Forbidden Kiss

Kaisoo as main pair.

Other cast find by yourself

Warning!!

GS. Rated M. Typo. OOC

Chapter 13

Malam telah berganti pagi namun Woobin sama sekali tidak bisa tidur. Tubuhnya sangat lelah setelah penerbangan panjang dari Seattle menuju Seoul namun matanya enggan tertutup. Ketika itu ia berharap mendapat pelukan dan senyum hangat Kyungsoo yang senang menyambut kepulangannya. Namun yang di dapatinya adalah apartemen yang kosong. Ia berusaha menelpon Kyungsoo namun sayang ponselnya tidak aktif. Ia sedikit heran karena setahunya Kyungsoo tidak bekerja dan setahunya semester baru juga belum di mulai. Kyungsoo bukan seorang yang suka berkeliaran di luar jika tidak ada hal yang penting atau mendesak.

Kekhawatirannya semakin menjadi ketika sore menjelang disertai hujan deras. Kecemasan akan keberadaan Kyungsoo dan fakta bahwa ponselnya tidak bisa dihubungi hanya membuat Woobin semakin panik. Disaat akhirnya ia meminta bantuan Sohee yang juga baru saja pulang dari Paris, ia harus dikejutkan dengan kedatangan Kyungsoo yang basah kuyup. Ia dan Sohee hanya bisa diam dalam kebingungan mereka ketika Kyungsoo tiba-tiba berlari kearahnya, memberinya pelukan erat dengan diiringi isak tangis yang memilukan bagi siapapun yang mendengarnya.

Ia sudah mencoba membuat Kyungsoo berbicara tentang masalahnya. Namun setiap kali ia melakukannya ia hanya akan membuat Kyungsoo kembali menangis. Sampai saat ini ia tidak tahu alasan pasti mengapa Kyungsoo menangis seperti itu. Hanya intuisinya mengatakan semua hal buruk ini ada sangkut pautnya dengan pria yang bernama Kai. Woobin memang tidak tahu menahu siapa Kai, tapi jika benar Kai-lah yang telah membuat Kyungsoo menangis maka ia tidak akan tinggal diam.

Tangis pilu Kyungsoo adalah sesuatu yang paling tidak ia inginkan. Cukup sekali saja melihat Kyungsoo tenggelam dalam kesedihan. Ia tak akan membiarkan kejadian itu terulang kembali. Sekalipun berarti ia harus menjauhkan Kyungsoo dari pria bernama Kai itu. Mengesampingkan fakta bahwa Kyungsoo telah jatuh cinta pada pria itu. Bebannya menjadi dua kali lipat lebih berat ketika ia menyadari satu hal ini.

"Oppa." panggilan lirih Kyungsoo menyadarkan Woobin dari lamunannya. Ia mengerjap, mencoba tersenyum meski hatinya teriris perih melihat keadaan Kyungsoo sekarang. Kyungsoo terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Wajahnya pucat pasi, benar-benar membuat Kyungsoo nampak tak berdaya.

"Ada apa? Kau butuh sesuatu?"

"Air." Woobin segera menuang air ke dalam gelas dan membantu Kyungsoo meminumnya.

"Apa ada lagi? Kau mau makan? Atau ke kamar mandi?"

Kyungsoo hanya menggeleng kecil sebagai jawaban. Kyungsoo mengulurkan tangan kanannya yang dengan segera di raih oleh Woobin. Ia menggenggamnya erat, menyalurkan rasa hangat pada tangan Kyungsoo yang dingin. Senyuman kecil yang terukir di bibir Kyungsoo seperti duri tajam yang menggores hatinya. Namun meski begitu ia tetap ikut tersenyum, meraih tangan itu dan mengecupnya lama. Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar ia menyayangi Kyungsoo.

"Oppa tidak tidur? Dimana Sohee?"

"Sohee tidur di kamar sebelah."

Kyungsoo mengerutkan keningnya, tampak tidak puas dengan jawaban yang ia berikan. Ia sendiri bingung ketika Kyungsoo menarik lepas tangannya kemudian bergeser menjauh darinya.

"Berbaring bersamaku. Oppa juga butuh istirahat."

Tanpa di minta dua kali Woobin ikut masuk ke dalam selimut dan membawa Kyungsoo dalam pelukannya. Dengan hati-hati ia mengatur letak tangan kiri Kyungsoo yang tersambung dengan infus untuk balas memeluknya. Ia juga menyamankan posisi kepala Kyungsoo pada lekukan lengannya sehingga Kyungsoo bisa bersandar dengan nyaman.

