REMAKE fanfiction from The Half Blood Vampire - karya TaniaMs
Cast : Shim Changmin, Cho Kyuhyun, and others
Warning : GS, Typo(s)
a/n: Fanfic ini merupakan karya milik TaniaMs. Saya hanya meREMAKE dan sedikit merubah tempat, nama serta mengurangi atau menambah kata seperlunya untuk keperluan cerita.
.
.
.
Saat tengah malam, Kyuhyun terbangun dari tidurnya. Bukan karena mimpi buruk, tapi karena ia menginginkan sesuatu.
Tanpa memakai alas kaki, Kyuhyun berjalan kearah balkon, setelah menyelimuti kemeja tipis Changmin dengan cardigan rajutan.
Setiap malam, dia memang tidur dengan pakaian Changmin, kalau tidak, dia tidak akan bisa tidur. Dan hal itu membuat Changmin senewen. Karena kaos atau kemeja yang dipakainya adalah kaos atau kemeja yang akan dipakai Changmin esok pagi untuk kuliah.
Kyuhyun memperhatikan ranting pohon mulai diselimuti es, namun salju belum turun. Ini baru awal musim dingin.
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya menahan dingin. Dia sengaja berdiri diluar, agar kedinginan sehingga dia mengantuk dan pada akhirnya, dia akan melupakan ke inginannya itu.
"Aaarrgh!" Kyuhyun mengerang, kembali masuk ke kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
Kyuhyun kembali membaringkan tubuhnya dikasur, dan menarik selimut hingga sebatas lehernya. Dia sangat kedinginan sekarang.
"Changminnn." lirih Kyuhyun sambil memegang bandul kalungnya.
10 menit kemudian, pintu balkon terbuka.
"Ada apa?" tanya Changmin sambil menutup kembali pintu balkon.
Kyuhyun tak menjawab. Ia hanya menatap Changmin yang tengah berjalan kearahnya.
"Ada sesuatu yang terjadi?"
Kyuhyun menggeleng.
Mata Kyuhyun melebar saat melihat sedikit darah disekitar bibir Changmin.
"Ada apa?" tanya Changmin lagi, saat melihat Kyuhyun tak berkedip menatap dirinya.
"Duduk disini." Kyuhyun menepuk sisi kosong ditempat tidurnya.
Dengan malas, Changmin mengikuti permintaan Kyuhyun.
Kyuhyun langsung merengkuh wajah Changmin dan langsung mencium bibirnya. Changmin terkejut karena Kyuhyun tiba-tiba menciumnya. Bukannya lembut tapi seperti orang kesurupan.
"Cukup." Changmin mendorong tubuh Kyuhyun, sehingga ciuman mereka berhenti. "Ada apa dengan dirimu?"
"Darah." Kyuhyun nyaris berbisik.
Changmin mengerjapkan matanya. "Mwo? Darah? Apa maksudmu?"
"Aku ingin darah."
Mata Changmin membulat sempurna. "Ku bermimpi. Sekarang tidur." ujar Changmin. "Aku harus ke hutan."
"Kalau kau bisa minum darah, kenapa aku tidak?" tanya Kyuhyun.
Tangan Changmin yang akan menggapai ganggang pintu terhenti. Ia langsung menatap Kyuhyun. "Kau bilang apa?"
"Kenapa kau boleh minum darah, sedangkan aku tidak?"
Changmin mendengus. "Pertanyaan macam apa itu?"
Kyuhyun tak menjawab.
"Apa kau tidak tahu, aku ini vampire sedangkan kau manusia. Itulah alasannya kau tidak boleh minum darah."
"Tapi aku ingin darah. Sekarang."
Mimpi buruk itu terjadi. Inilah yang ia takutkan semenjak tahu Kyuhyun hamil. Ia takut Kyuhyun menginginkan darah, ingin minum darah seperti dirinya. Ia tak ingin anaknya menjadi vampire seperti dirinya meski hanya vampire berdarah campuran.
"Kau tidak boleh minum darah. Karena... karena darah itu tidak enak dan tidak baik untuk janinmu."
"Darah itu manis."
"Dari mana kau tahu? Bahkan kau belum mencobanya."
"Aku sudah mencobanya saat menciummu tadi. Saat itu ada darah disekitar bibirmu." balas Kyuhyun. "Aku belum pernah mencoba minuman semanis itu."
"Kau lupakan saja keinginan konyolmu itu. Lebih baik kau tidur, besok kita kuliah pagi."
Setelah mengucapkan itu, Changmin langsung keluar dari kamar.
"Huh! Dia bilang keinginanku itu konyol? Dasar menyebalkan!" gerutu Kyuhyun.
Rasanya, Baru saja memejamkan mata, Kyuhyun sudah dibangunkan. Dengan susah payah, Kyuhyun membuka matanya yang terasa dibebani berton-ton besi. Sangat berat.
"Apa?" tanya Kyuhyun dengan suara paraunya.
"Kau harus kuliah. Cepat bangun." ujar Changmin. Singkat. Tanpa ekspresi.
Kyuhyun mencibir pada Changmin yang tengah memilih pakaian yang akan digunakannya untuk ke kampus.
Dari dulu hingga sekarang, dia benar-benar belum bisa memahami sikap Changmin. Kadang baik, kadang tidak. Kadang perhatian, kadang tidak acuh.
"Waktumu sudah berkurang satu menit hanya karena mencibiriku, nyonya muda." ujar Changmin tanpa memutar tubuhnya. Changmin tengah memakai kemeja putih, dengan lengan panjang.
