Bermain?
Apa jangan-jangan ia meelakukannya lagi?
Dengan kecepatan penuh mereka melesat masuk mencari Natsu dan berniat menghentikannya.
"Dasar Bodoh! apa yang ada di otaknya?!"
"Yah mungkin segumpal api.." celetuk Gajeel.
"Bodoh! aku tak bertanya padamu!"
Gray dan Gajeel tiba di sebuah pintu, tanpa ba bi bu mereka langsung saja menyelonong masuk tanpa menghiraukan kedua penjaga yang mencoba menghentikan mereka.
BRRAAAKKKK!
"NATSU!" teriak mereka berdua bersamaan.
.
.
Frozen Girl
Original Story By : Revi-san
.
Fairy Tail © Hiro Mashima-senpai
.
Warning! : AU, TYPO (s), DLDR, OOC dan lain-lain.
.
.
"NATSU!" teriak mereka berdua bersamaan.
Gebrakan pintu tersebut terdengar keras membentur dinding bersamaan dengan teriakan mereka yang mengglegar hingga ke sudut ruangan. Sang pemilik nama yang merasa dirinya dipanggil lantas menoleh ke arah suara dan mendapati dua onggok spesies makhluk hidup yang sangat ia kenal sedang menolehkan pandangan mereka ke sekeliling. Natsu tengah duduk di bangku meraih sebuah botol mineral yang memang disediakan pada salah satu bangku penonton. Raut wajahnya masih tak dapat diartikan, antara kesal, marah dan penasaran. Tatapan matanya tajam hingga sanggup menembus dinding tembok yang memiliki tebal 50cm. Rambutnya berkilau karena keringat yang membanjiri hampir seluruh tubuh.
Gray dan Gajeel yang telah menemukan sosok Natsu diantara kerumunan para penonton, lantas mereka segera menuju bangku diman tempat pemuda pinkish tersebut beristirahat. Dugaan mereka benar, ternyata Natsu menjadikan tempat tersebut sebagai pelampiasan perasannya. Tak dapat dipungkiri, karena sebelum Natsu mengenal sosok Lucy tempat inilah yang mengisi keseharian selain merampok sekaligus menjadi tempat untuk mengembangkan kekuatannya.
Gray diikuti oleh Gajeel membelah kerumunan tersebut.
"Natsu! kami ingin bicara denganmu." Gray mengawali pembicaraan.
Natsu tak bergeming, pandangannya tajam ke lantai. Ia sedikit meremas botol plastik yang berada di tangan kanannya.
"Natsu! jika kau-"
"Jika tentang Lucy, aku tak peduli lagi padanya." suara baritone Natsu terdengar dingin dan tak acuh membuat kedua temannya tersebut terkesiap.
"Apa maksudmu Natsu?!" suara Gajeel sedikit meninggi.
"Kurasa kalian sudah mengerti dengan apa yang ku maksudkan."
Natsu beranjak dari bangku dan melangkah pergi tanpa memperdulikan kedua temannya yang sedang mencoba berbicara padanya. Langkah kakinya membawa Natsu keluar ruangan tersebut dan mrngarah pada sebuah meja bar. Alunan musik khas dunia malam membuat siapapun ingin meliuk-liukkan tubuhnya di lantai dansa. Gemerlap lampu warna-warni yang menggantung di langit-langit senada dengan irama musik sang DJ. Setelah sampai di depan meja bar, Natsu duduk di sebuah kursi dan mengisyaratkan jari tangannya pada barista yang kebetulan saja sedang menuangkan segelas wine bening. Seakan telah mengerti apa yang Natsu maksudkan, barista tersebut mengangguk dan meraih sebuah botol gelap yang masih lengkap dengan penutupnya dari rak botol. Ia membuka penutup tersebut dan menyodorkannya pada Natsu.
"Es?"
Natsu mengangguk. Barista tersebut memberikan gelas yang berisi beberapa bongkahan kecil es batu. Natsu menerimanya, lantas ia menuangkan wine tersebut kedalam gelas. Sudah lama ia tak merasakan rasa getir dari cairan bening tersebut, kira-kira berapa bulan yang lalu. Atau malah beberapa tahun yang lalu? entahlah.. pastinya sudah lama. Perahan ia kembali meraih gelas tersebut dan menenggak cairan bening yang sudah cukup dingin. Ia meringis, cairan dengan rasa pahit memenuhi rongga mulut dan tenggorokannya. Sejurus kemydin ia merasakan dadanya terisi oleh cairan dingin namun juga sedikit hangat.
Natsu kembli menuangkan wine tersebut kedalam gelas. Setelah itu tangannya merogoh saku jaket, mengambil sebuah benda yang tak asing di kalangan para lelaki. Benda tersebut berbentuk kotak, berwarna putih terbuat dari kertas karton bergambar dan bertuliskan Cigarette. Ya benda tersebut adalah kotak pembungkus rokok. Jari Natsu membuka penutup kotak itu dan meraih sebatang rokok. Ia menyematkan batang nikotin pada katupan bibirnya seraya menghidupkan api pada korek api yang entah ia dapat dari mana. Seketika ujung benda nikotin tersebut membara, tanpa canggung seakan profesional ia menyesap asap pembakaran dari ujung spons dan menghirupnya dalam-dalam. Kelopaknya terpejam mencoba menikmati sensasi aneh yang telah lama tak ia rasakan. Asap dari bakaran benda nikotin tersebut memenuhi rongga dadanya. Tiga detik kemudian, ia menghembuskan nafas yang diselingi dengan asap semi transparan keluar dari lubang hidung dan mulutnya.
Sungguh menenangkan. Kira-kira begitu pikirnya.
Sementara itu kedua temannya- Gray dan Gajeel- memandangnya dengan prihatin. Tak pernah sedikitpun mereka memergoki sesosok Natsu Dragneel mengkonsumsi kedua benda tersebut, kecuali jika saat Natsu sedang bosan dan jenuh. Saat seperti itu ia akan mengkonsumsi salah satu dari kedua benda tersebut. Jika wine, ia hanya menenggak setengah gelas saja. Begitu pula dengan rokok, 5 kali hisapan dan rokok tersebut berakhir pada tempat sampah.
Gray dan Gajeel menghampiri Natsu dan duduk di sisi kanan kiri pemuda pinkish tersebut.
"Natsu, aku tak menyangka akan melihatmu se-menyedihkan ini." Gray mengawali pembicaraan. Natsu menatap gelas winenya dengan tatapan datar seakan tak tertarik dengan pembicaraan Gray.
"Apa pedulimu."
