Kemarena ada yg nyampe di rumah ganto. Kado ultah dari seseorang muehehe So, chapter kali ini persembahan khusus untuk seseorang itu aka my love Suci. Hope u like it, baby
.
.
.
.
.
.
.
Rasanya Yoongi ingin mengumpat kasar. Tapi Seokjin bisa membunuhnya jika melakukan itu di depan Taehyung. Apalagi jika bocah pemilik senyum kotak itu meniru umpatannya maka Seokjin tidak hanya akan membunuhnya tapi juga akan memasukkannya ke neraka. Yeah, Seokjin yang sedang marah bisa saja menjadi malaikat pencabut nyawa dan iblis neraka disaat bersamaan. Dan Yoongi tidak ingin mati sebelum lagunya diterima oleh label musik incarannya atau setidaknya oleh label musik manapun.
Jadi pria bersurai blonde itu bernapas panjang-panjang untuk menenangkan diri dan menyimpan sumpah serapahnya pada bocah empat tahun yang tadi menghilang entah ke mana lalu tiba-tiba kembali dengan bocah lain yang sedang menangis terisak-isak. Yang Yoongi berani bersumpah tidak pernah melihat 'si teman baru Taehyung' itu yang berarti setelah ini akan terjadi sesuatu yang benar-benar merepotkannya.
Mengurus Taehyung saja sudah membuatnya sakit kepala dan menguji kesabaran sampai di ambang batas maksimal, apalagi ditambah dengan 'anak hilang' yang bahkan sudah ketakutan melihat wajahnya.
"Kookie, Papa akan membelikan kita mainan jadi jangan menangis lagi ya."
Fuck. Kau bilang apa, Bocah Alien! Aku bahkan belum pernah membelikanmu permen!
"Papa! Jangan belwajah sepelti itu! Kookie jadi takut!"
Yoongi cepat-cepat tersenyum meski sangat- sangat tidak ikhlas sekali-. Ia lalu membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan dua bocah di hadapannya, "Tae, kau dari mana saja tadi hm? Kenapa kau pergi tanpa memberitahuku?"
"Papa, Papa, Papa hanya mau melihat itu,"jemari gemuk milik Taehyung menunjuk benda pipih dalam genggaman Yoongi, "padahal kan aku ingin belmain. Dan, dan, dan aku lihat sepeltinya Kookie juga kesepian sepelti aku."
Okay, Yoongi mengerti. Taehyung paling tidak tahan diacuhkan. Taehyung juga paling tidak tahan melihat bocah lain sendirian. Taehyung setidaknya kembali dengan selamat.
Dan Yoongi mengaku salah, "nah, maafkan aku. Tapi lain kali jangan pernah lagi pergi tanpa memberitahuku, okay."
"Un, otay."
Yoongi lalu mengarahkan dua bocah itu untuk duduk di bangku taman dengan ia menjongkok di depan mereka. Wajah Yoongi juga dibuat seramah mungkin- meskipun gagal karena si bocah bergigi kelinci tetap belum bisa melihat ke arahnya.
"Nah, jadi namamu Kookie ya?"tanya Yoongi tak kalah ramah dibanding wajahnya.
"Namanya Pak Jungnggokk! Tapi katanya selalu dipanggil Kookie oleh Appanya! Aku juga lebih suka dengan Kookie dalipada Pak Jungngook"Taehyung menjawab karena sang teman baru hanya bisa menyembunyikan wajah di bahunya.
Jungngok? Okay, maksudnya Jungkook kan.
"Kau ke sini dengan siapa, Jungkook-a?"Yoongi bertanya lagi, meski ia tahu Taehyunglah yang akan menjawab tapi setidaknya ia harus terlihat mau berteman. Karena jika tidak-
"YA TUHAN! PARK JUNGKOOK!"
Mereka bertiga baru saja tersentak kaget dan ternyata tubuh Yoongi sudah dibekap saja oleh dua pria berseragam polisi. Setelahnya seorang namja menghambur memeluk Jungkook.
-Yoongi pasti menimbulkan salah paham seperti saat ini.
"Papa!"pekik Taehyung histeris melompat turun dari bangku taman.
Dua polisi serta namja yang tengah menggendong Jungkook sontak saja mengerutkan kening, "Papa?"heran mereka serentak memandangi pria kurus yang hanya bisa tersenyum putus asa.
"Nah, tuan-tuan,"desah Yoongi, "seperti yang kalian dengar aku bukanlah penculik anak-anak. Jadi bisa tolong lepaskan aku?"
##### #####
Black Hoodie, Boxy Smile, Bunny Teeth and Kimchi Stew
Min Yoongi x Park Jimin
Baby!Taehyung and Baby!Jungkook
Warning! Typo (s)!
