Chapter ini tentang Draco. Dia seperti di ch.8: OOC. Dia jadi lebih baik, hanya itu yang perlu diketahui. Tapi, yah, tugasnya si antagonis membuat dia jahat lagi.

Kita menyisikan sebentar masalah dua chapter lalu. Mungkin kamu akan dibuat berspekulasi di sini. Mungkin. Maaf karena penuh akan rubish, ini dan di bawah sana.

Ini panjang. Tapi please Enjoy it! :D

JK Rowling own Harry Potter's world. Me own nothing. It's just a leisure filler.

Chapter 14: Peduli

o-0-o

Draco berjalan sepanjang koridor masih dengan gayanya yang kuno. Alias seperti biasa, dengan tidak acuh, tidak peduli sana-sini, lurus ke tujuan tanpa cela mampir tidak jelas, sebagainya... Dan cuma kurang satu kebiasaan sejak tahun ajaran baru ini: tidak iseng atau jail dengan mengerjai atau mengejek adik kelas atau asrama lain. Itu menurutnya bagus.

Paling tidak dia berusaha punya niat untuk memperbaiki citra Slytherin setelah perang. Bagaimanapun asrama ini sudah seperti momok aib yang tidak perlu dimiliki sekolah sihir baik Hogwarts, yang bahkan ada dengan atau tanpa perang melawan Pangeran Kegelapan kemarin.

Maka khususnya untuk tahun ini, tahun terakhir dia mungkin menjadikan kastil Hogwarts sebagai semacam tempat tinggal, semacam rumah, sejak kejadian hampir dipenjaranya seorang dia, Draco sudah mau mengintrospeksi diri sebagai orang yang bebas bersyarat dari hukuman karena dia memang pantas. Salah satunya menjaga nama asrama Slytherin tidak mencolok ke penghasil penyihir hitam atau asrama yang jahat, menjadi setidaknya biasa saja. Atau mungkin dicap baik, walau dia hanya memungkinkan itu jika dia masih bersekolah sekarang. Karena ada dia yang mau, entah tahun-tahun selanjutnya saat dia sudah lulus. Paling kembali ke citra Slytherin biasanya.

Kini, langkah memulihkan citra asrama Slytherin makin jelas. Bukan lagi sebuah usaha gila yang butuh pandangan aneh, lirikan sinting dan bertanya dari teman asramanya yang bahkan melihatnya akur dengan anak Gryffindor. Dengan trio emasnya itu. Atau dia berusaha untuk itu.

Sebagian besar alasannya memang hanya menjaga nama baik itu, dia tidak mau berpikir kalau itu karena otaknya terputar karena efek Dementor selama seminggu di Azkaban atau apalagi soal mencintai gadis dari Gryffindor yang dia akan melakukan segalanya untuk dia. A'a, Tidak, salah sangat besar. Rela berkorban bukan tipenya.

Hanya mungkin pengecualian untuk keluarga. Pun sebenarnya dia melakukannya saat ini untuk keluarga, Draco tidak memilih mendendam atas 'kematian' Ayahnya. Dia lebih memilih menjadi pemulih nama baik keluarganya. Juga tidak mengacaukan kebaikan yang menurutnya ironi, soal keadaan Ibu satu-satunya yang bisa dia anggap keluarga, oleh anggota Auror. Anggota mantan musuhnya bisa dibilang.

Dia tidak hanya bersyukur ada yang menolong, membantu untuk memahami keadaan Ibunya, tapi juga telah sangat tulus berterima kasih pada penjamin bebas bersyarat Ibunya selama ini, yaitu si kapten Auror itu sendiri. Tidak ada yang lebih berarti lagi selain menjauhkan sejauh mungkin orang yang disayanginya dari kegilaan tempat seperti penjara Azkaban. Gambaran mereka sangat tidak berlebihan mengenai tempat itu ketika sudah jadi 'aku pernah singgah'

Untuk caranya. Oh, Draco sama sekali tidak tahu dengan pasti apa yang bisa menjadikan nama Slytherin seperti keinginannya ini. Tapi dia beranggapan menjadi dirinya yang tidak arogan seperti dulu merupakan langkah pertama yang bagus. Dia bisa melakukannya entah kenapa tanpa perlu canggung. Dia tidak memikirkannya meski sebenarnya aneh seperti ini.

Paling tidak ini menghasilkan. Dengan contoh Slytherin secara garis besar tidak dituduh menjadi orang jahat penyebab perang, kecuali oleh orang yang keras kepala. Dalam Quidditch dan keseharian, yang seandainya Draco mungkin tidak mengusahakan ini, akan dengan pelototan serta pandangan jijik seantero isi kastil. Ibaratnya duri dalam daging.

Atau mungkin juga karena kebenaran istilah olahraga adalah pemersatu kebersamaan. Dalam hal ini Quidditch-lah kuncinya.

Draco berusaha menjadi kapten yang bagus dan handal memenangkan pertandingan dengan harapan tidak dikucilkan. Berpikir tidak mungkin dikucilkan jika kau selalu menang adil dalam pertandingan antar asrama. Jadi usahanya dengan berlatih giat setiap saat, jika selain pemikiran strategi yang harus baru dan tidak diduga lawan. Sebagai kapten, dia juga harus mengambil bagian seperti pelatih.

Sudah kebiasaan, November ini adalah mungkin cuaca yang dia jalani pertandingan mendatang melawan Gryffindor. Rival mereka, karena yang lain sudah menjadi keantusiasan dalam meraih kemenangan. Maka sebanyak mungkin dia ingin timnya terbiasa.

Di luar akan hujan, seperti keinginannya meski permintaan izin lapangan tidak langsung bisa hari ini digunakannya. Paling cepat besok timnya akan gunakan jika saat ini pergi ke kantor madam Hotch, dan meminta izin pemakaian lapangan untuk latihan, sebelum keduluan tim asrama lain.

Kantor madam Hotch ada di lantai dua, atau mungkin sedang di ruang guru. Draco tidak tahu, tapi telah berniat meminta izin untuk hari minggu besok yang paling mungkin banyak waktu luang buat berlatih untuk setiap anggota tim. Tidak mungkin mereka tetap sibuk di hari minggu.

Dia masih berjalan, hanya memikirkan untuk menjaga langkahnya tidak terlalu cepat atau lambat. Dia hanya menghitung ayunan kakinya karena memikirkan waktu luangnya yang banyak, tidak asik terburu-buru. Tidak melantur membayangkan hal lain.

Jika tidak berpikir tindakan yang gila, dia mungkin sudah dengan keras menghitung langkahnya. Dia sangat bosan, selalu sangat bosan meski dengan semua kegiatan ini.

