Stronger

Disclaimer : Naruto is belong to Masashi Kishimoto, but Sasuke is MINE #dibakarsakura

Warning : OOC, Aneh, Gaje, Typo and Miss Typo bertebaran dimana-mana, penulisan tidak menggunakan kaidah EYD yang benar #apadah

Author Bacot Area : Okeh, akhirnya setelah ehemsetengahtahunlebihehem Aphro menghilang dari dunia perfanfic-an Indonesia#eh?, saya balik lagi tapi kali ini bawa FF pair Sasusaku, hehehehe Enjoy this one guys, Mind To RNR Mina?

"Apa yang kau lihat saat ini pada diriku,

Itu bukan aku yang sebenarnya.

Dendam, amarah, keputusasaan,

keinginan kuat untuk memiliki mu lagi

tak bisakah kau lihat itu dimataku saat ini?

yang kau lihat pada diriku saat ini, hanya sebuah topeng

topeng yang ku gunakan untuk merebutmu kembali "

Kiba's Apartement

Sang ratu malam sudah kembali keperaduannya, sebagai gantinya rajanya siang mengambil alih tugas sang bulan. Kiba keluar dari ruangannya bersama seorang wanita bersurai Merah mengikutinya dari belakang. Wanita cantik itu memandang khawatir kearah pintu yang baru saja ditutup oleh Kiba. Pria itu mempersilahkannya duduk di bar sarapan dan menuangkan sebotol Pinot blanc kedalam dua gelas Kristal dan memberikan salah satunya kepada wanita dihadapannya.

"Jadi, bagaimana kondisi wanita itu, Sara?" Wanita itu meletakkan gelas kristalnya setelah menyesap sedikit isinya dan memandang heran kearah pria itu,

"dugaan ku rahimnya memar parah. Ini, ini obat penahan rasa sakitnya, tebuslah dirumah sakit secepatnya, dan suruh dia menemuiku satu minggu lagi." Ujarnya, Kiba hanya tersenyum puas mendengarnya, Jalang itu baru membayarnya setengah dari harga yang harus dibayar. Ia memandang kertas berisi resep obat yang baru di berikan Sara. Haruskah dia membelinya? Wanita ini bahkan sudah membuat kakaknya menderita, akan tetapi ada rasa yang menggelitik hatinya dan melarangnya melakukan itu, seakan-akan itu adalah tindakan yang jahat. Ia menghela nafasnya, matanya masih memandang hampa kertas dihadapannya sementara hati dan fikirannya kembali bertarung demi menyimpulkan sebuah keputusan.

"Aku tidak tahu pasti kapan dia dan suaminya akan kembali ke Jepang." Ujar Kiba,

"Apa kemungkinan yang akan terjadi jika rahimnya mengalami memar, Sara?" Sara meneguk lagi anggur putih miliknya

"Tergantung, kalau bisa sembuh itu akan melemahkan rahimnya, tapi kalau tidak aku harus membuangnya ketempat sampah." Wanita itu menaikkan kedua bahunya, acuh tak acuh.

"Sebenarnya, siapa wanita itu? Pacarmu?" Kiba menaikkan alisnya lalu tersenyum kecut sebelum menandaskan isi gelas Kristalnya.

"Bukan, hanya teman lama. Lagipula dia sudah menikah." Ujarnya, Sara mengangguk mengerti.

"Kalau begitu kau harus diskusikan ini semua dengan suaminya, mengangkat rahim seorang wanita bukan hal yang mudah." Ujar wanita bersurai merah itu, ia berdiri dari tempat duduk setelah menandaskan juga isi gelasnya, dengan mudah dia mengambil mantelnya yang tersampir di samping pintu masuk apartement Kiba itu dan memberikan pria Inuzuka itu sebuah pelukan sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.

Kiba membuka pintu kamarnya, ia masuk kedalam dan mendapati Hinata sudah bangun dan duduk menyandar ke kepala ranjang. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering dan raut wajahnya terang-terangan menahan rasa sakit. Dia mendongak saat mendapati Kiba berdiri di hadapannya dengan melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya.