Happy Reading
##### #####
Hoodie hitam, jins sobek dan converse hitam -yang tidak pernah dicuci- memanglah bukan pilihan yang tepat ketika menemani bocah bermain di taman. Ditambah dengan tampang tanpa ekspresi-nya yang tidak bersahabat dan rambut blonde acak-acakan Yoongi jadi menyesal kenapa tidak menuruti kata hatinya untuk memakai baju yang lebih berwarna. Tapi meski sudah dua kali disalah pahami -tiga kali dihitung yang sekarang, pertama kali ketika mengajak Taehyung ke taman bermain dan yang kedua ketika di supermarket- Yoongi tetap saja tidak bisa merelakan tubuhnya terbalut pakaian yang bukan seleranya.
Black hoodie sudah bagaikan kulit keduanya. Juga pakaian serba gelap lainnya.
Jadi Yoongi bukannya marah ataupun kesal -dia malah sangat maklum sekali- jika dua polisi di hadapannya kini masih belum percaya dengan pengakuannya tapi jika dintrograsi sampai seperti ini, sampai menanyai alamat dan keluarganya yang ada di Daegu, serta bagaimana detail semua perkerjaan paruh waktunya, Yoongi mulai merasa jengah. Dua kali sebelumnya belum pernah sampai ke polisi, hanya ibu-ibu yang menghampiri Taehyung untuk bertanya lalu meminta maaf dan berlalu pergi setelah memastikan sendiri dari Taehyung bahwa Yoongi adalah Papa-nya.
"Tapi anda tidak memiliki satupun foto bersama Taehyung,"Opsir Choi menatap curiga pria di hadapannya. Pria yang tidak bisa menunjukkan bukti foto bahwa ia adalah Papa-nya Taehyung.
"Oh, tidak semua orang suka mengambil foto kan. Aku hanya memakai handphoneku untuk menelpon dan mengirimi pesan. Dan bermain game ketika bosan."
Yoongi lalu melirik Taehyung di sudut lain yang sedang menggeleng-geleng atas jawabannya terhadap pertayaan-pertanyaan Opsir Lee, "lihat, sudah kubilang aku ini memang tidak memiliki pekerjaan tetap tapi percayalah, kumohon. Sebentar lagi sudah waktunya Taehyung tidur siang, Yoona akan mengulitiku jika anaknya tidak cukup istirahat,"ujar Yoongi menatap lekat kedua mata Opsir Choi.
Opsir Lee bersama ayah Jungkook serta Jungkook dan Taehyung lalu bergabung bersama mereka di mana Taehyung langsung bergerak duduk ke pangkuan Yoongi.
"Saya rasa ada kesalahpahaman di sini,"Opsir Lee semakin yakin dengan keputusannya setelah melihat Taehyung mulai bermain-main dengan jemari besar Yoongi.
"Aw!"dan menggigit jemari Yoongi.
"Yeah, benar-benar sebuah kesalahpahaman,"angguk Yoongi berusaha menenangkan Taehyung yang mulai menggeliat lincah karena bosan, "saya senang jika akhirnya kalian mengerti."
"Mohon maaf, Yoongisshi. Kau tahu, sekarang ini penculik semakin lihai. Dia bisa membujuk anak-anak untuk memanggil dan menganggap mereka sebagai keluarga bahkan orang tua mereka. Karena itulah. Tapi melihat juga mendengar Taehyung serta Jungkook kami percaya dengan penjelasan anda."
"Nah, apa kami sudah boleh pergi sekarang?"
"Oh, silahkan. Maaf telah menyita waktu anda, Yoongisshi,"Opsir Choi menggembalikan KTP Yoongi seraya ikut berdiri, "dan Jiminsshi, anda tidak perlu merasa tidak enak. Tapi tolong kedepannya lebih berhati-hati lagi dalam mengawasi anak anda."
Jimin membungkuk sopan dan tersenyum canggung, "ne, jeosonghamnida." Dan setelah keluar dari pos polisi kembali membungkuk sopan yang kali ini untuk Yoongi dan kata-katanya terdengar jauh lebih menyesal, "saya benar-benar minta maaf, Yoongisshi."
"Well, gwaenchana yo. Aku maklum kok."
"Sekali lagi saya benar-benar minta maaf."
"Gwaenchana-"
"Papa, aku lapal!" Seru Taehyung menghentak-hentak sepasang kakinya, "aku lapal! Aku lapal!"seraya menarik-narik sekuat tenaga jempol dan telunjuk Yoongi –sepuluh jari mungilnya hanya mampu menggenggam itu.
Jimin menurunkan Jungkook dan menjongkok di dekat Taehyung, "apa kau ingin makan siang bersama kami, Taetae?"