Membelok pada batas koridor yang menghadap danau dia menyisir rambutnya dengan jari dan secara mendadak berhenti jalan karena ada yang menahan langkahnya. Dua buah tangan kecil menahan pundak depan Draco, membuat rasa kaget tersendiri sementara dia berjalan tanpa konsentrasi penuh pada kedatangan hal baru.

"Apa yang..." gumam Draco masih mencerna situasi, tangan kanannya yang masih berada di rambut tidak turun memberinya sudut pandang bagus melihat wajah pemilik tangan di pundaknya ini, karena jalan turunnya tangan tertutup oleh dua tangan kecil itu sendiri.

Pemilik tangan itu berdeham dengan suara yang tidak asing di telinganya, dan baru menurunkan kedua tangan barusan. Hingga membuatnya berhasil mengetahui dengan sangat jelas wajah pemilik penghenti langkahnya ini.

"Oh, kamu..." gerutunya tidak jelas mendapati dirinya saling berhadapan sebatas lengan tangan dengan kapten tim Gryffindor.

"Dan kau." kata Ginny Weasley agak tersenyum ramah memandang utuh orang yang seharusnya rival dirinya. "Mau menuju madam Hotch, meminta izin lapangan buat latihan besok minggu?"

Draco mengangkat alis bertanya akan tebakan sangat tepat itu, kemudian tidak menambah isyarat iya dengan tidak mengangguk.

"Oh, aku benar-benar minta maaf." erang Ginny jelas menyesal. "Aku baru dari sana melakukan hal yang sama dengan hal yang mau kau kerjakan ke sana."

Draco merasa lebih tertarik dengan mengangkat alis, sebab dia melakukannya lagi. Dia tidak sedang bingung memikirkan jawaban, karena dia bisa saja langsung tidak peduli dengan informasi dari orang di hadapannya ini, tapi dia malah sedang memikirkan, anehnya, sikap yang mau ditunjukan buat orang ini. Gadis Weasley yang tidak pula luput dari kecongkakannya, dulu, dia rasa dulu dia begitu.

Sedetik, berbagai detik, Ginny menunduk melihat dari sudut lain kepala Draco. Dan dia cuma mengikuti Ginny dengan matanya. Merasa cuek, tidak peduli, Ginny berkata, "Halo..?"

Draco memandang membentak ke tangannya yang membuat gerakan baru tersentak, dan menggeleng membuang keanehan dirinya lewat kedua telinga.

Ginny yang melihatnya, mengira gelengan itu penyangkalan, polosnya ikut menggeleng, berkata ke kakak kelas beda asrama, asrama rival, menyambung gelengannya, "Bukan? Lalu mau ke mana?"

"Apa?" sahutnya sambil memandang balik. "Tidak, kau benar, aku punya niat meminjam lapangan untuk besok..." menambahkan, "Yang sayangnya didahului olehmu, benar?"

Ginny tersenyum tipis menyesal. Yang bahkan tidak lega Draco tidak membentaknya, seolah tahu bahwa Draco raja yang ramah. "Ada senin, dan ada hari-hari selanjutnya. Sore setelah pelajaran bisa dipakai kan?"

Dia tidak tahu seberapa polosnya Ginny. Tapi jawaban dari pertanyaannya terakhir, bahkan bisa untuk menghina intelek gadis itu. Jika bisa akhir pelajaran, dia mungkin akan sangat sering melakukan latihan.

Pertama, selain setengah timnya adalah anak tahun terakhir, tidak pernah tidak sibuk tiap hari bahkan terkadang akhir pekan. Stamina dan konsentrasi terkuras. Jika kapten ceroboh yang hanya ingin mencetak rekor banyaknya jumlah latihan sepanjang tahun, pasti akan memforsir timnya. Tapi dia tahu keadaan lelah itu membawa tingkat kecederaan lebih besar, nah, kapten bodoh mana yang bahkan mau?

Kedua, dia bukan peramal, tapi bahkan dia tentu tahu temperatur akan merosot jauh dalam suhu di waktu tersebut. Dan itu kurang bagus, dia hanya mengincar hujannya.

Namun dengan janggal kenapa dia sampai berpikir apa sikap yang mau ditunjukkan pada Ginny, sementara dia berdeham kecil lalu menjawab datar, "Yeah, akan bagus mungkin."

Ginny tersenyum tulus menyemangati tanpa penyesalan kali ini. Draco mengalihkan pandangan ke atas kepala merahnya, ke koridor dengan sejumlah pintu kelas tertutup, jendela besar yang telah terlapisi uap, hanya tidak mau menerima senyuman terus menerus. Seakan tidak baik untuk kesehatan.

"Jadi, kemana kau setelah ini?" kata Ginny lagi, membuang napas, berjalan melipat tangan dan menyandarkan diri pada dinding. "Apa tetap mau menemui madam Hotch untuk hari lain?"

Draco belum memikirkannya, tidak mengira rencana utama pertamanya hari ini digagalkan total, tidak total juga mengingat usul Ginny. "Entahlah..."

Dia tidak memandang Ginny, dan tidak akan jika tidak mendengar nada jawaban Ginny. Dia menoleh mendengar Ginny dengan semangatnya bilang, "Baguslah," sambil nyengir. Draco hanya menatapnya tak menanggapi semangatnya, berharap artinya 'kenapa'

"Mau jalan-jalan sebentar?" itu bukan pertanyaan, lebih mirip permintaan, atau permohonan, mungkin mengedipnya mata Ginny, yang tidak pernah dia pikirkan akan coklat, kesukaannya, artinya malah merayu.

"Tidak bermasalah?" katanya, dia hanya ingat Harry Potter adalah... yah... Dengan mudah dia membuang pikiran itu dari kepalanya.

"Kenapa harus?" Ginny mulai berjalan. Tahu artinya bukan penolakan.

Draco melangkah seketika langkahnya seirama dengan Ginny, di sebelahnya berjalan. Ginny mendongak dan tersenyum lagi, menunjuk koridor belakang dengan ibu jarinya, hanya isyarat. "Memang payah membiarkan murid yang memilih waktu latihan, jadi bisa bentrok. Kuyakin beda jika mereka yang menjadwalinya."

"Tidak usah dipikirkan lagi, kami akan baik-baik saja." tukasnya, menjadi yang pertama memutuskan pandangan lagi. Menggumam, "Masih banyak hari yang bisa diisi, hanya untuk minta izin lapangan."

Ginny mengangguk, dan menggaruk hidungnya, melanjutkan jalan dalam diam. Mereka berdua tidak ada yang tahu menuju kemana, namun tidak menyepakati tujuan mereka, hanya melangkah.

