jawab Bambam memelas.
"Jangan khawatir soal itu." bisik Mark, matanya bertatapan lurus ke mata Bambam hingga nyaris menjuling. "Kau yang terbaik."
"Hyung gombal lagiiii." ujar Bambam gemas dan mencubit-cubit kedua pipi Mark dengan perlahan.
"Gombal itu bukannya yang ada di jalanan? Yang bajunya lusuh-lusuh dan berantakan?"
"Nah, itu hyung, kan?"
"Hyung?"
"Gembel. Hyung gembel."
.
.
.
.
"Kenapa si Krystal Jung itu hanya bisa bikin masalah saja!" Yugyeom memukul-mukul punggung Junhoe dengan kesal seraya menyumpah-nyumpah nama Krystal Jung di setiap kata yang ia ucapkan.
"Aduuuh, Gyeomieee, bukannya sembuh malah tambah sakit punggungku!" protes Junhoe.
"Maaf." sesal Yugyeom lalu kembali melakukan kegiatannya di belakang sana, memijit bagian leher, pundak dan punggung Junhoe.
Semalam Junhoe berendam air panas setelah lelah bermain basket bersama dengan kawan-kawannya di sekitar rumah, memang enak rasanya diguyur air panas yang merilekskan dan menyegarkan tubuh, tapi bukan itu masalahnya. Setelah beres berendam air panas yang dicampur dengan busa-busa wangi, Junhoe harus tetap membilas tubuhnya menggunakan shower yang menggantung di dinding tepat di atas bathub, namun entah apa yang ia lakukan pada saat itu sehingga ketika ia akan mengambil gagang shower, bagian leher hingga punggungnya tiba-tiba keram dan mati rasa. Alhasil, Junhoe harus menahan kesakitan semalaman, sulit untuk tidur dan bergerak, bahkan hingga hari selanjutnya, sakitnya belum kunjung berakhir.
"Sebenarnya apasih yang kau lakukan di kamar mandi hingga terjadi seperti ini?" tanya Jungkook khawatir melihat sahabatnya yang tak berhenti meringis karena kesakitan.
"Tidak tahu, begitu aku menangkat tangan semua bagian belakang tubuhku langsung keram, bahkan hingga sekarang." jawab Junhoe.
"Mungkin salah urat." lanjut Bambam.
"Padahal aku tidak ingat kalau aku punya-ADAAW YUGYEOM PELAN-PELAN HAISH!" Junhoe merengek tak karuan dibuat Yugyeom.
"Pakai koyo!" seru Mingyu.
"Pakaikan saja koyo cabai di mata Krystal Jung itu!" ujar Yuygeom. Sebagai sahabat yang mengerti akan perjuangan Mark dan Bambam untuk bersatu, Yugyeom merasa tidak terima kalau hubungan sahabatnya itu diganggu oleh pihak manapun.
"Aku penasaran kenapa si Krystal-AAAAAKK PUNGGUNGKU... astaga..." untuk yang kali ini, Junhoe sukses mengeluarkan air mata.
"Yugyeom kau minggir ah! Sini biar aku yang memijatmu!" Jungkook menggeser pantatnya dan meggantikan posisi Yugyeom untuk memijit dan menyembuhkan Junhoe.
"Kalau aku bertemu dengan yeoja itu sudah pasti kujambak-jambak rambutnya hingga botak." tegas Mingyu, itu pertama kalinya mereka melihat Mingyu menjadi sangat emosional setelah beberapa hari mengalami pukulan karena ditinggal oleh Wonwoo ke Incheon.
"Sudah, jangan bicarakan dia, aku dan Mark hyung sudah bahagia kok." Bambam memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
"Enak ya, Jungkook dan Bambam sudah bahagia dengan pacar masing-masing," Yugyeom tiba-tiba membelokkan arah pembicaraan mereka, yang mana membuat Bambam harus mengingat Jackson kembali, "tapi justru itu membuat kami senang kok." Yugyeom terkekeh.
"Gyeomie, memangnya Jackson hyung belum mengatakan apapun padamu?" tanya Jungkook.