"Kau sudah sadar?" Hinata mengangguk lemah, Kiba menunjuk ke nakas di samping tempat tidurnya, semangkuk bubur dan air putih sudah ada disana.

"Makanlah dulu, aku akan menghubungi suamimu setelah ini." Hinata membuang mukanya, Sasuke membencinya, pria itu tak akan peduli dan datang kepadanya.

"Tidak usah, aku ada rapat dengan Namikaze Group setelah ini. Aku boleh pinjam laptop mu?" Ujarnya, Kiba menaikkan alisnya.

"Makan dulu, nanti akan ku pinjamkan. Jam berapa rapatnya dimulai?" ia membiarkan Kiba mendekat dan memberikan nampan berisi mangkuk bubur dan air putih kehadapannya.

"setelah makan siang." Kiba mengangguk lagi,

"Aku ada diluar, panggil saja kalau kau butuh sesuatu. Laptopku ada dilaci itu, passwordnya, Hana Uchiha." Lalu dengan suara pintu di tutup pria itu menghilang dari pandangannya.

Hinata mengabaikan mangkuk bubur dihadapannya, kedua tangannya bahkan mengambil tasnya yang ada di kaki ranjang tempatnya berbaring semalam. Ia meraihnya dan mengeluarkan sebuah CD dengn Label SU di depannya. Wanita itu menimbang-nimbang sebentar sebelum akhirnya dengan mantap ia mengambilnya dan memasukkannya kedalam Laptop Kiba dan memulai pekerjaannya. Kali ini dia akan memukul mundur Guilliana Akasuna.

Namikaze Corporation

Sakura tengah duduk dengan tenang di ruang rapat perusahaan keluarga Namikaze, wanita itu dengan lincah mengcopy-paste data yang ia simpan dalam tabnya sebelum kecelakaan maut itu menimpanya. Senyum misterius terpajang di wajahnya. Satu persatu data ia duplikasi dan masukkan kedalam Laptopnya dan setelah semuanya selesai ia memulai untuk mengedit sedikit pekerjaannya yang tertunda semalam. Jam menunjukkan pukul Sembilan pagi, masih tiga jam lagi sebelum rapat, seharusnya Hinata sudah datang dan bersiap-siap disini sama seperti dirinya, tapi dimana wanita itu? Wanita itu mengambil gelas kertas yang ada di sebelah laptopnya dan menyesap Vanilla Latte yang di berikan oleh asistennya setengah jam yang lalu padanya. Pasti terjadi sesuatu, Harusnya wanita itu tiba lebih awal darinya karena ia sudah meninggalkan kamar hotelnya lebih dulu darinya dan Sasuke. Kemana dia? Apalagi yang dia rencanakan?

Dering ponselnya menghentikannya dari kesibukkannya sejenak. Sakura melihat sebentar siapa yang menghubunginya lalu tanpa pikir panjang ia mengangkatnya.

"Ya, bagaimana?" Tanyanya, wanita itu mengangguk singkat

"Tolong simpan dulu buktinya, selanjutnya aku ingin kau menyelidiki bengkel di Osaka. Disana ada seorang montir bernama Deidara yang saat itu mengecek kerusakan yang terjadi pada mobilku, tolong cari dia. Aku yakin saat itu ada barang pelaku yang tertinggal didalam mobil." Ujarnya, Wanita itu diam sejenak

"dan, juga cari polisi yang bernama Kakuzu, dia adalah orang yang menangani kasusku saat itu, aku yakin seseorang sudah menyuapnya cari tahu tentang dia dan dimana dia menyembunyikan semua bukti terkait penyelidikannya." Ujarnya,

"Ya, aku tahu ini bukan perkara mudah. Lakukan pelan-pelan saja, aku tidak sedang buru-buru. Terimakasih, Gaara." Dengan itu dia menutup telfonnya, wanita itu menghela nafasnya dan mengelus pelan perutnya

"Kau akan baik-baik saja, kali ini kaa-san berjanji padamu kalau kau akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu, dan membuat kematian Kenzo, kakakmu tidak sia-sia." Ujarnya, Sakura mendongak saat medengar suara pintu ruang rapat terbuka, Sasuke muncul dari balik pintu, menciumnya sebentar lalu mencium perutnya yang masih rata.

