I'm Fine

14.

Hermione tidak tahu apa yang terjadi. Ia sama sekali tidak mengerti tentang apa yang terjadi di depan matanya. Narcissa Malfoy berlutut di depan Maura, mengulurkan tangannya dan bertanya dengan lembut sekali siapa namanya.

Hermione tidak yakin apa yang harus dilakukannya, bahkan ketika Maura melihatnya untuk bertanya apa yang harus dilakukannya ia tidak bisa menjawab.

Maura perlahan mengulurkan tangannya.

"Aku Maura." Maura berbisik pelan, ia mengulurkan tangannya ke arah pipi Narcissa kemudian menyentuhnya. "Kau cantik sekali, rambutmu hitam." Maura berseru.

Hermione melihat Narcissa bingung. Draco mengatakan padanya kalau kedua orangtuanya tidak mau menerima Maura, Draco bahkan mengatakan bahwa ibunya ini memanggilnya blood traitor, lalu kenapa sekarang ia datang dan bersikap benar-benar baik pada Maura?

Hermione kemudian menarik Maura dengan cepat kebelakangnya, ia takut Narcissa hanya berpura-pura baik, padahal sebenarnya ia ingin melakukan sesuatu yang buruk.

Narcissa dan Maura keduanya terkaget saat Hermione tiba-tiba menarik Maura menjauh.

"Ada yang bisa kubantu? Mrs Malfoy?" Hermione bertanya berusaha menjaga ekspresinya tetap netral.

Narcissa seperti tersadar dari sesuatu. "Ah… " Narcissa berseru. "Miss Granger, senang bertemu denganmu." Narcissa berseru kemudian mengulurkan tangannya.

Hermione melihat tangan yang diulurkan di depannya, ia tidak tahu apa ia harus menjabatnya atau tidak? Apa tangan itu berbahaya atau tidak?

"Mommy…" Maura berseru pelan. "Kenapa kau tidak menjabat tangannya?" Maura bertanya.

Hermione tersadar, ia kemudian perlahan mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Narcissa Malfoy.

"Maura, bisa kau panggilkan Daddy?" Hermione bertanya lagi.

Kali ini Maura mengangguk dengan cepat dan berlari masuk dan menuju ke kamar orangtuanya.

.

"Daddy! Daddy!" Draco merasakan seseorang melompat-lompat dikasurnya.

"Ugh, Maura?" Draco kemudian sadar bahwa anak perempuannya sedang melompat-lompat di sisi kasur disampingnya. "Ada apa?"

"Mommy menyuruhku memanggilmu, ada orang yang datang." Maura memberitahu.

"Siapa?" Draco bertanya, ia masih mengumpulkan kesadarannya, ia bahkan belum lima belas menit tertidur.

"Entahlah, seorang perempuan cantik, dengan rambut panjang hitam dan dan jubah panjang yang juga berwarna hitam, dan mata yang hitam, dan…" Maura berpikir lagi.

Draco seketika menyadari siapa yang datang ke apartement mereka. Ia bangkit dari kasurnya dan mengambil tongkatnya.

"Maura, kau diam disini!" Draco memberi komando. "Jangan keluar sampai Mommy atau Daddy memanggilmu!" Draco berseru tegas. "Jelas?"

Maura mengangguk dan mencengkram erat bonekanya.

Draco kemudian keluar dari kamarnya, menutup pintu rapat-rapat dan segera menuju pintu keluar. Dan dugaannya benar.

"Apa yang kau lakukan disini Mother?" Draco bertanya ketus.

"Draco!" Narcissa bereaksi mendengar nada suara anaknya itu.

"Apa yang kau inginkan Mother? Bukankah untuk kalian aku hanya seorang blood traitor ?" Draco bertanya lagi.

"Draco!" Narcissa berseru keras. "Apa kau tidak bisa sopan sedikit?" Narcissa bertanya.

Draco menggerutu. "Apa yang kau inginkan Mother?" Draco akhirnya bertanya lagi.

"Tidak bisakah kalian mempersilahkan aku masuk dulu?" Narcissa bertanya.

Draco melihat ke arah Hermione. Hermione mengangguk.

"Pastikan kau tidak berniat buruk Mother, atau aku tidak akan segan-segan.."

