BREAKOUT!
Naruto Belongsto Masashi Kishimoto.
Terimakasih untuk dukungannya.
LA HOSPITAL CENTER
Semua mata tertuju pada sosok cantik berambut pirang yang berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Pandangan kegaguman terlihat dari mata mereka, entah kepakaian mahal dan berkelas yang dikenakannya, atau karena paras cantiknya yang diatas rata-rata. Ino hanya fokus berjalan, sesekali menyunggingkan senyum dibibirnya membalas sapaan beberapa tenaga kesehatan di rumah sakit ini. Sepertinya memang dia cukup terkenal disini, mungkin karena seringnya Ino berada disini. Mengunjungi kekasih hatinya.
SAKURA'S ROOM
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Yamanaka Ino langsung masuk ke ruangan salah satu ruangan yang sudah Ino tahu betul. Untung saja Sakura atau dokter residen bedah jantung lainnya sedang berada diruangan hari ini dan tidak bertemu dengan tamu hari ini, jika iya, ahh! Lupakan! Ino tak akan peduli. Dan Sakura sepertinya sudah sangat maklum perangai sang gadis pujaan. Jika bukan karena Yamanaka Ino, pasti akan diusir paksa oleh keamanan.
Ino POV
"Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu? Cepat sekali." tanya Sakura.
"Tentu saja. Sceneku kali ini tidak terlalu banyak."
Sakura hanya mengangguk-angguk mendengar jawabanku barusan. Inilah saat-saat yang kusuka, melihat Sakura sedang serius dengan laporannya. Matanya yang terbingkai kacamata berframe maroon fokus menatap laporan didepannya. Sesekali menulis entah apalah itu dengan tangan kirinya. Ya karena patah tulang tangan kanannya dulu, Sakura malah bisa menulis baik dengan tangan kiri atau tangan kanan. Gadisku hebat bukan? Haha.
"Kau melihatku lagi Ino."
Fuck! Aku ketahuan melihat Sakura dengan pandangan mata berbinar-binar. Uh brengsek! Pasti innernya berteriak penuh kebanggaan.
"Perasaanmu saja Nona! Cepat selesaikan laporanmu!"
Sakura tersenyum kecil, disingkirkannya laptop dan kertas laporan yang berserekan dimeja kerjanya.
"Kemarilah. Duduk disini Ino."
Entah apa yang dipikirkan olehnya. Aku hanya menuruti perintah Sakura untuk duduk dimeja kerjanya. Mungkin saja dia hanya ingin memeriksa denyut nadiku. Mungkin saja.
"Kali ini apa yang akan kau lakukan Sakura? Memeriksaku lagi eh?"
Sakura mendekatkan badannya diantara kakiku. Apa dia gila? Apa dia tak lihat aku pakai rok super pendek hari ini? Alhasil rok yang pakai tersingkap terlalu tinggi.
"Hari ini aku sudah memeriksa orang cukup banyak Ino. Aku sangat lelah. Inilah yang kubutuhkan seharian ini."
Kusambut bibir Sakura dimilikku. Menerima ajakan bibirnya menari dibibirku. Kecupan-kecupan ringan Sakura dibibir atasku entah kenapa membuatku merasa rileks. Aku suka! Kurangkul lehernya agar tubuhnya semakin mendekat ketubuhku. Menyesapi manis chery bibirnya. Kacamata yang dipakai Sakura tak membuatku merasa terganggu menjamah bibirnya. Lidahku beberapa kali masuk kedalam mulutnya, menggelitik organ perasa tak bertulang milik Sakura. Gelanyar aneh diperutku meledak saat lidahku dihisap dan dilumatnya pelan. Membuat cekeramanku dileher Sakura semakin kuat.
"Digudang bawah ada kasur yang tak terpakai. Apa kau keberatan?" ucap Sakura dengan senyum mesumnya.
