Tiga hari setelah perayaan festival, para siswa dikumpulkan di gymnasium tepat setelah mereka selesai sarapan. yah, meskipun mereka semua mengenakan pakaian bebas mengingat hari libur musim panas telah tiba. Para guru yang mulai sibuk mengatur barisan agar terlihat teratur dengan barisan paling depan adalah deretan para anggota dari lima club yang kemarin berpartisipasi dalam festival. Dan, di belakang mereka barisan kelas tiga, di belakangnya lagi kelas dua, lalu kelas satu di barisan paling akhir. Selesai, menata para muridnya—masuklah kepala sekolah beserta sisa guru lainnya di atas panggung dihadapan para siswa-siswi RC.

"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Bang ssaem, kepala sekolah RC. Dan dengan kompak seluruh siswa pun membalas dengan seruan 'pagi!' pada Bang ssaem. "Pagi ini adalah pagi yang kalian tunggu. Tapi, sebelum itu ada beberapa pengumuman yang harus pihak sekolah sampaikan kepada kalian semua. Yang pertama, menyangkut tentang libur musim panas tahun ini. Seperti biasa, dan seperti tahun-tahun sebelumnya. Sekolah kita akan kembali mengadakan summer camping yang kali ini akan diadakan di Jeongseon dan kita akan berangkat minggu depan." para siswa pun mendesah malas ketika mendengar rencana kemah tahunan yang selalu diadakan RC ketika musim panas datang.

"Dan, camping kali ini akan diadakan hanya selama tiga hari. Persiapkan diri kalian, arraseo? Pengumuman kedua, ini menyangkut tentang hasil ujian kemarin. Dan seperti biasa, bagi para peringkat satu di masing-masing angkatan akan mendapat hadiah karena prestasi belajarnya." dan untuk kali ini para siswa bergumam iri dan menoleh sosok peringkat satu yang ada di setiap kelas satu, dua, dan tiga.

"Dan hadiahnya kali ini adalah komputer yang akan diletakkan di kamar asramanya." dan yang paling memekik keras adalah roomate dari peringkat satu. "hey, hey, hey di kamarnya bukan berarti teman satu kamarnya bisa menggunakannya—karena, pihak sekolah akan memberikan ID untuk menggunakan komputer itu. Jadi, hanya kepala sekolah dan kalian yang mendapat peringkat satu tentunya yang tahu."

"wah, Doojoon-ssi—apa kau tidak merasa kesal karena Kim Namjoon sudah menggusur tempatmu?" bisik Minho. Doojoon berdecak.

"Diamlah! Aku masih tidak ingin membahasnya!" titah Doojoon yang membuat Minho tertawa puas. Sungguh, Doojoon benar-benar merasa kesal dengan peringkatnya yang turun untuk semester ini apalagi hadiahnya lebih bermakna dari pada semester kemarin. Karena, semester kemarin pihak sekolah hanya memberikan uang saku dan bebas menggunakan ponsel kepada para peringkat satu.

"Dan, pengumuman ketiga—menyangkut tentang perayaan festival. Sebenarnya, tahun ini sedikit berbeda dengan tahun kemarin. Apalagi, sampai sekarang kalian semua belum mengetahui apa hadiah para pemenangnya, bukankah begitu? Atau justru ada yang sudah tahu?" tanya Bang ssaem dan entah sengaja atau tidak tatapan matanya mengarah pada Jimin yang terlihat terkejut. Bang ssaem bahkan Lee ssaem tersenyum kecil. Sementara, Jimin yang berdiri di barisan club dance paling belakang mencoba untuk tetap tenang agar tidak ada yang curiga jika sebenarnya ia mengetahui apa hadiah untuk pemenang festival tahun ini.

"Ada tiga hadiah untuk pemenang festival tahun ini selain dana tambahan untuk club pemenangnya. Hadiah pertama, diijinkan untuk pulang ke rumah masing-masing setiap akhir pekan selama satu semester—" para siswa bersorak takjub dengan hadiah pertama karena jika tidak pada liburan musim dingin, sekolah tidak mengijinkan para siswanya pulang termasuk musim panas. Mungkin, musim panas masih diijinkan berkunjung tapi tidak boleh menginap.

"—hadiah kedua, adalah lulus dari satu mata pelajaran dari guru pembina club untuk semester depan." dan pemberitahuan hadiah kedua lebih mendapat sorakan heboh karena telah dinyatakan lulus satu mata pelajaran, itu artinya para anggota club yang menang tak perlu mengikuti ujian dari satu mata pelajaran yang diampu oleh guru pembina di club mereka.

"Dan, hadiah ketiga adalah—" Bang ssaem menjeda ucapannya sejenak. "—liburan di pulau Santorini, Yunani, selama satu mingu."

"WOAH~" pekik para siswa bersemangat.

"Dan langsung saya umumkan siapa pemenang dari festival tahun ini." seru Bang ssaem yang membuat seluruh siswa diam seketika dan menunggu dengan gugup siapa kiranya yang akan menjadi pemenang festival tahun ini. "Sesuai dengan suara yang diberikan para siswa hingga guru yang menonton serta orang tua atau wali yang hadir hingga para tamu undangan yang juga ikut berpartisipasi memberikan suara. Maka, pihak sekolah sepakat untuk mengumumkan club yang masuk dalam tiga besar—"

"—sebenarnya, club yang masuk di peringkat kedua dan ketiga sangat disayangakan karena jarak angka yang mereka peroleh sangat tipis, yaitu hanya tiga poin." Bang ssaem menatap wajah tegang para siswanya satu persatu. Ia menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan.

"Club yang berada di peringkat ketiga dengan perolehan suara sebanyak 131 dari para siswa, 49 dari para guru, 56 dari para orang tua, dan 27 dari tamu undangan, jadi total keseluruhan adalah 263 adalah—" siswa-siswi dari kelima anggota club menunduk bahkan beberapa dari mereka ada yang memejamkan mata dan menautkan tangan mereka, berdoa.

"Club Musik!" seluruh siswa dan guru bertepuk tangan meriah dan para anggota dari club musik hanya bisa tersenyum puas. Karena, tak apa jika tidak menjadi yang pertama asalkan mereka bukan yang terakhir.

"Selajutnya, peringkat kedua mendapat suara sebanyak 138 dari para siswa, 46 dari para guru, 56 dari para orang tua, dan 26 dari tamu undangan, jadi totalnya adalah 266 didapat oleh club—" Bang ssaem tersenyum penuh teka-teki membuat seluruh siswa semakin gugup untuk mendengar siapa kiranya yang mendapat juara kedua.

