"Hai! Namaku Hinata."
Namaku Hinata. Aku Hinata."
"Ku Hinata!"
Pletak
"Iitaaii!"
"Diam setan. Semua orang sudah tahu kau Hinata, sekarang pergi dari depan kameraku! Lagipula aku tak sedang merekam video." Hinata mengelus kepalanya dengan tangannya sambil memamerkan bibir bebeknya ketika lelaki yang baru saja mengetuk kepalanya melangkah pergi.
Ini menjengkelkan! Kami baru saja resmi pacaran semalam dan lelaki itu sama sekali tak ramah padaku. Sedikit info saat ini kami tinggal disatu rumah tapi terkadang aku juga tinggal di rumahku dan yang paling penting.
Hah?!
Kau kira ini cerita cinta romantis?
Hei!
Kau ingin lihat cerita cinta romantis?
Biar aku tunjukan apa itu romantis.
"Hiaaaaaatttt!" Hinata berlari kencang menuju Naruto yang sibuk dengan kemarenya dan melayangkan samping badannya ke punggung Naruto yang menyebabkannya melayang jauh.
Bracckkk!
Naruto berakhir di tumpukan kardus-kardus di ruang tamu tak jauh dari dimana Hinata berada tadi.
"Iitaaaaiii! Kau gila ya?! Apa kau ingin membunuhku?!" Marah Naruto terkejut pada Hinata yang telah berdiri di hadapannya dan menatap nya tak suka.
"Hm!" Hinata memalingkan wajahnya dan melangkah pergi dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Hah?!" Naruto menatap tak percaya kelakuan pacar baru nya itu.
Kalian lihat itu?
Hah?!
Kalian kira ada cerita cinta romantis disini?
Oh ada, itu hanya ketika dia sedang senang dan memperbaiki suasana romantis yang menyenangkan ketika aku merusaknya.
Tapi ketika dia sedang tak mood. Lihatlah kelakuan monster nya itu.
Tak habis pikir bagaimana bisa aku menyukai perempuan itu.
Tapi...
Naruto tersenyum lucu sambil membersihkan lensa kameranya dengan jari jempolnya.
"Aku tetap mencintainya."
"Awww.. So cweet..." sebuah kepala lengkap dengan cengiran bahagia muncul dari balik dinding yang membuat Naruto membalikkan badan dan menatapnya.
Grap!
Belum sempat Naruto berkata, Hinata telah berlari ke arahnya dan memeluk lehernya erat.
"Aku juga mencintaimu." ucap Hinata senang.
.
.
.
Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Love story
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Love story by author03
Uzumaki Naruto x Hyuga Hinata
Romance\Drama
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 14
(Season 2)
.
.
.
Naruto pov
"Apa lagi?!" aku bertanya dengan kesal ketika makhluk kecil didalam mobil itu lagi-lagi tak mau keluar dari dalamnya.
"Dulu aku melihat kau meraih tangannya dan menciumnya. Mengapa kau tak lakukan hal itu padaku?" dia bertanya dengan pipi mengembungnya.
Ya, jujur ku sengaja selalu membuatnya kesal karena dia terlihat sangat manis dengan itu tapi tetap saja terkadang tingkah nya menjengkelkan.
"Keluar atau aku kunci." ucapku dingin dan mau tak mau dia pun beranjak keluar.
Braaackkk!
"Kau ingin menghancurkan mobilku?!" marahku ketika dia menutup kuat pintu mobilku tapi dia malah mengabaikan amarahku.
Tet
Aku mengunci mobil dengan remot kecil yang di gantung pada kunci mobilku.
Niatku berjalan pergi tapi makhluk tadi malah meloncat ke punggung ku.
"Gendong aku ke kelas." ucapnya.
Aku mengerak-gerakan badanku guna menurunkannya tapi dia malah mengencangkan pelukannya di leherku dan ikatan kakinya di pinggangku.
"Baiklah baiklah." mau tak mau pun aku mengendongnya pergi.
Diam diam aku tersenyum lucu.
Dia sangat manis, dia tahu caranya membuatku tak mengabaikannya.
"Fuhh.." aku sengaja mengabaikan dia yang sengaja meniup daun telingaku dan memainkan kuku jari telunjuknya di pipiku.
Sentuhannya sangat imut. Iya, sangat manis dan lucu sebelum..
"Aarrgghh!"
"Kaaaaahhh! Kau gila!" dengan terkejut dan reflek aku melempar makhluk di punggungku tadi ke lantai dengan cara mengoyang kuat.
"Aaaa iitaaii!"
Naruto pov end.
.
.
