Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.
.
.
.
Karena tidak dapat berlatih seperti anggota lain yang mendapatkan kesempatan untuk mewakili wilayah Jepang pada turnamen mendatang, Sasuke memilih untuk diam di rumah sembari melakukan sedikit olahraga ringan pada bahunya. Saat ini Sasuke harus lebih banyak istirahat untuk menjaga bahunya baik-baik saja sampai nanti pada saat turnamen mendatang. Kali ini dia mendengarkan dengan baik apa saja yang diperbolehkan dan dilarang untuk dilakukannya selama masa penyembuhan. Sakura bahkan tidak menyangka bahwa laki-laki ini bisa berubah menjadi begitu penurut.
Rasanya memang mustahil bisa melihat Sasuke diam di rumahnya tanpa melakukan apapun. Ya, paling yang dilakukan oleh Sasuke cuma membaca buku saja. Sejak berita mengenai kakaknya menyeruak keluar oleh media, Sasuke jadi menghindari semua media yang ada. Mulai dari televisi, radio bahkan ponselnya sendiri.
Tapi di semua hari itu, Suigetsu, Karin dan Juugo selalu datang meluangkan waktu untuk menemani Sasuke meskipun orang itu mungkin tidak menerima tamu yang memaksa datang ke rumahnya. Walau begitu, Sasuke tidak pernah mengunci rumahnya lagi ketika dia ada di sana. Makanya Suigetsu bisa masuk dengan leluasa tanpa perlu permisi lagi.
Sebenarnya Sakura pun ingin sekali ikut bergabung dengan mereka, namun tugas selama liburan musim panas harus dia kerjakan kalau tidak ingin bermasalah nantinya. Sakura juga tidak enak jika terus-terusan muncul tanpa diundang seperti itu. Walaupun Suigetsu selalu mengajaknya sih. Tapi yaa… Sakura ingin Sasuke menghabiskan lebih banyak waktunya bersama teman-temannya sih. Lagipula Sasuke belum membutuhkan Sakura lagi.
Satu hari menjelang pembukaan turnamen, Karin datang ke rumah Sasuke untuk memastikan keadaannya. Kali ini Karin datang sendirian karena Suigetsu ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya. Juugo pun sama, tapi berkaitan dengan klub-nya. Katanya klub Judo mengadakan pertandingan persahabatan dengan SMA lain sebelum kejuaraan Judo dimulai.
Sekarang sikap Sasuke kembali seperti biasa pada Karin. Sasuke mendengarkan semua kata-kata Karin tanpa membantahnya sedikit pun. Karin memang sudah mengecek bekas cidera yang dialami oleh Sasuke itu. Sudah kelihatan lebih baik dari saat pertandingan terakhirnya.
"Mulai sekarang kau harus menjaga baik-baik bahumu. Sudah lebih baik, namun sebaiknya untuk sekarang kau jangan memaksakan diri dulu. Walaupun di pertandingan nanti kau ingin menang, tapi aku tidak menyarankanmu menggunakan tenagamu secara berlebihan seperti pertandingan terakhirmu itu," jelas Karin sembari membalutkan perban pada bahu Sasuke.
Biasanya sih yang menggantikan perban Sasuke adalah Suigetsu atau Juugo secara bergantian. Makanya mereka hampir setiap hari selalu datang kemari. Hari ini karena hanya ada Karin, jadi Karin yang menggantinya. Saat ini pun Sasuke duduk di sofanya dengan Karin di belakang punggungnya yang masih fokus membalut perbannya.
"Aku tidak akan memaksakan diri," balas Sasuke.
Karin tersenyum tipis mendengarnya. Sekarang kegiatan membalut perbannya telah selesai. Sasuke pun sudah memakai kembali atasannya. Saat itu pula Karin membereskan kotak obat milik Sasuke.
"Ah ya, sepertinya gadis itu sudah lama tidak kemari?"
"Gadis itu?" ulang Sasuke bingung.
"Sakura. Apa kalian sudah jarang bertemu akhir-akhir ini?" tanya Karin.
"Dia tidak selalu ada di sini. Lagipula kenapa dia harus selalu ada?" kata Sasuke.
Wajah Sasuke saat itu memang terlihat dingin, tapi ada ekspresi lain yang tercetak jelas di wajahnya. Ekspresi yang sangat amat jarang dilihat oleh Karin selama mengenal sosok Uchiha Sasuke. Mungkin Suigetsu sering melihat ekspresi ini, mengingat betapa senangnya Suigetsu menggoda Sakura maupun Sasuke secara bergantian.
"Kau marah?" tanya Karin kemudian.
"Marah? Kenapa harus marah?"
"Kau tidak seperti biasanya."
"Aku sudah seperti biasanya. Ada apa denganmu sekarang? Kau jadi lebih mirip Suigetsu dengan penasaran soal orang lain," celetuk Sasuke.
"Hmp, kau benar-benar sudah berubah sejak mengenal Sakura ya," kata Karin pula.
"Karin."
"Bukankah aku pernah bilang kalau aku yang paling memahamimu dari semua orang? Apa kau marah karena Sakura belum menghubungimu setelah terakhir kalian bertemu?" tanya Karin.
Sasuke tidak menjawab. Dia memalingkan wajahnya dari Karin meskipun mereka duduk bersebelahan di sofa ini. Wajahnya kembali datar, dan terkesan cuek. Tapi Karin tahu ekspresi itu terlihat sedikit… lucu.
"Mm, kapan terakhir kalian bertemu? Apakah… saat dia makan bersama dengan kita kemarin? Sudah tiga hari berlalu…" gumam Karin.
Sasuke tetap diam tidak menjawab. Ya, inilah dia sosok seorang Uchiha Sasuke. Memang sulit sekali mengenalnya pada pandangan pertama. Tapi begitu kau memahami tentangnya, ada begitu banyak hal pada diri Uchiha Sasuke yang membuatmu penasaran dan merasa gemas sendiri. Sikapnya yang begitu dingin karena menyembunyikan perasaan hangatnya, sikapnya yang begitu cuek karena menyembunyikan kepeduliannya dan sikapnya yang sinis karena menyembunyikan perasaan sayangnya. Semua itu begitu mudah dipahami jika kau lebih mengenalnya dan kau mampu memasuki hati Sasuke secara perlahan-lahan. Tidak perlu memaksa masuk. Kau cukup mengetuk pintunya, menunggu sejenak, kemudian membukanya pelan hingga akhirnya diizinkan berada di sana untuk beberapa saat.
"Aku tidak menyangka ternyata kau benar-benar menyukainya," lirih Karin kemudian sembari menundukkan kepalanya.
"Apa maksudmu? Aku tidak—"
"Kau tahu? Untuk orang sepertiku, menyukai orang lain itu adalah hal yang mudah. Cukup buat aku terpesona padanya dan aku akan menyukainya dalam hitungan detik. Tapi kau berbeda. Kau tidak mudah menyukai orang yang sudah mati-matian membuatmu terpesona, berada di dekatmu, melakukan banyak hal untukmu dan berada di sampingmu kapan pun itu. Karena itu, jika akhirnya kau menyukai seseorang… pasti dia sudah berusaha begitu keras… hanya untukmu.
"Jujur saja, sebenarnya aku iri pada Sakura. Apa yang dimilikinya sehingga beberapa orang menyukainya begitu mudah? Apa istimewanya gadis itu? Apakah karena dia pintar, atau karena dia cantik? Aku tidak bisa mengerti dimana bagian yang menariknya dari gadis itu. Karena dilihat dari mana pun, dia hanyalah gadis yang biasa saja. Tapi kemudian… aku mengerti. Gadis yang kupikir hanyalah gadis yang biasa saja itu ternyata gadis yang berbeda. Dia tidak sama seperti gadis lain. Ada banyak hal yang mampu dilakukannya tapi aku tidak bisa melakukannya.
"Dan kupikir… tidak salah kalau perasaanmu tergerak untuknya. Kau sudah menyukai orang yang tepat. Seseorang yang mampu bertahan di sisimu. Seseorang yang tidak akan pergi berapa kali pun kau mendorongnya pergi. Dan aku sempat berharap… aku punya kemampuan seperti yang dimiliki oleh Sakura…"
Karin menyeka matanya yang terasa basah itu. Ini adalah pertama kalinya untuk Karin mengatakan hal seperti ini pada orang yang disukainya. Mengatakan betapa beruntungnya orang yang dia sukai ternyata memiliki seseorang yang sangat tepat untuknya. Meski kenyataan orang itu bukan Karin, tapi entah bagaimana Karin merasa… cukup lega.
"Nee, kurasa tidak masalah jika kau menghubunginya lebih dulu. Karena kurasa… Sakura tidak akan berpikir apapun mengenai itu."
"Darimana… kau tahu?" suara Sasuke mungkin terdengar pelan dan kecil, tapi Karin mendengarnya dan nyaris tersenyum melihat ekspresinya sekarang.
Ekspresi seorang anak kecil yang begitu ingin tahu bagaimana caranya mendapatkan permen dengan gratis.
"Karena dia Sakura."
Walaupun jawaban Karin seperti itu, sebenarnya sedikit membingungkan, tapi akhirnya Sasuke memahami apa maksudnya itu.
