Disclaimer © Tite kubo

(Bleach bukan punya saya)

Un amore

by

Ann

Warning : AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo, Gaje (Mungkin juga…)

Nggak suka? Bisa tekan 'Back' atau 'Close'

dan

Selamat membaca…

Mengapa semuanya begitu rumit? Padahal yang kuinginkan hanyalah bahagia bersamamu.

Chapter 14 : Kenyataan Pahit

...

Bunyi talenan dan pisau beradu terdengar dari dapur apartemen Rukia, meramaikan apartemen yang lebih sering diisi kesunyian itu, mengingat sang pemilik hanya tinggal sendirian di sana, dan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja. Sepagian Rukia menyibukkan diri di dapur, memasak beberapa macam masakan, mulai dari udang tempura, tumis paprika, sampai kroket kentang dan menatanya ke dalam kotak makan berbentuk persegi panjang. Dua buah bento—bekal makan siang—telah siap di meja, satu untuknya dan satu lagi untuk tunangannya. Ia meletakkan kedua kotak itu di meja, kemudian segera bergegas menuju kamar mandi karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, dan ia masih belum menyiapkan diri untuk berangkat bekerja, bahkan ia belum sempat mandi.

Rukia sudah siap berangkat ke kantor saat ponselnya berbunyi. Ia segera menjawab panggilan dari Ichigo itu, begitu bersemangat karena ia menduga Ichigo akan memberitahu jika pria itu sudah menunggunya di tempat parkir.

"Yo, Rukia."

"Selamat pagi, Ichigo." Senyuman belum menghilang dari wajah Rukia.

"Pagi. Aku hanya ingin bilang, hari ini tidak bisa menjemputmu." Senyum Rukia lenyap seketika. "Ada sesuatu yang membuatku harus sampai di kantor pagi-pagi sekali. Kau tidak apa kan berangkat sendiri?"

Rukia diam, tak menjawab Ichigo.

"Rukia?"

"Ah, maaf. Tidak apa-apa, aku bisa berangkat sendiri," jawab Rukia.

"Kau marah?"

"Tidak. Kenapa harus marah?" Rukia memandangi bento yang sudah ia siapkan.

"Syukurlah. Kalau begitu—"

"Ichigo," potong Rukia. "Nanti siang..." ia ragu melanjutkan kalimatnya. Ia ingin mengajak Ichigo makan bersama tetapi takut mengganggu pekerjaan pria itu.

"Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa," jawab Rukia.

"Itu tidak terdengar seperti tidak ada apa-apa, Rukia. Pasti ada sesuatu. Katakan."

"Kau memerintahku?" protes Rukia.

"Kau tahu bukan itu maksudku."

"Aku tahu," ujar Rukia menyesal. "Apa kau sibuk nanti siang?"

"Aku tak tahu. Ada penyusup yang mengutak-atik sistem informasi yang sedang kami kembangkan, dia merusak beberapa bagian dan kami sedang berusaha memperbaikinya sekaligus mencari sumbernya. Aku tidak bisa memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya."

Rukia menghela napas. 'Rupanya Ichigo benar-benar sibuk,' pikirnya. Ia tidak ingin mengganggu tetapi apa yang ia siapkan akan jadi sia-sia jika tidak diberikan. "Boleh aku ke kantormu?" Ia membulatkan tekad.

"Ada apa?"

Rukia tak menjawab pertanyan Ichigo. "Boleh atau tidak?"

"Tentu. Datang saja, kau tahu alamatnya, kan? atau—"

"Aku tahu tempatnya. Jangan berpikir untuk menjemputku, kau kan sedang banyak kerjaan," potong Rukia.

Terdengar suara tawa Ichigo. "Aku tunggu," ujarnya.

"Oke, sampai ketemu nanti siang." Rukia menutup telepon, menyimpannya ke dalam tas, lalu memasukkan kedua bento ke dalam tas berbeda. Kemudian ia beranjak untuk berangkat ke kantor.

...

Saat bersamaan di Apartemen Orihime :

Rangiku baru saja selesai membuat sarapan, ia beranjak meninggalkan dapur menuju kamar Orihime.

"Hime," panggilnya sambil mengetuk pintu kamar. Tak ada jawaban. Ia memanggil lagi dengan lebih keras. Karena tak juga mendapat jawaban, Rangiku meraih kenop pintu, memutarnya dan mendorong pintu kamar yang tidak terkunci itu hingga terbuka.

