Apapun Untukmu

By Aura Huang

Disclaimer : Harry Potter milik J. K. Rowling

Sorry for typo(s) or Alur Kecepatan


Chapter 14

Scorpius membuka pintu rumahnya—Malfoy Manor dengan pelan-pelan. Berharap bahwa Orangtuanya masih pergi dan belum pulang kerumah. Dia masuk kedalam dan menutup pintu rumahnya dengan pelan—bahkan suaranya pun tidak kedengaran. Lalu, dia menghela nafas lega dan mulai berjalan santai menuju kamarnya.

"Scorpius,"

Scorpius menelan ludahnya gugup. Lalu, dia berbalik kaku dan menemukan sang Ayah yang sedang menatapnya tajam sambil melipat kedua tangannya didepan dada. "Ya, Dad?"

"Kau menginap dirumah Weasley? Apa itu benar?"

Scorpius mengangguk kaku, "Ya."

"Kenapa harus dirumah Weasley?" Balas sang Ayah alias Draco Malfoy sambil berjalan mendekati Putranya tersebut yang diam-diam mengambil langkah mundur. "Kenapa tidak dirumah—"

"Draco!"

Scorpius menghela nafas lega ketika mendengar suara lembut milik Ibunya terdengar ditelinganya. "Mum! Tolong aku!"

"Draco, kita sudah membicarakan ini," Kata Astoria sambil melerai mereka berdua dengan tenang. "Lagipula, apa salahnya dia pergi kerumah Kekasihnya? Kau ini—"

"Dia tidak pergi, tapi menginap, Tori!"

"Memangnya dulu kau tidak pernah seperti itu?!"

Scorpius terkekeh pelan mendengar balasan pedas dari Ibunya. Bagus, Mum! Batin Scorpius senang bukan main. Lalu, dia memanfaatkan kesempatannya untuk kabur disaat Orangtuanya sedang bertengkar. Dia mulai berbalik dan mengambil langkah besar dengan pelan-pelan agar tidak ketahuan.

"Scorpius, sebelum kau kabur, sebaiknya kau mengambil suratmu dulu!"

Scorpius langsung menghentikan langkahnya saat Ibunya menegurnya. Kenapa Mum bisa tahu? Batin Scorpius heran. "Surat?"

"Ya. Dan tidak ada nama dari siapa yang mengirimnya. Mungkin kau harus membukanya terlebih dahulu," Kata Astoria sambil memukul pelan pundak sang Suami. "Sebaiknya kau cepat membalasnya."


"Oh, kau darimana saja, Al?"

"Aku menginap dirumah Uncle Ron dan Aunt Hermione, Mum." Balas Al ketika dia pulang kerumah dan disambut oleh ocehan cemas Ibunya. Dia menguap pelan dan mulai merasakan rasa hangat dari dalam rumahnya. Lalu, dia mendengar langkah terburu-buru yang sedang menuruni anak tangga. Al hampir terjungkal ketika Adik perempuannya langsung memeluknya. "Kau darimana saja?"

"Aku menginap—sudah kubilang."

Lalu, punggungnya dipukul dari belakang yang hampir membuat dia dan Lily jatuh. "Kau darimana saja, Al?"

"Tidak bisakah kau tenang?" Balas Al kesal karena kena pukulan dari James yang sedang memberikan cengiran khasnya. Al hanya menghela nafas sabar dan mencoba untuk menguburkan niatnya untuk membalas pukulan James.

"Untungnya kau balik tepat waktu, Al," kata sang Ayah sambil menghampiri Anak-anaknya yang sedang mengoceh satu sama lain. "Sarapan sudah siap. Sebaiknya kalian semua makan sekarang."

"Aku sudah—"

"Kau tidak boleh begitu," Potong James cepat sambil menutup mulut Al dengan telapak tangannya. "Mum sudah menyiapkan sarapan. Aku tahu kau sudah makan dirumah Rose, tapi, tetap saja kau harus makan disini juga."

"Ya, Al. James benar." Sambung Lily sambil mengikuti sang Ayah menuju ruang makan. Al menghela nafas sabar—lagi. Walaupun dia belum sepenuhnya kenyang, tapi—ah sudahlah. Lagipula, Mum sudah memasakkan masakan kesukaanku, Batin Al dalam hati.


Halo, Scorpius!

Scorpius berdiri didekat pintu keluar Stasiun King's Cross. Dengan pakaian khas mugglenya yang tanpa ia sadari membuat beberapa Wanita terpesona melihatnya. Manik abu-abunya mencari-cari Seseorang yang sedari tadi ia tunggu-tunggu.

