Chanyeol paling tidak suka pelajaran sastra. Isinya omong kosong dan hanya menghabiskan kertas dan tinta.
Ia tidak pernah percaya pada peribahasa lama. Baru pada usianya yang ke delapan belas ini ia percaya kalau rasa penasaran bisa membunuh kucing tak bersalah sepertinya.
"Joonmyeon, akhirnya kau masuk. Kami khawatir sekali."
Untunglah dia tipe manusia yang pandai berakting. Tao mengikuti di belakangnya.
Joonmyeon tersenyum tipis pada mereka dari ambang pintu kelas. Teman-teman mereka yang lain ikut mengerubunginya, bertanya macam-macam tentang kondisinya, dan kenapa Joonmyeon masuk sekolah dengan kursi roda.
Tantangan terberat adalah berpura-pura tidak tahu apa yang tengah terjadi. Tantangan terberat adalah berpura-pura tersenyum dan berterima kasih pada Yifan yang melenggang pergi setelah mengantar Joonmyeon kemari.
Tantangan terberat adalah menahan diri dari menghajar muka sombong Yifan setelah mengecup dahi Joonmyeon tanpa rasa bersalah.
"Ada kecelakaan kecil dan, um, seperti yang kalian lihat, kakiku harus digips seperti ini." Joonmyeon menunduk. "Maaf kalau membuat kalian semua khawatir."
Semuanya mengabaikan permohonan maaf itu dan mendoakan Joonmyeon agar cepat sembuh. Chanyeol berdoa agar Yifan cepat mati saja.
Tao dengan lembut mendorongkan kursi roda Joonmyeon kemanapun ia mau. Ke kelas, ke toilet, ke kantin... sekaligus menghalau mata penasaran yang menyorot mereka.
Joonmyeon tentu sangat tidak nyaman dilihati seperti itu.
"Joonmyeon," bisik Tao. Chanyeol sedang ke toilet untuk menemui Yixing. "Apa itu benar? Kecelakaan?"
Joonmyeon tidak segera menjawab. Tao tahu itu akan terjadi, karena ia tahu kebenarannya.
"Iya... Ini kecelakaan. Kenapa? Tao tidak percaya?"
Joonmyeon mendongak. Tetapi senyum kecil yang dari pagi ia pasang telah menghilang.
Tao balas menatapnya.
Tidak. Aku tidak percaya padamu.
Kau pembohong.
Sama denganku.
"Tao tidak percaya?"
Joonmyeon mengira Tao akan tersenyum kecil dan menepuk kepalanya, lalu berkata bahwa ia hanya bercanda saja dan Joonmyeo tak perlu sekhawatir itu. Joonmyeon sudah terbiasa dimanja dua sahabatnya.
Tapi tidak. Tidak kali ini.
Mata Tao masih dingin menatapnya. Dan Joonmyeon tiba-tiba takut kalau Tao mengetahui sesuatu.
.:xxx:.
"Suho-yah, kau mau jalan-jalan? Kita akan ke taman."
Taman yang dimaksud masih berada dalam lingkup kompleks rumah sakit. Baekhyun menggantung jas putihnya sebentar sebelum mendorong kursi roda Suho keluar, menuju lapangan hijau dan semak-semak indahnya yang dirawat tiap minggu.
Suho sangat suka berjemur di luar. Semua pasien tentu seperti itu. Di tempat ini, terasa seolah tidak ada yang pelu dikhawatirkan. Tidak ada orang jahat di sini dan Baekhyun sangat baik. Suho malah mungkin sudah akan menganggapnya sebagai saudara sendiri.
Baekhyun menawarkannya sebatang permen lollipop, tapi Suho menolaknya dengan gelengan lembut dan senyuman kecil.
Baekhyun duduk di atas rumput, dan Suho di atas kursinya. Tidak ada yang mereka lakukan. Hanya bernafas dalam-dalam dan kadang saling melempar senyum. Baekhyun akan bercanda dan Suho akan tertawa walau tanpa suara.
Damai. Sampai Suho menunduk dan menarik lengan Baekhyun.
"Hmm? Ada apa?"
Suho menunjuk bibirnya sendiri.
"Kau mau bilang sesuatu?"
Mengangguk, ia memutar kursi rodanya, menuju semak mawar di depan mereka. Lalu menunjuk salah satu bunganya.
"Bunga?" Baekhyun yang bangkit mengikuti agak bingung. "Ada apa dengan dua bunga itu?"
Suho menunjuk satu yang merekah, dan satu yang sudah kecokelatan. Lalu menunjuk Baekhyun dan memeragakan angka satu.
"Kau mau aku memilih antara bunga yang mekar dan bunga yang layu?"
Suho mengangguk senang. Semangat.