.
.
*KIN*
.
.
"Nee, kau benar-benar tidak ingin tahu bagaimana perasaan Sasuke-kun padamu huh?"
Pagi ini akan diadakan turnamen musim panas yang sudah lama ditunggu-tunggu. Perwakilan dari setiap prefektur akan hadir di Tokyo. Tentu saja Sakura tak akan melewatkan hari ini karena beberapa anggota klub renang sekolahnya terpilih mewakili Tokyo dalam turnamen ini. Kalau Ino menemaninya hari ini tentu saja karena kekasihnya berhasil masuk ke dalam satu event mewakili Tokyo dengan membawa nama sekolahnya.
"Kapan kau akan berhenti membicarakan ini?" tanya Sakura yang mulai bosan dengan topik yang ditanyakan oleh Ino hampir setiap kali mereka bertemu.
"Sampai kau punya jawaban jelas soal hubungan kalian. Dan jujur itu sangat menggangguku tahu."
"Hei, aku saja tidak terganggu, kenapa harus kau yang terganggu?" tanya Sakura bingung.
"Sampai kapan kau berpikir bahwa ini tidak mengganggumu? Apa kau tidak ingin tahu perasaan Sasuke-kun yang sesungguhnya padamu? Kalau dia memang memiliki perasaan itu, harusnya dia mengatakannya padamu kan? Kenapa malah menggantung hubungan kalian seperti ini?"
Sakura sudah tahu alasan kenapa Sasuke tidak ingin memberi nama pada hubungan mereka. Sasuke sudah memberitahukan segalanya pada Sakura soal sikap dan alasannya selama ini. Dan itu hal yang wajar mengapa Sasuke memilih untuk tidak terlibat pada hubungan apapun lagi. Perasaan kehilangan itu begitu menyakitkan, dan akan semakin menyakitkan jika terulang lagi.
"Karena aku tahu alasannya," balas Sakura akhirnya.
"Alasannya?" ulang Ino.
"Bukankah sudah pernah kukatakan kalau hubungan seperti ini jauh lebih baik? Karena itu jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
"Kau selalu mengatakan semuanya baik-baik saja padahal kau sendiri tidak begitu. Jadi… kau tidak punya alasan untuk menolak tawaranku kan?"
"Tawaran… apa?" tanya Sakura bingung.
"Kemarin, Sai mengatakan padaku kalau ada temannya yang tertarik denganmu. Jadi Sai meminta tolong padaku supaya mengenalkannya padamu. Kau tidak akan keberatan kan? Mengingat kau sama sekali tidak punya hubungan apapun dengan orang lain."
"Hei, kenapa tiba-tiba…?"
"Hei, kau sudah mencampakkan Neji Senpai karena alasan tidak masuk akal. Apa sekarang kau juga mau menolak tawaran langka seperti ini? Memangnya kau mau sendirian terus seperti ini sampai kita lulus nanti? Kau tidak takut jadi perempuan tua kesepian tanpa pasangan hah?"
"Ya ampun… kenapa harus seperti itu? Kau tentu tahu aku buruk sekali dalam berkenalan dengan orang lain…"
"Aku tidak terima alasan apapun darimu. Pokoknya kau harus mengambil kesempatan ini. Hiduplah dengan normal Sakura. Apa kau mau aku terlihat buruk di depan temannya Sai jika kau menolak perkenalan ini?"
"Haa, itu… Ino tolonglah…"
"Aku yang minta tolong padamu. Ok? Kenalan saja dulu. Tidak perlu harus langsung berkencan kok. Aku jamin teman Sai kali ini adalah orang yang baik dan menyenangkan. Yaa… tidak jauh berbeda dari Neji Senpai lah…"
Kenapa Sakura harus dihadapkan pada pilihan seperti ini?
.
.
*KIN*
.
.
Pertandingan tiap pertandingan sudah dilakukan. Sayangnya kali ini Sai tidak bisa mendapatkan medali emasnya. Ada lawan yang lebih tangguh dari prefektur lain yang mengalahkan Sai dengan perbedaan waktu yang tipis sekali. Setidaknya, Sai masih bisa mendapatkan medali peraknya.
Pada pertandingan Neji, tidak diragukan lagi kemampuan dan bakatnya yang luar biasa itu. Tidak ada peserta lain yang mampu menyusulnya pada awal pertandingan. Tentu saja jawara pertandingan kali ini jatuh pada Ketua Klub sekolah Sakura. Dia benar-benar mengagumkan. Sakura bahkan sempat terpesona sekali lagi dengan Neji. Dia benar-benar laki-laki yang hebat. Sakura yakin pasti banyak gadis baik yang bisa mendapatkan hati Neji kelak.
Dan sekarang… adalah pertandingan Sasuke.
Semua orang dibuat penasaran dengan pemberitaan beberapa waktu lalu mengenai putra sulung Fugaku Uchiha yang telah meninggal dunia itu. Bahkan komentator pertandingan pun ikut dibuat penasaran dengan apa yang terjadi pada atlet muda berbakat yang harus tutup usia pada umur yang terbilang sangat muda.
Sakura hanya berharap bahwa semua itu tidak akan mengganggu Sasuke hari ini. Meskipun semua orang masih membayangi mengenai sosok kakak laki-laki Uchiha bungsu itu, Sakura terus berdoa bahwa Sasuke bisa mengatasinya.
Peserta event gaya bebas 100 meter mulai berdiri masing-masing di papan start-nya. Wasit mulai mengecek kehadiran masing-masing peserta. Begitu semua peserta sudah siap, start pun dimulai.
Sepertinya cedera Sasuke sudah baik-baik saja. Dia bisa meluncur dengan begitu indah seperti biasanya. Sasuke… benar-benar sangat mengagumkan ketika berada di dalam air. Gerakannya yang begitu lincah dan bersemangat. Hari ini… Sakura menyadari perasaannya dengan jelas. Bahwa sejak awal… Sakura memang menyukai sosok Uchiha Sasuke ini. Sangat… menyukainya…
.
.
*KIN*
.
.
Pertandingan hari ini berakhir dengan baik.
Seperti dugaan banyak orang, Konoha High School hampir memborong banyak medali, bersaing dengan RTN Academy. Banyak atlet berbakat di generasi sekarang yang kemampuannya tidak boleh disia-siakan. Makanya banyak scouting yang datang untuk merekrut semua atlet muda ini untuk dilatih dengan maksimal.
Sakura mendengar dari Karin bahwa saat ini seluruh anggota klub-nya tengah diwawancarai oleh banyak wartawan. Sakura sendiri cukup terkejut karena Sasuke ternyata ikut di sana. Walaupun dia ikut, tapi ternyata Sasuke tidak banyak bicara dan tidak mau membahas hal-hal di luar pertandingannya yang ditanyakan oleh wartawan. Terutama mengenai kakak kandungnya.
"Sakura, kau sudah mau pulang?"
Ino datang menghampiri Sakura saat dirinya masih menunggu di dekat pintu keluar ruangan para atlet. Ternyata Ino sudah datang bersama Sai dan seorang… hah?
"Oh, sebentar lagi aku akan pulang," kata Sakura.
"Ah ya, Sakura. Ini perkenalkan, temannya Sai. Rei Gaara," Ino kemudian menggamit lengan Sakura dan menunjukkan seseorang yang berdiri di dekat Sai.
Seorang laki-laki berambut merah dengan tampang yang lumayan… tampan sih.
"O-oh, halo. Aku Haruno Sakura, salam kenal," Sakura sedikit canggung ketika dirinya mengenalkan diri dan menundukkan kepalanya.
"Halo, aku Rei Gaara, salam kenal juga," di luar dugaan suaranya terdengar begitu lembut ternyata.
"Ah, kalau temannya Sai, berarti apa kau juga atlet di klub sekolah Sai?" tanya Sakura.
"Tidak, aku bukan anggota klub. Aku hanya sering datang pada pertandingan Sai. Kau sendiri?"
"Eh? Oh… iya… aku juga melihat… pertandingan teman…" balas Sakura kikuk.
"Hei, bagaimana kalau Gaara mengantar Sakura pulang hari ini? Kalian bisa berkenalan lebih dekat kan?" usul Ino kemudian.
Langsung saja Sakura mendelik sinis pada Ino. Dia ini… selalu mengatakan hal-hal yang menyebalkan.
"Eh? Oh aku…" Sakura mencoba mencari alasan.
"Kau tidak punya kepentingan apapun lagi kan?" sindir Ino.
Apa dia sekarang mencoba membuat Sakura jadi terlihat buruk? Atau dia malah sebenarnya tengah memaksa Sakura dan mengancamnya saat ini?
"Sepertinya Haruno-san mau bertemu dengan temannya, aku jadi tidak enak kalau mengganggu," sela Gaara.
Ino kemudian menyenggol lengan Sakura dengan sedikit keras, meminta Sakura untuk bersikap baik. Tentu saja, rasanya pasti tidak enak kalau Sakura berbuat ceroboh di depan Ino dan Sai. Apalagi ini adalah teman Sai yang merupakan kekasih Ino. Tapi kenapa saat seperti ini justru datang di waktu yang tidak tepat sih?!