"Kau itu memang bodoh. Aku tak menyangkal penilaianku tentang dirimu. Tapi kau terl-"
"Aku tak butuh ceramahmu. Dan pergilah kalian." Natsu menajamkan ucapannya. Maniknya masih menatap gelas wine sembari menggoyangkannya.
Gray dan Gajeel tak begitu terkejut. Seakan mereka telah mengenal seluk beluk sikap dan watak Natsu yang sebenarnya. Pada kenyataannya memang benar, mereka telah menghafal tingkah Natsu saat dalam mood apapun. Termasuk saat ini, mereka telah menduga sifat keras kepala Natsu akan lebih mendominasi daripada harus berpikir dengan kepala dingin.
Gajeel melirik Gray, sejurus kemudian pemuda raven tersebut menangkap lirikan rekannya. Gajeel mencoba mengisyaratkan bola matanya ke kanan dan ke kiri sembari sesekali bibirnya berkomat-kamit mengucapkan sepatah dua patah kata namun tak bersuara. Gray memandang pemuda bertindik tersebut dengan tatapan seolah berkata apa-kau-yakin-tentang-rencan-kita?. Gajeel mengangguk mantap, tak mau mengubah rencana yang telah mereka bicarakan sebelum sampai pada tempat itu.
Natsu tetaplah Natsu. Seorang bos wilayah Timur yang telah dikenal luas oleh para mafia dan kalangan perampok. Otomatis sifat dan,wataknya telah diketahui oleh pihak manapun. Jika dalam keadaan seperti ini, nasehat dalam bentuk ucapan akan percuma, tak digubris tak akan di tanggapi dan tak akan dilirik. Jalan satu-satunya adalah kekerasan. Bukan dalam artian mengeroyok, berkelahi hingga jalan kekerasan lainnya. Namun dalam artian membuatnya tak berkutik pada titik lemahnya.
Gray kembali menatap Natsu. Pandangannya kini berubah dengan pandangan sedikit bersalah. Namun jika diucapkan langsung padanya, otomatis ia akan menyangkal. Bisa ditebak, dengan angkuhnya ia akan berkata 'cih. Untuk apa merasa bersalah pada orang ini'. Sungguh Tsundere sejati.
Lalu terdengar pemuda raven tersebut mengambil nafas panjang dan kemudian menghembuskannya.
"Natsu. Mungkin kau harus mengistirahatkan otakmu."
Tangan kanannya ia angkat di udara tepat di belakang Natsu. Beberapa detik kemudian, ia mengayunkan tangan tersebut dan-
-BUKKHHH!
.
xxxxxXXXxxxxx
.
Pukul 06.30 pagi di basecamp Squad Timur.
Jellal dan Erza mempersiapkan beberapa peralatan dan pakaian yang akan mereka bawa. Seperti rencana mereka sebelumnya, mereka akan menuju wilayah Selatan untuk bertemu langsung dengan pemimpin Squad Selatan yang dikenal dengan julukan 'Harimau malam'. Namun ada sedikit perubahan, waktu keberangkatab mereka sedikit dimajukan mengingat rute yang akan mereka lalui sedikit lebih jauh dan memutar. Jellal berkata jika melewati rute umum akan sangat beresiko karena mereka tidak mempunyai identitas resmi untuk berkunjung ke wilayah tersebut.
Satu lagi informasi yang sangat penting. Peraturan berkunjung untuk para tourist maupun warga lokal, tiap-tiap mereka harus mempunyai kartu serta surat identitas resmi dari kantor urusan transmigrasi yang berada di tengah-tengah kota. Minimal remaja berusia sekitar 15tahun harus sudah mempunyainya. Untuk biayanya pun tak bisa dibilang murah. Maka dari itu bagi orang yang berprofesi seperti Natsu dan lainnya memilih jalan ilegal darupada harus mematuhi peraturan yang cukup merepotkan. Apalagi bersangkutan dengan pemerintah kota.
"Jadu kita akan melewati rute timur Jellal?" gadis berambut scarlet itu membuka suara seraya memakai sebuah ankle boots cokelat.
"Ya. Karena rute itu yang paling aman dilalui untuk orang seperti kita. Walaupun harus memakan waktu yang cukup lama." Jelas Jellal tanpa menolehkan kepalanya dan masih asyik memasukan beberapa barang.
"Hmm.. sepertinya aku harus mempersiapkan bokongku jika sewaktu-waktu terasa kram dan mati rasa."
Jellal terkekeh. "Kau tak dapat menghindarinya Erza."
Erza sedikit mengerucutkan bibirnya. Bagaimana tidak, menghabiskan waktu dengan menikmati perjalanan yang memakan waktu selama empat jam di atas motor gede milik Jellal. Bayangkan saja bagaimana rasanya?
"Kau tau dimana basecamp mereka berada Jellal?"
"Aku tak tau pasti, tapi Gajeel memberiku sebuah peta yang ia buat tentang denah basecamp milik Squad Selatan." Jellal mengambil sebuah kertas dari dalam saku celananya dan memberikannya pada Erza.
"Jangan dilihat denahnya, tapi arahnya. Jika kau mencoba memahami denahnya, aku yakin beberapa detik kemudian kau akan merasakan efek samping karena membaca denah tersebut." Erza mengernyitkan dahinya karena tak mengerti apa maksud ucapan Jellal.
Perlahan jarinya membuka lipatan kertas tersebut. Pada awalnya ia sedikit penasarn dan bingung dengan apa yang digambar oleh Gajeel. Pada detik berikutnya setelah ia sukses membuka kertas tersebut, terpampanglah sebuah gambar yang mungkin cukup abstrak. Dengan beberapa pola yang tak ia mengerti dan juga goresan aneh yang mirip dengan tanda anak panah. Matanya membulat senada dengan mulutnya yang sedikit menganga. Sungguh tak percaya, menurutnya gambar tersebut lebih mirip sebuah gambar anak taman kanak-kanak daripada orang dewasa. Tak ada keterangan satupun yang menunjukkan kemana dan kemana. Hanya ada beberapa goresan tinta pena yang membentuk sebuah garis lurus dan lengkungan.
Erza mencoba memahaminya, namun gagal. Otaknya tak kunjung menemukan sebuah jawaban bak memecahkan sebuah misteri pembunuhan dan mutilasi yang beberapa bagian tubuh korbannya dibuang ke beberapa daerah. Beberapa kali ia mencoba membolak-balikkan kertas tersebut.
Tapi sama saja.
Tak ada jawaban yang ia temukan mengenai apa gambar itu sebenarnya.
"Sudah ku katakan, jangan mencoba memahami denahnya. Tapi arahnya." celetuk Jellal.