Kyuhyun mendengus. "Baik tuan muda, aku akan mandi."
Changmin nyaris tertawa kalau dia tidak segera pura-pura batuk mendengar perkataan Kyuhyun.
Changmin yang tengah menyisir rambutnya, sesekali memperhatikan Kyuhyun yang tengah berjalan dengan langkah malasnya menuju kamar mandi.
Dalam hitungan detik, Changmin sudah menangkap tubuh Kyuhyun yang hampir terjatuh ke lantai kamar mandi karena yeoja itu terpeleset. Namun, pada akhirnya mereka jatuh juga ke lantai kamar mandi yang basah dengan posisi Kyuhyun menindih Changmin.
Kyuhyun tak berkedip menatap mata Changmin yang begitu indah. Tapi dia sangat kecewa karena mata indah itu selalu menatap tajam padanya.
Changmin berdehem karena dia mulai gugup akibat wajahnya dan wajah Kyuhyun terlalu dekat. "Bisa tidak kau bangkit dari tubuhku? Kau itu sudah berat."
Dengan kikuk Kyuhyun berdiri. "Mian."
"Lain kali berhati-hatilah. Untung saja kau tidak jatuh ke lantai! Sekarang lihat, aku harus mengganti pakaianku lagi." omel Changmin.
Kyuhyun terkekeh pelan. Ia merasa, paginya belum lengkap kalau belum mendapat omelan dari Changmin. "Mianhe. Hehe"
.
.
Kyuhyun membuka lemari sepatu, tempat dia meletakkan semua high heels dan beberapa buah sepatu ketsnya. Ia pun mengambil high heels berwarna merah marun, senada dengan syalnya. Walaupun tidak boleh memakai high heels, tapi ia tetap tak peduli. Ia sangat nyaman dengan high heels, karena ia merasa cukup pendek.
Setelah persiapannya lengkap, Kyuhyun turun menuju ruang makan.
"Appa? Appa sudah datang?"
"Baru saja tiba." ujar Yunho.
Kyuhyun berpelukan dengan Yunho sebentar lalu, duduk disamping Changmin.
"Buka." ujar Changmin saat Kyuhyun baru duduk disampingnya.
"Apa?" tanya Kyuhyun tak mengerti.
"High heelsmu."
Kyuhyun tak menjawab karena ia tak mengerti dengan ucapan Changmin. Ia tidak mengacuhkan Changmin, dan memakan roti bakarnya.
"Yak! Aku sedang bicara denganmu!" bentak Changmin, sambil menahan tangan Kyuhyun yang akan memasukkan potongan roti dalam mulutnya.
Kyuhyun menatap Changmin dengan tatapan bertanya. "Kau ini bicara apa?"
"Aku bilang, buka high heelsmu." ujar Changmin dengan rahang terkatup.
"Kenapa?" protes Kyuhyun.
Changmin mengerang. "Cepat berdiri!"
Sambil memberengut, Kyuhyun bangkit dari kursinya. Orang-orang dimeja makan hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Changmin berjongkok di hadapan Kyuhyun, membuat Kyuhyun bingung. Changmin langsung melepas high heel milik Kyuhyun.
"Apa yang kau lakukan?" protes Kyuhyun.
Changmin tak menjawab. Dia terus melakukan aktivitasnya.
Setelah berhasil membukanya, Changmin langsung menjinjing high heels itu menuju atas, membuat seluruh yang ada diruangan itu terpana.
"Changminnn!" teriak Kyuhyun kesal.
Dengan langkah lebar, Kyuhyun menyusul Changmin. Ia tak berani lagi berlari ditangga agar janinnya baik-baik saja.
"Apa maksudmu?" protes Kyuhyun.
Changmin mengangkat high heels Kyuhyun, sebatas dadanya. "Ini?"
Kyuhyun mengangguk.
Changmin tersenyum samar, lalu melempar high heels itu kedalam lemari sepatu.
"Hei..."
"Pakai ini!" Changmin melemparkan sepatu kets hitam dengan corak putih.
Changmin mengunci lemari itu, lalu membuang kuncinya lewat jendela.
Mata Kyuhyun melotot sempurna. Semua high heels, atau sepatu yang selalu digunakannya ada dilemari itu. Satu sepatu yang tersisa hanyalah yang dipegangnya saat ini.
"Changmin! Kau..." Kyuhyun kehabisan kata-kata untuk mengomeli Changmin.
"Sebaiknya kita sarapan di kampus saja." Changmin menunjuk jam tangannya. "Ayo, pakai sepatu itu!" tegas Changmin.
Sambil menggerutu dengan suara pelan, Kyuhyun memasang kets nya itu. Sebenarnya sepatu itu cocok dengan pakaiannya, hanya saja, dia terlihat lebih pendek. Dan itu membuatnya tidak nyaman.
"Ayo turun!"
Kyuhyun mengikuti Changmin dengan wajah kusut. Saat berpamitan dengan Jaejoong pun dia susah tersenyum karena dia masih kesal dengan sikap Changmin.
"Kau kenapa?" tanya Kibum bingung melihat wajah Kyuhyun begitu kusut.
"Lihat ini!" Kyuhyun menunjukkan kakinya.
"Apa?" Kibum tak mengerti.
"Sepatuku, lihat."
"Bagus."
"Haish! Maksudku bukan itu."
"Lalu apa?" Kibum semakin tak mengerti.
"Huaa! Dia mengunci semua high heelsku dilemari lalu membuang kuncinya entah kemana!" cetus Kyuhyun dengan emosi yang meluap-luap.
