Kaito kembali ke Jepang, Hokkaido.

Lelaki itu membuka lembaran novel klasik itu dengan hati-hati. Dia menyesapi teh hangatnya pelan-pelan tanpa tahu bahwa seseorang sedang memperhatikannya dengan sudut matanya. Hingga dia tersadar. Lekat, hingga lelaki itu merasa dia tidak bisa bernapas. Dia memaksakan diri menoleh dan dia mendapati kenyataan bahwa sudut mata seorang gadis dengan cappuccino di tangannya terus memandanginya, lekat. Debaran di jantungnya semakin pelan seperti stacatto yang mengalun. Yang hadir hanya keringat dingin yang menetesi keningnya. Membasahi rambut ratanya yang terurai.

Dia merasa mengenal gadis berambut panjang itu. Seseorang yang tadinya hanya orang asing dalam hidupnya dan secara tiba-tiba menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

Dia ingin memanggil gadis itu, namun dia tidak bisa.

Suaranya tercekat dalam tenggorokannya.

Dia berusaha mengingat secara pelan-pelan. Dia mencoba membenamkan wajah gadis itu dalam benaknya.

Tapi, siapa dia?

Hingga otaknya merasa sakit dan membuatnya sulit berpikir.

Kenapa mencoba mengingat kembali malah membuat otaknya semakin sakit?

.

.

Fourteen - Question

Story by Titania aka 16choco25

Cast :

Kuroba Kaito

Nakamori Aoko

(Chapter khusus Kaito –Aoko)

Disclaimer – Detective Conan © Aoyama Gosho

.

.

Gadis itu mengitarkan pandangannya. Hingga pandangannya terpusat pada seorang lelaki dengan jaket hitam ditemani novel klasik yang dibukabukanya. Ia menatapi lelaki itu. Sepertinya lelaki itu sadar bahwa ia telah ditatap oleh seseorang yang tidak dikenalnya, hingga lelaki itu balas menatapinya. Lekat, hingga membuatnya merasa risih. Ia menoleh dengan wajah lugunya, mencari-cari siapa gerangan yang sedang memerhatikannya. Ia memutar-balikkan kepalanya. Hingga matanya terfokus pada satu titik, seseorang di meja pinggir jendela kafe. Seseorang yang ia kenali. Tampak dirinya sedang duduk manis di sofa seberang tempatnya duduk, memandang ke luar jendela dengan tatapan datar dan kosong, tak berbicara maupun bergerak sedikit pun, dan hal tersebut langsung membuat Aoko bangkit menghampirinya. Ia yakin matanya tak salah mengenali.

"Kaito-nii?"

Merasa terpanggil, Kaito mendongakkan kepalanya dan langsung mendapati gadis berusia sekitar dua puluh tahunan menatapnya dengan mata bulatnya, dan Kaito semerta-merta langsung bangkit dari duduknya dengan senyuman lebar. "Aoko-chan? Kau Aoko? Saudara Ran? Kau sudah besar. Berapa sekarang umurmu? Ah, aku lupa. Silakan duduk."

Aoko mengambil tempat di hadapan Kaito dan Kaito langsung memesankan minuman hangat untuk Aoko. Aoko tersenyum, mencoba memberi kesan pertama yang baik. "Apa kabar, Kaito-nii?" tanyanya menanyakan kedatangan Kaito yang tiba-tiba itu dengan nada suara yang ditinggikan.

Kaito mencondongkan badannya. "Aku baik-baik saja."

Novel Kaito diliriknya. Sampul bukunya cukup menarik. Kaito menangkap lirikan Aoko dan mengangsurkan novel itu ke tangan Aoko. "Novel klasik. Les Miserables," jelasnya sambil menyeruput ocha panasnya.

Aoko mengangguk-angguk. Sekejap tiba-tiba otaknya teringat akan sesuatu.

Ia menelan ludahnya gugup, memneranikan diri untuk menatap kedua belah mata Kaito.

