Be With You
.
.
.
14
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
^_^ Masih dalam suasana lebaran ya... Ijinkan saya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin apabila ada kata-kata saya yang menyinggung kalian semua ^_^
.
.
.
Baekhyun kembali meneguk jus jeruknya.
Hampir setengah jam dia disini, di sebuah cafe tak jauh dari butiknya, duduk di hadapan perempuan yang tiba-tiba menghubunginya dan ingin bertemu dengannya. Namun, sepanjang waktu mereka duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir keduanya. Bahkan, gelas berisi jus yang baru di teguk Baekhyun tadi, adalah gelas kedua yang di pesannya.
Kang Seulgi!
Dokter muda itu tiba-tiba menghubunginya dan mengajaknya bertemu. Tanpa memberitahu tujuannya apa, perempuan itu mengatakan dia sudah menunggunya di cafe depan butiknya.
Kalau saja mau berbuat sedikit jahat, sebenarnya Baekhyun bisa saja tak beranjak dari ruangannya atau mengabaikan begitu saja permintaan itu. Toh masih banyak yang bisa di kerjakannya di ruangannya, daripada hanya duduk diam disini.
Namun, hati kecilnya menuntunnya untuk keluar dari ruangannya, menemui mantan kekasih dari calon suaminya ini.
"Kalau memang tak ada yang dibicarakan, saya pamit." Ujar Baekhyun pada akhirnya, setelah melirik jam di pergelangan tangannya.
Sebenarnya, Seulgi tak kalah frustasi berhadapan kembali dengan Baekhyun. Kesan terakhir yang ditinggalkan Baekhyun waktu itu, ternyata mampu membuat nyalinya menciut.
Ini bukan yang pertama dia berniat ingin menemui Baekhyun, sudah dari jauh hari, hanya saja dia tak menemukan alasan yang tepat untuk menjumpai gadis itu. Dan hari ini, rasanya waktu yang tepat untuknya menemui perempuan yang mampu membuat Chanyeol berpaling darinya hanya dalam hitungan hari itu.
Masalahnya dengan Baekhyun harus segera dia selesaikan.
"Saya ingin meminta maaf."
Baekhyun menatap Seulgi yang juga tengah menatapnya. Dahi Baekhyun berkerut samar.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Baekhyun.
"Semuanya. Maaf telah tanpa sengaja menyakiti perasaan Baekhyun-ssi. Ehm... Lusa, saya akan pergi ke Kanada. Saya akan mengambil S2 dan bekerja disana. Sebelum kesana, saya lebih dulu ingin menyelesaikan persoalan saya disini." Seulgi terlihat menunduk dan meremat kedua tangannya.
Baekhyun tak melepas perhatiannya dari hal itu.
Ada rasa iba yang muncul di hatinya, mendapati betapa sesungguhnya Seulgi juga perempuan biasa sama sepertinya. Yang kebetulan mencintai orang yang sama dengannya.
"Terimakasih, dua tahun ini telah diam dan mengijinkan saya mencintai dan di cintai oleh Chanyeol-ssi. Saya rasa, sudah waktunya saya berhenti. Ehm... Saya mendoakan kebahagiaan kalian berdua."
Seulgi berusaha mengembangkan senyumnya, setelah itu dia meneguk hingga tandas teh dinginnya.
Baekhyun merasakan hatinya bertalu nyeri. Kalau saja Chanyeol tak memilihnya, mungkin saat ini mungkin dia yang berada di posisi Seulgi. Menemui wanita di hadapannya itu dan mengatakan hal yang tak jauh beda dengan yang baru saja di dengarnya itu.
Baekhyun menjulurkan tangannya, meraih kedua tangan Seulgi dan menggenggamnya erat.
"Saya juga meminta maaf, kalau pada akhirnya saya melukai Seulgi-ssi."
Seulgi tersenyum dan menggeleng lemah.
"Saya sudah memikirkan dan memahami apa yang kita alami. Tidak ada yang bersalah dalam hal ini karena memang seperti inilah dunia bekerja. Akan selalu ada kebahagiaan lain yang dikorbankan, untuk satu kebahagiaan yang lainnya. Saya yakin, kalau Baekhyun-ssi ada di posisi saya saat ini, Baekhyun-ssi juga pasti melakukan hal sama, seperti yang saya lakukan saat ini."
Baekhyun tersenyum kecil.
"Saya berharap, suatu hari bila kita bertemu kembali, kita bisa saling menyapa sebagai seorang teman mungkin."
Seulgi membalas genggaman tangan Baekhyun, dengan senyum mengembang lebar.
Baekhyun tak bisa lagi mengeluarkan suaranya, dia mungkin pernah sangat membenci perempuan dihadapannya ini, namun sekarang, saat ini, perasaan benci itu sepertinya sudah tak ada lagi.
Dia mengagumi Seulgi dengan segala kerendahan hatinya.
"Ada begitu banyak hal yang berbeda saya rasakan, ketika dia masih bersama saya dan saat ini ketika dia bersama Baekhyun-ssi. Saya... Tak pernah bisa membuatnya kalang kabut karena mengkhawatirkan saya. Saya juga tak pernah melihat dia cukup stress karena pertengkaran kami. Awalnya, saya sempat berpikiran jahat untuk kembali merebutnya, tapi kemudian saya sadar kalaupun saya bisa merebutnya kembali, hatinya sudah bukan milik saya. Dan itu pasti jauh lebih menyakitkan. Sekali lagi, maaf dan terimakasih untuk semuanya."
"Saya juga ingin mengatakan hal itu, maaf dan terimakasih untuk segala pengertiannya, Seulgi-ssi."
Kedua perempuan itu saling bergenggaman erat kemudian mengembangkan senyum tulus.
"Sudah selesai? Maaf terlambat."
Baekhyun menoleh saat mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Suho-ssi!"
Suho terlihat salah tingkah, digaruknya pelan bagian belakang kepalanya. Senyumnya juga terkembang dengan kaku.