"Club Vocal!" para siswa pun bertepuk tangan puas bahkan seluruh anggota club vocal sampai saling berpelukan termasuk Taehyung dan Jungkook yang langsung berpelukan erat.

"and last!" seru Bang ssaem lagi yang membuat seluruh seisi ruangan kembali menjadi hening. "—tersisa tiga club yaitu club taekwondo, teater dan dance. Club taekwondo yang berhasil menjadi juara pertama tahun lalu dan club teater yang menjadi juara ketiga tahun lalu tapi menjadi juara pertama dua tahun yang lalu. Dan, club dance yang selalu rutin mengikuti festival tahunan di RC. Who's the winner?"

"woah~ aku langsung merasa rendah ketika Bang ssaem mengatakan dengan singkat dan sama sekali tak bermakna tentang club kita." bisik Jongin pada Hoseok yang berdiri di sampingnya.

"Club kita ini benar-benar paling parah diantara semua club!" lanjut Hakyeon yang juga berada di samping kiri Hoseok. Hoseok hanya menggeleng malas untuk meladeni racauan tak penting dari kedua temannya.

"Dan, juara pertama dengan perolehan suara sebanyak 149 dari para siswa, 53 dari para guru, 66 dari orang tua, dan 27 dari tamu undangan hingga keseluruhan total adalah 295, jumlah poin yang cukup jauh dibandingkan peringkat kedua dan ketiga. Dan—pemenang dari festival tahun ini ... didapat oleh ..." kedua mata Bang ssaem bergilir bergantian melirik kearah tiga club yang saat ini masih berdoa dalam hati semoga nama club mereka yang disebut. Beberapa ada yang menunduk dan beberapa ada yang tanpa henti berkomat-kamit entah membaca mantra apa dan berharap nama club yang mereka ikuti masing-masing yang disebut oleh Bang ssaem.

"Pemenangnya adalah—and the first time ..." dan ketika kalimat itu keluar dari belah bibir Bang ssaem, sontak para anggota club dance langsung menatap penuh harap terlebih ketika Bang ssaem yang juga menatap mereka.

"ya! Club Dance!"

"YAY!" seru para anggota club yang langsung berhambur memeluk masing-masing anggota mereka, termasuk Jimin dan Hoseok yang entah sejak kapan sudah berada di tengah-tengah mereka.

"Woah~ Park Jimin menang banyak!" gumam beberapa siswa yang merasa iri dengan keberhasilan Jimin di semesternya kali ini. Bahkan, ada juga beberapa siswa yang ikut tersenyum senang dan ikut merasa bahagia seperti apa yang para anggota club dance rasakan.

"Kita harus merayakannya!" ujar Hoseok yang diangguki oleh seluruh rekan seclub-nya, meningat ini adalah kemenangan pertama mereka.

.

.

.

.

.

"Terima kasih, Jimin-ssi. Ini semua berkat dirimu." ujar guru Lee yang sengaja menghampiri Jimin di depan gedung asrama setelah selesainya pengadaan pengumuman selesai. Jimin menggeleng.

"Tidak ssaem, ini berkat seluruh anggota club. Mereka semua berlatih dan bekerja keras jadi mereka pantas mendapatkannya." jawab Jimin rendah hati.

"Tapi, bagaimanapun juga ide dan seluruh konsepnya adalah idemu. Meskipun kau mengatakan pada mereka, aku juga ikut andil. Tapi, kau yang berperan paling besar disini." Jimin tersenyum manis.

"Tidak ssaem, sebagus apapun dengan ide ataupun konsepnya jika mereka semua memang tidak pernah berusaha dari awal pasti tidak akan berakhir bagus. Ini semua hasil kerja keras seluruh anggota club. Terutama, anda ssaem." Guru Lee mengangguk menyerah.

"Baiklah, jika begitu yang kau katakan. Dan, selamat untukmu—kau berhasil mempertahankan peringkatmu meskipun kau sempat mengalami kendala." Jimin tersenyum tulus.

"nde, kamsahamnida songsaenim."

"arraseo, kalau begitu aku pergi dulu. Selamat berlibur Jimin-ssi!" pamit guru Lee yang kemudian meninggalkan Jimin begitu saja. Jimin menarik nafas menatap punggung gurunya sebelum akhirnya berjalan memasuki gedung asrama.

Jimin melangkah dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku hoodie yang ia kenakan dan berjalan lurus menuju tempat lift berada. Setelah masuk, Jimin menekan tombol yang tertuju pada rooftop gedung. Ia membutuhkan udara segar.

Ting!

Pintu lift terbuka setelah akhirnya sampai di tempat yang Jimin tuju. Hembusan angin yang begitu menyegarkan tubuhnya meskipun matahari masih belum berada di titik tengah langitnya. Dengan santai, Jimin berjalan menuju pembatas gedung sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.

Jimin berdiri diam ketika ia melihat sosok seniornya yang juga berdiri diam menatapnya terkejut. Dengan wajah dingin dan datar andalannya, dengan acuh Jimin berjalan mendekati sang senior berdiri dimana tempatnya adalah view yang paling Jimin sukai dari rooftop gedung asrama.

Min Yoongi, senior Jimin—yang merasa Jimin berjalan mendekatinya hanya berdiri kaku hingga akhirnya Jimin benar-benar berada di sampingnya. Seketika, Yoongi merasa terpesona saat melihat wajah manis Jimin yang tersapu angin siang itu. Namun, sedetik kemudian ia segera menghapus pikirannya mengingat beberapa hari yang lalu ia baru saja melukai hati juniornya.

"Kau disini?" tanya Yoongi basa-basi. Jimin hanya berdehem. "Jika kau tidak ingin aku disini, aku akan pergi!" Yoongi hendak melangkahkan kakinya meninggalkan Jimin namun lebih cepat dengan pergerakan Jimin yang tiba-tiba menahan tangannya.

"Tetaplah disini, kau yang lebih dulu berada disini." dan seolah deja vu dengan kalimat Jimin, Yoongi pun menurut dan berdiri di samping Jimin dengan canggung.

Hening, tak ada pembicaraan diantara mereka. Meskipun sebenarnya, Yoongi ingin mengatakan banyak hal pada Jimin tapi entah kenapa suaranya tak keluar dengan mudah.

Yoongi berdehem, bermaksud untuk memecah keheningan dan nampaknya Jimin masih betah berdiam diri dengannya.

