Hinata, kau tahu tidak? Aku pernah menangkap basah Sasuke bercinta dengan seorang perempuan Jepang berdarah campuran Italia di salah satu gang sempit di distrik Myoboku. Kau tahu, 'kan, itu pelanggaran hukum? Walau ringan, tetap saja memalukan.
Sebuah ponsel pintar merk Nara dihadapkan tepat di depan wajah Sasuke. Aplikasi Whatsapp terbuka menampilkan ruang obrolan Sasori dengan Hinata, di bagian atasnya berisi obrolan yang telah lalu. Di bagian bawah, tepat di kotak ketik pesan, pesan menjijikkan itu terketik dengan rapi. Tinggal meletakkan jari telunjuk di sebuah gambar pesawat kertas di sebelah kanan pesan, dan pesan itu pun akan dikirim ke nomor Whatsapp Hinata.
Pagi ini, pria berambut merah itu datang untuk melihat keadaan Hinata setelah tiga minggu lalu dia menemukan gadis itu tergeletak di jalan berlapis salju. Namun sayang, Uchiha Sasuke melarangnya menemui Hinata. Katanya, Hinata tidak bisa diganggu lah, dia sedang bersantai lah. Memang dia pikir Sasori akan percaya?
Sasori tersenyum miring kala mendapati kening Sasuke yang mengerut. Mati, kau, Uchiha!
"Bagaimana? Aku sih tidak masalah kalau tidak diperbolehkan menemuinya. Aku bisa mengajaknya chattingdi Whatsapp."
Hinata tahu dengan jelas dan pasti bahwa masa lalu Sasuke penuh dengan wanita dan ranjang. Tetapi, siapa wanitanya dan di mana dia melakukannya, bukan hal yang harus diketahui Hinata. Terlebih ada sepotong cerita yang memalukan di sana.
Semua itu berawal dari tantangan yang dilontarkan pria misterius yang memperkenalkan dirinya sebagai Utakata di sebuah kelab malam. Dia menerima tantangan itu sambil berpikir dia akan mendapatkan pengalaman bercinta yang baru, penuh sensasi, sekaligus mempecundangi Akasuna Sasori.
Entahlah. Dulu Sasuke selalu merasa senang jika dia berhasil melakukan pelanggaran hukum tanpa diketahui penegak hukum. Tetapi, satu hari itu dia tertangkap. Kakeknya, ayahnya, kakaknya, bahkan ibunya pun, menertawakannya selama berbulan-bulan untuk kasus pelanggaran hukum itu. Bercinta di area publik? Baginya kasus itu lebih berat daripada kasus penembakan.
"Kau tahu dengan pasti aku menyimpan banyak rahasia tentang dirimu," kata Sasori lagi. "Kau mungkin bisa menyingkirkan Ootsutsuki Toneri itu dengan ancaman, tetapi itu tidak berlaku untukku.
"Kau bisa melakukan hal lain selagi aku berbicara dengannya. Tak perlu cemas, aku bukan tipe yang akan melakukan hal rendahan seperti Toneri. Lagipula, bagian terpenting dari kedatanganku bukan mengantarkan ini." Sasori menunjukkan sebuket anggrek merah muda yang ia bawa sambil menyeringai.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya, kemudian memandang Sasori dengan waspada. "Maksudmu?" tanyanya.
"Aku perlu berbicara denganmu. Ini menyangkut hidup dan matimu, Uchiha Sasuke!"
Chapter 14
©Rosetta Halim
©Masashi Kishimoto
Taman di atap mansion menjadi tempat pilihan Hinata selama menenangkan diri. Berada di bawah guyuran salju mungkin dapat membantunya memadamkan api gelisah.
Kuliahnya sudah berlangsung selama seminggu. Tetapi, dia masih di sini, bersama Sasuke di kediaman Madara.
Bukan masalah ada sesuatu yang tidak bisa dia pelajari. Tetapi, masalahnya tidak ada satu orang pun yang bisa dia hadapi.
Tiga minggu ini Hinata tidak pergi ke mana pun. Alasannya masih sakit.
Omong kosong! Uchiha Madara membayar dokter terbaik di Jepang untuk menyembuhkan lukanya lebih cepat dan menghilangkan bekas lukanya. Dia tidak mengalami luka dalam selain di lehernya, selebihnya hanya luka luar.
Secara fisik, dia kembali seperti semula. Tetapi, mentalnya yang telah rusak masih dalam keadaan yang sama.
Hinata tidak berani keluar rumah. Beberapa hari yang lalu, dia bahkan tidak berani keluar dari kamar dan menghadapi para pelayan yang berseliweran setiap jam-jam sibuk.
Di dalam rumah dia baik-baik saja. Mudah baginya tertawa bersama teman-teman dekatnya dan keluarganya. Tetapi orang-orang di luar sana ….
Bagaimana?
Sebagian besar dari mereka sudah menonton dirinya tanpa busana, ditambah sedang bercinta. Apa lagi yang dia harapkan? Semua orang akan sama seperti sebelumnya? Memandangnya sekilas, itu pun jika mereka menyadari keberadaannya? Mana mungkin itu bisa terjadi.
Selama dia mengenal Hinata, ini bukan pertama kalinya dia melihat Hinata duduk di atas tumpukan salju sambil membuat mochi salju. Tetapi, inilah pertama kalinya dia melihat Hinata tidak tersenyum selama dia melakukan kegiatan sia-sia itu.
