.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : T Rate/AU/Typo(s)/OOC (maybe)/Hinata-centric/Multi hint

Main Pair : SasukexHinata

Genres : Romance/Mystery/Horror/Friendship/Hurt-comfort/Angst

.

Alert SaiXHina hints in this chapter

.

Only Doll Still Doll

Chapter 13

.

Di depan kelas 2-A

Sasori merasuki tubuh Hinata dan melakukan perlawanan terhadap Ino yang tubuhnya juga dirasuki oleh roh perempuan. Hinata mencengkram pergelangan tangan Ino dan perlahan menariknya jauh dari lehernya. Lee sampai terbengong melihat betapa kuatnya Hinata, padahal ia sedari tadi mencoba membebaskan diri dari cengkraman Ino namun belum berhasil dilakukannya.

Neji, Sai, Naruto dan pastinya Sasuke yang baru saja selesai dari kantin dan sedang menuju ke kelas melihat kejadian tersebut. Sontak keempatnya segera menghampiri Ino, Hinata dan Lee.

"Grrr... Kurang ajar! Cepat pergi dari gadis itu, kita sudah sepakat!" Ino menggeram keras seperti hewan buas yang kelaparan dan tatapan matanya memandang sengit ke arah Hinata yang sedang memegang pergelangan tangannya kuat-kuat.

"Kau yang seharusnya pergi dari tubuh gadis itu!" Hinata menatap Ino tak kalah tajamnya. "Cepat keluar!" teriaknya yang mampu membuat sentakan atmosfer di sekitar tempat tersebut.

Keempat pemuda itu berusaha melerai Ino dan Hinata serta berusaha membebaskan Lee yang masih berada dalam cengkraman tangan Ino.

'Sial..., apa yang sebenarnya terjadi di sini?' Sasuke tentu saja dapat melihat kedua sosok yang masing-masing merasuki tubuh Ino dan Hinata. Hanya saja dia tidak dapat bertindak di depan teman-temannya.

"Ino, cepat lepaskan Lee!" Naruto bersama dengan Neji dan juga Sai sama-sama berusaha melepaskan Lee.

Setelah beberapa saat akhirnya Lee dapat terbebas dari Ino, itu pun berkat bantuan dari tiga orang sekaligus. Sekarang giliran Hinata yang masih bersitegang dengan Ino. Tangan gadis itu masih menahan tangan Ino yang ingin mencekik lehernya.

"Kalian jangan diam saja. Bantu aku memisahkan mereka!" Lee berteriak sambil berusaha memisahkan Ino dari Hinata. Jujur saja, tenaganya tidak kuat untuk menahan Ino dan Hinata sekaligus sendirian, dan dia heran bagaimana kedua gadis itu bisa begitu kuat.

Naruto dan Sai bergegas membantu Lee dengan memegangi Ino, sementara Neji dan Sasuke memegangi Hinata. Mereka semua berusaha untuk memisahkan kedua gadis itu sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan, namun kedua gadis itu begitu kuat, bahkan mereka yang laki-laki saja sampai kelelahan dibuatnya.

"Kalian jangan ikut campur! Pergi kalian!" Ino melirik ke arah ketiga pemuda yang sedang memeganginya dan langsung menghempaskan ketiganya hanya dalam sekali hentakan dari suaranya saja. Anak-anak perempuan langsung menjerit ketakutan.

"Shi-Shion, kita harus melaporkan ini pada guru!" seru seorang gadis berambut coklat panjang sambil menarik lengan Shion.

"Kau benar. Ayo kita pergi." Shion mengangguk setuju. Kedua gadis itu secara diam-diam pergi meninggalkan kelas untuk mencari bantuan dari para guru.

"Kalian menyingkirlah. Biar aku yang menghadapinya," ucap Hinata begitu tenang namun tegas kepada kelima pemuda itu.

Hanya dalam sekali lihat Sasuke sudah tahu kalau yang bicara itu bukanlah Hinata, melainkan sosok pemuda berambut merah yang tempo hari dilihatnya dan sampai sekarang masih mengikuti Hinata.

