JONGIN TERBANGUN DAN MEMANDANGI KAMAR YANG GELAP, pasti sudah malam. Seberkas sinar dari luar rumah menerangi sebagian ranjang, sinar itu juga menyoroti wajah Sehun yang kelihatAnnya sangat lelah. Sehun terlalu memaksakan diri, juga memaksa Jongin tentu saja. Ia ingin memandang jam, ingin mengetahui jam berapa sekarang. Tapi tidak ada satu jam pun yang bisa di lihat dalam ruangan gelap.

Sehun juga sudah melepaskan jam tangannya saat mereka masih di Sungai tadi. Jongin mengehela nafas. Akhirnya pertahanAnnya runtuh juga. Ada sisi lain dari diri Sehun yang dilihatnya, sisi lain yang membuat Jongin merasa bukan masalah untuk menikmati Sehun sekali saja. Bukan ini maksud ciumannya di Sungai tadi.

Jongin hanya ingin memberikan ciuman yang sama seperti saat mereka bercumbu pertama kali di halaman rumah. Tapi tidak ada satu hal pun yang bisa Jongin baca. Hari ini dia benar-benar tidak sedang memegang kendali, Tapi Sehun-lah yang memegang kendali atas dirinya. Sehun bergerak halus, mungkin ia terbangun. Jongin segera menutup matanya rapat-rapat dan tidak berniat membukanya sampai Sehunmencium keningnya. Dan berujar pelan.

"Bangunlah,"Bisikan Sehun membuat Jongin membuka matanya perlahan.

"Kemarilah, berbaring disini."

Dalam keremangan lampu, Jongin dapat melihat kalau Sehun sedang menepuk dadanya. Jongin beringsut mendaki tubuh Sehun, kembali menduduki pinggangnya dan merebahkan kepala di dadanya. Nafas Sehun sangat teratur membuat Jongin seperti di hipnotis, ia memejamkan matanya merasakan detak jantung Sehun yang berirama.

"Kau menangis lagi kali ini!"

Jongin nyaris saja tertidur saat mendengar ucapan itu, ia kembali membuka matanya lagi dan menangkupkan sebelah tangannya di dada Sehun. "Aku hanya kesakitan. Sudah lama aku tidak merasakan sakit dan nikmat bercampur menjadi satu seperti saat bercinta denganmu."

Sehun tersenyum. Ia tau apa yang Jongin maksudkan. Mungkin bagian yang paling sensitif di tubuh Sehun terlalu besar untuk Jongin. Sehun bisa mengingat ringisan Jongin saat pertama kali memaksa Sehun memasukinya. Juga dengan tangisan kenikmatan Jongin sepanjang mereka bercinta. "Ya, aku juga merasakan hal yang luar biasa malam ini. Aku belum pernah terkapar seperti ini setelah bercinta dengan Pria."

"Mereka harus menjadi pelacur dulu selama bertahun-tahun untuk belajar bertahan seperti itu!"

Sehun tertawa. Sebenarnya ia sangat tidak suka jika Jongin mengungkit-ungkit tentang pelacuran atau sejenisnya. Sehun akan semakin membenci dirinya sendiri karena tidak menemukan Jongin lebih dulu. Sehun membelai kepala Jongin dengan sangat perlahan, rambut Jongin panjang dan halus. Sehun masih tidak bisa memungkiri kalau Jongin sangat sempurna. Pria paling sempurna yang pernah di temui di dalam hidupnya. "Jongin…"

"Ya?"

"Ini perayaan ulang tahun terbesar dalam hidupku."

"Tentu saja. Kau memaksaku untuk menerima perlakuanmu berkali-kali."

"Ya, dan ini sama sekali di luar rencana. Aku tidak mengamankan interaksi kita kali ini. Berjanjilah Jongin, jika kau hamil karena ini segera beritahu aku!"

"Memangnya kenapa? Kau akan bertanggung jawab?"

"Kau fikir aku akan melakukan itu?"Jongin terdiam sesaat. "Aku rasa tidak!"

"Aku akan mencarikanmu dokter terbaik untuk menguguraAnnya."Lagi-lagi hening. Sehun menanti jawaban Jongin, pria itu diam terlalu lama. Sehun hampir saja menyerah jika saja Jongin tidak memanggil namanya.

