All characters belong to Masashi Kishimoto.

This is just a fan-fiction.

[Warning]
Sexual content
You can skip this part if you don't want to read

"Hiashi-sama dan Hikari-sama, saya serahkan kembali Hinata kepada anda. Saya mohon maaf apabila kedatangan saya cukup terlambat dan tidak segera datang lebih awal di Mansion ini. Saya sungguh menyesal. Saya hampir saja gagal dalam menunaikan janji yang saya berikan kepada putri anda, untuk selalu menjaga dan melindunginya."

Naruto berkata dengan lirih, seakan timbul rasa penyesalan yang dalam, karena hampir saja gadis yang dicintainya tersebut, dicelakai di depan matanya sendiri.

Pun, begitu pula dengan Sasuke yang memilih untuk lebih banyak diam. Terlihat tatapan sendu dari wajahnya saat menyerahkan kembali Sakura kepada keluarganya. Pada akhirnya, dia juga mengungkapkan penyesalan karena datang sedikit terlambat.

Sebelumnya Naruto dan Sasuke sedang sibuk mencari-cari di mana pedang kesayangannya tertinggal, sejak kembali dari perjalanan di kota Osaka.

Sampai akhirnya mereka menemukan pedang mereka yang amat berharga tersebut, ternyata terbawa oleh Kakashi. Mereka benar-benar setia menenteng senjata kebanggaan tersebut kemana saja. Apalagi saat ini mereka harus menjaga 'orang lain' yang sangat spesial bagi mereka.

"Baiklah, kalau begitu. kami mohon ijin untuk pulang, Hiashi-sama dan Kazashi-sama." Naruto dan Sasuke berpamitan secara kompak kepada kedua kepala rumah tangga tersebut.

Mendengar kedua pemuda tersebut meminta ijin untuk pulang, Hiashi segera menatap wajah sahabatnya, Kizashi. Seakaan keduanya sedang memikirkan hal yang sama pada saat itu, dan mereka tampak sudah saling mengerti satu sama lain. Merekapun saling mengangguk.

Saat melihat Naruto dan Sasuke akan melangkahkan kaki mereka untuk meninggalkan tempat itu,

"Tunggu dulu, Naruto-san dan Sasuke-san. Aku minta tolong kepada kalian untuk tinggal sementara waktu di Mansion ini. Kami benar-benar memikirkan keselamatan Hinata dan Sakura. Para pengkhianat negara berhati iblis itu bisa datang sesuka hati mereka dan aku takut apabila sesuatu yang lebih buruk akan mereka alami. Jadi kumohon pada kalian, Naruto-san dan Sasuke-san."

Hiashi benar-benar menunjukkan wajah yang sedang ketakutan dan dia tak tahu harus melakukan apa lagi untuk melindungi putrinya.

"Bahkan, kamipun rela dan mengijinkan kalian untuk tidur bersama dalam satu kamar dengan anak gadis kami, agar keselematan mereka dapat lebih terjamin."

Hiashi dan Kazashi dengan spontan mengucapkan kalimat bernada frontal secara bersamaan.

Naruto dan Sasuke yang mendengarkan secara langsung pernyataan dari kedua pemimpin keluarga tersebut, hanya bisa terbelalak dan memberikan respon tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

Namun setelah melihat sebuah ketulusan yang terpancar baik dari sorot mata Hiashi maupun Kazashi, kedua pemuda tersebut pun mengangguk secara perlahan sebagai tanda setuju. Walaupun di sisi lain ada perasaan malu yang luar biasa ketika menyanggupi permintaan dari calon mertua mereka..

Di kamar tidur

Naruto masih sangat betah memandangi wajah cantik yang terpancar dari gadis yang amat dicintainya itu. Walaupun sedang tertidur, tidak mengurangi sedikitpun pesona kecantikan pemilik surai indigo tersebut. Keadaannya yang tertidur bahkan semakin membuat siapapun yang menatapnya saat itu akan semakin tergoda untuk menjamahnya.

Walaupun Naruto memiliki watak yang mesum, entah mengapa dalam benaknya tidak ada satupun niatan untuk bersenang-senang dengan gadis yang dicintainya tersebut. Dia tidak sampai hati jika harus menggagahi, apalagi melakukan pelecehan seksual, kecuali memang diminta oleh Hinata sendiri.

