WISH

.

Ciel menatap layar monitornya, memecah sunyi dengan desahan rendah tubuhnya bertumbukan dengan punggung kursi tingginya. Ia membaca lagi rangkaian kalimat yang sudah ditulisnya.

'Acapkali, aku tersenyum menyertai kepergian mereka. Senyum sendu, karena sebenarnya aku tak ingin mereka melenggang pergi. Senyum getir, karena meski bibirku menekuk turun menunjukkan aku tak terpengaruh atas perpisahan, sebetulnya lidahku pahit. Senyum yang seakan memberitahu, terutama diriku sendiri, bahwa hal ini akan berlalu, dan semua akan baik-baik saja. Lucu, aku jadi ingin tersenyum miris.

Tak berhak aku merengut, ketika aku yang memutuskan suatu hubungan berakhir. Juga bukan salah mereka, orang-orang yang pernah mengucap cinta dan mengisi hidupku. Tetapi pada suatu titik, aku hanya bisa tersenyum, dan memelas maaf. Lalu kusaksikan mereka yang kusakiti hatinya, bahkan dalam niat baik, satu persatu melangkah menjauh.

Dalam hati aku bertanya, telah dekatkah saat aku yang terbuai asmara, dan suatu ketika, terusir pergi?'[1]

Mengulang kata-kata tersebut di ujung lidahnya, Ciel sendiri ingin tersenyum getir. Lelucon macam apa yang sebenarnya baru saja ditulisnya... Ia mengerti teknisnya. Ia tahu apa yang ingin disampaikannya. Namun ia merasa ada sesuatu yang kurang. Ia hanya merasa... hambar.

Mendadak ia cemburu pada gadis yang beberapa waktu lalu Sebastian ceritakan. Bagaimana rasanya mencintai seseorang sedalam itu hingga bersedia melakukan apapun, bahkan memanggil makhluk paling terkutuk di muka bumi, dan kemudian mati karenanya?

Bahkan terkadang ketika Ciel mengulang ceritanya, dan sebab-akibat runtutan kejadiannya, ada kalanya ia berpikir semuanya tak masuk logika. Kalau gadis itu ingin menyusul kekasihnya ke kehidupan berikutnya—kalau memang ada—kenapa ia tidak bunuh diri saja? Kalau kekasihnya tidak akan menyetujui tindakan itu, memangnya dengan gadis itu 'berkhianat', dan bunuh diri sebagai 'penebusan dosa' atau apapun sebutannya, kekasihnya akan setuju, atau perasaan bersalahnya akan berkurang?

Mungkin benar kata pepatah, cinta itu tak ada logika.

Ciel juga mungkin sudah hilang akal, mencoba menulis sesuatu tentang cinta yang rumit seperti ini. Mungkin seharusnya ia tetap berkutat di genre yang familiar untuknya saja, yang ia kenal sebaik telapak tangannya sendiri. Hanya saja, kebanyakan penyebab munculnya kesedihan—anguish, angst—adalah cinta.

Dan sialnya, ia belum pernah mengalami cinta.

Ia hampir menyesal kegemarannya akan sesuatu yang rumit, meskipun hal itu seringkali membuatnya frustasi.

Yah, Ciel pikir, tulisannya tadi sebetulnya tidak terlalu buruk. Variasi kata yang ia bubuhkan cukup memadai, dan kata yang ia ulang-ulang, memang ia tempatkan dengan sengaja. Hal inilah salah satu alasan mengapa ia menyukai menulis, selain karena kompleksitas karakterisasi, dan beberapa hal lain.

Dalam sebuah cerita, kau harus mendeskripsikan dengan tepat apa yang sedang berlangsung, agar pembaca dapat mengimajinasikan dengan tepat situasinya. Sehingga, melihat tak lagi semata 'melihat'. Karena melihat secara tajam pada seseorang disebut menatap. Ketika aktivitas melihat dilakukan dari sudut mata, hal itu disebut melirik, dan bila kau melakukannya secara sekilas, sebutannya berubah menjadi mengerling. Saat yang dilihat adalah suatu peristiwa atau acara, maka tindakannya bernama menonton. Bila melihat disertai dengan emosi amarah atau kekesalan, yang terjadi kemungkinan adalah melotot atau mendelik.