"Dia? Maksudmu Changmin?"
"Siapa lagi?!" jerit Kyuhyun.
"Ehem." Changmin duduk disamping Kyuhyun.
Mata kuliah mereka baru saja berakhir 15 menit yang lalu. Begitu dosen keluar, Kyuhyun langsung menarik Kibum menuju kantin. Yang pertama karena dia lapar, kedua karena dia ingin menjauh dari makhluk yang bernama Changmin.
"Sepertinya, pembicaraan kalian sangat seru."
Kyuhyun memutar bola matanya malas.
"Jadi apa yang kalian bicarakan?" tanya Changmin.
"Kyuhyun, dia mengatakan tentang..., materi kuliah hari ini sangat susah." Kibum terpaksa mengarang karena Kyuhyun melotot padanya.
Changmin terkekeh. "Ayo Kyuhyun, kita pulang."
"Aku masih ingin disini."
Changmin menarik tangan Kyuhyun paksa. Lalu memeluknya erat.
Bersamaan dengan itu, datang angin yang berhembus kuat. Sangat kuat sehingga menggugurkan daun yang masih tersisa diranting pohon.
"Astaga! Angin apa itu." gumam Kibum.
"Angin musim dingin, tentu saja." ujar Changmin santai. Padahal sebenarnya tidak. "Ayo Kyuhyun, disini tak aman." bisik Changmin.
Changmin memasang sabuk pengaman untuk Kyuhyun, lalu mulai menjalankan mobilnya.
"Itu bukan angin musim dingin, bukan?" tanya Kyuhyun.
"Bagaimana bukan? Itu memang angin musim dingin."
Kyuhyun berdecak.
"Kenapa wajahmu itu? Dari tadi pagi kusut terus?"
Kyuhyun tak menjawab.
"Mau ku belikan boneka?"
Kyuhyun menatap Changmin sinis. "Jangan sok baik. Ingat, kau tadi pagi baru saja menyita semua high heelsku."
Changmin terkekeh pelan, namun tak membantah ucapan Kyuhyun. "Aku akan membawamu ke suatu tempat.
.
.
Kyuhyun tercengang saat mobil Changmin mulai memasuki parkiran sebuah mall yang cukup besar di kota Seoul.
"Kenapa kita kesini?" tanya Kyuhyun bingung.
"Shopping, maybe." Changmin mengangkat bahu.
Kyuhyun langsung menarik tangan kanan Changmin, memperhatikannya dengan seksama. "Benar, kau Changmin." gumam Kyuhyun.
Changmin menarik tangannya. "Tentu saja aku Changmin! Kau pikir Kris?" sungut Changmin. "Kris tidak mungkin punya cincin ini!" Changmin menunjuk cincin nikahnya dengan Kyuhyun.
"Benar kau Changmin? Bagaimana kalau kau Kris? Dan cincin itu kau dapatkan setelah membunuh Changmin?"
"Kau mengharapkan ku dibunuh Kris, begitu?!" tanya Changmin kesal.
"Kadang-kadang. Seperti tadi pagi, misalnya." ujar Kyuhyun kalem.
Changmin melotot kesal. "Kau... Sudahlah! Ayo turun sebelum aku berubah pikiran!" ketus Changmin sambil membuka sabuk pengamannya.
Kyuhyun pun berusaha mengikuti langkah Changmin yang lebar. Sekarang mereka sudah masuk ke dalam mall, dan berada dilantai tiga, tempat toko-toko aksesoris juga sepatu, high heel dengan merk terkenal.
"Kau ingin memberi kado untuk ku ya?" tanya Kyuhyun.
Changmin mengangkat alisnya. "Kenapa aku harus memberi kado untukmu?"
Kyuhyun tersenyum. "Karena sebentar lagi adalah natal!"
"Jadi, aku harus memberimu kado? Begitu?"
Kyuhyun mengangguk senang. "Tentu saja."
"Aku tidak pernah memberi kado pada siapapun saat natal. Bahkan saat seseorang ulangtahun."
"Pernah." ralat Kyuhyun.
"Kapan?"
"Sewaktu aku ulangtahun! Kau membiarkanku membeli apapun yang aku inginkan. Dan kau bilang, itu adalah kado." ujar Kyuhyun semangat.
"Anggap saja hari itu aku sedang mengalami gangguan otak. Makanya aku membelikan kado untukmu."
"Kau juga membelikanku kue ulangtahun."
"Itu karena aku..." Changmin tidak menemukan alasan yang tepat.
"Karena apa?"
"Ayo naik." Changmin menarik Kyuhyun kedalam lift.
"kKenapa kita ke lantai lima?"
"Karena aku lapar." ujar Changmin.
"Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi."
Changmin tak menjawab.
"Kenapa kau membelikanku kue ulangtahun?"
"Jadi kau tidak suka?" tanya Changmin.
"Bukannya tidak suka. Tapi..."
"Kalau kau memang suka, kenapa harus dibicarakan lagi?"
Kyuhyun tak berbicara lagi. Bagaimanapun cara dia berdebat dengan Changmin, dia tidak akan pernah menang. Seperti yang terjadi barusan.
"Changmin, tempat makannya..."
"Aku tidak lapar." potong Changmin cepat.
Mereka pun pergi ke sebuah toko sepatu. Changmin membawanya masuk kedalam.
"Toko ini milik Victoria." ujar Changmin singkat.
"Hai, Changmin, Kyuhyun?"
"Aku ingin membelikannya kets, atau pansus (emang disana ada?), atau apapun asalkan jangan high heels." ujar Changmin.