"Mengatakan apapun?"
"Iya, memangnya dia tidak bilang bahwa dia menyukaimu atau apa?"
Angin di siang hari tiba-tiba datang mengusap wajah mereka dengan lembut dan hangat di bawah pohon rindang yang melindungi mereka dari terpaan sinar matahari menyengat, membuat rambut mereka beterbangan ke satu arah dan semakin menampilkan lima ekspresi wajah yang berbeda-beda. Yugyeom gagal menyembunyikan wajah semunya di balik rambut kecokelatan dan berponi, terpaksa harus ada senyuman pilu yang mengundang sejuta pertanyaan dari benak keempat sahabatnya.
"Aniyo," suara Yugyeom terdengar purau, "dia tidak mengatakan apapun."
"Tapi kalian sangat dekat." kata Junhoe.
"Memang." angguk Yugyeom. "Kami dekat... dan hanya dekat."
Bambam menarik nafasnya dalam-dalam, menekan emosi yang nyaris mendidih di kepalanya, "bukannya dia mencintaimu?" tanyanya kepada Yugyeom.
"Dia? Tidak, kurasa dia tidak sedang mencintai siapapun saat ini." jawab Yugyeom lemas.
Mendengar jawaban Yugyeom yang terdengar goyah itu, Bambam refleks bangkit dari rumput dan berjalan menghentak-hentakan kakinya kasar ke atas tanah. Hanya tatapan heran dan bingung yang dapat teman-temannya berikan sebagai reaksi dari keanehan sikap Bambam yang tiba-tiba, tapi kali ini entah kenapa Bambam merasa hatinya sangat dikecewakan.
BUGH! Tubuh Bambam menabrak seseorang secara tidak sengaja, beruntunglah begitu mereka saling bertatapan, orang itu adalah orang yang paling dekat dengan Bambam. "Hey." senyuman Mark yang khas otomatis terlihat di hadapan wajah Bambam.
"Hey." Bambam membalasnya sambil berusaha mengatur nafasnya karena tadi dia setengah berlari.
"Ada apa? Kau terlihat buru-buru."
"Hyung, boleh aku bertemu dengan Jackson hyung?"
Rasanya nyaris sama seperti saat pertama kali Jackson menonjok pipinya hingga mempengaruhi telinganya, Mark seperti menjadi tuli dan mati rasa, tapi dilihat dari mimik wajah Bambam yang penuh dengan berbagai macam suasana kelabu membuat Mark yakin kalau telinganya masih berfungsi dengan baik.
"Kumohon, ini tentang Yugyeom."
Awalnya hening, tapi setelah beberapa detik berlalu Mark tersenyum lagi seperti sewajarnya dan mengangguk perlahan, "perlu kupanggilkan Jackson untukmu?" tawar Mark.
"Iya." Bambam mengangguk cepat. Segera Mark berjalan memasuki kelasnya lagi selama beberapa saat dan kembali keluar dengan seseorang bertubuh gagah di sampingnya. Acting luar biasa yang terjadi di antara Jackson dan Mark sangat ampuh bagi mereka untuk mengelabui Bambam sehingga membuat Bambam berpikir kalau Jackson dan Mark benar-benar kembali menjadi sahabat lagi.
"Hyung," sambar Bambam begitu melihat Jackson, "bisa kau ikut aku sebentar? Aku ingin bicara, sebentar saja."
"Mmm," gumam Jackson seraya mengangguk, "tentu."
"Baiklah."
Sebelum Bambam dan Jackson benar-benar bisa pergi, Mark sengaja mendekap Bambam terlebih dahulu dan mencium pipi Bambam secara terang-terangan di depan mata kepala Jackson sebagai pertanda bahwa Bambam adalah hanya untuk dan milik Mark. "Hati-hati ya." bisik Mark, Bambam hanya mengangguk mengiyakan. Sadar bahwa ia tidak bisa menahan Bambam lama-lama, Mark membiarkan ia pergi bersama Jackson dan meninggalkan perasaan khawatir pada Bambam, walaupun ia yakin kalau Jackson tidak akan berani berbuat macam-macam terhadap kekasih dari Mark itu.