"Bolehkah aku bertanya?" tanya Yoongi akhirnya memberanikan diri. Tanpa menoleh, Jimin menjawab,

"Tentu!"

"Kau mendengar apa yang kukatakan malam itu, kenapa kau tidak marah ketika bertemu denganku?" tanya Yoongi. Jimin tersenyum samar dan menoleh kearah Yoongi hingga akhirnya mereka berdua bertatapan.

"Apa kita memiliki hubungan sebelumnya, sunbaenim?" tanya Jimin. Yoongi terdiam. "Aku bukan orang-orang yang akan mengartikan setiap pertemuan kita dengan sesuatu yang spesial terlebih mengingat siapa dirimu di sekolah ini." lanjut Jimin. "Sejujurnya, aku tidak begitu peduli dengan orang-orang yang entah mau menjatuhkanku atau berniat untuk bermain-main denganku. Karena, aku bukan mereka yang memiliki waktu luang untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak menguntungkanku!" jelas Jimin yang entah kenapa Yoongi merasa miris mendengarnya.

"Jadi, tentang apa yang aku dengar malam itu. Tentang yang kau katakan pada mereka. Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya." terang Jimin lagi. Dan, Yoongi tidak tahu harusnya ia senang atau sebaliknya. Tapi, kenapa ia harus senang? Atau, kenapa juga ia harus merasa sedih?

"Apa kau tidak pernah jatuh cinta?" tanya Yoongi sarkas dan melenceng jauh dari pembicaraan mereka. Katakan saja, Yoongi kesal tapi ia juga tidak tahu kenapa ia menjadi kesal dengan jawaban Jimin. Jimin tersenyum kecil. "Atau menyukai seseorang?" lanjut Yoongi menuntut.

"Aku sudah lupa dengan kata-kata itu. Bahkan, aku merasa asing ketika mendengarnya." jawab Jimin ringan. Ia mengalihkan pandangannya dari Yoongi. "Tapi, aku merasa pernah menyukai seseorang sebelumnya." lanjut Jimin kemudian. Jimin menatap kosong langit biru diatasnya. "Seseorang yang tidak sengaja aku lupakan di masa laluku. Dan membuatku menjadi pribadi sedingin ini."

"Apa maksudmu?" tanya Yoongi tak mengerti. Jimin menunduk.

"Kau bertanya apa aku pernah menyukai seseorang? Maka ya, aku memang pernah menyukai seseorang. Seseorang yang tidak aku ingat rupa bahkan namanya. Lucu bukan?" tanya Jimin menoleh kearah Yoongi yang diam membeku.

'Apa Jimin tahu, jika dia mengalami amnesia?'

"Tapi, entah kenapa aku masih bisa merasakannya hingga saat ini." lanjut Jimin.

"Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Yoongi berpura-pura tidak mengerti.

"Sepertinya, aku mengalami hilang ingatan."

DEG!

Dan dengan mudahnya Jimin mengatakan kalimat itu pada Yoongi. Entah Jimin mempunyai maksud lain dengan mengatakan hal ini pada Yoongi atau memang hanya sekedar ingin berbicara asal.

"b-bagaimana bisa?" tanya Yoongi gugup.

"Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku tidak bisa mengingat apapun tentang masa kecilku. Aku tidak ingat bagaimana rupa kedua orang tuaku. Aku tidak ingat apapun sejak berada di panti asuhan itu." jawab Jimin.

"k-kenapa kau mengatakan ini padaku?" tanya Yoongi. Jimin tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya dari Yoongi.

"Karena kau orang pertama yang tanpa sengaja melihatku kesakitan malam itu." jawab Jimin menunduk yang membuat Yoongi mengangguk paham dari alasan Jimin mengatakan semua ini padanya.

"Tapi, sejak kapan kau mengetahui jika kau mengalami amnesia?"

"Sejak aku merasa merindukan orang tuaku tapi aku tidak bisa mengingat mereka. Aku merasa kosong karena tidak bisa mengingat apapun tentang keluargaku. Dan, karena hal itu sesuatu yang aku rasa tidak asing untukku pasti akan berakhir dengan rasa sakit di kepalaku yang selalu membuatku ingin mengakhiri hidupku. Dan aku tidak bodoh untuk menyadari apa yang terjadi pada diriku sendiri." jawab Jimin. "Sejak saat itu aku memutuskan, tepat saat liburan musim dingin tahun lalu, aku diam-diam pergi ke rumah sakit dan kata dokter aku mengalami amnesia retrograde."

"Jadi, sampai sekarang apa tidak ada yang kau ingat tentang masa lalumu?" tanya Yoongi masih berakting bodoh dengan ketidak-tahuannya tentang Jimin. Jimin terdiam, ia kembali memandang langit biru.

"Ada satu yang perlahan aku ingat dengan samar. Seseorang yang kusukai, meskipun aku tidak tahu siapa orangnya dan dimana dia saat ini." jawab Jimin ekspresi wajahnya terlihat senang. "Dan, aku mengingatnya karena tepat hari polisi itu membawaku ke panti asuhan. Aku melihat plester kumamon di lututku dan entah kenapa ketika aku melihatnya, aku merasa senang meskipun aku tidak bisa mengingat apa-apa." Yoongi tertegun ditatapnya Jimin yang sedang tidak menatapnya. Awalnya hatinya merasa sakit dengan penuturan Jimin mengenai ucapannya malam itu. Tapi, saat Jimin mengatakan bahwa ia mengingat mengenai plester kumamon membuat hati Yoongi menghangat.

'Andai kau tahu, Jiminie. Orang yang kau maksud—sudah ada disampingmu!'

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

"omo!" pekik Jimin hampir terlonjak saat mendapati Taehyung berdiri di depan pintu kamarnya dengan senyum kotak yang selalu ia tunjukan pada siapapun yang berpapasan dengannya. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jimin menatap Taehyung horor sementara Taehyung masih menunjukan cengiran khasnya.

"Apa kau lupa? Kau sudah bersedia menjadi guru privatku." Taehyung mengingatkan dan seketika Jimin menatap Taehyung jengah.

"yak! Taehyung-ssi, ini masih masa liburan. Sekolah mulai juga masih lama. Nikmati saja liburanmu dan mulai belajar ketika masuk sekolah. Pergilah! Jangan ganggu aku sekarang!" usir Jimin melangkah meninggalkan Taehyung. Tapi, bukan Taehyung namanya jika sekali penolakan langsung menyerah.