Baekhyun mengalihkan tatapannya pada Seulgi, lalu Suho, kembali lagi ke Seulgi, dia tak percaya, dua orang ini saling kenal.
"Saya bertemu dia di gereja. Dari dia, saya belajar menerima takdir yang saya jalani ini. Dan karena dia, akhirnya saya memutuskan untuk pindah ke Kanada."
Baekhyun membekap mulutnya tak percaya.
"Kalian berkencan?"
"Sedang berusaha membangun sebuah hubungan serius, Baekhyun-ssi." Sahut Suho dengan senyum malu-malunya.
Baekhyun berdiri dari duduknya, masih menatap keduanya dengan tatapan tak percaya.
"Saya tak tahu harus mengatakan apa, tapi yang pasti, saya ikut bahagia untukmu kalian." Baekhyun mengangsurkan tangannya pada Suho, menyalami pria yang masuk dalam daftar teman dekatnya itu.
Baekhyun kemudian beralih mengangsurkan tangannya pada Seulgi. Dokter muda itu berdiri dari duduknya, menerima tangan Baekhyun dan menjabatnya erat.
"Bolehkah saya memeluk Baekhyun-ssi?"
Baekhyun tersenyum, lalu mengangguk dan merentangkan kedua tangannya, siap menerima Seulgi yang ingin memeluknya.
Seulgi membalas senyum Baekhyun, lalu melangkah melewati Suho dan langsung memeluk perempuan yang ukuran tubuhnya sama mungilnya dengan dia.
Mereka saling berpelukan dengan sangat erat.
"Berjanjilah kau akan bahagia, Seulgi-ssi. Saya tunggu kabar baiknya."
"Kau juga harus bahagia, Baekhyun-ssi. Hanya doa yang bisa saya berikan untuk pernikahan kalian. Semoga lancar sampai hari H."
"Selamat Baekhyun-ssi. Maaf tak bisa menghadiri acara kalian. Sama halnya seperti yang dikatakan Seulgi-ssi, hanya doa bahagia untuk kalian yang bisa saya berikan." Sambung Suho.
Tak berapa lama, mereka keluar dari cafe dan berpisah dengan senyum terkembang dan hati yang lapang.
"Kau boleh selalu menelpon saya Seulgi-ssi. Dan untuk Suho-ssi, jaga dia dengan baik."
Suho dan Seulgi tersenyum lebar, lalu mengangguk dan melambaikan tangan mereka, sebelum mobil Suho berjalan menjauh meninggalkan area komplek pertokoan itu.
.
.
.
Baekhyun dan Chanyeol bertemu kembali setelah lebih dari satu bulan mereka dipisahkan oleh kesibukan baru Chanyeol.
Pria itu, sedang di sibukkan dengan rumah sakit baru milik ayahnya di Jeju. Intesitas pertemuan mereka hanya terjadi via pesan singkat atau VC, itu pun bila Chanyeol tak sedang sibuk.
Dan hari ini, dua minggu menjelang pernikahan mereka, keduanya akhirnya bisa melepaskan rindu.
Sejak datang ke tempat ini, sebuah gedung yang biasa digunakan untuk prewedding, Chanyeol belum melepas pelukannya dari tubuh mungil Baekhyun yang tenggelam karena tubuh besarnya.
Dia rindu, sangat rindu. Pada bidadarinya ini, pada bau tubuh Baekhyun, pada tubuh mungil Baekhyun yang terasa pas dalam pelukannya.
"Bogoshippo Bee."
Baekhyun tersenyum kembali, sudah lebih dari sepuluh kali dari awal kedatangan Chanyeol sekitar pukul setengah sembilan tadi, hingga sekarang waktu menunjukkan tepat pukul sembilan, Baekhyun mendengar kekasih hatinya itu mengungkapkan kerinduannya tersebut padanya.
Dia sama sekali tak keberatan mendengar hal itu, hanya saja tatapan iri dari staff yang membantu mempersiapkan pemotretan hari ini, yang membuatnya merasa malu.
"Nado. Sekarang, bisakah kau melepaskanku. Kita harus segera memulai pemotretan ini dan kau lihat, kita berdua belum menyiapkan apa-apa. Sedangkan mereka, sudah menyelesaikan persiapannya."
Masih memeluk Baekhyun, Chanyeol menatap ke sekitarnya, dimana beberapa orang dari kru pemotretan hari ini, menatap keduanya dengan tatapan yang kalau bisa diartikan, seolah mengatakan.
"Bisakah kalian menunda acara peluk-pelukan kalian, kami sudah terlalu lama menunggu!"
Chanyeol tersenyum canggung, lalu dengan enggan melepaskan pelukannya pada Baekhyun. Membiarkan Baekhyun dibawa tim penata rias untuk di dandani.
Pemotretan itu berlangsung lancar kurang lebih tiga jam. Baekhyun berganti pakaian sebanyak tiga kali, sama halnya seperti Chanyeol. Mulai dari Hanbok yang membuat Baekhyun tampil cantik bak Ratu era Joseon, lalu mini dress yang membuat Baekhyun terlihat elegan serta sebuah gaun malam yang berhasil membuat jantung Chanyeol berdetak semakin kencang saat melihat calon istrinya tersebut.
Dan setelah pengambilan gambar itu, Chanyeol memutuskan membawa Baekhyun untuk menikmati kencan pertama mereka setelah dia resmi melamar Baekhyun sekitar satu setengah bulan yang lalu.
"Aku tidak melihat Luhan, kemana dia?" tanya Chanyeol sambil mengarahkan mobilnya ke sebuah taman bermain.
"Pagi tadi Sehunnie menjemputnya, orang tuanya ingin bertemu Luhannie."
"Waeyo? Mereka memiliki masalah?"
"Molla. Aku rasa permasalahan mereka hanya satu, setelah sekian tahun mereka tak kunjung memutuskan kapan pernikahan mereka akan berlangsung."
Chanyeol menatap Baekhyun, lalu meraih tangan kanan Baekhyun dengan tangan kirinya dan menggenggam jari-jari lentik calon istrinya itu.