Keduanya larut dalam diam untuk beberapa saat. Hanya terdengar nafas mereka yang saling beradu dalam keheningan malam. Udara malam ini cukup dingin, hal itu membantunya bertahan untuk memeluk tubuh Kyungsoo yang demam. Tangannya terus membelai rambut Kyungsoo, mencoba membuat Kyungsoo kembali tidur.

"Mianhae oppa."

"Untuk?"

"Karena tidak mendengar perkataanmu." lanjut Kyungsoo dengan suara yang bergetar menahan tangis. Woobin menghela nafas. Ia hanya bisa mengeratkan pelukannya. Sebisa mungkin ia harus mengontrol emosinya. Karena saat ini yang Kyungsoo butuhkan adalah dirinya dan kesabarannya. Bukan penghakiman atas apa yang sudah di perbuatnya.

"Mau bercerita?" tanyanya setenang mungkin. Ia bisa merasakan gelengan kepala Kyungsoo sebagai tanda penolakan. Ia pun hanya bisa mengangguk mengerti.

"Baiklah. Tapi aku boleh meminta sesuatu padamu?" Woobin melonggarkan pelukannya, mendongakkan wajah Kyungsoo untuk balas menatapnya. "Jangan menangis."

Hanya itu permintaannya namun ternyata cukup sulit untuk Kyungsoo lakukan. Bulir-bulir air mata kembali keluar dari pelupuk mata Kyungsoo diiringi isak tertahan. Woobin terus menyeka air mata itu, namun semakin ia coba semakin banyak air mata yang mengalir dari mata Kyungsoo.

"Tapi rasanya sangat sakit, oppa. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan." ucap Kyungsoo. Harus dengan perhatian ekstra untuk bisa mendengar kalimat Kyungsoo diantara isak tangisnya. Nafas Kyungsoo putus-putus, ia kesusahan untuk bernafas karena mencoba berhenti menangis. Dengan cepat ia memeluk Kyungsoo kembali. Menepuk punggung bergetar itu untuk menenangkannya. Rasanya sangat perih melihat Kyungsoo yang seperti ini. Tanpa terasa matanya ikut memanas mendengar isak putus asa yang keluar dari bibir Kyungsoo.

"Sst. Sekarang menangislah sampai kau puas. Tapi berjanjilah padaku ketika matahari terbit kau harus kembali tersenyum."

.

...

.

Kyungsoo kehilangan orientasi waktu ketika ia membuka mata. Kamarnya terasa begitu sepi, di luar juga tak terdengar suara sedikitpun. Hanya detik jarum jam yang tertangkap indera pendengarannya, seolah kehadiran oppanya dan Sohee semalam hanyalah mimpi. Meski sejujurnya Kyungsoo memang berharap jika yang terjadi kemarin memang hanya mimpi. Berharap ia terbangun di kamar apartemen Kai dan berhadapan dengan pria menjengkelkan itu. Namun melihat infus yang menancap pada tangan kirinya, peralatan kompres yang ada di dekat meja nakasnya, rasa sakit pada bibirnya. Membuat Kyungsoo harus menelan pahitnya harapan kosong.

Dengan sisa tenaga yang ia punya, Kyungsoo membuat dirinya sendiri duduk. Meringis pelan ketika jarum infus tertarik dari kulitnya. Ia sama sekali tak menghiraukan setitik darah yang menodai kulit pucatnya. Sambil memeluk lututnya sendiri, Kyungsoo membenamkan wajah pada lekukan lengannya. Menyembunyikan airmata yang berlomba-lomba membasahi pipinya.

Kyungsoo benci ketika dirinya menjadi lemah seperti sekarang. Ia pernah bersumpah untuk tidak berada di titik ini lagi, dulu ia berjanji untuk tidak pernah menangis lagi. Namun hatinya terasa sangat sakit. Bahkan mungkin sudah hancur. Ia memang pernah beberapa kali mendengar orang-orang mengatainya jalang murahan. Menjadi semakin sering ketika Kai mulai masuk dalam kehidupanya. Selama ini ia masa bodoh. Tapi ketika mendengar umpatan itu dari mulut pria itu sendiri nyatanya menghancurkannya.