"ayolah, Jiminie~ justru karena ini liburan—kau harus membantuku dan mengajari segala hal padaku." Jimin menghentikan langkahnya dan menatap Taehyung tajam.

"Baiklah, dan aku meminta permintaan pertama darimu sebagai bayaran. Dan, kau harus menurutinya!" pinta Jimin. Taehyung mengangguk semangat.

"Katakan!"

"Pertama! Jangan memanggil panggilan kecilku, dan tetaplah bersikap formal karena kita tidak dekat satu sama lain. Aku bukan temanmu dan aku hanya guru privatmu! Mengerti?" Taehyung berfikir sejenak kemudian mengangguk.

"Baiklah, itu perkara yang mudah!"

"Dan kedua—"

"Kau bilang permintaan pertama!" potong Taehyung merasa jika Jimin akan meminta aneh-aneh darinya.

"Aku bilang 'permintaan pertama' bukan 'satu permintaan', kau bisa membedakannya 'kan? Itu artinya ada lebih satu permintaan dari permintaan pertamaku."

"woah~ orang pintar memang berbeda!"

"Kau setuju atau tidak? Aku pun juga tidak rugi jika kau menolak!"

"arraseo, arraseo katakan, Jimin-ssi!"

"Kau tidak boleh menolak setiap permintaanku dan bahkan kau tidak boleh protes tempat yang akan kita jadikan sebagai tempat belajarmu."

"Tentu saja, aku tidak keberatan." balas Taehyung setuju tanpa tahu jika Jimin diam-diam menyeringai kearahnya.

"okay, kalau begitu kali ini itu saja permintaanku. Selanjutnya, aku akan memberitahumu dengan senang hati!" Taehyung mengangguk.

"Apa kita bisa mulai sekarang?" tanya Taehyung. Jimin mengangguk.

"Tentu, kita berangkat sekarang. Kajja, ikut aku!" Jimin melangkah meninggalkan Taehyung yang masih berdiri di depan kamarnya. Taehyung yang merasa Jimin sudah berjalan mendahuluinya pun berbalik dan menatap kearah pintu kamarnya yang memang satu lantai dengan kamar Jimin dan sengaja pintunya dibuka. Taehyung mengangkat jarinya dan membentuk lingkaran dari dua jari, ibu jari dan jari telunjuknya kearah pintu kamarnya yang terbuka dan kini menampilkan lima kepala yang ternyata sedari tadi mengawasinya.

"Beres!" gumam Taehyung sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti Jimin. Begitu pula dengan lima orang yang ternyata memang berniat dari awal akan membuntuti sekaligus mengawasi Taehyung dan Jimin.

.

.

.

.

.

Taehyung menatap tempat yang Jimin tuju sebagai tempat belajar pertamanya dengan horor. Kedua matanya yang tak berkedip sekaligus dahinya yang mengerut ngeri. Kemudian, ia menoleh kearah Jimin yang dengan santainya berjalan masuk ke kandang kuda dan mengelus kepala kuda-kuda yang ada di kandang itu.

"Kau bercanda?!" seru Taehyung tak berniat untuk ikut masuk dan menghampiri Jimin.

"Aku biasa belajar disini, jika keberatan. Kau bisa pergi!" usir Jimin tanpa menoleh kearah Taehyung. Sebenarnya, ada alasan kenapa Jimin mengajak Taehyung ke kandang kuda karena ia akan membuat Taehyung tidak betah dan memutuskan untuk berhenti memintanya mengajarinya.

"aniyo, tapi—"

"Jiminie?" panggil seorang pria paruh baya yang membuat Jimin menoleh dan Taehyung yang juga mengalihkan pandangannya kearah pria tua yang berjalan menghampiri Jimin.

"annyeongasseo, paman." balas Jimin membungkukkan badannya sopan.

"nde annyeong, Jiminie—kau datang lagi?" tanya paman Kang ramah. Jimin mengangguk.

"nde, aku ingin mengunjungi Bernard. Apa dia sudah membaik?" tanya Jimin. Paman Kang terkekeh dan menatap Jimin gemas.

"aigoo, pihak sekolah sudah mengirim dokter hewan untuk memeriksanya. Dan Bernard sudah baik-baik saja." jawab paman Kang yang membuat senyum mengambang di bibir tebalnya, dan Taehyung yang melihat kejadian langka di depannya pun seketika takjub dengan senyum Jimin yang jarang ia tunjukan pada siapapun.

'Senyumnya memang masih sama seperti Jiminie dulu.'

"oh! Apa paman mau memandikan kuda-kuda?" tanya Jimin yang melihat paman Kang mengenakan mantel anti air dan sepatu boot berwarna orange.

"nde, baru saja paman selesai memandikan White, kau tahu bukan dia tidak suka bau!" Jimin tertawa lantang dan mengangguk membenarkan.

"Kalau begitu apa aku boleh membantu? Aku ingin memandikan Bernard dan Elly." ijin Jimin yang tentu saja diangguki oleh paman Kang dengan senang hati.

"Tentu saja, Jiminie."

"Kalau begitu paman tunggu sebentar. Aku akan mengajak temanku!" Jimin pun berjalan keluar kandang untuk menghampiri Taehyung yang masih menatap Jimin takjub. "Kau mau ikut?"

"Apa?" tanya Taehyung tak mengerti.

"Memandikan kuda-kuda."

"mwo?!" Jimin terkekeh.

"Jika kau tidak mau kau bisa pergi, aku 'kan sudah mengatakannya!"

"Tapi, jika kau mengajakku memandikan kuda-kuda itu. Bagaimana dengan belajarnya?"

"aish, kau tidak perlu kaku untuk belajar 24 jam penuh, aku sendiri saja hanya belajar lima jam sehari atau lebih? Aku tidak ingat. Yang jelas terlalu banyak belajar juga mungkin tidak berpengaruh untukmu." Taehyung tertohok. wah, Park Jimin ini memang tidak basa-basi untuk memuji kemampuan seseorang. "Aku tidak memaksamu." Taehyung terdiam, berfikir sejenak. Kemudian, sebuah senyum simpul muncul di sudut bibirnya.

"Tapi, kau akan mengajariku 'kan?" Taehyung memastikan. Jimin mengangguk.

"Aku bukan orang yang ingkar janji. Dan, aku akan memberitahumu tempat yang nyaman untuk belajar di sekolah ini. Bukankah aku cukup berbaik hati untuk berbagi tempat belajar padamu?" Taehyung tertawa kecil.