"Kaito-nii, apa kau telah bertunangan?"

Kata-kata yang secara tiba-tiba diucapkan gadis itu membuat Kaito terlonjak dari lamunannya. Ia berkata demikian saat badai salju sedang berlangsung di tengah-tengah Hokkaido dengan deras. Di sebuah kedai kopi, ia bersama gadis itu meneguk segelas kopi panas di tengah-tengah kedinginan yang menyelimuti mereka. Saat ini memang pertengahan musim dingin, tepatnya awal bulan Desember, dan suhu di kota ini adalah minus 6 derajat celsius sehingga membuat mereka mengenakan mantel tebal yang terbuat dari kain wol. Bahkan nampaknya jika badai ini tak selesai, Kaito pun tak akan bisa pulang ke rumah. Tapi, tetap saja ia merasa kebingungan menghadapi sifat gadis yang satu ini, tatapan matanya yang kosong menandakan bahwa ia sedang tak terfokus kepada badai salju yang nampaknya berlangsung lama itu.

"Mengapa kau dapat berpikir seperti itu, Aoko-chan?" tanyanya dengan hati-hati. Kaito tahu bahwa suasana hatinya sedang tidak bagus sekarang, jadi lebih baik ia harus menjaga ucapannya agar tak merusak suasananya. Aoko sangat sensitif dan keras kepala. Dirinya akan semakin menjadi pemarah jika ada yang mengganggu suasana hati atau konsenterasinya. Kaito tahu betul akan hal itu, sebab sudah lima tahun ia mengenal Aoko dan mereka selalu bersama. Sifatnya yang tak berubah itu telah menyangkut tepat di otaknya, sehingga Kaito tahu betul tentang kepribadiannya.

Ia terdiam untuk beberapa saat lamanya, "Aku tak tahu, otakku tak bisa fokus. Ran-chan bilang bahwa kau telah bertunangan dan seakan-akan otakku buntu. Ran-chan menangis, kau tahu. Kau tahulah bagaimana dia. Merelakan orang yang dicintai 'kan tidak mudah. Begitupun saat kudengar dari Ran-chan, kau pergi dari rumah Shinichi-san karena kau cemburu saat kau mengetahui hubungan mantan tunanganmu itu dengan mantan kekasihnya, 'kan?"

Kaito mengangguk getir. "Aku hanya cemburu," ujarnya gundah. Ia menarik napasnya dalam. Baru kali ini Aoko melihatnya segundah itu, wajar saja karena setiap ia mempunyai masalah, ia jarang bercerita padanya atau Ran. Walaupun mereka sudah bersahabat selama itu, Kaito selalu menutupi permasalahan yang ia miliki. Aoko menatapnya dalam.

Sunyi kembali. Ia kemudian menegadahkan kepalanya dan pandangannya tertuju pada jam dinding yang tertempel di dinding dekat meja kasir dengan tajam. Aoko ikut memperhatikan arah pandangannya itu dengan saksama, dan membalikkan tubuhnya ke belakang karena jam dinding itu memang ia belakangi. Sudah pukul setengah sepuluh malam. Sudah sangat larut rupanya.

"Kau tahu, Aoko-chan," ucapnya memecah kesunyian yang menyelimuti mereka. "Selama aku mengenalnya, belum pernah aku membuatnya menangis, belum pernah aku membuatnya bersedih. Namun dengan seenaknya ia meninggalkanku. Apa aku tak wajar untuk marah? Apa aku tak wajar untuk cemburu? Itu hal yang wajar untukku. Kalau kau bagaimana? Kau juga pasti seperti itu, bukan?" ujarnya panjang tanpa berhenti. Sepertinya ia baru saja mengeluarkan semua yang ada di benaknya.

