SuLay fanfiction Indonesia
The Killers
By
Flying white unicorn
Zhang Yixing * Kim junmyeon
EXO
DLL
Rate M
Don't try this at home/school/'semak-semak'
Wkwk^^
YAOI
Don't plagiat
You'll never fly if you're too scared of the height
You'll never live if you're just too scared to die
…..
Yixing terbangun dengan sensasi ganjil yang membuat tangannya meraba-raba kasur demi mematikan tubuhnya masih berada di atas bumi. Rasa berat yang mengkhawatirkan seperti terbenam dalam padatnya tanah. Sakit terasa di bahu nya, terasa seperti terbakar dan tertusuk. Bau berbagai macam zat mulai tercium di hidungnya. Perlahan Yixing membuka matanya, bias cahaya yang menyilaukan membuat matanya kembali tertutup. Membiasakan cahaya masuk ke mata kemudian memandang sekeliling. Yixing terasa tidak cukup asing di ruangan itu.
" Kau sudah bangun?."
" Jeonghan?."
" Ne, aku senang kau sudah sadar." Ucap Jeonghan kembali sambil menggengam tangan Yixing.
" Terimakasih, dimana Junmyeon?."
" Tadi triple Kim disini semua, sekarang aku tidak tahu lagi dimana mereka. Apa kau menginginkan sesuatu? Minum?."
" Tidak Jeonghan, aku hanya ingin berdiri."
" Jangan, bahu mu masih proses penyembuhan."
Yixing menatap bahu kirinya yang tertutup perban. Terasa sedikit aneh karena seperti sekitar bahunya berwarna sedikit gelap.
" Kenapa bahu ku?."
" Kau tertusuk pisau."
" Bukan.. maksudku kenapa bahu ku berwarna seperti ini?."
" Er.. itu tanyakan nanti pada Jongdae."
" Apa bahu ku membusuk?."
" Tidak-tidak, hanya berwarna kurang cantik saja." Ucap Jeonghan tersenyum menyemangati Yixing
Yixing menatap Jeonghan dan membalas senyumnya, ia tidak ingin Jeonghan merasa khawatir dengan dirinya. Sesungguhnya Yixing ingin membuka perban di bahunya, ia sudah memastikan bahwa lukanya pasti lebih mengerikan dari kulit sekitar bahu yang ia lihat itu. Tapi Yixing menahan keinginannya.
Mata Yixing kembali menutup, mata Jeonghan terus memandanginya. Seakan menunggu Yixing meminta sesuatu darinya untuk merasa lebih baik. Tapi tidak ada yang lebih baik dari mengharap kedatangan Junmyeon disana. Ketiadaan sosok Junmyeon membuat Yixing merasa hampa. Ingatannya kembali pertemuannya bersama ayahnya. Yixing tidak menduga bahwa ayahnya benar-benar akan menancapkan pisau ke tubuhnya. Yixing mengingat mata ayahnya memandang dirinya, mulai menerka-nerka seperti itulah tatapan seorang ayah kepada anaknya. Atau tatapan seseorang kepada musuhnya.
.
.
Jongin menatap malas lawan bicara di depannya, menilai bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah sebuah omong kosong. Beberapa kali menguap setiap lawan bicaranya itu mengeluarkan pendapatnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, disanalah nyawa Jongin berada. Tidak hanya nyawa dirinya melainkan juga nyawa kedua saudara angkatnya Junmyeon dan Jongdae. Mempercayakan orang yang tidak pernah sekalipun ingin bekerjasama dengan orang yang beratas nama Kim, merupakan sebuah tindakan bahaya bagi Jongin. Tapi seperti biasa semua keputusan Junmyeon tidak bisa di ganggu gugat. Jongin dan Jongdae hanya sebagai team pelaksana, bukan team perencana. Junmyeon yang memiliki hak perencana dan pemutus sesuatu hal. Bahkan jika itu berkaitan dengan nyawa mereka.
