Happy Reading
"Boruto?"
"Sumire?"
Keduanya saling tatap sebentar sebelum Boruto mengakhiri keterkejutan mereka. Tidak menyangka bahwa setelah satu tahun ia akan bertemu lagi dengan Sumire. Gadis itu tetap sama seperti dulu. Cantik dan anggun.
"Apa kabar?" tanya Boruto memulai. Berbasa-basi sedikit sepertinya tidak masalah.
Sumire melampirkan rambut terurainya ke satu sisi di belakang telinga. "Baik-baik aja, kamu apa kabar?"
"Aku baik."
Di samping Boruto, Sarada menarik napas lemah agar menetralisir dadanya yang terasa nyeri. Baru saja Sarada merasa lebih istimewa ketika Boruto menyerukan panggilan 'aku-kamu' di antara mereka. Ternyata, Sarada salah. Lebih dari yang tidak ia tahu, Boruto juga memperlakukan gadis lain sama lembutnya seperti yang Sarada dapatkan dari pemuda itu. Seperti Boruto memperlakukan Sumire saat ini dengan panggilan 'aku-kamu' yang sama.
Jangan salahkan Sarada yang masih labil terhadap perasaannya. Hal seperti itu saja sudah mampu membuatnya gamang dalam diam.
"Kok, kamu ada di sini, Boruto?" Sumire bertanya dan mendekat.
"Yang ulang tahun kebetulan temen sekolah aku juga."
Sudah ke sekian kalinya, Sarada menghela napas lagi. Lama-lama berada di antara Boruto dan gadis yang dipanggil pemuda itu, Sumire, bisa membuat Sarada merasa seperti obat nyamuk. Jadi, ia memilih menjauh dan pergi ke tempat lain. Hal itu itu tidak terjadi ketika Boruto menahan lengannya agar Sarada tidak pergi ke mana pun.
"Lepasin," bisik Sarada.
"Mau ke mana? Tunggu."
"Mau cari makan."
"Nanti." Tiba-tiba saja Boruto merangkul pinggang Sarada, menarik gadis itu agar berdiri di sampingnya.
Sumire yang melihat itu membulatkan bola mata. Ada keterkejutan di sana. Namun, ia sembunyikan dengan senyum ramah yang berusaha ia tunjukan.
Sarada celingukan sendiri. Antara malu dan marah. Sarada sendiri tak begitu yakin mengapa dirinya merasa marah begini. Matanya sekilas menatap Sumire malu-malu. Lalu Sarada berusaha berpaling. Sampai akhirnya Sarada tak sengaja melihat tiga anak cowok berdiri memerhatikan mereka dari meja makan di sebelahnya. Sarada pernah lihat satu kali anak-anak cowok yang tubuhnya kekar itu.
Mereka bukannya orang yang pernah ngejar gue sama Boruto pake motor? Pas kita mau berangkat sekolah itu, 'kan?"
Pemuda bermata tajam dengan rambut dicukur tipis di bagian ke dua sisi kepala menyeringai ketika tahu Sarada melirik ke arahnya.
"Kamu makin ganteng aja, ya, Boruto? Nggak kayak anak-anak bandel lagi."
Kali ini Sumire membuka obrolan baru. Dan ia memang berkata jujur soal memuji Boruto. Baginya, Boruto yang sekarang telah menjadi pemuda tampan dengan bahu selebar samudera. Perawakan maskulin, tipikal cowok bad boy sepaket dengan ke-maco-annya. Sebut saja ia berlebihan, tetapi begitulah Boruto di mata Sumire.
Inginnya, Sumire juga mendapat pujian balik setelah ia memuji Boruto. Penasaran bagaimana pendapat Boruto tentang dirinya setelah tidak bertemu selama satu tahun. Sayangnya, Boruto tidak peduli. Pemuda itu menjawab sekenanya saja.
"Nggak juga," jawabnya.
Boruto justru melirik sekilas ke Sarada, gadis itu mencoba membisik.
"Boruto..."
"Ssst."
"Boruto..."
"Ssst."
"Ish, dengerin dulu." Sarada mendekat ke telinga Boruto ketika Sumire berusaha mengajaknya mengobrol.
"Boruto, yang sama kamu itu siapa?" tanya Sumire.
Boruto sedikit kaget. "Oh. Ini baru mau aku kenalin. Dia—"
"Boruto dengerin aku dulu," sela Sarada sambil mencubit pelan perut Boruto.
"Aw, apaan sih?" Boruto balas berbisik sambil meringis. Cubitan Sarada selalu terasa pedas.
"Lihat ke kanan aku dulu." Ujung bibir Sarada nyaris menyentuh telinga Boruto ketika pemuda itu sengaja merendahkan kepalanya. Ia melirik ke arah yang Sarada tuju. "Mereka yang waktu itu. Anak SMK sebelah yang ngejar kita pas mau berangkat sekolah, 'kan?"
