Daehyun menghembuskan nafasnya lemah merasa iba pada Baekhyun yang telah menjadi Korban penculikan dan penyekapan oleh Chanyeol. Menurutnya, Baekhyun masih terlalu muda untuk mendapatkan perlakuan kekerasa seperti ini. Namun, ia bersyukur, setidaknya Baekhyun kini telah terbebas dan Polisi terlah menangkap Chanyeol.

"Kau boleh melanjutkan tugasmu, biar aku yang membawa Baekhyun masuk."

Minseok menyambut Daehyun dari luar pintu Ruang interogasi lalu membawa Baekhyun masuk ke dalam. Daehyun mengangguk hormat dan memperhatikan Baekhyun yang perlahan lenyap dari pandangannya.

Minseok mendudukkan Baekhyun pada sebuah kursi yang tersedia, lalu menyerahkan hasil pengecekan Rumah Sakit pada Junmyeon.

Brukk!

Junmyeon baru saja ingin membuka suaranya, namun ia dikejutkan oleh Baekhyun yang ambruk secara tiba-tiba di hadapannya. Minseok segera membopong tubuh Baekhyun dan memanggil seseorang yang dapat membantunya.

"Baekhyun jatuh pingsan!"

Selagi Minseok membaringkan tubuh Baekhyun, tanpa sengaja ia melihat kilauan dari salah satu jemari Baekhyun. Ia memicingkan matanya untuk memperhatikan benda yang ternyata adalah sebuah cincin.

Tanpa Junmyeon sadari, Minseok segera keluar dari Ruang interogasi lalu menghubungi pihak Keluarga Baekhyun, yaitu Nyonya Byun.

"Selamat malam, Nyonya Byun."

"…"

"Apakah putera Anda mengenakan sebuah cincin pada hari saat ia menghilang?"

Minseok memutar otak setelah mendapatkan jawaban dari Nyonya Byun. Dan rasa curiganya semakin besar terhadap Baekhyun selaku Korban, mau pun Chanyeol selaku Tersangka.

"Minseok, aku baru saja mendapatkan kabar dari Psikolog yang malam tadi mewawancarai Baekhyun."

Minseok menoleh pada Junmyeon yang baru saja keluar dari Ruang interogasi membiarkan Baekhyun mendapatkan pertolongan pertama oleh Tim Medis Kepolisian.

"Apa yang ia katakan?"

Junmyeon menggedikkan bahunya dan nampak tidak yakin.

"Baekhyun mengalami Stockholm Syndrome terhadap Chanyeol."

.

.

.


-oOo- ABUSE -oOo-


.

.

.

Author:
Yuta CBKSHH

Title:
ABUSE (CHANBAEK)

Main Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun

Support cast:
Oh Sehun a.k.a Sehun
Kim Jong In a.k.a Kai
And others cast (EXO's members)

Rating:
M ++

Genre:
Crime, Angst, Drama, Hurt/Comfort

Length:
CHAPTERED

Disclaimer:
Fanfict yang terinspirasi dari kisah nyata siswi Jepang "Junko Furuta" yang disiksa oleh beberapa pemuda hingga tewas. Disini Yuta ga bikin salah satu cast sampe tewas ya, tapi mengarah pada cinta yang tumbuh seiring penyiksaan itu dilakukan. FF ini ditulis oleh Yuta sendiri dan tanpa dibantu oleh siapapun. Plot cerita dari 'pemikiran tiba-tiba' yang terlintas di otak Yuta. Cerita ini tidak memplagiat cerita dari orang lain atau cerita manapun. PLAGIARISM ISN'T MY STYLE! NO COPAST! NO PLAGIAT! Semoga kalian suka dan bisa menerima cerita ini dengan baik ^^

Warning:
BL-BoysLove / YAOI / SHOUNEN-AI / HUBUNGAN SESAMA JENIS. KEKERASAN (HANYA UNTUK HIBURAN, BUKAN UNTUK DICONTOH). MATURE CONTENT INSIDE! NC-21! DLDR! DO NOT BASH BUT KRITIK ATAU SARAN SANGAT DI PERBOLEHKAN. ENJOY IT!

Summary:
[YAOI! ABUSE! CRIME! NC-21!] Entah darimana perasaan benci itu muncul. Tiba-tiba tangan ini sangat ingin menyiksamu, menciptakan beberapa luka hingga banyak darah yang mengalir. Tangisanmu adalah nada indah bagiku. Hingga aku tak menyadari datangnya suatu hal yang fatal... yaitu cinta. (CHANBAEK) Slight KaiBaek HunBaek! RnR!

Backsong:
The Veronicas - You Ruin Me

- HAPPY READING -

.

.

.

"Sampai saat ini, jasad Kris masih diautopsi oleh pihak Rumah Sakit. Tentang kasus pembunuhannya, Chanyeol belum bisa dijadikan tersangka."

Jongdae berhadapan langsung dengan Nyonya Byun selaku Ibu Baekhyun dan menjelaskan tentang kasus yang dialami oleh sang Putera. Nyonya Byun nampak menyeka airmatanya berkali-kali, masih tak mempercayai kondisi yang menimpanya.

"Dan tentang Baekhyun…," Jongdae menjeda kalimatnya dan menunjukkan sebuah foto, yaitu jemari Baekhyun yang mengenakan sebuah cincin, "cukup sulit untuk membujuknya berbicara. Ia mengalami sebuah Sindrom yang mana dirinya terjebak dalam satu perasaan spesial terhadap Penculiknya."