"Tempo hari, aku bertemu Seulgi." Ujar Baekhyun setelah sempat terjadi kebisuan. Saat mengatakan hal itu, Baekhyun menyempatkan dirinya menatap Chanyeol. Ekspresi terkejut tampak jelas di wajah tampan itu.
Chanyeol mengerutkan keningnya, pertanyaan langsung menghampiri otaknya. Kenapa? Ada apa?
"Dia minta maaf dan pamit."
"Pamit?"
"Eoh! Kemarin dia tiba di Kanada, dengan Suho-ssi."
"Suho-ssi?" Chanyeol menatap Baekhyun heran. Baekhyun mengangguk-angguk pelan. Suho 'kah orang yang dimaksud Seulgi waktu itu? Batin Chanyeol bertanya.
"Seulgi menceritakan, dia bertemu Suho-ssi di gereja dan Suho-ssi juga menjadi alasan Seulgi untuk meninggalkan Korea."
"Mereka berkencan?" tanya Chanyeol.
"Ani. Mungkin belum untuk saat ini, tapi Suho-ssi mengatakan mereka sedang mencoba satu hubungan serius."
Chanyeol menatap Baekhyun tak percaya.
"Aku juga terkejut, tapi aku turut bahagia mendengar hal ini. Mereka tak bisa datang ke pernikahan kita, tapi doa mereka menyertai perjalanan kita sampai hari H. Ehm... Aku baru menyadari, bahwa dia gadis yang baik. Ada rasa bersalah setelah mendengar apa yang dia katakan. Karena bagaimanapun juga, aku pernah sempat membencinya."
"Kau minta maaf padanya?"
"Iya. Dan kami berjanji akan menjadi teman setelah ini. Bahkan dia sudah mengirimiku pesan singkat, mengabarkan bahwa dia dan Suho-ssi sudah sampai di Kanada."
"Mendengarmu mengatakan kalian bisa berteman, rasanya aku juga ingin menjadi teman Suho-ssi."
Baekhyun menatap Chanyeol heran.
"Suho-ssi pernah mengancam posisiku di hatimu, tak jauh beda dengan Seulgi. Jadi, kalau kau bisa berteman dengan Seulgi, aku rasa juga akan mudah bagiku untuk berteman dengan Suho-ssi." Ujar Chanyeol menjelaskan.
Baekhyun tersenyum tipis, genggaman tangannya pada tangan Chanyeol semakin mengerat kuat.
"Ehm... Kita sebentar lagi menikah, mereka juga kemungkinan akan menikah. Bagaimana kalau kita jodohkan saja anak kita nanti dengan anak mereka?"
"Ya!" Baekhyun berseru tak terima.
"Wae?"
"Pada saat anak kita dewasa nanti, tak ada istilah perjodohan lagi. Dan lagi, aku tak bisa melihat anakku menderita karena hal konyol itu. Kalau mereka saling mencintai dari awal tak masalah, tapi kalau anakku yang lebih dulu mencintai anaknya, aku yang akan berdiri paling depan untuk menolaknya. Aku tidak rela anakku sakit hati!" Cerocos Baekhyun dengan mata mendelik tajam pada calon suaminya itu.
Chanyeol tersenyum kecil, lalu meminggirkan mobilnya.
"Lukamu, ternyata belum sembuh betul Bee. Kau masih menyimpan semuanya seorang diri?"
Baekhyun menatap Chanyeol beberapa saat, sebelum mengeluarkan suaranya.
"Semua yang sudah ku lewati kemarin, rasanya seperti mimpi buruk. Kalau boleh dan kalau saja aku tak membiarkan hatiku terlalu berharap padamu, aku ingin hanya menjadi orang asing bagimu."
"Takdir membawamu kepadaku Bee, itu kenyataannya sekarang. Mian pernah sangat melukaimu, aku mencintaimu Bee, lebih dari kau mencintaiku."
Setelah mengatakan kalimat panjang itu, Chanyeol mengikis jarak diantara mereka, sebuah ciuman dia layangkan pada bibir tipis Baekhyun.
.
.
.
"O-oppa! Kau ada waktu?"
"Waeyo?" sahut Chanyeol dingin.
Kang Seulgi!
Dengan mengumpulkan segenap keberanian, pada akhirnya dia berani melangkahkan kakinya ke Joseok Hospital.
Sebuah rumah sakit berlantai lima, yang dibangun ayah Chanyeol di pulau Jeju.
Setelah sekian lama sejak kejadian di ruang rawat Chanyeol waktu itu, Seulgi tak pernah lagi berusaha menemui Chanyeol.
Pukulan telak yang diberikan Baekhyun padanya waktu itu, juga membuatnya harus berpikir keras untuk tak lagi berada di dekat pria tinggi yang masih membuat hatinya berdesir itu.
"Aku ingin bicara."
Setelah kalimat itu keluar, Seulgi melangkah meninggalkan Chanyeol.
Sebenarnya, bisa saja Chanyeol mengacuhkan ajakan Seulgi, namun ada satu sisi hatinya yang memintanya untuk mengikuti langkah kaki mantan kekasihnya itu.
Pada akhirnya, dia memilih melangkah mengikuti Seulgi.
Seulgi mengambil duduk di sebuah bangku di taman belakang rumah sakit, kemudian di ikuti Chanyeol, yang juga duduk di tempat yang sama dengannya, namun dengan jarak yang cukup jauh.
Seulgi terlihat meremat kedua tangannya, tampak jelas dia begitu gugup.
Dan hal itu tak lepas dari pengamatan Chanyeol.
Dulu, saat mereka masih menjadi sepasang kekasih, Chanyeol 'lah yang menyediakan tangannya untuk di remat Seulgi bila gadis itu tengah menghadapi masalah yang membuatnya cemas.
Namun saat ini, dia bukan lagi orang yang tepat untuk melakukan hal itu.
"Mian oppa."