"Hime?" Ia melangkah masuk ke dalam kamar yang gelap gulita. Lampu dimatikan dan semua tirai masih dalam keadaan tertutup. Rangiku segera mendekati jendela dan menarik tirai-tirai hingga terbuka, sehingga cahaya matahari limpah ruah ke dalam ruangan. "Ayo bangun, putri tidur," ujarnya seraya berbalik menghadap tempat tidur. Namun, tak ada Orihime di sana. Tempat tidur itu kosong dan nampak begitu rapi. "Hime?" Manajer artis itu segera melangkah menuju kamar mandi untuk mencari, tetapi hasilnya tetap sama. Ia lalu beranjak ke ruangan lain untuk mencari keberadaan Orihime, namun setelah dua kali mencari di seluruh penthouse, hasilnya masih nihil. Orihime tak ditemukan di mana pun.

Cepat Rangiku mengambil ponselnya menghubungi nomor ponsel Orihime. Tersambung namun sang pemilik tak menjawab panggilannya. Ia mencoba lagi, dan tetap tak mendapat jawaban. "Sial!" Ia berdecak. "Ke mana dia pergi?"

...

Sementara itu Orihime tengah berada di kursi penumpang sebuah taksi, menunduk menatap layar ponselnya yang terus menampilkan panggilan masuk dari manajernya. "Maaf, Rangiku-san," ujarnya lirih. "Kalau aku mengatakan ke mana aku pergi kau pasti akan melarangku. Tapi aku harus melakukannya, aku harus menemui Ichigo dan menanyakan tentang cincin itu."

"Nona, kita sudah sampai."

Orihime menoleh. Ia sudah sampai di depan sebuah gedung perkantoran berlantai dua puluh empat. Gedung tempat kantor Ichigo berada.

...

Zangetsu IT itu tertulis dengan huruf besar di belakang meja resepsionis berbentuk setengah lingkaran. Di balik meja itu duduk seorang wanita yang menyambut Orihime dengan senyum ramah.

"Selamat pagi, selamat datang di Zangetsu IT Solution. Ada yang bisa saya bantu, nona?"

Orihime balas tersenyum sebelum mengutarakan tujuan kedatangannya, "Aku ingin bertemu Kurosaki-k—maksudku Ichigo Kurosaki."

"Nama anda nona?" tanya wanita bersetelan merah muda itu, di name tag-nya tertulis Aoi Hanabishi.

"Inoue. Orihime Inoue."

"Apakah anda sudah memiliki janji temu dengan Kurosaki-san?" Aoi bertanya lagi.

"Tidak. Tetapi Kurosaki-san mengenal saya," Orihime menjawab.

"Baik. Mohon tunggu sebentar, saya akan tanyakan apakah Kurosaki-san bisa menerima tamu pagi ini."

Orihime mengangguk dan menunggu dengan sabar sementara Aoi berbicara di telepon.

Aoi menutup telepon, lalu menoleh kembali ke Orihime. "Maaf sekali, Inoue-san. Kurosaki-san sedang tidak bisa meneria tamu saat ini, beliau sedang berada di ruang rapat," jelasnya.

Orihime tidak dapat menutupi kekecewaannya. "Kapan rapatnya selesai?" ia bertanya.

"Sepertinya akan lama, karena saya diberitahu Kurosaki-san tidak bisa menerima tamu sampai nanti siang," Aoi menjawab dengan sopan.

"Tak bisakah kau sampaikan pesan padanya bahwa aku datang? Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Kurosaki-kun," pinta Orihime.

"Maaf, Inoue-san. Saya tidak bisa melakukannya."

"Tapi..."

"Saya benar-benar minta maaf karena tidak bisa membantu. Tetapi anda bisa menunggu jika anda mau." Aoi melambaikan tangan ke sofa krem yang ada di sudut ruangan. "Saya sudah meninggalkan pesan tentang kedatangan anda."

"Aku akan menunggu," ujar Orihime seraya berbalik dan menuju sofa. Ia mengeluarkan ponselnya sembari menunggu. Sesaat setelah menghidupkan ponselnya, puluhan pesan masuk, ada pesan suara, ada pula pesan text, semuanya dari manajernya. Ia langsung menghapus semuanya tanpa membaca atau mendengarkan isi pesan-pesan itu, lalu mengetik sebuah pesan singkat untuk Rangiku.