"I-Ini tulisan Gajeel?" Jellal mengangguk.
"Mengerikan.. bahkan lebih mengerikan dari tulisanmu dan tulisan Gray." Erza masih mencoba memahami denah tersebut.
"Aku? kenapa aku juga termasuk? bukankah tulisanku lebih bisa dibaca di bandingkan dengan itu?" protes Jellal tak terim jika tulisannya termasuk salah satu tulisan dalam kandidat mengerikan.
"Ya ku akui bahwa tulisanmu memang tidak buruk. Tapi untuk seseorang yang genius dan tampan, tulisanmu tak mencerminkan keadaan fisikmu Jellal. Jadi perbaiki sedikit demi sedikit mengingat kau adalah kunci dari setiap misi kita."
"Hn. Bukankah Natsu?"
"Tanpa informasimu apa Natsu bisa melakukannya?" Jellal menghela nafas.
"Ya.. ya.. ya.."
Hening.
Jellal bangkit dan kemudian berjalan ke sebuah rak jaket untuk mengambil jaket miliknya. "Tepat jam 7 nanti kita kan segera berangkat Erza."
Erza menoleh dan mengangguk.
Setelah beberapa saat yang lalu ia membersihkan diri, ia mengenakan sebuah kaos putih polos dikombinasi dengan jaket kulin berwarna hitam. Celana panjang berbahan jeans hitam pula selutut dan terakhir sepatu Country Boots berwarna cokelat tua. Sekilas penampilannya tampak cool dan sangat err- mempesona. Rambut azurenya mulai panjang hingga hampir mencapai bahu ia kuncir keatas menyisakan beberapa helai anak rambut bagian belakang serta poni. Penampilannya sedikit mirip dengan artis Kim Jae Wook saat membintangi film Coffe Prince.
Tak berbeda dengan Jellal, Erza mengenakan sebuah tanktop putih ketat yang memperlihatkan keindahan lekuk tubuhnya. Celana jeans sepaha berwana keabuan, serta sebuah ankle boots dengan heels setinggi 10cm berwarna cokelat tua. Tak lupa sebuah jaket semi kulit senada dengan kepunyan Jellal menambah kesan mereka pasangan yang serasi dan sempurna. Rambut scarletnya diikat dengan gaya pony tail.
Dan Volia!
Pesonanya sangat luar biasa hingga menjerat mata siapapun yang memang sengaja atau tidak sengaja melihat Erza. Tak dpt dipungkiri jika paras eloknya turut membuatnya menjadi primadona dan juga gelar wanita idaman dikalangan para mafia. Bahkn semua teman-temannya di basecamp mengakui bahwa pesonanya tersebut mendatangkan banyak keuntungan. Tak heran jika saat ia mencoba menjerat petinggi pemerintahan dengan mudahnya ia membobol sistem rekening dan brankas berpassword.
"Baiklah.. tidak ada lagi yang perlu kita bawa dan kita jelaskan lagi pada mereka. Aku yakin mereka sudah paham menangani amukan Natsu." ucap Jellal. Pemuda azure tersebut kemudian berjalan sembari mendorong motor gedenya keluar basecamp. Erza mengangguk dan menghampiri barista cantik berambut keunguan panjang.
"Laki-san, jika Gray dan lainnya telah sampai. Sampaikan jika kami akan menghabiskan waktu mungkin sekitar 3-4hari di wilayah selatan. Ada sesuatu hal yang akan kami urus disana. Dan juga.. em ya.. jangan menghubungi kami. Tapi kamilah yang kan menghubungi salah satu dari mereka." Erza memakai jaket dan helmnya. Barista tersebut mengangguk paham.
"Hati-hati di jalan Erza-san dan Jellal-san. Semoga perjalanan kalian menyenangkan."
Erza tersenyum dan kemudian berbalik meninggalkan bar menghampiri Jellal yang sedang memanaskan mesin motor. Ia meraih tas ransel yang berisi penuh dan menggendongnya. Lantas ia segera naik sembari melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Jellal.
Ugh!
Jika mereka masuk dalam nominasi, pasti mereka akan terpilih di nominasi pasangan paling keren dan terpopuler sepanjang masa.
Sungguh membuat iri saja.
Beberapa menit kemudian Jellal menjalankan motornya hingga keluar dari gerbang usang penanda basecamp mereka.
.
xxxxxXXXxxxxx
.
Gray dan Gajeel berjalan sembari memanggul sebuah tongkat bambu yang cukup panjang dan kokoh. Pada bambu tersebut terdapat bungkusan dengan kain berwarna hitam. Entah apa isi dari bungkusan tersebut. Mereka tak memperdulikan sapaan sang mentari yang muncuk dari ufuk timur. Rambut mereka sedikit basah karena peluh yang terus merembes dari pori-pori. Sesekali mereka meringis karena beban dari panggulan bambu itu cukup berat atau malah semakin berat.
"Ugh! rasanya.. bahuku serasa mau copot!" keluh Gray.
"Tak hanya kau saja yang merasakannya! dan berhentilah mengeluh!" sewot Gajeel.
Gray mendecih. "Idemu ini sangat gila! jika Natsu tau, kau akan habis dalam sekejap mata! ia juga akan mengulitimu hingga ke tulang."
"Lihat saja dirimu?! bukankah kau juga terlibat?"
Gray mendengus. Bagaimanapun ia juga turut membantu aksi konyol dari ide Gajeel. Mengapa harus dengan ide seperti itu? apakah tak ada ide yang lainnya?
"Dasar bodoh." gumam Gajeel.
Gajeel memutar bola matanya bosan. Selama perjalanan dari Gym ke basecamp tak henti-hentinya kepala es itu mengoceh, cukup membuat telinganya berdengung. Hanya ini satu-satunya cara untuk melumpuhkan Natsu.
flashback.
"Natsu. Mungkin kau harus mengistirahatkan otakmu."
Tangan kanannya ia angkat di udara tepat di belakang Natsu. Beberapa detik kemudian, ia mengayunkan tangan tersebut dan-
-BUKKHHH!
Gray mendaratkan tangannya pada tengkuk Natsu hingga membuat pemuda pinkish tersebut kehilangan kesadaran dan pingsan. Dengan sigap Gajeel menangkap tubuh Natsu.
"Nah dengan begini ia tak akan berontak dan mengamuk." ucap Gray penuh kemenangan.
"Lalu siapa yang membawanya?" tanya Gajeel.
"Tentu saja kau! karena badanmu lebih besar dari badanku!"
Gajeel tak terima, lantas ia melemparkan tubuh Natsu pada Gray.
"Kau saja!"