Sasuke adalah orang pertama yang melepaskan tangannya dari Hinata yang kemudian diikuti oleh Neji. Kedua pemuda itu melakukan apa yang dikatakan oleh Hinata dan segera menjaga jarak yang cukup. Hinata mengulurkan tangan kanannya ke depan dan membuka telapak tangannya yang dihadapkan ke arah tubuh Ino di depannya.

"Kukatakan sekali lagi padamu, keluar dari tubuh gadis itu atau kau ingin aku memaksamu dengan kekerasan!" tatapan Hinata begitu mengancam dan kelihatannya dia sangat serius.

"Hi-Hinata hebat..." Lee berdecak kagum dan tanpa sungkan memuji Hinata yang selama ini selalu pendiam dan malu-malu. Ini pertama kalinya dia melihat Hinata bisa setegas dan sekuat ini.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Sai, Naruto, juga Neji, meskipun ketiganya tidak mau mengakui hal tersebut, tapi jelas terlihat kalau mata mereka menyiratkan kekaguman terhadap sosok Hinata yang saat ini sedang berdiri di hadapan mereka.

"Gadis itu akan menjadi korban selanjutnya!" Ino tampaknya tidak takut dengan ancaman yang dilontarkan dari bibir Hinata.

"Sepertinya aku tak punya pilihan lain selain memaksamu dengan kekerasan."

DUGH!

Tiba-tiba saja terdengar suatu suara, seperti sebuah bunyi sesuatu yang sedang dihantam keras. Bukan hanya itu saja. Seiringan dengan suara keras tersebut, tubuh Ino ikut serta terhentak, terdorong ke belakang meskipun saat itu tak ada satu orang pun yang menyentuhnya. Tak berapa lama setelah kejadian itu, Ino akhirnya jatuh pingsan. Tepat ketika Ino pingsan Sasori, keluar dari tubuh Hinata membuat gadis itu ikutan pingsan.

"Hinata!" secara bersamaan Lee, Neji, Sasuke dan Naruto menangkap tubuh lunglai gadis indigo itu.

"Kyaaaa! Inoooo!" suara jeritan dari seorang gadis yang tak lain adalah Shion membuat Neji, Sasuke dan Naruto tersadar dengan apa yang sedang mereka lakukan saat ini. buru-buru ketiganya melepaskan tangan mereka dari Hinata.

"Astaga, apa yang terjadi?!" Kurenai memekik saat melihat dua murid kelasnya pingsan. Dengan langkah tergesa wanita itu berlari menghampiri Ino dan Hinata yang tergeletak di depan kelas.

"Cepat bantu saya membawa mereka ke ruang kesehatan!" Kurenai meminta anak-anak yang ada di tempat kejadian untuk membantunya.

Shion, Sari serta Ami dengan dibantu oleh Naruto dan Sai menggotong tubuh Ino. Sementara Kurenai, Lee, Neji dan Sasuke membawa Hinata menyusul tepat di belakang Ino. Kejadian tersebut menarik semua perhatian murid-murid lain yang kebetulan melihat kedua gadis itu dibawa ke ruangan kesehatan. Gosip pun dengan cepat beredar, dan cerita-cerita menyeramkan mengenai sekolah mereka mulai tersebar.


Ruang kesehatan

Mereka semua menunggu keadaan Hinata serta Ino di luar ruangan kesehatan dengan perasaan cemas, sementara kedua gadis itu kondisinya sedang diperiksa oleh Yakushi Kabuto, kakak kelas mereka yang juga merangkap sebagai dokter jaga di ruang kesehatan pada jam istirahat.

"Aku mau ke kamar mandi sebentar," ucap Sasuke yang kemudian segera meninggalkan tempat tersebut.

Pemuda itu berjalan di sepanjang lorong menuju kamar mandi tidak sendirian karena, sosok Sasori mengikutinya, tepat berjalan di sebelahnya. Sasuke, tentu saja mengetahui kalau dia sedang diikuti. Sesampainya di dalam kamar mandi, pemuda raven itu berbalik menghadap ke arah sang roh.

"Kenapa kau mengikutiku?" tanyanya dengan gusar karena merasa tak nyaman dengan kehadiran mahkluk lain di dekatnya.