Mengingat apa yang dikatakan Neji, dia pun mengerti seperti apa situasinya. Dia mendesah. "Wanita memang suka melakukan hal yang sia-sia," gumamnya. Sasori melempar sebuket anggrek yang dia bawa ke belakang sebuah kursi taman. Dia tidak menyangka dia akan membawa hal yang sia-sia pula.
Perlahan Sasori mendekati Hinata, kemudian duduk di depan gadis itu. Dia mengambil satu mochi salju, lalu berkata, "Astaga, mochi ini masih panas!" Dia meniup-niup kue yang sebenarnya terasa dingin di kulit telapak tangannya.
Candaan itu seolah angin lalu. Hinata masih setia membuat mochi salju dengan tatapan kosong.
"Tidak ada yang berpikir ini akan mudah untukmu. Tetapi, kau tidak bisa menunggu di sini sampai semua orang melupakanmu. Kalau kau tidak maju, maka lupakan impianmu, dengan begitu rasa bersalah akan terus bercokol dalam diri Uchiha Berandal itu di sepanjang sisa hidupnya."
"Aku hanya … kupikir aku memerlukan waktu."
"Sebanyak apa?"
"Nii-san, Neji-nii bi-bilang ka—"
"Bicarakan hal yang lain saja. Kenapa kita harus membicarakan hal yang sia-sia?"
Hinata menarik napas dalam-dalam, kemudian bangkit.
Dari atap mansion, gerbang yang jaraknya dua ratus meter terlihat cukup jelas di mata Hinata. Dia mengacungkan telunjuknya ke gerbang itu. "Kabar terakhir, masih banyak wartawan yang sering datang ke sini. Mereka ingin melakukan wawancara. Bahkan talkshow yang paling populer di Senju Channel sudah puluhan kali mengirim undangan.
"Kata mereka, aku perlu diwawancara untuk menjawab cuitan netizen yang belakangan selalu menjadi trending topic. Dengan tanpa rasa bersalah, mereka memberikan judul "Prince Charming and Fat Cinderella" untuk kisah cintaku sambil merendahkan diriku di setiap kesempatan, lalu membanding-bandingkanku dengan perempuan lain.
"Aku tidak bisa …. Aku takut. Di luar sana sangat berbahaya. Aku bahkan tidak berani pulang ke rumahku sendiri. Sering aku berpikir, aku memang tidak cocok bersamanya, tidak dahulu, sekarang maupun di masa depan. Semua orang melihatnya, aku pun melihatnya, hanya saja aku sering menipu diriku sendiri."
Sasori akhirnya berdiri di tempatnya duduk semula. Dia berjalan ke sisi kanan Hinata dan melakukan apa yang dilakukan Hinata, memandangi gerbang. "Sebelum ini semakin jauh, aku punya satu pertanyaan," katanya. "Sebenarnya seperti apa kau memandang dirimu sendiri?"
"Aku … tidak begitu pintar. Tidak cantik, itu sudah pasti. Aku kikuk dan penakut. Ada banyak wanita yang lebih baik di luar sana, cantik, cerdas, pandai membawa diri dan juga rendah hati, Sasuke-kun pun mengakui itu."
"Tidak!" pekik Sasori. Dia menggeram. Uchiha Berandal itu memang tidak tahu caranya merangkai kata. "Maksudku, tentu ada banyak wanita yang lebih baik dari dirimu di luar sana, tetapi itu tidak berarti mereka bisa menjadi yang terbaik untuk Uchiha Berandal itu. Apa Uchiha Berandal itu pernah bilang kau bukan wanita yang pantas bersamanya?"
"Tidak pernah."
"Kalau begitu kau tinggal mengatakan itu pada semua orang! Tidak perlu takut pada mereka."
"Maksudnya aku—"
"Ya! Terima saja undangan talkshow itu, lalu kau bisa mengatakan semua yang kaupikirkan kepada mereka. Itu mungkin tidak akan mengubah apa yang mereka pikirkan tentangmu, tetapi setidaknya, perasaanmu akan lebih ringan jika kau membaginya."
Sasori menutup pintu masuk ke taman atas, kemudian mendesah. Dia melepaskan mantel abu-abu yang dia kenakan dan menggantungnya di gantungan khusus di dekat pintu.
Hinata tidak mau diajak turun, katanya masih butuh waktu untuk berpikir.
Ini bukan lagi tentang janji yang dia buat pada lelaki remaja berambut coklat panjang beberapa tahun lalu. Lelaki yang merangkak di kakinya, memohon agar dia mau mengumpulkan bukti-bukti untuk memenjarakan Hyuuga Hideki.
Pihak kepolisian menganggap imajinasi anak itu terlalu tinggi, karena berulang kali mereka mengecek ketua klan Hyuuga itu, tetapi tidak ada satu pun bukti keterlibatannya. Mereka tidak bisa sembarangan menuduh orang lain, itu jelas melanggar protokol kerja mereka.
Sekarang, ini tentang perasaannya. Hinata menganggapnya kakak, itu bukan kenyataan yang baru diketahuinya. Dia menganggap Hinata lebih dari adik, itu kenyataan yang baru diketahui Hinata. Maka dari itu, perasaannya akan tenang bila dia sudah memastikan keamanan Hinata terjamin bersama kekasih berandalannya itu.
"Tunggu!" Sasori berseru tiba-tiba. Dia memanggil seorang pelayan yang berpapasan di tangga menuju atap. "Di mana Tuan Muda-mu sekarang?"
"Dia di ruang minum teh, Sir. Letaknya di lantai satu, Anda bisa melihat lokasi jelasnya di situs resmi Midori Foundation."
"Bukannya harus menggunakan kata sandi?"