Ini pertama kalinya aku mengirim surat untukmu. Dan, bagaimana kabarmu? Sejujurnya, aku bosan. James dan Al tidak mau menemaniku ke Sea Life London Aquarium. Padahal, aku punya tiketnya. Apa kau ingin pergi bersama? Aku tunggu jawabanmu!

"Scorpius!"

Scorpius langsung mencari-cari sumber suara tersebut dan menemukan Lily yang sedang berlari-lari kecil menghampirinya. Scorpius langsung menyusulnya dengan cepat—takut jika Lily terjatuh karena jalanan licin. Lily tersenyum senang dan pipinya sudah merona merah karena kedinginan. "Terimakasih karena sudah mau menemaniku."

"Tidak masalah," balas Scorpius ramah. "Lagipula, aku belum pernah kesana."

"Kau belum pernah juga?" Tanya Lily kaget. Scorpius mengangguk sambil tertawa kecil. "Dan kau—?"

"Aku juga belum pernah," Potong Lily malu-malu. "Dulu saat aku waktu kecil, Dad pernah mengajakku tapi, tiba-tiba ia mendapatkan tugas dadakan. Dan sepertinya dia lupa dan tidak mengajakku kesana lagi."

Scorpius memperhatikan raut wajah Lily yang berubah menjadi sedih. Dia tahu bagaimana rasanya—Scorpius sangat tahu. Terlebih lagi, Scorpius tidak bisa membayangkan bagaimana sibuknya Ayah Lily alias Harry Potter. Scorpius menyentuh pundak Lily lembut dan memberikannya senyum semangat. "Yang terpenting sekarang adalah, hari ini kita akan bersenang-senang. Dan jangan menangis! Kau sudah cantik-cantik seperti ini—"

"Aku mengerti, Scorpius." Balas Lily sambil tertawa senang. Scorpius ikut tertawa mendengar tawa lembut milik Lily.


Perasaan Lily sekarang adalah senang bukan main. Dua hari yang lalu, ia mengirim surat untuk Scorpius—lebih tepatnya mengajak Pujaan hatinya itu pergi ke Sea Life London Aquarium yang sangat terkenal di London. Dan beruntungnya, ia mendapatkan tiket dari sang Ibu yang tidak bisa menemaninya untuk pergi ketempat tersebut. Senyum terpasang diwajah Lily dan jangan lupakan pipinya yang merona merah karena, dia akan menghabiskan waktu bersama Scorpius hari ini. Rasanya seperti—

kencan…

Hari ini, dia bangun lebih awal yang membuat seluruh penghuni rumah terheran-heran karenanya. Lalu, dia memakai baju yang menurutnya paling cantik. Dan rambut merah indahnya ia meminta tolong sang Ibu untuk ditata rapi, yang membuat semuanya makin curiga terutama Al yang mengawasi setiap gerakannya.

Tapi, dia terlambat karena bus yang ia naiki mempunyai masalah pada busnya. Lily pun harus berlari-lari ditengah angin dingin yang sedang melanda London. Tapi, semua rasa kesal dan lelahnya hilang ketika ia menemukan Scorpius yang sedang berdiri menunggunya.

Ya, menunggunya.

Dia ingin menahan mulutnya untuk tidak membuka dan mengeluarkan sepatah kata apapun. Dia ingin Scorpius yang menyadari keberadaannya. Tapi, dia tidak bisa menahannya sama sekali. "Scorpius!"

Pipinya semakin merona ketika Scorpius menyadari keberadaannya dan langsung berlari mendekatinya. Dia berharap Scorpius tidak menyadari pipinya yang merona karena dirinya. Dan lagi—dia berharap Scorpius memuji penampilannya hari ini. Dia tersenyum senang ketika Scorpius sudah berada didepannya. "Terimakasih karena sudah mau menemaniku."

"Tidak masalah," Jawab Scorpius ramah yang membuat Lily menahan senyumnya. "Lagipula, aku belum pernah kesana."

"Kau belum pernah kesana juga?" Tanya Lily yang kaget bukan main. Sekarang, perasaanya makin senang. Dia juga belum pernah kesana dan Scorpius juga. Berarti, ini adalah pertama kalinya untuk kami! Batin Lily dalam hati.

"Dan kau—?"