Aku akan pulang nanti sore.

...

Dua jam kemudian Orihime masih duduk di sofa. Dua gelas teh sudah ia habiskan selagi menunggu. Ia berusaha bersabar padahal sebenarnya sangat ingin segera bertemu dengan Ichigo, dan menanyakan tentang cincin itu. Tadi ia sudah menanyakan ke Vizard foundation mengenai nama orang yang menyumbangkan cincin itu, dan benar saja, nama Ichigo tercatat sebagai nama donatur.

"Hime?"

Orihime menoleh ke arah suara. "Tatsuki-chan?" Ia segera menghampiri Tatsuki dan langsung memeluk kawan lamanya itu. Kawan lama yang memperkenalkannya dengan Ichigo.

"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Tatsuki setelah Orihime melepas pelukannya. Ia tak nampak senang melihat Orihime. "Kau ke sini bukan untuk menemui Ichigo, kan?"

Orihime mundur selangkah. "Kenapa bertanya begitu? Kau tak suka aku datang?"

Tatsuki menggeleng. "Bukan begitu," ujarnya. "Hanya saja... Kupikir kau tidak akan datang ke sini lagi, setelah kau dan Ichigo... kau tahu maksudku. Mungkin akan jadi canggung kalau kalian tiba-tiba bertemu di sini."

"Aku ke sini untuk menemui Kurosaki-kun," kata Orihime.

"Tapi..."

"Ada sesuatu yang harus kutanyakan padanya," jelasnya. "Apa rapatnya sudah selesai? Aku sudah dua jam menunggu."

"Aku tidak yakin Ichigo mau menemuimu," ujar Tatsuki.

"Aku juga tapi aku harus bertemu dengannya, ada sesuatu yang harus dia jelaskan padaku. Tolong bawa aku padanya," pinta Orihime.

Tatsuki menggeleng. Masih terlihat tak mau membantu Orihime. "Kumohon..." Orihime meminta lagi.

Tatsuki menghela napas. "Aku akan membawamu padanya, tapi jika Ichigo bilang tak mau bicara denganmu, kau harus pergi. Mengerti?" Orihime mengangguk. "Terima kasih," ucapnya.

...

Tok! Tok!

"Masuk." Ichigo berkata tanpa mengangkat mata dari layar komputernya.

Terdengar suara pintu terbuka lalu langkah seseorang memasuki ruangan.

"Apa aku mengganggu?"

Setelah mendengar suara Tatsuki barulah ia mengangkat matanya dan memandang rekan kerjanya itu. "Ada apa, Tatsuki?"

"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, kau ada waktu?" tanya Tatsuki hati-hati.

Kening Ichigo berkerut. Ia menatap layar komputernya, yang masih menampilkan pekerjaan yang belum terselesaikan, lalu kembali ke Tatsuki. "Siapa memangnya?"

"Anu... i-tu..."

"Aku yang ingin bertemu denganmu, Kurosaki-kun." Orihime muncul di pintu, bergerak dengan cepat mendekat ke meja Ichigo.

Untuk sesaat Ichigo terkejut dengan kemunculan Orihime. Tetapi kemudian ia berkata dengan dingin, "Tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu, Inoue. Pergilah."

"Aku ada." Orihime berkeras.

"Apa pun itu aku tak mau mendengarnya," sahut Ichigo. "Tatsuki tolong bawa dia keluar," perintahnya. "Dan lain kali jangan membawanya masuk ke kantor ini lagi." Ichigo menambahkan peringatan tajam.

"Kenapa kau begitu membenciku?" tanya Orihime.

"Bawa keluar," perintahnya lagi tanpa memandang Orihime.

"Hime, sebaiknya kau pergi." Tatsuki meraih lengan Orihime dan menariknya ke pintu. Namun Orihime menepis tangannya dan berlari ke samping Ichigo. "Kenapa kau begitu jahat, Kurosaki-kun? Aku hanya meminta waktumu sebentar," ujarnya.

"Aku sibuk. Pergilah." Ichigo berkata dengan dingin. Matanya sama sekali tak mau memandang Orihime.

"Kurosaki-kun, kumohon..." Orihime mengiba-iba.

"Tatsuki, bawa dia keluar." Ichigo dengan jelas mengabaikan permohonan Orihime.