" Jadi bagaimana? Sudah mengerti rencanaku?." Ucap Kris
" Whatever.. Jadi kapan kau membunuh Kim Jae Jin?." Tanya Jongin
" Maksudmu tepatnya, kapan kalian menyerahkan nyawa kalian?." Tanya Kris
" Kau…"
" Jongin tahan, ya kami sudah menjelaskan peraturan dan cara kami mati nantinya. Kuharap kita bisa saling menghormati cara kerja kita." Ucap Junmyeon
" Hmm baiklah, sejujurnya aku hanya mempunyai dendam dengan Kim Jae Jin. Bahkan aku tidak terlalu memperdulikan kalian. Tapi tampaknya nyawa kalian sama berartinya dengan nyawa Jae Jin maka kesempatan itu tidak akan ku sia-siakan."
" Kau memang sialan…" ucap Jongin
" Haha mau kupesankan peti untukmu Jongin? Warna apa?."
" Ingat Kris perjanjian kita, urusan pemakaman kami hanya di urus oleh Yixing dan rekan-rekan kami. Kau hanya berhak memastikan detak jantung kami saja." Ucap Jongdae
" Tentu..tentu…"
Kris tersenyum sinis memandangi ketiga Kim yang duduk di depannya, ketiga orang yang bahkan sepertinya sudah mulai di ikuti oleh malaikat maut mereka.
.
Junmyeon mengendarai mobilnya membawa kedua saudara angkatnya. Jongin disebelahnya memandang keluar sepuasnya. Berbeda dengan Jongdae yang sibuk membaca buku yang lumayan tebal. Junmyeon mencoba membawa mobilnya dengan tenang untuk tidak mengganggu momen-momen mereka.
" Untuk apa kau membaca buku itu tidak akan habis juga." Ucap Jongin sinis
" Paling tidak akhir-akhir hidupku lebih berarti daripada di habiskan untuk hal-hal yang tidak berguna." Balas Jongdae
Jongin terdiam mendengar jawaban dari Jongdae, Jongdae memang jarang berbicara sekali ia mengeluarkan suara ucapannya biasa membekas di hati.
" Junmyeon hyung, bagaimana kita kesekolah lewat depan?." Ucap Jongin
" Wah kau langsung ingin belajar?." Canda Junmyeon
" Tidak, aku mau berjumpa dengan Kyungsoo." Ucap Jongin
" Aku juga mau berjumpa dengan Minseok." Ucap Jongdae
" Oh baiklah." Ucap Junmyeon
Junmyeon yang tidak terlalu pasti kenapa kedua Kim itu ingin menjumpai para pria imutnya. Mungkin karena semakin dekat umur yang mereka akan habiskan. Andai semua orang manusia bisa tahu kapan kematian akan mendekati mereka, mungkin semua orang tidak akan membuang waktu mereka sia-sia.
Mobil Junmyeon terparkir di depan, Jongin dan Jongdae turun melalui aula sekolah. Sedangkan dirinya mengitari sekolah untuk berjumpa Yixing di ruangan pengobatan mereka. Menatap kekasih selama mungkin dan berbicara dengan mereka tentang banyak hal. Mungkin itu salah satu cara untuk belajar menerima kematian mereka nantinya.
Langkah kaki Jongdae terhenti melihat sosok yang dicarinya di depannya. Minseok menatap puncak rambut Jongdae, memastikan keamanannya. Sementara laki-laki yang dipandanginya itu tidak bergeming ataupun melakukan sesuatu yang mengancam dirinya. Minseok memilih untuk terus berjaga-jaga.
" Tetap di tempatmu." Ucap Minseok
Jongdae masih diam tidak bergerak. Tangan yang semula di dalam poket celannyan dikeluarkan untuk mengurangi kecurigaan laki-laki di depannya itu.
" Bukankah kau menunggu ku?." Tanya Jongdae
" Menunggumu? Delusi apa lagi itu."
" Kalau tidak coba jelaskan mengapa kau masih berada di sekolah ini sedangkan Yixing tidak lagi masuk dari sebulan yang lalu."
" A-Aku..."
" Kau bisa membohongi dirimu sendiri, mengatakan kau seorang yang profesional sehingga masih berjaga di pos mu. Tapi kau tidak bisa membohongi perasaanmu."