Aoko tersentak kaget. Ia mengulang-ulang perkataan Kaito, Apa aku tak wajar untuk marah? Apa aku tak wajar untuk cemburu? Itu hal yang wajar untukku. Kalau kau bagaimana? Kau juga pasti seperti itu, bukan? Itulah yang ia rasakan selama ini. Itulah yang ia rasakan begitu mendengar kabar pertunangan Kaito. Baru kali ini ia menyadarinya. "Y-ya, tentu," balasnya singkat dengan nada ragu, walau sebenarnya Aoko tak mengerti apa yang barusan ia bicarakan. Bukannya tak mengerti seutuhnya, tapi Aoko hanya tak mengerti mengapa ia dapat memikirkan hal seperti itu.

Pikirannya memang sering terlampau jauh. Aoko beranjak bosan. Dan semakin mengantuk. Sudah enam hari ini Aoko kekurangan tidur karena insomnianya yang kambuh kembali. Namun sepertinya sekarang sudah kunjung sembuh sehingga ia dapat merasakan kantuk seperti ini. Ia melihat Kaito yang tengah mengaduk-aduk campuran ocha hangat dengan sendok kecil plastik yang diberikan oleh pelayan tadi. Ia meneguknya sedikit, dan menaruhnya kembali.

"Kalau begitu, apa yang mmbuatmu tak bisa melupakan gadis itu?" Alis Aoko terangkat ke atas sebelah, dan menopang dagunya dengan tangan kanannya. Ia penasaran, seperti apa gadis itu sehingga Kaito tak bisa meninggalkannya. Aoko mengerutkan keningnya, memandang Kaito dengan mata sipit dan otak yang tengah berpikir keras.

"Maksudmu?" Kaito mengernyitkan dahinya yang lebar itu.

"Yah, kau tahulah, sejenis suatu hal yang membuatmu tak bisa melupakannya... Atau sejenis itu," Aoko memiring-miringkan kepalanya.

Kaito menyatukan jari-jemari kurusnya, berpikir. "Ia lembut, baik, manis, aku tak akan bisa melupakannya. Ia gadis terbaik yang pernah ada."

Gadis yang terbaik yang pernah ada?

Ingin rasanya Aoko melarikan diri dari kafe itu sekarang juga. Untunglah ia masih mampu menahan air matanya yang nyaris berderai. Aoko merubah mimik wajahnya menjadi serius. Namun sekaligus waspada. Bola matanya ia putar-putarkan ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah. Aoko menelan ludah kecut. Ia merapikan tangannya di atas meja dan dengan tenang berpose seperti yang sudah sering kulihat.

"Sudah larut ternyata," gumam Aoko meringis. Kaito menoleh ke arahnya yang masih menatap jam dinding itu. Kaito menatap jam dinding itu tajam. Tatapannya itu seperti mengingatka Aoko kepada seseorang. Ya, ayahnya. Matanya yang tajam seperti elang itu telah mengingatkanku pada sosok ayahnya yang merupakan inspektur polisi Kepolisian Metropolitan, saat ini.

Tiga puluh delapan menit ia lalui hanya dengan bercakap-cakap singkat dengan Kaito, atau ia memanggil pelayan di kedai ini untuk mengisi kembali gelas kopinya yang sudah habis. Sudah tiga kali Aoko kembali mengisi gelasnya dengan segelas penuh kopi panas. Dan pada umumnya, suhu semakin dingin di sini, membuatnya mengeluarkan sarung tangan tebal dari saku arlojinya dan memakainya di tangan agar tak kedinginan. Namun, nampaknya badai salju sudah kian mereda.

"Kau mau kembali? Di tengah badai seperti ini?" Kaito berujar sambil menengok sedikit ke arah jendela yang menunjukkan kalau badai salju masih berlangsung di luar. Ia terdiam sebentar, dan kembali menatap jendela yang cukup lebar tersebut di sebelah kanannya, menatap lampu-lampu taman depan kedai kopi yang menyala terang di antara kegelapan malam dan kabut tebal.