..
..
School's backyard
..
..
"Hyung, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu dengan Yugyeom," Bambam berkata gugup, tangannya tak berhenti memijat-mijat sendiri hingga telapak tangan mulusnya itu berkeringat, "tapi hyung bilang padaku bahwa kau mencintai Yugyeom, iya kan?"
Jackson memberikan senyuman terbaiknya demi merespon perkataan Bambam, padahal sebenarnya dia tidak mau, dia tidak ingin tersenyum lagi untuk orang yang telah menyakiti hatinya, tersenyum untuk Bambam merupakan suatu hal yang membuat batinnya tersakiti karena membuatnya teringat akan segala hal yang telah ia lakukan agar Bambam tersenyum, segala hal yang menurutnya sia-sia.
"Tapi kenapa Yugyeom bilang kalau hyung sedang tidak mencintai siapapun saat ini?"
Jackson terkekeh, "mungkin Yugyeom hanya tidak merasakannya."
"Memangnya hyung tidak bilang kalau hyung mencintainya."
"Buat apa hyung bilang kalau hyung mencintainya, tapi hyung tidak membuatnya menjadi milikku?" tanya Jackson, justru pertanyaan itu malah membingungkan bagi Bambam, "hyung sudah bilang kalau hyung mau fokus belajar, hyung harus membuat nilai hyung sebagus mungkin untuk masuk universitas. Dan itu bukanlah hal yang mudah."
"Aku tahu," suara Bambam melengking, "hanya saja... aku hanya ingin yang terbaik untuk Yugyeom."
"Aku juga menginginkan yang terbaik untuknya, makanya aku melakukan hal ini." Jackson menjawab dengan yakin.
Sambil menikmati pemandangan kosong di lapangan belakang sekolah, perlahan Jackson mengisi hatinya yang kosong dengan berbagai hal tengang Yugyeom, yang seakan perlahan menggantikan kedudukan Bambam di sana. Di balik kalimatnya yang penuh dusta nan masuk akal itu, Jackson belajar untuk mencintai lagi, mencintai seseorang yang berbeda dengan metode yang berbeda-tidak harus terlihat oleh banyak orang, namun setidaknya meyakinkan, bahkan waalaupun Bambam lah yang kini tepat berada di sampingnya, tak pernah sedetikpun Jackson meluangkan waktu untuk memikirkan Bambam, tekadnya untuk melepaskan Bambam dari hidupnya memang sudah bulat dan itu membantunya pula untuk menerima seseorang yang baru di hidupnya.
"Hyung," ujar Bambam lagi, "tapi... apa kau tidak khawatir jika seandainya kau didahului yang lain?"
"Didahului?"
"Iya, jika seandainya seseorang mendapatkan Yugyeom terlebih dahulu daripada kau."
"Ooh," Jackson menjawab santai, baginya pertanyaan Bambam adalah sebuah pertanyaan bodoh, itu hal yang seharusnya tidak Bambam pertanyakan lagi saat ini, mengingat kalanya ia gagal mendapatkan Bambam karena didahului oleh orang lain yang merupakan sahabatnya sendiri, itu hanyalah sekedar hal kecil bagi Jackson, "soal itu jangan khawatir, aku dapat mengatasinya dengan baik."
"Sungguh? Bagaimana caranya?"
"Tidak menggunakan cara... hanya saja... kau butuh hati yang kuat untuk itu. Dan kupikir hatiku sudah cukup kuat untuk mengadapinya."
"Kau tidak akan merebutnya kembali?"
Jackson menggelengkan kepalanya, "tidak." jawabnya tegas.
"Kau akan membiarkan hatimu tersakiti?" tanya Bambam.
"Iya."
"Hyung," Bambam memutar posisi duduknya hingga mengahadap Jackson, "jangan biarkan hatimu tersakiti! Cepat miliki Yugyeom! Aku tahu kalian bisa jadi sempurna jika bersama."