"Tidak segan-segan apa Draco?" Narcissa bertanya menantang.

"Aku tidak akan segan-segan mengarahkan tongkatku pada siapapun yang mengganggu keluargaku." Draco berkata.

Hermione meraih tangan Draco dan menggenggamnya. "Silahkan masuk Mrs. Malfoy." Hermione berseru, berusaha menengahi ibu dan anak itu.

Hermione kemudian menggeser posisinya dan membiarkan Narcissa Malfoy masuk apartement mereka.

"Apa yang kau lakukan Hermione?" Draco mendesis begitu Narcissa sudah cukup jauh.

"Tidak apa-apa Draco, sepertinya ada yang ingin disampaikan oleh ibumu." Hermione memberitahu.

"Bagaimana jika ia melakukan sesuatu?" Draco bertanya. "Apa kau lupa siapa dia? Narcissa Malfoy? Wanita yang berbohong pada Dark Lord." Draco berseru, tidak mengerti kenapa Hermione mengizinkan ibunya itu masuk.

"Ia berbohong untuk siapa Draco? Untukmu, kau tidak boleh lupa akan itu." Hermione memberitahu. "Sekarang sebaiknya kita cari tahu apa yang ibumu inginkan dari kita." Hermione berkata, "Ah, dimana Maura?" Hermione bertanya.

"Dikamar kita, dan aku sudah membuatnya berjanji untuk tidak keluar kamar." Draco memberitahu.

Hermione mengangguk, ia kemudian menutup pintu dan menarik Draco menghampiri Narcissa yang sudah duduk di ruang tamu mereka.

Draco dan Hermione duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Narcissa.

"Katakan apa yang kau inginkan Mother." Draco berseru dingin.

Narcissa menghela nafasnya, ia tidak suka Draco bertindak tidak sopan padanya, tapi setelah ia pikir, apa yang dikatakannya tadi pagi pada Draco pasti sedikit banyak membuatnya kesal. Untuk kali ini Narcissa akan membiarkannya.

"Aku ingin meluruskan beberapa hal." Narcissa berseru.

"Meluruskan apa?" Draco bertanya ketus. "Bukankah semuanya sudah jelas? Menurutmu aku hanya seorang blood traitor bukan?" Lagi-lagi Draco mengulang perkataan ibunya tadi pagi.

Narcissa menghela nafasnya. "Draco, Mother mengerti kau mungkin kesal dengan perkataanku tadi pagi, Mother minta maaf." Narcissa menahan harga dirinya. "Kuakui apa yang kukatakan padamu tadi pagi bukan hal yang baik."

Draco menggerutu dan menghindari kontak mata dengan ibunya, ia masih kesal dan belum ingin memaafkan ibunya begitu saja.

Narcissa menggeleng pelan, ia mengenal betul anaknya itu.

"Well, Draco, Miss Granger, aku datang kesini…" Narcissa bingung apa yang harus dikatakannya.

Draco dan Hermione menunggu penjelasan Narcissa.

Narcissa menghela nafasnya. "Jujur awalnya aku datang untuk membujuk Draco kembali ke rumah, meyakinkannya untuk meninggalkan, uh, meninggalkanmu Miss Granger dan anak kalian." Narcissa memberitahu, ia memutuskan untuk mengatakan alasannya dengan jujur.

Draco melirik ibunya galak. Hermione tidak kaget, ia sudah menduga hal seperti apa yang dikatakan Narcissa berusan akan terjadi, jadi Hermione menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang.

"Tapi…" Narcissa berseru sebelum Draco memotongnya. "Maura… Maura…" Narcissa tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Draco dan Hermione seketika mengerti.

"Jadi Mother, kau sudah bertemu dengan Maura?" Draco bertanya.

Narcissa mengangguk.

"Dan seketika kau jatuh cinta padanya?" Draco memastikan.

Narcissa mengangguk lagi, tersenyum pelan.

"Jadi?" Draco bertanya, memutar matanya.

"Draco!" Hermione menyikutnya pelan. Ia mulai tidak nyaman dengan nada Draco yang terlalu ketus pada ibunya sendiri.