Apakah Kyungsoo menyalahkan Kai? Tidak. Tak ada seorangpun yang patut disalahkan kecuali dirinya sendiri. Seharusnya ia tak menaruh harapan lebih hanya karena Kai bersikap manis padanya. Tak seharusnya ia berbangga diri ketika orang lain mengatakan padanya jika ia tampak istimewa di mata Kai. Semua salahnya karena tidak menghiraukan ketika ada kesempatan baginya untuk menjauh dari Kai. Rasanya seperti terbang ke awang-awang kemudian dihempaskan begitu saja. Apakah ia menyesal? Jawabannya juga tidak. Tak ada lagi gunanya menyesali hal yang sudah terjadi. Termasuk perasaan asing yang ternyata tumbuh lebih besar daripada yang ia duga. Tanpa bisa ia kendalikan, perasaan yang ia miliki sudah terlalu dalam.

Ia tidak perlu meratap lagi. Yang perlu ia lakukan saat ini hanyalah berhenti. Berhenti mengharapkan sesuatu yang tak mungkin. Dengan begitu ia yakin perasaannya juga akan menghilang seiring berjalannya waktu. Ia hanya tinggal memikirkan caranya. Bagaimana caranya ia bisa melihat Kai dengan cara lamanya, seperti saat sebelum mereka kenal dan menjadi dekat. Ia harap ia belum terlambat untuk menghentikan itu. Meski berat ia tetap harus mencoba bukan.

Satu helaan nafas dalam membantu Kyungsoo untuk menghentikan tangisnya. Ia mengusap sisa-sisa airmata dari pipinya sambil menguatkan hati. Ia yang telah memulai maka ia juga yang harus mengakhiri. Miris, ia harus rela kuncupnya mati bahkan sebelum ia tumbuh dan mekar. Ia merasa malu karena ceramahnya pada Sohee sedangkan kini dirinya telah jatuh pada lubang yang sama.

Tidak ingin berpikir lebih jauh lagi Kyungsoo pergi menuju kamar mandi. Perjalanannya tidak mudah, ia perlu berpegangan pada dinding dan berdiam sesaat untuk menguatkan kakinya. Di dalam ia menyaksikan sendiri bagaimana ia terlihat kacau. Matanya masih sembab, bibirnya kering dan pucat. Sungguh, saat ini ia mengasihani dirinya sendiri. Dengan cepat ia menyambar sikat gigi dan memulai ritual paginya seperti biasa. Entah apakah saat ini masih bisa dikatakan pagi.

Semuanya terasa tenang sebelum terdengar suara oppanya yang berteriak dengan nada panik yang kentara. Kyungsoo mendengus, ia masih santai mengeringkan wajahnya dengan handuk kemudian melemparnya ke dalam keranjang kosong.

"Aku di sini." jawabnya saat keluar dari kamar mandi. Ia geli namun juga merasa bersalah saat melihat raut kekhawatiran khas oppanya. Ia lebih terkejut lagi ketika Woobin menerjangnya dengan pelukan erat yang membuatnya susah bernafas. Kyungsoo sama sekali tidak keberatan, malahan ia balas memeluknya. Berpikir setidaknya ia masih memiliki Woobin dan Sohee dalam hidupnya.

"Ku kira kau hilang." gumaman pelah Wobin mengundang tawa lemah Kyungsoo.

"Bagaimana aku bisa hilang di rumahku sendiri." kekehnya. Kyungsoo memperhatikan dalam diam ketika Woobin memeriksa seluruh tubuhnya. Ia tersenyum kecil menyadari perhatian Woobin sama sekali tidak berubah. Ia telah berhutang banyak, membuatnya bertanya-tanya bagaimana ia harus membayarnya.

"Aku baik-baik saja oppa. Jangan khawatir."

Woobin terlihat akan membantah. Namun Kyungsoo lebih memilih mengelak dan pergi. Ia tahu kearah mana pertanyaan yang Woobin akan berikan padanya. Dan untuk saat ini ia belum siap menceritakan hal rumit yang tengah di alaminya. Ia tak ingin mendengar dongeng panjang Woobin maupun Sohee. Hanya untuk yang satu ini ia harus benar-benar menahan diri untuk tidak bercerita pada siapapun.

Aroma manis kue menarik perhatian Kyungsoo ketika ia sampai di dapur. Ia menatap beberapa stoples berisi cookies dan satu bingkisan yang ia yakini adalah chocolate cake. Semua adalah makanan favoritnya. Berbalik, Kyungsoo menatap Woobin dengan mata memincing. Berusaha menyudutkan Woobin yang malah terlihat acuh. Baik Woobin maupun Sohee, mereka berdua memang terlalu memanjakannya.

"Kau hanya bisa makan makanan manis jika sedang sakit. Jangan membantah."

"Aku tidak sakit."