"Pervert! Im on periode Sakura. Jangan menggodaku!"
Brengsek! Malah tertawa seenak jidat lebarnya. Jika aku tidak sedang haid hari ini, tak perlu repot-repot ke gudang, akan kutelanjangi dia saat ini dan disini. Pasti itu.
Aku turun dari meja kerja Sakura yang kududuki. Menurunkan rok pendek navyku yang sudah menyingkap terlalu tinggi. Bukan! Lebih tepatnya dibuka Sakura tadi.
"Berhenti tertawa brengsek! Ayo cepatlah. Aku sangat lapar Sakura!"
"Ayolah Ino. Jangan marah begitu."
Cih! Aku tidak marah, hanya saja sedikit merasa jengkel.
Sakura merangkulku mesra, senyum nakal diwajahnya sudah hilang. Wajah manisnya semakin mengagumkan ditambah kacamata yang tidak dilepasnya. Demi Tuhan! Walaupun Sakura bukanlah gadis tercantik didunia ini, aku selalu bersyukur mempunyai dia saat ini, dan kuharap akan selalu seperti ini.
"Ino, aku kangen makan sushi. Boleh?"
"Tentu saja Sakura!" ucapku seraya memeluk punggungnya dengan sebelah tanganku.
Ahh! Aku hampir lupa.
"Sakura, temani aku beli gitar. Kado ulangtahun temanku."
Sakura hanya mengangguk cepat menerima ajakanku. Ahh! Dia pacar yang siap sedia!
Ino POV End
Tak ada kecanggungan bagi mereka bermesraan ditempat umum. Menepis segala berita miring tentang keretakan hubungan asmara mereka selama ini. Sepanjang mereka jalan mencari apa yang mereka butuhkan, tangan kanan Sakura tak pernah absen merangkul intim pundak Ino. Senyum dan tawa selalu hadir di tengah obrolan ringan mereka. Berciuman ditengah jalanpun tak masalah bagi mereka, tanpa mempedulikan beberapa paparazi yang tengah mengabadikan moment itu.
"Temanmu yang mana sih? Kenapa kau tak pernah mengenalkannya?"
Ino hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Ino. Ekspresi wajahnya berubah. Mata birunya terlihat tak tenang.
"Ino?"
"Ah! Ya. Dia teman jauhku..." jawab Ino ragu.
"Begitukah? Teman universitasmu?"
"Oh. Hn... Tidak juga."
Sepertimya Sakura tidak menangkap sebuah keraguan dari kata-kata Ino. Dia hanya mengangguk membenarkan setiap perkataan Ino.
"Ahh! Ino. Itu dia!" seru Sakura sambil menunjuk sebuah toko alat musik.
Ino hanya tersenyum simpul. Gelagatnya sungguh aneh kali ini, seperti tak tenang karena menyinpan sebuah rahasia.
xxxxxxxxxx
INO'S APARTMENT
"Kau sudah pulang Sakura? Tumben sampai jam segini."
Sakura yang baru pulang dari rumah sakit langsung duduk duduk disofa bersama dua penghuni apartment lainnya yang sedang bersantaimenonton acara televisi.
"Sakura-chan, kesibukanmu bahkan melebihi Ino-chan. Aku jarang sekali melihatmu libur kerja."
Lee yang sedang tiduran disofa ikut menimpali kalimat singkat Tenten.
"Hahaha. Kau bisa saja Lee! Aku tadi ada operasi dadakan Tenten, salah satu pasien dirumah sakit tiba-tiba kritis, gagal jantung dan harus dioperasi dengan segera."
Tenten yang memang sudah paham betul dengan pekerjaan sakura yang diam dan mengangguk-angguk saja.
"Sakura-chan, gagal jantung itu apa sih?"
PLETAAK
"Tenten-chan! Kenapa memukulku? Hiks hiks."
Lee menangis. Wajar saja, seseorang pasti akan menangis jika dipukul dengan cukup keras dibagian kepala.