Draco tidak berharap Ginny memecah kesunyian di koridor cukup sunyi ini, tapi hanya ingat dan tahu harusnya ada yang dibicarakan rival Quidditch-nya ini. Toh dia yang mengajak jalan-jalan.

Ginny menghela napas tanpa terlihat. Nampak begitu ingin mengatakan sesuatu pada Draco. "Kau ingat," dia memandangnya lagi, simpati menohok dari sana. Draco tidak suka, tapi tidak sopan menolaknya terang-terangan. Tidak Sopan, dia tak tahu sejak kapan memikirkan kesopanan. "Kalian, maksudku para Slytherin, dulu sangat mudah mendapatkan jatah lapangan," dia mendengus tertawa, "Bahkan sampai menyela jadwal lapangan asrama lain, jadwal asrama kami, dengan suka hati bahkan sambil mengejek." Ginny menahan napas. "Tapi sekarang..."

Rasa kasihan itu nampak jelas, dia tahu jarang ada orang yang mengasihani mantan grup congkak, tapi tetap saja tidak nyaman. Dengan cepat mengulangi kata-katanya, geram, "Kami akan baik-baik saja!"

Menggunakan mata itu, Ginny sedih saat mengatakan, "Maaf."

Draco hanya tidak tahan, tak cukup hanya menggeleng mendengar ucapan maaf tadi agar segela hilang. "Jangan meminta maaf..." lidahnya kelu, dia mencari kata yang tepat. Berbisik, "Kami Slytherin adalah orang jahatnya, bukankah - bukankah ini pantas?"

Ginny menunduk. Diam. Jika menjawab 'Ya' mungkin malah menenangkan, jika tidak, hanya takkan mengurangi perasaan aneh ini. Draco menanyakan pertanyaan terpenting melihatnya tetap diam, "Kenapa kau malah peduli pada kami?"

Ginny bisu tetap memandang sepatunya mengayun.

Draco menegaskan, hanya sekedar membuat Ginny ingat kalau ia bukan orang baik. "Kakakmu tewas. Banyak yang mungkin menjadi sepertinya." tidak tahu ini benar atau tidak, dia jadi berbisik, "Kenapa kau tidak berpikir rasional saja? Seperti kakakmu Ron?"

Mungkin dugaannya dia sudah keterlaluan dan Ginny mungkin jadi marah, karena membawa-bawa dua kakaknya sekaligus di pembicaraan. Namun menurutnya marah lebih cukup bagus dari peduli. Dia tidak butuh dikasihani, hanya cukup diakui.

Rasa kasihan itu, jauh lebih tidak nyaman jika muncul dari Ginny. Ginny tak pernah berhutang budi padanya atau apapun. Tapi dia tidak menghindar, merasakan kepedulian tetap terpancar dari Ginny. Atau tidak bisa.

Ginny berhenti melangkah, Draco mengikutinya. Dia yang dengan lemah bertanya seperti erangan, "Kenapa?" menambahkan dengan tercekat, karena Ginny menengadah menatapnya dengan rongga mata yang telah tenggelam di cairan transparan. Dia menggeleng pelan, "Jangan membebani orang dengan perasaan yang tak disukainya."

Seperti mengabaikan itu. Ginny berkata parau, "Bukan peduli pada kalian." dia meralat ungkapan pertama Draco di awal tadi. Draco biasa namun siap terkejut. "Aku peduli padamu."

Draco dan Ginny, mereka masih saling pandang, sulit melihat Ginny mengangkat tangannya untuk mengusap mata basahnya, air mata itu, ia yakin, tanda ketulusan.

Kata itu begitu jelas, menggema di sudut telinganya. Menohoknya lebih parah separah ketika Ibunya diancam. Ia hanya bisa memejamkan matanya. Pikiran, hati, dan jantungnya berkecamuk tidak tahu kesal atau malah bersyukur. Dia sadar perlu menarik napas, yang terdalam. Mengerang pelan, "Oh, sialan..."

Draco hanya tak berani membuka matanya melihat sosok orang yang mengatakan itu di depan matanya langsung, atau bahkan malu untuk melihat dunia, melihat kenyataan yang tak disukainya mengetahui dirinya masih dipedulikan seseorang. Takut kalau matanya terbuka, mimpi itu menjadi kenyataan yang dibencinya.

Dia benci banyak hal, tapi lebih benci dikasihani. Membuatnya nampak lemah, dia tak pernah lemah selama menjadi anak Lucius Malfoy. Dia tak mau lemah. Dan jika dia membuka mata dia hanya yakin, kelemahannya akan jatuh.

"Pergilah." suaranya setenang yang dia harapkan, belum membuka mata, sedingin yang seharusnya, tidak peduli mengingat apa yang dirasakannya. Dia merasakan bingung, sampai apa yang harus dipikirkan ia tidak tahu.

Draco membiarkan yang terjadi selanjutnya secara pasrah. Ada sedikit penyesalan dan rasa bersalah yang menakjubkan dari dua kata, "Maaf, Draco!" dan perasaan dihimpit kesendirian seperti rutinitas.

Meskipun dia tidak tahu apa alasan Ginny peduli padanya.

Ginny berjalan mundur sangat perlahan, mirip dipaksa, sepenuhnya pandangan sembab pada mata tertutup Draco, pada ukiran patung pirang dua langkah ke depannya. Tangan kanannya yang berada di leher, pindah ke dadanya, dia ingin meraih Draco, hanya ingin menyentuhnya berharap akan memberi ketenangan meskipun memperburuk. Tangannya menjulur percuma, merauk udara canggung di depannya, sudah terlambat oleh kakinya yang berjalan mundur, seakan-akan anggota geraknya tidak selaras dengan kerja otak. Air mata Ginny nampak seperti sering mengaliri pipinya, di depan pemuda itu, ketegarannya runtuh.

Waktu seperti diperlama seribu kali lipat saat dia menunggu matanya siap dibuka dengan normal, Draco hanya berdiri mematung. Namun di lain sisi, karena meskipun dia memindah-mindahkan apa yang sedang dipikirkannya, serumit apapun solusinya, terdepan yang selalu memerintah agar disuarakan, membuat waktu berjalan cepat.

Pikiran itu, menyuruhnya memanggil, "Ginny-" dia sadar bisikannya percuma. Waktu berjalan cepat, dia terkaget sampai lupa kelenjar matanya belum siap terbuka, dan nanar mengedarkan pandang berkeliling.

Dia murni sendirian.

Seolah panik dirinya baru bebas dari dirasuki, atau terbangun dari mimpi dia bertemu Ginny Weasley membicarakan sesuatu.