Taehyung langsung mengangguk-angguk antusias sedang Yoongi menolak dengan sopan, "oh, tidak perlu repot-repot, Jiminsshi."
"Gwaenchana yo. Rumah saya di sana kok,"Jimin menunjuk bangunan apartemen di seberang mereka, "anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya, Yoongisshi. Saya sangat senang jika anda menerimanya."
"Papa! Aku lapal! Aku lapal! Aku lapal! Ayo makan belsama Kookie!"
Taehyung yang melompat-lompat menatap Yoongi dengan pandangan menyilaukan, jadi meskipun Yoongi tidak suka merepotkan orang lain dan tidak pandai bergaul dengan orang baru maka ia hanya bisa membuang napas lalu tersenyum pasrah, "well, baiklah Jiminsshi."
#### ####
Siang ini Jimin lebih banyak menciumi pipi Jungkook. Lebih banyak menggelitikinya dan lebih banyak membuat bocah berumur tiga tahun itu tertawa keras agar pengalaman buruk yang mereka alami tadi terlupakan dengan cepat. Juga bentuk rasa bersalah Jimin karena sempat lalai memperhatikan Jungkook ketika berbelanja di supermarket di dekat apartemennya.
Jimin hanya sebentar saja kehilangan fokus karena deretan diskon besar-besaran itu, namun jeda tersebut sudah cukup membuatnya tidak menyadari genggaman mereka dilepas oleh Jungkook dan kehilangan sosok Jungkook detik berikutnya.
Pos polisi adalah tempat pertama yang Jimin datangi ketika pihak supermarket memperlihatkan rekaman CCTV mereka di mana Jungkook kecil ternyata keluar dari supermarket seorang diri. Jimin yang panik butuh bantuan untuk mencari anaknya setelah keberadaan Jungkook nihil di sekitar supermarket. Dan beberapa lama kemudian menemukan Jungkook tengah bersama seorang pria yang tampak mencurigakan di bangku taman dua blok dari rumahnya.
"Maaf hanya ini yang bisa saya hidangkan,"Jimin tersenyum gugup meletakkan wajan besar berisi rebusan kimchi di atas meja makan, menyusul dengan dua mangkuk berisi nasi putih satu piring acar lobak kuning dan satu set alat makan masing-masing ke hadapan dirinya dan ke hadapan Yoongi. Terakhir dua gelas dan seteko air putih.
Yoongi mengerjap pelan memperhatikan hidangan di depannya, "ini sudah lebih dari cukup, Jiminsshi,"ujarnya kagum mendapati isian rebusan kimchi yang terdiri dari ragam menu yang cukup banyak. Tidak hanya kimchi yang terlihat lezat [benar-benar terlihat lezat, sudah lama sekali Yoongi tidak makan hidangan rumahan seperti ini. Pria berkulit pucat itu biasanya hanya mengisi perut dengan makanan cepat saji dan bercup-cup americano dingin atau jika Taehyung sedang bersamanya maka dia hanya mengorder dari restoran china] tapi ada tahu, taoge, fishcake dan juga daging tambatan hati Yoongi yang meskipun sedikit tapi tampak mengkilap indah oleh kuah rebusan kimchi yang diracik oleh tangan ahli, "benar-benar lebih dari cukup, Jiminsshi,"tekan Yoongi bersungguh-sungguh. Air liurnya sudah menetes dan membayangkan pasti rasanya menyenangkan jika memilki pasangan hidup seperti Jimin.
Tidak hanya berwajah dan berpembawaan manis, pria yang Yoongi pikir lebih sesuai untuk menjadi kakaknya Jungkook itu juga pandai memasak dan dari pengamatan sekilas Yoongi rumahnya rapih dan begitu bersih.
Eh?
Apa yang barusan aku pikirkan! Yoongi menggeleng-geleng dalam batinnya lalu kembali fokus untuk makanan di depannya. Ia jadi rindu dimasakkan sesuatu oleh Seokjin. Sejak mereka tidak tinggal di kota yang sama, waktu pertemuannya dengan Seokjin hanya diisi oleh tangisan Taehyung ketika berpisah dari Seokjin dan pamitan singkat ketika Taehyung sudah diambil alih lagi oleh Seokjin. Atau makan malampun tapi bukan dengan hidangan rumahan, melainkan hidangan restoran bintang lima sebagai rasa terima kasih Seokjin kepada Yoongi setiap kali Taehyung dititipkan kepadanya.
"Syukurlah. Semoga sesuai dengan selera anda,"melihat reaksi pria di hadapannya Jimin tersenyum lega.