"Aktifkan lokasi Anda, Sir, dengan begitu secara otomatis Anda akan diizinkan mengakses apa saja yang ditutup untuk umum di situs itu."
"Oh, ya. Terimakasih."
Mansion yang suram, citra yang sedari tadi dijejelkan ke dalam benak Sasori. Tetapi, ruang minum teh itu tampak sederhana dan hangat. Mungkin itu kehangatan Uchiha Midori yang masih tersisa di tempat ini.
Kehangatan itu, dengan bijaksana, dicemari oleh satu-satunya orang yang duduk bersimpuh di lantai tanpa alas duduk. Sosok kurang ajar yang sering berulah di tempat dia bertugas. Berulang kali ditangkap, tetapi tidak bisa ditahan untuk waktu yang lama.
Itu menjadi alasannya membenci pria itu sedari dulu. Terlalu sering mencari masalah dengannya, sampai dia bahkan lelah menanggapi kasus yang melibatkan orang itu.
Sasuke menyambutnya dengan senyum palsu yang terlihat mengancam. "Kepala Kepolisian Konoha yang terhormat dan super sibuk mengambil cuti hanya untuk berbicara dengan musuh bebuyutannya," sindir Sasuke, lagi dan lagi. "Dan apa tadi kaubilang, menyangkut hidup dan matiku? Mengingat lamanya kau mengobrol dengan wanitaku seharusnya pembicaraan ini menyangkut hidup dan matimu."
"Berhentilah bertingkah, Uchiha. Dan ingat satu hal, aku menghormati kakekmu bukan karena aku takut padanya, karena aku menghargai kebaikannya kepada yatim piatu di seluruh Jepang." Sasori duduk bersimpuh di hadapan Sasuke, kemudian melanjutkan, "Kau, berhentilah mencari masalah dengan orang lain atau itu akan membahayakan dirimu sendiri."
Sasuke melirik teh hijau yang tersaji di depan Sasori. Teh yang menunggu dinimun sejak sejam yang lalu, jelas sudah dingin dan tak layak minum. "Kau tidak akan mendapatkan teh pengganti," balas Sasuke.
"Kau tahu aku tidak butuh tehmu. Lagsung saja, biar kita tidak membuang waktu. Salah satu wanita yang menyerang Hinata waktu itu adalah adik dari wanita yang mati bunuh diri karena—"
"Tunggu, Brengsek! Aku tidak bertanggungjawab atas kematian wanita itu, kau tahu dengan jelas."
"Setidaknya adiknya berpikir kau bertanggungjawab," kata Sasori santai.
"Kakak-beradik sinting. Hasil autopsi menyatakan kakaknya tidak hamil, jadi bukan salahku jika dia bunuh diri."
"Lalu kau mau apa kalau dia berpikir kau menyogok petugas autopsi?" Sasori berbicara ketus.
"Jadi, apa maumu?"
"Dia sudah menjadi kelemahanmu sejak kau menjadikannya milikmu—aku menyesal karena baru tahu hal itu saat penyerangan Toneri terjadi. Oleh sebab itu, kau harus menjaga sikapmu, jangan menambah musuh. Kau tidak bisa memprediksi di mana mereka akan muncul. Bisa saja, secara tiba-tiba Hinata keracunan, nyaris tertembak di taman hiburan, atau mengalami kecelaka—"
"Itu semua tanggungjawab Hyuuga Hideki, kenapa harus di—"
"Masalah itu, aku sendiri yang akan menjebloskannya ke dalam penjara. Itu sudah menjadi misi seumur hidupku. Masalahmu, penggemar gilamu, wanita sinting yang berkeliaran di sekitarmu dan musuh-musuhmu, yang tidak diragukan, memiliki peluang besar melakukan tindak kriminal. Kalau penyerangan seperti waktu itu terjadi lagi, aku tidak hanya akan menangkap pelakunya, tetapi kepalamu akan menjadi rumah bagi peluru senjata apiku."
"Kata-katamu itu membuatku waspada!" teriak Sasuke. "Jangan-jangan kau memang berniat merebutnya dariku."
Sasori mengangkat meja kecil yang menjadi pemisah di antara mereka, lalu mengempaskannya ke dinding di sisi kanannya, bersama dengan dua cangkir yang langsung saja pecah. Dia sudah mencapai batasnya. Dia tidak bisa sabar lebih dari ini lagi.
Dalam sekejap saja, moncong senjata api milik Sasori kini menempel dengan manis di kening Sasuke. "Kau tahu aku bisa membunuhmu, bahkan sejak kau meringkuk di sel tahanan musim panas lalu."
"Kau tahu aku tidak takut pada kematian," balas Sasuke sengit sambil menarik kerah kemeja hitam yang dikenakan Sasori.
Sasori mendesah. Dia menjauhkan senjatanya dari kening Sasuke, lalu kembali menyelipkannya ke pinggang celananya di bagian belakang sambil berkata, "Aku tidak meragukan itu. Aku ragu kau paham posisimu saat ini. Kau tidak sendiri, Uchiha. Hinata telah menjadi bagian dari dirimu. Musuhmu, suka atau tidak, akan menjadi musuh Hinata. Kita sama-sama tahu dia tidak suka mengoleksi musuh."
"Aku paham! Jadi, berhentilah bertingkah seolah kau yang paling bisa menjaganya. Aku tahu apa yang harus kulakukan."
Walau itu yang meluncur dari mulutnya, hingga hari ini, Sasuke tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa Hinata mendapatkan lebih banyak masalah karena dirinya, dan juga lebih banyak luka.