Draco menghela napas, menjernihkan pikiran dengan mengusap wajahnya kasar dan keras menggunakan kedua tangannya. Dia tahu jelas semua nyata, Ginny pergi menurutinya, dan dia... menyesal. Berharap tak melakukannya.

Karena di saat dia memikirkan kepantasan dirinya diperlakukan layak, di antara memikirkan sampai matanya yang berdenyut, yang terjelas terpikirkan olehnya hanya: Ginny jangan meninggalkan sisinya, sesebentar apapun.

Sungguh, dia melamuni dirinya sepanjang hari, pikirannya nyaris kosong, hanya terisi suara halus, "Aku peduli padamu." Yang tak pernah dirasakan Draco Malfoy sekurun delapan belas tahun hidupnya, hal yang baru, yang ironis. Memangnya siapa Ginny Weasley?

Membuatnya sekonyong-konyong membentak dan memarahi anggota timnya yang cuma menanyakan bagaimana permintaan izin lapangan Quidditch-nya, agar jangan mengganggunya.

Tentu, jika ia bilang, "Jangan" mereka tak akan meneruskan. Namun sesenior apapun dirinya, rasa kesal dari anggota asramanya tidak tertekan begitu saja, hilang oleh 'kekuasaannya' di asrama Slytherin.

Draco bisa merasakan itu jelas dari pandangan menghakim mereka, tapi dia tak peduli. Membuat sangat mudah bagi mereka jika hanya diminta jangan mengganggunya, termasuk menghibur. Baginya termasuk mengasihani.

Biarkan dia tenggelam di sini.

Oleh siapapun, dia tidak menoleransi yang mengganggu apapun inderanya, apalagi pendengaran dan pemikiran, untuk menyilangkan tangan di bawah kepala, mengganggu dirinya merebahkan badan di tempat tidur dan menerawang kegelapan atap kamar asramanya. Sepanjang hari, tak beranjak meski waktunya makan siang.

Semua orang Slytherin mengerti untuk jangan menawarkan, jika ancamannya sederhana, "Jangan ganggu, apapun itu!" Bahkan Pansy Parkinson ketakutan saat baru setengah menarik napas, separuh memutar kenop pintu kamar Draco ingin menawari makan, dan didahuli olehnya tanpa mengalihkan pandangan dari langit-langit serta berkata dingin, "Keluar!"

Pansy Parkinson, perempuan dengan kepala bukan keras lagi, namun membal mirip jelly, memantulkannya balik; sampai menyerah sebelum berusaha saat Draco bermood jelek, meski Parkinson tak tahu, disebabkan gadis rambut merah tadi pagi.

Sekali lagi, memangnya siapa Ginny?

Orang berharganya, dan terpenting sehingga ketika ia pergi dalam keadaan tidak bahagia, bisa membuat dirinya sangat bersalah?

Atau hanya dia tidak suka dikasihani seperti alasan di awal? Itupun juga memangnya siapa Ginny sampai dia drop terlalu drop?

Draco, ia sangat ingat, bahkan baru mulai bicara dengannya saat dia merasa berhutang kebaikan pada Harry dan Hermione. Dan itu tak ada tiga bulan lalu untuk sedekat ini.

Sedekat dia merasa tidak asing menatap ke dalam mata Ginny. Bukan dalam bentuk dan warna, tapi menjadikan Draco berpikir, jika Ibunya yang melihat Ginny, ibunya pasti akan segera menyukai keseluruhan Ginny. Jujur, dia harus mengaku setidaknya pada dirinya sendiri, persis dengan yang sudah terjadi pada dirinya.

Ada apa sebenarnya? Dia terus menanyai dirinya sendiri. Apa ketulusannya yang nyata, atau sesuatu di wajah berbintiknya, jangan-jangan di senyumnya? Draco ingat keanehan saat melirik senyuman dia, senyuman yang terlihat mudah kau temukan meski di lorong gelap terpencil tak berpenghuni dan sunyi mencekam, yang tak bisa kau pilih karena ada banyak yang sama di lingkunganmu.

Begitu saja, pikirannya hanya memikir apa 'sesuatu' pada diri Ginny yang mereaksi dirinya ke bentuk ini. Sampai dia tiba di pemikiran, kalau tidak ada di dalam kepalanya, dia harus mencari tahu.

Sungguh, tanpa pemikiran ulang, dia tak pernah ragu untuk mengelilingi lingkungan kastil untuk menggapainya. Ginny yang harus menjawab, begitu pikirnya, ketika kini dia meloncat turun dari tempat semayamnya keluar ruangan. Pintu itu mengayun terbuka dengan sendirinya dan tak tertutup lagi.

Dia tak tahu waktu, tapi dia melihat sekelompok kenalannya mendengar sesuatu dari Blaise Zabini yang tampak licik di telinganya. Tapi dia tak tertarik dan mungkin semua orang di sana cuma tahu pintu asrama yang didorongnya menutup atau ada yang beruntung melihat secicip punggungnya. Draco tak tahu dia bagai Hantu.

Waktu ternyata sore, menjelang makan malam, dia melihatnya dari jingga obor aula depan dan sesuatu di luar jendela yang mengindikasikan hari senja. Dan waktu berjalan cepat, memberitahunya satu hari lain akan berakhir hanya ketika Draco tahu dia akan tidur beberapa jam ke depan.

Aula Besar lengang, satu dua hantu, penjaga sekolah dan sekelompok orang Hufflepuff berbincang gamang di tengah ruangan setelah meliriknya. Untuk itu dia menyipitkan mata, mengedarkan pandang ke sekujur ruangan dan memilih untuk mundur, berdiri memandang danau dari undakan gerbang. Meskipun terasa intens, ketika memandang keramaian alam ini, kesendirian nampak tak ada artinya.

Draco tahu, air hujan tadi pagi telah berhenti menetes dari tempat yang terpengaruh gravitasi, menyimpulkan hujan sudah lama berhenti sejak dia tahu kalau hujan mengguyur. Jalan setapak menuruni bukit ke gubuk pengawas binatang liar dari banyak batu terlihat licin tertimpa sisa matahari senja. Dan dia memerhatikannya terbenam, terhanyut, terhipnotis cahaya redupnya.

Jika ada yang menatap sekilas wajahnya, mungkin orang itu akan mengira sebuah patung lilin terdetil didirikan di undakan. Tapi meskipun kulitnya pucat, karena angin beku yang terus ditahannya dan juga belum makan sejak siang, meski kepucatan itu ada dari lahir, dia bukanlah patung. Sebab matanya melebar karena cahaya yang lebih menghipnotis menerjang matanya, dia tidak bingung matanya tak berkedip membiasakan, dia hanya tahu cahaya itu tak pantas dilewatkan sesaatpun.