"Perasaan… spesial? Puteraku memiliki perasaan yang spesial terhadap Penculiknya? Itu tidak mungkin," bantah Nyonya Byun.

"Tapi itulah yang terjadi."

Jongdae terpaksa menolehkan pandangannya pada seseorang yang saat ini sudah mendudukkan dirinya tepat di sampingnya. Orang itu adalah Minseok. Dengan sebuah laporan yang ia bawa.

"Stockholm Syndrome. Putera Anda mengalami Stockholm Syndrome," ucap Minseok. Ia mengambil alih pembicaraan.

Mengabaikan Jongdae yang masih menatapnya dan berusaha keras untuk melupakan kejadian yang mereka alami kemarin.

"Dapatkah aku menemui Puteraku?" pinta Nyonya Byun.

"Tentu," jawab Minseok.

.

.

.


-oOo- ABUSE -oOo-


.

.

.

[BAEKHYUN POV]

Para Polisi itu bahkan Ibuku menganggapku gila. Setelah aku mengatakan apa yang aku rasakan, mereka terlihat begitu terkejut dan tak mempercayainya.

Aku pikir mereka salah. Itu bukanlah penyakit. Aku tidak mengidap penyakit apapun. Itu adalah hal yang wajar. Setiap orang pasti akan mengalaminya sekali dalam hidup mereka. Namun bagiku, hal itu terjadi dalam kondisi yang sedikit berbeda.

Sinting, mungkin mereka akan menyebutnya seperti itu.

Satu hal yang aku rasakan adalah jatuh cinta.

Tidak lebih daripada itu.

Aku jatuh cinta pada Chanyeol setelah banyak hal yang terjadi dan ia lakukan terhadapku. Jangan salahkan perasaanku, waktu dan kondisilah yang harusnya disalahkan.

"Aku ingin bertemu dengannya."

Sesuatu yang sangat ingin aku lakukan, yaitu bertemu dengan Chanyeol. Aku hanya ingin memastikan kondisinya baik-baik saja. Bukan terkurung di Kamar Rawat membosankan seperti ini.

"Apa alasanmu menemui Penculikmu itu, Baekhyun?"

Itu adalah suara Ibu. Sosok yang paling aku sayangi seumur hidupku.

"AKU INGIN MENEMUINYA!"

Ya, aku berteriak. Emosiku tak terkendali karena aku terus menerus dicegah oleh mereka. Apa salahnya aku jatuh cinta?

"Baekhyun, tenangkan dirimu. Dan kau harus mengerti bahwa kau tidak bisa menemuinya. Dia adalah–"

"Seorang Penjahat? Kalian menganggap Chanyeol adalah seorang Penjahat? Bukan begitu?!" kupotong ucapan salah satu Polisi yang bernama Jongdae tersebut.

Jatuh cinta itu memerlukan beberapa tahap. Aku merasakan cinta terhadap Chanyeol karena…

Pertama, ia menculikku.

Kedua, aku memiliki Kekasih dan ia tak memperdulikan hal itu.

Ketiga, ia masih menculikku.

Keempat, ia selalu mabuk bersama kedua temannya dan sialnya aku menyukai aroma alkohol yang menguar dari bibirnya ketika ia menciumku.

Dan terakhir, aku tak pernah menduga hal ini sebelumnya. Ia menyatakan cintanya padaku dan memperlakukanku dengan baik.

Lantas, apakah aku mampu menolaknya?

Kumohon biarkan aku jatuh cinta padanya dan menghabiskan hidupku hanya bersamanya.

Aku benar-benar bodoh.

Aku baru menyadari bahwa Chanyeol menginginkanku, namun dengan cara yang berbeda.

"Aku tidak dirugikan, dengan begitu kalian tidak dapat memenjarakannya. Lepaskan dia, dan biarkan aku hidup bahagia bersamanya."

Aku menyingkap selimut yang menutupi kedua kakiku dan beranjak turun dan tempat tidur sialan ini. Aku melangkah melewati mereka menuju pintu keluar. Namun satu tangan berhasil mencegah pergerakkanku.

"Kau ingin bertemu dengan Chanyeol bukan? Sebelumnya, maukah kau berbicara empat mata denganku?"

Polisi bermata kucing ini berucap begitu lembut. Seolah ia memahami posisiku. Aku tahu ia tidak memiliki niat buruk terhadapku, dan tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku menurutinya.

"Namaku adalah Kim Minseok. Aku bisa membebaskan Chanyeol dari tuduhannya, asalkan kau berbicara sejujur-jujurnya padaku."

Lelaki yang berada di belakang Lelaki yang bernama Minseok ini nampak ingin melayangkan protesnya, namun Minseok menatapnya sejenak, dan berhasil membungkam bibir Lelaki itu.

"Ikutlah denganku," ucap Minseok lagi.

Dan aku mengikuti langkahnya keluar Kamar tersebut menuju Ruangan lain yang tak aku ketahui Ruangan macam apa itu.

.

.

.


-oOo- ABUSE -oOo-


.

.

.

"Apa kau hanya ingin berdiri tanpa mau masuk ke dalam? Masuklah."

Minseok memutuskan untuk mengeluarkan Chanyeol dari sel sementaranya, menuju salah satu Ruangan dimana sudah terdapat Baekhyun yang lebih dulu berada di sana.

Ya, ia hanya ingin mempertemukan keduanya agar ia dapat mengambil keputusan akurat tentang Kasus mereka.