"Kejadian tadi pagi, apa kau mengetahuinya? Laki-laki itu, Orochimaru...?" tanya sosok itu mengenai Orochimaru.

"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, jawab dulu pertanyaanku. Siapa roh wanita yang masuk ke tubuh Ino? Kenapa dia mengincar Hinata?" Sasuke merasa tidak tenang dengan kehadiran roh wanita yang menguarkan aura kemarahan serta kebencian. Wanita itu sepertinya mati dalam keadaan penuh dendam.

"Dia adalah roh kutukan...," jawab Sasori mengugkapkan jati diri roh wanita itu sebagai perwujudan dari kutukan. "Hinata membuat perjanjian dengannya secara tidak sadar dan aku tidak bisa mencegah hal itu..." Sasori terlihat menyesal atas kejadian ini.

"Perjanjian? Perjanjian apa? Dan Kenapa harus Hinata?" Sasuke tampaknya tidak terima kalau mahkluk itu sampai mengganggu Hinata apalagi sampai membahayakan nyawa gadis itu.

"Semua ini karena Hinata memiliki boneka itu...," ucapnya yang sebenarnya merasakan sedikit sesal kenapa harus Hinata yang memiliki boneka duplikat dirinya itu.

"Sudah kuduga, tak ada satu pun dari kalian yang bisa dipercaya! Kau pasti memiliki tujuan yang tidak baik pada Hinata bersama dengan roh wanita itu 'kan!" teriak Sasuke secara retoris. Tampaknya dia lupa kalau yang bisa melihat mahkluk tak kasat mata itu hanya dia seorang.

"Semua ini tidak seperti yang kau katakan. Aku tidak bermaksud jahat sama sekali, makanya aku berada di sisi Hinata untuk melindunginya dari roh wanita itu!" tak terima dengan tuduhan Sasuke, Sasori berusaha membela diri.

"Lalu apa? Kau pikir aku akan percaya pada kata-kata mahkluk sepertimu? Kalian penuh tipu daya dan muslihat!" Sasuke sudah terlanjur tidak percaya dan akan sulit baginya menerima penjelasan dari roh itu.

"Aku tidak bisa memberikan rincian ceritanya padamu sekarang karena Hinata sudah sadar dan aku harus segera kembali ke sisinya." Sasori menghilang begitu saja dari hadapan Sasuke setelah memberikan segudang tanda-tanya pada batin pemuda itu.

"Sial...!" Sasuke mengumpat kesal. Tapi tak lama dia keluar dari kamar mandi dan bergegas kembali ke ruangan kesehatan untuk melihat Hinata.

Tanpa disadarinya Orochimaru ternyata mendengarkan percakapannya dengan roh tadi secara tak sengaja. Laki-laki itu menyeringai licik dan membuat berbagai macam rencana di dalam otaknya.

"Menarik sekali, membuatku jadi penasaran," ucapnya yang jadi tertarik dengan apa yang diceritakan Sasori tadi pada Sasuke.


Di depan ruangan kesehatan

Sekembalinya di sana, Sasuke melihat Hinata sudah keluar ruangan dengan wajah pucat serta diiringi oleh tatapan cemas dari Naruto dan juga Neji. Sasuke merutuki kedua pemuda itu. Jelas sekali mereka khawatir tapi tidak mau berterus-terang. Sementara Lee sudah sejak tadi berdiri di samping Hinata, termasuk mahkluk tak kasat mata itu yang juga berdiri di belakang Hinata.

"Hinata, ada baiknya kau pulang saja dan tidak usah mengikuti pelajaran hari ini," kata Kurenai yang terlihat jelas sangat mengkhawatirkan keadaan Hinata.

"Ta-tapi, Kurenai-sensei, a-aku sudah tidak a-apa-apa, kok," balas Hinata yang lebih mengkhawatirkan absensinya di sekolah daripada kondisi kesehatannya.

"Hinata jangan memaksakan diri. Meskipun kau sudah sadar, tapi kau sangat pucat. Saya takut nanti terjadi apa-apa padamu." Kurenai menghela napas sambil berusaha menasehati murid kesayangannya yang begitu keras kepala kalau sudah menyangkut pelajaran.