"Kafein?" dia melihat Gelas kertas yang masih dalam genggaman tangan Sakura, mengambilnya tiba-tiba dan membuangnya ketempat sampah membuat Sakura merengut kesal.

"Apa-apaan sih? Itukan hanya Vanilla latte, Kafeinnya tidak sebanyak Kopi, Sasuke-kun." Ujarnya kesal, Sasuke menyentil pelan dahinya

"Tetap saja ada Kafeinnya, aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada bayiku dan istriku. Kau tahu itu? Mulai sekarang jangan ceroboh, jangan buat aku mederita karena kehilangan bayi kita lagi." Ujarnya, Sakura memandang sendu kearahnya

"tidak, tidak akan terjadi lagi. Kejadian yang dialami Kenzo tak akan terjadi padaadiknya. Aku berjanji padamu, jadi jangan menderita lagi." Ujarnya, Sasuke menghela nafasnya

"Bagaimana aku tidak menderita? Aku sangat mencintai anak itu dan menunggunya lahir, aku bahkan sudah lama menunggunya hanya agar aku bias mendengarnya memanggil Otou-san, bahkan sebelum dia lahir Hinata sudah melakukan pembunuhan terhadapanya." Pria itu memejamkan matanya, Sakura menyandarkan kepalanya dibahu suaminya

"Mulai sekarang, aku akan menjagamu dan bayi ini. Tidak peduli bagaimana caranya, walau harus berhadapan dengan Hyuga dan membahayakan hidupku, aku akan melakukannya." Sakura memeluknya

"Jangan bodoh, aku akan ikut mati kalau kau mati." Ia menghela nafasnya,

"Aku sudah kehilanagan ayah dan ibuku saat masih kecil, aku di khianati sahabatku sendiri saat aku sedang mengandung dan pengkhianatan itu berakhir dengan kematian putraku, aku menderita selama empat tahun ini karena terpisah dari suamiku dan kehilangan anakku. Awalnya aku berfikir dan menyerah, tapi saat Itachi dan Sasori memberiku dukungan aku bangkit lagi. Aku mencintaimu, itu kenapa aku kembali dan membalas dendam. Kau milikku, Sasuke-kun dan aku milikmu, jadi jangan pernah berfikiran untuk meninggalkanku lagi. Itu akan membuatku menderita." Sasuke tersenyum tipis

"Tidak, ini akan selesai sebentar lagi, sayang. Dan kebahagiaan akan menghampiri kita. Selamanya." Ujarnya, Sakura meraih tangan besar Sasuke dan memainkan jari-jari panjangnya yang besar. Wanita itu menarik telapak tangan pria yang di cintainya itu dan meletakkannya di perutnya yang masih rata.

"Kapan kau bisa menemaniku untuk memeriksakan kandunganku? Aku bahkan belum memeriksakannya sama sekali." Sasuke mengecup pelan puncak kepalanya.

"Setelah rapat, sayang. Atau kapanpun kau mau aku pergi bersamamu." Sakura tersenyum tipis

"Gara menelfonku." Sasuke menghela nafasnya

"Dektektif FBI itu?" Sakura mengangguk,

"Aku tidak tahu kau mengenalnya." Sakura memutar bosan bola matanya,

"Temari-san adalah tunangan Sasori-senpai. Bagaimana kau fikir aku tidak mengenalnya? Lagi pula aku hanya meminta tolong padanya untuk menyelidiki ulang kecelakaanku empat tahun yang lalu." Ujarnya, Sasuke menghela nafasnya

"Kau benar-benar ingin menendang mereka kepenjara?" Sakura mengangguk, tentu saja dia ingin, para manusia laknat itu harus membayar atas semua penderitaannya.