"Kalau kau tahu, seharusnya saat ini kondisi mentalnya tidak akan seburuk itu. Dia bahkan tidak menatap mataku saat bicara denganku tadi."
"Aku tidak berkewajiban menjelaskan itu padamu. Itu masalah kami, biarkan kami menyelesaikannya dengan cara kami. Satu hal lagi, ini hubungan kami, jadi berhentilah mencampurinya."
"Aku akan berhenti ikut campur saat fans-mu pun berhenti mencampuri hubungan kalian."
Sasuke mengempalkan kedua tangannya. Dia tidak punya balasan lain yang bisa melumpuhkan kalimat terakhir Sasori.
"Kalau begitu aku permisi."
Pada titik itu, Sasuke sadar satu hal, manusia sering termakan omongannya sendiri. Kita sering mengharapkan susu dari orang lain, tetapi lupa bahwa sebelumnya racun lah yang kita lemparkan.
Telak!
Seperti dirinya. Dia meminta Sasori, yang menyukai Hinata—hal yang dia ketahui musim panas lalu, ketika Sasori jauh-jauh datang dari Konoha ke penjara Shimane hanya untuk menertawakannya—berhenti ikut campur. Sementara orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai idola, pun turut mencampuri hubungan asmaranya dan justru lebih ganas dalam melontarkan pendapat.
"Brengsek!" umpatnya ketika pintu menutup, melenyapkan Sasori dari pandangannya.
Dapur selalu terdengar rusuh sejak Hinata bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Gadis itu bahkan berkutat di dapur mulai pagi hingga pagi lagi. Ada yang makan atau tidak, sama sekali tidak dipikirkan Hinata. Semua pelayan di mansion lumayan sanggup menghabiskannya. Terkadang Sasuke mengundang keluarga dan teman-teman Hinata untuk menyantap apa yang dibuat Hinata kalau jumlahnya sudah terlalu besar.
"Hinata," kata Sasuke pelan.
Hinata tak terusik sedikit pun, masih fokus mencincang bawang merah dalam jumlah yang besar.
Selanjutnya … teflon jatuh ke lantai, menimbulkan bunyi yang sangat keras. Hinata tidak tahu bagaimana itu bisa lolos dari tangannya. Itu hanya teflon kecil yang hendak ia gunakan menumis bawang cincang. Sasuke memperhatikan itu dari meja makan khusus untuk pelayan.
Saat Hinata membungkuk, alih-alih memungut teflon itu, Hinata mendaratkan bokongnya di lantai.
Sasuke segera menghampiri Hinata. Ini tidak boleh berlanjut. Mimpi Hinata tentang restoran mewah, yang menyediakan makanan gratis bagi mereka yang kurang mampu membeli makanan kelas atas, bisa hancur.
"Aku mau pergi kuliah …. Aku takut bertemu orang lain. Aku mau mencari sesuatu di pasar …. Aku takut pergi ke tempat ramai. Apa yang harus kulakukan? Aku bahkan takut melihat diriku sendiri. Sudah, aku tidak bisa lagi berpura-pura sehat." Hinata menggigit bibir bawahnya. "Aku sakit, Sasuke-kun, kewarasanku bermasalah."
Kau dua tahun lebih tua darinya, 'kan? Kau yang harus menentukan ke mana hubungan kalian akan berlayar. Kau harus bertanggungjawab atas dirinya, walau dia belum menjadi istrimu, tetapi semua yang dia alami disebabkan olehmu.
Jadilah dewasa!
Sasuke ingat saran kakeknya. Saran orangtua seperti Madara lebih mudah diterima daripada saran Sasori, tentu saja.
"Dunia ini selalu berubah, begitu pun hidupku dan hidupmu. Perubahan itu baik atau buruk tergantung dari sudut mana kau melihatnya. Percayalah padaku, kau harus melihat perubahan hidupmu dari sudut yang benar. Untuk itu, kau harus keluar dari sini. Lihatlah secara keseluruhan, barulah kau akan menemukan sudut yang paling tepat."
Hinata menggapai teflonnya, lalu memandanginya. "Ada mata kuliah Sejarah Peralatan Dapur, itu berlangsung musim ini. Aku melewatkan satu pertemuan."
"Kau tidak harus melewatkan pertemuan yang lain," balas Sasuke seraya memegang punggung tangan kanan Hinata yang menggenggam gagang teflon. "Teflon ini juga punya asal-usul. Kau harus mencari tahu."
"Aku berpikir, teflon ini dulunya pernah baru. Suatu saat dia akan menjadi rongsokan."
Dan ketika Hinata mulai membutuhkan lebih banyak ketenangan, gadis itu selalu membicarakan hal-hal yang mesti dipikirkan secara mendalam, agar lebih banyak hal yang menyingkir dari pikirannya untuk sesaat.
"Sasuke-kun, kau tidak tahu, itu juga berlaku untukmu dan untukku, suatu saat kita akan mati, perlahan membusuk di dalam tanah. Jika ingin lebih cepat terurai bisa dikremasi. Itu sudah terjadi pada Tou-san-ku. Oh, bagaimana ini, aku baru ingat, tahun lalu aku belum mengunjungi makamnya. Apa …."
Dengan cara itulah Hinata selalu menolak membahas kenyataan yang lebih dekat dengan dirinya.
Jalan raya macet total sejak sejam yang lalu. Makan malam di restoran paling mewah di kota, yang direncanakan Fugaku dan Mikoto, gagal total.