"Yang dibilang Kurenai-sensei memang benar, Hinata. Wajahmu sangat pucat sekali." Lee ikut menimpali, membujuk Hinata agar mau mendengarkan Kurenai.

"Ba-baiklah, a-aku mengerti..." Pada akhirnya Hinata menuruti kata-kata kedua orang itu untuk pulang.

"Aku akan mengantarmu sampai ke pintu gerbang," ujar Lee yang dengan hati-hati segera menuntun gadis itu pelan menuju ke arah gerbang sekolah. Sementara Neji, Naruto, Sai, serta Sasuke hanya mengamati Hinata yang bergerak perlahan menjauhi mereka dalam diam.

.

.

Keadaan menjadi hening saat gadis itu dan Lee sudah tak terlihat lagi. Masing-masing dari mereka masih bertahan dalam diam dengan tatapan yang saling mengawasi satu sama lain, seolah ingin melakukan sesuatu hal yang tak ingin diketahui oleh yang lainnya. Namun, Sai sepertinya menyadari apa yang ada di dalam pikiran ketiga temannya saat ini.

"Aku tahu kalian mencemaskan Hinata," ucap Sai tiba-tiba memecahkan keheningan, "sampai kapan kalian mau bersikap pura-pura tidak peduli begitu?" tanyanya pada tiga pemuda yang masih diam di tempatnya masing-masing. Sai memang sudah mengetahui bagaimana perasaan sebenarnya yang dirasakan oleh ketiga temannya itu.

"Jangan bersikap sok tahu seperti itu, Sai," balas Neji, orang yang pertama menampik ucapan Sai barusan.

"Itu benar! Tahu apa kau memangnya tentang perasaan kami?" Naruto ikut menimpali Neji.

"Ya, sudah. Kalau kalian tidak mau berterus-terang tidak apa-apa." Sai hanya bisa menghela napas melihat sikap egois ketiga temannya yang masih betah bersandiwara, tapi dia punya cara untuk membuat ketiga temannya mengakui keberadaan Hinata di dalam pikiran mereka masing-masing.

"Kalau begitu, ijinkan aku yang memulai duluan untuk menghentikan kepura-puraan ini," kata Sai yang terlihat begitu serius. Ini pertama kalinya mereka semua melihat Sai yang selalu tersenyum, selalu bersikap santai dan tak pernah menanggapi semuanya dengan serius bersikap seperti ini.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sasuke akhirnya buka suara juga setelah sekian lama terdiam mencerna kata-kata sepupunya itu.

"Lihat saja," balas pemuda pucat itu sambil menyeringai.

Setelah mengatakan itu, Sai bergegas pergi meninggalkan ruangan kesehatan, berjalan untuk menyusul Hinata, Lee dan Kurenai. Sasuke, Naruto dan Neji yang menyadari niat Sai tersebut langsung ikut menyusul Sai, untuk mengetahui serta mengawasi kira-kira apa yang mau dilakukan Sai kepada Hinata.

.

.

Tak lama setelah mereka semua pergi, Ino yang pingsan akhirnya siuman. Shion, Ami dan Sari langsung memasang wajah secerah mungkin ketika gadis itu tersadar.

"Aku di mana...?" tanya Ino dengan suara lemah sambil melihat ke sekelilingnya. "Sari...? Ami...? Shion...? Kenapa kalian semua berkumpul di sini?" tanyanya lagi terheran-heran saat ketiga teman baiknya mengerubungi dirinya.

"Ino, tadi itu kau tak sadarkan diri dan pingsan. Makanya kami semua membawamu ke sini," jawab Shion menjelaskan kronologis ceritanya, bagaimana Ino bisa sampai berada di ruangan kesehatan.

"Aku pingsan? Memangnya apa yang terjadi?" Ino tampaknya kaget mengetahui dirinya pingsan.

"Ino, memangnya kau tidak sadar, ya? Kau hampir saja membunuh Hinata dan Lee di depan kelas tadi!" kali ini giliran teman-temannya yang kaget tak percaya. Bagaimana mungkin Ino bisa melupakan kejadian tadi?