"Aku juga belum pernah," Potong Lily malu-malu. Kepalanya menunduk—memperhatikan jalanan yang sedang licin untuk mengalihkan perhatiannya. Dan dia memainkan jari-jari tangannya—gugup. "Dulu saat aku waktu kecil, Dad pernah mengajakku tapi, tiba-tiba ia mendapatkan tugas dadakan. Dan sepertinya dia lupa dan tidak mengajakku kesana lagi."

Lily mencoba untuk menyembunyikan rasa kagetnya ketika tangan Scorpius menyentuh pundaknya lembut. Lily semakin terpesona ketika melihat senyum Scorpius dan manik abunya. Dia berdoa dalam hati; semoga Scorpius tidak mendengar detak jantungku yang berdebar sangat kencang ini.

"Yang terpenting sekarang adalah, hari ini kita akan bersenang-senang. Dan jangan menangis! Kau sudah cantik-cantik seperti ini—"

Dia memuji penampilanku! Batin Lily senang bukan main—rasanya sangat bahagia sekali. Dia mencoba untuk bereaksi normal—senormal mungkin. "Aku mengerti, Scorpius."


Sea Life London Aquarium ramai seperti biasa. Terlebih lagi, hari ini adalah hari libur. Scorpius merasa sedikit sesak melihat keadaan yang sangat ramai tersebut, tapi, ia mencoba untuk beradaptasi. Lama-lama aku seperti Rose, batin Scorpius geli. Ya, siapa yang tidak tahu jika Rose Weasley tidak menyukai keramaian? Sepertinya Kekasihnya tersebut tertular.

Lalu, ia melirik sebelahnya—Lily yang sedang menatap sepatunya. Scorpius mengernyitkan dahinya. Apa yang sedang ia pikirkan? Tanya Scorpius dalam hati. Scorpius menepuk pundak Lily pelan dan berbisik. "Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Um," Balas Lily sambil menghindari kontak mata dengan Scorpius. "Terlalu ramai. Apa kau tidak apa-apa? Maksudku—"

"Aku tidak apa-apa, Lily." Balas Scorpius santai. Sekarang, dia yang tidak enak hati dengan Lily. Mungkin, Lily memperhatikan gerak-geriknya yang tidak terlalu menyukai keadaan ramai tersebut. Tapi, sekarang dia sudah beradaptasi dengan lingkungannya. Lalu, ia ikut tersenyum ketika melihat senyum Lily terpasang diwajahnya.

Setelah menunggu beberapa saat sebelum masuk, akhirnya mereka berdua sudah memasuki Sea Life London Aquarium yang luar biasa luasnya. Scorpius bahkan tidak bisa menyembunyikan wajah kagumnya. Wah—muggle benar-benar hebat.

"Scorpius lihat!" Kata Lily sambil menariknya semangat. Scorpius tertawa kecil ketika Lily tidak bisa menyembunyikan wajah kagumnya juga. Tangan Lily menunjuk ke salah satu ubur-ubur dengan semangat. "Lihat! Ubur-uburnya lucu!"

"Wah, indah sekali." Balas Scorpius takjub melihat ubur-ubur yang ditunjuk oleh Lily. Lily mengangguk setuju dan mulai menarik lengannya lagi. "Ayo, kita pergi ke Aquarium yang berlorong itu."

Scorpius belum mengeluarkan sepatah kata apapun dan Lily sudah menariknya menuju tempat tujuan mereka dengan senang. Scorpius hanya tersenyum senang melihat Lily yang sangat bersemangat. Dia pun mengikuti setiap langkah kecil milik Lily. Mereka pun sampai ditempat tujuan mereka yang dipenuhi oleh Orang-orang yang juga ingin melihat berbagai macam ikan tersebut.

"Aku ingin memberi makan ikan juga." Kata Lily ketika melihat Petugas yang sedang memberi makan para ikan. Scorpius tertawa kecil ketika membayangkan Rose berenang diantara ikan tersebut dan memberinya makan. Tiba-tiba saja aku merindukannya.

"Sangat lucu, bukan? Sampai kau tertawa seperti itu."

Scorpius langsung berhenti tertawa ketika Lily sedang memandangnya sambil tertawa. Tiba-tiba ia tidak enak dengan Lily. Dia sedang bersamanya, tapi memikirkan Kekasihnya. Tapi, bukannya itu wajar? Batin Scorpius dalam hati. Moodnya tiba-tiba hilang. Dia merasa pergi dengan Lily bukan pilihan yang tepat. Seharusnya dia bersama Rose. Seharusnya—

"Sudah kuduga kau disini, Malfoy."