Chanyeol terhenyak untuk sesaat. Kenapa Seulgi meminta maaf padanya? Bukankah seharusnya dia yang melakukan hal itu. Dan dia sudah melakukannya saat memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan wanita ini.
"Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, Seulgi-ah."
Seulgi menggeleng pelan.
"Aku tahu tentangmu, pertunanganmu, tapi... Aku tak pernah berusaha mengakhiri hubungan itu denganmu. Bahkan dengam pongah, aku selalu menyatakan, dalam segala hal kau pasti akan memilihku. Namun kemudian, Tuhan menyentilku dengan kenyataan bahwa cinta besarku, tak mampu membuatmu bertahan di sisiku ketika takdirNya sudah bekerja. Kalian, kau dan Baekhyun-ssi, berhak mendapatkan kebahagiaan setelah semua kesulitan ini oppa. Aku minta maaf, pernah dengan sengaja membuatmu berada dalam masalah."
Chanyeol menatap Seulgi tak percaya. Gadis cengeng, manja dan keras kepala yang selama ini kenalnya, seolah hilang, berubah menjadi gadis dengan pemikiran sangat dewasa.
Chanyeol tahu tindakannya salah, namun untuk terakhir kalinya dia ingin melakukan hal ini.
Tangan Chanyeol terulur hingga diatas kepala Seulgi, setelahnya dia mengusak pelan kepala mantan kekasihnya itu.
Hal itu biasa Chanyeol lakukan, ketika Seulgi berhasil melakukan sesuatu. Sebagai bentuk penghargaannya pada gadis itu juga sebagai bentuk kasih sayangnya.
"Jangan lakukan hal ini oppa, karena ini akan membuatku semakin sulit melepaskanmu."
Chanyeol menarik tangannya. Kemudian tersenyum tipis.
"Kau menjadi sangat dewasa saat ini, Seulgi-ah."
Seulgi menatap Chanyeol dan tersenyum tipis.
"Aku belajar pada guru yang tepat untuk hal ini."
"Nugu?"
"Masih sangat rahasia. Tapi yang pasti, orang ini bisa mengubah caraku melihat sebuah masalah. Selalu berat bagi kita melepaskan sesuatu yang berharga di hidup kita, namun... Bila hati kita lapang menerima ketetapan Tuhan, semua akan terasa mudah, oppa." Seulgi kembali mengumbar senyum malu-malunya.
"Aku yang mengenalmu lama, tak pernah berhasil membuatmu menjadi sedewasa ini Seulgi-ah. Tapi dia, yang baru mengenalmu, begitu mudah mengajarimu tentang arti kata dewasa. Lain kali, kau harus mengenalkannya padaku. Aku ingin tahu, pria seperti apa yang bisa membuatmu menjadi seperti ini."
Seulgi kembali tersenyum tipis lalu menunduk.
"Terimakasih untuk hari-hari yang menyenangkan selama kita dekat oppa. Aku akan menyimpan semua itu menjadi sebuah kenangan terindah dalam kisahku nantinya."
"Seulgi-ah! Kau mau makan siang denganku?" ajak Chanyeol tulus. Ini mungkin hal terakhir yang bisa diberikannya untuk mantan kekasihnya tersebut.
Namun sepertinya, Seulgi benar-benar sudah berubah. Gadis itu menolak ajakannya dengan gelengan kepala pelan.
"Aku harus segera kembali ke Seoul, oppa. Aku kesini hanya ingin mengatakan hal itu. Hal yang memang perlu dan seharusnya sudah sejak dulu aku katakan. Sekali lagi, maaf dan terimakasih untuk semua kenangan yang pernah kita ukir bersama oppa. Aku pamit!" Seulgi berdiri dari duduknya, kemudian membungkuk sopan pada Chanyeol.
Biar bagaimanapun juga, Chanyeol tetap seniornya yang layak di hormatinya.
"Seulgi-ah. Kau! Harus bahagia."
Seulgi kembali melayangkan tatapannya pada Chanyeol. Untuk terakhir kali, dia ingin menyimpan wajah tampan Chanyeol saat sedang tersenyum, ke dalam ingatannya. Sebelum menyahuti ucapan Chanyeol.
"Nde. Aku pasti bahagia. Sama sepertimu saat ini oppa."
Senyum Seulgi terkembang lebar, kemudian dia memilih untuk meninggalkan Chanyeol di bangku taman itu.
Satu dari dua keinginannya, sudah dia sampaikan pada orang yang tepat. Lusa, dia juga berharap tanggapan yang diberikan orang yang ingin di temuinya, juga sepositif tanggapan Chanyeol.
"Seulgi hwaiting!"
.
.
.
Baekhyun sedang duduk di sebuah ruangan. Gaun warna putih itu terlihat cantik membungkus tubuhnya, rambutnya di tata sedemikian rupa dan di beri hiasan layaknya mahkota, pada kedua tangannya tergenggam sebuket bunga Mawar berwarna pink.
Dia terlihat bak ratu di hari pernikahannya.
"Kau gugup?" tanya Luhan yang baru masuk ke ruangan itu dan mendapati wajah tegang sahabat baiknya itu.
"Sangat." Baekhyun mengulurkan tangannya, meminta Luhan menggenggamnya.
Luhan tersenyum manis, lalu meraih tangan Baekhyun dengan kedua tangannya dan menggenggamnya erat.
"Park Chanyeol sudah menunggumu di altar Baekkie. Rasanya masih tak percaya, kalian dengan masalah pelik yang kalian hadapi, akhirnya sampai juga di hari yang menegangkan sekaligus hari yang membahagiakan ini. Setelah ini, kau harus lebih banyak belajar memasak, agar kau bisa membuatkan makanan enak untuk suamimu nantinya."
Baekhyun tersenyum kaku.
Hari ini memang hari yang membahagiakan untuknya, namun juga sekaligus hari yang membuatnya tegang dan membuat jantungnya berdebar terus.
"Jangan kaku Baekkie. Kau ratu hari ini, jangan membuat orang yang melihatmu menjadi kasihan padamu karena wajah tegangmu itu."
