Naruto – Masashi Kishimoto

Satu Wajah – Kei Dysis

.

F/SC/AR, OOC, Typo, etc.

.

27/05/2016

Happy reading!

-:-

Rasa sakit itu menyebar di keseluruhan tubuh Sasuke, diiringi rasa lelah yang turut melemahkan detak jantung. Sepasang mata Sasuke masih terpejam. Masih melingkupinya dengan bayang-bayang kegelapan.

Aku … kalah.

Meski harus mengernyit kesakitan, lekuk kecil Sasuke hadirkan di salah sudut bibirnya yang terluka. Dua kata yang terucap dalam hati itu akhirnya membuat Sasuke semakin tersadar akan satu fakta.

Ia memang kalah. Ia sudah kalah. Oleh seseorang yang kini tengah terbaring cukup jauh darinya.

Tapi Sasuke tidak peduli lagi. Lekuk kecil itu menghilang.

Di detik-detik terakhir ketika akhirnya kegelapan sepenuhnya menjamah Sasuke, tiba-tiba satu wajah berkelebat di benak pemuda itu. Satu wajah … yang entah kenapa terasa familier.

Siapa?

Dan kenapa ia merasa ingin melihat satu wajah itu lagi?

-:-

.

-:-

Perlahan-lahan kelopak mata Sasuke terbuka, membuat sepasang oniks memandang langit-langit berwarna putih. Sasuke langsung menyadari tempatnya kini berada.

Kebingungan melanda Sasuke, bersamaan dengan keterpakuan oleh kenyataan ia masih hidup. Masih bernapas. Sasuke bisa merasakan sakit hampir di sekujur tubuhnya. Beberapa bagian terasa seperti kesemutan sekaligus kaku.

Apakah sebelumnya ia koma? Sudah berapa lama waktu berlalu?

Lalu Sasuke menyadari ada sosok lain di dekatnya. Bola mata Sasuke bergerak, memperhatikan sosok yang duduk di samping tempatnya kini berbaring.

Sosok itu menundukkan kepala, menyembunyikan wajah di antara surai panjangnya, yang seolah bagaikan air terjun berwarna biru malam. Namun Sasuke bisa melihat kedua tangan sosok itu tengah memegang sesuatu, menggenggam sesuatu yang menjuntai di lehernya.

Kemudian sosok itu tiba-tiba mengangkat kepala, melepas genggaman tangan hingga sebuah liontin menampakkan wujudnya, dan menunjukkan satu wajah yang sebelumnya tersembunyi.

Dan seketika Sasuke hanya bisa membeku tegang, merasa gelombang ketertegunan menerjang dirinya. Nyalang. Brutal.

Berbagai kenangan masa kecilnya sontak membanjiri isi kepala Sasuke. Pertemuan-pertemuan rahasia dengan gadis mungil bermata lilac. Percakapan dan keheningan yang saling mereka bagi. Satu janji yang pernah mereka ikrarkan bersama, saat Sasuke memberikan kalung berliontinkan simbol klannya pada anak perempuan itu.

Segalanya tentang mereka berdua yang telah Sasuke lupakan, telah Sasuke singkirkan tanpa sadar ketika kegelapan menyelimuti dunianya sejak kejadian terkutuk itu terjadi, ketika yang ada dalam dirinya hanya rasa haus oleh kekuatan. Haus akan balas dendam.

Penyesalan dan rasa bersalah kini menyerang Sasuke, membuat jantungnya berdegup nyeri. Dadanya terasa sesak. Sangat sesak.

Kenapa ia bisa melupakannya? Kenapa ia membiarkan dirinya melupakan Hinata?

Saat lebih lama melihat satu wajah itu, satu wajah yang tak lagi dimahkotai surai pendek, satu wajah yang tak lagi menampakkan paras kanak-kanak, satu wajah yang sekian waktu tidak menjadi fokus dunianya, Sasuke akhirnya menyadari … betapa ia sangat merindukan pemilik satu wajah itu.

Ada banyak ekspresi menghiasi satu wajah itu, Sasuke bisa melihatnya. Kelegaan. Kekhawatiran. Kesedihan. Juga … ketakutan akan dibenci, dijauhi, ditolak. Dan keinginan Sasuke untuk memukul dirinya sendiri semakin membesar.

Tangan kanannya masih terasa sakit dan kaku, namun Sasuke berusaha keras menggerakkannya, berusaha keras mengulurkan tangannya dengan lima jemari terbuka. Sasuke kemudian menunggu dalam ketegangan, dengan tatap mata yang tak lepas memandang wajah Hinata.

Tangan kanan Hinata yang bergetar samar akhirnya bergerak. Ragu. Pelan. Dan ketika tangan itu kemudian menggenggam tangannya, Sasuke tiba-tiba merasakan sesuatu. Gelenyar yang seolah membuat Sasuke merasa … ia tidak lagi tersesat, ia tidak lagi kehilangan arah, ia tidak lagi lupa jalan pulang.

Sasuke merasa … ia kini telah kembali ke rumah.

Bibir Sasuke lantas terbuka, bergerak membentuk satu kata tanpa suara, yang lambat-lambat berusaha ia ungkapkan di sela-sela rasa lemah yang masih menyelubungi dirinya.

Ketika melihat mata lilac pada satu wajah itu mengalirkan cairan bening, melihat bibir pada satu wajah itu menggetarkan senyum, Sasuke tahu Hinata mengerti satu kata yang ingin ia sampaikan pada sang gadis Hyuuga.

"Tadaima."

.:.

THEEND

.:.

THANKS! :')