Chanyeol masih membungkam bibirnya, dan menunduk menatap langkah kakinya sendiri ketika Minseok membuka pintu Ruangan tersebut. Namun sedetik kemudian, ia dikejutkan oleh sosok yang terduduk di sana.

Sosok itu adalah Baekhyun.

Korbannya yang sangat ia cintai.

"Chanyeol?"

Chanyeol merasakan hangatnya tubuh Baekhyun yang tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat. Kedua tangannya yang terborgol, membuatnya tidak dapat membalas pelukan itu.

"Bagaimana keadaanmu? Aku sangat mengkhawatirkanmu," lirih Baekhyun. Mata indahnya berkaca-kaca menatapi wajah tampan Chanyeol yang pucat.

Chanyeol tidak menjawab dan hanya menyunggingkan senyuman lemahnya. Kedua tangan Baekhyun menangkup wajahnya, dan ia memutuskan untuk mendekatkan wajah mereka berdua, lalu mengecup lembut bibir tipis yang menjadi candunya tersebut.

Ciuman itu cukup lama berlangsung, membuat Minseok yang menyaksikan mereka sedari tadi cukup terkejut. Jadi seperti inikah sikap seseorang yang mengalami Stockholm Syndrome?

"Apa yang kau rasakan, Byun Baekhyun?" pertanyaan Minseok berhasil menginterupsi kegiatan Chanyeol dan Baekhyun.

"Aku sangat bahagia! Kuharap kalian tidak memisahkanku dengan Chanyeol lagi."

Baekhyun tersenyum cerah. Sementara Chanyeol hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Minseok sudah banyak mendengar cerita yang Baekhyun alami langsung dari Baekhyun sendiri. Dan ia sudah menarik kesimpulan bahwa Baekhyun hanyalah jatuh cinta seiring waktu dirinya bersama dengan Chanyeol. Baekhyun tidak memperdulikan kondisinya sendiri bahkan penyiksaan Chanyeol terhadapnya. Baekhyun tidak memperdulikan semua itu.

Pandangan Minseok kini tertuju pada Chanyeol. Ia mencoba untuk menelisik kepribadian Chanyeol melalui sorot matanya. Namun beberapa detik kemudian, ia memutuskan untuk keluar dari Ruangan yang nyatanya adalah Ruang interogasi tersebut. Membiarkan Baekhyun menghabiskan waktunya bersama Chanyeol untuk berbincang karena ia telah berjanji pada Baekhyun.

Masih mengawasi kedua orang itu melalui kaca dinding pembatas tersebut, Minseok melanjutkan tugasnya membuat laporan tentang Kasus Penculikan ini.

"Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol.

Ia mendudukkan dirinya di sebuah kursi kala Baekhyun menariknya untuk terduduk. Bisa ia lihat Baekhyun mengangguk antusias masih dengan bergelayut manja pada tangan kanannya.

"Chanyeol, aku ingin bebas. Aku ingin kita menghabiskan waktu bersama seperti kemarin. Cepat bawa aku keluar dari tempat sialan ini. Aku hanya ingin bersamamu."

"Kau bisa melakukan satu hal untukku?"

"Tentu, apa itu?"

"Cabut kesaksianmu sebagai Korban dan semua dakwaan terhadapku. Dengan begitu kita bisa bersama kembali."

Baekhyun terlihat berpikir sejenak. Memang hal itu yang akan ia lakukan pada Persidangan nanti.

"Kau berjanji?" tanya Baekhyun meminta kepastian dari Lelaki yang ia cintai tersebut.

"Aku berjanji."

.

.

.


-oOo- ABUSE -oOo-


.

.

.

Hari itu tiba. Hari dimana Chanyeol, Kai dan Sehun harus mempertanggungjawabkan tindakan kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap dua orang Korban yang masih berstatus sebagai Siswa SMA, yaitu Byun Baekhyun dan Xi Luhan.

Setelah ditahan selama kurang lebih dua minggu, Chanyeol, Kai dan Sehun harus menghadiri Sidang di Pengadilan untuk mengetahui hukuman yang mereka terima. Begitu pun dengan para Korban, yaitu Baekhyun dan Luhan. Mereka turut hadir pada Sidang itu ditemani oleh Orangtua masing-masing.

Suasana Ruang Sidang begitu ramai, Keluarga Baekhyun dan Luhan bahkan sudah berada di sana. Beberapa Pengacara dan Petugas Kepolisian pun datang lebih awal dan bersiap untuk menjalani Persidangan ini.

Keramaian yang semula memenuhi Ruangan itu, mulai lenyap tergantikan oleh suasana yang mencekam. Terlebih ketika para Tersangka mulai memasuki Ruangan tersebut. Di awali dengan Kai, Sehun dan terakhir adalah Chanyeol.

Mereka bertiga duduk tepat di hadapan Hakim, sementara di sebelah kanan dan kiri mereka adalah Keluarga Korban dan juga Polisi yang menangani Kasus ini.

"Bisa kita mulai persidangan ini?" tanya sang Hakim dan langsung diangguki oleh seluruh Aparat Hukum dan orang yang berada di sana.

"Persidangan dinyatakan dibuka. Jaksa telah menghadapkan ketiga terdakwa ke depan Persidangan dalam keadaan bebas," lanjut sang Hakim.

"Apakah terdakwa Park Chanyeol, Kim Jongin dan Oh Sehun dalam keadaan sehat dan bersedia diperiksa di depan Persidangan?"