Sakura juga tidak tahu harus mengatakan apa di saat seperti ini tahu! Memangnya dia punya pengalaman dengan hal seperti ini?
"Bagaimana kalau kita berempat pergi ke taman hiburan besok? Aku punya tiket diskon dari kakakku," sela Sai kemudian.
"Wah! Ide bagus! Ayo kita pergi!" sambut Ino bersemangat.
Haa~ kenapa sepertinya ini sudah direncanakan? Sakura malah merasa seperti itu.
"Aku tidak begitu sibuk besok, kelihatannya menarik karena sudah lama aku tidak pergi ke taman hiburan," kata Gaara lagi.
"Aku…"
Ino kembali menggamit lengan Sakura. Kali ini lebih kencang dari yang pertama.
"Hei, berhentilah membuat alasan! Lihat betapa baiknya Gaara itu! Mau kau sia-sia kan juga?!" bisik Ino.
Sekarang Sakura merasa tertekan. Tentu saja, Sakura tidak punya alasan untuk menolaknya meskipun Sakura tidak mau.
"B-baiklah. Ayo kita pergi," jawab Sakura akhirnya.
Entahlah, kenapa Sakura merasa kalau ini sedikit… aneh?
.
.
*KIN*
.
.
"Sakura-chan~!"
Rombongan anggota klub renang Konoha High School baru saja keluar dari ruang ganti atlet dan menuju pintu keluar. Sakura masih ada di sana menunggu sendirian. Ino dan Sai baru saja pulang sedangkan Gaara juga baru pergi karena mendapat telepon dari temannya. Sepertinya Gaara cukup menantikan acara besok.
Suigetsu melambaikan tangannya ke arah Sakura. Ada Karin dan Juugo yang ternyata baru saja datang dan mendekati mereka. Sakura juga akhirnya memilih menghampiri mereka.
"Selamat ya, klub kalian jadi pemenang pertandingan hari ini," ucap Sakura.
"Tentu saja, klub kami yang terbaik tahu! Kau menonton tadi?" kata Suigetsu bersemangat.
"Iya, aku melihat dari tribun penonton," balas Sakura sama bersemangatnya.
"Untungnya kali ini pertandingan berjalan dengan baik, iya kan Sasuke," sahut Karin.
Sasuke sendiri ada di sana dan tidak mengomentari apapun.
"Uhm, Sasuke-kun, selamat ya. Kau akhirnya mendapatkan medali emasnya," ujar Sakura pula.
Sasuke menoleh sekilas ke arah Sakura. Tapi ekspresinya tetap saja datar dan dingin. Mungkin ekspresi itu sudah jadi kebiasaan dari bagian dirinya. Jadi sulit untuk menghilangkannya.
"Hn, tentu saja aku dapat," kata Sasuke dengan suara datarnya.
"Naa, naa! Untuk merayakannya bagaimana kalau besok kita pergi jalan-jalan bersama? Juugo juga harus ikut, kau bilang sudah selesai kan dengan klub-mu?" seru Suigetsu tiba-tiba.
"Kedengarannya seru. Sasuke… kau akan ikut kan?" sambung Karin.
"Kenapa aku harus ikut?"
"Tentu saja kau harus ikut! Sudah lama kita tidak pergi bersama-sama. Jadi manfaatkan sisa liburan musim panas ini dengan baik! Lagipula kan Sakura-chan akan ikut kita!" Suigetsu terlihat paling bersemangat menjadwalkan acara ini.
Astaga… besok?
Sasuke diam-diam menoleh ke arah Sakura yang kemudian menunduk bingung. Suigetsu terus saja mengoceh untuk merencanakan jalan-jalan mereka besok. Karin juga sesekali menimpali untuk memberikan masukan kemana tujuan mereka besok.
Kenapa wajah gadis pink itu terlihat bingung?
"Ano… maafkan aku. Besok aku… sudah ada janji," akhirnya Sakura mengucapkannya juga walaupun hatinya setengah mati menahan diri. Rasanya sungguh tak enak.
"Hee~? Janji apa? Memangnya janjimu lebih penting dari acara besok?" celetuk Suigetsu.
"Uhm, aku benar-benar minta maaf. Aku ingin sekali ikut kalian tapi…"
"Kalau begitu batalkan saja janjimu besok dan ikut kami," potong Suigetsu.
"Kalau aku bisa… tapi…"
"Kau tidak boleh memaksanya Suigetsu. Dia sudah punya janji lebih dulu," sela Karin.
"Memangnya kau mau kemana besok?" tanya Suigetsu lagi.
"Ke taman hiburan sih. Karena kekasih Ino punya tiket diskon jadi—"
"Haa?! Kekasih Ino—temanmu itu?! Kenapa kau harus ikut kencan mereka? Kau bisa mengganggu tahu! Sudahlah lupakan saja janji dengan temanmu itu, ikut kami saja!" Suigetsu masih memaksa.
"Masalahnya bukan itu… tapi—"
"Kenapa kalian memaksanya seperti itu? Dia punya urusannya sendiri, jadi jangan mengganggunya. Lagipula apa pentingnya dia ikut kita atau tidak?" tiba-tiba suara Sasuke menyela di perdebatan mereka.
Tentu saja Sakura yang mendengar itu jadi terhenyak. Entah kenapa Sakura merasa… sedikit kecewa. Sakit… membingungkan…
"Hei Sasuke, kenapa kau jadi begitu? Sakura-chan kan—"
"Aku mau pulang."
Setelah memotong kata-kata Suigetsu tadi, Sasuke segera pergi meninggalkan kelompoknya dan menuju bus sekolah mereka untuk segera pulang bersama dengan rombongan klub. Dia bahkan pulang begitu saja tanpa bicara apapun lagi pada Sakura. Sungguh tingkah yang mencurigakan.
"Ada apa dengannya?" sungut Suigetsu.
"Sepertinya dia masih marah," celetuk Karin.
"Marah? Dengan siapa? Kenapa dia marah?" tanya Suigetsu bertubi-tubi.
Karin lalu berbalik menghadap Sakura dan menepuk bahunya dengan pelan.
"Maafkan sikap Sasuke hari ini ya. Dia tidak akan bertindak duluan, jadi sebaiknya kau maklumi saja," ujar Karin akhirnya.
"Hei, itu maksudnya apa?" sela Suigetsu.
"Itu maksudnya kita harus segera pulang!"
Karin kemudian menarik Suigetsu untuk ikut pulang bersama mereka.
Apa… maksudnya itu?
.
.
*KIN*
.
.
Semalam berkali-kali Sakura melirik ponselnya dan memainkannya dengan enggan. Walaupun Sakura sudah menekan beberapa nomor, akhirnya tangannya kembali menutup ponselnya. Perasaan bingung seperti ini memang menyebalkan. Atau memang sangat menyebalkan. Ada apa lagi dengan sikap Sasuke pada Sakura sekarang ini? Sakura merasa tidak melakukan kesalahan fatal sampai laki-laki pemarah itu bersikap dingin seperti itu padanya. Sakura terus menonton semua pertandingannya dan selalu memberikan semangat. Apalagi yang salah di sini? Sikapnya memang tidak pernah bisa dimengerti.
"Sakura~~~ kau sudah lama menunggu?"
Akhirnya dengan mempertimbangkan segala macam pilihan, Sakura memilih pergi bersama Ino juga hari ini. Selain merasa tidak enak, Sakura juga tidak punya alasan untuk menolak.
Seperti pesan Ino semalam, mereka akan bertemu di depan pintu gerbang taman bermain itu pukul 10 pagi. Sakura sudah tiba di sana tepat pukul 10 dan tidak ada seorang pun yang datang.
"Bukankah kubilang jam 10? Jadi aku keluar dari rumah jam 10."
Ck! Kenapa kepalanya malah mengingat kata-kata sialan itu?!
"Hei, kenapa dengan wajahmu? Kau sedang kesal?" tanya Ino bingung melihat ekspresi Sakura yang terlihat tak bersahabat hari ini.
"Tidak sama sekali kok. Ah ya, dimana Sai dan temannya itu?"
"Sebentar lagi mereka akan datang. Tadi aku sudah—nah itu dia!"
Ino melambaikan tangannya dengan semangat ketika kekasihnya dan teman berambut merahnya itu sudah datang. Kenapa ini rasanya seperti acara perjodohan saja sih? Atau memang begitu niatnya sebenarnya.
"Wuah, Gaara tampan sekali tahu! Kenapa aku tidak bertemu dengannya lebih dulu ya?" bisik Ino sembari memandangi penampilan laki-laki yang niatnya dikenalkan kepada Sakura itu.
"Hei, kalau Sai mendengar itu, aku jamin hari ini kau pasti akan diputuskannya segera!" gerutu Sakura.
"Hei! Itu kan cuma main-main! Kau janga mengatakan apapun ya pada Sai!"