"Draco, Miss Granger." Narcissa berseru. "Jujur aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang, tapi jelas yang kuketahui adalah aku ingin mengenal cucuku lebih jauh." Narcissa memberitahu.

Draco memutar matanya. Narcissa ingin menggelengkan kepalanya melihat anaknya itu, tapi ia menahan dirinya, ia sadar kalau Draco bersikap seperti ini juga karena kesalahannya.

"Miss Granger, aku tidak tahu apa yang sudah Draco katakan padamu tentang pertemuan kami tadi pagi, dan aku akui apa yang kukatakan padanya tentangmu dan tentang Maura memang kasar, tapi beri aku kesempatan." Narcissa berkata pelan.

"Aku ingin mengenal Maura."

Hermione menghela nafasnya. Narcissa Malfoy yang duduk di depannya terdengar dan terlihat benar-benar tulus, dan jujur Hermione tidak ingin menjauhkan Maura dari neneknya jika memang Narcissa ingin menjadi neneknya, tapi seperti yang Draco katakan padanya tadi, yang mereka hadapi adalah perempuan yang berbohong pada Dark Lord.

"Kalian tidak harus memutuskannya sekarang, aku bisa menunggu satu atau dua hari." Narcissa memberitahu begitu melihat kalau Draco dan Hermione langsung memasuki mode berpikir mereka.

Hermione melihat ke arah Draco, ia kemudian menyadari kalau Draco sepertinya juga sama bingung dengannya.

"Kami akan mempertimbangkannya Mrs. Malfoy." Hermione memberitahu mengambil keputusan, Draco tidak mengatakan apa-apa, ekspresinya susah dibaca.

Narcissa mengangguk, tersenyum.

"Bolehkan aku bertemu dengannya sekarang?" Narcissa bertanya pelan.

Draco melihat Hermione, Hermione mengangguk pelan, ia kemudian berdiri dan menuju ke kamar mereka untuk memanggil Maura.

Tidak lama Hermione datang lagi dengan Maura disampingnya.

"Um, Maura, ini Mrs. Malfoy." Hermione memberitahu anaknya.

Maura tersenyum pada Narcissa. "Apa itu berarti ia istrinya Grandfather?" Maura bertanya pada Hermione lagi.

Hermione mengangguk.

"Selamat malam Mrs Malfoy." Maura tersenyum.

"Kau bisa memanggilku Grandmother sayang." Narcissa memberitahu.

Maura tersenyum lebih lebar. "Hallo Grandmother, senang bertemu denganmu." Maura menyapanya.

Narcissa kemudian mengulurkan tangannya dan Maura menjabatnya lagi. "Boleh aku memelukmu Maura?" Narcissa bertanya, ia bertanya pada Maura tapi melihat ke orangtuanya juga untuk meminta persutujuan.

"Tentu saja." Maura baru akan bergerak mendekat dan memeluk Narcissa tapi kemudian ia menyadari sesuatu.

"Grandmother, aku tidak yakin apa aku bisa memelukmu atau tidak, aku sedang sakit cacar." Maura memberitahu, ia melihat ke arah Hermione.

"Apa?" Narcissa bertanya kaget.

"Tenanglah Mother, ia bukan terkena cacar naga, ia terkena cacar air dan itu tidak berbahaya." Draco memberitahu sebelum ibunya panik berlebihan.

"Apa kalian sudah menemui Healer?" Narcissa bertanya.

"Kami sudah pergi ke Healer Muggle dan Maura sudah hampir sembuh." Draco memberitahu.

"Kau boleh memeluk Mrs. Malfoy Maura." Hermione memberitahu. Maura kemudian menghampiri Narcissa dan memeluknya. Narcissa juga memeluknya, kemudian menggendongnya ke pangkuannya.

Hermione kemudian melihat apa yang tidak ia sangka bisa dilihatnya. Narcissa Malfoy menitikkan air matanya.

Maura kemudian menyadari kalau Narcissa menangis. Ia melepaskan pelukkannya kemudian menghapus air mata Narcissa dengan ibu jarinya. "Grandmother, kenapa kau menangis? Mommy bilang cacarku tidak akan menulari pureblood." Maura berseru. "Daddy seorang pureblood, apa itu berarti kau juga seorang pureblood?"