Chanyeol, Kai dan Sehun hanya menganggukkan kepalanya secara mantap menjawab pertanyaan dari Hakim. Kemudian sang Hakim membaca Surat dakwaan atas Korban Baekhyun dan Luhan.

"Terdakwa Park Chanyeol, Kim Jongin dan Oh Sehun telah melakukan Penculikan terhadap Korban bernama Byun Baekhyun pada hari Selasa malam dan membawa Korban ke sebuah Rumah, lalu menyekapnya selama 1 minggu. Di hari kedua penculikan, Terdakwa Kim Jongin dan Oh Sehun membawa kembali seorang Korban yang bernama Xi Luhan ke Rumah penyekapan dan melakukan hal yang sama."

Hakim mulai membacakan Kasus perkara pada audience, dan seluruhnya mendengarkan secara seksama tanpa interupsi.

"Berdasarkan barang bukti yang berhasil dikumpulkan oleh pihak Kepolisian, ketiga Terdakwa telah melakukan kekerasan fisik terhadap kedua Korban hingga Korban terluka. Tidak hanya kekerasan fisik, Terdakwa pun melakukan kekerasan secara seksual."

Seketika suasana riuh dan terdengar isakan tangis dari Kerabat Korban. Namun Hakim berhasil menenangkan suasana kembali dan melanjutkan pembacaan Surat dakwaan.

"Apakah para Terdakwa ingin mengajukan eksepsi atas dakwaan?"

Chanyeol, Kai dan Sehun nampak tidak berminat membuka suaranya. Dan membiarkan Pengacara mereka yang berbicara membela tuduhan yang jatuh pada mereka. Setelah salah seorang Pengacara membela Park Chanyeol, Hakim menerima pembelaan dengan tegas. Pengacara itu disewa khusus oleh Yixing karena ia benar-benar tidak akan membiarkan Chanyeol dipenjara dalam Kasus ini.

"Eksepsi dilanjutkan," putus Hakim.

"Mulai dari Terdakwa Kim Jongin, mohon Pengacara untuk membacakan eksepsi yang dapat meringankan hukuman Terdakwa," lanjut Hakim.

"Kim Jongin tidak merencanakan Penculikan ini dan hanya mengikuti kedua Sahabatnya. Ia tidak melakukan hal yang di luar batas terhadap Korban dan justru menyelamatkan Korban dengan memberinya makan," ucap Pengacara bermarga Kim selaku Pengacara dari Kim Jongin.

"Bukti tersimpan?" tanya Hakim dan diangguki oleh pihak Kepolisian yang menyelidiki Kasus tersebut.

"Eksepsi dilanjutkan," ucap Hakim kembali. Lalu melayangkan pertanyaan pada Terdakwa kedua yang tak lain adalah Oh Sehun.

"Pengacara untuk Terdakwa Oh Sehun, bacakan eksepsi untuk meringankan hukuman Terdakwa," ucap Hakim.

"Oh Sehun dan Korban yang bernama Xi Luhan, sudah saling mengenal sebelumnya. Dan Sehun memiliki alasan kuat kenapa ia menculik Luhan selama beberapa hari," ucap Pengacara bermarga Oh selaku Pengacara dari Oh Sehun.

Keluarga Luhan nampak tidak setuju dan Pengacara dari Luhan bangkit dari duduknya.

"Xi Luhan diculik oleh Terdakwa Oh Sehun saat pulang sekolah dan Terdakwa beralasan ingin mengantarkan Korban hingga ke Rumah. Namun tidak terealisasikan, dan Terdakwa justru membawa Korban ke tempat lain lalu menculiknya. Menganiaya Korban, bahkan memperkosanya dengan cara yang biadab!"

Keriuhan kembali memenuhi Ruang Persidangan tersebut. Luhan meneteskan airmatany pilu dalam keterdiaman, sementara Sehun menundukkan kepalanya dan menghela nafasnya berat.

"Saya keberatan," Pengacara Oh menginterupsi.

"Terdakwa Sehun melakukan hal itu atas perasaan suka sama suka. Korban menyukai Terdakwa dan tidak keberatan atas tindakan Terdakwa," lanjutnya.

Sehun sedikit membulatkan matanya dan menatap ke arah Luhan yang terduduk di kursinya sambil terisak. Ia tidak menyangka bahwa ia akan dibela seperti ini agar ia tidak dipenjara. Hal ini sungguh di luar ekspektasinya.

"Semuanya harap tenang," ucap Hakim. Kemudian ia mengarahkan pandangannya pada Luhan, melanjutkan kalimatnya, "Saudara Xi Luhan, apakah benar Anda memiliki perasaan terhadap Terdakwa Oh Sehun? Dan menerima ajakan itu atas perasaan suka sama suka?"

Luhan menegang di kursinya. Lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan kata-kata. Perasaan yang ia rasakan sudah menjawab semuanya. Ia memang pernah mencintai Sehun. Ia justru sangat mendambakan Lelaki itu. Dan rasa sukanya sudah berlangsung sejak lama. Sudah beberapa kali ia mencoba untuk menghilangkan Lelaki itu dari hatinya, nyatanya ia tetap tidak bisa. Ia tidak mampu menghapus cintanya untuk Sehun.

"S-sehun… a-aku sudah membencinya. Aku… sudah membenci Sehun."