Begitupun Gray. Ia melemparkan kembali tubuh Natsu pada Gajeel.
"Kau!"
"Kau!"
"KAU!"
Aksi saling lempar tubuh Natsu masih berlangsung. Mereka tak sadar jika aksi mereka menjadi sebuah tontonan massal bagi para pengunjung Gym & Disco. Sementara Natsu masih saja belum sadar. Mungkin karena pukulan Gray yang kelewat keras. Gray dan Gajeel saling bertatapan, seakan-akan menyiratkan bahwa mereka seperti musuh bebuyutan yang saling berhadapan. Kini tubuh Natsu berada dipihak Gray, lantas pemuda raven tersebut kembali melemparkan tubuh Natsu pada Gajeel. Namun lemparan tersebut rupanya meleset hingga tubuh Natsu terjatuh dan tergeletak dengan kepala mendarat terlebih dahulu pada lantai.
Mereka berdua terbelalak.
Semua pengunjungpun ikut terbelalak menyaksikan sebuah 'tragedi' konyol yang menimpa bos Squad Timur.
'Jika Natsu sampai bangun, maka habislah mereka.' mungkin begitu pikir mereka.
Mimik wajah Gray dan Gajeel seketika berubah. Kini mereka dihadapkan dengan sebuah masalah yang bertambah runyam jika Natsu sampai terbangun. Gray dan Gajeel melirik Natsu yang masih terkapar dengan wajah yang 'berciuman' dengan lantai. Tak ada yang berminat menolong pemuda pinkish tersebut. Semua orang yang disana hanya terpaku dengan sorot mata yang resah membidik 'sang Bos Squad Timur'.
Mereka terlalu takut.
Jika menolongnya malah dikira ingin membunuhnya.
Gray menyenggol pinggang Gajeel. "Lalu bagaimana? apa rencanamu?" Gajeel menoleh. Ia tampak berpikir keras.
"Gendong dia."
Gray tersentak dan melongo. Perlahan tangannya terangkat dan melipat semua jari tangan hingga menyisakan satu jari telunjuk yang mengarah pada dirinya sendiri seakan mengisyaratkan 'Aku?'. Gajeel mengangguk, ia segera mendorong Gray turun. Dengan hati-hati dan memastikan Natsu masih tak sadarkan diri, Gray mengangkat tubuh Natsu dan meletakkannya pada punggungnya dengan susah payah.
"Hei Gajeel! bagaimana jika di perjalanan pulang Natsu sadar dan kemudian melarikan diri?' tanya Gray dengan wajah yang diliputi rasa khawatir. Gajeel menggaruk dagu dan bola matanya bergerak pertanda ia sedang berpikir lagi. Kemudian maniknya tak sengaja menangkap sebuah benda di ujung ruangan.
Gajeel menjentikkan jarinya. "NAH! Aku punya ide!"
flashback off.
"Berapa lama lagi kita harus berjalan hei! Besi berkarat!" Gray berteriak.
Pemuda berambut gelap panjang itu tak memperdulikan teriakan frustasi dari Gray. Bagaimanapun juga ia turut merasakan beban di pundak kirinya yang entah semakin berat atau tenaganya yang semakin lemah. Well, mereka berdua berjalan seperti seorang pedagang asongan yang memikul barang untuk dijual.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya sampailah pada area wilayah basecamp mereka. Gajeel yang berada di depan membuka pintu dan kemudian masuk diikuti Gray.
"Okaeri Gajeel-san, Gray-san.. oh apa yang kalian bawa?" Kinana menyambut kedatangan mereka.
"Ah hanya saja-"
"Aku membawa tersangka utama penghancuran perabotan basecamp." potong Gajeel kilat.
Kinana mengernyit, tak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Gajeel. Gajeel dan Gray meletakkan batang bambu tersebut diantara meja sehingga 'barang' yang terbungkus oleh kain hitam berada ditengah-tengah meja, menggantung. Lantas Gajeel meraih kain tersebut dan membukanya. Seketika mimik wajah Gadis berambut ungu tersebut memucat. ,Tak berbeda dengan beberaoa orang yang ada di dalam basecamp yang tertarik dengan barang bawaan Gajeel dan Gray. Setelah mengetahui apa isi dari bungkusan menggantung tersebut, mereka yang ada disana membatu dengan wajah yang sama pucatnya.
Ya isi bungkusan hitam itu tak lain adalah Natsu Dragneel yang terikat kedua tangan serta kakinya, dan yang paling mengenaskan adalah posisinya menggantung pada bilah batang bambu panjang seperti seekor babi hasil buruan. Yang lebih mengenaskan lagi, Natsu dalam keadaan tak sadarkan diri dengan mulut yang tertutupi oleh lakban berwarna hitam. Bisa di bayangkan bagaimana lengketnya lakban tersebut. Semua orang yang berada di sana tak habis pikir mengapa kedua orang itu begitu idiot. Bagaimana jika Natsu sadar dan kemudian mengetahui keadaan dirinya sendiri berada terikat di sebilah bambu dan siap panggang?
Bisa dipastikan kedua orang tersebut hanya akan menyisakan sepenggal nama.
"Kalian itu memang bodoh atau idiot? kalian memang ditugaskan untuk membawa Natsu kembali, tapi tidak dengan cara kejam seperti ini!" Levy muncul dengan tiba-tiba dan langsung mengapit kedua kepala Gray dan Gajeel di lengannya.
"Itu ide Gajeel! jangan libatkan aku!" protes Gray dan berontak.
"Hey! apa katamu mesum?! jelas-jelas kau juga terlibat!" Gajeel tak mau kalah.
"KALIAN?! MENGAPA CARA BERPIKIR KALIAN SAMA BODOHNYA?!" Levy membentak mereka berdua sembari mengeratkan apitan pada lengan hingga membuat mereka tercekik.
.
xxxxxXXXxxxxx
.
Lucy sedang duduk diatas ranjangnya tak menghiraukan beberapa berkas cahaya matahari menembus celah pada tirai. Pandangannya terlihat sendu, sorot matanya menampakkan kesan kesedihan. Ia menyandarkan dagunya pada lutut dan mendekap erat ledua kakinya. Pikirannya sedang tidak stabil. Benar-benar kacau.
'Lucy.. Natsu bukanlah orang yang sebaik yang kau pikirkan. Aku pernah menjadi temannya walaupun hanya sesaat. Pada awalnya ia memang terlihat baik. Ia senang membantuku, menghabiskan waktu bersamaku. Akan tetapi dibalik semua kebaikannya, ia ingin merebut seorang gadis yang sangat ku cintai. Dia Lisanna.'