"Baik." Victoria mengangkat jempol.
"Belilah sebanyak jumlah semua high heels mu dirumah." ujar Changmin pada Kyuhyun.
"Kau serius?" tanya Kyuhyun tak percaya.
"Anggap saja ini pengganti semua high heelsmu yang ku kunci dilemari."
"Memangnya kenapa kau menguncinya dilemari?" tanya Victoria penasaran.
"Dia sedang hamil, jadi tidak boleh memakai high heels."
Mata Victoria berbinar. "Benarkah? Waaah, chukkae" Victoria memeluk Kyuhyun sejenak.
Kyuhyun menanggapinya sambil tersenyum.
"Kau masuk saja ke dalam. Disana ada Nickhun." ujar Victoria.
Setelah membeli sepatu-sepatu itu, ia dan Changmin keluar dari toko Victoria. Dia hanya membawa dua kantong sepatu sedangkan sisanya akan diantarkan Victoria kerumah, karena ia tak mungkin membawa kantong belanjaan sebanyak itu.
"Kita akan kemana lagi?" tanya Kyuhyun.
Changmin menarik tangan Kyuhyun menuju sebuah toko. Toko boneka.
"Pilihlah sesuka hatimu." ujar Changmin.
"Kau benar-benar membelikanku boneka?"
Changmin mengangguk singkat.
Kyuhyun tersenyum lebar, lalu berjinjit dan mencium pipi kiri Changmin. "Gomawo." Setelah itu, Kyuhyun langsung hilang dibalik rak penuh boneka.
Changmin hanya tersenyum paksa saat matanya bertemu dengan kasir toko yang tengah menatapnya sambil menahan tawa. "Kyuhyun!" desis Changmin.
Changmin melihat-lihat boneka yang ada disekitarnya. Matanya tertuju pada boneka spongebob. Ia teringat pada Sulli yang suka tokoh kartun itu. Saat ia akan mengambilnya, seseorang menepuk pundaknya. Changmin pun berbalik.
"Ommo!" Changmin langsung mundur kebelakang karena sebuah boneka berada tepat didepan wajahnya.
"Lucu tidak?"
Saat Changmin akan menjawab, Kyuhyun kembali berbicara.
"Ini hampir mirip dengan pemberian Siwon. Bedanya, boneka ini punya pita, sedangkan pemberian Siwon tidak."
"Tidak lucu." jawab Changmin.
Changmin mengambil boneka itu dari tangan Kyuhyun, dan meletakkan ditumpukan boneka pinguin.
"Ini lebih lucu." Changmin menyerahkan boneka pinguin ukuran sedang pada Kyuhyun.
"Dari mana lucunya?" protes Kyuhyun.
"Lebih lucu boneka..."
"Boneka panda itu tidak lucu." potong Changmin.
"Boneka panda itu lucu, tapi lebih lucu ini." Kyuhyun menyerahkan boneka Tazmania cokelat pada Changmin. "Mirip denganmu, kan?"
"Kau!"
"Hehe..., aku hanya bercanda." kekeh Kyuhyun.
.
.
Kyuhyun mendengarkan materi yang disampaikan oleh dosen dengan setengah hati. Ia sedang tak niat kuliah, tapi Changmin terus memaksanya untuk kuliah. Dirumah tidak aman. Itulah alasan Changmin melarangnya tinggal dirumah.
"Waaah...kita satu kelompok!" suara Kibum membuyarkan lamunannya.
Kyuhyun langsung menatap Kibum. "Apa maksudmu?"
"Lihat whiteboard."
Kyuhyun mengikuti perintah Kibum. Disana ada pembagian kelompok untuk materi kuliah berikutnya. Dia sekelompok dengan Kibum dan Victoria. Bagus.
"Ada yang salah." gumam Kyuhyun.
Ia segera mencari kelompok Changmin. Changmin ada dikelompok lima.
Kelompok lima :
.Shim Changmin
.Im Yoona
.Kim Taeyeon
Mata Kyuhyun melebar. Ia ingin protes untuk kelompok Changmin. Tapi tidak mungkin.
"Kenapa wajahmu berubah drastis seperti itu?" tanya Kibum saat dosen sedang tidak memperhatikan mereka.
"Kau tidak lihat kelompok Changmin?"
"Lihat. Changmin, Yoona dan Taeyeon." ujar Kibum santai.
"Maksudku bukan itu. Tapi, Haish! Anggotanya yeoja! Hanya dia namja."
"Lalu kau cemburu?" goda Kibum. Ia tau apa yang dipikiran Kyuhyun saat ini.
"Aniyo. Aku heran saja. Kenapa di kelompok itu hanya dia yang namja." Kyuhyun berkelit.
Kibum mendengus pelan mendengar alasan Kyuhyun.
Sepulang kuliah...
Kyuhyun menunggu Changmin didepan ruang kelas, karena Changmin sedang berdiskusi dengan teman sekelompoknya. Kapan dan dimana mereka akan mengerjakan tugas dari dosen itu.
"Kajja." Changmin berdiri disamping Kyuhyun.
"Sudah selesai?" ada nada menyindir dalam suaranya.
"Kami duluan." pamit Yoona dan Taeyeon pada Kyuhyun dan Changmin.
Changmin hanya mengangguk. Seperti biasa, dia selalu hemat bicara didepan semua orang.
"Ayo pulang!" Kyuhyun berjalan duluan.
Changmin menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kyuhyun.