"Baiklah, aku setuju tapi—kau juga harus mengajak mereka." pinta Taehyung yang membuat Jimin mengeryitkan keningnya tak mengerti.

"Mereka?" tanyanya tak paham. Taehyung mengangguk ia berbalik badan dan melambaikan tangannya pada lima orang yang berjalan santai mendekati Jimin dan Taehyung berdiri. Jimin mengerjapkan kedua matanya ketika melihat lima orang itu adalah Hoseok, Seokjin, Jungkook, Namjoon, dan Yoongi.

"Kenapa mereka bisa kemari?" tanya Jimin curiga. Taehyung mengulum senyum.

"Kau tahu, Namjoon hyung dan Yoongi hyung memiliki tugas dari ayahku untuk mengawasiku." jawab Taehyung. "Lalu, mereka bertiga adalah teman masa kecil kami!" jawab Taehyung jujur yang merujuk pada Jungkook, Hoseok, dan Seokjin. Jimin mengangguk paham. "Kau tidak keberatan 'kan?"

"Aku sih, tidak keberatan. Mungkin mereka yang keberatan."

"Kami tidak keberatan kok!" seru Hoseok setelah kelima orang itu sudah berada di depan Taehyung dan Jimin. "Lagi pula, kami juga tidak memiliki kegiatan. Jadi, apa salahnya membantu Taehyung?" Jimin tersenyum kecil dan mengedikkan bahunya tak peduli.

"Baiklah, tapi jangan menyesal-nde?" ujar Jimin yang kemudian meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kandang kuda. Taehyung menatap kelima orang di depannya yang sudah berubah ekspresi ketika Jimin meninggalkan mereka. Ekspresi yang sama ketika Jimin mengajak Taehyung ke kandang kuda.

"Apa kita benar-benar akan memandikan kuda? Sungguh, aku bahkan tidak pernah menyapu dirumah!" gumam Namjoon cemas.

"Sudahlah, ayo kita nikmati saja!" ajak Yoongi acuh dan masuk ke kandang kuda meninggalkan kelima teman kecilnya.

"woah, apa Yoongi hyung sedang berusaha untuk menarik perhatian Jiminie lagi?" tanya Hoseok curiga.

"mollayo, kajja! Kita masuk saja!" ajak Seokjin menyusul Yoongi. Sebenarnya, melihat kandang kuda ini menjadi mengingatkannya pada dini hari dimana ia dan Jimin sempat untuk berjalan keluar bersama.

"ah, Jiminie—apa tidak apa mengajak mereka?" tanya paman Kang berbisik di telinga Jimin dan menatap tak enak hati pada enam pemuda di depannya. Jimin tersenyum dan menggeleng.

"Tentu saja tidak apa, paman. Mereka juga yang mau sendiri. Aku tidak memaksa kok!" jawab Jimin ringan tanpa mengetahui wajah-wajah dari keenam orang yang mulai mengeras dengan penuturan Jimin tanpa beban.

"tap-tapi—"

"Sudah, paman. Kau beristirahat saja. Biar, kami bertujuh yang merampungkan pekerjaanmu. Kau tahu 'kan Bernard dan Elly pasti sudah merindukanku?" tanya Jimin ceria yang membuat keenam orang itu mengerjapkan kedua matanya.

'Bernard dan Elly?'

'Apa kuda juga punya nama?'

'aigoo, Jiminie polos sekali!'

"Tapi, Jiminie—"

"Tidak apa paman, biar kami yang menyelesaikannya." tutur Namjoon memotong ucapan paman Kang.

"Paman dengar 'kan? Jadi, paman istirahat saja." lanjut Jimin yang membuat paman Kang akhrinya menyerah dan menuruti kemauan Jimin yang menyuruhnya beristirahat sejenak.

Sepergian paman Kang ke tempat istirahatnya. Jimin dengan segera mengambil tujuh mantel anti air dan menyerahkannya kepada enam orang yang masih memandangnya teliti. Selesai membagikan mantel berwarna biru itu, Jimin pun dengan senang hati langsung memakai mantel birunya begitu pula dengan keenam orang itu.

"Aku yakin, sebelumnya kalian pasti belum pernah memandikan kuda, 'kan?" tanya Jimin. Keenamnya mengangguk kompak. "Kalau begitu, aku akan mengajari kalian. Jadi, perhatikan baik-baik, arraseo?" lanjut Jimin ceria karena tidak hanya berhasil mengerjai Taehyung bahkan ia juga bisa mengerjai kelima orang yang kadang-kadang suka mengganggu ketenangannya.

"jja, lihat baik-baik!" ujar Jimin masuk ke satu kandang kuda berwarna putih yang ada di samping kanannya.

"Apa dia yang namanya Bernard?" tanya Seokjin. Jimin mengangguk lucu.

"nde, dia Bernard. Dia baru sakit kemarin, tapi sekarang dia sudah sembuh. Langkah, pertama—jangan gunakan sarung tangan ketika memandikan kuda."

"mwo? Kau bercanda? Setahuku, para pelihara kuda memandikannya dengan sarung tangan!" balas Taehyung. Jimin menggeleng.

"ish! Menyentuhnya dengan tangan langsung akan memberikan ketenangan dan kelembutan untuk mereka. Dan, mungkin saja dengan sentuhan tangan kalian masing-masing, kuda-kuda jadi menyukai kalian. Seperti Bernard ini!" terang Jimin seraya mengelus kepala kuda putih yang bernama Bernard.

"Lalu, langkah kedua?" tanya Namjoon. Jimin berfikir sejenak, sebenarnya langkah memandikan kuda yang ia katakan pada mereka berenam hanya karangannya belaka. Ingat, Jimin hanya ingin mengerjai mereka.

"Kedua, kalian harus menggosok tubuhnya satu arah. Kulit kuda itu sangat sensitif jadi jangan membuatnya kegelian jika tidak ingin ditendang. Dan juga—tarik ekornya jika dia nakal."

"Bukankah, jika kita melakukan itu maka mereka akan menendang kita dengan kaki belakangnya?" tanya Hoseok. Jimin tersenyum hingga kedua matanya tinggal segaris.

'Memang itu yang kuinginkan!'

"Aish, sunbaenim. Aku 'kan bilang jika mereka nakal atau tidak mau diam. Itu—adalah jurus jitu untuk menaklukan kuda."

"Kau sedang tidak membohongi kami 'kan?" tanya Yoongi curiga. Jimin tersenyum manis dan menggeleng polos.