Sinarnya perak, tidak terang tapi tidak redup. Seindah bintang fajar dan seterang purnama pertama di angkasa yang susah disatukan. Tapi di tempatnya mematung, itu sudah.

Perlahan mulutnya membuka, namun tak sampai menganga, sebatas memperlihatkan kekagumannya, memperlihatkan kalau dia baru memutuskan benda yang pantas disebut terindah di dunia. Napasnya tertahan, semakin merubah iris matanya putih dan hanya tersisa pupil. Mungkin menyeramkan jika punya warna kelabu, jika gelap menjadi hitam.

Cahaya itu mendekat. Ia menyesalinya karena kecantikannya berkurang. Bentuk tawa di wajahnya menjadi penasaran serta bertanya-tanya. Draco menggeleng terhentak, itu bukan gabungan Venus dan Bulan, tapi itu sebuah wajah. Sebuah, Wajah.

Yang jelas bukan hanya, itu benar-benar sesuatu.

Hermione dan Ginny berjalan berdua mengarah ke kastil, ke arahnya, mungkin dari suatu tempat di luar. Dua pemuda yang biasa bersama mereka tetap ada, tepat lima langkah di belakang mereka. Nampak berkelompok perempuan sendiri dan juga laki-laki. Ekspresi mereka berempat saat saling pandang sama, sesuatu karena melihat dirinya.

Wajar, lagipula ia tak memikirkannya. Dia hanya berpikir, atau menebak-nebak saat memandang bergantian secara cepat, tak diperhatikan, pada dua-duanya gadis paling depan. Sebuah wajah yang mana tadi?

Kembali teralih, suara Hermione memanggil dengan heran, "Draco?" saling pandang bertanya dengan Ginny, sementara Ginny tak beralih dari Hermione saat dia melanjutkan, "Sedang apa?"

Jelas menyembunyikan pertanyaan, 'Tidak menunggu kami kan?'

"Berdiri. Memandang." jawab Draco datar mengisyaratkan apa yang membentang di depannya. Mengalihkan pandangan dari saling tatap saat Ginny baru beralih padanya, melihat Hermione memandang berkeliling, membuang waktu mencari jawaban, menyembunyikan ketangkasannya terhadap apapun.

"Baru bertualang?" katanya lagi, melihat mata Ron menuju apa saja kecuali padanya sambil melipat tangan. Lalu melihat Ginny berkata, "Mengunjungi Hagrid. Kukira sesekali kau harus ikut."

Draco dan dia saling pandang cukup lama saat Draco bilang, "Kapan-kapan." seolah telah setuju merahasiakan kejadian tadi pagi, atau janjian untuk melupakannya. Tidak ingat sesuatu yang membuatnya mengurung diri, tak pernah direncanakan takdir. "Masuk saja, cuma berdiri disana dingin."

"Sangat benar." kata Ron keras-keras, langsung berjalan melewati semuanya tanpa menoleh. Harry mengikuti. Ron melanjutkan saat melewatinya, "Tidak salah sama sekali..." lalu dalam bisik tak terdengar, "Tak seperti biasanya."

Draco pikir bisikan itu ejekan. Dia cuma memandang dingin tanah di bawah.

"Harimu beruntung?" sapa Harry normal. Mengangguk balik setelah mendapat jawaban anggukan, kembali membuntuti Ron. Tersisa mereka di sana.

Mendongak, terkejut melihat Ginny tersenyum. Berpaling melihat kecemasan Hermione atas sikap Ron. Tak tahan untuk tak melirik Ginny, masih tersenyum ringan, meski dia hampir melakukan intonasi larangan saat Ginny berhenti tersenyum tepat setelah dia menatapnya. Draco langsung menyalahkan diri sendiri.

Sejenak Draco tak ragu untuk berpikir, akalnya di sudut terpencil pikirannya membisik, sinar itu Ginny. Tapi teriakan dan intimidasi di tempat lain kepalanya membuatnya berkata, "Aku ingin bicara dengan Hermione."

Ginny bingung saat Draco menatapnya, tapi kemudian mengerti. Ada rasa sedih, atau cuma pikiran tak keruannya belakangan ini, tertangkap telinga Draco cuma dengan gumaman Ginny, "Oh."

Ginny berjalan melewatinya, dan Draco mencium harumnya. Harapan mendadaknya terkabul karena Potter menunggu Ginny berjalan menghampinya, jadi dia tak terkesan mengusir, tak membuat Ginny sendiri, suatu kesalahan yang muncul dari hatinya, bukan pikirannya.

Saat ini dia tidak berpikir kenapa sampai meminta bicara pada Hermione, tujuan awalnya bangkit dari ranjang ialah Ginny. Tapi dia justru tidak mengingatnya. Oleh bisikan angin, tak pernah disadari.

Hermione mendekat padanya, masih dalam posisi berdiri. "Ada apa?"

Draco tidak memandangnya, malah dia tidak memandang apapun. Ia baru sempat kosong. Ketika sadar dan berkata, "Aku tidak tahu. Tidak ada."

Hermione mencari jawaban atau kebenaran di wajahnya, masih mencari ketika mendadak Draco berkata lumayan riang untuk nadanya, "Habis apa saja dengan Hagrid?"

Hermione jelas tahu ada keanehan padanya, maka cuma mengangguk juga karena itu terjawab Ginny di awal. Banyak yang aneh untuk ditanyakan, berasumsi Draco masih labil akan hukumannya lalu, jadi hanya memperlakukannya seperti pasien rumah sakit jiwa yang baru sembuh. Hati-hati, lebih baik mendiskusikan dengan orang lain daripada bertanya langsung apa masalahnya.

Tapi Hermione tidak takut padanya, jika dibutuhkan, biar dia yang jadi pelindung Draco bila tak ada yang mau. Peri Rumah menginspirasinya banyak akan hal ini.

Hermione yang berada satu undakan di bawah Draco, memegang tangannya. Bilang, "Kau baik-baik saja." tegas sebagai pernyataan. Lalu mengambil kesempatan diamnya Draco untuk menariknya ke dalam Aula Besar yang mulai terisi.

Saat Hermione menuntunnya pelan, dia meyakinkan dirinya sendiri atas keadaan Draco yang baru ia sampaikan. Karena dia baru seperti mendengar Draco berkata, "Iya." dengan sangat kaku bahkan untuk yang lebih buruk pernah didengarnya.