Jongdae maju kedepan mendekati Minseok yang tidak lagi menolak untuk berdekatan dengan dirinya.
" Aku juga mencintaimu, kuharap kita akan berjumpa di masa mendatang nantinya."
Tanpa permisi Jongdae mencium bibir kecil Minseok, tidak ada penolakan dari Minseok. Yang dirasa Jongdae hanya basah ditangannya yang memegang lembut pipi Minseok. Air mata Minseok mengiringi ciuman pertama dan mungkin terakhir mereka.
Jongin menatap kaki Kyungsoo yang berayun di atas tempat duduk mereka, dulu Jongin selalu beranggapan mengayun kaki hanya dilakukan oleh perempuan. Entah mengapa ketika Kyungsoo melakukannya hal itu membuat dirinya semakin jatuh cinta padanya.
" Aku akan pergi.."
" Aku akan menunggumu."
" Tidak perlu ditunggu, kau harus teruskan hidupmu dan jangan ke bar sendirian lagi."
" Aku akan ke bar denganmu saja."
" Kyungsoo dengarkan apa yang aku katakan!."
" Jongin, hormati keputusanku. Aku akan menunggumu, tidak peduli kau akan kembali atau tidak. Aku akan menunggumu."
" Kau keras kepala sekarang."
" Dan kau menyukaiku."
Kyungsoo tersenyum pada Jongin, hal yang semula tidak di prediksikan oleh Jongin. Selama ini Jongin takut akan berpamitan pada Kyungsoo. Menyangka dirinya akan menangis histeris dan memeluk Jongin. Tapi hanya senyuman manis yang diberikan Kyungsoo kepadanya. Mata Jongin mulai membasah, kini dirinya lah yang jatuh dalam air mata.
" Jangan melihatku." Ucap Jongin memalingkan wajahnya
" Bagaimana mungkin aku tidak melihat kekasihku jika ini hari terakhir kita berjumpa." Ucap Kyungsoo memeluk Jongin dan mengusap punggungnya.
" Aku akan menunggumu…" Bisik Kyungsoo lembut.
Yixing membuka perlahan perban di bahu nya yang terluka, memang belum waktunya ia membuka perban tetapi perasaan khawatir mulai menghampirinya karena warna di sekitar perban nya semakin menghitam. Yixing menatap luka nya dengan perasaan sedih. Seperti yang sudah ia bayangkan, bekas luka yang di jahit dengan kulit yang berwarna hitam seakan membusuk itu.
" Kau sudah bangun?."
" J-Junmyeon jangan kemari!." Teriak Yixing
" Kenapa Yixing?." Tanya Junmyeon panik
" A-Aku jelek."
Junmyeon mendekat dan menatap bekas luka Yixing yang berwarna hitam. Sudah tentu inilah penyebab ia mengatakan dirinya jelek.
" Tidak, kau tidak jelek. Kau sempurna." Ucap Junmyeon
" Tidak Junmyeon sana!."
" Yixing, aku mencintaimu sebagai seorang Yixing, Yixing yang ku kenal dan kutemui di pemakaman. Tidak ada yang berubah." Ucap Junmyeon memeluk Yixing
" Hiks..Hiks.."
" Simpan tangisanmu, aku lebih suka melihat warna hitam ini daripada mengetahui kau pergi meninggalkanku."
" Junmyeon…"
" Apapun yang terjadi, ingatlah aku akan selalu kembali kepadamu. Baik sekarang ataupun dimasa mendatang nantinya."
" Jangan pergi.."
Junmyeon kembali memeluk erat tubuh Yixing, mendekap beku tubuh di depannya seakan membiarkannya masuk kedalam badannya juga menyatu.
.
.
Kris terlahir memang bukan untuk menjadi seorang pembunuh, tapi suatu kenyataan mengajarkannya untuk menjadi pembunuh. Pembantaian keluarganya tanpa alasan yang jelas dilakukan oleh pamannya sendiri. Orang yang seharusnya berkunjung ketika thanks giving ataupun yang menjadi santa ketika natal pertamanya. Sejak saat itu Kris yang dibesarkan dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi juga cara untuk bertahan hidup. Masa kecil yang tidak dia nikmati karena dipenuhi ketakutan dan dendam.
