A/N : Gomennasai ^^, author terlalu lama tidak apdet fic ini *hampir semua fic sebenernya* karena alasan, er... author udah kelas 3 nih... mau persiapan UN sama praktik-praktik lain macam Drama untuk bahasa Indonesia, Senam aerobik untuk olahraga, err... MYOB untuk Akuntansi dan lain-lain yang udah ga sanggup lagi kusebutin , ~

Dan aku juga sempat bermasalah dengan modem yang kartunya tiba-tiba ga bisa digunain,,, *what the HELL?!1*

Jadi mohon pengertiannya Minna san m(-_-)m

Balas Review :

Yamaguchi Akane :

Benarkah? Kalo gitu nanti kuperbaiki. Makasih udah kasih tau ^^

Icha Clalu Bhgia :

Hmmm, mungkin ya. Mungkin juga tidak.. :D *jawaban apa itu?!* #plakk!

Uzumaki Prince Dobe-Nii :

Masa sih? Kitsune kan pemalu... :/ *Ni orang labil amat!*

MyLullaby's :

Sudah dilanjut nih ^^

dame dame no ko dame ku chan :

To be continue karna aku ga sanggup lanjutin lagi,,, *pegel tangan* dan hehehe... kali-kali uke yang agresif B)

devilojoshi :

Itu Kyuubi?Masa sih?

Kushina FBI? Masa sih? O.O

Waaaah... loshi tau kemana arah pikiranku nih,,, bahaya nih! Kalo sampe endingnya ketebak! #plakk!

mariashine87 :

Owuuuu :3

kkhukhukhukhudattebayo :

Aduh... , ... pyusiiiing...

Tapi chapter ini sesuai sama keinginanmu.. 70 persen SasuNaru :v

Dan untuk pil atau obat itu dan pertanyaan lainnya, chap-chap depan aja deh kujawab *Ni orang ketauan malesnya*

Aichan hime :

Untuk scene terakhir kemarin emang aku sengaja menyerahkan kepada pembaca agar mengira-ngira itu Naruto atau siapa atau siapanya. Aku punya alasan sendiri untuk itu ;)

TheBrownEyes'129 :

Okeeeeeee! #treak pake toa *nyolong dimasjid bawah rumah*

kinana :

Itu rahasia :3

Untuk Kakashi sih, aku rencanain munculin chap depan.. dan dengan adegan menegangkan.. bwahahahah #plakk!

Ekhmmm.! Untuk Sasu itu kenapanya nanti ada chapter khusus untuk Uchiha kok!

Dan untuk masalah poligami... errr... rahasia~

tetchan :

Untuk Shion,, yah.. dia sih ntar ada penjelasan diflasback... dan untuk Kushina dan lainnya.. aku juga berharap bisa nulis scene-scene mereka dengan adegan menegangkan..

AAind88 :

Iya nih.. chap 13 ini pair utama malah baru ada dugdug serrrr,,,nya *apaan?!*

Di chap ini juga aku banyakin SasuNaru, abis nanti ga seru kalo mereka nggak love-love.

Wookie :

Tengkyuu udah muji-muji *kepala membesar*

Yak,.. benar sekali.. Mata Sasuke merah akibat dari perc-*pekeped* masih rahasia ah.. nanti aja kalo udah nyampe chapter khusus Uchiha aku bocorinnya XD

Aku jawab yang dikit" aja ya..

Itachi malah jadi orang nggak tau apa-apa.

Shion? err.. rahasia.

Untuk Orochi,,, dia dari awal jadi antagonis.. :)

Scene terakhir, silahkan kira-kira sendiri.. sikap itu milik siapa.. XD #plakkk!

NasTar WhIte SuGar :

Ok! Aku lanjut.. dan pergantian kepribadian... jawab sendiri *minta dihajar*

Mii. Soshiru :

Untuk Sakura.. pastilah dia bakal gangguin SasuNaru... apa lagi ada si... *Lirik sirambut panjang*

Koura Fukiishi :

Semua akan indah pada waktunya.. hanya itu yang bisa kubilang sekarang sama kamu. *ce'elah basa lu~* #plakk!

JinK 1314 :

Emang ada beberapa yang tau tentang DID-nya Naru,, dan kayaknya ga cuma bebrapa orang dalam pikiranku aja sih..

kheiki :

Aku jawab masalah flashback aja ya.. abis chapter depan atau chap 17 mendatang... –mungkin.

Icah he :

Thanx~

badaisakura :

O.O

Gaara kan udah punya yang lain dan Cinta segitiga.. kayaknya kurang deh.. Naruto kan punya 3 kepribadian, termasuk dirinya jadi 4.

yhani. tea. 5 :

Ini sudah dilanjut, ^^

arrian. black. 5 :

Ini lanjutannya. SasuNaru loh! –d

Gunchan CacuNalu Polepel :

Ok! Udah lanjut nih Gunchan :D

arriandarkblack :

Ini sudah dilanjut :) baca ya ^^

deEsQuare :

Silahkan tebak sendiri~ #plakk!

ana. karina. 12576 :

Udah lanjut... untuk pertanyaanmu.. masih rahasia ^^

Yang udah review, arigatou gozaimasu ~~ tanpa kalian fic ini bukan apa-apa,, hanya menjadi sebuah tulisan tanpa makna dan tanpa ada yang mengerti. :)

.

,

Lets Enjoyed ttebayo!

Naruto : 17 tahun

Sasuke : 23 tahun ======== Kushina : 44 tahun(tua amat)

Sasori : 31 tahun ========Minato : 45 tahun

Deidara : 22 tahun ======== Pain : 22 tahun

Itachi : 24 tahun ======== Iruka : 22 tahun

Gaara : 17 tahun ======== Suigetsu : 21 tahun

Kiba : 17 tahun ======== Karin : 22 tahun

Shikamaru : 24 tahun ======== Neji : 24 tahun

.

Disclaimer : Naruto punyanya Kishimoto sama, juga milik baka teme

Genre: Romance, Family,Crime.

Rated: semi-M for this chapter

Pairing: SasuNaru

slight : Hampir tidak ada dichapter kali ini.

Warning: yaoi, BoyXBoy, sho-ai, BL, Alur kadang cepat kadang lambat, Alur maju mundur, Typo(?), bored, aneh, gaje etc.

Don't like don't read this ok?

.

.

*##########*###########*###########*###########*###########*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.