Scorpius dan Lily tersentak kaget ketika menemukan Seseorang yang sangat Scorpius tidak harapkan untuk bertemu sedang berdiri dibelakang mereka berdua. Scorpius mencoba untuk bersikap sewajar mungkin. Bahkan ia menahan untuk tidak berteriak didepannya sambil berkata; Tidak bisakah kau tidak ikut campur dalam urusanku?"

"Oh, Al? Kenapa kau disini?"


"Al, kau mau kemana?"

"Pergi, James."

"Kemana? Apa kau—"

Al menutup pintu rumahnya sebelum James menyelesaikan perkataannya. Dia memakai topi barunya yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu dan mulai mengikuti sang Adik yang sudah keluar terlebih dahulu.

Ya, dia mengikuti Adiknya sendiri—Lily.

Sebenarnya, ada alasan kenapa dia menolak ajakan Lily. Dia ingin tahu, siapa yang akan dia ajak. Apakah Scorpius seperti yang ia pikirkan? Atau Lucy dan Roxy? Dia tidak bisa menebaknya—kalau boleh jujur. Jadi, dia memutuskan untuk mengikuti Lily diam-diam.

Kecurigaannya semakin menjadi ketika melihat Lily bangun pagi dan pergi dengan keadaan yang luar biasa beda—seperti ingin kencan. Dan sejujurnya, Al bukan tipe yang terlalu perhatian dengan hal seperti ini. Tapi, jika tentang Scorpius—

—entahlah. Rasanya seperti berapi-api dan dia ingin menendang pantat Scorpius ke ujung dunia.

Al memperhatikan Lily dengan jeli. Dimana sang Adik yang awalnya memasang wajah amat sangat senang, menjadi sedikit kesal karena bus yang mereka tumpangi. Lalu, saat turun, Lily berlari-lari seperti tidak ingin terlambat dan Al semakin yakin Orang yang akan Lily temui adalah Orang yang penting untuk Lily.

Dan—

—benar seperti dugaannya.

Dia bersembunyi dibelakang tiang lampu dengan perasaan campur aduk. Dia ingin menghampiri mereka berdua dan menonjok salah satunya yang tidak lain adalah musuhnya, Scorpius. Al tidak tega melihat wajah Lily yang sangat senang melihat Scorpius. Terlebih lagi, pipinya sudah merona merah yang membuat Al semakin menahan dirinya untuk tidak menonjok Scorpius pada saat itu juga.

Apa dia tidak memikirkan perasaan Rose? Atau dia memang pura-pura bodoh?

Begitulah pikiran Al ketika melihat Scorpius yang memperlakukan Lily sangat baik. Walaupun Scorpius sendiri tidak memperlakukan Lily seperti dia memperlakukan Rose—tapi, tetap saja.

Dia adikku, brengsek!

Dia tidak mau Lily menangisi Orang seperti Scorpius. Dia tidak mau melihat Lily memasang wajah sedihnya terus-terusan karenanya. Al menahan dirinya sekeras mungkin. Bahkan dia sudah mengumpat diam-diam beberapa kali yang kadang-kadang mendapatkan tatapan tajam dari Orang yang mendengarnya.

Al mengikuti Lily dan Scorpius yang mulai bergerak dari posisi mereka. Dia tetap mengikuti mereka berdua dari belakang dengan hati-hati, walaupun dia sedikit heran—kenapa mereka berdua tidak menyadari bahwa mereka sedang diikuti? Mungkin, akunya saja yang hebat dalam hal ini, Batin Al bangga pada dirinya sendiri.

Tentu saja dia ahli. Dia sudah pernah beberapa kali mengikuti Rose—kecuali ke toilet perempuan, tentu saja.

Kedua mata Al mendadak melotot ketika melihat Scorpius menyentuh pundak Adiknya. Hei—dasar si pirang itu! Dia benar-benar ingin dihajar! Batin Al menjadi-jadi. Ingin rasanya dia mengeluarkan tongkat dari saku jaketnya dan mengarahkannya tepat ke Scorpius.

Tapi, Al tidak tega melihat senyum Lily yang luar biasa senang. Well, Lily adalah tipe Orang yang mudah senang. Tapi, ini berbeda. Saat dia senang bersama Scorpius—rasanya berbeda. Bahkan, Al yakin Lily sudah senang bukan main—sampai-sampai dia menarik lengan Scorpius kesana kemari seperti layaknya Kekasih.