"Bagaimana hasilnya?" Tanya Sasuke.

"Aku dan Itachi-nii mencoba mencari rekaman CCTV yang terpasang di seluruh sudut kota Tokyo dan Osaka tapi tidak seluruhnya lengkap, seperti ada yang sengaja memotong rekamannya atau CCTV di tempat kejadian sengaja di nonaktifkan untuk menghilangkan jejak pelakunya." Ia menghela nafasnya,

"Hyuga menutupi jejak mereka dengan sangat lihai. Mereka seperti hantu, benar-benar tak terlihat." Ujarnya, Sasuke menghela nafasnya

"Kau sudah cari tahu siapa yang bertugas pada hari itu? Mereka pasti masih punya arsip jadwal penugasan harian." Sakura menggeleng,

"Sudah, tapi hasilnya sama saja. Mereka masih belum mau membuka mulut tentang ini semua." Sasuke menyandarkan tubuhnya di kursi nya, wajah tegasnya mengeras.

"Mereka pasti menyuap pihak keamanan kota juga. Kau harus buka bukti kalau ada beberapa pihak berwenang yang terlibat kasus korup untuk hal ini." Sakura menaikkan alisnya, korup? Benar juga, kenapa tidak terfikir sebelumnya

"Itu benar, tapi… bagaimana caranya?" Tanyanya, Sasuke menyerengai mengerikan kepadanya

"bukan hanya Hyuga yang bisa membayar orang untuk melakukan tipuan kecil seperti ini. Serahkan itu semua padaku, kau tidak perlu terlibat." Ujarnya, Sakura menggigit bibir bawahnya tak yakin.

"Kau tidak bermaksud melakukan tindakan bunuh dirikan, Sasuke-kun?" Sasuke menggeleng mantap.

"Aku hanya ingin membayar kesalahan ku." Sakura menggelengkan kepalanya,

"Bukan salahmu, jadi kau tidak perlu membayar apapun." Ujarnya, tak lama kemudian ponsel Sakura bordering.

"Ya?" Tanyanya, Sepasang irish jadenya melebar

"Kau bilang CD dokumentasiku Hilang dari brankas?" Ujarnya lagi,

"Sudah cek CCTV? Bagus, bagaimana hasilnya?" Ia mendengarkan, membuat Sasuke juga ikut memperhatikannya dan menerka-nerka akan apa yang kiranya terjadi.

"Aku tahu. Tidak, tidak perlu buat laporan, itu hanya CD dokumentasi yang berisi Design Sakura Uchiha saat di Paris. Bukan, itu hanya berisi rancangan untuk skripsinya. Aku tidak apa-apa, kalau itu dia aku yang akan memintanya mengembalikan. Terimakasih, Jane." Ujarnya sebelum menuntup ponselnya,

"Ada apa?" Tanya Sasuke, Sakura menyeringai kearhnya

"Dia mencuri dokumetasi design skripsiku." Sasuke tersenyum sinis

"Kau akan membiarkannya?" tanyanya, Sakura menggeleng

"Kita lihat saja apa yang dia rencanakan, baru setelah itu aku akan memutuskan apa yang harus ku lakukan. Tolong Jangan Begitu Khawatir, Sasuke-kun." Sasuke menghela nafasnya dan mengangguk

"Asal itu tidak mengganggumu dan bayi kita." Ujarnya, dia menyandar ke sandarannya.

"Masih tiga jam lagi, mau jalan-jalan sebentar?" Tanyanya, Sasuke mengangguk setuju lalu ikut meninggalkan ruangan bersama istrinya.

Hyuga Corporation, Tokyo Japan

Kalau tidak ada Temari disini Neji pasti sudah menghantam wajah baby face pria yang tengah memandangnya datar saat ini. Sasori Akasuna duduk dengan tenang dan pandangan mengancam kearahnya. Pria itu menghela nafasnya dan memandang sengit sulung Hyuga dihadapannya.