Raut kesal yang biasanya tergambar pada wajah orang yang terjebak macet sama sekali tidak terlihat pada wajah Mikoto. Senyumnya merekah setiap kali dia menoleh ke kiri, mendapati Fugaku yang tersenyum karena lagu lawas yang mengalun, seolah mengiringi setiap kenangan konyol mereka.
"Ini dia!" Fugaku berseru sambil memutar setir ke kanan, membawa mobil yang mereka tumpangi memasuki jalan Uchiha, jalan menuju kediaman mertuanya, dan yang pasti lebih sepi dari jalan utama yang macet. "Kau yakin tentang ini?" tanya Fugaku.
"Hm, kita bisa makan malam di sana," jawab Mikoto.
"Bukan itu maksudku. Kau tidak mau mengunjungi ayahmu karena di kediamannya ada … kau tahu lah siapa yang kumaksud."
"Tidak usah berpura-pura tidak tahu, Tuan Uchiha."
Fugaku tertawa kecil. Dia harus menuntut balasan dari Sasuke atas apa yang sudah dia lakukan terhadap Mikoto. Berhubung dia akan libur selamanya di tempat rahasia bersama istrinya, dia bisa meminta Sasuke menangani bisnisnya.
Mikoto bersyukur dia dan suaminya tiba di kediaman Madara tepat saat jam makan malam. Dia cukup senang karena kedua putranya dan ayahnya ada di meja makan. Jarang sekali mereka berkumpul seperti itu. Dan satu lagi, walau berat, dia dapat melihat perempuan Hyuuga itu. Terlihat begitu kaku, berekspresi seoah baru melihat hantu.
Mikoto pura-pura tidak mempedulikan Hinata atau tatapan ketiga pria Uchiha yang memandangnya takjub. Dengan santai, dia menarik kursi yang berada tepat di seberang Hinata, lalu duduk. Berbeda dengan Fugaku yang memberikan senyum singkat pada Hinata, lalu sedikit menjelaskan apa yang membuat mereka singgah.
Hal lain yang membuat Mikoto lebih senang lagi adalah berbagai hidangan yang tersaji di meja, terlihat sangat enak. Dia yakin semua itu yang memasak Hinata. Walau belakangan dia tidak pernah datang, dia tetap menjaga komunikasi dengan kepala pelayan yang sudah dia anggap ayah sendiri.
"Ini lebih enak dari buatan Hizashi," kata Mikoto berpendapat tentang bayam gulung yang baru dia coba. "Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau takut? Mau melarikan diri dari semua ini? Kusarankan jangan, pria Uchiha selalu tahu bagaimana cara memenjarakan wanita, kalau tidak dengan cara halus, cara kasar pun sah bagi mereka."
Sasuke melirik Itachi yang duduk di sebelah kanannya. Pria yang dinobatkan sebagai pemilik suara paling merdu se-Jepang itu sedang mengunyah crostini yang diolesi coklat. Sasuke menyikut lengan Itachi, menuntut penjelasan. Itachi senyum-senyum penuh arti, kemudian melanjutkan kegiatannya.
Mikoto terus mengoceh, tetapi Hinata tidak punya kemampuan untuk membalas satu kata pun. Sedang Sasuke tidak bisa menghentikan ibunya. Di sana ada ayahnya. Terakhir kali Sasuke berbicara kasar pada ibunya di depan ayahnya, dia ditampar oleh ayahnya. Dia tidak ingin menimbulkan keributan.
"Kami punya ahli gizi di sini, dia akan merancang program dietmu dan sekaligus mengawasi prosesnya. Aku kenal istruktur senam terbaik di kota ini, aku akan menghubunginya untuk mengecilkan peru—"
"Kaa-san," kata Sasuke tajam.
"Sasuke-kun, jangan terlalu memanjakannya. Kalau dia terserang penyakit gara-gara kelebihan berat badan, kau lah orang yang paling menderita nantinya."
Ketika Sasuke hendak membantah, Hinata memegang lengan Sasuke, lalu menggeleng. "Aku akan melakukannya," bisik Hinata.
"Sasuke, sebaiknya kau dengarkan ibumu," ujar Fugaku.
"Menurutku juga tidak terlalu buruk. Itu bagus untuk kesehatan." Kakeknya pun mendukung.
Cara Mikoto berbicara pada Hinata memang tidak bisa dibilang baik. Mikoto melihatnya seperti seseorang yang tidak seharusnya berada di antara mereka, yang dipedulikan wanita itu hanya putranya. Meskipun tidak ada pernyataan bulat, Mikoto telah menerima bahwa tidak mungkin baginya untuk menjauhkan Hinata dari hidup Sasuke. Kalau dia bersikeras, hanya akan tersisa perang dalam hubungannya dengan Sasuke.
Kalau tidak bisa dijauhkan, Mikoto pikir, dia seharusnya bisa menerapkan diet sehat terhadap Hinata. Apa yang tidak ada? Ayahnya membayar seorang ahli gizi untuk mengawasi gizinya, keluarganya dan para pelayannya. Seharusnya sudah sedari dulu ahli itu dipakai untuk mengatasi masalah kekasih anaknya itu. Untuk pembentukan tubuh, mereka bisa memanggil seorang instruktur senam, yoga atau cara sehat lain yang dapat memperbaiki penampilan.
Diet Hinata akan menjadi tuntutan mertua terhadap menantu. Terdengar bagus. Mikoto terkikik karena pemikirannya sendiri.
Salah satu ruangan di kediaman Madara dikhususkan untuk menyimpan alat-alat musik Itachi. Tempat itu adalah surganya, ada lebih dari dua puluh instrumen di sana. Setiap kali kembali, Itachi pasti lebih banyak menghabiskan waktu di ruangan itu daripada di bagian lain mansion.