Bahkan senyuman, bisa diartikan lain dan tak bisa hanya dilabeli sebagai 'senyuman'. Sudut-sudut mulut yang tertarik ke atas bisa disebut sebagai senyuman. Namun ketika geligi terlihat terlalu jelas, bisa jadi senyuman telah berubah menjadi seringai. Senyuman dan seringai memiliki arti yang berbeda tergantung dari emosi yang mewarnainya. Senyuman atau seringai bisa terlihat puas, licik, geli, kecut, congkak...

Betapa rumitnya.

Namun di situlah daya tariknya.

Semakin baik kau mendeskripsikan sesuatu, semakin mudah orang lain mengerti. Untuk bisa mendeskripsikan sesuatu dengan baik, kau harus mengerti emosi di baliknya, masalah penyebabnya. Kalau kau mengerti, kau bahkan bisa menguntai kata sekehendak hatimu, karena kau tahu apa yang memahami kau sampaikan. Kata apapun yang kau gunakan, kau mengerti apa maksudnya. Sialnya, untuk mengerti suatu emosi, terkadang kau harus mengalaminya terlebih dahulu.

Kepala Ciel terasa mau pecah hanya memikirkan hal abstrak seperti ini. Dan ia jadi lapar. Sepertinya Ciel pernah membaca di suatu buku, berpikir menggunakan empat puluh persen dari energi total yang dihasilkan tubuh,[2] atau sesuatu semacam itu, ia tidak ingat kalimat persisnya. Mungkin karena itu tingginya tak kunjung bertambah?

Mungkin sebaiknya ia berhenti berpikir dan makan saja.

Matanya menyapu mejanya, yang tentu saja bersih dari makanan jenis apapun. Ciel mendesah sebal. "Sebastian, treacle tart?" gumamnya lemas. Bulir safirnya mencari si demon yang dipanggilnya, dan tentu saja, jurnal itu harus berada di luar jangkauannya, dan tertutup, sehingga Ciel tidak bisa melihat apakah Sebastian sudah merespon atau belum. Alangkah lebih praktisnya kalau saja Sebastian bisa mengeluarkan suara dan berbicara pada Ciel, sehingga kalau mereka bercakap-cakap Ciel tak perlu membaca balasan Sebastian.

Tak diundang suara selembut sutra terngiang di benaknya. 'Tentu saja, My Lady.'

Hanya saja kalimat itu ditujukan pada Ciel, disertai dengan tatapan rubi menyala.

Ciel tak tahu mengapa pipinya memanas. Dipandang dengan... ia bahkan kesulitan mendeskripsikan apa yang ditangkapnya dalam kilau merah membara itu. Rasa percaya diri, bercampur dengan kecongkakan, dan sepercik hasrat, mungkin. Dipandang dengan tatapan seperti itu, membuat bulu kuduknya berdiri, hanya saja bukan karena kengerian.

Samar-samar Ciel menyadari bahwa sepisin treacle tart muncul di mejanya. Di sampingnya menyusul secangkir teh yang mengepulkan serabut tipis uap putih, membumbung hampir tak kasat mata.

Benar... makanan. Dan Sebastian.

Hampir susah payah Ciel mencondongkan tubuhnya, tangannya menggapai buta hingga menyentuh sampul tebal Sebastian. Ia meletakkan bukunya di pangkuannya, lalu meraih treacle tartnya. Hanya hari ini saja, Ciel tak ingin peduli dengan tata cara makan yang layak. Ia meletakkan piring kecilnya di lutut kirinya, sementara di lutut yang lain Sebastian terbuka pada salah satu halamannya.

"Selamat menikmati, Young Master," tertera di tengah lembarannya.

"Hmm," Ciel menggumam, juga sedang tak ingin memusingkan cara menjawab dengan pantas.

"Sepertinya pekerjaanmu minggu ini cukup berat, mengingat sudah dua hari berturut-turut kau meminta treacle tart. Biasanya kau tak ingin meminta bantuan apapun." Tulisannya terhenti sejenak. "Ataukah kau menyadari kenikmatan treacle tart yang tersedia secara instan, dan memutuskan untuk mengeksploitasinya?"

"Kalau kau keberatan, kau bisa saja tak memberiku tartnya," gerutu Ciel di tengah mengunyah bolu lembut di mulutnya.