Dan dengan begitu makan siang mereka dimulai dengan sesekali lirikan pada dua bocah yang tengah bermain di ruang nonton. Taehyung dan Jungkook sudah lebih dulu menyantap jjajjangmyeon, makan siang mereka dan kini sibuk menciptakan pertempuran sengit antara Iron Man dan Alien bernama Tata.
"Sekali lagi mohon maaf karena telah salah paham."
"Well, sudah kubilang tidak apa-apa kan, aku sudah sering mengalaminya. Kau sendiri? Pasti juga sering membuat orang lain salah paham."
"Eh?"
"Em, maksudku. Wajah dan penampilanmu, kurasa kau lebih cocok sebagai kakak-nya Jungkook dibanding Appa-nya."
Pipi Jimin merona samar, semakin memerah ketika Yoongi kembali memujinya. Disangka lebih mudah dari umur kita yang sebenarnya termasuk sebuah pujian bukan.
"Kau benar-benar terlihat masih muda, Jiminsshi. Pasti banyak yang tidak percaya kau sudah memiliki anak, bahkan mereka mungkin tidak akan percaya jika kau sudah menikah."
"Saya memang belum menikah, Yoongisshi."
Yoongi terdiam mendengar ujaran sendu dari Jimin. Ketika itulah ia merasa canggung karena tidak sengaja telah mengarahkan pembicaraan ke hal-hal yang bersifat pribadi. Dan Yoongi juga merasa heran, sejak kapan ia ingin berbicara panjang lebar kepada orang yang baru dikenalnya satu jam lalu.
"Jeosonghamnida,"ucap Yoongi.
"Ani yo. Gwaenchana yo,"senyum Jimin, "oh, apa anda pecinta acar lobak, Yoongisshi."
Mata Yoongi langsung tertuju pada piring putih kosong yang kemudian diraih oleh Jimin, "sebentar, saya akan menyiapkannya lagi."
Ketika Jimin bersikeras agar dia saja yang mencuci piring dan Yoongi yang mengawasi para bocah bermain, handphone di saku hoodie Yoongi bergetar menandakan panggilan video masuk.
"Hei, Hyung,"jawab Yoongi duduk di atas karpet dan menyandar pada badan sofa agar Taehyung lebih mudah bergerak ke pangkuannya.
"Abeoji!"pekik Taehyung antusias bergoncang kuat dalam pangkuan Yoongi. Kedua matanya berbinar melihat seorang pria cantik di layar handphone, "Abeoji! Abeoji!"
"My Babyboooooy! I miss you, Sweetheart. Cup cup cup cup cup!"
Taehyung terkekeh-kekeh begitu Yoongi mewakili ciuman penelpon di seberang sana. Mengecup pipi Taehyung, pucuk kepala Taehyung, telinga Taehyung berulang kali. Lalu bocah itu menghilang saja dari layar handphone untuk lanjut bermain bersama Jungkook.
"Omo! Ke mana Taetae-ku, Yoongichi!"
Yoongi mendengus tersenyum simpul mengarahkan kamera depan handphone-nya pada para bocah, "Taehyung mendapat teman baru, Hyung,"katanya, "em, kami sedang berada di rumahnya."
"Wah, benarkah? Aku belum pernah melihatnya. Apa orang tuanya kenalanmu Yoongi?"
"Maksudku benar-benar 'teman baru' Taehyung. Nanti akan aku ceritakan."
"Aigo. Teman baru yang sudah bisa membuat Taetae-ku teralihkan dari ayahnya sendiri."
"Well, mereka baru bertemu hari ini tapi sepertinya sudah langsung klop. Namjoon mana, Hyung?"
"Namjoon sedang tidur. Kami benar-benar cukup kewalahan di sini."
"Kau juga sepertinya harus istirahat, Hyung. Wajahmu sudah seperti hantu."
"Aigoo ~ Yoongichi-ku yang perhatian."
"Seokjin-ku yang berlebihan."
Seokjin yang tertawa lepas menimbulkan sedikit senyuman dari Yoongi. Si pria cantik lalu memanggil Taehyung cukup keras sampai anak semata wayangnya itu menghadap lagi ke arah handphone Yoongi. Kali ini dengan tangan Jungkook yang ia pegangi.
"Abeoji! Abeoji! Aku dapat teman baru! Namanya Kookie!"
"Annyeong, Kookie."
"Annyeong..."Jungkook tersenyum malu-malu dan bersembunyi di balik bahu Taehyung.
"Abeoji, mana Daddy?"
"Daddy sedang tidur, Sayang. Dia berjanji akan menelponmu jika sudah bangun."
"Janji?"
"Un, janji.."
Taehyung memamerkan senyum kotaknya dan kembali bermain bersama Jungkook. Kali ini membangun Kota Superhero bernama Bangtan.