Menghela napas, setelah sekitar lima menit ia diam. Satu tangannya bergerak dengan susah payah untuk meraih kantung dengan celana yang dikenakannya. Mengambil sebuah ponsel hitam miliknya dan menyentuh layar ponsel itu sebelum ia dekatkan pada telinganya. Ia kembali terdiam untuk sejenak saat mendapati pergerakan tak nyaman dari seseorang yang dengan pulasnya menutup mata di atas tubuhnya dan kembali bergerak saat tak lagi merasakan gerakan halus dari orang itu.

Tuuut... tuuut...

Bunyian panjang terputus-putus itu terus didengar olehnya, menunggu sampai suara itu berganti dengan hal lain. Suara seseorang yang seharusnya bisa dengan cepat mengangkat ponselnya diseberang sana.

"Ya?" Dua huruf dan jika ia tambahkan dengan nada tanya itulah yang pertama didengarnya dari si pemilik nomor yang tengah dihubunginya. "Keruanganku sebentar." Ucapnya datar.

"Ha? Apa maksudmu itu sih? Lagi pula untuk apa kau meneleponku? Aku kan ada di ruang tamu." Sasuke memijat pelipisnya. Apa orang ini harus secerewet ini? "Dan kenapa suaramu berbisik begitu?"

"Sekarang, Suigetsu." –Klik!

.

.

"Apa susahnya si -eh?" Suigetsu mengerjap. Ia yang tadinya ingin sedikit mengomel dan protes langsung terdiam tatkala matanya melihat Sasuke, bosnya itu dalam keadaan terbaring dan dengan posisi yg sama saat tadi ia meninggalkan ruangan ini. Tak lupa pula dengan seseorang yang berada di atas tubuhnya. Itu terlihat...

Sasuke menyadari arah dari pikiran bawahannya itu hingga terdiam seraya melihat kearahnya, ia memandang kesal meski takkan terlihat karena tertutup muka temboknya. "Jangan tanya dan bawa laptopmu kemari." Perintah Sasuke.

Suigetsu menggaruk belakang kepalanya, "Mengenai posisimu –Ok, jangan tanya. Aku mengerti." Ia segera meninggalkan ruangan itu saat kadar ketajaman dari tatapan datar Sasuke mengarah padanya. Ia masih sayang nyawa untuk berurusan dengan orang yang jelas berbahaya begitu.

.

.

.

Layar laptop yang menyala dipangkuannya, tangan yang bersiap untuk mengetik sesuatu pada keypad dan mata yang mencuri lirik pada dua orang di samping tempatnya duduk. "Lihat layar itu. Bukan lihat aku." Ia bergidik mendengar nada rendah itu keluar dari mulut bosnya.

"Err... sebenarnya apa yang mau kau mau aku lakukan dengan laptop ini?" Kembali pada masalah awal lebih baik dari pada meneruskan yang dilakukannya tadi. "Masuk dalam arsip kependudukan Konoha."

"Hah?" Suigetsu yakin ia salah memasukan obat dalam telinganya hingga pendengarannya bisa salah begini. "Jangan buat aku mengatakan untuk kedua kalinya." Ketus Sasuke.

"Tapi untuk apa? Arsip kependudukan Konoha, itu file negara Sasuke." Ucap Suigetsu, ia benar tidak mengerti apa yang mau dilakukan Uchiha bungsu satu ini. Arsip kependudukan? Yang benar saja, Uchiha ini menyuruhnya untk masuk dalam jaringan negara yang jelas punya banyak jebakan berisikan kata sandi dan sebagainya?

"..." Sasuke lebih memilih memberikan tatapan tajamnya pada Suigetsu sebagai jawaban dari pertanyaan pemuda itu.

Pemilik manik keunguan itu hanya bisa berdecih dan segera mengetik beberapa huruf pada pad dengan tak lupa memasang jaringan keamanan pada laptopnya. Mau ngehack tapi dihack balik tentu saja bukan pilihan yang akan ia pilih.

Ia kembali berdecak saat menemukan sebuah kolom bergambar lingkaran api yang harus ia masukan dengan beberapa huruf sebagai password. 'Di awal saja sudah pakai password begini. Apalagi nanti jika aku masuk lebih dalam. Ck! Dasar merepotkan!'

"Bisa kau percepat."

"Ini sudah cepat! Memangnya kau pikir gampang masuk file negara begini!" Kesal Suigetsu, tangannya masih dengan cekatan memencet beberapa huruf dan angka di laptopnya meski dengan mulut yang sejak tadi menggerutu kesal –yang pastinya untuk Uchiha di sampingnya.

Sasuke memperhatikan setiap pergerakan Suigetsu, sebenarnya hanya fokus pada layar laptop dipangkuan pemuda itu. Selebihnya ia menunggu hasil dari 'pembobolan' file yang saat ini pemuda itu lakukan.

Enter

'Berhasil!' Suigetsu tersenyum, "Lalu, apa yang kau cari?" Tanyanya seraya mendekatkan layar laptopnya pada Sasuke –Uchiha itu masih dalam keadaan terbaring ingat?- dan menggerakan kursornya pada satu barisan kalimat yang ada di sana.

"Masukan kata kunci, Uzumaki, Namikaze, Senju." Ucapan Sasuke itu mendapat kernyitan bingung dari Suigetsu meski pemuda itu lebih memilih untuk tidak bertanya dan melakukan apa yang dikatakan Sang Uchiha. Ia berdecak saat kata kunci lain menggantikan apa yang ia ketik di laptop itu. 'Siapa yang dibayar pemerintahan membuat pertahanan sampai seperti ini?!' Suigetsu melirik orang di sampingnya, 'Tapi, kenapa...' lalu melihat wajah tidur pemuda manis yang terlihat begitu rileks dengan kepala yang menyandar pada dada Sasuke.

"E –to..." Sasuke melirik bawahannya itu, "Kau tidak melakukan yang macam-macam pada Naru chan kan?"

"Hn." 'Tidak, dia yang macam-macam padaku.' Lanjutnya dalam hati. Ia ingat sekali bagaimana bocah ini bisa tidur di atas tubuhnya.

Ingatan Sasuke kembali pada beberapa saat lalu, saat ketika bocah ini berbuat –itu- padanya. Dan karena itulah, saat ini bocah itu entah kenapa tertidur di atasnya.

.

.

.

Ini tidak bisa dijelaskan, tapi rasa lembut yang terus bergerak dibibirnya merupakan sesuatu yang nyata. Naruto menciumnya. Ini sangat aneh dan perasaan yang sekarang ia rasakan. –Dia bukan Naruto. Tapi bagaimana bisa ia berpikir seperti itu jika sudah jelas-jelas bocah ini adalah Naruto.