Kris mengambil ponselnya menekan kontak yang ingin dia hubungi, dia akan mengakhiri segalanya. Memutuskan semua dendamnya, sudah cukup rasanya hidup dalam ketakutan dan dendam.
" Halo.. Besok sebelum malam aku akan membunuh Jae Jin, bawa Yixing kemari dan kujamin dia aman, satu lagi kuharap kau dan kedua Kim lainnya bersiap mati malam hari nya tepat dihadapanku." Ucap Kris dan menutup teleponnya.
Lelaki di depan Kris tersenyum mendengar perkataan Kris di telepon. Tanpa berbicara apapun Sehun melangkah keluar ruangan meninggalkan Kris yang masih asik menghisap rokoknya.
.
.
Jeonghan menatap kepergian Yixing dan Junmyeon, sebenarnya ia mempunyai seribu macam alasan untuk menahan Yixing agar tetap di ruangan pengobatan itu. Tapi entah mengapa segala rasa mengalah Junmyeon membuat dirinya akhirnya mengembalikan Yixing pada Junmyeon. Jeonghan tahu bukan hanya dirinya yang mencintai Yixing. Junmyeon orang yang telah dianggapnya paling dekat dengannya juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Bedanya adalah Yixing membalas perasaan Junmyeon, Jeonghan memilih menutup perasaan yang dia miliki. Tidak semua yang ia inginkan bisa ia dapatkan. Jeonghan pun menutup pintu ruangan pengobatan itu. Berjibaku dengan segala perasaan yang ia miliki.
" Kita mau kemana?." Tanya Yixing
" Makan ice cream, main wahana air, makan makanan enak."
" Hmm. Makan ice cream boleh tapi yang lain tidak." Ucap Yixing
" Kenapa?."
" Aku punya ide yang lebih baik lagi." Ucap Yixing
Junmyeon menatap wajahnya di cermin depannya, Yixing masih asik memakan ice cream mangkoknya sambil menunggu dirinya.
" Kau yakin ini cocok untukku?." Tanya Junmyeon
" Ne tentu saja, kau tampan dengan gaya rambut apa saja." Jawab Yixing menatap Junmyeon yang telah siap di rapikan rambutnya.
" Aku tidak pernah menyangka memangkas rambut masuk dalam kategori kencan."
" Haha, ayo kalau sudah siap mari kita pergi lagi." Ucap Yixing
Dengan gaya rambut barunya Junmyeon terlihat lebih dewasa dan tampan, Yixing menatap Junmyeon dengan bahagia. Jika ini saat-saat terakhir mereka menghabiskan waktu bersama maka saat itulah dia gunakan untuk memperhatikan Junmyeon. Membuatnya lebih tampan dan memori yang manis bersama.
" Kita kemana lagi?."
" Ayo ke café itu, ada yang sudah menunggu kita." Jawab Yixing
Tring!
Bunyi bel di atas pintu masuk café, Junmyeon menatap sekeliling mencoba mengenal siapa yang dibilang Yixing telah menunggu mereka.
" Baekhyun! Chanyeol!."
Junmyeon menyipitkan matanya, wajah kedua orang yang tidak asing lagi. Orang yang telah mengurung Yixing di bawah perintah Kris.
" Orang-orang Kris?." Tanya Junmyeon menahan Yixing untuk maju lebih dekat dengan Baekhyun dan Chanyeol
" Tenanglah, ayo." Ucap Yixing menggandeng tangan Junmyeon yang menahannya.
" Apa sudah lama?." Tanya Yixing
" Belum." Jawab Baekhyun
" Sudah." Jawab Chanyeol
" Haha maafkan aku, apa kabar kalian?."
" Masih sama seperti dulu." Jawab Chanyeol menatap Junmyeon sinis
" Chanyeol, kau tidak boleh begitu. Kita di undang oleh Yixing kemari." Bisik Baekhyun
" Lalu? Aku juga tidak ingin datang." Ucap Chanyeol
" Hentikan sifat kekanak-kanakan mu itu." Ucap Baekhyun
" Ehem..Ehem.."