"Karena pertanyaanmu tidak mutu Lee? Apa dulu kau tak pernah sekolah haah?"
Sakura memandang Lee dengan wajah pucat pasi. Matanya melotot ngeri melihat Tenten yang begitu gahar dan barbar.
"A-ano Tenten, I-Ino? Dimanaya?" ucap Sakura dengan senyum penuh ketakutan.
"Tentu saja dikamar kalian Sakura."
Sakura langsung berlari ke kamarnya bersama Ino. Dia tak ingin bernasib sama seperti Lee tadi.
Sakura POV
Ya Tuhan! Tenten benar-benar mengerikan. Bahkan lebih mengerikan ketimbang Ino. Aku kasihan dengan Lee, semoga saja otaknya tidak rontok karena pukulan mematikan Tenten tadi.
Tanpa basa-basi lagi, aku langsung membuka pintu kamarku, ahh kamar Ino tepatnya. Aku tak sabar bermanja-manjaan ria dengan Inoku tersayaang. Hahahaha.
"Inoooo. Aku merindukanmu."
Aku berteriak cukup kencang dan berusaha memeluk Ino yang sedang fokus dengan laptopnya.
"Mandi dulu Sakura, baumu bahkan lebih asam daripada cuka!" ucap Ino berusaha menyingkirkan tanganku dibadannya.
Pembohong! Sebelum pulang, bahkan aku sudah mandi dirumah sakit. Aku selalu mandi setelah melakukan operasi.
"Kau bohong Ino! Kamu sedang datang bulan, makanya berusaha jauh-jauh dariku. Aku tahu itu!"
Ya tentu saja. Ino tidak ingin merasa 'terbarkar' saat dia sedang menstruasi. Rasanya benar-benar menyebalkan. Aku tahu itu.
"Minggir sekarang atau kusuruh kau tidur dikamarmu yang dulu!"
Aku langsung melepas pelukanku dibadan Ino. Wajahnya mengerikan saat marah. Kuralat perkataanku yang tadi, wajah Ino dan Tenten sama mengerikannya saat sedang marah. Sungguh! Lagipula aku juga tak mau kembali ke masa-masa penjajahan dulu, tidur sendiri tanpa bisa memeluk Ino. Wow! Tidak!
Tanpa sengaja aku melihat ke arah laptop Ino yang ada didepan. Mataku berbinar-binar melihat deretan cincin yang terpampang dilayar laptop Tuhan! Itu berapa karat yaa?
"Cantiknyaaaa. Wow!"
"Aku jadi ambassador untuk produk ini Sakura."
Sebenarnya aku tak begitu suka dengan cincin yang terlalu besar, apalagi dengan berlian atau permata yang besar ditengahnya. Wee! Kalau yang itu selera nenekku. Bukan aku.
Sebuah ide terlintas diotakku. Langsung saja kusambar mouse yang dipegang Ino. Tak kupedilkan cercaannya yang menyakitkan hati itu. Toh aku sudah cukup merasa terbuasa dengan mulut tajamnya juga. Kutekan salah satu pilihan yang tersedia. "Engagement Ring"
"Cincin pertunangan? Kau ingin tunangan dengan siapa hah?"
Pertanyaan super bodoh! Konyol!
"Tentu saja denganmu Ino. Dengan siapa lagi hn?"
"Cih. Tapi aku belum menyetujuinya Sakura. Akan kupikir-pikir dulu. Kau ingat?"
Apa dia tak ingin bertunangan denganku? Brengsek! Kupukul pelan lengan kanan Ino yang kecil itu. Inginnya aku ingin memukulnya keras, sama seperti saat Tenten memukul Lee tadi. Hanya saja aku tak tega. Dan tentu saja takut.
Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi sunnguh! Mataku nyaris copot saat menatap layar laptop dengan gambar sebuah cincin hitam mengkilat dengan dua berlian kecil yang tertanam didalamnya. Ahh! Satu lagi! Dari deskripsinya tertulis jika bisa dipesan dengan ukiran nama dua mempelai. Ya Tuhan! Pasti akan keren jika terukir namaku dan Ino. Nama panjang atau panggilan saja ya? Hn. Aku bingung!
"Ino! Ino! Aku ingin yang ini untuk tunangan kita."
"What? No! Are you insane? Cincin hitam untuk tunangan? Gila! Tidak mau."
Ada apa dengannya? Apa yang salah dengan cincin ini?
"Kenapa?"
Aku berusaha memelas mungkin dihadapan Ino. Biasanya tatapan mataku ini bisa meluluhkannya.
"Terlihat tidak sakral bahkan tidak ada nilai mewahnya. Ah! Bahkan lebih terkesan main-main. Aku tidak mau! Titik!"
Tidak sakral? Tidak mewah? Kurasa memang mata Ino yang bermasalah.
"Dan satu lagi. Jangan melihatku dengan tatapan seperti itu. Membuatku mual!"
Brengsek! Perkataan macam apa itu? Bersamanya dua tahun aku tidak pernah dengar dia memujiku. Aku jadi meragukannya. Apa dia benar-benar mencintaiku?
"Kemarikan mousenya!"
Ino merebut mouse yang sedang kupegang.
"Yang ini baru bagus. Terlihat mewah dan elegan. Aku suka. Seleramu yang tadi sungguh buruk Nona."
"Ya Tuhan Ino! Apa matamu bermasalah? Bukankah itu sama saja dengan yang tadi?"
Ya memang sama. Modelnya sama persis. Dua berkian yang ternanam juga sama persis. Hanya saja...
"Ya Tuhan Sakura! Apa matamu buta? Bukankah yang ini berwarna putih? Lebih normal daripada yang tadi?"
Brengsek! Ya! Mungkin aku juga buta karena begitu mencintaimu.
Dan normal? Apa maksudnya itu? Apa pilihanku tadi tidak normal?
"Cincin putih sudah terlalu mainstream Ino. Sudah banyak dipakai. Kalau hitam kan unik dan langka."
Ino memutar bola matanya bosan. Debat panjang akan dimulai. Dan aku tidak akan mengalah kepadanya.
"Bukan mainstream Nona! Tapi normal untuk dipakai sebagai cincin tunangan. Dan hitam bukan unik atau langka tapi aneh! Weird! Paham kan? Aneh!"
Ingin sekali kutonjok wajahnya yang menyebalkan itu. Mengatakan aneh tepat didepan mataku. Sepertinya Ino sedang tidak mencerca cincin pilihanku, tapi aku! Ya dia mengatakanku aneh! Brengsek!
"Aku tak peduli Ino! Yang jelas aku mau yang hitam untuk cincin pertuanangan kita!"
"Terserah kau saja gadis aneh! Cari orang lain yang mau memakai cincin brengsek itu!'
Fuck! Gadis bodoh! Gadis kasar! Gadis bermulut tajam yang super menyebalkan!
"Bukan cincinnya yang brengsek Ino. Tapi kau! Kau yang brengsek! Aku membencimu!"
Aku bangkit dari kasur Ino dengan wajah yang semenyeramkan mungkin. Tapi percuma saja! Si pirang tetap angkuh tak peduli melihat kemarahanku. Ahh! Brengsek! Dasar gadis tak peka!
Sebaiknya aku mandi saja. Berendam dibathup dengan gelembung-gelembung sabun yang banyak mungkin dapat menghilangkan setres otakku karena gadis pirang brengsek itu.
Sakura POV End
CEKLEK
Tampaknya Sakura tak menyadari Ino yang sudah berada dikamar mandi bersamanya. Entah karena posisi Sakura yang membelakangi Ino, atau mungkin karena musik yang mengalun begitu kerasnya di tempat ini. Senyum licik diparas cantik Ino berkembang saat mata birunya melihat Sakura yang sedang bermain-main sabun dibathup.