Matanya pun tak bisa memungkiri jika ada yang berbeda dari tatapan mata beriris sapphire itu. Garis mata yang entah mengapa terlihat lebih tajam, menatapnya sebelum mata itu perlahan tertutup dengan kepala yang bersandar pada dadanya. Dengkuran halus yang ia dengar memastikan jika bocah itu tertidur. Meninggalkan dirinya yang diliputi kebingungan atas semua yang dilakukannya.

Otaknya terus berusaha untuk mencerna semua yang telah terjadi, khususnya yang berkaitan dengan bocah ini. Kitsune, Naruto, sikapnya yang terus berubah-ubah, dan yang terakhir tadi –menciumnya.

'Sebenarnya ada apa dengan bocah ini?' Sasuke memijat pangkal hidungnya, menetralisir sedikit rasa pusing dikepalanya dan kembali fokus pada apa yang dikerjakan Suigetsu. Pemuda itu terlihat beberapa kali berdecih dan menggumamkan sesuatu seperti 'password sialan', 'pemerintah bodoh' dan semacamnya sebelum berhenti mengetik dan menatapnya.

"Sebenarnya apa yang kau cari sih? Kalau Uzumaki sih aku masih mengerti –" Mata Suigetsu melirik Naruto yang masih tertidur. "Tapi jika Namikaze dan Senju, untuk apa kau mencari hal yang tak berhubungan begitu?"

"Ayah dari Naruto adalah Namikaze Minato, dan nenek dari ayahnya adalah Senju Tsunade." Ucap Sasuke, ia mengarahkan pandangannya pada langit-langit kamar sebelum kembali melanjutkan. "Sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku, Uzumaki selalu dilindungi oleh pemerintah. Nama mereka diganti, atau bahkan dengan memberi mereka pengawasan khusus karena Uzumaki itu spesial." Suigetsu mengangguk.

"Lalu kenapa anak ini menggunakan nama Uzumaki, hal yang jelas memancing pihak lain. Dan, bagaimana Uzumaki Naruto bisa menjadi seorang Kitsune."

Suigetsu mengangguk-anggukan kepalanya seraya berfokus pada layar laptop yang menampakan angka seratus persen load , "Intinya kau mau tahu latar belakang Uzumaki Naruto alias seorang Kitsune ini?" Tanyanya. Pemuda berambut putih keunguan itu masih menggerakan jari-jarinya di atas laptop yang kemudian berhenti dengan mata membulat. Ia menatap Sasuke dengan wajah pucat, "Di –dia..." Ia meneguk ludahnya, "Dia Kitsune?!" Teriaknya saat pikiran dalam kepalanya itu berhasil mencerna semua penjelasan Sasuke.

"Ngh... berisik~" Erangan barusan membuat perhatian kedua orang itu teralih pada pemuda bersurai kuning yang kini tengah mengucek sebelah matanya. Mulutnya terbuka lebar saat ia menguap.

Mata bulat itu mengerjap untuk beberapa saat sebelum terfokus pada apa yang ada di depannya. Putih, hitam, lalu –blush! Pipinya merona melihat wajahnya yang begitu dekat dengan wajah orang di depannya. Ia membangunkan tubuhnya hingga duduk. "Te –Teme!" Teriaknya gelagapan.

Dan onyx di depannya menangkap –lagi-lagi perubahan sikap itu. "Jika kau sudah bangun, segera menyingkir dari tubuhku dobe." Sasuke membangunkan tubuhnya, membuat Naruto yang duduk di atas perutnya harus terjungkal dan menubruk sisian tempat tidur di belakangnya. "Atau kau ingin tidur di atas tubuhku lagi?" Tanyanya dengan wajah yang sedekat mungkin dengan Naruto.

"Si –siapa yang mau! K –kau yang –" Ucapan Naruto terputus saat kulit wajahnya merasakan hembusan napas hangat dengan aroma mint yang membuat wajahnya kembali memanas.

"Aku yang?" Sasuke membeo, matanya tak lepas dari wajah manis Naruto yang kini memerah. Ia sedikit menarik sudut bibirnya keatas melihat reaksi yang ditunjukan Naruto.

Klik! Klik! Klik!

Pandangan kedua orang itu langsung teralih pada suara-suara yang mengintrupsi, melihat wajah penuh sumringah dan senyum lebar dengan gigi taring yang sedikit menyembul keluar dari pemuda bersurai putih keunguan yang menatap mereka dengan mata penuh gliter warna warni.

-Jangan lupakan kamera yang dipegangnya.

-Klik!

Jika saja Sasuke tidak menyandang marga Uchiha yang harus tetap tenang, berwajah stoik, dan bermuka tembok. Saat ini pasti ia akan dengan senang hati menunjukan wajah aneh plus tidak relanya memiliki bawahan yang mempunyai hobi aneh macam Suigetsu.

Sasuke mendongakan wajahnya dan menghela napas, kemudian menatap Naruto dengan wajahnya yang terlihat bingung memperhatikan apa yang dilakukan Suigetsu sebenarnya. "Kau –" Naruto menoleh, "Cepat sana mandi." –Tapi sepertinya keputusannya untuk menoleh itu salah, karena lagi-lagi ia harus mendapati wajahnya yang sangat dekat dengan Sasuke.

Melihat bocah di depannya malah diam, bukannya segera beranjak dari tubuhnya, Sasuke mendekatkan wajahnya lagi. "Atau kau mau aku memandikanmu?"

-Duk!

"AWH!" Sasuke merasakan pusing yang langsung menjalar dikelapanya. Tangannya memegangi jidatnya yang serasa dihantam palu. "DOBE!" Teriaknya membahana, ia meringis dan sesekali menggeram saat mendengar teriakan lain dari arah kamar mandi.

"TEME MESUM!"

"BWAHAHAHAHA!" Dan ingatkan Sasuke untuk menyumpal mulut pemuda yang tengah tertawa dengan keras di sampingnya. Pastikan ia untuk mengingatnya.

Drrrt Drrrt... Drrrt Drrrt

Sasuke berdecak penuh kekesalan saat ponsel dalam kantung celananya bergetar, ia mengumpat dalam hati karena ponselnya itu tidak berperi ke-Sasuke-an sekali. Tidak tahu apa kalau kepalanya ini pusing habis ditiban beton.

"Hn!" Ucap atau lebih tepatnya gumaman kesal Sasuke pada ponsel yang sudah ia tempel ditelinganya.

"Pulang sekarang, Sasuke." Alis Sasuke berkerut, 'Itachi?' "Tidak untuk sekarang Itachi." Ucap Sasuke.

Tidak ada suara dari Itachi untuk beberapa saat, "Berhenti bersikap menyebalkan. Kau hampir membuat kerjasama Akatsuki dan Jinchuuriki berakhir sia-sia." Suara itu terdengar seperti ditahan bagi Sasuke. Marah? Ia rasa memang seharusnya Itachi marah padanya saat ini.