" Eh ne Yixing.."
" Aku hanya ingin berjumpa dengan kalian, aku rindu Baekhyun tapi kurasa dia tidak akan menjumpaiku seorang diri."
" Kenapa, dia mandiri." Ucap Chanyeol
" Ne tapi aku membawa Junmyeon tidak akan enak bila dia sendirian." Ucap Yixing
" Siangkatnya Yixing mengajak kalian double date bersama kami." Ucap Junmyeon
" EH."
Baekhyun dan Chanyeol diam dengan wajah memerah, sedangkan Yixing menatap Junmyeon seakan Junmyeon berbicara lebih dari porsinya.
" Aku tidak salah kan?." Tanya Junmyeon
" Oh sudahlah, Baekhyun kau mau pesan apa?."
Yixing memang mengatur double date untuk mereka, memang bukan karena alasan dirinya rindu dengan Baekhyun melainkan ingin menjalin kerjasama. Rencana yang tinggal rencana, sampai berakhir pertemuan mereka baik Yixing maupun Junmyeon tidak ada berbicara soal suatu rancangan apapun. Tampaknya Junmyeon telah pasrah dengan apapun itu. Yang Yixing tahu Junmyeon akan meninggalkannya. Karena hari ini sepertinya hari terakhir mereka bersama.
.
.
Junmyeon mengendarai mobilnya dengan perlahan, hari masih siang dan ia sama sekali belum memikirkan alasan apa yang di ajukannya pada Yixing untuk membawanya ke tempat Kris. Jae Jin harus dibunuh dengan cara apapun. Hanya itu satu-satunya cara untuk memastikan Yixing aman dikemudian harinya nanti. Baik Jongin dan Jongdae mereka telah berjanji akan berjumpa tepat sebelum matahari terbenam. Entah mengapa mereka yang sama sekali tidak yakin dengan rencana Kris mendadak menjadi menghitung detik-detik kematian yang akan menghampiri mereka. Hanya Junmyeon satu-satunya yang bersiap dengan segala macam kemungkinan. Termasuk menerima kematian yang semakin datang mendekat.
" Yixing, aku ingin membawamu untuk berjumpa Kris." Ucap Junmyeon
" Untuk apa?." Tanya Yixing
" Hmm.. aku tidak bisa menjelaskannya."
Yixing terdiam tanpa Junmyeon menjelaskan rasanya Yixing sudah tahu alasan Junmyeon membawa dirinya berjumpa dengan Kris.
" Baiklah."
" Yixing, maukah kau berjanji sesuatu?."
" Apa itu?."
" Berjanjilah, jika terjadi sesuatu denganku, kau harus kembali ke China."
Air mata mengalir di sela mata Yixing, Junmyeon yang tidak menatapnya menyadari Yixing menangis dalam diamnya. Junmyeon menggengam tangan Yixing kuat.
" Maukah kau berjanji padaku?." Ulang Junmyeon
" Apakah secepat ini?." Tanya Yixing
" Hiduplah dengan baik, bertemanlah dengan yang kau inginkan."
" Junmyeon…"
" Berjanjilah?."
" Ne aku berjanji."
Junmyeon tersenyum memandang Yixing sekilas, kembali memusatkan pikirannya pada laju mobil yang ia bawa. Setidaknya ia bisa lebih tenang meninggalkan Yixing. Walau berat yang ia rasakan.
I need an angel's hand
Cause a devil kissed me
Junmyeon menatap gudang yang berwarna kecoklatan, setengahnya seperti bekas terbakar dan terbengkalai. Disebelahnya ada sebuah pohon besar dengan ayunan karat yang terdiam seakan menunggu sesuatu. Junmyeon sangsi ada orang yang berani datang kemari. Tempat ini tidak lebih dari sebuah persemayaman iblis. Kris yang telah berada di dalam menunggu dengan tenang. Menyambut kedatangan Junmyeon dan Yixing.
" welcome-welcome."