Narcissa tersenyum, tentu saja ia menangis bukan karena takut tertular cacar air yang berada di sekujur tubuh Maura, sebenarnya ia bahkan tidak tahu kenapa ia menangis. Ia hanya tiba-tiba merasa gembira, overwhelmed.

.

Narcissa kembali ke manor dengan perasaan campur aduk, ia jatuh cinta pada cucunya. Pada Maura Malfoy. Ia hanya perlu melihat cucunya itu satu kali dan tahu kalau cucunya adalah segalanya baginya sekarang. Ia akan menunggu Draco dan Hermione memutuskan apa ia boleh dekat dengan Maura atau tidak.

Narcissa menggerutu, seandainya ia tidak langsung menolak Maura saat Draco memberitahunya bahwa ia punya anak, ugh.

Draco mengantarnya ke saluran floo, Narcissa sudah mengucapkan selamat tidur pada Maura dan Hermione sudah mengajaknya ke kamarnya.

"Hati-hati Mother." Draco berkata sebelum Narcissa melangkah ke saluran floo itu.

"Terimakasih banyak Draco." Narcissa berkata. "Son, aku minta maaf." Narcissa berkata lagi. "Aku tahu seharusnya aku tidak menolakmu dan Maura dan Miss Granger tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu."

Draco tidak mengatakan apa-apa, ia hanya mengangguk pelan.

Narcissa tersenyum kemudian masuk ke perapian itu, ia baru akan pergi saat Draco memanggilnya.

"Mother." Draco berseru.

"Yes?"

Draco menghela nafasnya. "Aku tahu kemungkinan besar Hermione pasti akan mengizinkanmu bertemu dan mendekatkan dirimu dengan Maura. Perempuan itu terlalu baik." Draco berseru, berusaha menghindari mata ibunya.

"Aku tidak ingin kau atau Father menghancurkan ini." Draco memberitahu, nadanya berubah menjadi serius. "Mother, ini satu-satunya kesempatanku memilki keluarga yang sebenarnya, aku ingin bahagia Mother, dengan Maura dan Hermione." Draco berseru lagi.

"Aku tahu kau dan Father kemungkinan besar akan menerima Maura dengan tangan terbuka. Tapi aku ingin lebih dari itu, aku ingin kalian juga menerima Hermione." Draco memberitahu.

Narcissa tidak tahu apa yang akan dilakukan Lucius, mungkin mereka harus benar-benar memikirkan hal ini lagi. Tapi saat Draco memintanya untuk menerima Hermione juga, ia tahu kalau ia bisa berusaha memulai mengubah pemikirannya tentang kemurnian darah.

Ia akan berusaha, perlahan-lahan tentunya untuk menerima Hermione Granger, lagipula Hermione Granger, selain status darahnya ia terlihat begitu sempurna untuk menjadi bagian keluarga Malfoy. Pintar, cantik, bersahaja, dan yang paling penting ia mencintai Draco dan begitu juga sebaliknya . Tapi tentu saja Hermione dan Draco harus menikah pada suatu titik.

Narcissa sudah memutuskan, ia akan menerima Hermione Granger dan Maura Malfoy ke dalam keluarganya dengan tangan terbuka. Apapun yang akan dilakukan Lucius ia harus mencegahnya sebelum terlambat.

.

Lucius sedang duduk di ruang kerjanya, seperti biasa, tiba-tiba istrinya membuka pintu ruangannya dan berjalan masuk.

"Apa kau lupa bagaimana cara mengetuk pintu Cissy?" Lucius bertanya.

Narcissa memutar matanya. "Aku akan mengetuk pintu lain kali, tapi saat ini ada hal penting yang harus kukatakan padamu." Narcissa berseru, id duduk di kursi di depan meja kerja Lucius.

"Katakan." Lucius berseru.

"Ini tentang cucu kita." Narcissa berseru.

Wajah Lucius mengeras.

"Lucius, apa kau sudah bertemu dengannya?" Narcissa bertanya.

Lucius mengangguk.

"Aku juga sudah bertemu dengannya dan juga Miss Granger." Narcissa memberitahu.