Wajah Boruto mengeras saat tatapannya bertemu dengan Kawaki yang balik melihatnya tajam. Boruto mendengus kasar sebelum melihat wajah Sarada di samping kepalanya yang terlalu dekat. Bukannya fokus pada keberadaan musuh lamanya, Boruto justru menikmati kecantikan yang terpahat indah di wajah Sarada. Boruto tidak berkedip. Sampai Sarada menepuk pelan pipinya, baru Boruto tersadar. Lalu kembali berdiri tegap ketika Sumire memanggil namanya.
"Boruto, kalian kenapa?" tanya Sumire.
"Nggak pa-pa," sahutnya.
"Oh. Sebenarnya aku pengen banget dikenalin sama cewek yang kamu bawa itu," sambung Sumire lagi. Menahan nyeri di dada ketika melihat interaksi antara Boruto dan Sarada begitu dekat.
"Oh iya, maaf. Ini Sarada, dia..." Boruto menggantung kalimatnya, berpikir. Hampir saja ia keceplosan.
Kalo gue bilang Sarada pacar gue di sini, pasti Kawaki bakal denger juga. Sarada bisa aja dalam bahaya, si Kawaki itu pasti bakal ganggu Sarada sebagai aksi buat balas dendam ke gue.
"Boruto, ada apa sih?" tanya Sumire lagi karena Boruto bicara terputus-putus.
"Nggak, kenalin Sarada ... temen sekolah gue," ucap Boruto final. Sebenarnya ia ingin sekali memamerkan Sarada di depan Sumire sebagai pacar. Namun, yang Boruto lakukan juga demi kebaikan gadis kesayangannya itu. Demi melindunginya.
Mengesampingkan perasaan Sarada, Boruto tahu gadis itu tidak baik-baik saja ketika Boruto mengakuinya hanya sebagai teman setelah semua hal yang terjadi. Bahkan, Boruto mengira bahwa Sarada akan menganggapnya cowok berengsek setelah ini. Apalagi ketika melihat wajah terkejut Sarada. Boruto sebenarnya tak ingin lagi-lagi membuat Sarada marah.
Dan praduga Boruto memang benar. Apa yang Sarada rasakan kini memang serba menyebalkan. Sarada hanya tak mengakuinya dengan membungkam suara. Sudah kepikiran ayah yang jarang pulang, kepikiran ucapan Boruto tadi di parkiran. Sekarang Sarada galau karena Boruto tidak mengakuinya sebagai pacar. Harusnya Sarada senang.
Sejak awal dirinya memang menganggap keputusan Boruto untuk berpacaran sebagai keputusan sepihak. Sarada tidak pernah mengakui hubungan mereka. Namun, kenapa Sarada justru menginginkan status itu sekarang? Apa karena ada kemunculan sosok perempuan lain di kehidupan Boruto? Yang kini menampakan diri di depan Sarada?
"Oh, aku pikir pacar kamu." Sumire mengulurkan tangan ke depan Sarada. "Kenalin, gue teman Boruto dari SD sampai SMP. Dan kebetulan, mantan pacarnya juga."
Holly Shit!
Sarada menarik napas tajam. Hell no! Mantan? Hati Sarada sekarang rasanya sudah tidak karuan. Seperti ada lomba gulat di dalam sana. Hatinya terasa diputar, dijilat, dicelupin. Sesak sekali.
Dengan terpaksa, Sarada tersenyum getir dan membalas jabat tangan Sumire. Sementara Boruto di sebelahnya sudah mengusap wajah kasar. Keadaan makin memburuk ketika Sumire mengaku sebagai mantan pacarnya. Karena, Boruto menemukan perubahan tidak menyenangkan pada diri Sarada setelah mendengar pengakuan Sumire.
"Oh, gue Uchiha Sarada, senang ketemu sama lo."
Boruto menarik napas cemas sambil melirik Sarada di sampingnya.
Sarada mengimbuhkan, "Maaf, kayaknya gue mesti ke meja yang di sana dulu. Temen gue udah nunggu, kalian ngobrol aja berdua, ok? Gue tinggal sebentar."
Hanya melirik sekilas tanpa bicara apa pun, Sarada beranjak meninggalkan Boruto. Dalam hatinya membawa sekeping rasa cemburu yang terpendam. Bodohnya, sampai sesakit itu, Sarada sama sekali tak mau mengakui bahwa ia cemburu Boruto dekat dengan perempuan lain.
Diam-diam Sarada menginginkan Boruto menyusulnya. Sarada berbalik badan sekali. Kenyataannya, Boruto tetap berdiri di tempat. Memilih untuk menemani Sumire ketimbang menyusul Sarada yang dalam suasana hati tidak baik.