" Tempat apa ini?." Tanya Yixing
" Hmm bekas rumah nenek dan kakek kita kurasa." Jawab Kris
" Rumah Jae Jin?." Tanya Junmyeon
" Oh aku sangsi apa dia mau menyebut ini rumah atau penjara."
" K-Kenapa?."
" Sudah tidak usah di pikirkan. Aku sudah mengundangnya kemari. Mengajaknya berjumpa face by face, kau siap Yixing?."
" Ne." Ucap Yixing
Kris mungkin tidak mengetahui bahwa ini bukanlah pertemuan pertama Yixing dengan Jae Jin. Mungkin yang pertama kali Yixing bisa lolos dari mautnya, tapi siapa yang tahu kali kedua ini.
" Welcome-welcome back." Sapa Kris lagi
Yixing dan Junmyeon menoleh kebelakang, melihat seorang laki-laki berjalan dengan penuh perhitungan. Jae Jin, Tangan Yixing dibawa Junmyeon agak kebelakang. Menghindari dari datangnya manusia yang seakan tanpa bayangan itu.
" Kris, setelah bersembunyi sekian lama akhirnya kau berani muncul di depanku."
" Aku tidak bersembunyi, tapi aku mempersiapkan lawan yang pantas untukmu."
" Haha lawan?."
Tawa dingin Jae Jin membuat Yixing merinding, dia belum pernah melihat interaksi ayahnya dengan orang lain. Atau lebih tepatnya dengan mangsa nya.
" Rindu dengan tempat ini?." Tanya Kris
" Bukan urusanmu."
" Kurasa yang tertinggal hanya dapur ini, mungkin kau memiliki banyak kenangan disini. Seperti mencuri makanan mungkin? Atau mengais-ngasi tempat sampah mencari sepotong roti."
" Diam!."
" Ops.. maafkan aku paman, aku tidak ada maksud mengulang kenangan masa lalu mu."
Jae Jin menatap Yixing yang diam ketakutan mendengar percakapan antara dirinya dengan Kris.
" Mengigil Zhang?."
" Haha kau aneh paman, kau memberikan Kim pada anak-anak angkatmu, tetapi tidak dengan anak kandungmu. Bukankah dia seharusnya Kim Yixing?."
" Dia bukan anakku."
" Tentu, kurasa dia pun tidak mau mempunyai ayah seperti iblis."
Dor!
Kris menembakkan timah panas ke arah Jae Jin, demi apa dia dapat mengelak serangan mendadak dari Kris.
" Itu kau sebut lawan yang setimpal?." Remeh Jae Jin
Kris meringis memandang lawannya, seluruh emosi memaksanya memuntahkan beberapa peluru lagi.
Dor!
Door!
Yixing dan Junmyeon menunduk menghindari serangan Kris yang brutal, tampaknya Kris sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Dan belum ada sebuah peluru pun masuk ke dalam tubuh Jae Jin. Keadaan diam sejenak, Junmyeon menatap curiga dibalik sisa bangunan yang terjatuh yang menutupi dirinya dan Yixing yang bersembunyi.
"Jangan pergi." Bisik Yixing
Yixing memusatkan konsentrasinya, ia melihat bagaimana ayahnya tadi mengelak. Dia tidak terlalu beda dengan ayahnya. Yixing rasanya mengerti bagaimana cara bekerja ayahnya, tapi haruskah ia membuat ayahnya tumbang.
" Ku-Kurasa bukan peluru.." ucap Yixing
" Maksudnya?." Tanya Junmyeon heran
" Pisau, dia tidak bisa menghindari kecepatan pisau." Ucap Yixing
Akal pikiran Junmyeon tidak bisa mencerna perkataan Yixing, bagaimana mungkin manusia yang bisa menghindari kecepatan peluru tetapi tidak bisa menghindari pisau. Bukankah peluru lebib cepat dari pisau.
Kris yang mendengar apa yang dikatakan Yixing cepat mengambil pisau kecil dari balik coat panjangnya.
Jleep
" A-Ayah!."