Al tidak bisa menahan dirinya ketika mereka berdua sedang berbincang didepan Aquarium sambil memperhatikan seorang Petugas yang memberi makan ikan-ikan. Al sudah berdiri dibelakang mereka berdua—walaupun diam-diam takut menghancurkan perasaan bahagia Lily yang sedang dirasakan adiknya tersebut. "Sudah kuduga kau disini, Malfoy."

"Oh, Al? Kenapa kau disini?" Tanya Lily kaget sambil memperhatikan dirinya khawatir. Terbaca jelas wajah Lily yang diam-diam takut dengannya. Al menghela nafas berat dan menatap Scorpius tajam. "Aku baru ingat kalau aku punya tiket juga, Lily. Aku ingin menyusulmu, tapi sepertinya kau sudah pergi bersama Oranglain ya?"

"Al," Balas Lily tidak suka dengan sikap Kakaknya tersebut. Tangannya menyentuh lengan Al sambil memandangnya kesal. "Aku yang mengajaknya, jangan ikut campur—"

"Tapi, jika dia Orangnya—aku harus ikut campur," Balas Al sambil menjaga nada suaranya. Dia tidak mau Orang-orang memperhatikan mereka bertiga. "Aku ingin berbicara dengannya."

"Tidak, tidak boleh. Aku tahu kau Kakakku dan sungguh aku menyayangimu, Al. Tapi, tolong jika kau ingin—"

"Tidak apa-apa, Lily." Potong Scorpius yang membuat Al diam-diam tersenyum dalam hati. Bagus, dia mengerti bagaimana suasana sekarang ini. Lalu, Scorpius menepuk pundak Lily pelan dan menatap Al seperti ingin melahapnya langsung—tapi, Al santai menanggapinya. "Jadi, kau ingin berbicara dimana?"


Al dan Scorpius meninggalkan Lily ditempat peristirahatan. Setelah Scorpius menyakinkan Lily bahwa dia akan baik-baik saja—tentu saja, melawan Potter seperti dia sangatlah mudah, dia dan Al bisa berbicara ditempat yang lumayan sepi. Dimana suasana buruk diantara mereka berdua sangat terlihat.

"Apa kau sudah berbicara dengannya?"

Scorpius tidak bisa berkata "iya" saat Al bertanya seperti itu. Scorpius bahkan tidak memberi tahu Rose atau meminta izin darinya. Dia mengalihkan pandangannya dan menghela nafas berat. "Tidak."

"Kau brengsek, kau tahu,"

Scorpius hanya diam. Sungguh, dia tidak ingin bertengkar dengan Al saat ini karena dia tahu bahwa dia mempunyai salah juga. Dia ingin menghindari perkelahian dan hanya mendengarkan setiap Al berbicara bahkan mengumpat kasar untuknya.

"Walaupun dia mengerti bagaimana dirimu—bahkan dia selalu seperti itu. Seharusnya kau memikirkan perasaannya. Apakah pernah dia berbicara tentang bagaimana dia tidak suka kau mendekati Wanita lain? Apakah pernah dia berbicara tentang bagaimana dia tidak suka dengan sikapmu? Tidak, Malfoy! Bahkan dia selalu menceritakan semuanya kepadamu, bukan? Tapi kau—"

"Aku tahu, Potter." Potong Scorpius. Dia tidak bisa mendengar lagi perkataan tajam yang terucap dari mulut Al. Semua perkataan musuhnya tersebut benar—ralat, sangat benar. Dia memijat keningnya pelan dan mengacak-acak rambutnya frustasi. "Aku hanya menganggapnya seperti Adik, kau tahu? Aku tidak menganggapnya lebih."

"Tapi, kau membuat Adikku senang bukan main. Dia bahagia dan aku senang—tapi, aku tidak senang jika dia bahagia karena mu, Malfoy."

"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Potter. Aku hanya akan bersama dia. Hanya dia—"

"Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi dia jika dia mengetahui hal ini, Malfoy." Balas Al mulai memelankan suaranya. Scorpius merasakan betapa frustasinya Al karena dirinya. Karena dirinya yang dekat dengan Lily. "Dia mengharapkanmu, tapi, kau—"

"Akan kubuat dia mengerti—"

"Tapi, dia tidak akan mengerti, Malfoy. Tidak akan pernah." Balas Al sambil menghela nafas berat. Scorpius menelan ludahnya tanpa sadar ketika menyadari bahwa mood Al sekarang benar-benar sangat tidak baik. "Jadi, apa mau kau sekarang?"

"Habiskan waktu bersama dia hari ini dan jangan pernah dekati dia lagi. Jangan sampai hal ini terjadi lagi."