"Apa? Benarkah? Aku, hampir membunuh Lee dan Hinata?" manik aquamarine Ino menatap ketiga temannya dengan rasa ingin tahu yang besar dan langsung dibalas dengan sebuah anggukan dari ketiganya secara bersamaan.

"Lalu bagaimana mereka berdua? Lee dan Hinata?" Shion mengernyit sesaat setelah mendengar Ino menanyakan keadaan Lee dan Hinata. Sejak kapan ia peduli dengan kedua anak itu?

"Hinata sempat pingsan juga dan di bawa kemari. Tapi dia sudah sadar dan langsung pulang, sementara Lee, sepertinya dia tidak apa-apa," jawab Ami.

"Oh, begitu..." Tiba-tiba saja Ino terdiam. Dari nada suaranya, seperti ada segurat sesal. Apa mungkin dia menyesal karena telah mencelakai Hinata dan Lee?

"Hah, sayang sekali, ya. Padahal aku benar-benar berharap bisa melenyapkan Hinata," ucap gadis itu yang ternyata memang menginginkan Hinata celaka.

Tanpa diketahui oleh keempat gadis itu. Tepat pada bagian sudut ruangan di dalam ruangan tersebut, ada sosok seorang gadis berambut merah keemasan dengan tekstur rambut yang bergelombang dan acak-acakan memakai gaun pengantin warna putih dengan noda darah pada hampir sebagian bajunya sambil memegang karangan bunga mawar berwarna hitam tengah tersenyum lebar, memamerkan sederet gigi-gigi taringnya yang menyeramkan.

"Aku bisa memanfaatkan anak ini...," ucapnya sambil memandang tajam ke arah Ino.


Di depan gerbang sekolah

Sai berjalan menuju ke arah Lee dan Hinata yang sedang berdiri di pintu gerbang sekolah, dan kelihatannya kedua remaja itu sedang membicarakan sesuatu.

"Tidak apa-apa, Lee. Aku bisa mengambil tasku sendiri." Seperti biasa, Hinata sedang mendebatkan suatu hal yang ingin dilakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain.

"Bisa tidak, sekali saja kau tidak menolak bantuan dariku." Lee menghela napas pasrah melihat sikap Hinata yang tidak berubah. Gadis itu selalu ingin berjuang sendirian dan melupakan kehadiran orang-orang yang ingin membantunya.

"A-aku mengerti, ta-tapi aku sudah banyak merepotkanmu, Lee, ja-jadi aku ingin melakukannya sendiri," balas Hinata sambil setengah tertunduk. Sungguh ia tak ingin melihat raut kekecewaan yang tergambar pada wajah sang teman seperjuangan.

"Kalau Hinata menolakmu, biar aku saja yang melakukannya," sela Sai di tengah-tengah perdebatan keduanya.

Kehadiran Sai membuat perhatian Lee dan Hinata otomatis langsung terarah padanya. Gadis bersurai panjang itu kembali mendongakkan wajahnya dan menoleh ke arah Sai yang berdiri tak jauh darinya dan Lee, menatapnya dengan heran, pun Lee, yang merasa tak biasa-biasanya Sai mau berbuat baik pada Hinata. Apa jangan-jangan ada udang dibalik batu yang sedang dipikirkan oleh Sai? Lee mengamatinya dengan intens.

"Ti-tidak usah Sa-Sai." Hinata dengan cepat menolaknya. Tentu saja dia masih belum bisa melupakan keisengan apa saja yang sudah dilakukan oleh Sai dan Naruto terhadap tasnya. Jujur saja dia masih trauma, meskipun Sai pernah berbuat baik sekali padanya.

"Hinata, kali ini aku benar-benar tulus membantumu, jadi kumohon jangan menolak niat baikku." Sai memasang wajah setengah memohon kepada Hinata, membuat gadis yang sebenarnya cantik tanpa kacamata itu jadi luluh. Hinata memang terlalu baik.

"Ba-baiklah Sai, a-aku percaya padamu." Hinata mengangguk dan membiarkan Sai untuk mengambilkan tas miliknya yang masih berada di dalam kelas.

"Hinata kau serius? Biar aku saja ya—" Lee melancarkan protes. Menurutnya Sai itu belum bertobat dan tidak akan ada yang tahu apa yang sedang direncanakan pemuda itu. Namun omongannya terputus begitu saja.