"Kenapa lagi?" tanya Changmin saat mobil yang dia kendarai mulai meninggalkan arena kampus. Ia selalu bingung saat Kyuhyun tak berbicara sedikit pun dalam mobil.
"Kenapa apa?" Kyuhyun balik bertanya.
"Kau itu kenapa? Aneh melihatmu diam."
"Aku ingin menjadi orang yang pendiam."
"Hmmppff" Changmin membekap mulutnya menahan tawa. "Kau tidak pantas jadi orang yang pendiam. Sama sekali bukan dirimu."
"Lalu hanya kau yang pantas jadi orang pendiam, begitu?" tanya Kyuhyun.
"Sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Changmin lagi.
"Kau tak perlu tahu!" bentak Kyuhyun.
"Dan kau tak perlu membentakku!" Changmin meninggikan suaranya.
Kyuhyun tak bersuara lagi. Bahkan ketika sampai dirumah, dia langsung turun dari mobil meninggalkan Changmin dengan wajah kusut.
"Kenapa lagi dengannya?" tanya Heechul saat Changmin duduk disampingnya.
"Entahlah! Dia itu benar-benar aneh." sungut Changmin. "Yeoja hamil."
Heechul tertawa pelan. "Itu juga karenamu. Jadi kau harus sabar menghadapinya."
Changmin mendesah, lalu bangkit dari duduknya. Berjalan menuju kamar.
Sesaat sebelum dia masuk, ia mendengar Kyuhyun tengah mengomel. Sepertinya sedang menelepon.
"Kelompoknya itu Yoona dan Taeyeon. Setahuku, mereka berdua itu dulunya menyukai Changmin...bukan begitu. Aku hanya tidak suka Changmin sekelompok dengan mereka... Aku tidak cemburu, Eunhyuk... sudahlah! Percuma berbicara denganmu!"
Changmin mengulum senyum. Setelah yakin Kyuhyun telah mengakhiri panggilannya, ia pun masuk.
Kyuhyun menatap Changmin sekilas, lalu kembali mengutak atik ponselnya.
"Kau mau ikut tidak?" tanya Changmin.
Kyuhyun tak menjawab.
"Kyuhyun?"
"Kau sedang berbicara padaku?"
"Tentu saja denganmu! Memangnya masih ada orang lain disini?!" bentak Changmin.
"Kupikir kau bicara sendiri."
"Haishhh! Jadi, kau mau ikut tidak?"
"Kemana?"
Changmin mengibaskan tangan. "Begini saja, bagaimana kalau aku akan mengantarmu. Kemanapun."
Kyuhyun menatap Changmin penuh selidik. "Kau sedang membujukku kan?"
"Terserah apa katamu. Yang penting kau cerewet lagi. Kau sangat tidak pantas jadi orang pendiam. Aneh."
"Aku sedang tak ingin pergi keluar. Diluar sangat dingin."
"Ya sudah. Kita beli boneka lagi?"
"Baru beberapa hari yang lalu kau membelikanku boneka."
"Atau mau es krim?"
"Sekarang musim dingin." Kyuhyun memanyunkan bibirnya.
Changmin kembali berpikir. "Berhubung kita belum makan siang, bagaimana kalau aku memasak?"
"Kau memasak? Waah, aku mau." Kyuhyun bertepuk tangan semangat. "Macaroni cheese?"
"Baik lah."
Kyuhyun kembali bersorak.
Mereka menuju dapur. Heechul yang melihat keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Changmin mulai mengeluarkan bahan-bahan yang dia perlukan, sementara Kyuhyun duduk dikursi tinggi disana.
Setengah jam kemudian masakan Changmin selesai. Kyuhyun menatap masakan Changmin dengan mata berbinar.
"Aku mencium makanan enak disini." Heechul masuk ke ruang makan.
"Changmin baru saja memasak. Ayo, oppa harus mencobanya." ujar Kyuhyun.
Heechul duduk dihadapan Kyuhyun, sementara Changmin disamping Kyuhyun.
Saat mereka tengah makan, ponsel Changmin berbunyi. Changmin mengangkat teleponnya disitu juga.
"Ya, aku Changmin. Kau siapa?... Yoona?... Soal tugas itu..." Changmin terus berbicara tanpa memperdulikan wajah Kyuhyun yang sudah memerah menahan kesal.
.
.
Kyuhyun sedang menonton saat bel rumah berbunyi. Kyuhyun hampir berteriak untuk menyuruh Changmin agar namja itu membuka pintu. Namun dia teringat kalau Changmin sedang dikamar mandi, kalaupun dia ada dirumah, Changmin juga tidak suka diperintah-perintah. Akhirnya Kyuhyun meneriaki Minho.
"MINHOOO!"
Tak lama kemudian, Minho keluar dari kamar dengan sebuah buku ditangan.
"Waeyo?" tanya Minho.
"Tumben kau langsung keluar?" tanya Kyuhyun heran. "Biasanya aku harus menunggumu lima menit."
"Aku memang ingin keluar saat noona memanggilku. Ada apa?"
"Sepertinya tadi aku mendengar bunyi bel." ujar Kyuhyun, kembali menatap layar televisi.
"Lalu?"
"Lalu kau pergi kedepan dan buka pintunya."
"Kenapa harus aku?"
"Karena aku menyuruhmu. Sudahlah, buka sana. Jangan membuat tamu itu menunggu."
Minho mendelik kesal. "Noona ini! semenjak hamil noona jadi menyebalkan, tahu?"
"hmm..." jawab Kyuhyun malas-malasan.
"Persis seperti Changmin hyung."
suara bel terdengar lagi.