"Narcissa, kita tidak bisa melakukannya." Lucius memberitahu. Ia sudah memikirkannya, dan keputusannya sudah bulat, Maura Malfoy adalah cucunya dan ia pasti sudah gila kalau ia ingin melukai anak itu.

Narcissa mengangguk. "Aku mengerti kalau kau belum bisa menerima Maura dan Miss Granger, tapi kau harus memikirkannya lagi Lucius." Narcissa memberitahu.

Lucius mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudmu Cissy?" Lucius bertanya.

"Aku sudah bertemu dengan Maura, dan apa kau lihat matanya Lucius? Ia anak kecil paling sempurna yang pernah kutemui, dan aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tiba-tiba aku benar-benar merasa memiliki ikatan batin dengannya." Narcissa memberitahu. "Kau mungkin sulit menerima Maura, tapi kumohon jangan lakukan apapun yang berbahaya untuknya." Narcissa memohon.

Lucius benar-benar bingung apa yang dikatakan istrinya.

"Apa maksudmu Cissy? Aku tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti, lagipula bukannya tadi pagi kau yang berkata kalau kau tidak bisa menerima Maura?" Lucius bertanya.

"Itu sebelum aku bertemu dengan Maura dan Miss Granger, aku pergi ke apartement Draco dengan tujuan awal untuk membujuk Draco kembali ke Manor dan meninggalkan Maura juga Miss Granger, tapi kemudian aku seketika berubah pikiran." Narcissa memberitahu.

Lucius mengerti sekarang.

"Jadi kau sudah jatuh cinta pada Maura dan bersedia menerima cucu kita itu?" Lucius bertanya.

Sekarang giliran Narcissa yang mengangkat sebelah alisnya.

"Apa maksudmu?" Narcissa bertanya.

Lucius menghela nafasnya. "Cissy, apa kau mendengarku mengatakan sesuatu yang buruk tentang Maura saat Draco datang tadi pagi?" Lucius bertanya.

Narcissa mengingat-ingat, kemudian ia menggeleng.

"Aku tidak mengatakan apapun tentang tidak menerima Maura kan? Kau terus-menerus mengulang-ulang pendapatmu dan membuat Draco emosi. Aku tidak mengatakan apa-apa tadi pagi karena aku sedang berpikir Cissy, aku juga sudah bertemu dengannya kemarin, lagipula menurutmu kenapa aku mengizinkannya memanggilku Grandfather?" Lucius bertanya.

Narcissa berusaha mencerna perkataan Lucius.

"Jadi kita sudah resmi menjadi Grandparents?" Narcissa bertanya.

Lucius tersenyum lalu mengangguk.

.

"Kita tidak bisa begitu saja mengizinkan kedua orangtuaku dekat dengan Maura." Draco memberitahu Hermione, ia membalikkan tubuhnya dan menghadap Hermione yang berbaring disampingnya.

Hermione masih diam.

"Lalu menurutmu apa yang harus kita lakukan?" akhirnya Hermione bertanya, ia juga memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Draco.

Giliran Draco yang diam.

Hermione menghela nafasnya. "Saat Maura baru lahir, rambutnya tipis sekali." Hermione memberitahu. "Begitu tipis dan berwarna pirang platina seperti rambutmu."

Draco mendengarkan cerita Hermione.

"Kedua orangtuaku tertawa karena Maura benar-benar tidak mirip denganku. Ibuku bilang saat aku lahir, rambutku lebat dan berwarna cokelat. Apa kau botak saat kau lahir Draco?" Hermione bertanya.

Draco tersenyum. "Tidak, aku tidak botak. Sama sekali tidak botak, tapi yeah, rambutku begitu tipis dan seolah-olah botak."

"Lama kelamaan aku menyadari kalau Maura mungkin terlalu cantik untuk kebaikkan dirinya sendiri." Hermione memberitahu. "Semua orang, benar-benar semua orang selalu terkesima melihatnya." Hermione memberitahu. "Orang-orang di desa, orang-orang asing yang berpapasan dengannya, apa kau lihat ekspresi dokter yang memeriksanya saat kita di rumah sakit?" Hermione bertanya.

Draco mengangguk. Tentu saja, Maura benar-benar cantik, semua orang yang melihatnya pasti akan mengakuinya.