Mati-matian Luhan menahan airmatanya. Dadanya terasa sangat sesak, dan secepat mungkin ia jatuh ke dalam pelukan sang Ibu. Ia menangis keras di sana, dan Sehun menyaksikannya. Sehun meremas kedua tangannya sendiri mencoba untuk menahan segala keinginannya terhadap Luhan.

Keinginan untuk merengkuh tubuh yang telah ia lukai begitu jauh.

"Bukti bahwa Luhan menyukai Sehun sudah berada di tangan Polisi, yaitu berupa ponsel. Tidak ada yang dapat ditutupi lagi, meskipun perasaan Luhan terhadap Sehun kini telah berubah," ucap Pengacara Oh.

"Eksepsi dilanjutkan," ucap Hakim. Ia nampak menerima eksepsi yang dilayangkan oleh Pengacara Oh Sehun.

Semua mata kini tertuju pada Chanyeol. Seorang Terdakwa yang memiliki andil besar dalam Kasus penculikan tersebut. Seorang Terdakwa yang dituduh membunuh Kekasih dari Korban yang telah ia culik. Yaitu, Kris.

"Pengacara untuk Terdakwa Park Chanyeol, bacakan eksepsi untuk meringankan hukuman Terdakwa," lanjut sang Hakim.

"Tuduhan atas pemerkosaan yang dilakukan secara beramai-ramai terhadap Korban yang bernama Byun Baekhyun, tidak terbukti. Kekerasan fisik yang dialami Korban adalah karena Korban yang menginginkan hal itu. Hal yang wajar dilakukan dalam kegiatan seks. Byun Baekhyun menyukai Park Chanyeol dan mereka melakukan kegiatan itu atas dasar suka sama suka. Hal ini tidak bisa disebut sebagai pemerkosaan. Park Chanyeol, tidak bersalah."

Pengacara Park selaku Pengacara dari Park Chanyeol, membacakan eksepsi dengan begitu lancar. Ia dapat melihat raut wajah Baekhyun yang cerah ketika Lelaki cantik itu sedang menatap Chanyeol. Lagi-lagi, ia merasa diuntungkan karena Syndrome yang dialami oleh Baekhyun.

Sementara pihak dari Baekhyun selaku Korban, tidak dapat mengeluarkan perlawanan yang berarti mengingat Baekhyun yang nampak sangat ingin bersama dengan Chanyeol. Semua orang tahu bahwa apa yang dialami oleh Baekhyun adalah hal yang dapat memberatkan posisi Korban. Chanyeol sudah melakukan tindak kejahatan dan hal itu adalah hal yang fatal.

"Baiklah, semua eksepsi telah diterima dan tidak ada penundaan Sidang tentang Kasus ini. Dakwaan yang jatuh pada Terdakwa, dihapuskan. Ketiga Terdakwa yang bernama Park Chanyeol, Kim Jongin dan Oh Sehun, bebas dari hukuman."

Tok

Tok

Tok

Hakim telah mengetukkan palunya sebanyak tiga kali. Sebagian orang yang berada di sana bersorak senang karena Terdakwa bebas dari hukuman, sementara sebagian orang lain merasa sedih karena Penjahat yang seharusnya dihukum, justru terbebas dengan mudahnya.

Sidang ini sungguh tidak adil.

"Sidang pertama menyangkut Kasus Penculikan dan Pemerkosaan, resmi ditutup."

Tok

Tok

Tok

Setelah diketuknya palu sang Hakim, Aparat Hukum memerintahkan Kai dan Sehun untuk keluar dari Ruang Sidang tersebut, begitu pun dengan Luhan. Sementara Chanyeol dan Baekhyun masih harus melanjutkan Sidang yang kedua yang harus mereka jalani.

"Sidang kedua, tuntutan atas Terdakwa Park Chanyeol yang membunuh seorang Korban bernama Kris Wu."

Deg!

Baekhyun menegang. Ia tidak tahu soal ini. Kenapa ia tidak mengetahui bahwa Kris telah dibunuh? Terlebih, Chanyeol yang dituduh telah membunuh Kris.

Apa-apaan semua ini?

Kenapa tidak ada seorang pun yang memberitahunya tentang kematian Kris? Bagaimana pun juga, Kris adalah Kekasihnya.

"Ibu… C-chanyeol… membunuh Kris?" ucap Baekhyun gemetar.

Nyonya Byun menangis dan memeluk tubuh kurus sang Putera dengan erat. Ia memang sengaja tidak memberitahu masalah ini pada Baekhyun karena hal ini adalah satu-satunya cara untuk menjauhkan Baekhyun dari Chanyeol.

"Pada saat Terdakwa Park Chanyeol berada di Pulau Jeju bersama saudara Byun Baekhyun, Terdakwa Park Chanyeol melakukan pembunuhan di Kamar mandi sebuah Restoran yang berada di salah satu Hotel. Barang bukti berupa sebuah pisau lipat, yang diyakini digunakan oleh Terdakwa Park Chanyeol untuk menghabisi nyawa sang Korban yang bernama Kris Wu," ucap Hakim menjelaskan perkara.

Sontak Baekhyun menatap Chanyeol meskipun yang ditatap hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa reaksi yang berarti.

"Chanyeol, apa benar kau membunuh Kekasihku?" tanya Baekhyun tiba-tiba. Entah keberanian darimana ia melemparkan pertanyaan itu pada Chanyeol.

"CHANYEOL JAWAB AKU! HIKS!"

Baekhyun merasa dikhianati. Ia merasa telah dibohongi oleh Lelaki yang sudah mati-matian ia bela.