"Apa kau gila?! Ini sudah ke kali berapa kau mengigit telingaku?!" maki Naruto masih dalam keadaan syok.
Hinata berdiri sambil menyapu telapak tangan dan rok bagian bokongnya, tak lupa dengan bibir mengerutnya pertanda ia tak suka.
"Kau jahat sekali membuangku seperti itu?! Lagi pula siapa suruh kau mengabaikanku!?" jawab Hinata tak suka. Lelaki ini senang sekali mengabaikannya. Terkadang dia sedang senang dan romantis tapi setiap harinya dia selalu dingin pada Hinata. Membuat Hinata mengekorinya layaknya pengikut. Dia membuat Hinata seperti bukan siapa-siapanya. Itu menjengkelkan!
"Tetap saja tak boleh begitu. Lihat saja Sakura bahkan tak pernah melakukan hal kekanakan seperti itu. Hah~!" Naruto menghela nafasnya kasar dan melangkah pergi meninggalkan Hinata.
Diam-diam senyum tipis nan singkat menghiasi bibirnya lagi.
Hinata menatap tak suka dan kecewa Naruto. Mengapa dia selalu membandingkan Hinata dan gadis itu?
Tak ada hal yang baik selama setengah tahun pacaran ini. Naruto menjengkelkan!
.
.
.
"Pagi yang cerah, Hinata." senyum secerah matahari pagi itu menyapa tapi sayangnya tak berhasil menghilangkan bibir bebek di bibir Hinata.
"Menjengkelkan!" Hinata menghentakkan satu kakinya sebelum melangkah pergi, meninggalkan teman bersurai perak yang baru saja menyapanya.
"Hah~" ia kehabisan kata-kata. Mengapa temannya itu suka sekali mengerjai pacarnya ini? Apa dia tak takut gadis ini berpaling hati karena sikapnya itu?
.
.
.
Teng
Tong
Bel istirahat berbunyi beberapa saat yang lalu.
Terlihat Hinata dan temannya, Ino kini terduduk di salah satu bangku panjang di kantin yang mulai di penuhi banyaknya manusia berseragam.
"Dia dingin sekali padaku. Aku jadi ragu dia mencintaiku atau tidak." jelas Hinata cemburut sambil memainkan pipet di botol minumnya.
"Bagaimana jika kita mengetest nya?" saran Ino terduduk diseberang Hinata.
"Caranya?" tanya Hinata.
"Dekati lelaki lain." jawab Ino cepat dan Hinata berpikir sejenak.
"Toneri?" Hinata menyebutkan nama yang kini ada di pikirannya.
"Jangan dia. Hehe." jawab Ino cepat. Siapapun boleh asal bukan lelaki perak itu. Alasannya? Rahasia. Hehe.
"Tak ada orang lain selain dia." ucap Hinata. Lima bulan lalu mereka telah menduduki kelas tiga. Darimana bisa ia mencari seorang cowok untuk membuat Naruto cemburu?
"Tidak tidak. Rencana lain. Hmm?" Ino berpikir keras.
"Oh, aku tahu. Dia kan tak suka kau memakai lipstick merah itu. Pakai saja setiap hari supaya dia memperhatikan mu." saran Ino bersemangat dan Hinata berpikir sejenak.
"Kurasa itu bukan rencana yang bagus. Apa kau ingat kejadian dimana terakhir kali aku memakai lipstick merah itu?" Tanya Ino dan kedua manusia itu pun saling menerawang ke atas..
.
.
Flashback.
"Kyaaaaahhh! Tidak! Bibir merah ini sangat bagus! Lepaskan aku!"
Brackk!
Naruto menjauh ketika kaki Hinata menendang kuat perutnya yang berada di atas nya.
"Pergi Naruto! Aku tak mau!" Hinata berlari mengelilingi rumah dengan rambut kacaunya karena terus bergesek dengan ranjang di kamarnya tadi dimana Naruto menduduki perutnya dan memaksa menghapus lipstik merahnya sebelum ke sekolah.
"Kembali kau Hyuuga!" Naruto mengejar Hinata kemanapun dia pergi dengan selembar kapas yang telah di beri toner di tangan kanannya.
"Pergi! Pergi! Pergi! Ini lipstik merah pengeluaran terbaru! Tak mungkin aku tak memakai nya!" Pekik Hinata yang sudah terpojok di dinding, hanya barang-barang kecil di lemari disebelahnya yang bisa membantunya mengusir Nasuto tapi sayangnya tak berhasil. Dia terus saja mendekat.
Tap!
Naruto menempelkan kesal satu tangannya ke dinding guna menghalang jalan keluar Hinata dan cukup membuat Hinata menatapnya layaknya anak kucing yang hampir mati kelaparan.