Kyuhyun menyeringai. "Tamu itu pasti sudah membeku diluar sana."
Sambil menggerutu, Minho berjalan kedepan.
Kyuhyun kembali berkonsenterasi pada layar televisi yang sedang menayangkan drama. Tak sampai lima menit, Minho meneriaki namanya dari ruang tamu.
"Aishh!" erang Kyuhyun.
Dengan malas, Kyuhyun berjalan keruang tamu. Ia sangat malas bergerak jika sudah mendapatkan posisi yang nyaman.
"Waeyo?"
"Teman kuliahmu." ujar Minho dan kembali masuk keruang tengah.
Kyuhyun terkejut saat menyadari kalau orang itu adalah Yoona dan Taeyeon. Dengan terpaksa, ia menyunggingkan senyum.
"Senang kalian datang." ujar Kyuhyun. "Ada apa?"
"Kami ingin mengerjakan tugas dari dosen. Kau ingat bukan?"
Belum sempat menjawab, Changmin tiba diruang tamu. "Kalian sudah datang."
Yoona dan Taeyeon memperlihatkan senyum termanis mereka.
Kyuhyun langsung mengutuk dalam hati.
"Sok manis."
Changmin berdehem untuk meredam tawanya yang hampir meledak karena ucapan Kyuhyun. "Kalian ingin minum apa?" tawar Changmin.
"Terserah."
Changmin menyikut Kyuhyun sedikit, membuat Kyuhyun menoleh.
Kyuhyun mengerti arti tatapan Changmin. Dengan kesal, Kyuhyun bangkit dari sofa, berjalan kearah dapur.
"Kenapa harus ditawari minum? Dan kenapa harus aku yang membuatnya?! Menyusahkan saja!" Kyuhyun terus mengomel dalam hati, tanpa sadar kalau Changmin mengetahuinya.
Changmin tahu Kyuhyun tak akan membuatnya dengan benar, karena itulah dia segera menyusul Kyuhyun kedapur. "Aku kebelakang, sebentar." pamit Changmin.
"Buat yang benar." ujar Changmin dari bangku tinggi.
Kyuhyun tak menjawab. Ia terus melakukan aktivitasnya.
"Kalau kau menunangkan air panas seperti itu, kau bisa terluka."
"Terserah." ujar Kyuhyun tak perduli.
"Cemburumu berlebihan." ujar Changmin langsung.
Kyuhyun langsung mengangkat menatap Changmin. "Aku tidak cemburu."
"Kau pikir aku bodoh, sepertimu?"
Kyuhyun mendelik kesal.
"Dari semua tingkah lakumu saja sudah terlihat. Seperti masih remaja saja!" cetus Changmin. Ia mengambil cokelat hangat yang dibuatkan Kyuhyun. "Semoga tidak ada racunnya!" gumam Changmin.
Kyuhyun sudah mengangkat sebuah pisau saat Changmin pergi ke arah ruang tamu. "Yak!"
Kyuhyun segera naik keatas menuju kamar Heechul. Ia membutuhkan bantuan kakak iparnya itu.
"Aku mengantuk Kyu." ujar Heechul saat Kyuhyun berusaha membangunkannya.
"Ayolah oppa. Aku butuh bantuanmu."
"Apa?"
"Aku ingin tahu apa yang sedang dibicarakan Changmin dibawah sana."
Tak ada jawaban dari Heechul. Hal itu membuat Kyuhyun semakin jengel. Saat ia akan memukul Heechul dengan guling, Heechul membuka suaranya.
"Tidak ada."
"Apa maksudmu tidak ada?" tanya Kyuhyun bingung.
"Aku tak mendengar suara Changmin. Yang ada hanya suara yeoja. Dua orang."
"Benarkah?"
"Tunggu. Changmin baru saja berbicara."
"Dia bilang apa?" Kyuhyun penasaran.
"Boleh."
"Hanya itu?" tanya Kyuhyun tak percaya.
"Ada lagi."
"Apa?"
"Baiklah."
Kyuhyun mendelik kesal. "Oppa sedang mengerjaiku?!"
"Aniyo." bantah Heechul.
"Tapi kenapa cuma itu yang dia ucapkan? Kau membohongiku kan?"
"Tidak Kyuhyun, adik iparku tersayang."
"Jeongmal?"
"Dia berbicara lagi." ujar Heechul. "Dia bilang oh, baguslah."
"Kau..."
Heechul tergelak.
"Apa?"
"Aku dengar di menggumamkan sesuatu."
Kyuhyun menatap Heechul dengan tatapan menuntut.
"Dia bilang. Cemburu mu sangat tidak beralasan."
"Aku tidak cemburu!"
"Pasti bayimu." tukas Heechul.
"Heh! Oppa..."
Tiba-tiba pintu kamar Heechul terbuka. Changmin. Membuat Kyuhyun terkejut.
Changmin langsung menghampiri Kyuhyun yang tengah duduk disisi ranjang Heechul. Dengan gerakan cepat, ia menunduk dan mencium bibir Kyuhyun lembut. Selang beberapa detik, ia melepas ciumannya dan berlutut dihadapan Kyuhyun yang masih duduk. Ia mencium perut Kyuhyun yang sudah agak terlihat berisi. Lalu ia pun mengelusnya.
"Ini appa. Kau tak perlu cemburu pada mereka. Mereka itu hanya teman, tidak lebih. Lagipula aku sudah terlanjur cinta Pada umma mu." ucap Changmin. Saat kalimat terakhirnya, Changmin membisikkannya tepat diperut Kyuhyun, sehingga Kyuhyun tak mendengarnya.