Harry mengambil asal makan malamnya, mereka telah sengaja makan baru ke ruang rekreasi, sehingga jaketnya masih sedikit basah. Melihat ke samping tangan Ginny tergolek di meja dan sebelahnya menyentuh leher, tak bergerak untuk makan.

Melirik Ron yang tak pernah tahu sekeliling jika di depannya makanan enak, tapi juga tak jadi karena Ginny hanya tampak murung memandangi gerbang Aula Besar. Harry memerhatikan wajah pucatnya dengan lekat, tidak disadari Ginny.

Dan ada sesuatu yang berubah, ekspresi Ginny jadi tak terbaca olehnya, lalu selanjutnya Ginny menunduk. Penasaran, Harry berpaling ke sesuatu yang nampaknya penyebab tundukan itu dari arah pandang Ginny sebelum menunduk berada.

Hermione baru saja masuk, menuntun Draco Malfoy ke meja asramanya.

Harry menyentuh tangan Ginny tanpa tujuan, namun tak ada reaksi yang menunjukkan ia tahu tangannya disentuh. Ia seolah tak peduli atau tak merasakan apapun lagi.

Saat itu, Ginny sangat takut menghadapi hari esok. Takut yang menanti akan terjadi ketika ia tahu sebelum kejadian, terasa nyata akan terjadi.

Ginny's

Three Weeks Ago

Keluarga besar Weasley. Arthur dan anggota keluarganya, jika keluarga luar biasa itu mau punya waktu luang untuk berpikir hal yang tak penting meski mereka punya keahlian menyibukkan diri, mungkin mereka akan mulai mengategorikan setiap anak keluarga Weasley mereka. Pengkategorian berdasarkan gen atau penurunan sifat orang tua, atau campuran sifat mereka.

Adalah kemampuan daya pikir lebih dan hal Quidditch berunsur dari sang ketua keluarga, ayah mereka, Arthur. Molly Weasley bisa dibilang ia menurunkan kepedulian, kasih sayang, dan tak bisa kau sangkal, keras kepala.

Tentu sebagai orang tua kandung, setiap anak Weasley umumnya memiliki sifat mereka berdua, namun tak pernah seluruhnya. Ron kekurangan daya tangkap dan pikiran Ayahnya yang dimiliki setiap anak Weasley, hanya keraguan pada Fred dan George.

Semua, kecuali Percy karena tak tertarik, berbakat dalam Quiddicth. Meskipun Bill dan Charlie kurang keras kepala, sementara Percy kurang kepedulian, sesuatu karena kekurangan sifat Ibu mereka. Tidak buruk.

Ketujuh anak Weasley tidak pernah lengkap menerima unsur kedua orang tua mereka, selalu ada satu dari semua sifat yang tak dipunyai, membuat mereka bervariasi, kecuali seseorang yang berbeda. Juga dalam arti sesungguhnya. Ginny si bungsu, satu-satunya gadis di keluarga, paling berbeda tentunya. Dia melengkapi seluruh ciri orang tuanya. Ia lumayan di pelajaran, bakat penuh di Quiddicth, dan cukup untuk dibilang keras kepala. Ibunya menumpahkan sifatnya seutuhnya, mungkin karena mereka sesama perempuan.

Tapi mirip Percy dan Quidditch, jika seandainya punya bakat tapi tidak tertarik, atau malah menganggap sesuatu membosankan, percuma jika dia tetap memaksa menggelutinya.

Ginny, seperti semua orang pada umumnya, tak menyukai omong kosong pelajaran Trelawney sejak awal. Tak melanjutkan kelas ramalan, tentu, meski Hogwarts telah mempunyai Firenze. Terkadang dia membenci apa yang selalu dibenci Hermione: pelajaran penuh omong kosong, titik.

Malam itu adalah malam yang mendebarkan untuk penggila Quidditch masing-masing asrama Slytherin dan Ravenclaw, Ginny rasa. Atau mungkin penggila Quidditch asrama lain, juga pemain Quidditch-nya itu sendiri. Saat itu, besoknya adalah pertandingan awal Quidditch, Slytherin melawan Ravenclaw, dan perkiraan cuaca akan bagus. Ginny percaya itu.

Beberapa tak sabar sampai tak bisa tidur untuk besok, namun tidak dirinya, dia tidak berdebar menunggu. Justru dia sudah meyakini kemeriahan kemenangan Slytherin sebelum dia memikirkan pertandingannya. Dan malam itu, tepat saat ia beserta teman kamarnya menghadapi pekerjaan rumah di ruang rekreasi Gryffindor. Sesuatu yang pantas digeluti.

Ia tak memerhatikan ketiga teman perempuannya ternyata terlalu serius untuk menegor dirinya. Mereka saling tak memerhatikan. Ia juga tak mengetahui pekerjaan rumahnya tertata rapih sudah lengkap dan selesai. Tak ada yang melihat, atau setidaknya tahu, dirinya melamun. Nihil interaksi dan sosialisasi di sini.

Setelah semenit, ia kembali mendarat dengan sendirinya. Sedikit mencerna kebingungan, kaget mendapati dirinya telah melamun. Ia mengerjap memandang keliling ruang rekreasi, mengetahui temannya sedang mendalami perkamen tepat depan hidung mereka dan Seamus bercatur dengan Ron di pojok.

Ginny mengambil napas dan membuang itu, terbiasa lagi sekitarnya tak hadir Harry. Bergerak dengan maksud akan melanjutkan peer, segera sadar kalau telah dia selesaikan. Maka ia membereskannya.

Setelah rapih siap dipindahkan, dia mulai mengasumsikan kalau ruang rekreasi, meskipun murid banyak, nyatanya lebih sunyi dari kebiasaan.

Setelah memutuskan itu normal-normal saja, kemudian dia mencondongkan badan untuk melihat satu kerjaan temannya. Laura sedang menyalin esai dari sebuah buku tebal mantra langka dan tetap fokus pada itu tanpa melirik Ginny.

Ginny mengamati ujung pena bulu Laura sebiasanya sudah kembali diisi tinta, tapi ternyata tak perlu. Mungkin Laura menggunakan pena bulu khusus. Ginny duduk tegak lagi, cukup merasa tak dipedulikan. Ia mendengar tapi masih tak terdengar bahkan untuk obrolan ringan. Tapi mereka semua bergerak, dalam arti hidup.

Ginny menghadap ke kiri, dugaannya tentang waktu tak tepat sedikitpun, kini jam setengah sebelas. Terlarut, pasti itu sebab dari cepatnya waktu berjalan.