"Heeey, tenanglah, jangan buru-buru seperti itu." untuk pertama kalinya, Jackson baru saja mengacak-acak rambut Bambam dengan lembut, setelah sekian lama Jackson membenci Bambam dan tidak ingin menginginkan kontak apapun dengannya. Itu membuat hati Bambam cukup terkaget-kaget, tapi kalau boleh jujur, Bambam senang dapat merasakan interaksi yang lebih dekat lagi dengan Jackson.
"Aku tidak buru-buru, hanya saja aku gemas melihat kalian yang selalu dekat tapi tidak memiliki status apapun." Bambam memukuli pahanya sendiri.
"Hehe, jangan khawatir." jawab Jackson. "Lagipula... kalau seandainya tidak bersama Yugyeom pun, hyung yakin suatu hari nanti, baik Yugyeom atau hyung, kita pasti akan mendapatkan orang terbaik kami masing-masing. Mungkin bukan di SMA, mungkin di universitas."
Tidaaaak, kalian harus bersama! Bambam menangis di dalam hatinya. Rasanya seperti diiris oleh pisau yang sangat tajam mendengar kalimat Jackson yang seakan-akan terdengar semakin buram dan tidak berujung itu. Bambam tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika Jackson meninggalkan Yugyeom nantinya, tapi tiba-tiba saja hatinya siap untuk membenci Jackson jika ia benar-benar meninggalkan Yugyeom di masa yang akan datang.
"Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan meninggalkan Yugyeom begitu saja." kata Bambam ketus.
"Iya, hyung janji."
"Aku akan membencimu jika kau menyakitinya."
Jackson tertawa geli mendengarnya. Aku akan merasa lebih baik jika kau membenciku, Bam.
.
.
.
.
"Tiga!"
"Empat!"
"Lima!"
"YAAASS!" sambil berteriak kegirangan, Jaebum mengambil beberapa uang receh yang terkumpul di dalam satu kotak kecil yang terletak di tengah-tengah mereka.
"Aaaah, ini tidak adil. Aku menghabiskan seluruh uangku hanya untuk kakek berang-berang ini." Taehyung mendengus seraya membanting kartu-kartu yang ia pegang ke lantai.
"Lihat saja kali ini akan kubalas kau, kakek Lim!" geram Mark.
"Coba saja lawan kakek yang swag ini." Jaebum menantang, dirinya tak dapat berhenti tertawa melihat kedua sahabatnya terpuruk karena harus menguras habis kantong mereka, sementara Jinhwan hanya ikut menikmati keseruan permainan yang dilakukan keempat sahabatnya yang gila itu.
"Jinhwan, kau tidak ingin main?" tanya Mark.
"Aniyo, kalian saja, aku tidak pandai dalam permainan ini." jawab Jinhwan seraya tersenyum.
"Kau dukung siapa?"
"Aku dukung Mark, deh."
"YES!" Mark refleks memeluk Jinhwan dan mengguncang-guncang tubuhnya seperti blender.
"Oke, kita mulai lagi." Taehyung menyiapkan kartu-kartunya.
"Delapan!"
"Sembilan!"
"Sepuluh!"
"Jack!"
"AAAAAAAAH!" Mark dan Taehyung bersorak bersamaan lagi ketika mengetahui Jaebum resmi mendapatkan kotak yang dipenuhi dengan uang koin hasil kumpulan mereka. Padahal yang Jaebum terima hanyalah uang recehan, tapi wajah bangganya terlihat seperti raja minyak di Arab yang menerima tumpukan batangan emas hasil penjualan minyaknya yang memonopoli dunia.
"Sungguh, aku tidak akan bermain lagi denganmu!" Taehyung membereskan seluruh kartunya dan membuatnya tertumpuk dengan rapi.
"Kau hanya beruntung kakek!" seru Mark.
Mereka berempat tertawa bersamaan di sore hari yang udaranya terasa hangat di kulit, namun tawa mereka membeku ketika setangkai bunga mawar merah jatuh tepat di tengah-tengah mereka.