"Aku sibuk." Ucap Sasuke, tidak sepenuhnya bohong.

Helaan napas berat terdengar dari Itachi, "Kau melarikan ketua Jinchuuriki! Apa kau tidak bisa berpikir sampai-sampai melakukan hal itu!" Nada tinggi tak lagi dapat ditahan sulung Uchiha itu pada adiknya.

"Teme?" Sasuke menoleh kearah kamar mandinya. Melihat kepala dengan surai pirangnya yang menyembul keluar dari pintu. "Ka –kau punya baju ganti?" Naruto menggaruk pipinya.

"Apa itu Naruto?" Alis Sasuke mengerut, "Bagaimana kau –"

"Kita perlu bicara. Hari ini, jam 2 kutunggu di rumah." –Tuut tuut tuut

Sasuke memejamkan matanya, "Kau urus dia." Ucapnya seraya bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu.

"Kau mau kemana?" Naruto terus menatap Sasuke yang berjalan, ia menyembulkan tubuhnya keluar pintu. "Teme?" Panggilnya lagi, namun sepertinya orang yang ia panggil tak menindahkan dirinya.

Cklek!

Sapphire itu menatap punggung berbalut kemeja putih Sasuke, ia meremas sisian pintu kamar mandi saat rasa takut dengan tiba-tiba menghantam pikirannya. "Sasuke?"

Sasuke melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu, ia terlalu fokus pada pikirannya –bukan, ia terlalu pusing dengan pikirannya. Terlebih, bagaimana Kakaknya bisa tahu ia bersama dengan Naruto? Apa Itachi tahu? Tapi bagaimana?

Ia terus memikirkan semua pertanyaan-pertanyaan yang semakin lama semakin banyak saja dalam kepalanya, tak menyadari jika seseorang tengah berlari di belakangnya. Hingga ia terkejut saat merasakan tubrukan dipunggungnya dan sepasang tangan yang kini melingkar dipinggangnya. Tangan itu gemetaran.

"J –jangan tinggalkan aku." Ia terdiam merasakan tubuh di belakangnya ikut gemetar.

Ia menghela napasnya dan menyentuh sepasang tangan yang melingkari perutnya. Tangannya mencoba untuk melepaskannya namun justru membuat sepasang tangan itu semakin melingkar kuat.

"Lepaskan tanganmu, Dobe." Ucap Sasuke, ia merasakan kepala yang menempel dipunggungnya itu menggeleng. "Kau akan pergi kalau kulepaskan!"

"Bagaimana aku bisa menghadapmu kalau kau menahan–memeluk-ku dari belakang." Ucap Sasuke. Tangannya kembali bergerak melepas lingkaran tangan diperutnya setelah merasakan tangan itu melonggar dan berbalik, melihat pemuda pirang yang saat ini menunjukan wajah ketakutannya. Pikirannya semakin bingung.

Sasuke melirik lantai kamarnya yang terlihat basah oleh jejak-jejak air dan kembali menatap Naruto. Ctik! Ia menyentil pelan dahi pemua pirang itu, "Lihat apa yang kau lakukan pada rumahku." Ucapnya, sejurus kemudian ia masuk kembali ke dalam kamar dan membuka lemari besar yang sedikit lebih tinggi darinya. Mengambil kemeja putih dengan ukuran paling kecil yang ia punya dan handuk berwarna biru dari sana dan kembali mendekati Naruto.

"Jangan berlari dengan tubuh masih basah seperti ini, kau bisa terpeleset dasar." Handuk biru itu menutupi helaian pirang basah milik Naruto sekaligus menutupi wajahnya. "Dan kau membuat bajuku basah."

Tangan Naruto terangkat dan meremas kecil ujung pakaian Sasuke. Seolah mengetahui apa yang dipikirkan Si pirang, Sasuke menghentikan usapan handuknya pada rambut Naruto dan menatapnya. "Aku tidak akan pergi. Sekarang pakai bajumu sebelum handuk dipinggangmu itu melorot." Namun nampaknya Naruto masih tak mau melepaskan ujung pakaiannya.

'Anak ini.'

"Kau ingin aku di sini saat kau berganti baju?" Tangan yang meremas pakaiannya itu terlepas. 'Mudah sekali.' Pikir Sasuke. "Keluarlah jika kau sudah selesai." Ucapnya seraya memberikan kemeja putih yang dipegangnya ketangan Naruto. Kemudian memberi lirikan kecil pada Suigetsu yang –bisa ia duga- tengah sibuk dengan kameranya dan memotret sana-sini, yang jelas objeknya pasti adalah ia dan Naruto.

Suigetsu hanya memberi anggukan kecil dan melangkah mengikuti Sasuke keluar kamar, meski matanya tak bisa lepas dari layar kamera dan melihat kembali apa yang telah ia potret. Tak lupa pula dengan laptop yang ia bawa disebelah tangannya.

.

.

.

"Kau pasti tidak akan percaya dengan apa yang kutemukan." Ucapan itu terdengar dari mulut yang tengah sesekali mengunyah batang biskuit panjang yang sebagian tertutupi coklat manis. "Kamuflasi yang bagus untuk sebuah keluarga yang ternyata sudah bobrok di dalamnya." Ia kembali melanjutkan, namun kali ini dengan laptop yang ia putar di meja hingga menghadap orang yang duduk di depannya. Senyum kemenangan begitu kentara diwajah pemuda berambut putih keunguan itu karena telah berhasil membobol paksa file negara setelah selama satu jam berkutat dengan sandi-sandi membingungkan.

"Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina, tidak memiliki anak bernama Uzumaki Naruto."

.

.

.

.

*##########*###########*###########*###########*###########*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.

Putih. Adalah warna yang mendominasi ruangan itu. Cat pada dinding, lemari, tirai juga bingkai jendela semuanya berwarna putih. Termasuk dengan ranjang besar yang berada diruangan itu. Ranjang yang tengah dihuni oleh seorang pemuda dengan surai merah batanya. Menatap lurus pada langit-langit ruangan itu.

Sudah sepuluh menit sejak ia tersadar dan terbangun ditempat ini. Sudah sepuluh menit pula ia terdiam, tak bergerak sedikit pun dari saat ia membuka matanya. Bangun, pergi dari sini.

Jika memang ia bisa, sudah sejak tadi ia meninggalkan tempat ini. Pergi, mencari seseorang yang terakhir kali ia ingat adalah orang yang membuatnya tak sadarkan diri hingga ia bangun ditempat ini.