Lily menunggu Al dan Scorpius dengan perasaan campur aduk; cemas, kesal, takut, dan lainnya. Jari-jarinya tidak bisa berhenti mencengkram roknya dan kakinya tidak bisa berhenti gemetar. Dia mencoba untuk menenangkan diri dengan membeli permen—tapi, tetap tidak bisa.

Saat maniknya melihat Scorpius yang menghampirinya Seorang diri—yang dia sendirian tanpa sang Kakak yang mengikutinya, ia langsung bangun dari duduknya. Lily memandang Scorpius dengan perasaan bersalah—dia takut Al mengatakan hal yang membuat Scorpius sakit hati. "Kau tidak apa-apa?"

"Ya." Balas Scorpius santai yang membuat Lily semakin curiga dengan apa yang mereka bicarakan tadi. Lily memperhatikan raut wajah Scorpius yang benar-benar Lily sendiri tidak bisa baca. Dia menyerah dan menghela nafas pelan. "Apa yang tadi kalian bicarakan?"

"Dia hanya menyuruhku untuk membuatmu senang hari ini." Balas Scorpius sambil tersenyum hangat. Lily menelan ludah tanpa sadar dan memandang Scorpius tidak percaya. Bagaimana bisa Kakaknya yang sudah terkenal sebagai musuh Orang yang ia taksir ini menyuruhnya hal seperti itu?

"Kau tidak percaya?"

Lily mengangguk. "Ya, aku tidak percaya. Bagaimana mungkin Al mengatakan hal seperti itu padamu? Tidak, itu tidak akan mungkin—"

"Hei," Potong Scorpius lembut yang membuat Lily terdiam mendengarnya. "Kakakmu memang kadang suka jahat padaku, tapi, ia tidak akan pernah berani untuk menyakitimu, Lils. Buktinya, aku tidak diusir dan masih ada disini kan? Ini demi kau."

Pipi Lily merona mendengarnya. Bagaimanapun juga, dia semakin terpesona dengan Scorpius. Walaupun hubungan mereka berdua tidak terlalu baik—tapi, Scorpius tetap membela Al yang membuat Lily semakin jatuh pada pesonanya. Wajahnya tampan, hatinya baik, dan—Merlin! Aku tidak menyesal karena aku menyukainya! Aku tidak akan pernah menyesal!

"Jadi, kemana lagi kita akan pergi, Lils?"


Lily dan Scorpius memutuskan untuk pulang setelah merasakan lelah luar biasa—tapi, mereka senang. Dan Scorpius tidak berbohong kalau dia menikmati setiap detiknya bersama Lily. Walaupun dia masih terbayang-bayang setiap kata yang diucapkan oleh Al.

"Habiskan waktu bersama dia hari ini dan jangan pernah dekati dia lagi. Jangan sampai hal ini terjadi lagi."

"Scorpius, apa kau mendengarku?"

Scorpius tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara lembut Lily yang menyadarkannya. Dia menemukan Lily yang sedang menatapnya khawatir dan tidak enak. "Apa kau tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa, Lils. Jangan terlalu memikirkanku seperti itu." Kekeh Scorpius pelan yang tanpa ia sadari membuat pipi Lily sedikit merona karenanya. "Aku—aku akan ingat itu baik-baik."

Scorpius tertawa kecil mendengar jawaban Lily dan Lily sendiri ikut tertawa karenanya. Mereka berdua mulai melanjutkan perjalanan mereka. Scorpius ingin mengantar Lily sampai rumah—tapi, Lily menolaknya dengan alasan takut ketahuan lagi. Jadi, mereka berdua berpisah ditempat dimana mereka berdua tadi pagi bertemu.

"Kau serius, Lils? Aku bisa—"

"Tidak, aku tidak apa-apa."

"Kau perempuan—"

"Apa kau lupa kalau aku punya tongkat ditasku?" Potong Lily santai yang membuat rasa cemas Scorpius berkurang. Scorpius mengangguk mengerti. "Oke, aku menyerah."

Lily tertawa kecil. "Jangan menyerah. Dan—terimakasih untuk hari ini! Aku sangat menikmatinya!"

"Terimakasih juga untuk hari ini." Balas Scorpius ramah. Lily melambaikan tangannya kearah Scorpius dengan semangat yang dibalas oleh Scorpius sendiri. Manik Scorpius tetap mengawasi punggung Lily sampai dia tidak kelihatan. Setelah mengawasi untuk beberapa saat sampai Lily tidak kelihatan lagi—dia menghela nafas lelah.