"Katakan pada seseorang yang terbaring tak berdaya semalam." perkataan tegas Woobin membuat Kyungsoo tidak bisa berkata-kata. Ia hanya terdiam, menatap nanar kue-kue kesukaannya. Ia sedang tidak ingin makan. Nafsu makannya menguap entah kemana.

"Oh ya. Kau bilang kau menghilangkan ponselmu." sekali lagi perhatian Kyungsoo teralihkan pada ponsel berwarna gold yang kini disodorkan Woobin padanya. Ia berbohong tentang ponselnya yang hilang. Nyatanya semua barang-barangnya masih tertinggal di apartemen Kai. Ia hanya membawa pulang dompet dan pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia tak berencana mengambi kembali barang-barangnya. Jadi ia mengiyakan saja apa yang Woobin katakan dan menerima ponsel baru itu. Jika tidak sudah di pastikan ia mendapat omelan panjang seperti yang sudah-sudah.

"Aku masih ada urusan di kafe. Kau tidak apakan ku tinggal sendirian, Kyungsoo?"

"Hm. Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja."

Setelah mengantar Woobin ke depan pintu, Kyungsoo kembali ke dalam dan duduk di ruang tengah. Matanya menatap bergantian antara ponsel, laptop dan kartu nama yang berisi nomor HRD tempatnya bekerja sekarang. Sudah beberapa menit berlalu dengan sia-sia. Kyungsoo kebingungan untuk mengisi form ijinnya. Bisa dibilang Kyungsoo tidak bekerja secara resmi di perusahaan itu, tapi ia bekerja pada Kai. Ia tak terikat kontrak resmi dengan perusahaan tapi ia terikat dengan Kai.

Kyungsoo memegang keningnya yang kembali pening. Ia terlalu lama berpikir. Rasanya lebih tepat jika ia langsung mengirim email pada Kai. Dengan tangan yang gemetar ia mulai menulis kata demi kata, merangkainya menjadi tatanan kalimat formal untuk surat ijinnya. Bukan surat yang panjang. Tapi ia berharap itu akan cukup. Setelah memastikan emailnya benar-benar terkirim, Kyungsoo menutup laptopnya, perlahan menyandarkan kepalanya pada badan sofa dan mulai memejamkan mata. Saat ini ia hanya bisa berharap dua minggu akan cepat berlalu.

.

...

.

Kai mencoba mengingat kembali kapan terakhir kali ia merasa sekacau ini. Ia sama sekali tidak bisa tidur. Kepalanya terasa berat dan tubuhnya sama sekali tidak bertenaga. Ia tidak sakit. Jelas. Tapi ia seperti orang sekarat saat ini. Ketidak selarasan antara pikiran dan perasaannya membuat Kai merasa marah. Ia marah pada Kyungsoo yang pergi begitu saja tanpa menyelesaikan apapun. Ia marah pada Sehun yang telah menyebabkan kekacauan ini. Dan ia lebih marah pada dirinya sendiri yang tak bisa melakukan apapun selain terbaring diam dalam kebingungannya.

Disisi lain setiap kali ia memejamkan mata maka ia akan mengingat Kyungsoo. Ciuman itu. Kai merasa salah ketika jantungnya berdebar dengan keras. Bibirnya terasa kering dan panas. Tanpa sadar mendamba untuk bisa bersentuhan dengan bibir lembut Kyungsoo lagi. Ia merutuki desiran aneh yang ia rasakan setiap ia mengingat rasa bibir Kyungsoo. Ia bersalah karena kehilangan kontrol. Membuat kesalahan serius dan membuat keadaan menjadi semakin rumit. Bahkan bagi dirinya sendiri.

Sekali lagi ia mencoba memejamkan matanya. Ia secara perlahan mengosongkan pikirannya. Ia hanya ingin mencoba melepas bebannya sejenak sehingga nanti ia bisa berpikir dengan lebih jernih. Menata pertanyaan-pertanyaan seperti, mengapa ia marah? Mengapa ia mencium Kyungsoo? Apa arti dari debaran aneh ini? Dan masih banyak pertanyaan yang lainnya. Satu pertanyaan tak terjawab ia beralih pada pertanyaanya yang lain. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa ia sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan yang sederhana sekalipun.