"Masa bodoh, mah gue. Masa bodoh," gumam Sarada sendiri.
Lalu memilih untuk mencari makanan yang bisa mengalihkan pikirannya dari pemuda pembuat onar nomer satu tak hanya di sekolah, tetapi juga di hatinya.
..o0o..
Sudah dua gelas jus semangka Sarada habiskan untuk mengurangi rasa hausnya. Bahkan, dia makan kue-kue kecil yang disediakan entah sudah berapa banyak. Berharap makanan dan minuman itu bisa membantunya untuk menyingkirkan Boruto dan Sumire dari kepalanya saat ini.
"Ish, Chocho pake nggak datang segala ke acara ini. Gue kan jadi nggak punya temen." Sarada frustrasi sendiri. "Harusnya gue nggak usah berangkat bareng Boruto kalo dianya sibuk sama mantan. Gue jadi dianggurin gini. Nyebelin!"
Seseorang mendekat. Berdiri di samping Sarada. "Baru tau? Boruto emang nyebelin orangnya."
"Heh?" Sarada terkejut sampai bahunya terangkat karena kehadiran seorangcowok di sebelahnya. Ia tahu cowok itu, tetapi pura-pura tidak mengenal. "Lo siapa?"
"Kenalin," ia mengulurkan tangan, "gue Kawaki. Temennya Boruto."
"Gue nggak yakin lo temennya."
Kawaki terkekeh. Menarik kembali tangannya karena Sarada tak kian membalas berjabat tangan.
"Ok, terserah lo aja. By the way, nama lo Sarada, 'kan?" Kawaki mendekat, membuat Sarada risih.
Sarada melirik ke arah Boruto yang masih mengobrol bersama Sumire. Sedikit saja menginginkan perhatian pemuda itu. Dan berharap Boruto akan membawanya menjauh dari cowok dengan senyum seringai di sampingnya. "Iya. Ada apa, ya?"
"Nggak. Gue cuma mau kenalan aja sama ceweknya si pentolan smansa." Kawaki menyesap jus semangkanya tanpa berpaling dari Sarada. "Lo pastinya hebat banget, 'kan? Bisa macarin Boruto, padahal dia terkenal nggak terlalu obsesi sama cewek."
"Maaf." Sarada mundur selangkah karena Kawaki kian mendekat. "Gue bukan pacarnya Boruto dan gue nggak pernah berniat jadi pacarnya."
"Hm, serius? Tapi, kok kayaknya kalian deket gitu?"
"Maaf lagi, nih. Mungkin lo salah paham. Mending lo perhatiin Boruto sekarang, ya." Sarada menunjuk Boruto dengan dagunya. "Daripada kepoin tentang gue dan Boruto, mending lo kepoin mereka. Itu cewek yang rambutnya panjang, yang lagi ngobrol sama dia, mantannya Boruto. Hubungan tentang mereka tentu lebih menarik buat lo kepoin."
Kawaki mengangguk dua kali seraya mencebik. Melihat dari jauh Sumire yang terlihat lebih antusias dalam percakapan bersama Boruto. "Oh, dia? Tapi kayaknya Boruto lebih merhatiin lo ketimbang cewek itu."
"Dan tiba-tiba aja lo jadi sok tau gini."
"Emang tau," sahut Kawaki. Menoleh ke arah Sarada dan tersenyum miring. "Yang di parkiran tadi."
"Lo?" Sejak kapan ada yang melihat dirinya dan Boruto dalam mode serius di parkiran tadi? Sarada tidak melihat ada siapa pun di sana sebelum Mitsuki datang. "Lo merhatiin kita?"
Bahu Kawaki terangkat. "Nggak sengaja lihat."
Sarada mendengus. Ia benar-benar malu kali ini. Apalagi, ketika ketahuan berduaan dan mesra-mesraan bersama Boruto. Sarada mau menangis saja rasanya.
"Maaf, ya. Gue ke sana dulu." Memilih untuk pergi dari Kawaki agar Sarada tak semakin lama menahan malu. Belum lagi gelagat Kawaki sangat mencurigakan. Sarada menjadi risih. Namun, ketika Sarada melangkah untuk pertama kali, Kawaki langsung menarik lengannya. Sarada berbenturan dengan dada bidang pemuda itu ketika tangan Kawaki sudah berpindah ke pinggangnya.
Sarada berusaha menjauh. Namun, Kawaki menahan tubuhnya lebih lama.
Sarada berbisik, "Lepasin."
Dengan senyum miring, Kawaki menilik porsi wajah Sarada yang begitu pas untuk ukuran seorang cewek. "Pantes aja Boruto suka sama lo, ternyata lo cantik juga."