Ia…

Telah tertipu oleh Lelaki jahat yang bodohnya ia cintai.

"Bukti tersimpan?" tanya Hakim pada Polisi Penyelidik.

"Hanya barang bukti berupa pisau lipat yang ditemukan di lokasi kejadian. Tidak ada bukti lain," jawab Jongdae.

Kali ini, Jongdae angkat bicara karena ia memang masih tidak mempercayai bahwa Chanyeol adalah seorang Pembunuh. Chanyeol memang seorang Pengkriminal, tetapi ia yakin bahwa Chanyeol tidak akan berani menghabisi nyawa seseorang semudah itu.

Ia cukup mengenal Chanyeol saat mereka masih berteman dulu.

"Rekaman cctv yang berada di dekat lokasi kejadian?" tanya sang Hakim.

Jongdae menghela nafasnya. Dan satu tangannya terangkat untuk merogoh saku celananya. Mengeluarkan barang bukti yang selama ini ia simpan, yaitu berupa rekaman cctv lokasi kejadian.

Jongdae berjalan mendekati sang Hakim dan meletakkan rekaman cctv itu di atas meja berwarna hijau tersebut.

"Rekaman cctv tidak membuktikan bahwa Terdakwa Park Chanyeol telah melakukan pembunuhan pada Korban Kris Wu," ucap Jongdae.

Ia melirik ke arah Minseok sekilas, membuktikan bahwa ia tidak melakukan kecurangan apapun. Ia secara jantan menunjukkan barang bukti pada Hakim tepat di depan mata Detektif tersebut.

Baekhyun semakin tidak mengerti. Kenapa semakin banyak orang yang membela Chanyeol saat ini?

"Hasil autopsi terhadap jasad Korban?" tanya sang Hakim kembali.

Kali ini giliran Minseok yang bangkit dari duduknya dan menyerahkan dokumen berupa hasil visum sang Korban pada Hakim yang berwenang.

"Korban memiliki riwayat penyakit jantung dan tidak ditemukannya luka luar di sekujur tubuh Korban," ucap Minseok.

"Dimana Baekhyun saat ini? Dimana kau menyembunyikannya?!"

"Akan lebih baik jika ia bersamaku daripada bersama Lelaki keparat sepertimu!"

Chanyeol merogoh sesuatu dari dalam saku celananya dan dengan tiba-tiba ia mengarahkan sebuah pisau lipat pada perut Lelaki itu.

"A-apa yang akan kau lakukan?" tanya Lelaki itu panik.

"Memusnahkan Lelaki sepertimu dari Dunia ini, Kris Wu keparat!"

Slebhh slebbhh!

"Arghh!"

Bukan, itu bukan suara Kris. Melainkan suara Chanyeol yang baru saja mendapatkan luka sayat di tangannya akibat pisaunya ditangkis oleh Kris.

Luka sayat itu cukup panjang dan mengeluarkan darah cukup banyak. Bahkan ada beberapa cipratan darahnya sendiri yang mengenai wajahnya.

Saat Chanyeol meringis karena rasa perih pada lukanya, ia melihat tubuh Kris ambruk begitu saja di hadapannya. Ia sempat melihat Kris memegangi dadanya dan tersungkur. Hingga Lelaki tinggi tersebut tergeletak tak berdaya.

Melupakan pisau lipatnya, Chanyeol segera keluar dari Kamar mandi itu dan menghampiri Baekhyun. Nafasnya terengah-engah dan ia berusaha untuk menyembunyikan luka sayatan di tangannya dari Baekhyun. Ia tidak ingin Lelaki cantik itu mengkhawatirkannya.

"Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Kita… harus segera pergi dari sini. Kau sudah menyelesaikan makananmu?"

Chanyeol bernafas lega ketika mendapatkan anggukan dari si cantik. Lalu ia meraih tangan Baekhyun, namun pergerakkannya terhenti karena Baekhyun mencegahnya.

"Chanyeol tunggu."

Sial! Ia harap Baekhyun tidak menyadari sesuatu yang aneh dari dirinya.

"Ada apa?"

Baekhyun pasti melihat sedikit darah di wajahnya yang tak sempat ia bersihkan.

"Kau… terluka? Pipimu berdarah."

Tidak ada yang dapat ia lakukan selain menepis tangan Baekhyun dari wajahnya. Ia harus mencari alasan agar Baekhyun tidak mencurigainya.

"Itu hanya saos. Aku tidak terluka sama sekali. Jangan mengkhawatirkanku."

Brukk!

Chanyeol langsung membanting pintu Kamar mandi setelah memastikan Baekhyun terduduk nyaman di atas ranjang mereka. Sesampainya mereka di Kamar Hotel, Chanyeol menyuruh Baekhyun untuk beristirahat sementara dirinya bergegas untuk menutupi luka sayatan di tangannya yang semakin banyak mengeluarkan darah segar.

"Arrghh!"

Chanyeol menggigit bibir bawahnya sendiri untuk meredam ringisannya. Sementara air bersih mengucur di atas luka sayat di tangannya. Dahinya berkeringat menandakan bahwa ia sedang menahan rasa sakit saat ini. Ia harus bergerak cepat agar Baekhyun tak menyadarinya. Lalu ia mencari kotak obat dan membalut luka itu dengan perban.

Setelah memastikan luka itu tertutup, ia meraih kemeja lengan panjangnya. Sengaja ia memilih kemeja panjang, karena ia harus menutupi luka itu dari pandangan mata Baekhyun.