"Tentu saja tidak, sunbaenim. Apa untungku membohongi kalian? Justru aku yang rugi karena Taehyung-ssi bersedia membantuku dan itu artinya aku harus mengajarinya." elak Jimin.

"Baiklah, sunbaenim darimana kita mulai?" tanya Jungkook. Diam-diam Jimin menyeringai.

"Masing-masing kuda ini memiliki namanya, jadi setelah kalian masuk ke kandang mereka. Sapa mereka terlebih dahulu, bahkan jika bisa ajak mereka bicara ketika kalian memandikannya. Dan, jangan lupa pasang senyum ramah kalian. Ingat, kuda itu memiliki hati yang sensitif." lanjut Jimin yang langsung dihadiahi wajah blank dari keenamnya. Dan sungguh, jika Jimin ingin image-nya rusak di depan keenamnya, Jimin pasti sudah tertawa terpingkal bersama Bernard saat ini.

"Haruskah, kita melakukannya?" tanya Seokjin. Jimin mengangguk antusias.

"Tentu saja, sunbaenim!" jawab Jimin. Keenamnya menahan nafas, dan mengeluarkannya perlahan. "Jika kalian ingin melihat prakteknya secara langsung kalian bisa melihatku memandikan Bernard sebelum kalian memandikan kuda-kuda lain. Bagaimana?" tawar Jimin. Keenamnya saling berpandangan dan mengangguk.

"Baiklah, kami akan melihatmu terlebih dahulu." putus Namjoon. Jimin mengangguk setuju.

"geurae, perhatikan baik-baik, nde?" pinta Jimin meminta perhatian penuh dan dengan perhatian serta cekatan ia tersenyum kearah kuda putih yang bernama Bernard dan mengelus kepalanya lagi.

"Bernard, annyeong apa kau sudah membaik?" tanya Jimin dengan kedua matanya yang bergulir polos membuat keenam orang itu tersenyum melihatnya. Jimin benar-benar terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Sangat berbeda jauh ketika dia berada di area sekolah.

"mianhae, kemarin aku tidak bisa menjengukmu karena aku sedikit sibuk. Kau tidak marah 'kan?" tanya Jimin seraya mengarahkan air selang ke tubuh kuda putih itu.

"Kau tahu, aku mendapat banyak hadiah kemarin. Aku ingin berbagi denganmu tapi sayang, hadiahku kali ini hanya bisa aku gunakan di kamar. Kau tidak mungkin 'kan masuk ke kamarku?" tanya Jimin yang sungguh membuat keenam orang itu harus menahan tawa hingga warna muka mereka memerah. Jimin benar-benar polos dan lucu.

"Kau tidak marah 'kan?" tanya Jimin lagi seraya menggosok tubuh Bernard dengan lembut. "Apa Elly menangisimu saat kau sakit?" keenam orang itu mengeryit dengan pertanyaan konyol Jimin sementara Jimin masih asik di dunianya dan tampaknya melupakan keberadaan keenam orang itu.

"Tutup matamu!"

"Woah~" pekik Seokjin, Hoseok, Jungkook, dan Taehyung ketika Bernard menuruti Jimin untuk menutup matanya, sementara Namjoon dan Yoongi hanya memandang takjub kearah pemuda manis itu.

"Elly itu tsundere sekali. Dia berpura-pura tidak peduli ketika kau sakit tapi lihatlah wajahnya? Dia sedang cemburu karena aku lebih memilih dirimu." Jimin melirik kearah kuda cokelat yang ada di samping Bernard yang membuat keenam orang itu juga ikut menoleh kearah kuda yang bernama Elly.

'Apa yang Jimin lihat dari wajah kuda itu? Rupanya sama saja!'

"Kau senang sudah mandi, hm? Dasar jorok!" ejek Jimin setelah selesai menggosok tubuh Bernard dan kembali menyiramnya dengan air selang. "jja, sudah selesai—kau sudah tampan!" ujar Jimin akhirnya seraya mengelus kepala Bernard yang membuat Bernard menutup matanya menikmati. "Kau lebih menyukaiku daripada Elly 'kan? hey, jangan selingkuh, itu tidak baik. Aku tidak mau Elly membenciku dan menendangku nanti. Jadi, jangan berniat untuk menduakannya, okay? Setidaknya, buatlah anak dulu sebelum selingkuh—aku akan meminta paman Kang menyiapkan ruang khusus untuk kalian berdua!"

"Park Jimin!" seru Seokjin menatap Jimin horor dan Jimin hanya menoleh dengan kedua matanya yang mengerjap polos persis seperti anak anjing.

"nde?"

"Kau ini bisa merusak otak Bernard jika mengatakan hal seperti itu!" seru Hoseok. Jimin mengedikkan bahunya tak peduli.

"Aku hanya memberi saran pada Bernard saja. Kalian tahu, dia sedang bertengkar dengan Elly."

"Jimin-ssi, aku kira ada yang tidak beres dengan dirimu!" gumam Namjoon. Jimin terdiam sejenak mencerna ucapan Namjoon sebelum akhirnya mentalnya kembali dan memasang wajah dingin dan datarnya seperti biasa. oh tidak, kenapa ia bisa kelepasan dan membiarkan keenam orang itu melihat sisi dirinya yang lain ketika bersama dengan Bernard? Tercorenglah harga diri Park Jimin.

"Kalian sudah mengerti 'kan? Cepat mandikan kuda-kuda yang lain!" Jimin mengibaskan tangannya yang membuat keenam orang itu menatap cengo kearahnya.

'Ya ampun, dia punya berapa wajah?'

Sesuai dengan instruksi dari Jimin, keenam orang itu pun memandikan kuda-kuda yang ada di kandang kuda. Awalnya, mereka sempat tak yakin dan sedikit ragu—kiranya perlukah mereka melakukan hal ini? Atau, untuk apa mereka harus melakukan semua ini.

Bahkan, Jimin yang sedang berada di kandang Elly, kuda cokelat yang berada di samping Bernard terus menahan tawanya ketika melihat Seokjin yang sedari tadi menahan mual karena bau kandang kuda yang bisa dikatakan tidak sedap. Tidak hanya Seokjin sebenarnya, Taehyung bahkan menggosok badan kuda sambil menutup kedua matanya dan menjaga jarak jauh. Lalu, Hoseok yang sudah hampir menangis karena kuda yang ia mandikan tak sengaja mengencinginya. Dan, juga Jimin hampir terbahak saat melihat Namjoon yang mendapat tendangan dari kuda yang ia mandikan. Jimin mencoba untuk menahan tawa namun kemudian ia dibuat takjub dan tak menyangka jika diantara keenam itu hanya Yoongi dan Jungkook yang terlihat tenang.