Tatsuki segera bergerak ke sisi Orihime, kembali memegang lengannya dan menariknya. "Ayo, Hime." Sekali lagi Orihime menyentak tangan Tatsuki. "Aku tahu kau marah, Kurosaki-kun. Aku mengerti kenapa kau semarah ini. Itu karena kau sangat mencintaiku, kan?"

Bagian akhir kalimat Orihime membuat Ichigo menoleh padanya. "Mencintaimu?" Ia tersenyum sinis. "Itu dulu, sekarang aku bahkan tak ingin melihatmu." Ichigo menutup kata-katanya dengan tajam dan dingin.

"Tidak. Kau berbohong." Orihime menggeleng. "Kau hanya terlalu terluka dengan penolakanku hingga berkata begitu. Kau masih mencintaiku. Aku yakin itu," ujarnya.

Kening Ichigo berkerut dalam. "Dari mana kau dapat kepercayaan diri sebesar itu?" ia bingung. "Bagaimana bisa kau berpikir aku masih memiliki perasaan padamu setelah semua yang kaulakukan?"

"Aku punya buktinya." Orihime mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya dan meletakkannya di meja di depan Ichigo. "Apa yang tertulis di dalam cincin itu adalah buktinya. Kau mencintaiku. Selamanya kau akan tetap mencintaiku."

Bibir Ichigo menipis saat menatap kotak beledu biru itu. Kotak itu dulunya adalah miliknya. Ia masih mengingat jelas isi kotak itu. Sebuah cincin berlian yang ingin ia berikan pada Orihime, sebelum wanita itu mematahkan hatinya. "Dari mana kau mendapatkannya?"

"Itu tidak penting," jawab Orihime. "Apa yang tertulis disanalah yang penting. IchiHime, amare aeternum. Tulisan itu terukir di dalam cincin. Itu bukti kalau kau mencintaiku."

Salah satu sudut bibir Ichigo terangkat sedikit, membentuk senyum yang terkesan sinis di wajahnya. Ia menggerakkan tangannya meraih kotak beledu itu, membukanya perlahan. Berlian di cincin itu bersinar tertimpa cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca besar di samping meja kerja Ichigo. Ichigo mengeluarkan cincin dari dalam kotak, mengangkatnya hingga sejajar dengan matanya. Mengamati benda itu seolah benda itu adalah benda paling eksotik di dunia.

"Cinta selamanya..." ia berbisik. "Aku meminta tulisan itu diukir di dalam cincin." Ia menambahkan dengan suara lebih nyaring. "Malam itu di Perfetto La Pasta, aku berniat melamarmu," ujarnya pada Orihime. "Semuanya kurencanakan dengan seksama, mulai dari memesan ruang VIP, dekorasinya, bahkan sampai ke makanan yang disajikan. Aku juga mendatangi toko bunga terbaik di kota untuk memesan sebuah karangan bunga, rangkaian mawar merah yang mengelilingi lima tangkai mawar putih." Orihime terdiam. Matanya tak bisa lepas dari Ichigo. "Dan tentu saja, aku sudah menyiapkan sebuah cincin sebagai penanda keseriusanku. Cincin berlian dengan ukiran khusus di dalamnya." Saat mengatakannya mata Ichigo tak lepas dari cincin di tangannya. "Semuanya sempurna." Ia melanjutkan kalimatnya. "Atau setidaknya bagiku semuanya begitu sempurna. Lalu kau muncul, tersenyum padaku, saat itu kupikir aku tidak ingin kehilanganmu. Aku harus segera melamarmu. Sayangnya, lamaran itu tak pernah terucap. Tidak pernah kusampaikan padamu." Ia menoleh pada Orihime, memberi wanita itu sebuah senyuman. Senyuman biasa, tanpa kesedihan apalagi kegetiran di dalamnya, senyum sopan yang biasa ia berikan pada kliennya.

"Maafkan aku, Kurosaki-kun. Aku benar-benar tidak tahu," ucap Orihime penuh pernyesalan.

Ichigo tak menanggapi permintaan maaf itu. Ia menegakkan tubuhnya dan melangkah menuju jendela yang terbuka, bersandar di sana sambil masih memandangi cincin. "Dasar, padahal sudah kubilang cincin ini dibuang saja," ia menggumam. Gumaman yang ia tujukan untuk seorang gadis nan jauh di sana, gadis yang tanpa sengaja memungut cincinnya pada malam itu. Gadis yang sekarang melekat erat di hatinya.