"Yoongi, apa aku bisa bicara dengan orang tua Kookie?"
"Oh, tunggu, Hyung."
Yoongi melirik ke arah dapur dan mendapati Jimin sudah selesai dengan cuciannya. Ia pun bergerak ke sana, "um, ayah Taehyung ingin bicara denganmu, Jiminsshi."
"Oh, okay,"angguk Jimin mengambil alih handphone Yoongi.
"Annyeong haseo, aku ayahnya Taehyung Kim Seokjin."
Jimin mengerjap pelan dan tampak agak bingung, setahunya dari pengakuan Yoongi di pos polisi tadi ayahnya Taehyung itu Yoongi dan ibunya bernama Yoona. Mereka telah bercerai dan oh, apa Yoona menikah lagi dengan pria ini. Tapi sepertinya tadi Jimin mendengar Taehyung memekik 'Abeoji' dan juga 'Daddy'. Dibalik pikirannya yang bertanya-tanya Jimin tersenyum ramah, "annyeong haseo, aku ayahnya Jungkook Park Jimin."
"Maaf, jika Yoongi dan Taehyung merepotkan anda."
"Ani yo. Gwaenchana yo. Aku senang mereka mau makan siang bersama kami."
Tampak Seokjin berpikir sebentar dan mengamati wajah Jimin lebih teliti lalu memekik menyadari sesuatu, "omo! Apa kau Park Jimin! Park Jimin dari Busan?"
"Ou, ne. Aku memang dari Busan. Tapi sejak tiga tahun lalu sudah pindah ke sini."
"Aigoo! Ini aku Kim Seokjin! Kim Seokjin yang waktu itu! Apa anda tidak ingat? Rumah Sakit Hanryuu, salah satu yang mengalamati kasus langka sepertimu. Malepregnant. Ini aku Kim Seokjin, Jiminsshi." Jelas Seokjin penuh semangat. Senang sekali bisa terhubung lagi oleh seseorang yang ingin ia jadikan sahabat ketika Taehyung baru bisa berjalan namun menghilang begitu saja setelah pertemuan pertama mereka tersebut.
Jimin terkejut membungkam mulutnya. Kemudian mengangguk-angguk antusias sebagai respon bahwa ia juga mengingat siapa Kim Seokjin, seorang pria yang pernah ia temui di ruang tunggu dr. Kang, salah satu dokter spesialis kandungan Rumah Sakit Hanryuu.
Yoongi yang penasaran tidak bisa mendengar pembicaraan mereka selanjutnya karena Taehyung dan Jungkook mulai berisik memperebutkan salah satu lego. Ia bergegas menenangkan dua bocah itu sebelum terjadi pertengkaran kemudian menerima pengembalian handphone dari Jimin setelah Taehyung akhirnya mau mengalah.
"Em, maaf jika saya lancang,"begitu kata Jimin ketika ia sudah bergabung duduk di atas karpet, "mengenai pengakuan anda di pos polisi tadi..."ujarnya berhati-hati kepada Yoongi.
Yoongi membersihkan kerongkongannya dan mengusap-usap tengkuk pertanda merasa tak enak, "well, aku memang berbohong,"akunya karena sepertinya Jimin mulai menyadari bagaimana hubungannya yang sebenarnya dengan Taehyung.
"Kau tahu,"lanjut Yoongi, "contohnya saja tadi, sebagai 'Papa' saja sudah menimbulkan salah paham apalagi hanya berstatus sebagai 'teman yang dititipi anak'. Maka polisi akan menghubungi Seokjin untuk memastikan dan bla bla bla sebagainya yang aku tak ingin karena bisa menganggu dan membuat Seokjin khawatir."
"Jadi, Yoona?"
"Yoona itu kakakku. Dia bersedia berpura-pura sebagai ibunya Taehyung jika keadaan sudah benar-benar memaksa."
"Jadi Taehyung sudah dilatih untuk keadaan seperti ini?"
"Yup. Tidak sulit untuk menekankan bahwa selama ia bersamaku, ayahnya Min Yoongi dan ibunya Kim Yoona, ayah dan ibunya tidak lagi tinggal di rumah yang sama dan setiap weekend ibunya membiarkan Taehyung bermain bersama ayahnya."
"Wah..."
"Well, bukan ide yang buruk kan,"Yoongi lalu tergelak pelan, "kekasih saja belum punya, tapi sudah mengaku-ngaku sebagai ayah seseorang. Hidupku yang tidak berwarna jadi lebih menarik karenanya."
Jimin lalu tersenyum lembut, "anda bersedia dianggap sebagai seorang 'Papa' demi tidak merepotkan Seokjinsshi."