"Aku butuh penjelasan, Itachi!"
Teriakan itu sekali lagi bergabung bersama suara drum yang sedang dipukul Itachi. Saking kesalnya, Sasuke menendang bagian depan drum yang posisinya tidur, paling besar serta terletak di tengah-tengah perlengkapan drum yang lainnya.
"Apa lagi?! Satu masalah kita hilang! Bunyi drumku ini adalah suara hatiku yang bersorak gembira."
"Bagaimana itu terjadi? Tiga hari lalu, Kaa-san mengatakan dia tidak akan menginjakkan kakinya ke tempat ini kalau Hinata masih di sini."
"Kaa-san memakan umpannya," jawab Itachi singkat.
"Itu tidak menjelaskan apa pun!" balas Sasuke berteriak. "Bisakah kau hentikan hatimu yang bersorak ini?" kata Sasuke lagi, kali ini sambil menendang-nendang drum Itachi.
Itachi menggeram, lalu menghentikan permainannya. "Tou-san umpannya, Bodoh. Kau ingat novelku yang berjudul, Alasan Menjadi Pria Kaya?"
"Itu … kisah mereka berdua?"
"Seperti dugaanmu."
"Pantas belakangan ini wajah Kaa-san bersinar," gumam Sasuke.
"Sekarang tinggal Hinata, kau harus membujuknya keluar dari sini. Dia tidak bisa terus seperti itu. Berusahalah meruntuhkan ketakutan imajinernya itu. Semua ini kan perbuatanmu, maka pertanggungjawabkan."
"Aku akan turun."
Entah sudah berapa kali Hinata mengulangi kata-kata itu. Setiap kali dia siap, bahkan sempat menurunkan sebelah kakinya, dia menarik kembali kakinya, menyembunyikan kaki itu di dalam mobil bersama dirinya yang gemetaran.
Sasuke hanya bisa memperhatikannya. Dia sudah bilang tadi, dia bisa mengantarkan Hinata sampai ke depan kelasnya, tetapi Hinata menolaknya dengan alasan yang tidak bisa diterima. Jika hari ini dilewati dengan mulus, maka hari-hari berikutnya akan lebih mudah.
"Aku akan turun sekarang."
Tetapi, Hinata tetap duduk di dalam mobil. Pandangannya menembus kaca jendela mobil dengan cemas. Ada banyak sekali mahasiswa/i yang berseliweran di depan fakultasnya. Mereka semua jauh lebih menyeramkann daripada hewan buas di mata Hinata.
"Apa aku sudah turun?"
"Hinata, kau hanya turun dalam khayalanmu. Kau masih di tempat yang sama. Ayolah, aku bisa mengantarmu. Kalau kau seperti ini, Neji akan terus menyalahkanku."
"Baiklah. Aku akan turun!"
Hinta menarik-embus napas selama lebih dari lima menit.
"Sebentar lagi kau terlambat."
"Ini dia."
Akhirnya Sasuke mendengus. Dia turun dari mobil, kemudian berjalan lewat belakang mobil.
Hinata semakin gugup ketika Sasuke membuka pintu mobil lebar-lebar. Dia mencoba kabur ke sisi lain, namun Sasuke menariknya, hingga dia benar-benar turun.
"Ayo!"
Pagi ini, hari pertamanya kuliah, Hinata mengenakan tunik coklat tua berbahan tebal sepanjang setengah betis. Syal rajutan berwarna abu-abu melingkar di leher Hinata. Rambut gadis itu dipotong pendek karena kejadian akhir tahun lalu. Skinny jeans abu-abu serta sepatu bot coklat kesayangannya cukup untuk menghangatkan kakinya.
Wajah Hinata sangat biasa, putih pucat, tanpa riasan. Bibirnya pun tidak pernah berbagi kemesraan dengan produk-produk pemerah atau pun pelembab bibir, kecuali saat dia pergi ke Konoha Fashion Festival bersama Ino waktu itu.
Sepanjang perjalanan ke kelasnya, Hinata menunduk pasrah. Dia membiarkan dirinya ditarik Sasuke. Dia sangat yakin orang-orang sedang memandanginya sambil mencibir. Atau mereka mengasihani Sasuke.
Bagaimana tidak? Di mata mereka Sasuke itu tampan. Apa saja yang dikenakan pria itu, walau barang murahan, tetap tampak mewah. Sementara Hinata, sebagus apa pun barang yang dia pakai, semuanya jadi tampak jelek.
"Ini kelasmu, gedung dua puluh, lantai tiga dan ruangan enam puluh tujuh. Masuk sana!"
Hinata bergeming.
"Jadi, kau ingin aku mengikuti kelas Sejarah Peralatan Dapur?"
"Ti-tidak!" jawab Hinata cepat, kemudian masuk dengan perlahan ke kelasnya.
Teman-teman Hinata masih seperti biasa untuk beberapa saat. Beberapa sedang membaca buku resep, ada yang memainkan pisau dan ada yang merumpi. Tetapi, ketika mereka sadar akan kehadirannya ….
"Hinata! Ya, ampun! Aku berpikir kau masih sakit. Lihat wajahmu, bagaimana mungkin? Kudengar banyak bekas cakaran di sana."
"Kelas ini terasa kacau gara-gara ketiadaanmu."
"Hinata, ceritakan tentang mansion Madara. Kudengar kepala koki di sana mendapatkan gaji ratusan juta yen per tahunnya. Aku sangat bermimpi menjadi bagian dari dapur mansion itu."