'Lalu dimanakah Lisanna saat ini?'
'Lisanna.. sudah meninggal. Enam tahun yang lalu.'
'Terakhir kali aku melihatnya, saat aku sedang membeli sebuket bunga untuk ku berikan pada Lisanna. Tanpa sengaja aku melihat Natsu dan Lisanna sedang berpelukan mesra. Dadaku terasa sakit dan nyeri seperti diremas hebat oleh tangan yang berotot. Natsu terlihat bahagia begitu pula Lisanna.'
'Aku merasa terhianati, selama ini sahabatku sendiri yang dimintai bantuan untuk mendapatkan gadis tersebut malah menusuk dari belakang. Rasanya benar-benar sakit hingga aku berharap bahwa itu hanyalah sebuah lelucon untuk menjebakku. Namun setelah itu mereka berdua terlihat saling bertengkar. Raut wajah Lisanna benar-benar sangat sedih, dan Natsu juga berkali-kali terlihat seolah-olah sedang meyakinkan sesuatu pada Lisanna. Aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Dan keesokan harinya.. Lisanna ditemukan tewas dengan cara gantung diri.'
Kata-kata Sting terus terngiang di kepalanya. Entah mengapa kini Lucy merasa ragu, dan merasa ada sesuatu yang janggal dari apa yang diceritakan Sting kepadanya. Otaknya mencerna setiap perkataan Sting, mencoba mencari sebuah kata yang membuat inti organnya terus bekerja. Jika dilihat dari cerita Sting, sepertinya pemuda bersurai spike pirang tersebut lebih banyak menceritakan dari sudut pandang dari dirinya saja. Sting menggunakankata-kata yang sangat bijak, sehingga membuat banyak orang yang percaya padanya. Dan Lucypun telah,terjebak diantara permainan seorang detektif muda. Tak dapat dipungkiri, perkataan Sting memiliki kesan memojokkan Natsu. Memberikan citra yang buruk pada Natsu.
Lucy terdiam, semuanya benar-benar aneh. Memang saat mendengar cerita dari Sting ia sempat terkejut bahwa Lisanna telah meninggal dunia. Lucy merasa bersalah karena telah mencemburui Natsu dengan seorang gadis yang telah tiada. Rasanya ia ingin tertawa kaku dengan sudut bibir sedikit terangkat ha.. ha.. Namun saat ia berniat untuk meminta maaf pada Natsu, Sting mematahkan niatnya. Pemuda pirang tersebut berkata bahwa ayahnya telah menjodohkan Sting dengan dirinya. Satu hal yang Lucy yakini, keputusan ayahnya adalah keputusan mutlak. Tak dapat dibantah.
Dan ia baru sadar jika Sting memang sengaja menggunakan kekuatan ayahnya untuk mendesak dirinya.
"Mengapa aku baru menyadarinya?" Lucy menenggelamkan kepalanya pada lipatan lutut.
"Natsu.."
Tiba-tiba rasa rindu membuncah didadanya kepada pemuda pink tersebut. Ia ingin sekali bertemu. Atau berharap Natsu datang untuk menjemputnya. Namun ia tepis harapannya tersebut, mengingat resiko yang sangat besar jika Natsu memang menjemputnya.
Tok..tok..tok.
Seseorang mengetuk pintu kamar Lucy. Lucy mengangkat kepalanya dan menatap pintu.
"Masuklah."
Gadis yang kini telah merubah rambutnya menjadi pirang berpikir mungkin saja itu ayahnya yang khawatir karena selama ia kembali ke rumah tersebut, yang ia lakukan hanyalah mengurung diri. Suara engsel pintu berderit menandakan pintu kamarnya telah terbuka sedikit demi sedikit. Lalu seseorang muncul dari balik pintunya.
"Apa kabarmu calon istriku?"
Orang itu tak lain adalah Sting Eucliffe. Lucy mendelik, ia tak suka pemuda itu menyebutnya dengan 'calon istri'. Seakan-akan Sting menganggap dirinya adalah miliknya. Padahal Lucy belum mengatakan bahwa ia setuju- ah tidak lebih tepatnya tak pernah setuju. Yang boleh memilikinya hanyalah Natsu. Hanya Natsu. Bukan seorang pemuda licik yang menggunakan cara kotor demi mendapatkannya. Itu menjijikkan.
Lucy mengalihkan pandangannya, dan Sting berjalan mendekati dimana Lucy berada.
"Kau begitu cantik, Lucy.. dengan rambut pirangmu. Itu menandakan bahwa kita benar-benar serasi untuk menjadi pasangan."
Pasangan? Pasangan kepalamu! Cih!
Ingin sekali Lucy menonjok wajah penuh dosa itu. Berbicara dan bertingkah seenaknya. Sting menyadari jika Lucy mencoba menghindari dirinya. Lantas sebuah seringaian ia torehkan pada bibir tipisnya.
"Apa kau rindu dengan pemuda berandalan itu? Lucy Eucliffe?" nada ucapan Sting terdengar menantangnya. Manik hazel Lucy berubah menajam.
"Apa maumu?! jangan seenaknya mengganti nama orang. Apa kau puas sudah memisahkan aku dengan Natsu menggunakan ayahku?!" Nada Lucy terdengar dingin dan menusuk. Sting merasa tertantang dengan sikap Lucy.
Sting kembali menyeringai. "Oh oh.. nona manis ini sedikit tak suka rupanya.. Hmm bagaimana ya menjelaskannya.. -Ahhh.. yang pasti akhirnya akulah pemenang dalam permainan ini." Sting berjalan mendekati jendela dimana tatapan manik Lucy tertuju. Dan Lucy semakin kesal dibuatnya. Ia benar-benar ingin menghabisi pemuda tersebut dengan sebuah golok tajam. Namun sayangnya, dikamarnya tak ada benda yang ia maksud.
"Dan Satu hal yang harus kau ketahui Lucy.. kau pernah menolakku, dan jika kau menolakku untuk kedua kalinya.." Sting membalikkan badannya, menatap Lucy dengan pandangan meremehkan.
"Jangan harap dirimu bisa hidup dengan tenang, atau ayahmu akan ku.. Musnahkan." Sting tertawa.
"Jadi.. jangan coba-coba untuk melawanku."
Lucy memaki Pemuda licik itu didalam batinnya. Berani benar ia menggunakan semua kelemahan Lucy untuk mencari sebuah kesempatan. Lucy menatap tajam Sting, beberapa urat kekesalannya menegang. Sting berjalan mendekati Lucy. Lalu pemuda pirang tersebut membungkukkan dirinya. Tangan kanannya meraih dagu Lucy, mengarahkan wajah penuh kekesalan itu padanya.