Ginny berpaling dari jam bandul emas tersebut, segera hanya menuju udara kosong, karena dia menangkap keanehan sesaat sebelum berpaling. Ginny kembali menoleh pada jam bandul di pinggir ruang, ia menyipitkan mata dan penglihatannya tak salah, jam itu mati. Jarum detiknya tak berjalan. Ini tak mustahil, tapi sejak kapan jam di Hogwarts mati?

Mulutnya terbuka kecil saat itu, sedikit memikirkan waktu apa yang sebenarnya, tapi ketika berpaling lagi dari jam mulutnya komplit terhenyak membuka, tercengang murni. Detik itu, ada jeda antara detak jantung ke detak selanjutnya. Sekejap kemudian dia baru meloncat bangkit dan menyiagakan tongkat.

Dia tak bersuara, masih terkejut sepenuhnya: Ruang rekreasi kosong, tak eksis seorangpun, tinggallah dia. Ginny meninggalkan pandangan dari semua orang yang sebelumnya di sana hanya untuk melihat jam ruangan berhenti. Tapi ini mustahil, batinnya, ada apa ini?

Ia tak tahu harus apa, dan tak melakukan apa-apa yang lain. Ia tak tahu harus merasa apa, tapi ia tidak ketakutan, dan tongkatnya hanya digenggam tanpa siap siaga merapal. Hanya perasaannya menganeh, seperti ketika kau bangun di tempat yang berbeda dengan tempat kau sebelumnya tidur. Seakan ada yang memindahkanmu kala kau nyenyak.

Terdengar pelan ayunan pintu figura Nyonya Gemuk, dan Ginny berbalik ke arah sana, tetap dan masih anehnya tak siaga mengacungkan tongkatnya. Pikirannya terlalu baik hati dan tidak merasakan bahaya ataupun ancaman. Tongkat sihir seolah tak sedang menggantung di sisinya.

Ginny terkesiap, menahan napas, tahu kalau seseorang akan terlihat pada ruangan yang mendadak tak berpenghuni dari lorong gelap itu. Ia melihatnya, dan menarik napas cepat padahal sebelumnya menahannya. Tidak kaget, tapi ia tidak merasa lega.

Dia kenal wanita itu. Wanita dengan rambut pirang panjang tergerai di punggungnya, pirang pucat seperti kepucatan pada kulitnya, dan meski jauh matanya yang cekung dan biru menari indah seakan memberi kenyamanan, adalah Narcissa Malfoy. Tersenyum lembut padanya, yang seolah bisa berakibat seseorang lupa bahwa dirinya tertusuk jarum.

Ginny tidak pernah tahu senyum bisa dibuat sedemikian, dia tak pernah membayangkan kalau Ibu Draco ini ialah wanita yang cantik dan anggun. Walau Narcissa mengenakan pakaian muggle, pakaian yang biasa dipakai wanita peternakan. Kemeja santai dan rok panjang.

Ginny hanya diam mengawasi saat Narcissa mendekat, langkahnya seolah tak menapak. Dan walaupun dengan senyumannya, Ginny tetap bisa mengingat yang segera diingatnya, Narcissa sedang sakit, mungkin tak sadar di tempat yang seharusnya. Bukan di Hogwarts, bukan di sini di ruang rekreasi Gryffindor. Berdua dengannya.

"Hai!" suaranya halus selembut kapas. "Ginny kan?"

Bagaikan terpesona, Ginny mengerjap. Ia menelan seteguk air liur seraya mengangguk. Membuat senyum Narcissa membesar dalam langkahnya.

Ia berhenti tiga meter di depan Ginny, mengalihkan pandangan ke sekeliling, lalu mengatakan, atau bertanya, "Kuharap aku tidak mengganggumu?"

Ginny menjawab cepat, terlalu cepat, mungkin dia tersentak. "Tidak sedikit pun, Mrs Malfoy."

Narcissa meliriknya jail dan mengangkat alis. Kemudian dia tertawa sengau yang merdu. "Aku belum pernah melihat dirimu dari dekat. Maukah kau duduk di sofa itu denganku, mengobrolkan sesuatu?"

"Tentu saja." sahutnya, seakan sudah sangat akrab. Ia berjalan ke arah Narcissa, Narcissa yang tersenyum menuntunnya menuju sofa merah di kanan ruangan.

Mereka duduk, pertama saling pandang, masih hanya Narcissa yang tersenyum, lainnya terpukau. "Narcissa." kata Narcissa. "Cukup panggil Narcissa. Kumohon."

Ginny tersenyum untuk pertama kalinya sebagai jawaban. Kemungkinan ini adalah hal yang aneh, di luar akal sehat dan yang seharusnya, maupun khayalan, tak dirasanya duduk di sebelah wanita ini. Ia hanya begitu nyaman di dekatnya, tanpa alasan.

Meskipun dia tahu bahwa Narcissa tak mungkin bersamanya sekarang, meskipun sedikit pemahamannya bilang orang di sebelahnya bukan Narcissa.

Ia diam ketika tangan Narcissa terangkat, matanya lepas dari tatapan dan pindah ke rambut Ginny. Tangan Narcissa terangkat ke sana, secara perlahan serta lembut seperti biasanya, Narcissa mengelus kepalanya penuh kasih sayang. Ia terkejut bisa merasakan ini. Seolah Narcissa menjadi Ibunya sekarang.

"Kau bahagia?" suaranya pelan, ada rasa sedih menurut telinga Ginny.

Ginny tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan ini. Tidak peduli jawabannya sederhana, namun dia hanya memikirkan apa alasannya. Maka dia hanya diam.

"Kau tahu-" Narcissa melanjutkan. Senyumannya yang seolah tak pernah sirna serta ajaib sejak pertama kali dilihat Ginny, segera berubah jadi senyum kesedihan. Mereka saling memandang mata masing-masing. "Apa yang kau lihat?"

Narcissa memberi isyarat untuk Ginny membaca matanya, membuat gerakan dengan mata Ginny lurus ke matanya. Dan Ginny tahu maksudnya, apa yang dilihatnya, di mata Narcissa.

Lagipula Ginny tak bisa berpaling, dia tak memikirkan untuk berpaling. Dia tidak ingin. Ginny merengut sedikit, ini tidak mungkin sesuatu yang dibuat-buat siapapun wanita pirang ini, terlepas nama Narcissa. Bukan suatu ilusi.

Karena saat Ginny memandang matanya lekat tanpa lepas, menembus benda biru itu dan meluncur menuju perasaannya, ia seakan-akan menatap pada sebuah cermin. Tapi bukan seperti cermin yang memantulkan fisik, sesuatu selain itu yang berasal dari dalam diri seseorang lah yang ia tangkap. Entah itu jiwa, sifat, atau perasaan. Yang menyatu membentuk sebuah aura.