"Aku hanya penasaran, Young Master," Sebastian berkilah.

"Yeah, benar," Ciel memutar bola matanya tanpa ragu, mengingat tak ada siapapun di ruangan ini, dan Sebastian tak bisa melihatnya.

"Sebastian, aku baru ingat..." ujar Ciel tiba-tiba. Ia tidak menunggu Sebastian bertanya apa yang diingatnya, langsung mengutarakan yang terlintas di pikirannya.

"Kau mengatakan sebelumnya, kau menjadi kekasih pengganti untuk Annette. Berarti saat kau membuat kontrak dengannya, kau berwujud manusia kan?" Ciel memfrasekannya sebagai sebuah pertanyaan. Ia belum memberi tahu Sebastian tentang apa yang dilihatnya dalam tidurnya, karena bisa saja itu hanya mimpi yang secara sangat kebetulan mirip—sama persis, batinnya berbisik—dengan cerita Sebastian.

"Ya, benar," jawab Sebastian singkat. Ia tidak menambahkan pertanyaan di belakang kalimat itu. Apa Sebastian tidak penasaran dengan apa yang ingin ditanyakan Ciel, ataukah ia merasa cukup mengenal Ciel untuk tahu bahwa Ciel akan meneruskan tanpa perlu dipancing dengan sebuah pertanyaan?

Ciel tidak peduli jawabannya untuk saat ini, karena ia sendiri penasaran dengan jawaban Sebastian untuk pertanyaannya. "Kalau begitu mengapa sekarang kau berwujud buku? Kau tidak pernah menjelaskan bagaimana kau membuat kontrak dengan gadis itu. Dan dari ceritamu, ia hanya meminta satu kondisi darimu, sebelum kau bisa mendapatkan jiwanya. Yang mana sangat berbeda dengan situasi kita saat ini. Mengapa bisa seperti itu?"

"Tidakkah keadaan saat ini lebih menarik, Young Master? Kau tidak pernah bertanya padaku bagaimana pemanggilan demon pada umumnya dilakukan. Apakah kau pernah membaca buku tentang pemanggilan demon? Sebagian dari mereka cukup menggelikan, walaupun beberapa ada yang cukup akurat."

Ciel berdecak. "Tch, kau berusaha mengalihkan pembicaraan ya... Hal itu tidak penting saat ini. Aku hanya ingin tahu, apa kau sudah bosan berwujud manusia, dan memutuskan menjadi—atau tinggal di dalam buku karena menurutmu lebih menarik?"

"Hmm... siapa yang tahu..." jawab Sebastian misterius.

Kau tentunya tahu, Ciel ingin menyalak, tetapi di luar ia hanya mendengus. Mungkin ia harus mencoba pendekatan lain. Karena kalau deskripsi Sebastian berbeda dengan apa yang dilihatnya, hal itu akan membuktikan bahwa mungkin ia benar-benar hanya bermimpi.

"Kalau begitu, seperti apa wujud aslimu? Apakah mirip dengan wujud yang kau tampilkan di hadapan Annette? Atau kau bisa berwujud seperti apapun yang kau mau?"

"Aku tersanjung kau tertarik untuk mengenalku lebih dekat, Young Master."

"Jawab saja, Butler," gertak Ciel geram.

"Butler?" tanya Sebastian singkat. Ciel menggerutu hampir tak terdengar. Sebastian masih belum juga menjawab pertanyaannya. Apa susahnya sih mendeskripsikan sedikit saja.

"Kau menyediakan snack untukku ketika aku memintanya. Menyelimutiku kalau aku tertidur di meja kerjaku. Mematikan lampu ketika aku sudah terlelap. Itu semua pekerjaan yang dilakukan butler," timpalCiel setengah menyeringai mengejek. Tunggu dulu, mungkin ia bisa mendorong percakapan ini ke arah yang ia inginkan...

"Mungkin akan lebih cocok lagi kalau kau mematerialisasikan diri sebagai butlerku. Mungkin mirip pria atraktif yang kau jadikan wujudmu ketika melayani Annette Ravell. Tadi kaubilang dia terlihat seperti apa?" tanya Ciel seringan mungkin

"Apa kau begitu terpesona dengan pria yang belum pernah kau temui, Young Master? Kau terus-terusan menanyakan tentang dia, padahal kau belum pernah melihatnya sekalipun."