Naruto masih terus memandangi wajah Hinata sambil tersenyum, sekaligus memberikan sentuhan lembut pada pipinya yang seperti porselen.

Tiba-tiba Hinatapun terbangun dari tidur cantiknya. Masih serasa tidak percaya saat dia bangun, melihat laki-laki yang sangat dicintainya sedang berada di dalam kamar tidurnya.

"Na,Naruto-kun. Kau berada di kamarku saat ini? Apakah ini mimpi? Mimpi yang sangat indah tentunya." Wajah Hinatapun langsung merona.

"Tidak-tidak, kau tidak sedang bermimpi, Hinata. Ini nyata, aku memang diijinkan oleh Hiashi-sama untuk menjagamu, bahkan di dalam kamarmu ini. Namun jika kau risih dengan keberadaanku di kamar ini, aku akan menjagamu dari balik pintu kamarmu saja."

"JANGAN, Naruto-kun." Hinata seperti tidak rela sama sekali jika dia ditinggalkan sendiri di dalam kamar oleh laki-laki ber-iris blue sapphire tersebut.

"Temani aku disini, aku merasa sangat tenang dan nyaman saat engkau ada di dekatku. Mendekatlah kesini, Naruto-kun. Tidurlah di sampingku."

Naruto yang diminta Hinata untuk tidur di sebelahnya, masih tetap menatap wajah Hinata.

Wajah Hinatapun mulai memerah akibat tatapan yang mempesona dari pemuda samurai yang tampan itu. Jantungnya juga seakan ingin meletus saat itu juga, karena perasaan berdebar-debar Hinata sudah tidak karuan lagi.

"Wajahmu benar-benar tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, Hime. Indah sekali."

Wajah hinata semakin memerah setelah mendengar pujian dari Naruto.

"Berhenti menggodaku, Naruto-kun." Rengeknya.

"Aku tidak menggodamu. Itu semua kalimat yang tulus. Tak sabar rasanya untuk memiliki keturunan bersama makhluk seindah ini."

"Iiiisshh, Naruto-kun mesuummm!" Sambil memukul-mukul manja lengan Naruto.

Narutopun tertawa cekikikan, karena sangat menyenangkan ketika menggoda kekasihnya tersebut. Wajah Hinata benar-benar menggemaskan ketika tersipu malu.

Kemudian Naruto mulai mendekatkan wajahnya, dan semakin dekat ke wajah Hinata. Hinata yang bisa merasakan hal yang sama, hanya bisa pasrah dan menutup matanya.

Cupp... Glepp...

Ciuman pertama antara mereka berdua yang mereka rasakan begitu nikmat dan menggairahkan. Tanpa ada paksaan atau nafsu semata.

Lidah Naruto mulai bergerak kesana kemari mencari pasangannya. Hinatapun akhirnya ikut membukakan jalan, sehingga kedua lidah itupun saling bertemu dan menari ke segala arah, saling menukar cairan bening saliva dari mulut mereka masing-masing sehingga bercampur membentuk suatu benang tipis.

Hinata dari tadi hanya mendesah terus menerus sambil menyebut nama Naruto.

"Emmhh... Ahhh N-Naruto-kun, Ehng..."

Tak hanya puas sampai di ciuman itu saja, lidah Naruto mulai bergerak kesana kemari menuruni bagian tubuh Hinata yang lain.

Menjilati leher dan memberikan kissmark pada bagian tersebut dan hanya dibalas dengan desahan Hinata yang semakin sering terdengar. Hinata tampak sangat menikmatinya karena melakukan hubungan layaknya suami-istri bersama dengan Naruto.

Naruto kemudian berusaha membukakan baju Hinata, namun Hinata menawarkan diri untuk membukanya sendiri. Hingga akhirnya seluruh helai kain yang menutupi tubuh wanita cantik tersebut, kali ini sudah ditanggalkan seluruhnya. Kali ini giliran Naruto yang membuka sendiri seluruh kain yang menutupi tubuhnya.

Setelah itu, dimulailah adegan panas satu demi satu antara dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu. Naruto mulai memainkan tangan dan bibirnya pada payudara Hinata. Menjilatinya, memelintir dengan jari-jemarinya hingga meremas dengan kedua tangan kekarnya tersebut. Hinata hanya bisa ikut merasakan kenikmatan yang baru pertama kali dia rasakan dalam hidupnya. Terus mendesah sambil menggumamkan beberapa kalimat.