Kitsune –Kyuubi. Siapapun dia saat itu membuatnya pingsan dengan satu pukulan telak di belakang kepala dan menyeringai lebar padanya.

Tapi kenyataannya ia hanya bisa membaringkan tubuhnya di ranjang besar ini. Menatap langit-langit putih di atasnya dengan datar. Tangan dan kaki kirinya yang diborgol membuatnya tak bisa melakukan apapun. Terlebih dengan kondisi tubuh yang tidak bisa dibilang baik-baik saja.

"Sudah bangun?" Gaara melirik asal suara barusan.

Seorang laki-laki dengan wajah yang setengahnya hampir tertutup kerah tinggi baju yang dipakainya menatap Gaara dengan mata dibalik kacamata hitamnya. Shino –jika Gaara tidak salah ingat bermarga Aburame. Salah satu pion Kyuubi dalam pekerjaannya.

"Maaf soal kaki dan tanganmu, Kyuubi tidak ingin kau melarikan diri –setidaknya sampai luka-lukamu pulih." Shino nampak tak peduli saat Gaara tak menjawab atau sekedar membalas ucapannya. Ia memilih untuk memasuki ruangan serba putih itu, mendekati ranjang dimana Gaara berbaring. "Jangan anggap enteng lukamu Gaara. Kau terluka selama berhari-hari dan hanya melakukan pertolongan pertama –membalut luka-lukamu bukan menyembuhkannya."

"Dimana dia?" Mata Gaara terpejam, fisiknya memang menurun –sangat- membuatnya tak bisa menggerakan tubuh semaunya.

"Tidak tahu. Kau akan kusuntik obat penenang agar bisa beristirahat lagi." –agar kau tidak berontak dan kabur- itu yang Gaara tangkap dari ucapan laki-laki di sampingnya itu.

Cairan putih mengalir cepat dari suntikan jarum pada infus yang terhubung selang transparan ketangan Gaara. Sedikit demi sedikit memasukan obat penenang itu dalam tubuhnya. Mengantuk, sangat ingin memejamkan matanya. Ia tahu Shino akan memberikan dosis yang sedikit lebih tinggi padanya agar efek dari obat itu cepat ia rasakan.

"Lebih baik kau tidak tahu apa yang sedang Kyuubi lakukan." Sayup-sayup, Gaara mendengar laki-laki di sampingnya itu bicara sebelum pandangannya mengabur dan berubah menjadi gelap.

'Neji.'

.

.

.

*##########*###########*###########*###########*###########*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.

Gertakan gigi juga helaan napas yang berkali-kali ia lakukan memang kenyataannya tak bisa mengubah tulisan yang tertera pada kumpulan kertas yang ada ditangannya. Wanita bersurai pirang panjang itu memijat pangkal hidungnya. Cukup lelah setelah semalaman tak sekalipun ia beristirahat atau sekedar memejamkan matanya. 'Ini gawat.'

"Iruka."

"Ha'i, Tsunade sama." Laki-laki yang setak dari berdiri tak jauh dari meja kerjanya itu menyahut.

"Kau sudah mendapat kabar tentangnya?" Wanita berdada besar itu melepaskan kacamata yang membingkai apik mata beriris coklat madunya.

"Ha'i, tetapi saya belum bisa membawanya kembali." Jawab Iruka, pandangan matanya tak sekalipun beralih dari lantai ruangan itu. Membiarkan separuh dari pikirannya pergi meninggalkan tubuhnya.

Tsunade berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati Iruka, ia membentangkan tangannya dan menarik tubuh tegap berbalut pakaian butler itu dalam dekapannya. Sedangkan Iruka nampak salah tingkah dengan apa yang dilakukan majikannya itu. "T –Tsunade sama?"

"Diamlah bocah. Aku tahu saat ini kau butuh pelukan." Mata Iruka melebar saat pendengarannya mendengar suara sendu wanita itu, kemudian ia membiarkan matanya tertutup. Menikmati rasa hangat dari sedikit perhatian sang majikan terhadapnya. "Gomennasai Tsunade sama. Hontou ni gomennasai."

Tsunade tersenyum, "Dasar bocah." Ucapnya seraya mengelus lembut rambut Iruka.

.

.

.

*##########*###########*###########*###########*###########*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.

"Rameeeen! Aku mau ramen Teme~!"

Ini sudah tiga puluh menit sejak Sasuke mendengar teriakan yang sama yang terus saja dilakukan oleh bocah pirang yang duduk di atas sofanya. Membuat kepalanya yang sudah cukup pusing bertambah pusing dan pusing lagi. "Suke~!"

Sasuke membuang napasnya berat dan beranjak dari sofa yang didudukinya. Ia berjalan mendekati laci setinggi lututnya dan berjongkok di depan laci itu. Naruto memperhatikan gerak-gerik laki-laki bersurai donker itu dengan satu tanda tanya di atas kepalanya. Ia melihat Sasuke yang berbalik dan berjalan mendekatinya dengan sebuah kotak berwarna putih dan salib merah disisian kotak itu.

Sasuke duduk disebelahnya, "Angkat kakimu." Ucap –sepertinya perintah- Sasuke.

"Untuk apa –UWAA! Teme, apa yang kau lakukan!" Teriak Naruto saat tiba-tiba Sasuke mengangkat kaki kanannya ke atas sofa hingga ia terjungkal. Namun ia terdiam saat melihat isi kotak yang dibawa Sasuke tadi. "Diamlah, kakimu sampai bengkak begini karena kau memakainya untuk berlari." Semburat merah menjalar dipipi Naruto ketika Sasuke menempatkan kakinya di atas pangkuannya.

Sasuke menghela napasnya melihat pergelangan kaki Naruto yang memerah dan bengkak –lebih parah dari semalam. Dengan perlahan ia menyentuh sisian bengkak itu dan memijatnya, ia mendengar pemuda pirang itu meringis saat sentuhan tangannya semakin mendekati bengkak dikakinya.

"Pelan-pelan Teme!"

Disisi lain...

"Pelan-pelan Teme!" Suigetsu menghentikan langkahnya yang sudah akan memasuki apartemen Sasuke saat telinganya mendengar suara-suara di dalam sana. Ia mengerjap dan membawa tubuhnya mendekat pada pot besar dengan tanaman hijau yang tak kalah besar dari potnya.

"Diam sedikit Dobe, atu tidak bisa mengoleskan gel ini dengan benar kalau kakimu terus menendangku."

"Kau pikir ini tidak sakit apa?! A –awh!"

"Makanya kau diam. Aku sudah sangat pelan-pelan dengan jariku."

"Apanya yang pelan –awww! Berhenti-berhenti! Aku bisa melakukannya sendiri!"