"And it's the only thing we take with us when we die..."
Sakura tetap bernyanyi, mengikuti alunan musik dari mp3 player yang dibawanya. Tak menyadari dibelakangnya ada Ino yang mulai melepas kaos dan celana pendeknya.
"So you can keep me inside the pocket of your ripped jeans. Holding me close until our eyes meet. You won't ever be alone..."
Ino berjalan pelan dengan tubuh yang sudah telanjang bulat. Berusaha sehati-hati mungkin agar tidak sampai diketahui Sakura.
"And if you hurt me, that's okay baby, only words bleed. Inside these pages you just hold me. And I won't ever let you go..."
Sakura kaget mendengar seseorang melanjutkan nyanyiannya. Wajahnya menunjukan keterkejutan yang hebat bukan karena suara merdu Ino yang pantas disebut sebagai penyanyi, namun karena sadar Ino sudah berjalan dengan tubuh yang telanjang bulat. Namun hal itu tidak membuatnya keberatan saat Ino masuk kedalam buthup bersama dengannya. Terlihat jelas kemarahannya kepada Ino yang begitu membara lenyap sudah.
Ino duduk diatas pangkuan Sakura. Untung saja ukuran bathup di kamar Ino cukup besar untuk dua orang.
"Harusnya bagian yang kau nyanyikan itu milikku Ino." ucap Sakura sambil mengguyurkan air ke punggung Ino.
"Bukankah sama saja? Milikmu itu milikku Sakura."
Sakura hanya bergumam saja mendengar jawaban Ino. Mulai menggosok punggung Ino dengan lembut, sambil sesekali mengambil kesempatan menjamaah bagian tubuh Ino yang menjadi favoritnya.
xxxxxxxxxx
LOKASI SYUTING
CAMERA ROLLING ACTION!
"Maafkan aku." ucap seorang pemuda pada gadisnya.
Mata hijau suramnya menunjukan penyesalan yang sangat, wajah putih pucat seperti mayat, bekas luka sayat dipipi kananya tidak mengurangi kadar kegantengan diatas rata-rata, jaket merah maroon yang kotor compang-camping tak membuat gadis pirang didepannya merasa jijik dan risih.
"Aku tahu. Maafkan aku juga." ucap si gadis pirang.
Sang gadis yang tampak kalut memeluk erat pemuda zombie didepannya.
"I miss you G." ucapnya dengan air mata yaang sudah memenuhi mata birunya.
"Aku juga Julie."
"Ini lucu. Kau lebih hangat dari yang kuingat G."
Pemuda yang dipanggil G hanya tersenyum simpul mendengar penuturan sang gadis. Ada pancaran kelegaan yang terlihat jelas dimanik hijaunya. Sedangkan sang gadis hanya memeluk nya erat dan erat seakan tak ingin kembali berpisah dengan penyelamat sekaligus zombie pembunuh pacarnya terdahulu.
AND CUT
"Sempurna! Allright! Break dulu anak-anak. Kita lanjutkan 10 menit lagi." ucap sang sutradara dengan pengeras suara
Ino POV
Ya Tuhan! Ini sudah hampir jam 12, tapi proses syutingku masih belum selesai. Bukan karena aku merasa letih atau apalah itu. Hell, aku sudah sangat terbiasa dengan jam kerja tak tentu saat syuting. Hanya saja, aku mengkhawatirkan gadisku yang berada dirumah sendirian.
"Kau memang tidak sekurus dulu Ino?"