"Kau ingin hapus itu dengan kapas atau bibirku?" tanya Naruto kesal.
.
.
.
Flashback end.
"Hahahahaha.." tawa Ino langsung pecah ketika kejadian yang Hinata ceritakan kemarin kembali melintasi otaknya.
"Dia menciumku sampai aku hampir kehabisan nafas dan mati." tambah Hinata frustasi. Itu adalah kejadian yang paling megerikan dalam hidupnya selama ini.
"Dan hahaha dan kau mengigitnya hingga dia ke sekolah dengan bekas gigitan di bawah bibirnya. Hahahahah.." itu sangat lucu. Seandainya saja kalian melihat bekas gigitan rapi Hinata yang berbentuk setengah bulatan disana. Itu terlihat seperti Naruto terus menjulurkan lidahnya. Hahahaha
Tapi karena hal itu, mereka jadi berjauhan selama beberapa hari dan tiba-tiba baik entah kapan dan bagaimana.
"Tapi tak apa. Anggap saja demi mendapatkan perhatian darinya." Ino berbicara dengan serius setelah puas tertawa.
"Oo ok. Kalau begitu mari kita ke mall setelah pulang sekolah." ajak Hinata dengan cengirannya.
"Woke." Ino menyetujui sambil membalas cengiran Hinata dengan cengirannya.
.
.
.
15.33
"Dimana setan kecil itu?" Naruto menatap kesal jam tangannya dan kembali bersandar ke pintu mobilnya. Semua manusia di sekolah ini sudah hampir tak lagi kelihatan tapi dimana Hinta? Dia mengatakan ingin ke toilet tapi malah belum muncul sampai sekarang?
Ting
Naruto meraih ponselnya yang baru saja berbunyi menandakan masuknya sebuah pesan.
aku dan Ino ke mall, kau Pulanglah dulu. Oh, iya. Aku sengaja baru memberitahumu sekarang. Bye bye cinta. Muachh..
Satu sudut bibir Naruto terangkat dan berkedut karena membaca pesan yang baru saja Hinata kirimkan. Sengaja? Berani sekali dia mengatakannya.
.
.
.
.
00.23
Klik
"Aku pulang." bisik Hinata setelah membuka pintu rumah dan mengamati sejenak dalamnya yang sudah gelap dan hanya di terangi sedikit cahaya lewat jendela.
Setelah merasa aman, ia pun melangkah masuk kedalam tapi langkahnya berhenti karena lampu tiba-tiba menyala.
"Kau dari mana?" Hinata menatap suara yang berasal dari seorang lelaki bersurai kuning dengan piyama coklat di badannya.
"Aahaha.. Belanja." Hinata menyembunyikan kilat lebih dari lima kantong belanjaan ke belakang nya ketika lelaki tadi telah berada di hadapannya.
"Apa yang kau beli?" tanya nya was-was.
"Bukan urusanmu, Naruto ku sayang." jawab Hinata dengan senyum manis penuh rahasianya.
"Biarkan aku melihatnya." Naruto berusaha merebut kantong belanjaan di belakang Hinata tapi Hinata langsung menghindar.
"Hanya pakaian dalam." ucap Hinata.
"Aku ingin melihatnya." Naruto masih pada pendiriannya. Naruto masih ingat jelas terakhir kali gadis ini pulang dengan beberapa kantong belanjaan yang dipenuhi lipstik, bulu mata dan banyak hal yang tak penting. Ia sungguh tak mau kejadian itu terulang lagi.
"Tak sopan mengintip pakaian dalam perempuan, Naruto." jelas Hinata sok pintar.
"Tak perduli. Kemarikan." Naruto merebut paksa enam kantong belanjaan di tangan Hinata dan akhir nya terjadilah acara tarik-menarik.
"Jangan. Aku serius." Hinata menarik kantong-kantongnya tapi Naruto semakin kuat menariknya.
"Kemarikan!"
"Oo baiklah." Hinata melepaskan pegangan nya yang membuat Naruto kehilangan keseimbangan dan terjatuh setelah termundur beberapa langkah setelah melayangkan kantong-kantong ditangannya ke udara.
Brackk..
"Ups.. Bye bye." Hinata langsung berlari pergi dengan kecepatan extra meninggalkan..
Meninggalkan Naruto yang kini membeku dilantai dan dipenuhi kecoa.
Kecoa?
Kecoa!
Hidup!
Sungguh hidup dan kini mengeliat dimana-mana termaksud di badan dan kepala Naruto!
Sungguh menjijikan!
"HINATA!"
.
.