"Aku mencintaimu, itu benar." Perkataan Ichigo membuat wajah Orihime berubah cerah. "Sangat mencintaimu, sehingga berpikir kita bisa bersama selamanya." Cara Ichigo melanjutkan kalimatnya membuat Orihime berubah pucat. "Sayangnya pikiranku salah, cinta itu tak bisa bertahan selamanya." Ichigo melempar cincin itu ke udara lalu menangkapnya, kemudian dengan sebuah lemparan kuat ia membuang cincin itu keluar jendela.

"Tidak!" Orihime berteriak histeris.

Ia menoleh pada Orihime. "Aku bersyukur kau memutuskanku hari itu," ujarnya lambat-lambat. "Sangat bersyukur tidak jadi melamarmu." Ia tersenyum lagi, kali ini senyuman lembut yang sayangnya bukan diperuntukkan bagi Orihime. "Karena jika aku melakukannya, aku tak akan bertemu dengan seseorang yang benar-benar mencintaiku sepenuh hati. Seseorang yang membuatku sekali lagi jatuh cinta, tapi kali ini aku yakin, cinta ini akan bertahan selamanya."

Orihime membeku. Untuk beberapa saat ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Ia menunduk dalam. "Kau tidak bisa melakukan ini padaku..." ia berbisik. "Kau tidak boleh..."

"Hime..." Tatsuki yang selama menit-menit terakhir ini hanya menjadi penonton akhirnya buka suara. Ia mendekati Orihime, menyentuh pundaknya.

Orihime mengangkat matanya. Menatap lurus ke arah Ichigo. "Kau tak boleh mencintainya! Kau hanya boleh mencintaiku! Kau milikku!" ia berteriak. "Aku hamil. Kau tak boleh meninggalkanku saat aku mengandung anakmu."

...

Di saat bersamaan Rukia tiba di lobi Zangetsu. Menyapa Aoi sebentar, sebelum melangkah masuk ke dalam kantor. Ia melangkah melalui meja-meja karyawan Ichigo, menyapa beberapa orang yang pernah dikenalkan Ichigo padanya saat kunjungan sebelumnya ke kantor itu.

"Kurosaki-san sedang kedatangan tamu, Kuchiki-san," ujar Kira, salah satu karyawan Ichigo.

"Oh, begitu. Tidak apa-apa kan kalau aku menunggu di sini?" tanya Rukia.

"Tentu saja," ujar Kira. "Kau bisa menunggu di sofa itu, Kuchiki-san." Ia menunjuk sofa di bagian tengah ruangan, yang diperuntukkan bagi tamu.

"Terima kasih." Rukia mengangguk dan melangkah menuju sofa itu. Namun langkahnya seketika terhenti saat mendengar teriakan yang berasal dari ruangan Ichigo. Ia memutar arah langkahnya. Bergegas menuju pintu. Langkahnya kembali terhenti di depan pintu, saat teriakan yang baru kembali terdengar.

"Aku hamil. Kau tak boleh meninggalkanku saat aku mengandung anakmu."

Ia mengintip dari pintu yang terbuka. Melihat bahwa di ruangan itu ada Ichigo, Tatsuki, dan Orihime Inoue. Dan teriakan yang ia dengar berasal dari mulut Orihime Inoue.

"Aku mengandung anakmu, Kurosaki-kun. Darah dagingmu!" Inoue kembali melanjutkan kata-katanya.

Rukia memucat. Tubuhnya gemetar. Tanpa sengaja ia menjatuhkan tas berisi bento yang ia bawa. Inoue hamil anak Ichigo. Itu kenyataan mengerikan yang tak pernah ia perkirakan sebelumnya.

...

bersambung...

...

Review's review:

Dearest

Makasih dah RnR ya. Nih udah dilanjutin.

Loly Jun

Ini dah dilanjut, say. Makasih dah RnR ya. Semoga kali ini kamu bisa komen banyak. Wkwkwk...

...

Halo, semuanya. Makasih sudah menyempatkan diri baca fic ini ya, semoga terhibur dengan apa yang saya buat. Kalo ga terhibur, yah... kalian mungkin bakal mencak-mencak. Hehe...

Sampai jumpa di chap selanjutnya *mungkin chap depan fic ini bakal saya tamatin*, maaf jika ada kekurangan.

See ya,

Ann *-*