"OMO!" Jaebum nyaris meloncat karena kaget.
"Ini apa?" tanya Jinhwan seraya mengambil setangkai mawar itu. Belum lama sebelum mereka dapat megetahuinya, setangkai mawar yang sama lagi jatuh, namun kali ini jaraknya agak jauh dari tempat di mana mereka berkumpul. Mereka menengok ke atas untuk mengecek serambi lantai dua dan memastikan bahwa memang ada orang iseng di atas sana, tapi begitu mereka melihat, tak ada sosok siapapun di atas sana.
"Yak! Ini mengerikan!" Taehyung bergidik.
"Yak! Siapapun di atas sana keluarlah!" bentak Jaebum.
Mark yang penasaran dengan bunga kedua langsung berdiri dan mengampiri mawar yang tergeletak beberapa meter jauhnya dari mereka, ia mengambil mawar itu dan menemukan suatu perbedaan di antara bunga pertama dan bunga kedua. Pada bunga yang kedua, ada kertas kecil yang tergulung dan diikatkan ke tangkainya oleh sehelai benang yang sangat tipis dengan kuat, sehingga kertasnya tidak terjatuh. Mark perlahan-lahan membuka gulungan kertas itu dan menemukan sesuatu di dalamnya.
Temui aku di aula lantai tiga, lewat tangga selatan ya :)
"Hey Mark!" panggil Taehyung setengah berteriak. "Kau sedang apa?"
"Selatan... berarti ke sana..." Mark berbicara pelan pada dirinya sendiri seraya tangannya menunjuk mata angin selatan secara tidak sadar, ketiga temannya melihatnya sebagai orang gila yang baru saja mendapatkan petunjuk dari malaikat untuk menuju ke surga. Tapi Mark tidak perduli akan hal itu, ia tetap berpikir keras untuk mencari tahu apa maksud dari pesan itu dan siapa orang yang mengirimnya. Kalau dipikir-pikir, Bambam mana mungkin melakukan hal seromantis itu, kalau iya pun, seharusnya Mark lah yang melakukan hal semacam itu karena itu adalah tugas seorang top. Lagi-lagi otaknya sampai hingga ke sosok Jungkook, yang dapat Mark ingat tentang mereka hanyalah bahwa Bambam cs sudah pulang dari tadi karena besok mereka ada ulangan di jam pertama, jadi sudah pasti mereka semua pulang dan belajar. Otaknya sampai lagi hingga Jinyoung. Sayangnya, hari itu Jinyoung sedang sakit, kalau tidak sedang sakit pasti sekarang Jinyoung sudah berada di pangkuan Jaebum dan bercumbu berdua. Hingga tidak ada akal lagi baginya untuk dijadikan petunjuk akan hal ini.
...
...
...
Mark tersenyum tiba-tiba.
"Hey! Mark Tuan!"
"Kim Jinhwan!" ia memanggil Jinhwan tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. Jinhwan hanya bisa berdiri dan terkejut karena panggilan tiba-tiba itu. "Kemarilah! Kurasa ada yang ingin bertemu dengamu."
Jinhwan dan dua orang lainnya datang menghampiri Mark, bersamaan mereka membawa rasa penasaran akan si bunga mawar. Di tangan Jinhwan sudah ada bunga mawar yang pertama kali jatuh di tengah mereka. "Bertemu denganku?"
"Iya, aula lantai tiga, lewat tangga selatan."
"Kenapa harus lewat tangga selatan? Tangga barat lebih dekat."
"Ikuti saja!" Mark memberikan bunga mawar kedua kepada Jinhwan, sekilas Jinhwan melihat kertas yang menggantung itu dan ia tergoda untuk membacanya.
"Mmm," Jinhwan bergumam selagi mengambil tangkai bunga mawar kedua dari Mark, "aku... takut datang sendirian. Mau temani tidak? Sekolahnya sudah mulai kosong."
"Kami di belakangmu, tenang saja." jawab Taehyung cepat. Syukurlah, itu membuat Jinhwan merasa tenang dengan keberadaan teman-temannya di sekitarnya.