"Kalau kau bilang begitu kenapa kau—"
Ino segera memotong kata-kata Sakura dengan mendorong punggungnya sedikit keras untuk segera mendekati Sai dan Gaara yang sudah tiba di tempat janjian. Tanpa basa basi, Ino segera merangkul lengan Sai dan memeluknya dengan mesra. Sekarang suasana canggung muncul pada Sakura. Mereka saling berbasa basi sejenak dan kemudian memutuskan untuk segera masuk ke sana untuk mencoba beberapa permainan di dalam taman bermain itu. Ino dan Sai berjalan di depan mereka sambil bergandengan tangan kemudian Sakura dan Gaara berjalan bersebelahan di belakang mereka.
Semoga hari ini cepat berlalu…
.
.
*KIN*
.
.
"Aku jadi penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Sakura-chan di taman bermain itu…" gumam Suigetsu.
"Kalau begitu kau susul saja ke sana," balas Karin.
"Aku punya firasat tidak enak saat teman pirangnya itu mengajaknya pergi seperti ini," gerutu Suigetsu lagi.
Karin kemudian menyenggol lengan Suigetsu yang duduk tepat di sebelahnya.
Saat ini, lagi-lagi dengan sedikit pemaksaan, Suigetsu, Karin juga Juugo berkunjung ke rumah Sasuke lagi. Meskipun Sasuke jelas menolak kedatangan tamu mana pun, mereka tetap memaksa masuk. Dan berdebat dengan mereka juga tidak ada gunanya.
Sasuke dan Juugo saat ini tengah bermain video game sementara Karin membaca majalah olahraga dengan Suigetsu yang menatap kosong ke depan seraya bergumam yang aneh-aneh. Walaupun sejak tadi Suigetsu membicarakan soal Sakura, tapi tidak ada reaksi berarti di sini.
Niat menjahili pun mulai bereaksi di kepala Suigetsu.
"Kalau begitu biar aku yang tanyakan," ujar Suigetsu seraya mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
Setelah mencari nomor yang ditujunya, Suigetsu lalu menekan fungsi loudspeaker di ponselnya agar pembicaraannya terdengar ke semua orang yang di ruangan ini.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Karin bingung.
Tak lama kemudian, suara Sakura terdengar di sana. Dia mengangkatnya.
"Halo, Sakura-chan?"
"H-halo? Siapa ini?" tanya suara Sakura di seberang sana.
"Ah, maafkan aku. Kau pasti tidak menyimpan nomor ku ya? Ini aku, Suigetsu," jelas Suigetsu akhirnya. Dia juga mendapatkan nomor ini dari ponsel Sasuke. Suigetsu memutuskan untuk menyimpannya karena khawatir jika terjadi hal-hal menyulitkan lagi.
"Oh, ada apa kau menelponku?" tanya Sakura dengan nada suara yang terdengar bingung.
"Kau dimana sekarang? Dengan siapa saja kau di sana?"
"Aku? Uhm… aku di—"
Tiba-tiba terdengar suara aneh dari ponsel Sakura. Suigetsu sedikit cemas karena Sakura tidak menjawab panggilan Suigetsu.
"Halo? Sakura-chan? Halo—"
"Hei, Sakura saat ini sedang berkencan dengan laki-laki baik tahu! Jadi jangan ganggu dia, mengerti!"
Setelah mengatakan hal itu, panggilan pun terputus. Suigetsu melongo bingung melihat layar ponselnya yang sudah mati itu.
"Tadi itu… suara siapa?" tanya Karin bingung.
"Teman pirangnya itu benar-benar…" geram Suigetsu.
"Jadi… saat ini… Sakura…?" kata-kata Karin terdengar putus karena bingung.
"Jadi dia tidak bisa pergi dengan kita karena janji kencan? Hei, kau benar-benar tidak mengatakan apapun pada Sakura-chan, Sasuke?" tanya Suigetsu akhirnya.
"Dia bukan urusanku!" balas Sasuke dingin seraya menyudahi permainannya dengan Juugo.
Sasuke kemudian memilih naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
Suigetsu jadi semakin… curiga di sini…
.
.
*KIN*
.
.
"Hei, Sakura saat ini sedang berkencan dengan laki-laki baik tahu! Jadi jangan ganggu dia, mengerti!"
Setelah merebut ponsel Sakura dari tangannya, Ino kemudian berkata begitu dan mematikan ponsel Sakura dan menyerahkannya kembali pada Sakura.
"Ino, kenapa kau bilang begitu?" tanya Sakura sedikit kesal.
"Kenapa? Ada yang salah? Kau memang sedang berkencan hari ini. Jadi jangan ganggu acara kita dengan telepon tidak penting begitu."
"Mungkin saja Suigetsu menelpon—"
"Itu kan mungkin saja! Ayo kita nikmati hari ini dengan damai, ok?"
Mereka sempat bermain beberapa wahana yang menyenangkan tadi. Jadi sekarang mereka ingin istirahat sebentar sebelum melanjutkan tempat menarik lainnya. Saat ini Sai dan Gaara tengah memesan makan siang mereka. Jadi Ino dan Sakura menunggu di meja kafe. Sakura kemudian melirik ponselnya lagi.
Kenapa Suigetsu menelponnya begitu? Apakah cuma iseng saja?
Apa ada hubungannya dengan Sasuke?
Kalau iya ada apa dengan Sasuke? Apa si bodoh itu membuat masalah lagi?
Sepanjang makan siang mereka itu, pikiran Sakura jadi tidak fokus karena telepon Suigetsu tadi. Walaupun sepertinya terdengar iseng, tapi Suigetsu tidak pernah menelpon Sakura selama ini. Jadi kalau sampai Suigetsu menelpon… bukankah itu…
Ino menyenggol Sakura yang duduk di sampingnya karena sekarang mereka sedang membicarakan dirinya. Merasa tak enak, Sakura kemudian berusaha mengikuti pembicaraan mereka dengan seksama lagi walaupun saat ini pikirannya banyak bercabang. Akhirnya setelah makan siang itu, mereka semua memutuskan untuk naik ke bianglala.
Seperti yang telah direncanakan, Ino dan Sai naik lebih dulu dan masuk berdua saja. Sakura tahu ini pasti rencana Ino untuk membuatnya berduaan dengan Gaara.
Tak punya pilihan, akhirnya mereka berdua masuk ke dalam sendirian.
Ternyata sudah lama Sakura tidak naik bianglala ini.
"Wuah, ternyata tinggi sekali di sekitar sini," kata Sakura yang berubah kagum luar biasa melihat pemandangan dari atas sini. Semuanya terlihat mengecil.
"Apa ini pertama kalinya kau naik bianglala?" tanya Gaara kemudian.
"Tidak juga. Tapi aku memang sudah lama tidak naik ini."
Mereka kembali diam beberapa saat. Sakura masih menyaksikan pemandangan itu dari kaca jendelanya. Walaupun wajahnya tersenyum, tapi pikirannya masih ada di satu tempat. Sepertinya ini benar-benar tidak baik.
"Haruno-san, bagaimana pendapatmu tentang aku?"
"Eh? Ano…"
Mendadak Sakura diliputi kekagetan yang luar biasa. Tidak menyangka jika Gaara langsung menanyakan hal seperti itu padanya.
"Kalau aku boleh jujur, aku benar-benar tertarik padamu. Bagaimana denganmu? Apa kau juga tertarik padaku?"
"Oh… itu… kenapa pertanyaan ini jadi… mendadak begini ya? Ahahah, sejujurnya, aku senang denganmu. Kau laki-laki yang baik dan sangat sopan. Mudah bagi orang lain untuk segera menyukaimu. Apalagi… wajahmu… cukup tampan," jelas Sakura dengan suaranya yang memelan dengan sendirinya.
"Kalau begitu apa aku boleh menarik kesimpulan kalau kau… tertarik padaku?"
Sakura mengangkat kepalanya dan menatap Gaara dengan sungguh-sungguh.
"Maafkan aku."
Ekspresi Gaara yang tadinya selalu tersenyum menanggapi semua kata-kata Sakura kini berubah bingung.
"Kenapa… kau meminta maaf?"
"Sejujurnya saat ini… aku tengah memikirkan seseorang. Aku sudah berusaha untuk terus ada di sini, tapi pikiranku tidak ada di sini. Makanya… aku benar-benar minta maaf," ujar Sakura akhirnya.
"Apa kau sedang tertarik dengan seseorang?" tanya Gaara akhirnya.
Sakura sempat diam beberapa saat. Tapi kemudian dirinya memantapkan hatinya.
"Ya, aku memang sedang menyukai seseorang. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku, dan aku tidak tahu apakah dia punya perasaan yang sama denganku. Tapi dia… adalah seseorang yang tidak bisa aku tinggalkan apapun yang terjadi. Maafkan aku, seharusnya aku memberitahumu lebih cepat. Aku benar-benar tidak enak harus mengatakan hal seperti ini pada laki-laki sebaik dirimu."
Mendengar celotehan panjang Sakura, Gaara tertawa lebar menanggapinya. Dan jelas saja membuat Sakura kembali bingung bukan main.
"Astaga, kau tidak perlu meminta maaf untuk mengatakan hal itu. Aku mengerti. Lagipula aku juga tidak bisa memaksakan pendapatku kan? Kau gadis yang baik karena sudah berani mengatakan semua perasaanmu padaku secara jelas. Terima kasih sudah bersedia menemani jalan-jalan ku hari ini. Aku benar-benar tidak akan melupakan hari ini."