"Apa maksudmu dengan ini semua, brengsek!" Ujanya, tinjunya menghantap meja kebesarannya membuat Temari berjengit pelan di tempat duduknya

"Tenang, Hyuga." Neji menggeram, tenang? Dia nyaris membuat keamanan perusahaannya terancam dan sekarang dia memintanya untuk tenang?

"Tenang? Kau hampir membuat perusahaan ku bangkrut, bajingan!" Umpatnya lagi, Sasori mendecih kesal.

"Kau mengumpat seakan-akan akulah yang bajingan dan brengsek, Hyuga. Coba lihat dirimu, Siapa kau sebenarnya hah? Keturunan dari Psycopat dan kau merasa bangga?" Sasori berdiri dari tempatnya duduk mengabaikan Temari yang sudah berusaha mencengkram lengannya dan menahannya untuk duduk diam.

"Kau fikir kau bisa membunuhku dengan menyewa pembunuh bayaran? Kau tahu selama ini aku memfokuskan pengawasan diriku pada Guilliana, saat itulah kau tahu kalau pengawasan terhadapku melemah dan kau berusaha membunuhku dan Itachi." Sasori menghentikan langkahnya tepat didepan Neji, dengan menahan rasa nyeri di rusuknya pria itu menghantam wajah Hyuga Neji dengan telak

"Itu untuk Sahabatku yang sampai saat ini belum juga sembuh brengsek! Dia seorang ayah dan kau mau membunuhnya? Kau tidak ada bedanya dengan ayahmu yang sialan itu, kau tahu bagaimana menyakitkannya saat kau melihat ayahmu meninggal di depan matamu? Aku sudah merasakannya dan keluarga Uchiha sudah menghapuskan rasa kesepian itu, Anak Itachi adalah keponakanku juga, aku tak akan membiarkan kau memberikan rasa kesepian yang sama seperti yang ayahmu berikan kepadaku padanya!" 'Bukk'

Sekali lagi tinjunya melayang menghantam rusuk pria bermarga Hyuga itu membuatnya tersungkur ditanah

"ini untuk orangtuaku yang sudah ayahmu bunuh, Brengsek! Menghajarmu atau bahkan memusnahkan seluruh keluargamu pun tak akan membuat mereka tenang! Aku bersumpah aku tak akan membuatmu mati dengan mudah!" dan lagi dan lagi pukulan ia terima

"Dan itu untuk perbuatan pengecutmu padaku dan Itachi, Jalang itu berhak mendapatkannya! Kami akan mengembalikan semua pada tempatnya. Semua, itu berarti sama dengan menendangmu kepenjara. Kau dan seluruh keluargamu!" terakhir sebuah pukulan ia daratkan di wajah Neji

"Likuidasi. Itu yang akan terjadi, aku hanya perlu menunggu kapan aku akan melakukannya padamu." Ujarnya, lalu pria itu menarik Temari bersamanya keluar meninggalkan ruangan kebesaran Neji Hyuga itu,

Neji berusaha bangkit dari tempatnya tersungkur, ia menekan tombol speed dial lalu tak lama kemudian Sekretarisnya masuk dengan terburu dan membawa kotak P3K, Ia menahan rasa Sakitnya saat alkohol menyentuh permukaan kulitnya yang terbuka. Sasori dan Likuidasi. Brengsek, kalau sampai Itachi dan Sasori benar-benar melikuidasi perusahaannya maka tak aka nada yang bisa terselamatkan, termasuk rahasia kebobrokan perusahaannya sendiri. Hidupnya akan hancur, kebahagiaan akan semakin sulit ia raih. Ten ten, wanita itu. Dimana dia saat ia membutuhkannya? Bodoh, mereka bahkan sudah bercerai dan Ten ten tak punya kewajiban apapun untuk tetap bersamanya. Kebahagiaan? Jadi apa kebahagiaan itu sebenarnya, Hyuga Neji? Ten ten kah? Ataukah kehidupan yang kau jalani saat ini? Yang mana kebahagiaan menurutmu?