Jungkook yang sesekali berbincang santai dengan kuda berwarna cokelat yang bernama Heseall dan Yoongi yang terlihat telaten dengan kuda berwarna hitam yang diberi nama Xian, yah meskipun terlihat ia tidak mencoba berbincang dengan si kuda tapi Xian tampaknya terlihat nyaman bersama Yoongi.

"OMO!" Jimin terkejut ketika air selang yang berasal dari Seokjin tak sengaja tersiram kearahnya. Hal itu pun, sontak membuat keenam orang itu menghentikan kegiatan mereka terutama Seokjin yang takut-takut jika nantinya Jimin akan marah padanya. Jimin menunduk, menatapi bajunya yang setengah basah kemudian ia mendongak menatap Seokjin yang berada di depan kandang milik Elly.

"yak, sunbaenim! Kau membuat bajuku basah! Rasakan ini!" balas Jimin mengarahkan selang airnya pada Seokjin .

"yak, yak, yak Park Jimin!" elak Seokjin berusaha menghindar dengan air selang yang masih berada di tangannya membuat air selang milik Seokjin justru mengenai Jungkook, Taehyung, dan Hoseok.

"yak, hyung! Kau membasahi bajuku!" seru Jungkook kesal dan membantu Jimin menyirami Seokjin dengan air selang yang berada di tangannya begitu pula dengan Taehyung dan Hoseok yang tidak terima.

"Rasakan ini!" seru Hoseok dan Taehyung bersemangat membalas Seokjin yang justru membuat air yang mereka arahkan pada Seokjin terpantul pada Namjoon dan Yoongi. Kedua orang itu menarik nafas kesal.

"Kalian benar-benar ingin mati, ya?!" geram Yoongi dan ikut menyiram siapa saja dari keenam orang itu begitu pula dengan Namjoon yang dengan semangat ikut menyirami Seokjin.

Namun, entah bagaimana mulanya hingga mereka satu sama lain saling menyerang bagai berperang air dan membuat tubuh mereka basah kuyup. Terkadang, Jimin yang menyiram kearah Yoongi atau Seokjin bahkan tak jarang juga kearah Jungkook, Taehyung, Hoseok dan Namjoon. Sama halnya dengan mereka berenam yang semakin lama menargetkan tembakan air dari selang mereka pada Jimin.

"yak! Itu curang! Kalian seperti mengkeroyokku, apa kalian ingin balas dendam, hm?" tanya Jimin mempoutkan bibirnya kesal yang membuat keenam orang itu terkekeh dan gemas melihatnya. Tubuhnya sudah basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebenarnya tak berbeda jauh dengan Seokjin, Yoongi, Hoseok, Namjoon, Taehyung, dan Jungkook.

"aigoo, Jiminie marah, heum?" pekik Seokjin tanpa sadar.

Jimin terdiam, senyum yang mengembang di bibirnya luntur seketika. Kedua matanya bergilir seperti orang bingung yang membuat keenam orang itu was-was melihatnya. Dan saat itu juga, Jimin merasa ada sesuatu yang mengganggunya ketika siapapun memanggilnya dengan nama kecilnya, seolah sudah mengenalnya sejak lama.

"... Jiminie ..."

"... Jiminie ..."

"... Jiminie ..."

"Appa! Eomma!"

"... Jiminie ..."

"eomma, berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku. Berjanjilah eomma, jika eomma, appa, dan adik bayi akan selalu bersamaku."

"... Jiminie ..."

"Kau tidak apa, nak?"

"Ayahku bukan penjahat!"

"Jangan menghina ayahku!"

"Jangan mengatakan yang tidak-tidak jika kau tidak tahu tentang ayahku!"

"... Jiminie ..."

"... Jiminie ..."

"... Jiminie ..."

"... Jiminie ..."

Jimin memejamkan kedua matanya, menikmati setiap panggilan-panggilan asing dari berbagai macam suara. Secara refleks kedua tangannya menutupi kedua telinganya yang tanpa henti terus mendengar nama kecilnya dipanggil oleh banyak orang dan terdengar menggema di kedua gendang telinganya. Dan, anehnya ketika ada bayangan hitam-putih yang muncul di otaknya untuk pertama kalinya ia tidak merasakan sakit di kepalanya. Tapi, suara-suara itu cukup mengganggunya karena ia benar-benar tidak bisa mengenali siapa pemilik suara-suara asing yang terus saja memanggilnya tanpa henti.

"Jimin-ssi?" panggil Namjoon cemas, ia serta Yoongi, Seokjin, Hoseok, Taehyung dan Jungkook memberanikan diri mendekati Jimin yang sudah berjongkok dengan kedua tangannya yang masih menutupi kedua telinganya serta kedua matanya yang masih tertutup.

"Jimin sunbaenim, kau baik-baik saja?" tanya Jungkook menatap cemas kearah Jimin.

Dan seolah tuli, Jimin benar-benar merasa tuli dengan segala panggilan Namjoon dan pertanyaan Jungkook padanya. Perlahan, mereka melihat tubuh Jimin yang mulai mengigil dan keringat dingin mulai mengucur di seluruh wajah manisnya.

"hentikan!" racaunya, yang membuat keenam orang itu saling berpandangan.

"aku mohon hentikan~" racau Jimin lagi, Yoongi merasa Jimin tersiksa pun berinisiatif untuk ikut berjongkok di depannya dan menangkup wajah manis Jimin yang sebelumnya mencoba dengan lembut menyingkirkan tangan Jimin dari kedua telinganya.

"Jimin?" panggil Yoongi lembut dan Jimin masih memejamkan kedua matanya erat. "Park Jimin!" seru Yoongi tak sabar. Jimin tersentak, kedua matanya terbuka dan langsung terperangkap oleh kedua mata tajam Yoongi. Dadanya kembang-kempis, bibirnya bergetar dan wajahnya memucat.

"Tenanglah~" bisik Yoongi yang kemudian menarik Jimin ke dalam pelukannya. "Aku disini, tenanglah." dan seperti sihir, Jimin menurut dan memejamkan kedua matanya. Menikmati rasa hangat dan nyaman dari pelukan Yoongi. "Kau akan baik-baik saja, aku berjanji!" bisik Yoongi seraya mengelus punggung Jimin tanpa henti.