"Lepasin!" Sarada berusaha menjauh. Beberapa kali melihat ke arah Boruto yang berdiri agak jauh darinya. Sebenarnya Sarada ingin berteriak memanggil pemuda itu. Namun, tampaknya Boruto masih saja mengobrol bersama Sumire. Tak mengetahui bahwa di sini, Sarada membutuhkan bantuannya.
"Nggak." Kawaki berbisik. "Gue nggak bakal lepasin lo karena gue mau mastiin satu hal."
"Gue bilang lepas!"
"Gue cuma pengen tau gimana reaksi Boruto kalo ceweknya deket-deket sama cowok lain." Tangan kanan Kawaki mengerat di pinggang Sarada. Wangi khas mawar menyapu indera penciuman cowok itu.
Sarada mulai gelisah dan matanya mengerling ke mana-mana. Ada tatapan heran dari teman-teman sekolahnya, sekaligus tatapan takut. Tidak adakah yang ingin menolongnya dari pemuda berandal ini? Sarada pupus. Di tengah hiruk pikuk pesta dengan gema musik menggelegar, orang-orang memilih acuh. Menyibukan diri dengan kumpulannya masing-masing. Atau, dengan pasangannya.
Namun, di mana pasangan Sarada? Mungkin orang itu lupa telah datang bersama.Sarada ke tempat ini.
"Boruto," lirih Sarada dalam hati.
Ketika Kawaki semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Sarada, ada tangan cepat menarik kemejanya dari belakang. Memaksa Kawaki mundur. Sampai akhirnya Sarada terlepas.
"Jauhin tangan lo dari dia!" kata pemuda itu. Wajahnya dingin. Menunjukan ada kemarahan di sana.
"Santai, Bro." Kawaki menahan bahu Mitsuki. "Gue nggak serius."
Mitsuki menepis tangan Kawaki. "Kalo lo cuma pengen bikin ribut di pesta gue, mending lo pulang."
Mereka bertiga kini menjadi atensi para tamu yang hadir. Termasuk orangtua Mitsuki ikut menjadi bagian dari penonton. Sarada bersembunyi di belakang Mitsuki. Merasa bersyukur akhirnya ada yang mau menolongnya. Kalau tidak, mungkin Kawaki berhasil merebut ciuman pertama Sarada malam ini. Ciuman yang Sarada simpan hanya untuk laki-laki yang kelak akan memiliki hatinya.
Suasana pesta berubah hening. Bukannya Kawaki takut pada Mitsuki, cowok itu bisa saja pasang badan untuk berduel. Namun di tempat ramai seperti sekarang, apalagi ini adalah rumah Mitsuki, tidak mungkin Kawaki mau meladeni. Ia melirik dua anak buahnya dan memberi kode. Anak buahnya balas mengangguk. Mereka mendekat dan melerai Mitsuki agar menjauh dari bos-nya.
"Oke, gue bakal pulang. Gue nggak mau cari ribut."
"Jangan sekali-kali lo ganggu Sarada," ancam Mitsuki. Baginya, Sarada adalah gadis yang paling ia suka. Sudah sejak lama Mitsuki menyimpan perasaan untuknya. Ia ingin selalu melindungi gadis itu, ingin selalu memerhatikannya dalam diam, asal Sarada baik-baik saja. Jika ada yang berani menyakiti Sarada, maka Mitsuki akan maju di barisan paling depan sebagai pelindung gadis itu. Meskipun, terkadang ia sulit untuk memposisikan diri di antara Boruto dan Sarada. "Gue orangnya nggak suka cari ribut duluan. Tapi, kalo lo ganggu dia, gue nggak akan segan-segan untuk terlibat."
"Oke-oke, gue paham." Kawaki mengangkat tangannya di depan dada. "Gue bercanda doang tadi."
Baru saja Kawaki ingin melangkah menjauh, tiba-tiba saja seperti angin, satu cengkraman kuat mencekik leher Kawaki dari belakang. Semua orang terkejut. Mata kebiruan menyorot garang pada Kawaki. Langkah Kawaki semakin mundur. Ia terjepit ke dinding. Susah payah bernapas karena cekikan itu tak mau longgar.
Dengan terbata-bata, Kawaki bersuara. "B-boruto?"
"Lo—" Rahang Boruto mengeras. Dadanya naik turun. Beraninya Kawaki menyiram minyak di atas api. Kini amarahnya membara. Dari jauh saja melihat tangan kotor Kawaki berani menyentuh gadisnya, sudah bisa membuat Boruto berlari dengan niatan membunuh. "—berani sentuh cewek gue? Ucapin selamat tinggal sama tangan lo!"
TBC
Noviquinn
18 Feb' 2017