"Terima kasih, Hinata! Aku akan segera kembali!" sambar Sai menyela kata-kata Lee. Pemuda itu tersenyum sumringah dan dengan cepat ia segera berlari menuju ke kelas.

.

.

"Ceh, rupanya dia mau mencari perhatiannya Hinata? Dia pikir aku akan peduli?" desis Naruto dengan sinis.

"Aku sama sekali tidak peduli karena hal itu tidak akan berpengaruh padaku," ucap Neji dengan datar. Kemudian pemuda itu berbalik ke belakang, memutuskan untuk kembali ke kelas.

"Ya sudahlah. Ayo kita juga kembali ke kelas, Sasuke!" Naruto menarik Sasuke yang masih berdiri mengamati Lee dan Hinata di gerbang sekolah.

"Tch, diamlah, Naruto!" sepertinya Sasuke enggan beranjak dari tempatnya dan membuat Naruto menjadi curiga pada pemuda itu.

'Sasuke, jangan-jangan dia...' Naruto berpikir dalam hati mengenai sikap Sasuke yang aneh kali ini. Apa mungkin ternyata Sasuke sebenarnya menyukai Hinata? Tidak mungkin juga 'kan pemuda itu menunggui Hinata sampai seperti ini kalau bukan dilandasi rasa kepeduliannya terhadap gadis itu?

"Sasuke? Apa kau menyukai Hinata?" tanya Naruto secara gamblang dan sukses membuat perhatian Sasuke yang sedari tadi terfokus pada Hinata beralih kepadanya.

"Kalau iya, kau mau apa, Naruto?" balas Sasuke dengan tegas, bahkan terkesan menantang sambil melancarkan sorot mata dingin kepada Naruto. Sasuke sudah muak dengan permainan konyol kepura-puraan ini. Dia tahu Sai serius dengan ucapannya dan terus-terang saja dia tak ingin didahului oleh sang sepupu.

"Jadi kau menyukai gadis cupu seperti itu?" Naruto sebenarnya shock dengan pengakuan Sasuke, tapi dia berusaha menyembunyikannya dan mencoba untuk meremehkan Sasuke.

"Berhenti pura-pura Naruto. Aku tahu kau sebenarnya juga menyukai Hinata," sambar Sasuke cepat dan tepat.

"Bicara apa kau? Aku tidak menyukai gadis seperti itu. Maaf saja ya, aku lebih menyukai gadis seperti Ino atau Shion daripada gadis buruk seperti dia!" Naruto dengan cepat menepis dugaan Sasuke. Tapi semakin dirinya berusaha mengelak, semakin hatinya tersakiti oleh kebohongan yang dibuatnya sendiri.

Jujur saja Naruto memang sudah menyukai Hinata sejak hari pertama mereka ospek. Hanya saja sikap gadis itu selalu membuatnya keki. Entah kenapa Hinata selalu menjauhinya, menjaga jarak, bahkan menolaknya! Ya, Naruto pernah menyatakan perasaan pada seorang Hinata yang langsung ditolak mentah-mentah oleh sang target. Sejak saat itu setiap bertemu Hinata dia selalu kesal, dan akhirnya dia bertekad untuk menjadi salah satu murid yang juga mem-bully Hinata seperti murid-murid lain. Awalnya dia hanya iseng, tapi lambat-laun dia tak bisa mundur karena Neji dan sikap Sasuke yang juga tak bersahabat pada Hinata membuatnya harus mengikuti arus. Harga dirinya bisa rontok kalau sampai ada yang mengetahui perasaan sukanya pada Hinata.

Tapi sekarang rasanya usaha yang dia lakukan untuk menutupi perasaannya pada Hinata seakan percuma karena, Sasuke baru saja mengakui kalau dia menyukai Hinata, juga Sai yang entah sejak kapan jadi tertarik pada Hinata. Namun, belum sepat Naruto berkata apa-apa untuk membalas ucapan Sasuke. Sai yang mengambilkan tas untuk Hinata sudah kembali.