"Nah, Seokjin dan Namjoon sudah terlalu banyak membantuku. Ketika mereka menitipkan Taehyung maka ketika itulah aku tidak boleh menganggu waktu mereka apalagi oleh masalah seperti ini."
Jimin mengangguk-angguk mengerti.
"Jadi, anda juga sama seperti Seokjin-hyung?"kali in Yoongi yang bertanya hati-hati. Dan sebelum Jimin menjawab Yoongi menyadari bahwa pandangan Taehyung sudah mulai sayu. Begitupun Jimin terhadap Jungkook.
Jadi Jimin berkata seraya bergerak mengambil selimut dari kamarnya, "hari ini anda memang tidak akan ke mana-mana selain mengurus Taehyung kan. Jika anda tidak keberatan kita bisa mengobrol sambil minum teh sampai mereka terbangun."
"Ou, ne."
#### ####
"Yang saya lihat anda dan Seokjinsshi merupakan sahabat dekat."
"Yeah, kami sudah berteman sejak SMA."
"Apa berarti anda sudah pernah mendengar tentang saya?"
"Ne. Seokjin pernah menceritakan tentang anda."
Yoongi langsung teringat dengan sosok yang pernah disinggung oleh Seokjin dalam pembicaraan mereka pada malam terakhir Yoongi berada di Busan. Pembahasan mengenai kota besar yang akan menjadi tempat Yoongi untuk mengadu nasip, Seoul, membuat Seokjin mengisahkan seorang pemuda yang juga merantau ke kota yang sama. Yaitu Park Jimin, seorang pemuda manis bernasip sama dengan Kim Seokjin. Sama-sama seorang malepregnant.
Malepregnant. Pria yang bisa mengandung. Pria yang bisa melahirkan. Kasus ganjil yang benar-benar sangat langka. Sepanjang sejarah yang dapat terekam hanya hitungan jari terjadi di Korea bahkan di dunia. Dan selama zaman modern ini hanya terjadi pada Jimin dan Seokjin seorang.
Tentu Seokjin bukan main merasa senang ketika mengetahui ada yang memiliki keajaiban –Seokjin menyebutnya begitu karena dirinya sudah memiliki naluri keibuan sejak menjalin hubungan dengan Namjoon, juniornya di universitas, sebagai pihak yang didominasi. Orang-orang disekitar Seokjinpun menerima kasus tersebut dengan lapang dada dan reaksi yang hangat- seperti dirinya.
Ketika itu Taehyung baru bisa berjalan dan Seokjin tengah mengunjungi dr. Kang untuk setelah sekian lama tidak berjumpa. Di sisi lain Jimin baru memasuki tiga bulan pertama, baru mengetahui bahwa dia juga seorang malepregnant.
Seokjin tak sempat berkenalan dengan Jimin, karena Jimin hanya melakukan sekali chek up dan baru mendatangi rumah sakit ketika melahirkan. Seokjin hanya mendengar kisah Jimin dari dr. Kang. Kisah memilukan yang berbanding terbalik dengan kisah mengharukan miliknya.
Keluarga Jimin tidak sehangat keluarga Seokjin begitu mendengar anak lelaki mereka bisa mengandung melahirkan bayi. Orang-orang disekitar Jimin bahkan tak mampu ia beritahu layaknya teman-teman Seokjin yang menerima kabar dengan reaksi yang begitu baik. Dan yang paling membuat Seokjin bersedih adalah fakta di mana kekasih laki-laki Jimin tak ingin membantu apalagi ikut bertanggung jawab bersama Jimin, malah ia putus dari Jimin dan menghilang dari hadapan Jimin.
Jimin diusir dari rumahnya tapi menolak kebaikan dr. Kang dan memilih hidup sendiri dengan bekerja paruh waktu diberbagai tempat sambil kesusahan menyembunyikan perut buncitnya. Pemuda tersebut bukanlah pribadi yang sangat tertutup, namun berubah drastis karena begitu terpukul akan sikap orang-orang yang disayanginya. Ia bahkan begitu takut ke rumah sakit untuk memeriksa perkembangan janinnya. Berinteraksi dengan orang lain menjadi hal yang sangat sulit bagi Jimin semasa kanduangannya.
Dan dr. Kang sangat menyayangkan keputusan Jimin tanpa sempat melakukan apa yang disarankannya terlebih dahulu setelah melahirkan Jungkook yaitu berteman dengan Seokjin. Tepat tiga setelah Jungkook hadir di dunia, Jimin menelpon dr. Kang bahwa dia akan ke Seoul untuk memulai hidup baru. Kemudian Park Jimin benar-benar menghilang tak ada kabar.