"so romantic." gumam Heechul.
Sedangkan Kyuhyun tak bisa berkata-kata. Speechless.
.
.
Kyuhyun masih tak bergerak setelah Changmin keluar dari kamar Heechul. Ia masih terlalu syok karena apa yang dilakukan Changmin.
"Kyuhyun, dia sudah pergi." Heechul membangunkan Kyuhyun dari lamunannya.
Kyuhyun menatap Heechul dengan perasaan bercampur aduk.
Secepat kilat ia keluar dari kamar Heechul, dan masuk ke kamarnya. Ia langsung menghempaskan diri ketempat tidur dan menutup wajahnya dengan bantal. Ia benar-benar malu. Namun disisi lain dia juga bahagia.
"Ya tuhan! Kenapa wajahku panas sekali!" gerutu Kyuhyun pada dirinya sendiri.
Ia bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke meja rias. Pipinya benar-benar merona saat ini.
"Changminn.." lirih Kyuhyun. "Namja itu! Kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu?!" Kyuhyun tak percaya pada yang dilakukan Changmin tadi.
Kyuhyun mengelus perutnya dengan senyum yang tak henti-hentinya terkulum dibibirnya. Belum pernah ia merasa sebahagia ini.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Changmin masuk dan langsung berjalan menuju meja tempat dia meletakkan laptopnya. Iapun mulai mengetik.
Kyuhyun masih setia berdiri didepan meja rias. Ia hanya memandangi Changmin lewat cermin.
"Mereka sudah pulang." ujar Changmin tanpa menatap Kyuhyun.
"Ooh." ujar Kyuhyun pelan. Ia bingung ingin mengatakan apa.
"Oh ya, apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?" Changmin membalikkan tubuhnya, menatap Kyuhyun.
Bluuuussh
Wajah Kyuhyun kembali memerah saat matanya bertemu dengan mata Changmin. Buru-buru Kyuhyun berjalan ke tempat tidur mengambil ponselnya.
"Belum."
"Belum?" tanya Changmin.
"Iya, belum." ujar Kyuhyun tanpa menatap Changmin.
"Ini tugas kelompok. Jadi aku tidak akan membantumu. Kerjakan bersama kelompokmu." tegas Changmin dan kembali berkutat dengan laptopnya.
Kyuhyun mendengus pelan.
"Aku juga tidak akan meminta bantuanmu." rutuknya dalam hati.
"Bagus kalau begitu!" cetus Changmin.
Kyuhyun langsung menutup mulutnya. "uups"
dia benar-benar tak ingat kalau Changmin punya kelebihan dalam hal itu.
Hening.
Kyuhyun sibuk dengan ponsel di tangannya, sedangkan Changmin masih sibuk mengetik. Namun sesekali Kyuhyun mencuri pandang pada Changmin, melihat apa yang sedang dilakukan namja itu.
Tiba-tiba ponsel keduanya berbunyi bersamaan.
"Siwon/Yoona?" ucap mereka bersamaan.
Dalam satu ketukan, mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan kesal. Dalam satu ketukan pula, mereka sama-sama mendengus lalu memutar kepala kearah lain.
Keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Sesekali mereka saling lirik. Lirikan tajam tentunya.
"Bye/oke." ujar mereka bersamaan lagi.
Mereka kembali saling tatap.
"Siwon hanya mengatakan kalau dia kembali ke Seoul / Yoona hanya mengatakan tentang tugas kelompok." lagi-lagi mereka mengatakannya bersamaan.
"Jadi kau tak perlu cemburu!" tegas mereka bersamaan.
"Aku tidak cemburu!" bantah Kyuhyun.
"Aku juga tidak!" sambar Changmin.
"Oh ya?" remeh Kyuhyun.
"Kau mau pergi dengan Siwon, aku tidak papa."
"Sama! Kau pergi dengan Yoona, aku juga tidak papa. Apa perduliku?!" sahut Kyuhyun tak mau kalah.
"Ya sudah!" sungut Changmin.
"Oke!"
"Kalian tau tidak?! Kalian itu sama-sama cemburu! Dasar pasangan bodoh! Hahaha" teriak Heechul dari kamar sebelah.
"SHUT UP! HEECHUL OPPA/HYUNG!" Ujar mereka kompak.
.
.
Kyuhyun dan Changmin keluar dari kelas bersamaan. Tiba-tiba saja, Changmin memeluk Kyuhyun. Erat sekali. Tak lama setelah itu, datang angin musim dingin yang cukup kencang. Persis seperti dikantin kampus.
"Ayo! Kita harus ke kelas berikutnya." ujar Changmin tanpa melepaskan pelukannya.
"Bagaimana aku bisa berjalan kalau kau terus memelukku?" rutuk Kyuhyun.
Changmin melepas pelukannya, namun ia menggenggam tangan kanan Kyuhyun dengan erat.
Tangan Kyuhyun yang terbuka tanpa sarung tangan terasa hangat karena digenggam Changmin. Ia memperhatikan tangan Changmin yang tengah menggenggam tangannya.
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu! Jadi percuma kau merengek seperti anak kecil padaku. Tidak akan ku kabulkan." tegas Changmin, lalu menarik Kyuhyun menuju kelas berikutnya.
Tiba-tiba Changmin mendorongnya masuk kedalam lift padahal kelas mereka dilantai yang sama, dan itu hanya tinggal sedikit lagi. Diujung koridor.
Orang-orang didalam lift menatap mereka bingung. Changmin seakan tak acuh, sementara Kyuhyun berusaha menanggapinya dengan senyuman.