"Sehun, bolehkah aku melahirkan anakmu?"Sehun mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"

"Aku ingin seorang anak. Aku sudah lelah hidup sendirian. Jika aku hamil bolehkah aku melahirkannya. Aku berjanji akan membawanya pergi jauh dan aku tidak akan mengatakan kepadanya siapa ayahnya. Aku bisa hidup tanpa ayah, anakku pasti juga bisa!"

Sehun memejamkan matanya, mendadak satu degupan jantungnya terasa sangat kencang. Mungkin Jongin mendengarnya tapi pria itu berusaha untuk tidak perduli.

Sehun tidak tau mengapa kata-kata Jongin barusan membuat hatinya menjadi sedih.

Mungkin ia laki-laki paling cengeng sedunia saat merasakan air matanya mengalir halus. Sehun segera menghapus airmatanya dan mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan perasaanya.

"Kau ingin melahirkan anakku?"

"Ya, Aku tetap akan pergi pada waktunya. Tapi boleh aku melahirkan anakmu jika aku hamil karena ini? Aku akan bekerja yang baik-baik untuk membesarkannya. Aku akan berusaha sekeras mungkin. Aku berjanji anakmu tidak akan kelaparan. Aku hanya butuh teman, dan seperti ibuku yang menganggap kalau anak adalah teman yang paling setia, anakmu juga tidak akan pernah meninggalkan ibunya sebatang kara sampai aku meninggal dunia."

"Kata-katamu terdengar sangat sedih!"

Jongin mengangkat wajahnya dan memandang Sehun. Matanya basah, tapi tidak ada satupun dari butiran airmatanya menyentuh dada Sehun. Jongin selalu menyeka airmatanya sebelum mengalir terlalu jauh. Sehun memandangnya lama. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikan airmatanya lagi.

"Kenapa dengan wajahmu?"

Jongin memaksakan sebuah senyum. "Aku menginginkAnnya. Sangat menginginkannya. Aku harap khayalan itu menjadi kenyataan."

"Mimpi itu akan jadi kenyataan."

"Jadi kau mengizinkan aku melahirkannya kalau aku sampai hamil? Aku berjanji akan merawatnya dengan baik, aku akan membawanya pergi jauh dan aku tidak akan membuatnya mengingat-ingat ayahnya lagi. Dia tidak akan mengganggumu, aku berjanji!"

Jongin terlihat sangat senang, tapi ada rasa nyeri menelisip ke dada Sehun. Ia mengangkat tubuhnya sedikit agar bisa mencium bibir Jongin meskipun hanya sebentar. "Kenapa kau sangat menginginkannya?"

"Aku sudah bosan kesepian, aku sudah mengatakannya kan? Semenjak ibu angkatku meninggal, satu persatu orang yang ku sayang pergi. Ada yang datang, tapi segera di rampas oleh takdir."

"Karena itu kau tidak pernah suka menaruh harapan kepada laki-laki? Kau tidak berharap aku menemanimu menjaga anak itu?"

Jongin menggeleng. "Aku cukup tau diri. Aku tidak akan memaksa, tidak…aku bahkan tidak akan pernah bermimpi untuk itu."

"Kau sedang mengatakan kalau kau takut bermimpi untuk kesekian kalinya. Tapi kau berani bermimpi memiliki seorang anak!"

"Ya, aku tidak tau darimana keberanian yang satu itu datang! Meskipun hanya untuk malam ini, obrolan kita tentang mimpi ini akan ku simpan baik-baik dalam hatiku. Karenamu aku berani bermimpi."

"Aku sudah katakan padamu tadi, mimpi itu akan jadi kenyataan. Kau tidak menyimak ucapanku? Aku terharu. Sungguh! Ada seorang Pria yang berharap bisa melahirkan anakku meskipun dia tau sangat tidak mungkin untuk bersamaku. Aku tidak mengerti mengapa kau tidak menuntut banyak. Mengapa kau terlalu pasrah dengan keadaan. Saat melihatmu berbicara, kau cukup cerewet dan tidak ada seorangpun yang menduga kalau kau sesedih ini. Sekarang bangunlah, kita akan bersiap-siap!"

Sehun meninggalkan ranjang dan juga meninggalkan Jongin. Ia keluar dari kamar mencari celananya dan kembali setelah memakainya lalu menyalakan lampu. Jongin melihat Sehun mencari pakaiannya di dalam tas yang mereka bawa. Mereka akan pergi sekarang?