"Scorpius,"

Scorpius membeku ketika mendengar suara yang sangat ia kenal dan juga rindukan dibelakangnya. Dia menahan nafasnya ketika melihat manik biru terang tersebut tepat didepannya. Rambut merahnya ia tidak apa-apakan—yang membuat ia terlihat cantik dan Scorpius bersumpah bahwa dia sudah melihat beberapa pasang mata laki-laki yang meliriknya. "Rose?"

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Rose heran.

"Apa kau sudah berbicara dengannya?"

"Aku—"

"Apa kau bertemu dengan Al dan bertengkar?" Tanyanya mulai khawatir. Scorpius yang tadinya merasakan gugup luar biasa—langsung merasa tenang ketika tangan Rose menyentuh wajahnya—mencari-cari apakah ada yang terluka karena Al. "Tidak ada yang terluka. Lalu, apa yang kau lakukan disini?"

Perkataan Al terbayang-bayang lagi dipikirannya. Dia tidak bisa berbohong terus—tidak, dia tidak bisa. Dia harus jujur dan menceritakan semuanya kepada Rose mulai sekarang walaupun tentang Lily sekalipun. Dan dia yakin, Rose akan mengerti. Dia selalu mengerti dan Scorpius bersyukur mempunyai Kekasih seperti itu.

Dia harus mengatakannya—sekarang.

"Rose."

Rose memandangnya semakin curiga. "Apa? Jangan membuatku takut."

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu."


Suasana canggung terasa dimobil keluarga Weasley yang sedang dikendarai oleh sang Ibu—Hermione. Sang Ayah sedang sakit dan memutuskan untuk menjaga rumah, sedangkan Rose, Hugo dan Ibunya pergi untuk membeli barang-barang keperluan mereka. Dan tanpa disangka, Rose menemukan Scorpius yang sedang berdiri dan memandang sesuatu—tapi, ia tidak tahu apa. Dan lagi, jantung Rose berdetak luar biasa cepat karena mendengar perkataan Scorpius.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Walaupun Scorpius duduk disampingnya—dia tidak bisa bertanya sebelum Scorpius yang memulai pembicaraan yang ia tidak tahu apa itu. Pikiran Rose sudah terpenuhi dengan hal-hal yang buruk; putus, tidak suka lagi, tidak mau bertemu lagi, dan sebagainya.

"Scorpius, apa kau benar-benar tidak ingin mampir dulu?" Tanya Hermione ramah. Rose jadi merasa menyesal karena memberitahu Ibunya bahwa Scorpius sedang bersamanya saat dia menelpon Ibunya. Ibunya langsung bersikeras untuk mengantar mereka berdua ketempat tujuan—taman.

"Mum—"

"Tidak, aku tidak apa-apa, Aunt. Lagipula, kami ingin—"

"Mereka ingin berkencan, Mum. Sebaiknya kita jangan ganggu mereka." Kata Hugo sambil mulai memakan coklat yang ia beli tadi. Hermione tertawa mendengarnya—sedangkan Scorpius dan Rose tidak bisa mengatakan apapun karena malu. Walaupun, diam-diam mereka berterimakasih kepada Hugo yang telah membantu mereka untuk menyelamatkan diri.

"Oke—Mum mengerti." Balas Hermione sambil menepikan mobilnya dipinggir jalan—karena, mereka sudah sampai pada tempat tujuannya; taman. Rose dan Scorpius mengucapkan terimakasih sebelum melanjutkan perjalanan mereka berdua.

Mereka berdua mulai mengelilingi taman tanpa bicara sekalipun—yang membuat Rose diam-diam takut setengah mati. Rose sangat ingin mengandeng lengan Scorpius—seperti pasangan-pasangan yang juga sedang berada ditaman. Tapi, ia menahannya. Sesekali ia melirik Scorpius yang sedari tadi sama sekali tidak meliriknya.

Sungguh, Rose tidak tahan melihat kelakuan Scorpius yang tidak seperti biasanya.

"Apa yang ingin kau bicarakan?"

"Aku,"

Rose semakin kesal mendengar Scorpius yang tidak langsung memberitahunya. "Aku—kenapa? Apa kau mau—"

"Jangan berpikiran macam-macam, Rose. Aku tahu apa sekarang yang sedang ada dipikiranmu." Balas Scorpius. Rose menghela nafas sabar dan mengalihkan pandangannya dari Scorpius. "Kau membuatku takut."