Baekhyun pikir ini menarik. Mempelajari psikologi manusia adalah favoritnya. Alasan emngapa Suho memintanya memilih satu dari dua bunga ini adalah misteri yang sangat ingin ia ketahui jawabannya.
Ia tahu Suho ingin ia berpikir selayaknya orang normal.
"Tentu saja aku memilih yang mekar. Kau sendiri?"
Baekhyun ingin membongkar pola pikir Joonmyeon satu persatu. Mengurai benang merah kusut pikirannya sehelai demi sehelai.
Suho tampak puas dengan jawabannya. Ia sendiri kemudian mendekati bunga yang masih merah dan basah oleh embun hujan kemarin malam.
"Kau juga memilih yang mekar?"
Suho menggeleng.
"Lalu?"
Pemuda itu tersenyum tipis, sebelum kemudian menjentikkan tangan pada tangkainya. Menikmati cara mahkota merah itu satu persatu berjatuhan di atas karpet rumput. Meninggalkan bunga itu dengan satu kelopak tersisa.
Suho tersenyum lebar. Baekhyun menelan ludah.
.:xxx:.
Chanyeol tahu Yixing tengah menyiapkan dirinya. Pertemuannya dengan Yixing tadi di toilet berbuah persetujuan. Yixing akan menyelinap masuk mansion keluarga Kim dan Chanyeol akan memback-up nya dari luar. Sekarang, hyungnya itu sudah pulang untuk memepersiapkan semuanya.
Meyakinkan Yixing adalah hal tersulit. Tapi mau bagaimana lagi, hanya ini yang mereka butuhkan. Noonanya sudah bekerja dengan keras untuk mengumpulkan catatan kriminal Yifan dan kontak dengan seorang jaksa professional. Proses hukum Yifan akan segera dilangsungkan, tapi takka dipublikasikan sebelum Yixing menyelesaikan tugasnya.
Bel pulang berbunyi dan Chanyeol terhentak dari lamunan. Ia melihat semua orang telah bergegas mengemasi buku mereka.
Kecuali Joonmyeon. Dan Chanyeol tahu mengapa.
Semakin sulit saat Chanyeol tahu apa yang akan terjadi malam nanti.
Malam nanti, Joonmyeon akan menghadapi mimpi buruknya lagi. Ia tahu, tapi ia tak bisa melakukan apapun.
Chanyeol tak ingin Joonmyeon pergi.
Tao kena detensi dan ia harus tinggal di ruang Guru Chang, meninggalkan Chanyeol sendiri mengantar Joonmyeon pulang.
"Terima kasih, Chanyeol."
Pemuda jangkung itu tidak tahu bagaimana bisa senyum Joonmyeon masih secerah itu, padahal masalah yang ia hadapi sebesar ini.
Nafsunya untuk menghabisi Yifan jadi semakin meningkat saja.
"Tidak usah mengantarku pulang. Y-Yifan-hyung akan menjemputku..."
Yifan-hyung. Yifan-hyung.
"Kau yakin akan baik-baik saja."
Degup jantungnya berhenti lagi. Joonmyeon tahu maksud Chanyeol menanyakannya tidak macam-maca, tapi ia tak bisa tak merasa seolah Chanyeol mengetahui sesuatu.
Sama seperti Tao.
(Dan lagi, kenapa dari tadi ia tidak bertemu Yixing?)
"Aku tidak akan apa-apa, tenang saja.
Tidak.
"Kau sudah mau pulang?"
Chanyeol mencoba mengulur waktu. Joonmyeon melihat ke luar gerbang. Kosong.
"Iya. Tapi Yifan-hyung belum datang..."
Semoga dia tidak datang.
"Chanyeol, boleh aku pinjam ponselmu? Biar aku telepon Yifan-hyung..."
Mata Joonmyeon kosong. Tangannya yang terulur gemetar.
Ia tahu Joonmyeon sangat ketakutan. Tapi tak bisa minta tolong pada siapapun.
Taruhannya adalah harga dirinya.
Yifan keparat!
"Joonmyeon."
Pemuda mungil itu hilang keseimbangan saat Chanyeol menarik keras tangannya, membuatnya jatuh dalam dekapan si jangkung, dan tidak mengelak saat dagunya diangkat hingga ia menengadah.
"Cha—"
"Aku tidak mau dia menyakitimu lagi."
Manik jernih Joonmyeon membulat kala wajah Chanyeol mendekat.
Chanyeol menciumnya.
.
.
.
.
.
.
Yifan menurunkan kaca mobil. Menatap dua siluet yang saling menempel dari lorong gedung sekolah itu.
Tidak disangka. Kelincinya masih berani macam-macam?
.
.
.
[tbc]
An: Sayang sekali LH masih belum bisa update... untuk sementara aku update ini dulu ya :3