"Aku tak menerima penolakan darimu manis.. Diamlah dan menurutlah padaku, maka aku tak akan menyakitimu dan juga orang-orang yang kau sayangi." Sting mendekatkan wajahnya pada wajah Lucy. Cengkraman tangan kekar pada dagu gadis pirang tersebut mengerat membuat Lucy sedikit meringis.
Lucy membulatkan matanya.
Tak lagi.
Tak ingin lagi.
Hanya Natsu yang boleh menciumnya. Hanya Natsu yang boleh memilikinya. Dan hanya Natsu...
Lucy memejamkan matanya, beberapa detik kemudian sebelum jarak mereka benar-benar terhapus-
PLAAAKK!
Refleks tangan mulus Lucy mendarat pada pipi Sting dan kemudian ia mendorong tubuh pemuda itu dengan sekuat tenaga hingga Sting mundur beberapa langkah. Manik hazel tersebut menatap penuh amarah, bisa terlihat cairan bening menggenang dikelopak matanya. Tubuhnya,bergetar, giginya saling beradu hingga memperlihatkan urat-urat pada sisi rahang. Sebuah ekspresi yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapapun.
"Kau.." Lucy menunjuk Sting.
"Kau adalah laki-laki terburuk yang pernah ku temui.. dan aku sangat-" bulir-bulir cairan tersebut menetes satu persatu.
"-SANGAT MEMBENCIMU!"
.
xxxxxXXXxxxxx
.
Setelah berkendara selama berjam-jam, akhirnya Jellal dan Erza telah sampai pada sebuah tempat menurutnya sangatlah tua. Mulai dari bangunan, pepohonan, hingga puing-puing perabotan yang berserakan sepanjang jalan. Setidaknya tempat inilah yang ditunjukkan pada peta buatan Gajeel. Walaupun rumit, namun akhirnya Jellal bisa memahami gambaran Gajeel yang sungguh err- menakjubkan. Jellal memarkirkan motor gedenya di depan sebuah bangunan ala Belanda. Lantas mereka turun dari motor dan melepas helm masing-masing.
"Jadi dimana letak basecamp mereka?" tanya Erza sembari celingak-celinguk ke area sekelilingnya.
"Hmm.. entahlah, kurasa tidak terlalu jauh. Tapi aku tak yakin, disini bangunannya terlihat sama saja. Benar-benar sepi dan tak terlihat ada tanda-tanda kehidupan." jelas Jellal.
"Sebaiknya kita mencarinya saja. Dan perjalanan yang cukup jauh membuat perutku lapar." Jellal mengangguk setuju.
Mereka berjalan menapaki jalan aspal usang dengan beberapa lubang cukup dalam. Mereka bisa menebak bahwa umur bangunan disana sudah sangatlah tua. Tumbuhan ilalang dan semak-semak juga turut memeriahkan suasana di sekitar. Bahkan tingginya hampir mencapai tinggi badan Erza. Bisa dibayangkan betapa rimbunnya semak-semak yang tumbuh tanpa perawatan. Cocok sekali jika digunakan untuk bersembunyi atau menyembunyikan sebuah barang ilegal.
Menurut kabar yang beredar setiap kali kelompok Selatan melancarkan serangannya untuk merampok, tak pernah sedikitpun seorang polisi atau detektif seprofesional apapun sanggup melacak keberadaan para komplotan anggota selatan maupun barang bukti. Kelompok selatan memang dikenal sebagai kelompok yang sangat profesional dalam merampok barang berharga, terlebih dimalam hari. Jadi banyak anggota dari kalangan mafia maupun perampok menyebut mereka dengan 'Gun no Yoru' atau 'Pasukan malam'. Dan beberapa ada yang menyebut mereka dengan 'Night Owl' karena saat mereka menjalankan aksi di malam hari sering kali sang korbannya tak menyadari keberadaan maupun kehadiran mereka. Level pemimpin mereka berada jauh diatas posisi Natsu dalam hal profesionalisme dan hampir setara dengan posisi Laxus. Namun mereka mempunyai kelemahan dalam hal berkelahi, karena mereka sama sekali tak berminat dengan perkelahian. Maka dari itu, informasi tentang seluk beluk kelompok Selatan bukanlah sembarang orang yang tau. Namun entah mengapa Natsu tak mengetahui, malah Gajeel yang notabenenya anak buah mengetahui dimana letak dan informasi Squad Selatan.
Jellal kembali menatap kertas yang bergambar peta guna memastikan dimana letak basecamp mereka. Dahinya berkerut, maniknya menatap intens kertas tersebut. Sementara Erza masih melemparkan penglihatannya ke segala arah.
"Siapa kalian? dan apa yang kalian lakukan di sini?"
Suara berat seorang pemuda membuat mereka tersentak dan segera membalikkan badan. Bola mata mereka mendapati seorang Pemuda berusia sekitar 26an tahun dengan gaya rambut entah apa, berantakan pokoknya dengan warna hitam pada bagian atas dan warna perak pada bagian bawah belakang. Maniknya berwarna merah seperti kepunyaan Gajeel serta bibirnya berwarna hitam bak memakai lipstik hitam menambah kesan 'sangar'. Ia memakai baju tanpa lengan berwarna senada dengan bibirnya, dan sebuah celana bercorak kulit harimau.
"Emm.. kami dari Squad Timur ingin bertemu dengan pemimpin kelompok Selatan." Jellal unjuk suara.
Pemuda itu menyeringai. "Oh jadi kalian anak buah si Singa Sayap Timur?" Jellal dan Erza mengangguk.
"Jadi apa kau tau dimana basecamp kelompok Selatan?" tanya Erza.
Pemuda itu menatap mereka bosan dan memasukkan jari kelingkingnya pada lubang telinga. Lantas ia memejamkan mata merasakan sensasi menggelitik saat ujung kelingkingnya mengorek dalam-dalam.
"Kebetulan saja aku sedang menuju kesana. Sepertinya ada sesuatu yang sangat serius, jadi akan ku antar kalian kesana." ucap pemuda itu. Seketika raut wajah Jellal dan Erza berubah sumringah.
"Ah ya.. baiklah. Terimakasih."
Mereka berdua berjalan mengikuti pemuda yang mungkin adalah anggota kelompok Selatan. Jellal sedikit heran dengan penampilan pemuda itu, terlihat santai namun tidak menghilangkan kesan aura 'kesangaran' yang dimiliki pemuda itu. Selama perjalanan, mereka melewati sebuah bangunan yang cukup besar yang diketahui adalah bekas pabrik otomotif. Beberapa bangkai mobil dan juga onderdil lainnya berserakan dan mulai berwarna kecokelatan. Aroma debu dan karat memenuhi setiap sudut bangunan tersebut. Bisa ditebak, usianya sudah sangatlah lama. Banyak bangunan tak terurus yang ditumbuhi lumut serta tanaman menjalar. Tentu saja siapapun tak mau berada di suasana seperti ini.