Gaara yang sebagai si pemuda zombie G berbicara kepadaku. Sama seperti Sasuke, dia tipe manusia yang minim ekspresi. Jika kalian tidak mengenalnya dengan baik, pasti ada hasrat ingin menonjok Gaara saat berbicara dengannya, seperti Naruto dulu. Tapi hal itu tidak berlaku untukku, walaupun sudah lama tidak berjumpa dengannya, tidak membuatku seketika lupa maksud dari ekspresi datarnya.
"Kau bukan orang pertama yang mengatakannya Gaara."
Aku hanya menjawab sekenanya. Mataku fokus dengan ponsel yang kubawa. Berusaha membalas pesan dari Sakura dengan cepat.
"Benarkah? Lalu, apa yang sedang kau lakukan? Seingatku kau tidak pernah menggunakan ponsel saat sedang break syuting."
Jika kau sudah sangat mengenal Gaara, kepribadiannya yang annoying akan terlihat sangat jelas.
"Aku membalas pesan dari Sakura, Gaara."
"Oh. Tiga tahun bersamaku, bahkan dulu saja kau tak pernah membalas pesanku saat sedang syuting Ino. Sakura banyak merubahmu."
Itulah yang kumaksud annoying. Gaara memang orangnya seperti itu, selalu mengungkit masa laluku dengannya beberapa waktu yang lalu. Ya! Kami memang pernah berhubungan tiga tahun lamanya. Itu hubungan terlamaku dengan seseorang. Bahkan Sakura sempat setres berat saat tahu aku dan Gaara menjadi pasangan difilm ini. Hahaha.
Tapi yang jelas yang dikatakannya itu hanya bercanda. Walaupun wajahnya datar dan tanpa senyum atau tertawa, tapi yang dikatakannya hanya lelucon saja. Aduh, bagaimana aku menjelaskannya ya?
"Mr. Producer sudah menghubungimu? Dia mengajak kita ke cafenya."
"Ya. Dia tadi sudah memberitahuku."
Mulutku memang tajam, dan kadang sikapku kasar terhadap Sakura. Tapi aku masih punya hati dan tata krama dalam berhubungan. Aku tadi sudah ya semacam izin mungkin, ke Sakura jika Mr. Bee megundang kami ke pesta ulang tahunnya bersama Gaara. Hell. Pasti alasan inilah yang membuatnya sampai membuatnya tidak bisa tidur.
"Ino, aku ikut mobilmu ya. Milikku sedang dibengkel." kata Gaara.
"Tak biasanya? Baiklah. Ah! Dan jangan protes dengan cara menyetir Lee!"
"Baiklah Yamanaka."
Ya memang tak biasanya Gaara yang seorang perfeksionis dan pecinta mobil terpaksa tidak pakai mobil karena dibengkel. Tapi terserah sajalah. Yang penting dia tidak rewel dengan cara menyetir Lee yang menurutku cukup barbar.
"Ayo anak-anak! Lanjutkan yang tadi!"
Kalian dengar bukan teriakan sutradara barusan? Yah. Aku harus kembali berperan menjadi Julie, seorang gadis yang mencintai zombie G.
xxxxxxxxxx
LA CLUB
Oh Fuck! Telingaku serasa terbakar. Mataku sakit, kepalaku pusing karena lampu sorot brengsek di club malam ini. Ahh! Aku benar-benar muak. Jika tidak karena Mr. Bee yang ulang tahun, aku tidak akan kesini. Sungguh.
Aku duduk disofa merah ini sendirian. Yang lainnya? Entah! Lee dan Tenten? Seperti biasa, mereka asyik berjoget dibawah seperti monyet gila! Gaara? Dia dibawahku! Oh. He-ei jangan berpikir macam-macam! Gaara terkapar dilantai dibawahku persis. Benar-benar merepotkan! Sudah tahu tidak kuat minum, malah nekat minum satu gelas penuh vodka. Tak tahu diri!
GRAAB
Fuck! Aku melompat seketika begitu sesuatu memegang kakiku. Refleks kakiku langsung menendang sesuatu itu, ah bukan, tepatnya seseorang yang sudah kutahu itu siapa.