Setelah memastikan semuanya aman, Chanyeol keluar dari Kamar mandi dan menghampiri Baekhyun yang nampak sedang menunduk dengan dalam. Ia tidak tahu apa yang Baekhyun pikirkan, tetapi hal itu tidak menyurutkannya untuk memberikan sebuah pilihan pada Lelaki cantik tersebut.

"Aku memberikanmu kesempatan untuk menolakku, Byun Baekhyun."

"Chanyeol mengalami luka sayatan di lengannya karena terkena pisau lipatnya yang ditangkis oleh Korban," ucap Minseok. Kemudian ia berjalan mendekati Chanyeol yang terduduk lesu di kursinya di hadapan Hakim.

"Tunjukkan luka sayatanmu pada kami semua," titah Minseok.

Chanyeol nampak menahan nafasnya dan dengan perlahan menggulung lengan kemeja yang dipakainya. Betapa terkejutnya Baekhyun menyaksikan hal itu. Ia ingin menghampiri Chanyeol, namun sang Ibu menahan pergerakkannya agar tetap tinggal di tempat.

"Tuduhan atas Terdakwa Park Chanyeol, telah dihapuskan."

Tok

Tok

Tok

.

.

.


-oOo- ABUSE -oOo-


.

.

.

Junmyeon terdiam menunggu kehadiran seseorang keluar dari Pengadilan. Ia menunggu di dekat gerbang hingga seseorang yang ia tunggu-tunggu sedari tadi muncul di hadapannya. Ah, tidak. Lebih tepatnyam seseorang itu berjalan melewatinya.

"Yixing, tunggu."

Segenap keberanian yang ia miliki, ia keluarkan untuk menahan satu tangan seseorang yang telah ia rugikan akibat sikap egoisnya beberapa waktu lalu.

"Semuanya sudah selesai, Komandan Kim Junmyeon."

Yixing menatap Junmyeon dengan sinis dan nada suaranya terdengar begitu dingin. Ia berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Junmyeon, tapi usahanya sia-sia karena Junmyeon sangatlah kuat.

"Lepaskan!"

"Kita harus berbicara."

"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku sudah membayar mahal seorang Pengacara untuk membela Chanyeol."

Suara Yixing mendadak bergetar. Mata indah itu pun terlihat berkaca-kaca.

"Ini mengenai hubungan kita."

"Kita tidak memiliki hubungan apapun. Aku sungguh menyesal… kau sama sekali tidak membantu! Seharusnya aku tidak mempercayai Polisi sepertimu! Hiks!"

Airmata Yixing akhirnya menetes. Ia tidak sanggup menahan airmatanya lagi kala berhadapan dengan Lelaki yang telah menyentuhnya ini.

"Maafkan aku. Aku akan mengantarmu pulang," ucap Junmyeon. Namun Yixing masih bersikeras menolak apapun yang dikatakan oleh Junmyeon.

"Lupakan semuanya. Aku tidak ingin berurusan lagi denganmu," ucap Yixing.

Bohong.

Nyatanya ia membutuhkan Lelaki itu di hidupnya. Sejujurnya, ia ingin Junmyeon memperlakukannya dengan baik. Ia ingin bersama Lelaki itu. Namun sifat egois tengah menguasai dirinya saat ini.

"Yixing… aku mencintaimu."

Kalimat singkat yang diucapkan oleh Junmyeon berhasil membuat lutut Yixing melemas. Ia tidak dapat menahan bobot tubuhnya sendiri sehingga tubuhnya hampir saja terjatuh, jika tidak lebih dulu ditahan oleh Junmyeon.

"Kenapa kau membohongiku?" tanya Yixing sambil menatap Junmyeon pilu.

"Aku tidak membohongimu. Aku memang mencintaimu."

Tanpa menunggu lama lagi, Junmyeon memapah Yixing menuju Mobilnya. Seperti yang ia katakan tadi, ia akan mengantarkan Yixing ke Rumahnya. Bila Yixing memberikannya sedikit kesempatan, ia akan memperjelas hubungan mereka dan bertanggungjawab atas semua yang telah diperbuatnya terhadap Lelaki berlesung pipi tersebut.

.

.

.


-oOo- ABUSE -oOo-


.

.

.

[BAEKHYUN POV]

Aku percaya aku mempunyai perasaan untukmu. Setiap aku melihatmu, aku merasa lebih baik. Aku mengagumimu, juga ketika kau mengizinkanku untuk menatap matamu yang indah hingga aku terjatuh dalam lamunan.

Aku bukan seorang Stalker hanya karena aku selalu mengikutimu kemana pun kau pergi. Aku hanya menyukai wajahmu. Kau memiliki mata yang menakjubkan, tetapi kau menyembunyikannya pada Dunia. Aku suka menatap matamu dan aku memikirkan tentang permainan menebak seberapa lama mata kita saling menatap.

Namun setelahnya, aku menginginkan hal yang lebih dari sekedar menatap matamu. Aku ingin menyentuh tanganmu, merasakan garis tanganmu hingga merasakan betapa lembutnya kuku-kuku yang kau miliki. Menautkan jemariku pada jemarimu untuk mengetahui apa yang ada di dalam hatimu. Tetapi kau tak pernah membiarkannya.

Aku berharap mengetahui bagian dalam tubuhmu. Yang selama ini kau tutupi. Bukan hanya melihat yang kau biarkan semua orang melihatnya. Aku ingin mengetahui segalanya tentangmu, aku ingin mengetahui apa yang membuatmu menangis, tersenyum, tertawa, cemberut. Aku ingin melakukan hal itu semua padamu.