"Aku lebih penasaran soal bioskop pribadinya."
Tidak semua temannya menyambutnya dengan baik. Ada satu yang Hinata pastikan sedang mencari muka. Sementara wanita-wanita yang biasa merumpi di sudut ruangan mengatakan hal-hal buruk tentang dirinya dengan keras, itu cukup menyakitkan. Tetapi, tidak seburuk yang dibayangkannya selama ini. Dia pikir dia akan duduk seorang diri dengan seluruh temannya membicarakannya sepanjang waktu, kecuali Tayuya, yang entah kenapa belum terlihat.
"Prince Charming and Fat Cinderella!" Wanita-wanita di sudut ruangan itu berseru kompak, kemudian tertawa terbahak-bahak.
Sasuke benar.
Selama ini dia takut pada cibiran orang-orang, hingga lupa untuk melihat sisi lain, yang tidak buruk.
Bagaimana dia bisa sebodoh itu?
Dia sendiri percaya, kehidupan bukan cuma tentang yang baik, tetapi yang buruk juga. Karena kebaikan dan keburukan itu sebenarnya saling mencintai. Seperti polisi yang menyayangi penjahat di sepanjang perjalanannya, buktinya polisi selalu mengejar penjahat.
Astaga! Itachi pun benar. Dia mengurung dirinya dalam ketakutan imajiner. Nyatanya ada banyak orang yang tidak peduli tentang dengan siapa dia berhubungan dan pastinya bisa dijadikan teman.
Sebelum pulang, Hinata hendak menemui walinya di ruang dosen untuk membicarakan rencana studinya di musim dingin dan musim semi tahun ini.
Ruangan itu cukup membuatnya risih. Dosen-dosen yang ada di sana memandangnya dengan mulut menganga. Di dekat meja yang terletak paling depan, ada Toneri yang sedang berdebat dengan beberpa dosen tentang kamp musim panas. Bertambah lah rasa risihnya.
Pendapat yang diungkapkan Toneri sama seperti yang pernah dia katakan pada Tayuya. Hanya saja Hinata tidak memiliki keberanian untuk membicarakannya secara langsung pada kepala jurusan. Hal itu justru memancing orang lain berpendapat bahwa Toneri memperjuangkan juniornya dan calon mahasiswa baru demi menarik perhatian Hinata.
Masalah itu sudah menjadi pembicaraan hangat di jurusan sebelum kamp musim panas berlangsung.
"Dia menjadi pria yang lebih baik karenamu," kata dosennya tiba-tiba.
Hinata menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas-remas tangannya, tidak berani memandang dosennya yang sedang memeriksa laporan nilainya musim gugur lalu. "Fuuma-san," bisik Hinata ragu. Dia menggigit bibir bawahnya. "Tolong berhenti membicarakannya."
"Hei, kau tak perlu tegang begitu. Maaf, jika itu mengganggumu."
"Eh?! I-itu ti-tidak perlu. Anda tidak seharusnya minta maaf. Saya minta maaf jika kata-kata saya tidak pantas."
Satu Jam Bersama NoRin merupakan talkshow yang tayang setiap sabtu malam, pukul sembilan. Biasanya acara itu tidak disiarkan secara langsung dan berjalan selama satu jam. Namun, khusus malam ini acara itu disiarkan secara langsung oleh Senju Channel, dan direncanakan berjalan selama dua jam, dihitung dengan iklan.
Kehadiran Uchiha Sasuke dan Hyuuga Hinata di acara itu sangat dinantikan. Produser memutuskan menambah jam tayang supaya rating acara mereka naik dan sesuai permintaan Sasuke, tidak ada penonton di studio.
Sasuke sebenarnya tidak pernah bersedia ikut acara-acara seperti itu. Dia ikut karena Hinata sendiri yang memintanya.
Saat mereka memasuki studio, bersalaman dengan pembawa acara, NoRin, Nohara Rin dan sedikit basa-basi, Sasuke tampak tak berminat. Sedang Hinata berusaha keras untuk tidak pingsan.
"Uchiha-san, kira-kira tiga per empat penduduk Jepang menyayangkan hubunganmu. Seharusnya, dengan penampilan seperti itu—apalagi sekarang kita tahu kau pewaris tunggal Uchiha Motors dan Uchiha Banks—kau bisa mendapatkan wanita paling cantik di Jepang ini. Tetapi, kau justru memilih bersama wanita, maaf, yang jauh di bawah standar kecantikan orang Asia. Orang-orang merasa, kau mungkin mengidap kelainan."
Sasuke mulai tertarik dengan pembicaraan itu. Dia mengangkat punggungnya dari sandaran sofa. "Nohara-san, aku, dengan yakin, mengakui bahwa kau jauh lebih cantik daripada kekasihku ini," ujar Sasuke santai. "Cobalah lihat, kau modis, langsing, tinggi, cerdas, rambut coklatmu itu terlihat indah dan matamu juga bersinar. Sementara kekasihku, dia gemuk, pendek, tidak tahu mengenakan riasan wajah, kuno dan tidak begitu pintar. Pertanyaannya, apakah aku harus memutuskannya, lalu berkencan denganmu karena kau jauh lebih cantik darinya?"
"Mana bisa seperti itu, Uchiha-san. Itu tentu berbahaya untukku. Jika kau bisa memutuskannya karena aku lebih cantik darinya, maka mungkin nanti kau akan memutuskanku saat kau menemukan wanita yang lebih cantik dariku. Lagipula, aku tidak mencintaimu. Semua orang tahu, ada pria bodoh di luar sana, yang jatuh cinta setengah mati padaku, pria yang tidak bisa kutinggalkan demi apa pun." Wajah Rin merona saat dia mulai membicarakan pria bodoh itu.