"Berhenti menendangku atau aku akan mengikat kakimu!"

"A –awh! Sa –sukeeehhh!"

"Jadilah anak baik untuk kali ini dan biarkan aku melakukannya dengan benar, Dobe!"

"Awwh!"

"Hn, selesai."

"Selesai matamu! Jangan memukul kakiku begitu!"

"Hehehe..." Kedua orang yang tengah adu mulut dengan akrabnya itu menoleh bersamaan kearah pintu apartemen. Menemukan sosok pemuda berambut putih keunguan yang terlihat tengah menunjukan tawa –yang menurut Naruto- menyeramkan seraya melihat kearahnya dan Sasuke. Naruto menatap bingung pada laki-laki yang sekarang berjongkok di depannya itu. "Naru chan, terima kasih atas sajian dipagi harinya."

Naruto memiringkan kepalanya bingung, berusaha untuk mencerna kalimat 'sajian pagi hari' yang diucapkan Suigetsu padanya. Sajian apanya? Bukannya mereka belum makan apa-apa dari tadi pagi? Mungkin itulah yang dipikirkan Naruto sedangkan Sasuke yang sudah tahu tabiat bawahannya itu hanya diam dengan wajah stoiknya. Ia yakin pemilik surai putih keunguan itu sudah berbuat sesuatu.

Suigetsu menepuk-nepuk bahu Naruto dengan senyum sumringah yang masih kentara diwajahnya. Lalu ia kembali berdiri dan berjalan menuju dapur, masih bisa dilihat senyumnya tak terputus juga.

"Suigetsu san kenapa ya?" Pertanyaan polos itu keluar dari bibir Naruto. Ia terus memperhatikan punggung Suigetsu yang terlihat mengeluarkan berbagai macam bahan makanan dari dalam kantung plastik yang ditaruhnya didekat wastafel. (A/N : Dapur hanya disekat oleh meja setinggi pinggang dan dapat terlihat dari ruang tamu)

"Kau ingin makan apa untuk sarapan, Naru chan?" Naruto mengerjap sebelum menjawab pertanyaan Suigetsu. "Ramen!" Jawabnya yang disertai ringisan karena Sasuke menempelkan sebuah kain putih yang dilapisi gel dingin di atas bengkak dikakinya.

Suigetsu tertawa pelan dan mengangguk-angguk, "Baiklah, baiklah. Seperti memang kau sedang beruntung karena aku memang membeli ramen." Ucapnya.

"Tunggu sebentar ok! Ramen jumbo dengan banyak irisan daging akan segera dataang~" Ucap Suigetsu semangat dengan sebuah sendok sayur yang teracung keatas.

Kekanakan sekali, Sasuke mendengus melihat kelakuan dua bocah –tidak benar-benar bocah juga sih- ini. Ia menurunkan kaki Naruto dari pangkuannya dan beranjak dari sofa. Melangkahkan kakinya menuju dapur –tepatnya kulkas yang ada di dapur dan mengambil beberapa tomat yang sempat dibelinya tadi malam dan melirik barang belanjaan yang dibeli Suigetsu. Tomat. Untung saja pemuda itu tidak lupa untuk membelinya.

"Dia ingin bertemu denganmu." Sasuke melirik si pemilik suara barusan. "Misi kemarin tidak sepenuhnya sukses." Tangan Suigetsu yang tengah mencuci beberapa sayur terhenti sejenak. "Dan aku hampir mati karenanya."

Sasuke mendengus, "Tapi kau masih hidup."

Suigetsu mencibir ucapan tak peduli Sasuke dan meremas daging sapi yang dicucinya dengan keras. "Harusnya kau bersyukur karena aku, kau tidak dilahapnya hidup-hidup."

"Apalagi dengan seorang... " Suigetsu melirik pemuda bersurai pirang yang tengah asyik dengan tayangan yang disiarkan ditelevisi. " –Kitsune di sini." Ucapnya berbisik.

"Ne, Suigetsu san –"

Suigetsu menoleh, "Suigetsu nii chan, Naruto~" Ralatnya.

"Suigetsu nii, apa masih lama? Aku lapar." Tanya Naruto, ia melihat dua orang yang sejak tadi entah berbicara apa di dapur dengan tangan yang memegang remote TV yang setiap satu menit sekali ia pindahkan channelnya.

Suigetsu menopang dagunya dengan sebelah tangan, "Makanan enak itu butuh waktu. Tapi jika kau sudah lapar, aku membeli beberapa bungkus puding dan kue. Kau mau?" Tanya Suigetsu.

Naruto berpikir sejenak sebelum mengangguk, tidak ada salahnya mengganjal perutnya dulu dengan makanan penutup(?) sebelum makanan utama. "Baiklah." Ucap Naruto seraya kembali menghadap pada televisi besar samping sofanya.

.

Sasuke menatap nampan berisi empat cup ukuran sedang puding coklat dan kue yang juga coklat dengan satu gelas susu coklat yang disodorkan Suigetsu padanya dan menatap pemuda datar pemuda itu.

"Bawa ini pada Naruto." Ucap Suigetsu singkat dan kembali pada aktivitasnya tadi. Mencuci bahan makanan. Tidak melihat jika saat ini Sasuke tengah menatapnya dengan pandangan 'lu mau mati nyuruh-nyuruh gue?!-nya.

Dengan sedikit dongkol akhirnya Sasuke membawa nampan berisi puding dan kue itu dan beranjak dari dapur. Ia menaruh nampan itu di atas meja dengan tidak pelan hingga orang yang sejak tadi duduk di atas sofa merengut kearahnya.

"Susunya tumpah, Teme."

Sasuke mengacuhkan protesan bocah pirang disebelahnya itu dan memilih menatap televisi yang tengah menayangkan animasi jepang. Tontonan anak-anak –menurutnya.

Puk!

Twich!

Tidak bisakah ia mendapatkan saat-saat yang tenang hari ini dan menikmati camilan tomatnya dengan televisi yang cuma jadi penambah kegiatannya? Jawabannya adalah tidak.

Baru saja ia duduk manis dengan sebuah tomat ditangan yang sesekali ia gigit dan kunyah, kegiatan sederhananya itu terusik oleh sebuah bantal yang melayang ke belakang kepalanya.

"Susunya tumpaaaah!" Teriak Naruto kesal karena ucapannya malah diacuhkan laki-laki pantat ayam di sampingnya. Ia kembali melempar bantal kecil di atas sofa pada Sasuke. Namun untuk kali ini berhasil ditangkap Sasuke.