" Yixing jangan!." Teriak Junmyeon
Yixing tidak tahu apakah tindakannya benar apa tidak, ia hanya ingin berlari menghampiri ayahnya yang dadanya tertancap pisau milik Kris.
" Ayah..Ayah…"
" Soo..Sooyung…"
Jae Jin menutup matanya, bersiap mengakhiri semua ini meninggalkan dunia yang sudah semakin tidak bersahabat dengannya.
" A-Apa kalian menyadari dia tidak membalas peluru-peluru itu?." Ucap Yixing hampa
" Dia? Dia memang menginginkan kematian?." Tanya Kris
" Ne, dia mengatur kematiannya hiks… Dia tetap menang." Ucap Yixing
" Shit!."
" Yixing ayo kita pergi." Ajak Junmyeon
" Tidak Junmyeon, ku undang Yixing menyaksikan perjanjianmu. Malam ini kutunggu kau di tempatku." Ucap Kris mengambil pisau dari dada Jae Jin kesal.
Entah mengapa Kris menjadi kesal sendiri melihat Jae Jin mati dengan tidak penuh perjuangan, lelaki yang selama ini menginginkan membunuhnya kini menyerahkan nyawanya dengan sukarela kepadanya. Tanpa adanya tembakan balik ataupun perlawanan yang berarti. Setidaknya ia telah menghabisi musuhnya dan membayar dendamnya. Masa kecil yang hilang bersama kedua orang tua nya dan ketakutannya selama ini.
I just wanna be your soldier
Sehun menatap tidak percaya Kris yang muncul di depannya, melemparkan pisau ke arah kakinya. Kedatangan Kris memang mengejutkan, itu berarti dia telah berhasil membunuh Jae Jin. Manusia iblis yang selama ini bayangannya pun susah di ijak.
" Bagaimana mungkin?."
" Lebih baik kau persiapkan champange terbaik untuk malam ini. Ada tiga setan lagi yang akan menyerahkan nyawa mereka." Ucap Kris tertawa
Junmyeon dan Yixing datang duluan, disusul dengan seretan kaki malas dari Jongin dan langkah hati-hati Jongdae.
" Kami akan mati dengan cara kami sendiri. Ingat perjanjian kita, kau bebaskan mayat kami pada Yixing nantinya. Dan menjauhlah dari Yixing selama-lamanya."
" Baiklah."
Sehun menatap menarik perkataan Junmyeon, tersenyum tipis melihat ketiga setan yang akan segera pergi.
" Ingat perjanjian kita, hiduplah dengan baik." Ucap Junmyeon kepada Yixing
" Haha sungguh mengharukan." Ucap Sehun akhirnya
" Menjauhlah dari Sehun, aku tidak suka kau dekat dengannya." Bisik Junmyeon
Yixing hanya terisak menatap Junmyeon, dia sudah berjanji akan menerima keadaan ini. Ia akan menjalani hidupnya kembali seorang diri. Mungkin sesekali akan datang menjenguk makam ketiga Kim yang mengorbankan diri mereka untuknya.
Jongdae merogoh kantong coat nya, mengeluarkan tiga botol kecil berwarna hijau bening. Semua nya sama banyak dan sama ukuran. Jongin tertawa seperti menyapa botol yang diberikan Jongdae untuknya.
" For your healty Yixing.." Ucap Jongin kemudian meminum cairannya
Jongin ambruk botol kecil itu terjatuh, memegang jantungnya yang seperti akan meledak. Kemudian jatuh tepat di depan. Suara gema tepuk tangan dari Sehun membuat Yixing jijik dengan apa yang dilakukan Sehun pada Jongin diakhir hidupnya.
" Cheers." Jongdae menyusul dua menit kemudian.
Lebih bisa menahan badannya yang akan terjatuh dan kemudian ambruk di sebelah Jongin. Yixing semakin tidak tahan melihat pemandangan di depannya. Tinggal tersisa Junmyeon seperti menjaga mayat saudara-saudara angkatnya dari hinaan terakhir.
" Ingat janjimu, aku mencintaimu."
" Tidaaak!."