"Kau sudah menjawabnya. Jika ada yang berpikir aku bersamanya karena aku pengidap kelainan yang mana menyebabkan aku cenderung menyukai wanita gemuk, maka dapat dipastikan aku akan mengencani wanita-wanita bertubuh besar lainnya."
"Oke …." Rin jadi sedikit kikuk, baru saja dia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan. Itu membuatnya lebih banyak menjawab daripada Uchiha itu sendiri. "Hyuuga-san, kau ingin mengatakan sesuatu tentang itu?"
"Aku tidak begitu mengerti arti penting kecantikan/ketampanan dalam hubungan cinta. Aku … begitu takut terhadap dunia luar setelah video itu diedarkan. Bahkan aku melewatkan satu minggu kuliah di musim dingin ini karena terlalu takut bertemu orang lain. Sekarang pun aku merasa gugup. Banyak sekali hal jelek tentang diriku. Aku ada di sini karena ingin mengatakan sesuatu.
"Dua tahun lalu, aku bertemu dengannya di toko kue ibuku pada bulan Mei. Dia mengenakan kaos abu-abu berlengan pendek dan jins biru tua yang terlihat usang. Di pipi kanannya ada tompel dan dia mengenakan kacamata bulat berbingkai tebal. Rambut klimisnya dibelah tengah, terlihat seperti lelaki culun. Tapi, waktu itu, kupikir aku sudah menemukan pria paling tampan di dunia ini. Bagaimana pun dia sekarang atau nanti, aku tetap melihatnya seperti Uchiha Sasuke yang kulihat dua tahun lalu, bukan Hatake Kyousuke, yang—kalian harus tahu—belum genap setahun aku mengetahui fakta yang baru empat minggu ini kalian ketahui."
"Astaga!" Nohara Rin memekik. "Jadi—"
"Kau benar," sambar Sasuke. "Bukan hanya fans, aku pun membohonginya selama nyaris dua tahun. Hubungan kami hampir kandas waktu dia tahu kebenarannya."
"Itu pasti berat untukmu, Hyuuga-san," ujar Rin penuh perasaan. "Apa kau menyesal, maksudku, setelah apa yang terjadi padamu, mungkin saja kau menyesali semua ini?"
"Kalau kau berbicara dengan diriku seminggu yang lalu, aku akan mengatakan aku menyesal. Tetapi sekarang, tidak ada satu pun yang kusesali."
"Ada seorang pengguna Twitter yang mengunggah screenshot statusnya di Facebook. tayuya _appetizer. Begini katanya, "Kalian harus tahu, Sasuke itu lelaki bejat, lihatlah bagaimana dia bersikap pada orang lain dan bandingkan dengan Hinata-ku yang baik dan suka membuat orang lain bahagia. Pria itu berandalan, sepak terjangnya dalam kehidupan ini dapat dipastikan sama buruknya dengan iblis. Toneri-senpai masih lebih baik daripada Uchiha itu. Hinata dan Toneri-senpai akan menjadi pasangan yang serasi, mereka sama-sama koki yang hebat dan memiliki kepedulian terhadap orang lain." Bagaimana menurutmu, Uchiha-san?"
"Aku tidak tahu kenapa kau masih berteman dengannya," kata Sasuke pada Hinata.
"Dia datang jauh-jauh dari Otogakure ke Konoha untuk meminta maaf, mana bisa kuabaikan."
"Minta maaf? Lihat apa yang dilakukannya!"
"Uchiha-san," kata Rin memotong perdebatan sepasang kekasih itu.
"Itu benar! Tapi, mau sampai mati pun kalian berusaha mencocok-cocokkan sepasang kekasih, pasti ada saja yang tidak cocok. Ada hal yang tidak disukainya dariku, begitu pun sebaliknya. Tetapi, ini bukan persoalan serasi, tidak serasi, cocok, tidak cocok atau …. Sial! Kami bukan puzzle, kami manusia. Maka dari itu, berhentilah membicarakan ketidakcocokan. Kunci dalam hubungan itu adalah penerimaan, jadi bukan seperti bermain puzzle. Aku yakin, dengan kakak, ayah, adik atau bahkan ibu, ada saja kebiasaan mereka yang tidak cocok dengan pemikiranmu, begitu pun sebaliknya. Apa jika kalian menemukan ketidakcocokan itu kalian langsung berpisah dari keluarga?"
"Tentu saja tidak," jawab Rin sedikit malu. Dia tahu Uchiha Sasuke itu lebih muda lima tahun dibanding dirinya, tetapi pemikiran pria itu jauh lebih dewasa dibanding dirinya. Itu memalukan, bukan?
"Aku selesai dengan ini," kata Sasuke, kemudian kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Hyuuga-san." Rin menatap Hinata penuh harap. Jelas Sasuke mulai kesal, terlihat seakan ingin segera kabur dari studio itu.
Sisa waktu penayangan acara itu hanya diisi oleh jawaban-jawaban dari Hinata. Sasuke enggan mengatakan apa pun, karena dia yakin yang namanya hater fungsinya memang selalu dan selamanya untuk membenci. Dia tidak peduli tentang mereka atau pun mereka yang memujanya. Biarkan saja dia menjalani hidupnya dengan tenang bersama Hinata-nya tercinta.
Persetan dengan dunia, Sasuke memiliki segalanya hanya dengan memiliki Hinata.