Baekhyun menggeleng pelan.
"Aku merasakan ketakutan luar biasa Luhannie. Ini pertama kali untukku. Kau mungkin akan lebih parah kalau di posisiku." Rengek Baekhyun.
Luhan tertawa kecil.
"Tidak akan. Karena Sehun memberiku satu keyakinan bahwa akulah satu-satunya yang di cintainya. Jadi aku akan percaya diri di amit Papa untuk bertemu Sehun di altar nantinya."
Baekhyun menundukkan kepalanya. Saat Luhan menyebut kata 'Papa', dia teringat ayahnya yang tak bisa mengamitnya dan mengantarnya menemui pria yang sangat di cintainya di altar.
"Baekkie!"
Tes...
Tes...
Tes...
Airmata Baekhyun luruh tanpa terkendali. Dia pernah merasa begitu iri pada mereka yang masih diberi kesempatan untuk merasakan kasih sayang seorang ayah. Tapi, kalau pun ingin memprotes atau marah, pada siapa dia bisa melakukannya. Tuhan mengambil ayahnya, yang adalah hakNya.
"Baekkie! Mianhae."
Baekhyun menggeleng pelan.
"Aku tiba-tiba merindukan appa Luhannie."
Luhan melepaskan genggaman tangannya pada Baekhyun, lalu dengan lembut, di peluknya erat sahabatnya itu.
"Ahjussi pasti bahagia melihatmu dari surga, Baek-ah."
Baekhyun mengangguk dalam pelukan Luhan.
"Uljima. Aku bisa dihabisi Chanyeol kalau dia tahu aku membuat calon istrinya menangis seperti ini."
Luhan melepaskan pelukannya, lalu menyeka airmata yang masih meleleh membasahi kedua pipi putih Baekhyun.
"Kau terlihat jelek kalau seperti ini, lihat ini! Jadi luntur semua riasannya."
"Gomawo selalu ada untukku Luhannie."
Luhan tersenyum.
"Kau sahabatku Baekhyunie. Seperti yang selalu aku katakan padamu, aku akan mendampingimu menjemput bahagiamu sayang."
Keduanya saling tersenyum.
"Kau sudah siap Baekhyunie!"
Baekhyun menatap Donghae yang baru masuk ke ruangan itu.
"Aku yang akan mengantarmu menemui calon suamimu, sayang. Seperti apa yang diminta appamu, sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya."
Donghae melangkah mendekati Baekhyun, lalu dengan lembut di sekanya airmata Putri dari sahabat baiknya itu.
"Uljima sayang."
"Ahjussi!"
Donghae tersenyum menenangkan.
"Luhannie! Bantu dia membenahi riasannya. Aku tak mungkin membawanya pada Chanyeol dengan keadaan seperti ini, bukan?"
Luhan mengangguk dan tersenyum kecil.
"Mempelai kita ini memang sangat cengeng ahjussi." Ujar Luhan yang langsung dihadiahi Baekhyun dengan pelototan tajam.
"Ya!"
Tawa Luhan dan Donghae meledak mendengar pekikan tak terima dari Baekhyun. Tak lupa, bibir tipis itu terpout sangat sempurna.
.
.
.
Baekhyun melangkah anggun dengan diamit Donghae, melewati karpet merah yang di gelar sepanjang pintu gereja hingga altar.
Senyumnya terkembang tipis. Raut wajahnya juga sudah terlihat lebih santai dari sebelumnya.
Satu yang diyakininya, Chanyeol adalah yang terbaik untuknya dan pria itu memang jodoh yang dikirimkan Tuhan untuknya, maka langkahnya terasa begitu ringan untuk menemui calon suaminya itu, setelah insiden kecil di ruang tunggu tadi pastinya.
"Aku menyerahkan dia padamu, bukan untuk kau lukai Chanyeol-ssi. Kau harus membahagiakannya sampai maut memisahkan kalian. Arrata!" ujar Donghae memperingatkan sambil menyerahkan tangan Baekhyun untuk di genggam Chanyeol.
"Membahagiakannya adalah kewajibanku, ahjussi. Aku berjanji setelah hari ini, hanya akan ada tawa yang menghiasi raut wajahnya." Sahut Chanyeol penuh percaya diri.
Donghae tersenyum, lalu menepuk pundak Chanyeol.
Setelahnya, dia kembali duduk bersama istri dan anaknya.
Setelah kedua mempelai sudah berdiri di depan pastur. Upacara pemberkatan itu dimulai.
Pastur memberikan sedikit petuah sebelum kemudian membimbing pasangan itu membuat janji pernikahan mereka.
Hampir semua tamu undangan, yang tahu bagaimana kisah cinta pasangan itu, menatap haru keduanya.
Tak akan ada yang percaya. Kekeraskepalaan seorang Park Chanyeol, ternyata mampu lunak dengan sentuhan lembut cinta seorang Byun Baekhyun.
Cinta yang tumbuh di atas cinta yang lain, masalah pelik yang dihadapi, semua selesai dan pada akhirnya diberikan akhir yang bahagia.
"Akhirnya, mereka bahagia Sehunnie."
Sehun menatap Luhan yang duduk di sampingnya.
"Hmm. Aku jadi semakin tak sabar melihat wajah bahagiamu ketika bertemu denganku di altar nanti sayang."
Luhan dengan sengaja mencubit pinggang Sehun.
"Seharusnya kau mengatakan hal itu di hadapan orang tuamu saat mereka bertanya kapan kau akan menikahiku, Oh Sehun." Sahut Luhan sewot.
"Sudah ku lakukan. Changkaman! Hyung! Bisakah kau menunda dulu ciumannya?"
Sehun tiba-tiba berdiri dari duduknya, menginterupsi Chanyeol yang hampir melayangkan ciumannya pada Baekhyun usai mereka mengikrarkan janji suci pernikahan.
Pasangan pengantin baru itu saling bertatapan, lalu menatap Sehun heran. Sama halnya seperti tamu undangan yang lainnya.