"Kira-kira, menurut ramalan cuaca di internet, badai ini akan hilang sekitar empat puluh menit lagi." Ia berucap dengan suara yang hampir tak terdengar, seolah tak mendengar pertanyaanku tadi. Suaranya setengah parau. Namun Kaito masih dapat mendengarnya jelas. Entah mengapa Kaito tergerak untuk menemaninya malam ini.

"Maukah kau menunggu empat puluh menit lagi bersamaku di sini, Aoko-chan?"

"Memangnya ada apa, Kaito-nii?" tanyanya masih dengan nada gusar, dengan suara yang sedikit parau seperti tadi. Alisnya mengkerut tanda tak mengerti. "Kalau aku terus disini, aku lelah mendengar curhatanmu yang hanya tentang gadis tunanganmu itu melulu. Aku pergi saja," katanya dingin dengan cepat membuka pintu kafe dan Kaito buru-buru berdiri dari duduknya, mengejarnya hingga keluar kafe.

"Kau ini kenapa? Apa musim dingin membuatmu sedikit tidak enak badan?"

"Sudahlah. Jangan membuatku menangis, Kaito-nii." Bibir Aoko terkatup rapat.

"Kau kenapa? Apa kau cemburu?"

"Tidak," Pandangan matanya tajam terhadap Kaito, namun juga seperti meremehkan. Tunggu, ia menyeringai.

"Sebenarnya kau kenapa?"

Aoko membalikkan nadannya dengan kesal. "Ya, aku cemburu. Apa kau keberatan?" Aku sudah lama mencintaimu, Bodoh.

Tunggu, apa telinganya tak salah dengar? Barusan Aoko bilang, cemburu? Kaito terdiam, mematung. Tatapannya gelap. Tubuhnya gemetar sambil menatap gadis tersebut berlalu. Mata Kaito menatap punggung gadis itu yang membelakanginya, menajuhinya dengan langkah yang masih berderap. Kaito masih menatap gadis itu. Seakan tak percaya dengan kata-kata yang barusan didengarnya. Aku menghela napasku berat. Terserah kata-katanya sajalah. Gadis itu tentu tahu mana yang baik untuknya sendiri. Terserah apakah dia masih menganggapnya sahabat atau tidak. Padahal ia sendiri tahu betul kalau Kaito sangat sensitif, sama sepertinya.

"Tapi, aku masih tetap menjadi orang yang kau cintai, bukan?" Kaito setengah menjerit. Menekankan kata-kata 'masih tetap menjadi orang yang kau cintai' dengan sengaja. Agar gadis itu menghargai posisinya sebagai sahabatnya sedikit saja.

Ia berbalik, menatap Kaito dengan pandangan yang tak bisa disimpulkan dengan kata-kata. "Tentu, Kaito-nii. Kau tak perlu cemas akan hal itu."

"Bisakah aku mempercayaimu? Walaupun kita..." Kaito terhenti. "Terpisah jauh?" Tenggorokannya seakan tercekik.

Mereka bertatap-tatapan, diantara butiran salju yang berjatuhan dengan cepat. Tubuh Aoko bergetar dengan kuat. Ia tak kuat menahan rasa sakitnya. Ia tak berani menatap Kaito yang sedang memandangnya, dan ia menundukkan kepalanya menatap tanah yang tertutup salju di depan kafe yang baru saja menjadi saksi bisu pengungkapan cintanya itu.

"Tentu saja." Aoko merasa tolol sekali. Aoko melangkahkan kakinya. "Aku harus pergi."

Kaito menahan tangannya. Aoko membelalakkan matanya, dengan cepat ia menoleh kaget. Kaito masih menatapnya tegas.

Kaito membalikkan tubuhnya ke arahnya, ia tersenyum, seperti dirinya yang telah lama Aoko kenal sudah kembali."Aku akan belajar untuk mencintaimu, Aoko-chan."

.

.

To be continued.