Namikaze Corporation, Los Angels USA

Setelah makan siang, ruag rapat perusahaan Namikaze sudah penuh dengan seluruh dewan direksi dan Minato Namikaze di dalamnya. Sasuke dan Sakura duduk bersebrangan dengan Hyuga Hinata. Baik Sakura maupun Hinata sudah memandang tajam kesatu sama lain, Sakura tersenyum sinis memandang wanita dihadapannya. Sebaiknya wanita itu akan mengambil kesempatan pertama, atau dia akan mempermalukan dirinya sendiri.

"baiklah, jadi bagaimana leader Team, Akasuna? Apa sudah ada ide untuk interior design?" Naruto Namikaze, direktur muda itu membuka rapat mewakili ayahnya

"Aku rasa, antara aku dan nyonya Uchiha memiliki pendapat yang berbeda. Kami memiliki dua design yang berbeda, jadi kami mohon waktunya untuk mempresentasikan hasil kerja kami kepada anda sekalian." Ujar Sakura, dari sudut matanya ia bisa melihat senyum licik terlukis samar diwajah pucat Hinata, pucat? Ada apa dengan wanita itu sebenarnya?

Sakura kembali duduk di tempatnya, Naruto mengangkat sebelah alisnya bingung dengan pernyataan Sakura barusan. Satu team dengan dua ide berbeda, jelas ada yang tidak bisa diajak bekerja sama dan egois ingin menonjol disini, suami Shion itu hanya menghela nafasnya lalu mengangguk singkat, ia mengalihkan manik birunya kearah Sasuke meminta penjelasan tapi hanya di balas tatapan datar Sasuke kearahnya.

"Baiklah, silahkan siapa yang ingin duluan?" Baik Sakura dan Hinata diam untuk beberapa Saat dan saling memandang dengan tatapan tajam.

"Lebih baik, aku yang duluan saja. Tidak masalah bukan, Leader Akasuna?" Sakura tersenyum kecut kearahnya, tentu harus dia yang mulai duluan itu akan membuka lebar celahnya

"tentu. Silahkan Nyonya Uchiha." Ujarnya, wanita itu memberi penekanan di akhir kalimatnya.

"Baiklah." Hinata berdiri ia meringis menahan sakit di bagian tulang rusuk dan perutnya, Sakura menyeringit heran memandang Hinata, apa yang terjadi?

Wanita itu melangkah ketengah ruangan, jemari lentiknya mengambil remote control proyektor yang akan dia gunakan dengan perlahan tapi pasti ia memulai presentasinya. Hyuga Hinata terlihat percaya diri saat menampilkan Slide demi Slide hasil kerjanya dihapan seluruh dewan direksi kedua perusahaan. Sakura mengepalkan kedua tanganya, wajah Sasuke mengeras begitu melihat seluruh isi tampilan Slide dan print out materi proposalnya yang dibagikan sesaat sebelum dimulainya presentasinya. Sakura mengangkat tangannya, mengintrupsi presentasi Hinata bergitu ia merasa muak dan tak tahan. Minato dan Naruto sesaat memandang heran kearahnya, wanita itu berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Hinata.

"Ada apa Nona Akasuna? Anak buah anda belum selsai membawakan presentasinya." Ujar Minato yang sedikit tekejut dengan tindakan Sakura,

"Saya minta maaf, Komisaris. Tapi, Slide ini bukan murni buatan Nyonya Uchiha." Seluruh mata diruangan itu memandang heran kearah mereka berdua, sepasang irish lavender Hinata memandnag tajam kearahnya.

"Bukan murni buatan ku? Kau fikir aku menjiplak? Mana buktinya, kau punya buktinya, semua ini sungguh-sungguh rancanganku!" Sakura menghela nafasnya

"Itu, bukan rancangan design Interior milikmu. Sakura Uchiha, dia adalah designer pakaian dan interior yang meninggal empat tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil, sesungguhnya para dewan direksi yang terhormat dan tuan komisaris. Ini adalah karya yang dibuat oleh Nyonya Sakura Uchiha untuk skripsinya saat beliau menerima beasiswa kuliah di todai delapan tahun yang lalu.