"Apa yang kau lakukan!" ketus Kyuhyun.
Changmin tak menjawab.
Ting
Pintu lift terbuka. Mereka tiba dilantai lima, padahal harusnya mereka dilantai dua. Dimata kuliah Mr. Kang.
Orang-orang yang tadinya didalam lift pun keluar kecuali Changmin dan Kyuhyun. Mereka kembali turun ke lantai dua.
"Kenapa kau mendorongku kedalam lift?" tanya Kyuhyun.
Tak ada jawaban.
"Kalau tadi aku tersandung lalu jatuh lalu sesuatu yang buruk menimpa bayi dirahimku bagaimana?!" omel Kyuhyun.
"Lebih baik aku kehilangan bayi itu."
"Apa?!" tanya Kyuhyun tak percaya. Jadi Changmin tidak suka pada bayi ini?
"Dari pada aku harus kehilanganmu."
Ting
Mereka tiba dilantai dua. Changmin langsung melangkah keluar diikuti Kyuhyun.
"Tadi kau bilang apa?" tanya Kyuhyun.
"Kita hampir terlambat."
"Heh? Sepertinya bukan itu."
Changmin berhenti melangkah. "Lebih baik aku kehilangan bayi itu dari pada harus kehilanganmu." Bicara Changmin cepat.
"Aku tidak dengar. Bicaramu cepat sekali." keluh Kyuhyun.
Changmin memutar bola matanya jemu. Tanpa mengulang ucapannya, dia langsung masuk kekelas.
"Dasar pria aneh!" Kyuhyun menghentakkan kakinya dengan kesal lalu ikut masuk kedalam.
Begitu mereka tiba di parkiran, saat ingin pulang kerumah, hal itu terjadi lagi.
Changmin memelukknya tiba-tiba dan tak lama setelah itu angin kencang kembali bertiup.
Kyuhyun mulai curiga. Pasti angin ini bukan angin musim dingin.
"Cepat masuk mobil."
"Kenapa?"
"Cepatlah! Sebelum angin itu datang lagi!" ujar Changmin gusar.
Kyuhyun pun masuk kedalam dan memakai sabuk pengamannya, tak lama kemudian Changmin juga masuk.
"Aku harus pergi. Hanya sebentar. Kau tinggal disini. Aku akan menguncimu didalam mobil. Jadi tak ada yang bisa masuk." ujar Changmin panjang lebar.
Belum sempat Kyuhyun membuka mulut untuk bertanya, Changmin sudah keluar dari mobil, dan benar saja. Changmin benar-benar menguncinya.
Kyuhyun menyandarkan kepalanya dengan kesal.
"Kenapa namja itu selalu merahasiakan sesuatu dariku?!" gerutu Kyuhyun.
Tak lama kemudian Changmin kembali datang. Wajahnya terlihat sangat tegang. Menyiratkan kemarahan.
"Apa yang terjadi?" tanya Kyuhyun.
"Bukan urusanmu untuk tahu, kan?"
Kyuhyun cemberut. "Baiklah. Lalu yang tadi itu angin apa?"
"Musim dingin."
"Bohong!" ketus Kyuhyun. "Kenapa kau selalu merahasiakan sesuatu dariku?!"
Changmin tak menjawab.
"Haish!"
Setelah memakai kemeja Changmin, Kyuhyun menghempaskan dirinya ke tempat tidur. Sudah hampir tengah malam saat itu. Sebelumnya ia mengerjakan tugas kelompok itu. Ia mendapat tugas mengetik, sedangkan Kibum dan Victoria mendiskusikan jawabannya. Ia memang tak ingin berdiskusi karena itulah ia menawarkan diri untuk mengetik. Jadilah dia duduk selama tiga jam didepan laptop.
Baru saja memejamkan mata, ia mendengar pintu balkon diketuk. Kyuhyun mengeluarkan kepalanya dari selimut, melihat siapa yang mengetuk pintu balkon itu.
Kyuhyunpun turun dari tempat tidur. Berjalan menuju pintu.
"Kau sudah pulang?" tanya Kyuhyun sambil membuka pintu.
"Sebentar lagi akan badai salju, sayang."
Kyuhyun menatap Changmin yang tengah berjalan masuk dengan bingung.
"Lalu, kemana yang lain?" tanya Kyuhyun sembari kembali menutup pintu tanpa menguncinya.
"Mereka sebentar lagi akan sampai." ujar Changmin. "Kenapa kau masih berdiri disana?"
Kyuhyun tak menjawab. Ia hanya memperhatikan Changmin yang tengah berdiri didepan meja rias.
"Kyuhyun?" Changmin membalikkan dirinya menatap Kyuhyun.
"Hah iya?" Kyuhyun tergagap. "Bukankah tadi pakaianmu bukan ini?"
Changmin tiba-tiba bersin. Ia menutup mulutnya dengan tangan kanan.
Mata Kyuhyun melebar. Cincin itu. Changmin tidak memakai cincin nikah mereka! Berarti...
Kyuhyun segera berlari menuju pintu kamar yang ada diseberangnya. Namun tangannya ditahan.
"Kau akan kemana, sayang?"
"Kris! Lepaskan aku!" Kyuhyun menyentakkan tangannya.
"Tidak."
Kyuhyun mencoba menggapai kalungnya, namun Kris merebut kalung itu dan membuangnya.
"Kita akan bersenang-senang." Kris menyeringai.
"UMMA!" teriak Kyuhyun.
.
.
TBC