"Ya! Oh Sehun! Apa yang kau lakukan!" Luhan berusaha menarik Sehun untuk kembali duduk dan tak mengganggu jalannya acara itu.
Namun bukannya menurut, Sehun justru meraih tangan Luhan, lalu sedikit menarik Luhan untuk berdiri dengannya, kemudian membawa gadis itu melangkah hingga berdiri di atas karpet merah, di hadapan kedua mempelai.
Setelah itu Sehun melepaskan genggamannya pada tangan Luhan.
Pria itu berdiri di hadapan Luhan.
"Sehunnie! Wae?" tanya Luhan yang tampak bingung. Sehun tak langsung menjawab, hanya senyumnya yang terkembang lebar.
Membuat Luhan dan yang lain semakin dibuat bingung. Bahkan kedua orangtua Sehun sudah hampir berdiri dari duduknya.
"Maafkan aku yang terlalu egois sayang. Yang selalu memintamu menungguku tanpa kepastian. Kau, tanpa mengatakan apapun selalu mengangguk ketika aku mengatakan, kita menikahnya nanti ya sayang, saat aku sudah menyelesaikan S3-ku. Kau tak pernah memprotesku saat aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Pengertianmu, rasa cintamu, kasih sayangmu, aku tak bisa membalasnya sebesar semua yang kau berikan untukku."
Luhan masih menatap Sehun bingung. Ada apa ini?
Dan tamu undangan yang lain dibuat sangat penasaran akan tindakan Sehun itu. Bahkan kedua orangtua Sehun, terlihat tegang dalam duduknya.
"Banyak yang mengatakan, betapa beruntungnya Xiou Luhan mendapatkan Oh Sehun. Tapi... Mereka tak tahu bahwa seorang Oh Sehun, bukan siapa-siapa tanpa Xiou Luhan. Aku yang sangat beruntung mendapatkanmu sayang. Seperti yang selalu dan sering dikatakan eomma padaku."
Sehun melirik dan tersenyum kecil pada ibunya.
"Sehunnie! Kau kenapa?" Luhan berusaha meraih tangan Sehun, namun pria itu menghindarinya dan memberi isyarat pada Luhan agar tetap berdiri di tempatnya.
"Aku bukan Chanyeol hyung, yang bisa memainkan gitar dan bernyanyi dengan baik untuk meyakinkan Baekhyunie bahwa cintanya sekarang hanya untuk Baekhyunie saja. Tapi, aku bisa melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukannya."
Sehun mundur satu langkah lalu berlutut dihadapan Luhan. Kemudian seorang anak kecil menghampirinya dan memberikan padanya sebuah balon berbentuk hati berwarna pink bertuliskan 'I will love you till the end'.
"Xiou Luhan! Would you marry me?"
Luhan mundur dari tempatnya berdiri satu langkah. Kedua matanya bergerak cepat. Dia tak percaya akan apa yang di dengarnya.
Pria dihadapannya mengajaknya menikah? Benarkah?
"Kau tak percaya ini sayang?"
Tanpa Luhan sadari, matanya mengembun. Tanpa di minta ulang, gadis itu mendekati Sehun, meraih balon yang diberikan Sehun padanya, lalu memeluk tubuh besar pria yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap hari.
"Yes! I do."
Sehun tersenyum lebar saat gemuruh tepuk tangan menyambut jawaban Luhan atas pertanyaannya.
Pria itu kemudian meraih balon yang di pegang Luhan, lalu melepaskan sebuah cincin yang sebelumnya sengaja di ikat di tali balon itu dan langsung melesakkannya di jari manis Luhan.
"Aku mencintaimu sayang."
Tanpa menunggu jawaban Luhan, Sehun langsung melayangkan sebuah ciuman dalam pada bibir tipis Luhan. Hal itu tentu saja membuat pasangan pengantin baru yang kegiatannya sempat di interupsi Sehun, cengo di tempatnya.
"OH SEHUN BRENGSEK!" pekik kesal Chanyeol dalam hati.
.
.
.
Grep
Baekhyun berjengit kaget saat lengan besar Chanyeol melingkari pinggangnya dari belakang.
"Kau sudah selesai mandi?"
"Ehm." Sahut Chanyeol sambil menempatkan dagunya pasa pundak Baekhyun.
Mereka baru kembali ke kamar setelah waktu menunjukkan lewat tengah malam. Resepsi yang di gelar di sebuah hall dari hotel bintang lima yang cukup terkenal di Seoul itu, ternyata membutuhkan waktu tak sebentar.
Tamu undangan yang hadir dan ingin bersalaman dengan kedua mempelai, jumlahnya lebih dari lima ratus orang, terdiri dari teman dan kolega bisnis kedua orangtua Chanyeol dan Baekhyun, teman dan rekan kerja Chanyeol yang datang tidak hanya dari Korea tapi juga dari luar negeri. Dan juga teman-teman Baekhyun yang jumlahnya juga tak bisa dikatakan sedikit.
Lelah?
Sudah pasti. Makanya, begitu masuk kamar, hal pertama yang dilakukan Baekhyun adalah berendam di bath up dengan air hangat, untuk melemaskan otot-otot tubuhnya. Sekitar setengah jam berada di kamar mandi, Baekhyun keluar dengan hanya menggunakan bathrope, lalu kemudian Chanyeol yang masuk ke kamar mandi.
Baekhyun tengah membuka sebuah amplop coklat ketika Chanyeol keluar dari kamar mandi dan memeluk tubuhnya.
"Dari siapa?" tanya Chanyeol.
"Molla. Tidak ada nama pengirimnya disini." Baekhyun mengendikkan bahunya sambil mengeluarkan isi amplop itu. Ada sebuah surat dan empat buah tiket pulang pergi Korea-Bali.
Baik Baekhyun maupun Chanyeol mengerutkan keningnya.
Dengan tak sabar, Baekhyun membuka surat itu. Dan betapa terkejutnya mereka saat surat itu terbuka, sebuah foto meluncur dari sana.