"Hari ini aku pergi dengan Lily,"

Rose langsung terdiam mendengarnya. Telinganya tiba-tiba tuli setelah mendengar kalimat tersebut. Dia mencoba untuk bersikap sewajarnya—ya, sewajarnya. Seolah-olah tidak ada masalah dengan pernyataan dari Scorpius tersebut. "Sungguh?"

"Maaf, karena aku tidak memberitahumu atau meminta izin darimu terlebih dahulu." Lanjut Scorpius sambil menyentuh tangannya. Rose terdiam mendengarnya dan memandang kaku tangan Scorpius yang menyentuh tangannya. Tiba-tiba, ia merasakan perasaan risih, tidak suka dan kesal.

Kenapa kau seperti ini, Rose? Bukankah bagus mereka semakin akrab?

Rose menghela nafas berat. Dia menyingkirkan tangan Scorpius dan memandang Kekasihnya tersebut dengan perasaan campur aduk. "Apa—karena kita bertemu tadi, kau langsung—"

"Dan juga, Aku dan Lily bertemu Al—"

"Apa, karena Al kau memberitahuku hal ini, Scorpius?"

Scorpius terdiam mendengarnya. Rose bersumpah bahwa dia tidak ingin menangis—dia tidak mau menangis didepan Scorpius. Dan, benar seperti dugaannya; Al mengikuti mereka dan kemungkinan besar Al mengancam Scorpius, lalu Scorpius baru memberitahunya. Dia menghela nafas berat lagi dan tersenyum kecil. "Sepertinya, aku harus berterimakasih pada Al. Dan—"

"Jangan salah sangka dulu—"

"Lalu apa? Kau bahkan pergi dengannya tanpa memberitahuku. Aku tidak akan marah jika mau mengatakannya terlebih dahulu." Balas Rose jujur. Scorpius memandang Rose dengan tatapan bersalah yang membuat Rose diam-diam semakin merasa bersalah. Dia seharusnya tidak marah—ya, harusnya seperti itu.

"Aku—aku mau pulang, Scorpius. Sebaiknya kau pulang—"

"Jangan bersikap seperti ini, Rose. Kau boleh memukulku—"

"Tapi, itu tidak akan mengubah keadaan apapun, Scorpius." Balas Rose pelan. Bersikap dewasalah, Rose, bersikap dewasalah. "Aku bukannya tidak suka kau pergi bersama Lily, aku tidak suka kau tidak memberitahuku sama sekali. Aku mempercayaimu, Scorpius."


Scorpius pulang kerumah dalam keadaan lesu dan tidak bersemangat. Bahkan, dia sama sekali tidak berselera untuk makan. Dia hanya memandangi langit-langit kamarnya dan merenungkan kejadian tadi yang benar-benar diluar perkiraannya.

Tapi, wajah sedih Rose masih terbayang dipikirannya. Dia terluka melihatnya. Dan bodohnya lagi, dia tidak bisa menahan Rose yang langsung pergi meninggalkannya. Dia merasa hari ini—

—benar-benar berbeda.

Dia merasa, hari ini dia tidak bersikap seperti Laki-laki didepan Rose. Yang ia lakukan hanya minta maaf dan dia tidak mencegah Rose pergi.

"Sepertinya, aku harus berterimakasih pada Al—"

Ya, terimakasih untuk Potter atas segalanya, batin Scorpius jengkel. Dia yakin bahwa malam ini dia tidak akan bisa tidur nyenyak karena memikirkan Rose yang masih sakit hati karenanya. Perasaan senangnya tadi bersama Lily pun sudah hilang entah kemana. Scorpius mengacak-acak rambut pirangnya frustasi dan berharap Ayah dari Kekasihnya itu tidak membantingnya karena telah membuat Putri kesayangannya itu sakit hati.

Rose, aku mohon kau jangan menangis karena hal ini. Aku berjanji—sungguh, aku tidak akan mengulanginya lagi. Dan aku tidak akan melepaskanmu lagi—aku akan menahanmu. Aku akan menjadi Pria yang lebih baik dari sebelumnya untuk dirimu. Tolong, jangan menangis.

Scorpius memejamkan kedua matanya. Berharap bahwa isi hatinya sampai untuk Rose. Dan lama kelamaan—mimpi membawanya dan dia tertidur.

BERSAMBUNG


Terimakasih untuk semuanya yang telah menunggu updatean ff ini. TERIMAKASIH BANYAK UNTUK SEMUANYA! Dan jangan lupa untuk review!