Melihat sosok itu sekarang, tepat di hadapannya, dengan senyuman manis yang sepertinya akan mulai ia suka, Yoongi merasa salut dan sangat takjub betapa Jimin ternyata berhasil menghadapi masa-masa beratnya. Jungkook tumbuh sehat seperti Taehyung, ceria dan menggemaskan. Jiminpun layaknya merupakan figur yang dengan baik berperan sebagai ayah sekaligus ibu disaat bersamaan.
"Kau benar-benar menakjubkan, Jiminsshi."
Jimin memandang anaknya yang tertidur pulas di ruang tengah, lalu tersenyum dan kembali melihat ke arah Yoongi, "terkadang saya juga berbohong, Yoongisshi,"ungkapnya agak bernada sendu tapi terpancar kehangatan dari wajah manisnya –manis yang bagi Yoongi juga cantik disaat bersamaan.
"Setelah melahirkan Jungkook saya merantau ke Seoul untuk memulai hidup baru. Bukan hal yang mudah, well lebih tepatnya bukan hal yang wajar jika saya mengaku sebagai mpreg kepada orang lain. Saya berusaha untuk tidak pernah melewati batas 'kenalan biasa' terhadap siapapun, karena dengan begitu saya merasa tidak perlu memberitahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan saya. Tapi Jungkook selalu tumbuh dan berkembang, dia juga butuh teman dan mengenal kehidupan sosial. Kami yang semula hanya mengenal satu sama lain mulai membuka diri dan memiliki beberapa kenalan."
"Ketika itulah saya terpaksa berbohong bahwa ibu Jungkook sudah meninggal. Beruntung zaman sekarang sudah banyak pasangan muda yang sudah menikah, sejauh ini belum ada yang memandang aneh terhadap kami berdua. Well, tidak semua kebohongan membuahkan dampak yang buruk bukan."
Yoongi mengamati deretan bingkai foto yang tersusun rapi di rak TV serta yang terpajang di dinding dapur. Hanya ada potret Jungkook dan Jimin di dalamnya. Tapi meskipun begitu wajah ayah muda dan anaknya yang menggemaskan itu tampak begitu bahagia mewakili bagaimana mereka menikmati kehidupan mereka selama ini. Yoongi perhatikan satu persatu seluruh foto tersebut, benar-benar tidak ada sosok lain selain Jimin dan juga Jungkook. Apa berarti belum ada seseorang yang istimewa bagi keduanya? Yeah, dari cerita Jimin barusan dia memang belum memiliki satupun kenalan yang cukup dekat kan.
Hari sudah mulai memasuki sore. Dua sosok mungil yang tertidur pulas di ruang nonton mulai menggeliat keluar dari mimpi mereka. Jimin telah bercerita cukup banyak dan Yoongi tidak hanya menanggapi tapi juga sesekali menyinggung kehidupannya sendiri.
"Gamsahamnida telah mendengarkan saya dengan baik, Yoongisshi,"Jimin tersenyum tulus pada pria di hadapannya yang menyimak dengan raut wajah layaknya seorang teman dekat. Dan Jimin bersyukur sudah dipertemukan dengan seorang seperti Yoongi, yang memilki sahabat seorang malepregnant juga. Ia jadi leluasa menceritakan apapun dan itu tentunya membuatnya benar-benar lega. Baru kali ini ia merasa nyaman berbincang dengan seseorang setelah sekian lama.
Apa Jimin berhak merasa pertemuannya dengan Yoongi termasuk ke dalam rangkaian 'takdir'
"Aku juga sangat berterima kasih karena kau mau berbagi denganku,"Yoongi meneguk habis sisa tehnya, "well, dan akan lebih menyenangkan jika ke depannya kita bisa tetap saling berbagi. Aku harap kita bisa menjadi lebih dekat."
Kalimat terakhir terlontar begitu saja dari mulut Yoongi. Menciptakan keheningan sesaat di antara keduanya serta semburat merah muda di kedua pipi Jimin. Dan juga menimbulkan senyuman manis yang sejak beberapa saat lalu mulai digemari oleh Yoongi, "un, saya harap juga begitu, Yoongisshi."
#### ####
Baru kali ini Yoongi tidak merindukan apartemennya. Ini pertamanya kalinya ia enggan untuk pulang dari suatu tempat. Bahkan tempat tidurnya tak lagi menggiurkan dan tidak semenarik sofa di apartemen sederhana milik keluarga kecil di hadapannya.
Jimin dan Jungkook berdiri manis di ambang pintu –Yoongi menolak Jimin untuk diantarkan sampai keluar gedung apartemen- menunggu dua sosok lainnya mengucapkan kata-kata pamit. Tapi para tamu kelihatan jelas tak mau berpisah.