Tiba-tiba ia merasa begitu lelah. Kai semakin meringkuk. Tarikan nafasnya menjadi rakus kala aroma Kyungsoo tercium samar di ranjangnya. Untuk alasan yang tidak ia ketahui, ia sudah merindukan Kyungsoo. Ia menginginkan Kyungsoo tapi ia tidak berhak. Ia ingin memiliki Kyungsoo tapi dirinya terlalu egois. Satu dan banyak hal membuat Kai semakin ragu, arah jalan yang ingin di tujunya terlihat semakin samar. Kai kehilangan arah. Dan lagi-lagi masa lalu membelenggu kakinya untuk melangkah. Rasa bersalah ini membunuhnya secara perlahan. Apakah ia berkhianat? Rasa bersalahkah yang membuat nama Kyungsoo kini menari-nari di pikirannya? Kai benar-benar tidak tahu. Hati dan logikanya saling bertolak belakang. Ia mulai bertanya-tanya bagaimana perasaannya yang sesungguhnya untuk Kyungsoo maupun untuk Shannon.

Dering ponsel menggema dengan keras dan mengejutkannya. Dengan enggan Kai mengubah posisinya menjadi duduk dan meraih ponselnya di meja nakas. Melihat nama Jaerim membuatnya ingat akan tanggung jawab perusahaan yang saat ini di tanganinya. Ia absen tanpa menjelaskan apapun. Bahkan pada supirnya ia hanya mengatakan untuk tidak datang.

"Ya! Apa kau sedang menikmati waktu santaimu?" sarkas Jaerim tiba-tiba tanpa memberi salam. Kai terkekeh meski terdengar sumbang. Bagaimana mungkin ia bersantai sedangan untuk tidur barang lima menit pun ia tidak bisa.

"Mian hyung. Aku butuh istirahat sebentar."

"Wae? Kau sakit? Suaramu terdengar aneh."

"Sedikit." jawab Kai asal. Ia tak bisa menjelaskan bagaimana keadaanya sekarang karena sejujurnya ia juga tidak mengerti.

"Ku pikir kau sedang berkencan dengan nona Do. Dia juga absen hari ini."

"Kyungsoo tidak datang?"

"Apa terjadi sesuatu? Dari suaramu tidak terdengar baik."

Kai hanya bisa menghela nafas. Ia terlalu malu untuk mengatakan bahwa dirinya bertingkah kekanakan dan membuat Kyungsoo kabur. Tentu saja ia tak berharap banyak untuk Kyungsoo bertanggung jawab pada pekerjaannya. Kyungsoo tak terikat dengan kontrak resmi. Bahkan ia tak pernah menyinggung masalah pinalti yang harus Kyungsoo tanggung jika meninggalkan pekerjaannya sebelum masa kontrak habis.

"Apa kau sudah melihat emailmu?" pertanyaan Jaerim membuat Kai sedikit terkejut. Tanpa menjawab ia memutuskan sambungan secara sepihak. Ia tidak peduli jika Jaerim akan memarahinya karena bersikap tidak sopan. Tujunnya sekarang adalah membuka emailnya. Benar saja ada beberapa email masuk. Namun hanya email dari Kyungsoo yang menjadi pusat perhatiannya.

Tanpa terkendali jantungnya kembali berdebar dengan keras. Ia merasa cemas mengira jangan-jangan itu adalah surat pengunduran diri. Namun setelah ia membacanya ia hanya bisa tertegun seperti orang bodoh. Email ini hanya berisikan form ijin karena sakit. Seperti tertampar ia ingat jika Kyungsoo memang sedang sakit. Ia sendiri yang merawat Kyungsoo kemarin dan ia sendiri yang membuat Kyungsoo pergi menembus hujan deras. Ia akan terus menyalahkan dirinya sendiri jika sampai sesuatu yang serius terjadi pada Kyungsoo.

Kai sama sekali tidak berpikir ketika tubuhnya bergerak cepat mengambil mantel, ponsel dan juga kunci mobilnya. Ia perlu menemui Kyungsoo dan memastikan bagaimana keadaan Kyungsoo sekarang. Ia tak peduli jika nanti mungkin Kyungsoo akan menolak menemuinya. Bahkan ia siap jika nanti Kyungsoo menghujaninya dengan caci maki atau pukulan beribu kali. Asal ia bisa tahu jika Kyungsoo baik-baik saja maka itu cukup.

Kai berlari terburu-buru hingga terhenti begitu saja di depan pintunya yang ia buka secara kasar. Ponsel dan kuncinya terjatuh begitu saja dari genggamannya yang melonggar. Pupil matanya melebar, terkejut melihat seseorang yang saat ini tersenyum manis tepat di depan wajahnya. Kai menelan gumpalan di tenggorokannya dengan susah payah.

"Shannon."

.

.

.

TBC

Rerudo95 note

Cuma mau bilang...

Gomawo, mianhae, saranghae... :')

See you next chap... :):)