"Do. be." Sasuke meremas bantal ditangannya dengan kuat, sama halnya dengan tomat yang nampak sudah tak berbentuk lagi digenggaman tangannya yang lain. Naruto meneguk ludahnya sendiri saat matanya seolah melihat aura hitam yang menguar-nguar dari tubuh Sasuke. Apalagi saat laki-laki itu berbalik dan menatapnya dengan tajam.

Sasuke membuang bantal ditangannya dengan sembarang, kemudian ia tersenyum –atau mungkin menyeringai ngeri- pada Naruto yang nampak semakin mencondongkan tubuhnya ke belakang saat Sasuke semakin memajukan tubuhnya.

'Anak ini butuh sedikit pelajaran.'

"Akan kuganti susu itu dobe." Tubuh Sasuke semakin condong ke depan. "Tapi aku tidak punya susu coklat. Aku hanya punya 'susu' putih jika kau mau."

Tangan Naruto mendorong pelan dada Sasuke yang nampak semakin condong saja padanya. Wajahnya terlihat sudah memerah dengan mata yang terus menatap kearah lain. 'Ini terlalu dekat.' Pikir Naruto, ini membuatnya kembali teringat pada kejadian saat ia bangun tadi dan itu tidak bagus karena hanya membuat wajahnya semakin memerah padam.

"Te –Teme..." Naruto memejamkan matanya saat hembusan napas Sasuke terasa dikulit wajahnya.

"Hmm?"

"A –aku..."

Kruyuuuuk...~

"... lapar."

Sasuke terdiam sebelum kemudian menghela napasnya. Ia membenarkan lagi posisi duduknya dan mengambil tisu yang ada di atas meja. Membersihkan tangannya yang belepotan jus tomat. Gagal sudah moodnya untuk memberi sedikit pelajaran pada bocah ini. 'Mungkin belum saatnya.'

Manik Sasuke memperhatikan Naruto yang dengan lahapnya memakan sendok demi sendok puding coklat yang ada dinampan dengan sesekali melirik kearahnya dan kembali memalingkan wajahnya dengan suapan puding yang lebih besar ke dalam mulutnya. Kelihatan sekali bagi Sasuke jika bocah ini gugup.

Hal yang membuat Sasuke tak habis pikir. Apa benar bocah kelewat polos jadi bodoh ini benar-benar Kitsune?

.

.

.

Ia... tidak yakin.

.

.

.

*##########*###########*###########*###########*###########*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.

12.30 siang

Bandara Internasional Konoha

"Namikaze sama." Seorang perempuan dengan pakaian formalnya membungkuk hormat pada seseorang yang duduk di atas kursi penumpang. Memberikan rasa hormatnya pada sang atasan yang terlihat tengah sibuk dengan lembaran-lembaran kerja di atas mejanya. "Kita sudah mendarat di Konoha." Ucap wanita itu lagi.

Tanpa berucap, orang yang dipanggil Namikaze sama itu beranjak dari duduknya dengan tak lupa memakai kaca mata berlensa coklat gelap yang tergeletak apik dimeja. Ia berjalan mendahului assisten wanitanya itu menuju pintu pesawat yang telah terbuka. Beberapa orang laki-laki berpakaian hitam terlihat berjejer rapi dibawah tangga saat ia keluar dari pesawat.

Ia menutup manik biru seindah lautannya saat hembusan angin yang cukup kencang menerpa tubuhnya. Membuat helaian pirang rambutnya bergerak mengikuti arah angin. Ini Konoha, tempat yang sudah lama sekali tak ia kunjungi. Sejak tiga atau empat tahun lalu.

"Anda ingin beristirahat terlebih dahulu atau langsung mengunjungi ibu anda, Namikaze sama?" Wanita itu kembali bertanya.

"Dua hari lagi aku ada rapat. Sebaiknya langsung saja agar kita bisa cepat kembali." Jejeran orang-orang bertubuh tegap itu serempak membungkuk saat pemilik marga Namikaze itu berjalan melewati mereka dan dengan segera membentuk barisan di belakang dan samping kanan dan kiri juga dihadapan laki-laki bersurai pirang itu. Membentuk tameng saat beberapa orang tak diundang mendatangi mereka. "Bagaimana mereka bisa mengetahui kedatanganku, Anko?" Laki-laki itu berucap tenang saat serbuan orang dengan berbagai macam kamera yang yang diarahkan padanya.

"Maafkan saya, Namikaze sama. Saya hanya memberitahukan kedatangan anda pada pihak bandara. Tetapi saya tidak tahu tentang mereka." Jawab wanita bernama Anko itu. Mereka terus berjalan dengan barisan tameng manusia yang menghalangi arahan kamera yang terarah pada tuannya. Tak memberikan kesempatan sekalipun untuk pada pencari berita itu mendapatkan foto sempurna sang Presiden utama Namikaze Corp.

"Namikaze sama! Ada keperluan apa anda datang ke Konoha!"

"Apa ada sesuatu yang terjadi!"

"Namikaze sama!"

"Apa ini berhubungan dengan pengembangan perusahaan anda di Konoha!"

"Namikaze Minato sama!"

Minato terus berjalan tanpa mempedulikan para wartawan yang terus memberondonginya dengan berbagai macam pertanyaan hingga mobil limosin di depan gerbang bandara semakin dekat. "Pastikan kau cari tahu siapa yang membocorkan kedatanganku." Ucapnya seraya dengan cepat memasuki mobil yang telah disiapkan untuknya itu.

"Ha'i." Anko membungkuk hormat hingga mobil limosin itu meninggalkan area bandara. Ia segera berbalik dan memberikan lirikan kecilnya pada barisan bodyguard yang mengelilinginya untuk menghalangi wartawan-wartawan yang nampak akan mengejar mobil atasannya itu.

"Mohon maaf untuk kalian semua!" Ia berbicara cukup lantang untuk didengar oleh orang-orang itu ditengah kebisingan yang terjadi. "Namikaze Minato sama masih kelelahan karena baru tiba di sini. Saya mohon pengertiannya untuk tidak mengganggu beliau." Ia membungkuk untuk kesopanan.

"Bisakah anda memberitahu kami, ada urusan apa Namikaze Minato sama kembali ke Konoha?"

"Beliau hanya ingin mengunjungi keluarganya. Kunjungannya ke Konoha tak lebih dari kunjungan pribadi. Hanya itu yang bisa saya katakan pada anda semua." Sekali lagi ia membungkuk. "Terima kasih atas kedatangannya." -dan berlalu dengan kawalan manusia yang membentenginya.

.

.

.

*##########*###########*###########*###########*###########*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.