Para bocah memang bermain cukup seru dan langsung kompak, tapi para pria dewasa hanya sebatas mengobrol saja. Yoongi jadi merasa canggung karena tak bisa menyembunyikan kengganannya untuk pulang, memangnya mereka sudah sedekat itu sampai-sampai gelagat Yoongi seperti bocah yang tak mau beranjak dari wahana permainan favorit mereka.
"Papa! Kapan aku bisa belmain lagi dengan Jungkook?"celetuk Taehyung memecah keheningan.
GOOD JOB, KIDDOOOOOO!
Yoongi bersorak girang di dalam hati.
Seketika semua kerepotan yang pernah Taehyung lakukan bahkan yang menyiram laptop Yoongipun langsung sirna dalam ingatan Yoongi, tergantikan oleh rasa terima kash karena telah membuka jalan untuk mendekati Jimin. Rasanya Yoongi ingin membelikan semua mainan yang Taehyung inginkan. Apapun itu.
Oh, Yoongi bukannya berlebihan karena selama ini namja yang belum pernah 'berpacaran' itu memang mengalami kesulitan setiap memulai 'pendekatan' dengan orang yang ia suka. Jadi baginya peran Taehyung musti dihargai dengan selayak-layaknya. Dengan tumpukan mainan contohnya.
Tidak hanya menemukan 'teman baru' yang memiliki ayah seorang seperti Park Jimin dan mencairkan suasana canggung 'acara pamitan' ini, tapi juga memberi jalan untuk Yoongi agar tetap terhubung dengan pria manis tersebut maka Yoongi akan memberikan penghargaan Bocah Terbaik untuk Kim Taehyung.
"Aku juga mau!"pekik Jungkook antusias. Pucuk kepalanya lalu diusap-usap oleh Jimin.
"Oh. Tentu saja,"senyum Jimin untuk mereka semua, "Jungkook tidak pernah bisa langsung dekat dengan orang lain, kurasa hal yang baik jika mereka bisa bermain bersama lagi, Yoongisshi."
Para bocah saling melempar senyuman lebar masing-masing, senyum kotak dan senyuman gigi kelinci. Sedang Yoongi cepat-cepat mengeluarkan handphonennya dan menyodorkan itu ke arah Jimin, "em, kalau begitu boleh aku minta nomormu. Jadi kita bisa, maksudku Taehyung dan Jungkook."
"Oh, ne. Tentu saja,"angguk Jimin menyambut sodoran Yoongi, "jangan sungkan untuk menghubungi saya, Yoongisshi."
"Hyung,"kata Yoongi menerima kembali handphonennya, "kau bisa memanggilku 'Hyung' mulai sekarang. Dan jangan lagi berbicara terlalu formal, Jimin. Ou, itu. Karena kurasa kita –kita sudah 'berteman' kan."
Mata Jimin sempat membola lalu mengangguk dengan pipi merona samar, "ne, Yoongi-hyung."
"Nah, begitu lebih baik,"balas Yoongi puas, "okay bigboy waktunya kita pulang."
Taehyung mengecup pipi Jungkook sebelum tangannya menggenggam erat jemari besar Yoongi, "Bye bye, Kookie!"
Jungkook melambai-lambai tersenyum manis, "Bye bye, Tata!"
"Kami pamit, Jimin."
"Ne. Hati-hati di jalan, Taetae. Hati-hati di jalan, em, Yoongi-hyung."
Yoongi bersumpah bahwa setelah ini ia akan menelpon pasangan Kim agar mereka membiarkan Yoongi untuk menjaga Taehyung lebih sering dan lebih lama lagi. Oh, dan Yoongi jadi tiba-tiba semakin berambisi agar musiknya benar-benar diterima oleh agensi manapun, ia ingin cepat-cepat menjadi sosok yang pantas untuk membahagiakan Park Jimin dan bocah gigi kelincinya.
"The best Sunday ever."
"Ne, Papa?"
"Ani. Haha. Apa kau mau es krim, Bigboy?"
"Es klim! Es klim! Es klim! Lasa tobeli!"
"Roger, Kapten. Es krim strawberry siap untuk dipesan."
-END-
Gamsahamnidaaaaa
Well, begitulah. Adem ayem aja kan ya. Awalnya mau dibikin ABO, di mana mate-nya Jimin udah meninggal pas Kookie masih dikandungan jadi tanda bond di diri Jimin udah ga da lagi dan itu bikin Yoongi salah paham kalo Kookie bukan anaknya Jimin dan bla bla bla bla. Tapi ntah napa pas diketik malah gini jadinya, well hope u still enjoyed it.
Sekali lagi, thanks bgt kadonya My Love
Dan untuk semuanya, thanks untuk nyempetin waktu untuk mampir.
Once again, gamshamnida.
See u next YoonMin time
.
.
.
.
Ganto, 11 Desember 2017