"Karena itulah aku bertanya. Ayolah, aku hanya penasaran..." Ciel setengah membujuk, setengah bernada pasrah.

"...Sepertinya kau tidak cukup menginginkannya. Atau mungkin permintaanmu ini tidak mencapai lubuk hatimu, karena sekarang aku tidak bisa mengabulkannya."

"Hah?" Alis Ciel terangkat. Ia tidak memikirkan kemungkinan bahwa ini bisa dihitung sebagai satu permintaannya. "Tapi kau bisa memunculkan kue untukku dan melakukan hal-hal lainnya..."

"Tugas-tugas tersebut hanyalah hal-hal sederhana, Young Master. Materialisasi diri ke dunia fana menggunakan sihir yang levelnya jauh berbeda."

Ciel cemberut. Jadi kesimpulannya, kecuali ini adalah salah satu hasrat terdalam Ciel, ia tidak bisa bertemu dengan 'wujud humanoid' Sebastian.

"Tak usah cemberut begitu, Young Master. Aku bisa mendeskripsikannya padamu."

Sejak tadi kan memang itu yang Ciel minta. Tapi ngomong-ngomong...

"Bagaimana kau tahu kalau aku cemberut?" tanya Ciel skeptik.

"Oh, jadi kau benar-benar cemberut?"

Wajah Ciel jadi makin menekuk. Demon keparat.

"Andre Fergusson. Hm... 'Pria' itu bertubuh tinggi, ramping namun tidak kurus. Rambutnya sekelam malam, terikat di belakang kepalanya dengan rapi. Mata coklat amber, kulit pucat."

"Hmm... terdengar...atraktif." Tidak juga. Namun deskripsi Sebastian cukup serupa dengan yang dilihat Ciel dalam visinya... atau mungkin itu memori Sebastian?

"Terima kasih, Young Master. Aku tersanjung akan pujianmu."

Ciel dengan refleks mengangkat bahu, hampir menjatuhkan piring yang ia letakkan di lututnya. Sepanjang percakapan tadi tanpa sadar ia telah melahap habis isinya. Ia meletakkan piring beserta peralatannya di atas meja sebelum memfokuskan kembali perhatiannya pada Sebastian.

"Aku hanya mengatakan pendapatku. Aku tidak mengira bahwa demon tidak muncul dalam wujud yang mengerikan. Bertanduk misalnya, atau mengeluarkan napas api dan sejenisnya."

"Tentu saja. Kau mungkin pernah mendengar pepatah, godaan tidak datang dalam bentuk yang mengerikan, melainkan dalam bentuk yang paling menggiurkan bagimu. Bagaimana lagi demon sepertiku bisa menarik manusia agar menyerah pada hawa nafsu mereka."

Ciel rasa itu cukup masuk akal. Dan ia mengatakan demikian pada Sebastian. "Benar juga. Bahkan Annette yang kau bilang sangat mencintai kekasihnya itu menunjukkan tanda-tanda bahwa ia juga... tertarik padamu kan? Mungkin dekat akhir kehidupannya ia benar-benar jatuh cinta padamu."

"Aku tidak bisa memastikan itu, Young Master. Lagipula itu sudah lama sekali..."

Benar. Demon itu bahkan pernah mengklaim demon tak memiliki perasaan seperti itu, mana bisa ia mengenalinya kalau ia sendiri tidak mengerti. Sama seperti Ciel saat ini...

"Hm... Bagaimana denganmu?" tanya Ciel, hanya karena ia ingin tahu reaksi Sebastian.

"Bagaimana denganku?"

"Apakah kau jatuh cinta padanya? Yah, kalau kau tidak salah kau pernah bilang demon tidak jatuh cinta, hanya merasa... posesif? Kau merasa posesif atasnya?"

Sebastian membutuhkan beberapa saat untuk merangkai kata. "Hm... aku mengingatnya dengan baik, cukup jelas untuk memisahkannya dari kontraktorku yang lain secara general. Aku cukup menyukainya untuk...mengenangnya, kurasa itu kata yang kalian manusia gunakan. Tetapi, yang sebenarnya kukenang adalah rasa dari jiwa yang kucicipi setelah kontrak itu terpenuhi. "

"Seperti ceri." Kata Ciel datar.