Tak hanya itu saja, beberapa sarang laba-laba dengan ukuran tak biasa bertengger kuat pada sudut tembok maupun atap-atap bangunan. Benar-benar tempat yang sama sekali tak tersentuh dan tak terekspos oleh manusia. Tempat seperti ini sangat cocok sekali untuk dijadikan tempat persembunyian.
"Sampai." pemuda itu berucap pelan.
Jellal dan Erza menghentikan langkahnya. Mereka menolehkan pandangannya ke segala arah. Sama sekali tak menemukan bangunan yang bisa disebut sebagai basecamp atau tempat persembunyian. Melihat ekspresi heran kedua orang berbeda gender tersebut, pemuda itu terbahak.
"Ahaha.. disini. Ini pintu masuknya." ia menunjuk sebuah pintu baja pada lantai usang.
"Oh iya perkenalkan. Aku Midnight, pemimpin kelompok Selatan." ucapnya sembari mengulurkan tangan hendak berjabat tangan.
Jellal dan Erza saling berpandangan. Dan tak menyangka bahwa orang yang di depannya adalah pemimpin Squad Selatan. Sang Harimau Malam.
"Eh?" pekik mereka berdua bersamaan.
"Aha.. baiklah sepertinya lebih enak jika kita mengobrol di dalam basecamp saja."
.
Kini mereka bertiga berada di sebuah ruangan yang cukup luas dengan penerangan yang cukup. Erza dan Jellal duduk bersebrangan dengan Midnight. Sementara itu Midnight memanggil seorang barista menyutuhnya mengambilkan minuman untuk kedua tamu. Mereka -Jellal dan Erza- masih tak menyangka jika basecamp milik kelompok selatan berada sangat tersembunyi di bawah tanah. Dansuasana di sekitar mereka sangatlah ramai sekali. Tentunya mereka adalah para anggota kelompok Selatan. Sungguh semuanya diluar dugaan. Mereka kira para anggota beserta pemimpin kelompok selatan terdiri dari orang-orang yang sangat 'sangar', berbadan kekar dengab otot yang mencuat serta berwajah kejam. Namun ternyata, mereka adalah orang-orang yang ramah dan juga santai. Banyak bercanda dan setiap percakapan mereka tak luput dari gelak tawa.
"Ahaha.. maaf jika citra kelompok kami membuat kalian sedikit waspada." ucap Midnight santai.
"Ah tidak.. hanya saja pikiran dan dugaan kami yang berlebihan." celetuk Erza.
Midnight tersenyum."Ah ya kau pasti si Jenius Fernandez.. dan kau Wanita seribu tipu daya yang sangat terkenal." Midnight menunjuk mereka bergantian. Tak dapat dipungkiri jika memang itulah sebutan untuk pasangan mafia tersebut. Mereka berdua mengangguk.
"Jadi ada apa kalian datang kemari dan ingin menemuiku?"
"Ya seperti yang kau katakan sebelumnya, kami mempunyai hal yang sangat penting yang ingin kami tanyakan." Jellal menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Apa berhubungan dengan bos kalian?"
"Ya sedikit." timpal Erza.
"Ah semalam aku tak sengaja bertemu dengan bos kalian di Gym. Yah dilihat dari raut wajahnya, memang sedang tak bersahabat. Apakah ada masalah besar hingga membuat Dragneel terhormat itu menampakkan aura membunuh?" tanya Midnight menyelidik.
Jellal mengangguk."Begitulah." Midnight tertawa lepas.
"Tak biasanya dia seperti itu jika terkena masalah. Pasti berkaitan dengan wanita? apakah benar?" Jellal dan Erza tersentak. Mereka menatap tak percaya pemuda di depannya.
"Ahaha.. sudah kuduga. Semalam ia terlihat sangat depresi hingga saat melawanku di atas ring, ia mengeluarkan semua emosinya pada pukulan. Benar-benar pukulannya sangat berbeda." Jellal dan Erza kembali terkejut.
Sudah kuduga.. Si bodoh itu.. batin mereka bersamaan.
"Jadi wanita seperti apa yang membuat dirinya menjadi seperti itu?" tanya Midnight penasaran. Pasalnya Natsu yang ia kenal bukanlah seseorang yang terlalu memikirkan sebuah masalah. Biasanya ia akan bertindak tak perduli dengan masalah-masalah kecil hingga besar. Namun jika menyangkut tentang wanita, selalu menjadi hal yang menarik untuk dibahas.
"Sebelum itu Midnight-san, emm.. ada sesuatu yang ingin ku tanyakan." Jellal mengalihkan topik pembicaraan yang dirasa sangatlah,penting untuk dibahas.
"Tanyakanlah."
"Satu tahun yang lalu apakah kau menghadiri pertemuan para bos diwilayah Barat?" tanya Jellal. Midnight mengangguk.
"Ya saat itu Natsu juga terlihat tak tertarik dengan pertemuan yang kami adakan. Wajahnya terlihat depresi, dan hampir sama seperti ekspresinya semalam. Apa karena wanita juga saat itu?"
Jellal dan Erza menggeleng. "Entahlah. Natsu adalah pribadi yang tertutup untuk urusan yang seperti itu. Ia tak pernah bercerita pada kami."
Midnight menggaruk dagunya. "Tapi setelah itu, sebelum pertemuan dimulai ia beranjak pergi dan meninggalkan kami. Lho bukankah kau juga berada disana?" Jellal kini mengangguk.
"Ya, Laxus mengatakan padaku bahwa setelah aku pergi pertemuan tersebut dibubarkan karena pengganti Cobra tidak datang."
"Memang benar. Yang bersangkutan beralasan karena sedang sibuk dengan pekerjaannya yang lain." tambah Midnight.
"Jadi apa kau mengetahui siapa calon bos pengganti Cobra saat itu?" tanya Erza.
Midnight tampak berpikir. Ia mencoba mengingat kejadian tahun lalu saat di pertemuan antar bos dan juga menjalin relasi atau kerjasama. Maniknya tampak bergerak ke kann dan ke kiri.
"Hanya sedikit saja. Tak banyak informasi yang ku dapat tentang kandidat calon tersebut. Apakah bersangkutan dengan masalah Natsu saat ini?"