Foto manis dari pasangan Choi Suho dan Kang Seulgi.
Dalam foto itu, Seulgi tampak tersenyum manis pada kamera, dengan tangan membentuk lambang hati, Suho berdiri di depannya dengan pose huruf V dan mengembangkan senyum manisnya.
"Cih! Mereka terlihat kampungan sekali berpose seperti ini." Baekhyun menyentik gemas foto itu.
"Itu wajar sayang, hubungan mereka sedang hangat-hangatnya. Dari senyum mereka, sepertinya mereka sangat bahagia sekali."
Baekhyun mengangguk kecil.
"Bacalah!"
Annyeong Baekhyunie eonni!
Sebenarnya, kami sempat ingin membuat sebuah video, tapi aku tak mau karena aku rasa hal itu cukup memalukan.
Eonni!
Chukkae...
Semoga kalian selalu bahagia dengan pernikahan kalian.
Kami tak bisa memberi banyak, hanya tiket ini yang bisa kami berikan. Gunakan baik-baik dan kalian harus benar-benar pergi ke Bali untuk bulan madu.
Kami disini, menunggu kabar baik kalian sepulangnya dari Bali nanti.
Eonni!
Bolehkah aku berkata jujur?
Aku iri padamu, yang menjadi wanita pilihan Chanyeol oppa. Tapi tahukah kau, aku beruntung mengenal Suho oppa. Darinya aku belajar banyak hal. Saat ini kami sedang belajar saling mencintai, eonni.
Ehm...
Baekhyun-ssi!
Saya Suho...
Tak banyak yang ingin saya sampaikan disini, selain ucapan selamat atas pernikahan kalian dan doa tulus semoga kalian berdua selalu bahagia.
Satu hal yang sebenarnya ingin saya katakan sebelum saya pergi waktu itu. Hanya saja, saya ragu dan berpikir bahwa hal itu tak perlu saya sampaikan. Namun, dia (Seulgi) mengatakan pada saya, saya tak harus mengetahui jawaban anda, saya hanya perlu mengungkapkan saja. Karena menyakitkan bila kita mencintai seseorang tapi orang tersebut tak mencintai kita, namun akan lebih menyakitkan bila kita mencintai seseorang tapi tak berani mengatakannya.
Saya, pernah merasakan jatuh cinta pada anda. Saya pernah mencintai anda dalam kediaman saya.
Mian! Kalau perasaan ini membebani anda. Jangan terlalu dipikirkan ungkapan perasaan saya ini. Karena seperti yang saya katakan tadi, saya tak membutuhkan sebuah jawaban, saya hanya ingin mengutarakan apa yang pernah saya rasakan.
Sekali lagi...
Gunakan hadiah dari kami ini sebaik-baiknya. Kabar baiknya kami tunggu.
Salam sayang kami dari Kanada untuk kalian berdua di Korea
Choi Suho & Kang Seulgi
NB : Bila kalian di anugrahi seorang Putra dan kami di anugrahi seorang Putri, kalian tak keberatan 'kan kalau mereka dijodohkan saja?
Baekhyun menutup kasar surat dari Kanada itu, kemudian menatap Chanyeol dengan bibir terpout sempurna.
Chup
Chanyeol mengecup singkat bibir istrinya.
"Ternyata Suho-ssi sepemikiran denganku sayang."
"Aku tetap akan menolaknya!" sahut Baekhyun cepat, lalu segera dia meringkas surat dan tiket itu.
Dia hendak beranjak dari duduknya ketika Chanyeol menariknya kembali, lalu membantingnya di atas ranjang hingga di terlentang.
"Kau tak berniat melupakan tugasmu di malam pertama kita 'kan, sayang?"
Chanyeol berujar pelan seraya membelai lembut wajah Baekhyun. Membuat perempuan itu merinding dan terpaksa mengalihkan tatapannya dari sang suami yang berada diatasnya.
Sret
Chanyeol tersenyum sambil melepaskan simpul bathrope yang dipakai Baekhyun.
"Kau sengaja melakukan ini?" tanya Chanyeol menggoda setelah tahu bahwa di balik bathrope itu, Baekhyun tak menggunakan apapun.
"Ani!" Baekhyun berusaha merapatkan bathrope bagian atas setelah merasakan tangan besar Chanyeol meraba kulit pinggangnya.
"Benarkah?" Chanyeol tersenyum miring sambil terus membelai lembut pinggang ramping istrinya itu.
Tak menyahut, Baekhyun memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut suaminya pada kulitnya.
"I want you tonight, Bee. Dan aku mungkin tak akan melepaskanmu sampai keesokan hari."
Baekhyun membuka matanya, menatap suaminya yang juga tengah menatap dalam dirinya.
"Ehm... Tidak bisakah di tunda sampai besok?" tanya Baekhyun polos.
Chanyeol menggeleng pelan, lalu kembali membelai lembut pipi Baekhyun.
"Aku sudah sedikit kecewa dengan acara pemberkatan kita tadi, yang harus terganggu dengan tingkah Sehun. Apa sekarang aku harus merasakan kecewa lagi?"
Baekhyun terlihat berpikir sejenak. Benar saja, jeda yang di minta Sehun pada upacara pemberkatannya, cukup mengganggu Chanyeol tadi, hingga untuk beberapa saat, pria itu sampai harus mendiamkan Sehun. Lalu apakah sekarang dia harus menambah kekecewaan suaminya? Bukankah melayani Chanyeol adalah kewajibannya saat ini?
Baekhyun berusaha mengembangkan senyumnya di tengah debar jantungnya. Dia membalas perlakuan Chanyeol, dengan membelai lembut pipi suaminya itu.
"Berjanjilah kau akan melakukannya tanpa membuatku sakit." Pinta Baekhyun.
Chanyeol meraih tangan Baekhyun, lalu mengecup punggung tangan itu singkat.
"Aku berjanji, hanya kenikmatan yang akan kau rasakan malam ini sayang."