'Ini menggelikan.' Sasuke menatap satu persatu orang yang duduk di atas sofa ruang tamu kediaman Uchiha. Melihat berbagai macam tatapan dari orang-orang itu terhadap dirinya. Merendahkan, marah, datar dan entahlah ia tak peduli. Dalam benaknya kini cuma ada satu pertanyaan. "Kau yang ingin bertemu denganku, atau mereka yang ingin bertemu denganku Itachi?" –Yang ia suarakan dengan segera.

"Duduk, Sasuke." Ucap Itachi, ia menatap sang adik dengan pandangan tak terbantahkan. Sasuke menurut tanpa kata, ia sedang tidak ingin berurusan dengan Itachi dengan mode marahnya sekarang ini.

Onyx itu saling bertatapan, mengadu ketajaman dari warna yang sama dan kadar kedinginan yang mampu membuat atmosfer ruangan itu menurun dengan cepat. "Minta maaf pada Jinchuuriki." Alis Sasuke mengerut tajam, ia tidak suka ucapan Itachi barusan.

"Kau ingin seorang Uchiha meminta maaf?" Sasuke tersenyum sinis. "Kau seorang Uchiha, Itachi. Dan kau tahu kata maaf itu tidak pernah ada dalam kamus Uchiha."

BRAAK!

Sasuke memberikan pandangan mengejek pada wanita berambut pirang pucat yang dengan tiba-tiba menghantamkan kakinya pada kursi yang diduduki Sasuke. Mungkin berniat untuk mengenai Uchiha bungsu itu sebelum gagal karena sasarannya sudah terlebih dahulu menghindari pukulan kakinya.

"Che!" Wanita itu berdecih.

"Apa ini Itachi?" Sasuke menoleh dan tersenyum sinis, "Kau juga ikut-ikutan mengeroyokku bersama dengan orang-orang ini?"

"Jangan bertingkah sombong Uchiha!" Wanita berambut pirang –Shion menatap kesal karena pukulannya berhasil dihindari Uchiha itu. "Dimana Kitsune?"

Wajah Sasuke berubah datar, "Aku juga butuh penjelasanmu Itachi." Onyx itu kembali berada dengan gelap yang sama. "Tapi sepertinya kau tidak berniat untuk memberiku penjelasan."

"Kami hanya meminta kau untuk mengembalikan Kitsune pada kami Uchiha san. Secara baik-baik." Sasori angkat bicara setelah melihat situasi yang nampak berjalan tidak kondusif.

Sasuke melirik laki-laki berwajah bayi itu datar, "Dan menyerangku adalah salah satu 'cara baik-baik' dari kalian?" Ia tersenyum puas saat laki-laki yang dijuluki Si Pasir Merah itu terdiam karena kata-katanya.

Sasuke mendengus, "Kalian ingin Kitsune, silahkan cari sendiri." Ia kembali menatap Itachi, "Dan temui aku jika kau memang ingin bertemu denganku." Sasuke membalikan tubuhnya, tidak ada gunanya ia terus berada di sini saat tak ada yang bisa ia dapatkan orang-orang ini.

"Tidak ada yang mengizinkanmu untuk pergi."

-Onyx itu membulat saat tiba-tiba mendengar suara yang begitu dekat dari belakangnya dan tak sampai satu detik kemudian tubuhnya sudah menabrak tangga rumahnya hingga meninggalkan lubang yang cukup besar. Ia meringis karena punggungnya menghantam keras permukaan tidak rata itu.

"Tidak apa-apa kan jika aku memberikan sedikit pelajaran pada adikmu, Itachi san?" Shion tersenyum puas melihat Sasuke yang terkapar di tengah anak tangga yang hancur. Sedangkan Itachi terlihat menatap datar kearah adiknya.

"Shit!" Sasuke mengumpat, sulit sekali berdiri dengan punggung yang seakan remuk begini. Ia menggerakan tangannya dan menggunakannya sebagai tumpuan untuk bangkit berdiri. Onyxnya menatap lurus wanita yang telah seenaknya melempar dirinya. Ia membuang ludahnya yang bercampur dengan darahnya. Tidak ada yang boleh memukulnya seperti tadi. Apalagi seorang wanita jalang seperti wanita itu.

Onyx itu berkilat dengan sebuah seringai yang begitu lebarnya diwajah Sasuke. "Kau memilih untuk berurusan dengan orang yang salah."

"Cih! Jangan berlagak!" Shion berlari mendekati Sasuke, melayangkan tinjunya kearah kiri namun ditangkis Sasuke dengan tangan kanannya. Ia beralih untuk menendang perut pemuda itu. Sasuke menghindar dengan melompat mundur dan menggunakan tangannya sebagai tumpuan untuk memberikan tendangan diperut Shion.

Wanita itu terbatuk beberapa kali sebelum kembali menyerang dan menghantam pipi kiri Sasuke dengan tinjunya. Sang Uchiha tak mau kalah, ia memutar tubuhnya dan menyandung kaki Shion dengan kakinya. Membuat wanita itu terjatuh dengan debaman keras.

Ini menyenangkan, Sasuke menampakan seringaian yang lebih lebar saat melihat wanita itu jatuh karena tendangannya. Ini menyenangkan! Ini sangat menyenangkan!

Mata beriris onyx Itachi menyipit saat mendapati pergerakan Sasuke yang berbeda dari awal perlawanannya. Lebih cepat, bahkan sekarang terlihat sekali jika Sasuke dan Shion berat sebelah. Ada yang salah, Itachi tahu firasatnya benar.

"Hahaha! Dimana sikap so kuatmu!" –Duagh!

Sasuke menendang perut Shion hingga wanita bersurai pirang itu terguling ke bawah tangga. Sasuke menatapnya dengan seringai lebar dan penuh mata menantang pada tubuh yang nampak berusaha untuk kembali berdiri itu.

"Akan kau buat kau tak mampu lagi berdiri!"

Pemuda raven itu dengan cepat berlari menuju Shion, namun kali ini tidak dengan tangan kosong. Sebuah katana terlihat menyembul dari balik lengan baju Sasuke. Semua orang di sana membulatkan matanya. '-Sejak kapan?' Batin mereka serempak, Sasori terlihat berlari kearah Shion, mencoba untuk mendahului Sasuke yang nampak sudah bersiap menghunuskan katananya pada wanita yang kini menatapnya dengan mata terbelalak.

CRAAAASH!

To Be Continue~~~

A/N : End of this chapter. So, bagaimana menurut kalian?

Review Ok! ^^~ See yaa!

Ini masih sore sih, tapi .. HAPPY NEW YEAR! SELAMAT TAHUN BARU 2014~~~

Selasa, 31 Desember 2013

17.45 WIB

Ketemu lagi taun depan Minna san ^^