Sakura kemudian berulang kali kembali meminta maaf pada Gaara soal sikapnya hari ini. Tapi Sakura juga tak punya pilihan. Ternyata apapun yang dia lakukan, Sakura tidak pernah bisa melepaskan pikirannya soal Sasuke.
Karena itu, ketika bianglala mereka akhirnya turun, Sakura keluar dengan buru-buru. Ternyata bianglala Ino sudah turun lebih dulu dan terkejut melihat Sakura langsung kabur begitu saja. Sakura terus berlari dan menghiraukan pekikan Ino yang berulang kali memanggilnya seperti itu.
Sakura berlari secepat mungkin sampai dirinya berulang kali menabrak orang yang tidak sengaja berlalu lalang di dekatnya. Sakura tak tahu berapa jarak yang dia tempuh untuk berlari secepat ini. Kakinya tidak dibiarkan istirahat sedikit pun. Akhirnya Sakura tiba juga di stasiun. Sakura berhenti sejenak untuk melihat jadwal keberangkat kereta selanjutnya. Sakura tak peduli apapun lagi. Hari ini dia harus mengatakannya!
Setelah memastikan keberangkat kereta berikutnya, Sakura mendapatkan tiket dan kemudian berdiri di depan pintu masuk kereta.
Sakura terus menunggu di sana dengan tenang sambil menggenggam erat-erat tali tas tangannya. Dia tidak akan membiarkan Sasuke kabur kali ini. Sasuke harus mendengarkannya. Sakura sudah memutuskannya.
Kereta tujuannya akhirnya tiba. Sakura sudah siap untuk masuk ke sana. Namun Sakura harus menunggu penumpang kereta keluar lebih dulu. Ketika penumpang kereta satu per satu turun, Sakura mulai melangkahkan kakinya.
Namun, belum sempat melakukannya, seseorang berdiri di depannya. Tepat di depannya.
Sakura mendadak mundur beberapa langkah, karena sosok di depannya itu keluar dari kereta itu dan melangkah tepat ke arah Sakura.
"K-kenapa kau… di sini?" tanya Sakura bingung.
Tentu bingung.
"Apa kencanmu sudah selesai?" tanyanya dengan nada dingin lagi.
"Kencan? Tunggu, kau… dengar darimana itu?"
Sasuke hanya diam sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Kedatangan Sasuke kemari pun adalah kejutan untuk Sakura sendiri. Namun melihat sikapnya seperti ini tentu saja membuat Sakura bingung bukan main.
Mereka terdiam untuk waktu yang cukup lama. Bahkan pintu kereta pun sudah tertutup rapat. Dan sekarang, kereta itu sudah melaju pergi meninggalkan stasiun. Sakura tak tahu harus mengatakan apa karena Sasuke datang kemari.
"Apa kau… datang kemari untuk… bertemu denganku?" tanya Sakura gugup bukan main.
Sasuke sekali lagi tak menjawab. Dia terus memalingkan wajahnya dari Sakura.
"Nee, apa kau… marah padaku? Kau berubah begitu dingin padaku? Apa aku… melakukan kesalahan?" tanya Sakura lagi.
Kali ini Sasuke meninggalkan Sakura begitu saja. Sakura tak mengerti apa maunya laki-laki ini. Akhirnya Sakura menyusul Sasuke dan berhenti tepat di depan laki-laki berambut gelap ini.
"Hei! Apa sekarang kau menghindariku?!" amuk Sakura akhirnya.
Sasuke tetap diam dan tidak memandang Sakura sedikit pun. Ini sangat aneh. Benar-benar aneh.
"Kalau kau tidak mengatakan kesalahanku, aku tidak tahu apa yang membuatmu marah padaku. Tidak semua orang mengerti apa yang kau inginkan jika kau tidak mengatakannya tahu! Aku bahkan tidak tahu apa maumu sebenarnya. Kau selalu membuatku bingung seperti ini kemudian meninggalkanku… apa kau tidak tahu yang kau lakukan itu sungguh jahat?!"
Sakura menarik napasnya dalam-dalam. Peluh sudah membasahi dahinya, kemudian turun ke pelipisnya. Bahkan beberapa ada yang menyangkut di kelopak matanya.
Karena Sasuke masih tidak memiliki reaksi apapun, akhirnya Sakura dengan nekat merentangkan kedua tangannya lalu menabrak dirinya sendiri ke arah Sasuke dengan lumayan kuat. Sasuke sendiri terbelalak kaget, tidak menyangka bahwa dirinya akan ditabrak begitu kuat oleh Sakura hingga membuatnya nyaris mundur ke belakang.
Sakura kemudian menggenggam lengannya sendiri dengan erat di belakang punggung Sasuke. Seperti tengah membelitnya agar tidak lepas kemana pun.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" suara Sasuke tadinya akan terdengar marah, tapi kemudian malah berubah canggung karena dirinya dibelit begini kuat oleh gadis berambut pink ini dengan lengannya.
"Aku tidak akan melepaskannya sebelum kau mengatakan apa salahku padamu!"
"Lepaskan sekarang," kali ini Sasuke memperingatkan Sakura dengan nada ancaman.
"Itu tidak akan berpengaruh padaku!" balas Sakura sengit.
"Lepaskan sebelum kau menyesal," sekali lagi suara Sasuke masih memperingatkan Sakura.
Sakura akhirnya menggeleng kencang dan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Sasuke.
"Kau kan sudah tahu aku keras kepala, aku tidak akan mendengarkanmu sekarang!"
Sesaat kemudian, suasana berubah hening. Mereka memang masih ada di stasiun dekat dengan jalur kedatangan kereta. Sakura juga sempat mendengar Sasuke menarik napas panjang. Dia pasti akan menyerah kan? Tentu saja, kapan Sasuke bisa menang berdebat dengan Sakura kecuali dia memilih melarikan diri dan menghindari Sakura?
"Ini benar-benar salahmu tahu," bisik Sasuke.
Ketika Sakura hendak mendongak untuk menanyakan apa maksud kata-kata Sasuke itu, tiba-tiba kedua tangan Sasuke merangkum wajah Sakura dengan cepat kemudian menariknya mendekat ke wajahnya sendiri. Baru Sakura akan bereaksi, jantungnya berubah membeku. Matanya terbelalak lebar kali ini.
Sakura baru akan melepaskan kedua tangannya dari pinggang Sasuke, tapi laki-laki itu kemudian menambah kekuatan tangannya untuk merangkum—atau malah mencengkeram wajah Sakura agar tidak bergerak dari tempatnya sekarang. Sakura tidak bisa melepaskan wajahnya dari tangan Sasuke. Bahkan ketika bibir mereka bertemu dan saling menempel dengan erat pun, Sakura tak bisa menghindarinya. Wajah Sakura seketika berubah panas. Sakura yakin saat ini pasti pembuluh darah wajahnya sudah membengkak karena semua darah mengalir tepat ke satu titik saat ini. Sasuke terlihat tak begitu peduli dan tetap menempelkan bibir lembutnya pada Sakura. Sasuke tidak melakukan gerakan apapun. Dia hanya diam di sana.
Akhirnya Sakura yang tidak memiliki persiapan akan hal ini, tentu saja tidak bisa menahan diri. Oksigen sudah menipis di dalam paru-parunya, hidungnya tak bisa menghirup udara sebanyak yang dia inginkan. Mulutnya terkunci rapat tak bisa dia buka. Tidak ada jalan untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya untuk bernapas.
Sakura kemudian mendorong-dorong dada Sasuke di dekatnya, berusaha memberitahunya untuk melepaskannya sekarang.
Orang ini memang selalu berbuat nekat!
Sasuke akhirnya menyudahi tindakan bodohnya itu, walaupun masih tidak melepaskan tangannya dari wajah Sakura.
"Hei! Apa kau sudah gila hah?!" amuk Sakura.
Walaupun begitu, wajah mereka masih begitu dekat. Sangat dekat bahkan Sakura bisa merasakan napas Sasuke berhembus ke arahnya.
"Kesalahan pertama, kau menghilang begitu saja beberapa hari ini tanpa menghubungiku."
"Haa? Itu salahku? Yang benar saja! Aku kan—"
Cup!
Sasuke kembali mengecup bibir Sakura sekali lagi, tapi kali ini begitu singkat. Hanya untuk menutup mulut Sakura yang berubah kembali cerewet.
"Kesalahan kedua, kau pergi kencan tanpa izinku."
Sakura kemudian tiba-tiba berubah menjadi patung. Tangannya terkulai lemah di sisi tubuhnya. Sasuke juga melepaskan tangannya dari wajah Sakura.
Sakura menundukkan kepalanya, mencoba menelaah maksud dari semua kata-kata Sasuke barusan. Sakura akui memang setelah terakhir bertemu dengan Sasuke pada pertandingan regional kemarin itu, Sakura tak lagi menemui Sasuke. Sakura pikir saat itu Sasuke harus lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya dan memulihkan keadaannya. Lagipula, Sakura juga berpikir, untuk apa dia terus menemui Sasuke tanpa alasan begitu. Sakura juga tidak bisa membantu banyak di sana. Makanya Sakura pikir… lebih baik Sasuke bersama dengan orang-orang yang bisa membantunya.