.

.

.

.

.

Yoongi, Namjoon, dan Taehyung memasuki cafetaria untuk mengambil jatah makan siang mereka. Ketiganya berjalan masuk, mengabaikan pekikan para siswa atau siswi yang terlihat antusias dengan kedatangan mereka bertiga yang kini tidak biasanya bersedia mengantri bersama siswa-siswi lainnya yang padahal hari itu tak ada pelayanan dari pihak kantin yang artinya mereka harus mengantri dan mengambil sendiri.

Yoongi, Namjoon, dan Taehyung memilih untuk mengantri di sebelah kanan yang lumayan lenggang dibandingkan antrian kiri. Dengan Yoongi yang berada di depan Taehyung, dan Namjoon yang berada paling belakang. Ketiga pemuda tampan itu, sudah memegang piring masing-masing dan mengambil nasi sesuai selera mereka. Ada beberapa menu yang disediakan bibi Kim siang itu, ada ayam goreng, seafood, kimchi, dan lain sebagainya.

Setelah mengambil ayam goreng, Yoongi melewati seafood dan berniat untuk menambahkan kimchi pada lauknya. Dan baru saja, ia meraih sendok kimchi dan hendak menyendokkan kimchi ke dalam piringnya, ada sendok seseorang yang tampaknya dengan sengaja menahan pergerakannya.

Yoongi mengangkat wajahnya dan mendapati Doojoon diseberangnya tengah menatapnya tajam. Yoongi tersenyum miring dan mendecih remeh.

"Aku rasa, aku tidak memiliki urusan dengan ketua dewan siswa saat ini!" decih Yoongi yang membuat Doojoon tanpa sadar meremat sendok yang ia pegang. "wae? Apa aku pernah menyinggungmu?" tanya Yoongi dengan pandangan menantang, mengabaikan segala perhatian seluruh cafetaria yang kini tertuju padanya dan Doojoon karena antrian untuk mengambil makanan harus terhambat karena kedua orang itu.

"Jauhi dia, jika kau hanya ingin bermain-main dengannya!" titah Doojoon dingin. Yoongi terdiam sejenak, berusaha mencerna arti ucapan Doojoon. Dan, Yoongi baru sadar jika arah pembicaraan Doojoon mengarah pada Park Jimin.

"Park Jimin? Apa maksudmu, Park Jimin?" tanya Yoongi yang entah kenapa menjadi sangat marah terlebih ketika ia mendengar dari Hoseok dan Jungkook bahwa orang yang ada di depannya ini, menyukai Park Jimin. "Kau menyukainya, huh?" lanjut Yoongi memancing.

"Bukan urusanmu aku menyukainya atau tidak. Yang jelas, jangan mendekatinya jika kau hanya ingin menyakitinya."

"wah, kau tampaknya cukup mencemaskannya, hm? Kau seorang ketua dewan siswa dan rasanya aneh jika kau menyukai perusuh seperti Park Jimin! Kau—lebih tidak pantas untuknya!"

"Sial!"

PRANG!

"Yoon Doojoon!" seru keempat teman Doojoon ketika melihat Doojoon membanting sendok kimchi serta piring yang ia pegang kemudian berjalan cepat kearah Yoongi dan mencekeram kerah kemeja yang Yoongi kenakan, membuat piring dan sendok yang Yoongi pegang terjatuh seketika.

Kedua pemuda itu saling berpandangan tajam dan rasa benci yang tersorot jelas dari kedua mata mereka.

"Bertidak pengecut didepannya dan menjadi pahlawan di belakangnya, cih! Kau benar-benar buruk Doojoon-ssi!" remeh Yoongi masih dengan seringai di bibir tipisnya.

"Tutup mulutmu, Min-Yoon-Gi!" seru Doojoon penuh penekanan.

"Akan lebih baik pengecut didepannya dan menjadi pahlawan di belakangnya, dibandingkan kau—menjadi teman didepannya dan menggunjingnya di belakangnya, kau yang lebih buruk Yoongi-ssi!"

BUGH!

"HYUNG!" seru Namjoon dan Taehyung terkejut ketika Yoongi melayangkan bogem mentahnya pada wajah tampan Doojoon. Yoongi dengan seluruh amarahnya menarik kerah Doojoon dan kini posisi mereka berbalik dengan Yoongi yang mencekeram kerah kemeja yang Doojoon kenakan.

"Jangan ikut campur urusanku, jika kau tidak tahu apa-apa!" seru Yoongi dingin. Doojoon mendecih dan membalas tatapan tajam Yoongi padanya.

"Aku tidak akan ikut campur jika kau tidak berniat untuk menyakitinya!" balas Doojoon. "Jangan membuatnya dalam keadaan sulit, kau dan aku sama. Akan lebih baik, tidak ada satu dari kita yang mendekatinya!"

"Kenapa aku harus menurutimu?" tanya Yoongi berusaha untuk tidak termakan dengan ucapan Doojoon. Doojoon mendekatkan bibirnya pada telinga Yoongi dan berbisik,

"Datanglah ke studio dewan siswa dalam tiga puluh menit ke depan bersama kedua temanmu. Aku tunggu!" bisiknya yang kemudian menghempaskan tangan Yoongi kasar dan berlalu begitu saja diikuti Minho, Jinyoung, Daehyun, dan Myungsoo yang turut mengekor. Yoongi menatap kepergian kelima orang itu.

"Apa yang dikatakannya, hyung?" tanya Taehyung. Yoongi membenarkan kemejanya yang sedikit kusut akibat ulah Doojoon

"Kita diundang ke tempat peristirahatan terakhirnya." Taehyung dan Namjoon terhenyak dan sontak menoleh kearah Yoongi bingung. Yoongi tertawa kecil. "aish, sudahlah—nanti kalian juga tahu!" lanjut Yoongi tak ingin ambil pusing.

TBC


(-) YoonMin's back! Aku harap ini moment YoonMin disini enggak ngecewain ya, dan juga moment-nya mereka bertujuh. Jadi, haus YoonMin :D

(-) Thx buat semuanya yang udah suport, aku harap lanjutannya kali ini enggak ngecewain para pembaca tercinta.

(-) Niat awal aku mau update besok malem, tapi karena dapet jatah libur dua hari, okelah malam ini aja. And see you in next chap...

(-) Next update : Selasa, 20 Maret 2018

Kamsahamnida,