Tema dan konsepnya adalah menggabungkan gaya victorian dan modern, Nyonya Hinata Uchiha sudah menjiplaknya dan hanya mengganti warna dari rancangan yang sesungguhnya. Kalau anda tidak percaya, Tuan Sasuke Uchiha sendiri bisa membuktikan kalau itu adalah karya outentik istrinya, karena Tuan Sasuke Uchiha adalah orang yang memberikan ide dan inspirasi ini kepada istrinya." Ujar Sakura, Hinata memandnag gugup keseluruh isi ruangan, Minato mengambil proposal milik Hinata.

"Komisaris, sungguh ini adalah karya ku. Aku tidak menjiplak siapapun." Minato berdiri dari tempatnya duduk

"Benarkah? Nona Akasuna, kalau anda meduh seseorang anda harus memiliki buktinya, bisa anda tunjukkan itu padaku?" Ujar Minato, Hinata berputar dan menghampiri Sakura

"Benar, berikan buktinya kalau kau memang yakin aku menjiplaknya. Berikan aku buktinya!" Sakura tersenyum sinis kearahnya, wanita itu berbalik dan mengambil Tab lama milknya dari dalam tas kerjanya.

"ini." Ia mengacungkan tab itu sehingga semua orang bisa melihatnya dengan jelas.

"Menurut penuturan Sasuke-san saat kami pertama kali di pasangkan untuk proyek ini, istrinya selalu menyimpan copy-an data dari seluruh rancangan yang ia buat kedalam tabnya. Termasuk data Skripsinya. Anda bisa mengeceknya sendiri." Ujar Sakura, wanita itu memberikan Tab itu kepada Minato

"ini jebakan, bagaimana tab itu bisa ada di tangannya? Itu adalah barang pribadi suamiku, bahkan Sasuke-kun tidak pernah mengizinkanku untuk menyentuhnya, bagaimana bisa kau memilikinya. Aku bisa melaporkanmu untuk tindak pencurian!" Ujar Hinata,

"Hentikan Hinata!" Suara baritone itu membuat Hinata terkejut dan menoleh kearah Sasuke.

"Sasuke-kun, itu sunguh rancanganku. Aku tidak berbohong." Sasuke menggelengkan kepalanya, pandangannya muak menatap Hinata.

"ikut aku." Ujarnya, Hinata memandnag panic kesekeliling ruangan

"Tapi…" ujarnya, Sasuke menajamkan pandangannya

"Apa kau tuli? Aku bilang kita keluar sekarang!" Hinata tak punya pilihan lain, wanita itu mengikuti langkah Sasuke keluar ruang rapat sementara Sakura menunggu Naruto dan Dewan Direksi yang lain yang sedang memastikan penjiplakan presentasi miliknya itu.

Lobby

'PLAK' satu tamparan telak ia terima, beberapa pegawai yang tengah beraktifitas menoleh saat mendengar suara tamparan keras Sasuke mendarat di pipi pucat Hinata. Wanita itu menahan tangisnya memandang kearah pria yang dicintainya itu. Tatapan Sasuke mengerikan dan penuh kebencian.

"Kau menjijikan." Hinata menggeleng kuat

"Aku bersumpah aku tidak melakukannya! Itu karyaku." 'Plak' satu tamparan telak lagi ia terima, kali ini tubuhnya terhuyung kebelakang karena lemah menahan rasa sakit di perut dan tulang rusuknya

"Kau masih berbohong? Apa kau bodoh? Aku adalah orang yang membantu Sakura membuat bahan skripsinya, istriku itu menceritakan semuanya kepadku dan meminta bantuanku saat akan skripsi. Bagaimana bisa kau berfikir memainkan permainan sekotor ini dalam dunia bisnis, Hinata? Dimana harga dirimu? Kau sudah mempermalukan aku, mempermalukan keluarga dan kakakku!" Suara Sasuke naik satu oktaf dan terdengar mengancam

"aku…" Hinata kehilangan kata-katanya, wanita itu menunduk tak berani menatap Sasuke

"Minta maaf, masuk kedalam dan akui kesalahanmu."Ujarnya tegas, Hinata mendongak ia memberikan tatapan tak terima kepada Sasuke.