"Ha?!" Toneri tersiaga dari alam bawah sadarnya ketika suara super nyaring mengagetkannya.
Hinata?
.
.
.
"Hoaamm" Hinata menguap setelah terbaring ke atas ranjangnya.
Ngantuk sekali. Ia harus pulang tengah malam hanya untuk pekerjaan itu. Melelahkan sekali. Ia mengantuk, ini sudah sangat larut.
Tanpa rasa bersalahnya, Hinata memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi. Oh, tentu saja ia telah mengunci pintunya untuk berjaga-jaga akan ada penjahat yang masuk ke kamarnya layaknya pembunuh.
Iihh.. Mengerikan. (Ps: kamar naruto dan Hinata terpisah karena belum sah :v)
.
.
.
03.21
"Kau akan tahu akibatnya Hyuuga."
Sreet
Sreet
Sreet
Gigi-gigi Naruto saling terkatup kesal. Si sialan itu membuat nya harus membereskan kecoa itu selama dua jam karena sialan kecil itu terus saja lari kesana-sini.
"Lihat saja kau Hyuuga. Kau akan menyesal."
Sreet
Sreet!
.
.
.
.
Besok paginya.
"Muach" Hinata mengecup udara di hadapan cermin setelah selesai melapiskan lipstik merah ke bibir nya.
Teet
Teet!
Klakson mobil berbunyi.
"Naruto pasti sudah menunggu. Semoga saja dia tak marah. Hehe."
.
.
.
Naruto segera keluar dari dalam mobil dan berlari menuju kamar Hinata dilantai dua setelah menekan klason.
Klik
Cip
"Mmppphhh! Apa-apaan ini?!" Pekik Hinata syok ketika ia hendak melewati pintu kamarnya malah terhalang suatu benda bening tapi bukan itu masalahnya tapi masalahnya ada pada rambut panjang dan bulu tangan serta kain pakaiannya menempel di sana.
"Upss. Sepertinya aku salah meletakkan isolasi." ucap Nasuto sinis.
"Ruto! Sakit! Kulit tanganku tertarik!" ucap Hinata frustasi akan bulu tangannya yang terasa hampir copot ketika ia berusaha melepaskan dirinya dari isolasi yang benar-benar lengket ini.
"Kau meletakkan apa di sini?" tanya Hinata kesusahan.
"Oo entahlah..? mungkin hanya sedikit menambahkan wax(pencabut bulu) beberapa menit lalu?" jawab Naruto enteng sambil menaikan satu bahunya.
"Hiks.. Hiks.. Naruto. Sakit. Hiks keluarkan aku dari sini." pinta Hinata menangis tanpa air mata.
"Astaga Naruto! Apa yang kau lakukan pada Hinata?!"
"Toneri. Hiks.. Toneri bantu aku."
Toneri menatap syok Hinata yang tertempel di banyaknya isolasi layaknya kumbang kecil di datang laba-laba.
"Tunggu sebentar." Toneri mulai mengoyak sisi isolasi yang menempel di ambang pintu.
"Aaaaa! Sakit!" Pekik Hinata ketika Toneri berusaha memisahkan isolasi yang menempel di lengannya.
"Jangan manja Hyuuga. Kita sudah terlambat." Ucap Naruto tak suka ketika Toneri semakin mendekatkan wajahnya ke rambut Hinata yang tertempel di isolasi.
"Aaa-haa! Sakit Neri!"
Alis Naruto berkerut ketika ia merasa terabaikan.
"Sakitnya hanya sebentar kok. Hinata."
Sreettt!
"Aaaaaaaaa-Haaaaa! SAKIT!" pekik Hinata terkejut ketika Toneri melepas secara tiba-tiba isolasi yang menempel di lengannya.
"Bulu tanganmu berpindah tempat. Haha.." ucap Toneri tak kuasa menahan lucu pada isolasi yang langsung dipenuhi bulu-bulu tangan halus Hinata.
"Akiittt!"
.
.
.
Beberapa menit kemudian setelah berhasil keluar dari isolasi plus wax itu. Mobil Naruto pun melaju ke sekolah dengan Hinata dan Toneri sebagai penumpang.
"Aaa.. Akiitt.. Tanganku terasa panas sekali." ngeluh Hinata frustasi pada tangannya yang langsung bersih dari bulu.
"Fuh. Fuh. Sakit sakit hilanglah." Toneri meniup lengan Hinata seolah memberinya mantra dan membelainya lembut.
"Hei, kalian kira aku supir kalian? Hinata duduk didepan." marah Naruto sambil mengamati Hinata dan Toneri lewat cermin di dekatnya.