Tapi yang kedua tadi…
"Apa kau benar-benar terganggu dengan hubungan kita seperti ini?" tanya Sasuke akhirnya.
Reflek, Sakura mengangkat kepalanya dengan tampang bingung.
"Haa? Apa… maksudmu?"
"Ketika kukatakan aku tidak berani untuk memulai hubungan apapun dengan orang lain dan memaksamu untuk tetap berada di sisiku tanpa penjelasan apapun, apa kau terganggu dan menganggap aku hanya main-main denganmu?"
"Tidak! Aku… aku sama sekali tidak berpikir begitu…"
"Aku mengerti kenapa kau tidak menghubungiku kemarin. Kau pasti berpikir aku lebih baik bersama teman-temanku karena kondisiku ini. Lalu kenapa kau pergi kencan dengan orang lain bahkan tanpa memberitahuku?"
"Tunggu dulu, itu sama sekali bukan kencan! Ino… mengenalkan teman Sai padaku. Kami hanya… hhh, baiklah. Kuakui itu memang kencan, tapi aku tidak punya alasan untuk menolaknya. Aku tidak punya hubungan dengan siapapun saat ini. Bagaimana aku menolaknya?"
"Kau punya."
Sakura terkejut mendengarnya. Apa itu…?
"Aku… punya?"
"Kau punya hubungan denganku. Apa itu sudah cukup?"
"Hei, hubungan macam apa denganmu itu? Hubungan itu punya banyak makna tahu. Ada hubungan yang hanya sekedar kenalan, hubungan pertemanan, atau malah hubungan musuh. Kita ini apa?"
"Aku tidak tahu kalau menjelaskan hubungan seperti ini begitu rumit…" gumam Sasuke dengan wajah merengut karena kebingungan.
Sakura tersenyum lebar, nyaris tertawa sebenarnya. Wajah Sasuke yang terlihat bingung itu benar-benar menggemaskan dan sangat lucu. Ternyata orang tampan memang punya ekspresi yang jauh lebih menarik. Wajar saja kalau laki-laki tampan macam Sasuke ini punya begitu banyak penggemar. Apapun ekspresinya, Sasuke tetap terlihat tampan. Dan Sakura menyukainya.
"… orang yang… spesial? Apa itu… termasuk?" gumam Sasuke lagi.
Kali ini Sakura benar-benar tertawa.
Sasuke kemudian berubah jengkel karena menganggap Sakura tengah mengejeknya saat ini. Tapi kemudian Sakura kembali memeluk punggung Sasuke dengan erat.
"Apa saja… terserah denganmu. Kau juga orang yang sangat spesial buatku!" tegas Sakura.
Ya, tidak perlu dijelaskan memang.
Semuanya sudah terlalu jelas.
Sakura sudah yakin bahwa perasaan mereka terhubung. Bahwa perasaan mereka saling berbalas. Untuk apa lagi sebuah penjelasan?
Mereka yang menjalaninya dan mereka pula yang melaluinya. Tidak perlu mendengarkan orang lain. Tidak perlu pengakuan orang lain.
Sasuke kemudian ikut membalas pelukan Sakura.
"Sekarang tepati janjimu."
"Janji? Janji apa?"
"Menemui Kakakku. Kau bilang akan menemaniku ke sana."
Sakura diam untuk beberapa saat.
Ah iya…
"Baiklah, ayo kita ke sana…"
.
.
*KIN*
.
.
Sakura sungguh penasaran bagaimana membuat Uchiha Sasuke satu itu berwajah merah. Sepertinya apapun yang dilakukannya sama sekali tidak membuat wajahnya merah sedikit pun. Mood-nya yang selalu berubah seperti roller coaster itu juga sungguh… membingungkan.
Setiap kali Sasuke berbuat apapun, dia selalu bisa bersikap tenang. Pengendalian emosinya begitu baik, namun sedikit mengerikan.
Karena Sakura tidak tahu, kapan mood Sasuke bisa berubah baik dan menyenangkan.
Malamnya, Sakura sengaja menghubungi Sasuke lagi dengan pesan. Dia bertanya jam berapa mereka akan pergi ke sana. Karena katanya kakaknya ada di Kyoto, jadi perjalanan yang ditempuh dari Tokyo… sekitar dua jam lebih dengan kereta shinkansen. Tanpa diduga, Sasuke terus membalas semua pesan-pesan yang sengaja Sakura kirimkan itu. Mereka terlibat obrolan menarik. Kadang membicarakan mengenai Suigetsu, Karin dan Juugo. Sakura juga sempat menanyakan bagaimana Sasuke bisa ada di stasiun tadi itu.
Sasuke tidak menjawabnya dan mengatakan kalau dia salah naik kereta. Dia masih saja tidak mau jujur dengan perasaannya sendiri. Tapi setidaknya sekarang dia mengakui kalau Sakura adalah orang yang spesial untuknya. Karena kemudian kata-kata itu membuat Sakura tidak bisa tidur semalaman ini.
Membuat dirinya begitu bahagia karena kata-kata sederhana itu.
Pagi harinya, Sakura sudah menunggu di stasiun kereta api. Namun ternyata begitu sampai di sana, ternyata Sasuke sudah lebih dulu datang dan menyerahkan satu tiket kereta shinkansen untuk Sakura. Ternyata dia sudah lebih dulu ada di sini dibanding Sakura, padahal Sakura yakin dia sudah berangkat sangat pagi hari ini.
Sebenarnya Sakura sendiri belum pernah ke Kyoto. Jadi ini perjalanan pertamanya ke Kyoto bersama dengan seseorang. Rasanya benar-benar mendebarkan memang. Sakura berulang kali menanyakan bagaimana keadaan di Kyoto itu. Walaupun sebenarnya Sakura pernah membaca beberapa artikel yang mengulas mengenai kota sejarah di Jepang itu, tapi Sakura ingin tahu lebih banyak lagi.
Namun ternyata, Sasuke juga tidak begitu akrab dengan Kyoto. Maksudnya, Sasuke juga hanya beberapa kali datang ke Kyoto dalam hidupnya selama ini. Pertama kali ketika dia berumur lima tahun, kemudian ketika ibunya meninggal dan terakhir saat pemakaman Uchiha Itachi.
Sakura tak menyangka jika ternyata kenangan tentang Kyoto untuk Sasuke cukup… menyedihkan. Wajar saja kalau Sasuke terlihat begitu berat untuk datang ke sana.
Sakura juga tak menyangka Sasuke akan menceritakannya di saat seperti ini pada Sakura. Dia… sudah sedikit lebih terbuka dengan Sakura.
"Kalau begitu perjalanan kali ini pasti akan menyenangkan," ujar Sakura setelah Sasuke menyudahi ceritanya.
"Kenapa begitu?"
"Karena kau pergi bersamaku. Jujur saja liburan musim panas kali ini sangat menyenangkan. Aku bisa pergi ke Kyoto bersama… seseorang yang spesial," kata Sakura bersemangat.
Sasuke kemudian tersenyum tipis.
"Itu yang dikatakan oleh semua anak perempuan jika mereka pergi dengan orang yang disukainya kan?" tebak Sasuke.
"Hei, tapi ini tidak sama seperti anak perempuan lain…"
"Sudahlah, kau duduk diam saja. Perjalanan kita masih panjang, aku mau tidur dulu."
"Hei, kenapa kau tidur? Kita bisa melihat gunung Fuji dari kereta ini. Jarang-jarang aku bisa melihat gunung Fuji. Hei…" rengek Sakura sambil menarik-narik lengan bahu Sasuke. Tapi orang itu kemudian melipat kedua tangannya di depan dadanya dan langsung memejamkan matanya. Sama sekali tidak mempedulikan rengekan Sakura yang terus memintanya untuk tetap bangun dan melihat-lihat pemandangan dari kereta ekspres super cepat ini.
Masa Sakura harus antusias sendirian seperti ini? Kenapa jadinya tidak lucu sama sekali?
.
.
*KIN*
.
.
Setibanya di pemberhentian stasiun Kyoto, akhirnya kereta ini pun berhenti dengan sempurna. Yaa, pada akhirnya Sakura hanya melihat jendela dari sisi tempat duduknya selama dua jam lebih itu. Sasuke begitu pulas tertidur dan tidak bergerak sedikit pun. Bahkan Sakura mengira dia pingsan atau malah mendadak koma.
Tapi kemudian, Sakura menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh Sasuke hanyalah untuk menutupi kegugupan hatinya. Tentu saja… mendatangi tempat dengan kenangan yang tidak menyenangkan seperti ini butuh keberanian besar. Dan Sakura tak menyangka Sasuke akhirnya memiliki keberanian untuk datang kemari setelah semua yang dia lalui.
Karena mereka akan berkunjung untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sakura mengusulkan agar Sasuke membawa buket bunga untuk kakak dan ibunya itu. Awalnya Sasuke tidak mau, tapi karena Sakura yang memaksanya, Sasuke tidak punya pilihan.