"Ya, Young Master, seperti ceri. Kau suka ceri kan?" Sebastian berujar hampir geli. "Aku mengingat masa tinggalku dengannya karena saat itulah proses yang menciptakan rasa yang cukup langka itu."

"Hmm... begitu..." putus Ciel, tak bisa yakin apakah Sebastian serius atau hanya mempermainkannya.

"Apa kau... cemburu, Young Master?"

"Kenapa aku harus cemburu?" tanya Ciel, nadanya masih datar. Tetapi kalau saja Sebastian bisa melihat Ciel, ia akan menyaksikan semburat merah terpoles di tulang pipinya. Ciel benar-benar bersyukur Sebastian tidak bisa melihatnya.

"Hanya bertanya, Young Master, hanya sebuah pertanyaan sederhana..."

Ciel menutup bukunya dengan keras, tak cukup peduli untuk menanggapi godaan Sebastian, dan mendelik beberapa saat ke arahnya, sebelum melemparnya ke meja, menghasilkan bunyi debam nyaring.

Ia masih belum mendapatkan ide bagaimana untuk memecahkan persoalan rasa ceritanya yang hambar. Apa yang tadi dipikirkannya sebelum ia menyerah dan malah terobsesi dengan treacle tart?

Benar. Uraikan dan mulai dari yang sederhana.

Ciel ingat, kalau tidak salah ia pernah menulis sebuah cerita cinta yang sederhana.[3] Simplisitik, ditujukan untuk para remaja yang mungkin hatinya sedang berkecamuk, merenungkan arti cinta dalam kehidupan. Nah, cocok juga untuk keadaannya saat ini, walaupun ia tidak membutuhkannya untuk dirinya sendiri. Bukan untuk dialaminya atau karena ada seseorang yang ia sukai, maksudnya.

Ia mengurung diri di mansion ini, hanya dengan beberapa pelayannya, dan kini dengan Sebastian. Ia tidak semerana itu sampai-sampai tertarik pada salah seorang pelayannya. Dan ia hampir tidak bersosialisasi dengan orang lain. Pada siapa lagi ia bisa 'jatuh hati', heh?

Lagipula, ia tidak punya rencana sama sekali untuk jatuh cinta pada siapapun ini, baik sekarang maupun jauh di masa datang.

Apa yang kutulis dulu itu? Ciel menyalakan komputernya, dan membaca cepat ceritanya. Ia mengakui, ia bisa merasakan emosi di tiap chapternya, dan terkadang merasa sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas ketika 'Sebastian' merasa sebal pada 'Claude'.

Ia hampir ingin mengatakan, bagaimana bisa aku menulis sebagus ini?

Ia mungkin sering tampak arogan dengan sikapnya yang kurang ramah terutama pada orang yang belum dikenal, dan bahkan di mata para pelayannya, kecuali di kesempatan-kesempatan tertentu. Namun ia tidak sebegitu arogannya sehingga ia menghabiskan waktu memuji diri sendiri.

Saat ini adalah salah satu saat pengecualian. Karena, meskipun ia mengakui cerita yang pernah ia tulis cukup memiliki jiwa—dan cerita ini tidak angst—ia masih tidak bisa menangkap esensinya, bahkan ketika ia telah selesai membaca sampai akhir.

Jadi, untuk memahami cinta, abaikanlah logika, dan cukup menerima apa adanya. Bahwa cinta itu memiliki berbagai sisi, cinta bisa berarti satu hal, tetapi bisa juga bermakna banyak hal lain.

Ciel mendesah panjang.

Ia masih tak mengerti apa artinya cinta.

Tbc...

A/N.

[1] Cuma tulisan random. Mungkin kalau disambar ide, nanti bisa jadi cerita. Atau mungkin ada yang mau mengambil alih dan mewujudkan satu paragraf itu jadi fanfic? :P

[2] Quote dari Sherlock Holmes. Tapi itu salah. Hahah ^^; lupa persisnya apa...

[3] Tebak sendiri lah itu fanfic yang mana XD.

Selamat Idul Adha beberapa hari lagi. Yay makan-makan XP. Maaf random, sudah malam... :P