Jellal kembali mengangguk. "Pertemuan bos itu bertepatan dengan tragedi penyerangan pada Natsu. Tepatnya setelah Natsu memtutskan untuk pergi dan berkeliling. Ada seseorang yang mungkin dengan sengaja melakukan hal itu pada Natsu. Hingga Natsu mengalmi cedera yang lumayan parah pada kepalanya dan menyebabkan beberapa ingatannya hilang sampai saat ini." Jelas Jellal panjang lebar.
"Apa? Bagaimana bisa?" Midnight terlihat sangat terkejut.
"Kami tidak tau tepatnya bagaimana kejadian yang sebenarnya. Namun Saat itu hanyalah Laxus yang berada di sana. Tapi sayangnya Laxuspun tak mengetahui siapa yang telah melakukan itu pada Natsu. Dan Laxus menemukan Natsu telah bersimbah darah."
Midnight kembali berpikir. Jari tangannya mengetuk-ngetuk meja kayu yang berada tepat di depannya.
"Jadi siapa kandidat calon bos Kelompok Barat Saat itu?" tanya Jellal intens. Sementara itu Midnight menatap kedua orang itu dengan tatapan tak yakin. Lantas ia menghela nafas panjang.
"Hmm.. dia adalah.."
.
To Be Continued
.
Hallo minna-san! kembali lagi dengan saya. Hontouni Gomenasai jika update fic ini benar-benar ngaret. Hehe.. tapi saya terus mencoba untuk melanjutkannya walaupun dengan semangat yang tersendat-sendat. Soalnya tiap kali saya pegang nih hape, idenya ilang mulu. Padahal sebelumnya idenya udah meluap luap gitu.
Nah untuk chapter kali ini saya menguak tentang si 'Harimau Malam'. Kayaknya sedikit ya informasinya dari dia. hehe.. Ah saya benar-benar keterbatasan kata-kata untuk penjabarannya. Malah keliatannya ada beberapa kata yang nggak nyambung T,T. Dan di chapter ini hampir saja terkuak siapa si bos kelompok barat. Hehe.. sebenarnya saya mau nambahin satu scene lagi tentang keputusan Natsu kedepannya. Tapi ternyata sudah terlalu panjaaaaaaanggg.. dan akhirnya saya urungkan. Rencananya akan saya taruh untuk chapter depan.
Sedikit bocoran dari saya, besokkk akan saya isi dengan momen Nalu ehe.. dan pokoknya gitu dehhhh.. akan saya usahain semanis mungkin. Chapter besok sebut aja awal konflik kedua.. jadi saya berencana untuk membuat Natsu dan Sting tonjok-tonjokan lagi. Nyahahahahaha.. #ketawapuas.
Obrolan Author :
Yudi Arata-san : Nah di chapter ini sudah terkuak siapa si Harimau Malam, Yudi-san hehe.. iya pasti akan saya kuak satu persatu. Dan hampir aja si Pemimpin Squad barat terkuak. Hehe. Terimakasih review anda Yudi-san :D
Luna Kirana-san : Wkw.. hontouni Gomenasai Luna-san, karrna ternyata penyakit malas saya menjadi sebuah penyakit akut. Chapter ini aja saya paksain kudu selesai biar nggak ada byang-bayang fic yang berteriak di kepala minta di selesaiin. Terimakasih sudah menunggu Luna-san.. dan terimakasih sudah setia mereview :D
Uknown-san : Arigatou gozaimashita Unknown-san :D
Guest-san : Wah entar selesai dong fic ini hehe.. plot awal emang gitu, tapi akhirnya saya ubah soalnya saya nggak tega bikin peran si Natsu ini menderita. Wkwkw..
Abdul-san : Sepertinya bagus Abdul-san, tapi saya nggak bisa menghianati plot awal saya huhuhu T,T. Ahhh gomenasai sekali kalo di chapter sebelumnya benar-benar mengecewakan. Sedikit demi sedikit akan saya perbaiki semampu saya. Tentunya dengan bantuan kritik dan saran anda pada tiap chapter. Hehe.
Fic of Delusion-san : Jangannn.. kalo ada yang mati entar nggak asik lagi hehe.. cuma saya bikin agak tersiksa #smirk. Oh ya sepertinya anda sangat familiar sekali. Dan pastinya anda adalah pereview setia di fic ini. Emmm.. Anonim-sama kali ya? benar nggak? #setelahliatprofilanda XD
Arunasachi-san : Fic saya masih jauh Aruna-san. Dan fic anda yang paling saya suka hehe.. aahh terimakasih Aruna-san, pasti aneh ya jalan ceritanya. Maklum saja saya pengarang abal dan amatir. Keterbatasan penjabaran kata dan juga perangkaian katanya. Hehehe.. eaah pastinya anda sedang sibuk nih ya. Tapi semangat laaahhh.. saya juga menunggu fic-fic karya anda. Bisa menginspirasi saya soalnya XD. Terimakasih Aruna-san sudah mampir ke Fic saya.
Mkhotim-san : Arigatou gozaimasu Mkhotim-san. Ini juga karena anda yang terus memberikan saya kritik dan saran. Jadi saya bisa memperbaiki tulisan saya walaupun hanya sedikit. Aahhh.. untuk itu hontouni gomenasai T,T jika saya benar-benar mengecewakan anda dan juga pembaca lainnya. Ah terimakasih Mkhotim-san sudah mampir XD
IA-san : Wahhh.. aloha juga Squill-san XD bagaimana kabar anda? saya sangat rindu reviewan dari anda hehe.. dan juga orangnya. Ah tidak apa-apa.. karena anda sudah memberitahukan jadi saya nggak bingung hehe. Oke di chapter ini sudah saya kuak siapa si midnight sebenarnya. Tapi kayaknya sedikit ya informasi dari dia. Hemmm.. saya bingung sih mau njabarin gimana. Tapi saya koreksi terus dan saya tambahin beberapa kata. Hehe. Arigatou sudah menunggu dan memberikan review. Dan terimakasih semangatnya Squill-san XD
.
Yap akhirnya berakhir sudah. Saya sangat berterimakasih pada readers yang sudah menyempatkan memfoll, me-like dan juga mereview. Karrna benar-benar kritik dan saran anda,membuat saya semakin ingin memvuka hape dan ngelanjutin per chapternya. Oke plot untuk chapter depan sudah saya kantongi dan tinggal menjabarkan tiap kata. Jika masihada typo kata dan kalimat yang kurang berkenan, beritahu saya dengan membubuhkan pada kotak review. Karena review anda sangat berarti.
Oke. Sekian cuap-cuap dari saya.
See you next chapter. Jaa nee XD