Masing-masing dari mereka membawa satu buah buket bunga lili putih. Dan sekarang mereka sudah tiba di halaman depan areal pemakaman ini. Sasuke sempat berhenti sejenak sebelum masuk ke sana. Dan Sakura menyadari itu.
"Bisa tunggu sebentar, sepertinya sepatuku kemasukan kerikil," keluh Sakura.
"Bagaimana bisa sepatumu kemasukkan kerikil?" tanya Sasuke bingung.
Seingatnya mereka tidak melewati jalanan bebatuan atau berpasir. Semua jalanan di sini sudah diaspal dengan mulus.
"Tunggu saja sebentar," pinta Sakura kemudian.
Sakura membuka sebelah satunya dan mengguncang-guncang sepatu miliknya itu agar sesuatu yang menyangkut di dalamnya keluar. Selagi asyik mengguncang sepatunya, ternyata diam-diam Sakura memandangi Sasuke yang masih berdiri di sampingnya. Tatapannya berubah menjadi begitu sedih.
"Kenapa aku begitu lama memutuskan untuk datang ke sini?"
Suara Sasuke terdengar begitu kecil, sangat kecil bahkan Sakura mengira Sasuke tengah bicara dengan dirinya sendiri. Tentu, ada banyak hal yang tak terduga. Banyak hal yang membuat Sasuke membuat keputusan berat yang sebenarnya salah. Tapi untungnya Sasuke tidak larut begitu lama dengan masa lalunya sendiri. Dia akhirnya bisa bangkit dan meneruskan hidupnya.
"Sudah lebih baik?" ujar Sakura seraya menyentuh telapak tangan Sasuke yang tidak menggenggam buket bunganya.
"Sepatumu—"
"Ayo kita temui ibu dan kakakmu."
Sakura kemudian menyelipkan tangannya dengan tangan Sasuke. Menggenggamnya ringan untuk mengikutinya. Sasuke tidak membantah sedikit pun. Dia terus berjalan mengikuti langkah Sakura.
Pemakaman di sini begitu tenang dan sunyi. Pemandangannya juga indah. Karena terletak di atas bukit, Sakura bisa melihat pemandangan di sekitar kaki bukit yang penuh dengan rumah-rumah penduduk.
Sakura meminta Sasuke menunjukkan dimana tempat ibu dan kakaknya.
Setelah berjalan sedikit, akhirnya Sasuke menemukan dimana persemayaman terakhir dari orang-orang yang sangat dicintainya itu. Ada sebuah nisan keluarga di sana dengan nama Uchiha. Lalu nisan lainnya dengan dua nama dalam satu nisan. Sakura membaca nama di nisan itu. Uchiha Mikoto dan Uchiha Itachi.
Tapi kenapa nisan ini terlihat lumayan bersih? Tidak ada gulma tanaman yang merambah atau malah debu dan pasir yang berserakan. Makamnya cukup terawat. Padahal Sasuke mengatakan dia sudah lama tidak datang kemari.
Sakura pun mengajak Sasuke untuk meletakkan bunga yang mereka bawa. Sakura berlutut di depan nisan itu dan memejamkan matanya seraya menutup kedua telapak tangannya dengan khusyuk. Ya, Sakura berdoa untuk ibu dan kakak Sasuke saat ini.
Dan beberapa saat, Sakura selesai berdoa, Sasuke masih berdiri di sana dengan canggung. Dia menatap nisan itu, tapi wajahnya terlihat begitu sedih dan pilu.
"Ayo sapa ibu dan kakakmu, kenapa kau diam saja?" kata Sakura seraya menyenggol lengan Sasuke.
"Oh, iya," gumam Sasuke.
Sepertinya dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Ya, sosok seperti seorang Uchiha Sasuke yang terus menyembunyikan perasaan dan emosinya. Dia pasti tidak bisa mengatakannya dengan jujur.
Sasuke kemudian mengambil sesuatu dari saku jaketnya.
Medali emas yang didapatkannya di turnamen musim panas lalu.
Medali itu kemudian dikalungkannya di nisan yang dekat dengan ukiran nama sang kakak.
Walaupun sudah meletakkan benda yang dijanjikannya dulu pada Sakura, Sasuke masih tidak bisa mengatakan apapun.
"Halo apa kabar, aku Haruno Sakura, teman dari Uchiha Sasuke-kun. Senang bertemu dengan kalian. Ini kunjungan pertamaku, maaf kalau aku tidak membawa apapun untuk kalian sekarang. Tapi aku pasti akan datang lagi kemari," buka Sakura akhirnya sambil menundukkan punggungnya dengan formal.
Sasuke sempat menoleh ke arah Sakura ketika dia melakukan itu, tapi dia tetap diam.
"Oba-san dan Onii-san jangan khawatirkan apapun soal Sasuke-kun lagi mulai dari sekarang. Aku janji akan mengawasinya untuk tidak lagi berbuat ceroboh dan bodoh lagi sebagai ganti kalian. Karena itu, tolong jaga Sasuke-kun dari atas sana ya. Dia benar-benar mencintai kalian berdua. Aku akan melakukan banyak hal untuk membuat Sasuke-kun tersenyum dan menikmati hidupnya," celoteh Sakura.
"Hei, kenapa kau bicara pada kakak dan ibuku seolah-olah aku baru saja memutuskan untuk bunuh diri? Aku tidak seputus asa itu," gerutu Sasuke.
"Kau memang seputus asa itu. Kalau kau tidak bertemu denganku, aku yakin kau pasti sudah memutuskan untuk bunuh diri kan?"
"Apa? Kenapa sekarang kau menganggap dirimu begitu?"
"Memang begitu kan? Akui saja, kau sebenarnya tergila-gila padaku dan tidak mau kehilangan aku. Makanya kau cemburu karena aku kencan dengan orang lain tanpa memberitahumu."
"Apa kau memang semenyebalkan ini? Kau bahkan mengajakku berdebat di depan ibu dan kakakku."
"Yayaya, katakan pada mereka betapa menyebalkannya aku. Jelaskan pada mereka kalau aku ini cerewet, keras kepala dan menyebalkan. Hubungi aku kalau kau sudah selesai menceritakan segalanya."
"Kau mau kemana?"
"Kau perlu waktu pribadi kan? Biar bagaimana pun aku ini orang lain. Bicaralah dari hati ke hati dengan keluargamu. Aku akan menunggu di bawah. Jadi… jangan melarikan diri lagi ya… jangan menghindarinya lagi. Kau bisa lakukan itu kan?" pinta Sakura.
Sasuke terlihat sedikit ragu, tapi Sakura kemudian memeluknya sebentar dan mengusap punggung Sasuke dengan perlahan. Hanya sebentar karena kemudian Sakura melepaskannya dan meninggalkan Sasuke di sana sendirian.
Agak jauh, Sakura menoleh ke belakang dan melihat Sasuke masih diam di sana sambil memandangi nisan keluarganya.
Merasa sudah baik, Sakura kemudian memilih jalan untuk menuju kaki bukit. Karena baru pertama kali berkunjung kemari, Sakura agak bingung dengan jalannya. Seharusnya dia mengikuti jalan setapak saja, tapi kenapa tidak sampai-sampai ke bawah. Apa Sakura salah jalan?
Tidak lucu kalau dia kesasar di daerah pemakaman seperti ini?
Agak jauh berjalan, akhirnya Sakura menemukan jalan yang lain dan melihat seseorang yang berjalan di depannya. Apa orang itu penduduk sini?
Ah, masa bodoh mau penduduk sini atau bukan, Sakura harus segera mencari jalan keluar sebelum dirinya benar-benar tersesat di pemakaman seperti ini!
"Permisi! Aku mau tanya, dimana jalan menuju kaki bukitnya?" seru Sakura seraya berlari menghampiri pria dengan pakaian biasa itu. Dilihat dari punggung dan bahunya, sepertinya pria ini sudah cukup berumur. Dia mengenakan pakaian kimono khas laki-laki dengan ukuran yang pendek juga celana panjang biasa. Pria itu juga membawa tas sedang di bahunya. Beberapa peralatan perkebunan tampak keluar dari tas itu.
Setelah Sakura cukup dekat, pria paruh baya itu kemudian berbalik.
"Apa kau tersesat?"
"Iya, aku hampir salah jalan tadi dan—eh?"
Katakan kalau ini cuma kebetulan bodoh!
"Oh, bukankah kau… Haruno…-san kan?"
Dari semua penduduk di wilayah Kyoto ini, kenapa Sakura harus bertemu dengan orang yang sama sekali tidak terduga seperti ini?!
Segera saja Sakura menundukkan punggungnya 90 derajat dan tentunya dengan tambahan kegugupan jelasnya.
"H-halo, apa kabar…?"
Dasar bodoh, kenapa malah Sakura mengatakan hal itu?
"Oh ya, kabarku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Ah, kau bisa mengangkat kepalamu sekarang, Haruno-san."
Sakura meneguk air ludahnya dengan susah payah. Apa dia sekarang mengalami dehidrasi? Tenggorokannya terasa kering sekali sekarang.
"A-aku… baik-baik saja. Terima kasih," balas Sakura kemudian dengan canggung.