Mereka mulai jalan bersamaan menuju ke aula, dengan syarat harus melalui tangga yang ada di selatan. Lagi-lagi hal yang mengejutkan bagi mereka ketika sampai di anak tangga yang pertama, berhubung mereka harus melalui tiga tangga lainnya untuk sampai di aula lantai tiga, mereka jadi semakin penasaran dengan kejutan apa yang terdapat di tingga yang lainnya.
Setiap anak tangga ditaburi oleh kelopak-kelopak bunga mawar yang terlihat masih sangat segar kemerahaan, terlihat di antaranya ada yang berwarna putih bahkan merah muda. Di setiap anak tangga juga terdapat dua lilin pendek yang di taruh di pinggir-pinggir. Yang paling menarik perhatian Jinhwan adalah kertas berwarna-warni yang berisikan tulisan dengan gambar, berbeda ukuran, beragam dan bervariasi yang tersebar beraturan di setiap bagian tangga, dan ketika Jinhwan membacanya satu persatu, ternyata kertas-kertas itu membangun sebuah lirik lagu dari setiap katanya, bait perbait setiap anak tangganya. Dalam hatinya sambil menaiki tangga, Jinhwan menyanyikan lagu itu dengan lembut dan mencoba untuk mengingat seseorang.
It's amazing how you
Can speak right to my heart
Without saying a word
You can light up the dark
Try as I may
I could never explain
What I hear
When you don't say a thing
The smile on your face
Lets me know that you need me
There's a truth in your eyes
Saying you'll never leave me
The touch of you hand
Says you'll catch me, wherever I fall
Setelah empat tangga mereka lalui, dengan berjalan sedikit melewati serambi kelas yang sudah terhiasi dengan lilin dan taburan kelopak mawar berwarna warni di setiap ubinnya, akhirnya mereka sampai ke pintu besar aula lantai tiga yang menjadi tujuan utama mereka sedari tadi. Jinhwan menengok ke arah belakang, memastikan bahwa teman-temannya masih berada di dekatnya.
"Masuk lah, kami tunggu di sini." kata Mark seraya tersenyum untuk meyakinkan Jinhwan bahwa semuanya akan baik-baik saja di dalam aula. Jika yang lain merasakan kekhawatiran, penasaran dan ketakutan, berbeda dengan Mark yang merasakan getaran lain seperti sebuah kebahagiaan menanti sampai membuat hatinya ikut berdebar kencang, tak sabar menunggu sebuah moment indah yang akan terjadi. "Masuk! Kami tidak akan kemana-mana."
"Kalau ada apa-apa, teriaklah! Kami akan segera masuk." lanjut Jaebum.
"Iya." Jinhwan menjawab dengan suaranya yang gemetaran.
Ia menarik nafasnya panjang, membuangnya pelan-pelan, lalu memberanikan diri untuk membuka pintu besar aula dan memasukinya. Begitu ia sampai di dalam, tubuhnya seketika menjadi beku walaupun hatinya diledakkan oleh bom berisi bunga dan kupu-kupu. Yang dapat Jinwhan lakukan di sana hanyalah melihat seorang namja memakai seragam, membawa sekuntum bunga mawar lainnya yang terangkai dengan rapi, berdiri di atas panggung yang berhiaskan lampu warna warni yang berkelap-kelip bagaikan taman bintang di malam hari, seraya menyanyikan bait terakhir pada lagu tersebut.
"You say it best... when you say nothing at all."
.
.
.
.
- To be continued -
Halaaaaww nyampe juga atulah part14 wkwk :3 gimana gimana? Geje pasti yah? Iya memang kok *nangis di pelukan Jackson* sebelumnya, makasih untuk review di part sebelumnya yaa, itu sangat memotivasi author untuk tetap lanjut dengan FF ini. Jangan lupa kalau udah baca chapter yang ini juga langsung di review yah, siapa tau lanjut lagi wkwk :3 sip ah, semoga kita bertemu di chapter selanjutnya *amiiinnn*