"Tapi kemudian aku mulai bertanya-tanya." Hermione memberitahu, Draco bisa mendengar nada yang sedih dalam suaranya. "Jika Maura tidak cantik, jika Maura tidak menggemaskan, jika Maura tidak sesempurna dirinya sekarang, apa semua orang masih akan tetap mencintainya? Menyayanginya? Menyukainya?"

Draco terdiam.

Hermione juga diam.

"Mungkin tidak semua orang." Draco menjawab. "But we will."

Hermione menatap Draco lekat-lekat.

Draco mengulurkan tangannya dan membelai pipi Hermione. "Kau terlalu banyak berpikir, kau terlalu banyak kuatir, terlalu banyak mencemaskan hal-hal yang tidak perlu. Kita tidak butuh orang-orang itu Hermione, kita tidak perlu apa yang mereka pikirkan, seandainya Maura tidak seperti Maura yang sekarang, hal itu tidak akan mengubah fakta bahwa ia adalah anak kita, anakmu, anakku, dan masalah selesai, kasus ditutup." Draco berseru kemudian mencium kening Hermione dan menarik perempuan itu ke dalam pelukkannya.

Hermione menyembunyikan senyumannya di dada Draco.

"Belakangan ini kau menjadi begitu dewasa." Hermione berseru. Draco tertawa.

"Bukankah itu hal yang bagus?"

Hermione tertawa. "Tapi pria dewasa tidak mewarnai buku gambar anak perempuannya."

Draco tertawa lagi. "Aku tidak tahu mewarnai bisa semenyenangkan itu Hermione." Draco memberitahu.

"Jadi apa yang akan kita lakukan tentang orangtuamu?" Hermione bertanya lagi.

Draco menghela nafasnya. "Aku tidak tahu."

"Haruskah kita mengizinkan mereka bertemu dengan Maura?" Hermione bertanya. "Ibumu, well, ia terlihat tulus."

"Kau tidak pernah tahu apa seorang Narcissa Malfoy berbohong atau tidak."

"Tapi ia benar-benar terlihat tulus Draco."

Draco menghela nafasnya, tiba-tiba sesuatu terlintas dipikirannya.

"Bagaimana jika kita menguji mereka?" Draco bertanya.

"Menguji?"Hermione tidak mengerti.

.

Maura terbangun dari tidurnya, ia melihat ke jendelanya dan tahu bahwa hari masih malam. Ia bermimpi buruk. Sebenarnya tidak begitu buruk, di dalam mimpinya ia bertemu dengan beruang besar berwarna hitam dan anehnya ia tidak bisa berlari kabur.

Mommy memberitahunya kalau mimpi tidak akan pernah bisa melukainya, mimpi bisa benar-benar buruk, bisa benar-benar mengerikan, tapi mimpi akan selesai jika kita terbangun.

Mommy membelikannya boneka naga, yang membantunya menjauhkan mimpi buruk, meskipun tidak selalu menjauhkan semua mimpi buruk, tapi boneka naganya sudah melakukan pekerjaan yang hebat selama ini.

Maura menyalakan lampu kecil di samping tempat tidurnya, ia merasa gatal di sekitar tubuhnya, terutama di bagian punggungnya, ia ingin menggaruknya tapi kalau ia menggaruknya Mommy dan Daddy akan tahu dan mereka akan marah.

Maura mengambil boneka naganya kemudian turun dari kasurnya lalu pergi ke kamar orangtuanya, untung lampu di sepanjang jalan dari kamarnya dari ke kamar orangtuanya tidak dimatikan. Ia membuka pintu pelan dan menemukan kedua orangtuanya sedang tidur. Ia berjalan pelan ke arah kasur mereka.

Maura tersenyum melihat Daddy-nya memeluk Mommy-nya. Maura kemudian memanjat kasur mereka pelan dan merangkak ke tengah-tengah mereka.

Draco terbangun merasakan ada yang bergerak-gerak di kasurnya. Ia membuka matanya dan melihat Maura sedang berusaha menyempilkan tubuhnya diantara dirinya dan Hermione.

"Maura?" Draco bertanya pelan.