Perhatian Naruto dan Sasuke kembali terpusat pada Sai yang sedang mengulurkan tangannya untuk memberikan tas berwarna biru gelap itu kepada sang pemilik. Entah mengapa keduanya memiliki firasat kalau Sai akan melakukan sesuatu pada Hinata.

"Terima kasih, Sai." Hinata mengukir senyuman kecil pada pemuda itu dan hendak mengambil tas miliknya dari tangan Sai. Namun, terjadi sesuatu di luar dugaan.

Greb...!

Sai secara tiba-tiba menarik Hinata dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Naruto, Sasuke, juga Lee memasang ekspresi kaget yang teramat sangat.

"Sa-Sai, a-apa yang kau lakukan? Le-lepaskan aku...!" Hinata yang juga kaget dengan tindakan tak terduga Sai meronta kecil, berusaha untuk melepaskan diri.

"Sai, lepaskan Hinata!" Lee sudah memasang wajah garang.

"Jangan ikut campur!" satu kalimat tajam serta ekspresi sedingin es yang dilakukan Sai mampu membuat hati Lee ciut dan membuat pemuda beralis tebal itu diam.

"Maafkan aku sebelumnya Hinata. Habisnya kalau tak begini, kau pasti akan lari dan tak mau mendengarkanku," ucap Sai dengan lembut sambil tetap memeluk Hinata. "Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan suatu hal saja padamu." Hinata akhirnya memilih untuk diam dengan tenang.

"Ka-katakanlah Sai." Hinata mengangguk kecil.

"Hinata, aku ingin minta maaf atas semua perbuatan burukku padamu selama ini. Aku yakin kalau sikapku telah menorehkan sakit hati pada dirimu. Sebenarnya aku hanya ingin berteman, jadi, apa kau mau memaafkanku, Hinata?" Sai dengan mulus mengucapkan permintaan maafnya pada Hinata dan berharap gadis itu mau memaafkan dirinya. Semuanya dia akui dengan tulus dan penuh kesadaran.

"To-tolong lepaskan aku dulu, Sai," pinta Hinata yang sebenarnya sudah merasa tak nyaman. Ini pertama kalinya ia dipeluk oleh seorang pria dan Hinata tentu tak terbiasa.

Sai kemudian melepaskan Hinata dari dekapannya dan memberikan gadis itu ruang sejenak untuk mengambil napas serta berbicara. Lee, Naruto dan Sasuke memasang kuping baik-baik untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Hinata kepada Sai.

"Aku sudah memaafkanmu Sai, tapi untuk melupakan semuanya membutuhkan waktu yang entah sampai kapan..." jawabnya sambil menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang dirasanya.

"Jadi..., kau masih mau berteman denganku?" tanya Sai penuh harap.

"Se-sejak awal, aku menganggap Sai da-dan semuanya teman, kok." Gadis itu mengangguk sambil menebarkan senyuman ramah yang bersahabat.

"Hinata kau memang yang terbaik!" Sai kembali memeluk Hinata saking senangnya. Diam-diam pemuda itu melirik ke arah Naruto dan Sasuke yang mengamatinya dari kejauhan sambil melemparkan sebuah sunginggan dari bibirnya penuh arti.

"Sialan...!" ucap kedua pemuda itu secara bersamaan dengan ekspresi kesal secara komikal. Masing-masing dari mereka merutuki Sai yang seolah menabuhkan genderang perang pada keduanya.

TBC


A/N : Peran Sai di sini seperti sebuah jembatan penghubung. Masalah bully di sekolah sebenarnya saya merasa prihatin juga karena teman kelas saya ada juga yang mengalami, dan miris padahal mereka seumuran. Pengen bantu tapi pastinya ikut kecipratan getah. Untuk teman-teman yang pernah kena bully semoga trauma kalian cepat hilang dan yakin kalian bisa mengalahkan mereka. Kalian harus kuat dan jangan ragu melawan karena kalian tidak salah!

Untuk cerita ini mungkin saya ingin lebih mengedepankan romance, dan terima kasih untuk beberapa saran scene romance yang masuk. Kalau ada yang punya ide lagi bisa kirim PM atau katakan lewat kotak review, saya akan berusaha mengembangkan saran romance dari kalian.

T

H

A

N

K

S

For support!