Terlambat Junmyeon telah meminum cairan dari botolnya dengan habis, memandang Yixing yang berlinang air mata menatapnya. Kemudian matanya tertutup dalam damai.
" Junmyeon…"
Yixing menangis menghampiri kekasihnya, memeriksa seakan berharap jantungnya masih berdenyut. Tapi nihil, badan yang beku, jantung yang tidak terdeteksi dan mulut yang mulai membiru menandakan Junmyeon telah jauh meninggalkannya.
" Periksa mereka!." Ucap Sehun pada suruhannya
Suruhan-suruhan Sehun memeriksa triple Kim dengan kasar, memaksa seakan simpanan detak jantung mereka keluar.
" Pergi kalian.. pergi kalian!." Teriak Yixing mengusiri suruhan Sehun
" Bagaimana?." Tanya Sehun
" Mati." Jawab singkat suruhan Sehun yang membuat air mata Yixing semakin menetes
" Ayo pergi." Ucap Sehun tanpa memandang lagi Yixing maupun triple Kim.
" Bawalah mayat mereka, mungkin kau mau menguburkan mereka secara layak." Ucap Kris meninggalkan Yixing.
Yixing menangis menatap ketiga mayat yang berada di sekitarnya, mereka yang sanggup berkorban untuk dirinya. Tanpa peduli dengan kehidupan mereka.
" Ayo Yixing, mereka akan ku urus lebih baik kau segera pergi dari Korea. Ini tiket mu, sesuai permintaan Junmyeon hyung." Ucap Jeonghan yang baru saja tiba.
" Ba-Bagaimana kau tahu."
" Percayalah, mereka banyak menyimpan rahasia mereka kepadaku. Aku sangat menyesali keputusan mereka. Tapi kumohon pergilah sekarang juga. Kau masih tidak aman disini." Ucap Jeonghan.
" Ka-Kabari aku tentang lokasi pema-pemakaman mereka. Jaga Junmyeon baik-baik perlakukan dia dengan baik. Kumohon."
" Aku akan memperlakukan mayat mereka dengan baik, pergilah."
Jeonghan menatap kepergian Yixing dengan tiket dan tas yang diberikan, Junmyeon telah mempersiapkan segalanya. Ia tahu banyak hal yang akan terjadi bila Yixing tetap berada di Korea. Akan banyak yang tertarik pada Yixing untuk menjadi penerus Jae Jin. Junmyeon tidak menginginkan Yixing bergabung dalam pasukan pembunuh. Yixing berhak hidup dengan baik. Jeonghan menatap ketiga mayat di depannya bersiap untuk membawa mereka ketempat peristirahatan yang akan menyambut mereka.
TBC
*JANGAN LUPA REVIEW KAKA^^*
Satu demi satu menuju akhir
Happy Kyungsoo day!
Duh maaf kelamaan update nya rencana tadi sore tapi jadinya malam hehe
Pearl Luce wkwkw Jongin jangan di cekik kasian Kyungsoo ntar wkwkwk
Yxingbunny moga chap depan ada penjelasan Jae Jin ini sayang apa ga sama Yixing yah
Guest makasih juga udah baca n review kaka^^
Guest seketika pikiranku melayang kemana-mana wkwkwk
Guest di chap awal-awal di ceritakan Jeonghan memang naksir Yixing kaka^^
KittiToKitti wkwkwk alhamdulilah sudah tahu FF ini moga bisa review lagi yah kaka^^
Chennychen iy sama aku juga kasihan dengannya, tapi dia milih masa depan yang salah juga hiks
Titie Zhang mungkin karena mereka bukan teletubis beb hihihi
Adelwu hiks Yixing memang pemberani
D'eXcrusius Paripachuka amiiin makasih adeek hihihi^^
Chenma wkwk bukan masa lalu jae jin yg ada di perpus beb tapi yixing nyari penjelasan penyakit mak nya jae jin di perpus itu hihi
Minie Zhang wkwkw Jongdae memang kejam kaka^^
Minge-ni aaa makasih bangeet aku jadi terharu ^^ hihihi.. moga keputusan mematikan Jae Jin suatu keputusan yang baik bagi kita semua hiks