Aku ingin menemukan kunci dari hatimu, sehingga aku dapat menguncinya dan menjadikanmu sebagai milikku.

Aku ingin tahu bagaimana aku bisa meyakinkanmu bahwa aku lebih baik darinya. Aku dapat memberikanmu kesenangan jauh melampaui dari sekedar seks yang mungkin telah ia berikan. Padahal, aku tidak amatir dalam hal itu. Aku dapat menggelitik inderamu, membuatmu terbang. Aku tidak akan menjatuhkanmu kecuali jika kau menginginkannya. Aku akan selalu berada di sana jika kau membutuhkan seseorang.

Karena aku berada dalam cinta yang abadi terhadapmu. Meskipun kau mungkin tidak mengembalikan perasaan itu di saat cinta seharusnya memberikan timbal balik. Kabut tebal tidak ada artinya bagiku untuk mendekatimu, karena aku telah memberikan mantra pada kabut itu menyampaikan cintaku untukmu hingga kematian membawa kita.

Dan kita akan bersama, sayang. Selamanya.

Cintaku, Byun Baekhyun.

Aku menyimpan baik-baik sebuah buku yang baru saja Minseok berikan padaku. Di sana, Chanyeol banyak menuliskan isi hatinya sehingga aku dapat mengerti tentang perasaannya selama ini.

Aku terkejut. Tentu saja.

Aku kira hanya aku yang mencintainya. Tetapi nyatanya cinta yang ia punya untukku, jauh lebih besar dari milikku.

Aku memutuskan untuk mendudukkan diriku di atas ranjang yang sudah lama tak aku tempati. Selama itulah Chanyeol menculikku dan juga hari-hari berat yang aku lewati di Kantor Polisi hingga Persidangan itu berakhir.

Aku merindukan diriku yang dulu. Aku merindukan segala kenangan yang telah aku ciptakan. Kenangan indah yang dimulai oleh satu-satunya orang yang berhasil masuk begitu dalam pada kehidupanku.

Aku mengingat satu malam saat dirinya memaksa untuk memasuki Kamarku dan ia hampir memperkosaku di Kamar ini. Mulai detik itu, detakan mendebarkan itu muncul. Aku dapat menatap mata hitamnya dalam jarak yang sangat dekat dan merasakan hembusan nafasnya yang menyapu permukaan kulitku.

Tidak menyadari niatnya yang menjadikan aku sebagai target. Aku menjadi Korban dan jatuh cinta padanya. Seluruh rasa sakit yang ia berikan, membuatku semakin memahami dirinya. Sosok misterius dirinya yang kini telah berhasil aku bongkar.

Ketika ia menyentuh bagian tubuhku, aku tidak melayangkan protesku. Aku tenggelam dalam kolam yang penuh dengan darah berwarna merah pekat. Aku kehabisan tenagaku, lemah, terluka, dan ia hanya menatapku.

Sangat meyakini bahwa kematian akan segera menjemputku, namun aku tidak melawannya. Aku tidak mampu melawannya karena aku tidak ingin. Aku hanya ingin ia meninggalkanku seorang diri, tetapi ia tidak pernah melakukannya.

Aku mengerti.

Dan aku yakin bahwa aku benar-benar tak bisa terlepas darinya.

Chanyeol tidak bersalah atas tindakannya. Ia hanya ingin menunjukkan sesuatu yang orang-orang tidak mengerti.

Yaitu cintanya.

Huuusshh~

Hembusan angin menerpa wajahku dengan lembut. Sangat sejuk dan memberikanku oksigen untuk bernafas lega.

Angin itu berasal dari jendela Kamarku yang terbuka.

Tanpa diperintah, kakiku melangkah mendekat ke jendela itu dan menatap pemandangan yang ada di luar. Namun sepasang mataku membulat kala menangkap sosok yang aku rindukan tengah berdiri tepat di balik gerbang Rumahku.

"Chanyeol…"

Masih sama. Ia terlihat begitu tampan. Aku semakin membutuhkannya.

Aku tahu jika semua ini adalah kesalahan. Kesalahan terbesar yang pernah aku buat di seumur hidupku.

Yaitu mencintainya.

Malam semakin larut. Ibuku yang aku yakini sudah damai dalam lelapnya, seolah memberikanku kesempatan untuk bertemu pujaan hatiku. Kulewati jendela yang terbuka dan tanpa henti kakiku melangkah.

Dekat… dan semakin mendekat…

Aku berhasil meraih tubuh tingginya.

Ia memelukku erat dan aku membalasnya.

"Aku tidak dapat membayangkan jika saat ini kau benar-benar telah menjadi milikku, Byun Baekhyun."

Ia berbisik tepat di telingaku. Aku mengangguk menyetujui ucapannya dan kutatap mata tajamnya yang hanya menatap ke arahku tersebut.

"Aku milikmu, Park Chanyeol."

.

.

.

.

.

.

To Be Continued…

.

.

.

.

.

.

A/N : Di tengah kebuntuan yang menerpa, terciptalah chapter ini. Semoga gak aneh dan kalian mudeng wkwkwk. Jujur, itu persidangannya ngaco banget :'v

Maapkeun aku yang tidak pernah ikut sidang ini :'))

Entah bagaimana lagi chapter selanjutnya, aku pusing, aku bingung :((