"Daddy?" Maura bertanya balik. "Apa aku membangunkanmu Daddy?" Maura bertanya pelan. "Aku bermimpi buruk, dan punggungku gatal. " Maura memberitahunya.

Draco tersenyum, ia menggeser tubuhnya dan memberikan tempat untuk Maura diantaranya dan Hermione.

"Kau ingin tidur disini?" Draco bertanya.

Maura mengangguk, ia berbaring diantara kedua orangtuanya.

"Kau bermimpi apa?" Draco bertanya.

"Ada beruang besar! Sangat besar! Beruangnya besar sekali, tapi anehnya aku tidak bisa lari." Maura memberitahu

Draco mengelus-elus kepala Maura "Tidurlah sayang." Draco berseru memeluk Hermione dan menggencet Maura ditengah mereka.

"Um Daddy?" Maura bertanya lagi.

"Iya?"

"Aku tidak bisa bernafas." Maura memberitahu, merasakan ayahnya memeluknya terlalu erat.

Draco tersenyum, menggeser tubuhnya, memberikan ruang untuk Maura, kemudian mencium keningnya.

"Selamat tidur Daddy." Maura berseru.

"Selamat tidur Princess." Draco berseru.

"Aku sayang padamu Daddy." Maura memberitahu lagi.

"Daddy juga menyayangimu." Draco memberitahu lagi, tiba-tiba sesuatu terlintas dalam pikirannya.

"Maura." Draco bertanya, menyeringai.

"Iya?" Maura bertanya, ia kemudian menguap.

"Siapa yang lebih kau sayangi? Daddy atau Mommy?" Draco bertanya berusaha menahan senyumnya.

"Tidurlah Draco!" Hermione tiba-tiba berseru.

"Ups." Draco menahan tawanya, tertangkap basah oleh Hermione.

Maura ikut tertawa.

Hermione mengulurkan tangannya dan memukul Draco pelan.

"Kau tidak boleh bertanya seperti itu Draco!" Hermione menghardiknya.

"Sorry." Draco berseru. Ia tahu pertanyaan seperti itu memang tidak boleh ditanyakan pada anak kecil, tapi ia tidak bisa mencegah dirinya untuk bertanya seperti itu. "Father's pride." Draco berseru.

Hermione menggeleng pelan kemudian menarik Maura kepelukkannya. "Tidurlah sayang." Hermione berseru dan mengelus-elus kepala Maura sampai ia tertidur.

.

"Ada apa Dean? Kenapa kau tiba-tiba mengajakku bertemu?" Harry bertanya, teman Hogwarts-nya ini tiba-tiba mengajaknya bertemu saat makan siang

"Um, Harry sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu." Dean berseru.

"Apa?"

"Aku bertemu dengan Hermione."

Harry melihat Dean. Kepalanya seketika sakit. Ia melepas kaca matanya kemudian menghela nafasnya.

"Dimana?"

-To Be Continued-

It's amaze me. Really. kukira kalian yang memfollow dan memfavorite cerita-ceritaku di ffn sudah cukup banyak, cerita ini saja sudah 39, dan Hawthorn book loft bahkan mencapai jumlah 77.

Tapi kemudian setelah aku memberitahu kalian kalau aku punya akun wattpad langsung ada belasan followers di akun wattpad-ku yang usernamenya belum pernah kudengar/kulihat sebelumnya, ternyata masih begitu banyak silent reader disini... LOL

Yeah, well, aku masih belum begitu bisa beradaptasi dengan wattpad, jadi mungkin masih butuh waktu cukup lama untuk bisa benar-benar menggunakan wattpad dengan lancar, tapi aku senang bisa bertemu dengan kalian yang lebih aktif di wattpad dari pada di ffn.

Jangan kuatir, semua cerita yang sudah kumulai disini akan kuselesaikan disini, I promise.

ah, and btw I'm a big fans of Marvel, dan trailer captain america civil war baru keluar, and it's actually really made my day... #teamcap

Ah, dan beberapa dari kalian yang baru sekali mereview dan mem-pm ku, meminta agar cerita ini lebih panjang per chapternya, well, I'm trying to make at least 3k word per chapter, and I think that's already a proper amount.

So, as usual... READ AND REVIEWWW!