"Kejutan melihatmu di sini. Apa yang membawamu datang jauh-jauh kemari?"
"Oh itu… aku… datang kemari karena menemani seseorang," jelas Sakura.
"Menemani seseorang… ke pemakaman?" tanyanya bingung.
"I-iya. Temanku… ingin menemui kakak dan ibunya."
"Menemui kakak dan ibunya? Oh, mereka sudah meninggal. Lalu kenapa kau di sini? Kau hampir tersesat."
"Tadinya… aku ingin membiarkan temanku bicara secara pribadi dengan kakak dan ibunya, makanya aku meninggalkannya di sana beberapa saat. Aku berencana menunggunya di kaki bukit. Ternyata… aku tidak paham dengan jalanan di sini karena ini pertama kalinya aku berkunjung."
"Benar, kebanyakan orang yang pertama kali datang kemari sering tersesat. Kalau kau ingin turun ke kaki bukit, ikuti jalan ini saja. Tidak jauh lagi kau sudah menemukan rumah penduduk yang dekat dari sini."
"Terima kasih banyak. Ah ya, kalau aku boleh tahu, apa yang Anda… lakukan di sini?"
"Di sini? Di pemakaman maksudmu?"
"I-iya," jawab Sakura gugup.
Tentu saja bodoh! Kenapa orang ini muncul selalu di saat yang tidak tepat? Tidak tepat karena Sakura selalu tidak memiliki persiapan untuk berbicara langsung.
"Aku hampir setiap hari kemari untuk membersihkan makam isteri dan anakku. Ah ya, kau pasti sudah tahu kalau mereka sudah meninggal kan? Aku mengambil cuti dari pekerjaanku untuk menenangkan diri sebentar. Jadi aku memutuskan kemari untuk lebih dekat dengan isteri dan putra sulungku."
Sakura terhenyak kaget. Matanya mendadak panas dan berair.
"Aku ingin menebus kesalahanku karena dulu hampir tidak memiliki waktu luang yang sepadan untuk mereka. Aku membiarkan mereka pergi begitu saja, dan aku tidak sempat berjuang cukup banyak untuk mereka. Maaf jadi membicarakan hal menyedihkan seperti ini denganmu."
Uchiha Fugaku tampak sedikit tersenyum memang. Tapi wajahnya juga menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Oh ya aku lupa bilang nama temanku yang saat ini sedang menemui kakak dan ibunya. Mungkin… Anda akan bertemu dengannya di sana."
"Temanmu? Apa makam keluarganya dekat sini?"
"Iya, persis di dekat Anda. Namanya Uchiha Sasuke. Dia masih ada di sana sekarang."
Fugaku terbelalak kaget. Wajahnya terlihat begitu tegang mendengar nama anaknya sendiri. Mungkin dia tidak menyangka, atau sebenarnya menyangka hanya saja takut berharap terlalu banyak.
"Sasuke-kun… membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa mengunjungi ibu dan kakak yang sangat dicintainya. Makanya aku membiarkannya bicara lebih banyak pada mereka seorang diri. Aku ingin… Sasuke-kun lebih jujur pada perasaannya sekarang ini. Karena itu… mohon bantu Sasuke-kun untuk jujur pada perasaannya sendiri mulai dari sekarang."
"Anak itu… pasti akan menolakku."
"Karena itu, Anda harus mulai lebih dulu. Anda harus mulai lebih jujur dan mengatakan apa adanya pada Sasuke-kun lebih dulu. Salah seorang dari kalian harus mengalah. Bukankah tidak ada salahnya mengalah untuk sebuah kebaikan? Aku pernah mengatakan ini sebelumnya, bahwa Sasuke-kun adalah anak yang baik. Dia hanya butuh waktu, tapi bukan berarti sepenuhnya menolak Anda. Kalian berdua hanya memiliki satu sama lainnya. Jadi… oh, maafkan aku atas sikap kasarku. Tidak seharusnya aku—"
"Tidak, kau benar. Sebenarnya aku pun sama dengannya. Kami… sama-sama membutuhkan waktu… sekali lagi terima kasih banyak sudah menemani putra-ku, Haruno-san."
Mereka berpamitan secara singkat. Fugaku kemudian meneruskan perjalanannya.
Jadi itu… sebabnya mengapa makam keluarga Sasuke begitu bersih dan terawat. Setelah menghilang kemarin, ternyata selama ini Fugaku ada di sini. Dekat dengan isteri dan putra sulungnya.
Kau pasti akan menyelesaikannya, kan… Sasuke?
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hola minna, seperti janji saya, chap depan ada solusi hubungan Fugaku sama Sasuke, juga hubungan Sasuke sama Sakura hehehe. Jadi sebenarnya chap depan itu bisa dibilang chap terakhir, cuman saya liat sitkon dulu deh. Kalo misalnya memungkinkan, saya bikin jadi dua chap terakhir lagi. Kalo gak, yaa mungkin satu chap aja cukup hehehe. Oh ya, chap depan juga mungkin bakalan ada kencan sungguhan SasuSaku tuh hehehe udah lama saya pengen bikinnya sih.
Sebenarnya munculnya Gaara di chap ini yaa bisa dibilang gak begitu penting sih, tapi saya pikir iseng sedikit gak masalah kali ya hehehe. Karena jujur aja, saya sedikit bingung scene kosong sebelum akhirnya Sasu minta ditemenin ke tempat kakaknya itu.
Ok saya bales review dulu…
DaunIlalangKuning : makasih udah review senpai… ahahah iya saya juga udah baca pm nya kok. Sebenarnya saya jarang sekali buka akun ffn saya kecuali buat update. Iya besok udah chap akhir, endingnya juga udah saya siapkan kok hehehe ditunggu yaa
Mimicucu : makasih udah review senpai… iya susah loh dapet temen yang mau nerima sitkon kita apapun itu. kadang kebanyakan lebih suka pas senengnya aja hikss jadi curhat deh heheh chap depan bakalan lebih banyak kok SS nya.
Younghee Lee : makasih udah review senpai… iya ini udah update
Q Lenka : makasih udah review senpai… iya saya juga lebih suka cerita yang lebih banyak proses sih, jadi dapet pelajaran kalau sesuatu itu gak selalu didapat dengan mudah, ada proses yang mendampingi hehehe
Mustika447 : makasih udah review senpai… iya ayah anak itu bakalan dibahas habis chap depan ditunggu ya heheh
Diah Cherry : makasih udah review senpai… ahahah emang agak rumit sih hubungan mereka, tapi sebenarnya Sasu itu cukup trauma punya hubungan dengan orang yang disayanginya makanya dia gak mau punya hubungan apapun dulu sebelum dia bisa siap hehehe
D3rin ; makasih udah review senpai… ditunggu chap depannya yang penasaran sama Fuga dan Sasu hehehe
CEKBIOAURORAN : makasih udah review senpai… iya banget, kalo cowok dingin tipe Sasu itu, sekalinya nurut pasti lucu banget hehehe
Hanazono yuri : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut
Sami haruchi 2 : makasih udah review senpai… ahahahah ini udah mau tamat, saya juga gak tahu harus ngisi cerita apalagi, sebenarnya fic ini harusnya jadi gak sampai 10 chap, tapi saya kebablasan bikinnya heheh
Mantika mochi : makasih udah review senpai… ahahah iya, jadi Saku itu kadang berat kadang enak juga. Nungguin Sasu selama nggak, untuk dikawinan punya anak pula, kalo gak ya ampun nasibnya heheh
Zarachan : makasih udah review senpai… iya emang sedih banget sosok Sasu itu. Udah kehilangan keluarga, dibenci pula tambah lagi jadi buronan, lengkap amat hidupnya hehehe
Ochi ochi : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut
Raizel's wife : makasih udah review senpai… ahahah gak papa kok, saya lebih suka sama pembaca yang ngeluarin unek-uneknya, jadi saya tahu gimana kesan pembaca setelah baca fic saya hehehe iya mereka emang kayak air mengalir gitu aja
Kagaaika Uchiha : makasih udah review senpai… iya ini emang bentar lagi end hehehe, mungkin terlambat baca heheh
Kirara967 : makasih udah review senpai… ahahah iya itu adegannya gak nyangka sih sebenarnya, iya mood orang yang kayak roller coaster itu beneran serem, kita gak tahu moodnya yang baik itu kapan aja heheh
Mitsuki Uchiha : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut makasih banyak yaa
Titiktitin : makasih udah review senpai… makasih banyak semangatnya, makasih juga udah suka fic saya hehehe
Lynn : makasih udah review senpai… ahaha ditunggu chap depan yaaa
Sqchn : makasih udah review senpai… ahahah aduh gimana ya, walau pake mata batin juga masih susah kayaknya ngebacanya hehehe
TheLimitedEdition : makasih udah review senpai… updatenya gak tergantung hari apa aja. Kalo udah saya selesai ketik, biasanya langsung saya update sih hehehe
Guest : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut
Laifa : makasih udah review senpai… ahaha mungkin fic saya agak susah ditemukan hehehe
Oke makasih yang udah ngeluangin waktunya buat fic saya
Jaa Nee!