"Kita aka kemana?"

"Seoul!"

"Pulang? Seharusnya kita baru pulang besok, kan?"Sehun merogoh jam di saku celananya dan memperhatikAnnya baik-baik. Masih jam delapan malam. Ia kembali menoleh kepada Jongin lalu memiringkan kepalanya.

"Bersiap-siaplah Jongin. Ganti pakaianmu sekarang."

Jongin tidak kuasa untuk menolak. Ia juga mulai beranjak dari ranjang dan kembali menutupi tubuhnya dengan pakaian yang bersih. Sesekali Jongin menatap Sehun yang menelpon seseorang. Ia menunggu dengan sangat gusar dan akhirnya berseru menyebut nama Chen begitu telponnya di angkat. Jongin mendengar Sehundan Chen berdebat tentang hal yang membuat keningnya berkerut. Laki-laki ini terlihat sangat memaksa dan Chen mungkin bermalas-malasan untuk melakukan perintahnya.

Tapi Jongin sangat terkejut mendengar perkataan terakhir Sehun yang sangat menentukan perasannynya. Ia hanya sanggup memandangi Sehun lama.

"Pokoknya siapkan sekarang juga. Begitu sampai di Seoul aku akan segera menikah! Ingat Chen, malam ini juga dan aku tidak suka dengan penundaan!"Sehunkemudian menatap Jongin yang termenung memandangnya. Ia mengembangkan tangannya lalu mengangkat bahunya. "Memangnya kenapa? Ada yang aneh? Aku tidak mungin membiarkan anakku lahir tanpa ayah! Dan satu lagi, Kau harus memberi tahu kepada anak itu kalau aku ayahnya. Kau juga tidak boleh

membawanya pergi terlalu jauh, setelah anak itu lahir, aku akan mencarikanmu tempat tinggal di Jeonju agar anak itu bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan aku bisa mengunjunginya ketika aku merindukannya. Dan…" Sehunmemberikan penekanan khusus pada kata ‗dan' yang dia ucapkan. "Jangan beri nama anak itu dengan nama Oh. Aku sudah bilang, kan? Aku tidak menyukai nama Oh!"

"Tapi anak itu belum jelas keberadannynya. Kau harus memastikan aku hamil atau tidak baru kita bisa menikah."

"Kita sudah menjadi suami istri sebelum menikah, lalu apa salahnya untuk tiga bulan kedepan kita benar-benar menikah? Dan aku sudah berjanji padamu, kan? Aku akan mewujudkan impianmu. Aku akan menghamilimu, sayang! Jadi bersiap- siaplah. Chen akan segera menyuruh orang menjemput kita. Aku harus memastikan bahwa surat-surat itu bisa selesai besok pagi, agar anakku punya hak secara hukum atas darah yang mengalir di dalam tubuhnya!"

Jongin merasakan kaki-kakinya melemah, ia terkulai dan Sehun langsung menyambutnya. Sesaat kemudian Jongin memeluknya dan berterimakasih. Sehunbukan hanya membuatnya berani bermimpi, tapi juga berusaha mewujudkan mimpinya. Sehun bahkan menjanjikan hak-hak yang seharusnya di dapat seorang anak dari ayahnya jika mereka bercerai nanti. Ya, meskipun mereka menikah hanya untuk anak itu, Jongin patut bahagia karena pada akhirnya ia akan menikah dalam artian yang sebenarnya. Pada akhirnya ia memiliki suami. Ia sempat putus asa saat calon suami terakhirnya meninggal dunia setahun silam. Tapi sekarang harapannya bangkit lagi.

Sebuah mobil sederhana menjemput mereka sesuai dengan janji Sehun. Satu jam kemudian, Jongin berjalan di Altar dengan gandengan Chen yang mengantarnya sampai kepada Sehun yang menunggunya disana. Ia mengenakan pakaian biasa.

Jongin sangat bahagia, kebahagianny terbesar yang terjadi dalam hidupnya. Terlebih saat Sehun menyematkan cincin pernikahan di jarinya dan laki-laki itu menciumnya dengan sangat lama, Sehun sama sekali tidak mau berhenti meskipun deheman beberapa orang yang hadir menggema.