Chanyeol semakin menurunkan tubuhnya, mengikis habis jarak yang sempat tercipta sebelumnya.
Di awali dengan sebuah kecupan ringan pada sekitar wajah Baekhyun, lalu berubah menjadi ciuman hangat ketika bibir mereka bertemu dan saling beradu.
Baekhyun terlihat kewalahan dengan ciuman Chanyeol yang terkesan kasar namun berhasil mengirimkan sinyal panas ke sekujur tubuhnya.
Ketika tangannya berusaha melingkari leher suaminya, tangan suaminya menyingkap bathrope yang dipakainya, lalu tangan besar itu menangkup dadanya.
Baekhyun tersentak, ciumannya lepas dan pandangannya beralih pada dadanya yang mulai diremas pelan suaminya.
"Eeeuuhhmmhhh."
Chanyeol tersenyum kecil, lalu mengalihkan ciumannya pada leher putih istrinya yang sedikit terangkat karena sepertinya rangsangannya pada dada sang istri begitu dinikmati wanita yang sangat dicintainya itu.
Puas dengan leher istrinya, bibir Chanyeol berpindah ke dada.
"Aaaahhh!"
Tubuh Baekhyun sedikit terangkat, saat bibir Chanyeol menyapa lembut dadanya.
"Eeuuunngghhh!"
Tak ada yang bisa dilakukan Baekhyun, seiain menikmati apa yang dilakukan sang suami pada dirinya.
Dan ternyata tak berhenti sampai di situ saja.
Bibir Chanyeol bergerilya menyusuri perut Baekhyun lurus hingga turun ke bawah.
"Aaaahhhh!" jerit Baekhyun tertahan, tubuhnya kembali naik dengan kedua tangan meremat erat sprei ranjangnya.
Pandangannya mengabur, samar dia melihat Chanyeol di bawahnya, entah melakukan apa, yang pasti membuatnya tak kuasa menahan diri untuk tak menjerit.
"Oppahhhh!"
Nafas Chanyeol memburu saat dia kembali bertatapan dengan istrinya.
Sedangkan Baekhyun masih memejamkan matanya.
Perlahan, pria tinggi itu membimbing miliknya, masuk ke dalam milik istrinya yang sudah basah.
Baekhyun kembali tersentak, merasakan sebuah benda besar berusaha masuk ke dalam miss V-nya.
"Kh-kauhh... Boleh mencakar punggungku kalau inihhh... Menyakitkanhhh... Untukmuhhh sayanghhh... Aaaaahhhh!"
Baekhyun menuruti apa yang dikatakan suaminya, begitu benda itu masuk dan menyobek miliknya perlahan, cengkeram tangannya menguat pada punggung Chanyeol.
"Eeemmmhhhh!" Baekhyun mendesah lirih dalam ringisannya.
"Sakit?" tanya Chanyeol begitu miliknya tertanam pada milik istrinya.
Airmata Baekhyun lolos dari sudut matanya yang terpejam, tanpa bersuara, perempuan itu mengangguk pelan. Ada rasa nyeri dan ngilu pada bagian selatan tubuhnya itu.
"Apa aku harus melepasnya?" Chanyeol menyusut airmata Baekhyun pelan.
"Rasanya sedikit nyeri dan sesak. Tunggu sebentar!"
Chanyeol diam sesaat. Ketika kerutan dan ringisan tak lagi tampak di raut wajah Baekhyun, pria tinggi itu berusaha bergerak pelan.
Pelan, pelan dan semakin lama kecepatannya semakin meningkat. Tak ada lagi raut kesakitan di wajah istrinya, yang ada hanya mereka saling menikmati penyatuan mereka malam ini.
Pertautan itu berakhir lima belas menit kemudian, saat Chanyeol berhasil menyemburkan cairan kenikmatannya hingga membasahi hampir seluruh dinding rahim istrinya.
Tubuh besar Chanyeol perlahan turun lalu memeluk erat tubuh istrinya dari belakang.
Di kecupnya pelan punggung telanjang Baekhyun.
"Tidurlah sayang!"
Baekhyun tak menyahut, hanya lenguhannya terdengar jelas sebelum kemudian bergerak menyamankan dirinya dalam pelukan Chanyeol.
Malam ini, babak baru kehidupan mereka telah di mulai.
Esok hari, mereka akan memulai perjuangan dan pelajaran baru sebagai sebuah keluarga. Dimana Chanyeol adalah nahkoda dari kapal yang mereka tumpangi untuk berlayar di tengah samudera rumah tangga, sedangkan Baekhyun adalah tiang penyangga yang akan selalu menguatkan kapal mereka.
Keduanya akan bahu membahu berusaha mewujudkan impian mereka, membangun rumah tangga atas dasar cinta, hingga maut memisahkan mereka nantinya.
.
.
.
END
.
.
.
Note : Terimakasih atas perhatian dan cinta kasih kalian pada cerita ini.
Maaf...
Karena membuat kalian semua begitu lama menunggu kelanjutan cerita ini.
Jujur saja, libur di rumah membuat saya mati ide. Sebenarnya ceritanya sudah jadi, hanya pada akhirnya saya ubah menjadi seperti yang sekarang ini.
Saya menjadi cukup produktif ketika kembali ke tempat kerja. Saya sendiri heran kenapa seperti itu.
Mungkin karena jika berada di rumah, saya lebih senang menghabiskan waktu dengan berbincang bersama kedua orangtua dan saudara, istilah kerennya quality time with family.
Terimakasih untuk yang sudah mengirimkan pesan cintanya, menanyakan kapan cerita ini dilanjutkan.
Semoga chapter ini menjadi penutup yang manis untuk kisah mereka.
Bila tak keberatan, silahkan mampir ke cerita saya yg lain 'Gomawo, Saranghae!'
Untuk yg bertanya apa nama sosmed saya, mian... Bukan bermaksud sombong, hanya saja... Cukuplah kalian mengenal saya hanya melalui cerita yang saya buat saja. #Bow
Big love for you guys ^_^
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