"Tak mauk! Kau jahat!" Hinata membuang mukanya dan kembali sibuk dengan lengannya.
"Itu salahmu juga Naruto. Mengapa kau keterlaluan sekali?" ucap Toneri tak terima akan Naruto yang terlihat tak merasa bersalah sedikipun.
Sssseett!
Mobil merah itu berhenti mendadak yang menyebabkan jidat Toneri dan Hinata terdorong ke depan.
"Apa lagi sekarang?!" pekik Hinata frustasi ketika Nasuto turun dari mobil dan menuju pintu di sebelah kursi Toneri.
"Turun." ia menarik paksa Toneri turun.
"Apa-apaan ini? Ada apa lagi?" Toneri sungguh tak mengerti apa yang tengah terjadi ini.
"Kau naik bis." Naruto meletakkan selembar uang 10rb ke telapak tangan Toneri yang langsung membekukan Toneri.
"Hinata, duduk depan."
"Tak mauk! Tak mau!" rontak Hinata tak suka ketika Naruto memaksanya duduk di depan.
Blam
Pintu itu ditutup kasar setelah Hinata berhasil di jinakan ke kursi depan.
"Awas kau kalau berani protes." Naruto masuk ke dalam mobilnya setelah mendelik tajam ke arah Toneri yang masih saja membeku.
Brummmm
Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Naruto melajukan mobilnya. Meninggalkan Toneri di pinggir jalan.
..?
!
"Woi! Naruto! Woi!" panggil Toneri baru saja sadar dari pemikirannya tapi sayangnya mobil itu telah menjauh darinya.
"Kusoo! Naruto!"
.
.
.
"Huh!" Hinata membuang wajahnya ke jendela pintu, tak berniat menatap Naruto sedikitpun.
Sedangkan Naruto masih sibuk menyetir. Ia menatap Hinata ketika mobilnya berhenti di persimpangan lampu merah.
"Kau mau mengabaikan ku sampai kapan?" tanya Naruto ketika Hinata sama sekali tak berbicara padanya maupun menatapnya.
"Apa yang Sakura lakukan ketika kau membuatnya kesal?" tanya Hinata tanpa menatap Naruto.
"Aku tak pernah membuatnya kesal dan dia selalu memaafkanku tanpa aku minta." jawab Naruto lucu dan jujur.
"Oo" Hinata BeOria dengan nada tak suka. Bela saja terus mantanmu itu.
"Hinata, kau tahu satu hal? Mungkin kau harus sedikit berjaga jarak dengan Toneri?" Naruto menjalankan mobil merahnya ketika lampu hijau menampakkan dirinya.
"Huh!" Hinata tak perduli. Kau saja yang jauh-jauh dari Hinata.
"Baiklah maafkan aku kerena urusan tadi. Aku hanya bercanda." demi menghilangkan bad mood pacarnya ini, Naruto pun mengalah tapi gadis itu masih saja membuang wajahnya.
"Katakan apa yang kau mau? Aku akan melakukan apapun agar kau memaafkanku, bagaimana?" tawar Naruto dan Hinata meliriknya sambil berpikir sejenak.
"Kau tak pernah mengajakku makan malam romantis." Hinata memamerkan mulut bebeknya ke arah Naruto.
...
Naruto menatap sejanak Hinata sebelum menjawab "baiklah, mari kita makan malam romantis hari ini." jawaban yang langsung menghadirkan senyum lebar di bibir Hinata.
"Di rumah dan aku yang masak?" tambah Hinata senang dengan mata berbinarnya. Ia harus memperlihatkan kehebatan ibu rumah tangga nya. Hehe
"Kau bisa masak?" tanya Naruto tak percaya.
"Kau meremehkanku." Hinata berdecih tak suka.
"Hm.." guman Naruto lucu sambil mengengam satu tangan Hinata, tak lupa membalas senyuman lucu Hinata tapi senyuman Naruto perlahan memudar ketika matanya tertuju pada bibir Hinata yang tak ia sadari sedari tadi.
"Sudah kubilang jangan pakai lipstik itu lagi!" emosinya meledak yang langsung membuat Hinata menjauhkan tangan dan badannya dari Naruto.
"Aaa! Ini model baru." ngles Hinata memohon dan takut.
"Hapus atau turun, Hyuuga?!"
"Turun."
"HYUUGA!"
.
.
.
.
To be continue.
.
.
.
Loha.. Karena kalian mau baca yang ini jadi author up. Sejujurnya ia udh siap lama sih. hehe..
Oleh karena ini, author akan up dua fic secara bergantian.
Dan semoga suka, silahkan tinggalkan komentar.
Bye bye