"Tidak, aku tidak akan mengakui apapun. Wanita itu yang mendorongku melakukan ini. Aku tidak mau." Sasuke memadang tajam kearahnya.

"Kalau dari awal kau memang tak ingin bekerja dengan Guilliana, seharusnya sejak awal kau menolak proyek ini dan diam dirumah. Kau hanya membuatku tambah susah dengan cara seperti ini. Aku ingin kau minta maaf." Ujarnya, Hinata masih diam saat Sasuke berjalan mendahuluinya.

"Kau ingin aku menyeretmu kedalam atau jalan sendiri?" Hinata mendongak, ia tak mau mendapatkan tatapan itu lagi dari suaminya jadi dia memutuskan mengikuti Sasuke dari bekalang.

Keduanya masuk kembali kedalam ruang rapat, Sasuke duduk disebelah Sakura dan Hinata kembali berdiri di tengah. Baik Minato dan Naruto jelas telihat kesal setengah mati dengan ulahnya. Hinata memandang kesekelilingnya, wanita itu lalu memandnag Sakura yang memandnag sinis kearahnya. Ia mengepalkan sebelah tangannya. Ia tidak bersalah, ia tidak bersalah. Kalimat itu terus ia ulang lagi dan lagi.

"Ada yang ingin kau katakana, Nyonya Uchiha?" Tanya Minato, Hinata memandang Sakura sekali lagi, dia tidak bisa membiarkan harga dirinya jatuh didepan wanita itu.

"Ya, hanya satu. Aku tidak menjiplak apapun. Aku permisi." Dengan kata terakhir itu dia berjalan cepat membuat beberapa dewan direksi terkejut akan sikapnya. Sakura menggeleng pelan begitu juga Sasuke. Pria itu merasa benar-benar di permalukan oleh sikap wanita indigo itu.

"Nona Guilliana, kami akan gunakan designmu." Ujar Minato sebelum keluar ruangan diikuti putranya Naruto. Sakura mengangguk paham lalu merapihkan seluruh berkas-berkas pentingnya. Hinata terlihat menahan sakit selama berdiri dan berjalan pulang tadi, ada apa dengan wanita itu ya? Apa dia Sakit? Tapi kenapa begitu tiba-tiba.

"Sayang." Sasuke menoleh mendengar suara Sakura,

"Ada apa?" tanyanya,

"Aku akan pergi dengan Natasha kerumah sakit." Sasuke terkejut

"Sekarang? Tapi Naruto baru saja akan mengajak kita keluar untuk membicarakan masalah teknis proyeknya." Sakura memandang cemas

"Aku tahu, aku hanya tidak enak badan." Sasuke menadnag cemas kearahnya.

"Apa? Bayinya?" Sakura tersenyum minta maaf

"aku hanya mual, sekalian ingin periksa saja. Tidak perlu diatar aku bersama Natasha." Ujarnya, Sasuke menghela nafasnya

"aku akan menyusul nanti." Sakura mengangguk setuju lalu meninggalkan ruangan itu bersama Natasha dibelakangnya. Saat tiba di loby ia melihat hinata buru-buru masuk kemobil, seorang pria menjemputnya. Surai coklat dan tattoo segitiga di pipinya, Kiba. Itu adiknya Hana, pria itu menoleh kearahnya dan tersenyum sopan kearah Sakura. Mau apa mereka? Wanita itu masuk kedalam mobilnya dan dengan cepat menyuruh Natasha mengikuti Kiba dan Hinata.

TBC. Saya tahu makin aneh alurnya, tapi aku berusaha banget bikin klimaks yang bagus di tengah-tengah kesibukan. Jadi semoga memuaskan. RNR mina?

Aphrodite girl 13