"Aaawww. Sa-sakit." Garaa merintih kesakitan.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan brengsek? Kau mengagetkanku."
Dia bangkit dari rebahannya dengan wajah kesakitan. Oh God, aku menyesal sudah menendang perutnya cukup keras. Tapi, salah dia sendiri!
"I-iino...a-aaku..."
Nafasku tercekat begitu melihat keadaan Gaara dengan benar. Wajahmya pucat pasi menahan sakit, kedua tangannya memegang perutnya. Ya Tuhan! Kali ini tangan kanannya menutupi mulutnya. Oh shit! Apa dia akan mati? Oh tidak-tidak!
"Ya Tuhan Gaara! Kau kenapa? Apanya yang sakit?"
Aku berjongkok, membantunya duduk disofa ini. Brengsek! Kenapa dia begitu berat? Padahal tubuhnya kurus kering. Sial! Aku benar-benar kepayahan membantunya untuk duduk.
"Ma-mana? Yang mana yang sakit?" tanyaku gagap.
Melihatnya kesakitan seperti ini benar-benar membuatku tak bisa berfikir dengan jernih. Maafkan aku Gaara, aku benar-benar menyesal.
"I-inoo...a-aku ingin..."
"Ingin apa Gaara? Brengsek! Bicaralah yang jelas."
"Mun-muntah. Hoeekk."
Brengsek! Sialan kau Gaara! Entah dengan kelakuannya seperti ini, kenapa aku bisa bertahan tiga tahun bersamanya? Brengsek kau!
Aku bergegas menyeretnya untuk ke kamar mandi. Sebenarnya bisa saja aku meninggalkannya disini dan menyuruhnya muntah dimana saja, tapi, hei! Itu tidak manusiawi. Lagipula aku tidak ingin dia sampai kena masalah dengan polisi, kalian ingat? Kami sedang ada proyek film bersama.
Sebenarnya selama ini apa yang dia makan? Kenapa berat seperti ini?
"Gaara, berjalanlah dengan benar!"
Aku benar-benar kesulitan memapah Gaara. Haaah! Dia minum satu gelas dan mabuknya seperti minum dua botol. Dia mirip dengan Sakura.
"I-ino a-aku su-sudah tak kuat..."
Brengsek! Dimana yang lainnya? Argghhhhhh!
Tanpa berfikir panjang, aku langsung saja membawa Gaara ke toilet wanita. Tak kupedulikan tatapan penuh selidik dari beberapa wanita yang berada di toilet yang sedang bisik-bisik.
'Menjijikan! Mungkin mereka tidak mampu bayar kamar hotel. Hahaha.'
Brengsek! Wanita rendahan! Apa yang dia bicarakan?
"Kalian wanita jalang! Tutup Mulutmu! Kau tidak mengerti apa yang kau ucapkan! Enyahlah!" teriakku semenakutkan mungkin.
Dua wanita itu lari terbirit-birit ketakutan. Biar saja! Siapa suruh tak bisa menjaga mulutnya dengan benar. Bodoh!
Aku membantu Gaara memuntahkan isi perutnya. Menekan belakang lehernya kuat-kuat. Sebenarnya aku merasa jijik, hanya saja rasa penyesalanku karena menendang perutnya tadi.
"Ayolah Gaara! Cepatlah!"
Ini benar-benar memalukan! Para gadis yang berada masuk ke toilet ini melihatku dengan pandangan menjengkelkan. Sial! Aku ingin mencungkil mata mereka.
CEKREEEK
"Brengsek! Siapa yang tadi memotretku?"
Aku berteriak kencang menghadap gerombolan gadis yang memotretku dari belakang. Sepertinya menyadari siapa aku dan Gaara.
CEKREEK CEKREEK CEKREEK
Ah! Brengsek!
"Cepatlah Gaara!"
Ino POV End
TBC