"Aahhh... Ughhh.. I-ini sungguhh engghh, nikmattt Na-Naruto-kun.. ahhh engghh.."

Tak mau kalah, Naruto yang mengamati sendiri gairah gadis yang dicintainya tersebut semakin memuncak, justru semakin liar menjamah dan menikmati satu persatu dari bagian tubuh Hinata.

Namun ketika melihat pada bagian yang paling berharga dari seorang perempuan tersebut, Naruto jadi sedikit ragu untuk melakukannya. Maka ia pun berpikiran untuk menanyakannya terlebih dahulu.

"H-Hinata, a-apakah aku boleh memasukkannya?" Sambil menunjukkan bagian tersebut.

Yang Naruto maksud adalah penis miliknya sendiri. Hinata yang paham dari arti pertanyaan Naruto hanya bisa tersenyum tulus sambil menganggukkan pelan kepalanya. Kemudian membisikan sebuah kalimat, "Semuanya milikmu, Naruto-kun."

"Tapi aku mohon jangan mengeluarkannya di dalam. Aku belum siap jika harus hamil duluan. Nanti tunggu saatnya saat kita benar-benar sudah resmi sebagai suami istri, Naruto-kun."

"Baiklah, sayang. Aku mengerti. Aku akan sabar menunggu hingga waktunya tiba, untuk membuat anak-anak yang lucu bersama calon istriku yang cantik ini."

"Mulai lagi kan mesumnya, Naruto-kun. Sebal." Sambil mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya.

"Sebal tapi cinta, kan? Wajahmu makin menggemaskan kalau lagi sebal." Goda Naruto terus-menerus.

Setelah puas menggoda kekasihnya, Naruto mulai memasukkan benda berharganya pada benda berharga Hinata. Mengetahui jika Hinata belum pernah melakukan hal yang sama sekalipun, Naruto jadi paham apabila nantinya akan terasa sempit dan sakit, saat 'milik'nya mulai memasuki vagina milik Hinata.

"Hinata, ini akan terasa sakit sedikit. Kau bisa menahannya?"

Hinata tersenyum sambil menganggukan kepala. Ketika kedua barang berharga antara Naruto dan Hinata saling bertemu, Hinata merasakan rasa nyeri seketika dan mengerang. Naruto melihat ada bercikan darah yang muncul di atas sprei kasur.

"Aggghhhhh. N-Naruto-kun, aku sudah tidak apa-apa. Kamu bisa menggerakkannya."

Naruto pun mengikuti permintaan kekasihnya tersebut. Dari yang awalnya gerakannya seperti slow motion, menjadi sangat cepat dan menggairahkan bagi Hinata.

"Ahhhg.. L-Lebih cepat llagi...hhgh.. nn-Naruto-kun..ahhnn.. Aku, enggh, ingin pi-pis, N-Naruto-kun.!"

Cairan bening dari dalam 'saluran' Hinata tiba-tiba keluar dan dapat dirasakan oleh Naruto.

Akhirnya mereka pun mencapai pada titik batas masing-masing. Tersadar bahwa ia tidak bisa mengeluarkan cairan kental miliknya di dalam, Narutopun segera mencabutnya dari Hinata, dan

Cruttt... Bruusshhh...

Beberapa muncratan cairan kental berwarna bening bercampur putih dalam jumlah cukup banyak sedang membasahi sprei kasur yang dari tadi mereka gunakan sebagai tempat selama melakukan adegan panas satu persatu, hanya demi menyalurkan seluruh rasa cinta yang mereka miliki satu sama lain.

"Hahhh. Hehhh...hahhh"

Hinata tampak kelelahan dalam pengalaman pertamanya kali ini. Namun tampaknya, tak ada raut penyesalan sama sekali di wajahnya. Walaupun Hinata sendiri paham, jika dia sudah memberikan 'segalanya' bagi lelaki yang amat dicintainya tersebut.

Naruto sebenarnya masih kuat melakukan satu hingga dua kali pengulangan adegan-adegan tadi. Namun karena melihat Hinata sudah kelelahan dan dia masih ingat akan kejadian menakutkan yang dialami kekasihnya itu tadi, akhirnya mengurungkan niat tersebut dan mengajak Hinata untuk tidur bersama dan menyelami alam mimpi.

-TBC-