Aura itu lah, yang selalu menguap keluar, yang Ginny kira sama dengan yang selalu dibuat dan dikeluarkan dirinya sendiri. Hanya dengan melihat matanya, tanpa ada kesan mengabaikan perbedaan fisik dan bentuk antara mereka berdua, Ginny secara sederhana melihat dirinya sendiri.

Meski heran akan kesadarannya yang penuh, ia mendesah, "Aku melihat diriku."

"Sama denganku." kesungguhannya terdengar tanpa perlu bersuara parau. Tangan Narcissa kembali mengelusnya, Ginny menyandarkan kepala dengan santai kali ini.

Mereka saling pandang lama sekali tanpa canggung, Ginny kenal terlalu jauh dengannya. Walau kenyataannya tidak. Narcissa begitu baik, juga penuh kasih sayang, menyampaikannya dengan sangat tulus.

"Ginny-" dia tidak perlu apa-apa lagi, hanya tinggal diam mendengarkan. Pun dari jarak mereka, umpatan pun percuma. Narcissa meneruskan, "Kau pasti mengenal anakku, iya kah?"

"Ya, aku kenal." jawab Ginny pasti sambil mengangguk, tidak mungkin ada anaknya yang lain. "Kenapa dengannya?"

Narcissa berhenti mengelus kepalanya, meskipun ada sesal, Ginny tahu Narcissa tidak kesal padanya. Seperti menyiapkan dirinya, Narcissa menarik napas dan memandang telapak tangannya sendiri. Melepaskan pandangan untuk pertama kalinya. Ginny mendengarkan, "Draco adalah anak yang baik, sebenarnya. Aku bisa tahu dia sangat sayang padaku. Hal yang sama dengan yang dirasakan setiap Ibu. Aku juga sangat menyayanginya. Ia anakku satu-satunya..." ia berhenti, nampak menahan emosinya.

"Semua anak sayang orang tua mereka." kata Ginny selagi jeda.

Narcissa mengangguk, masih menunduk. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya, kesedihan apa yang akan dirasakannya. Ayahnya telah meninggal. Aku tidak tega, untuk ikut meninggalkannya. Ia pasti merana menjadi sebatang kara."

Narcissa kembali jeda. Beberapa saat kemudian, masih menunduk, dia tersenyum senang, terlepas dari keadaannya yang mungkin sebagian besar tahu apapun. Disebabkan Ginny tidak bereaksi terkejut atau akan menolak.

Bukan hanya perkataan Narcissa yang ditekankan, tapi Ginny juga mengerti apa yang dipikirkan Ibu Draco. Akhirnya dia sepenuhnya tahu, hanya tahu satu, Narcissa akan meninggalkan Draco. Itu sudah hal yang pasti.

"Aku juga akan meninggalkan dunia ini, tidak bisa dicegah." Ginny hanya masih mendengar seksama, tak mau melewatkan sekata pun meski mustahil. Tak membuang tenaga untuk terkejut atau bertanya. Dan merasa harus menuruti apa yang didengarnya nanti. "Namun aku diizinkan untuk kesini, bertemu denganmu. Aku datang ingin memohon sesuatu darimu, maukah kau mendengarnya?"

"Akan kulakukan semampuku."

Akhirnya Narcissa mengangkat wajahnya, memandang Ginny serius, kontras dengan semua ekspesi Narcissa sebelumnya. Ia mengatakan, "Aku ingin kau dititipkan Draco untuk kami. Kumohon berikan dia hal yang tidak bisa diberikan orang lain. Yang selama ini kami berikan. Sebuah kepedulian dan kasih sayang."

Ginny disana tidak mendapat alasan untuk menolak, lagipula ia berpikir untuk apa menolak. Ia hanya memikirkan seorang pemuda yang hidupnya terputar balik secara drastis, dan membayang pemuda itu tidak bisa mengatasinya sendirian.

Dan untuk sebuah permintaan yang tidak masuk akal, dimana kau diminta membahagiakan seseorang oleh Ibu orang itu, karena Ibu itu sendiri datang dan bilang dia akan mati, bagi Ginny, dia cuma mengangguk.

Narcissa menatapnya sangat sedih, tersenyum sama sedihnya. Ungkapan kejujuran adalah seperti itu disertai ketulusan. Yang bahkan dari matanya, sudah mengatakan, malah meneriakkan kalau memang pantas, sebuah rasa terima kasih terhebat, sebelum mendesah, "Aku tahu kau mau. Kami berterima kasih untukmu selamanya."

Dua hal terjadi bersamaan, membuat Ginny bertanya memilih melihat yang mana: Narcissa seraya mengelus kepalanya terakhir kali, bangkit berdiri. Pintu lorong di sana membuka, dan masuklah orang lain berambut panjang pirang. Pria itu mengangguk sopan juga tersenyum tulus padanya seperti kedatangan Narcissa. Ginny memandang ke arahnya, tak terkejut dan tak memikirkan kenapa tak terkejut, dan membalas senyum pria berdagu runcing itu.

Narcissa senang akan kedatangan pria itu, sampai akan nyengir seperti anak-anak. Pria yang masih seperti pemuda yang memakai jins dan sweater belang itu beralih setelah memandang Ginny, kepada Narcissa, tangannya terjulur memanggil. Begitu pula Narcissa, tangannya menyambut sangat antusias, sudah tersenyum lebar memamerkan gigi.

Mereka bergandengan, sementara Ginny tak bergerak pada sofanya. Pria pirang itu memandangnya lagi setelah merangkul Narcissa, tetap tersenyum, dan seolah itu sudah umum bagi Ginny. Padahal itu bukan umum untuk siapapun. Pria itu berkata, "Terima kasih untuk yang akan kau lakukan. Kini kami juga mementingkan dirimu, selain anak kami."

"Tunggu! Kalian akan pergi kemana?" tanya Ginny pelan, akhirnya bertanya dengan polos. Mengetahui itu tidak akan dijawab dari cara mereka memandang dan tersenyum, Ginny bertanya pertanyaan lain, yang terakhir, yang ia tahan sejak paham, "Kenapa aku?"

"Apakah itu penting?" Narcissa bertanya balik, heran. Ginny tidak tahu, tapi dia tak merasa ini tidak penting. Ia yang baru kenal dekat dengan Draco Malfoy September lalu, atau lebih, namun sekarang... Ginny diam tak bisa menjawab.

"Kukira ini sederhana-" Pria tadi berkata teguh. "Kau peduli, itu bedanya. Dan lagipula-" dia berpaling pada Narcissa, dan wanita itu mengangguk jelas mengerti. Pria itu memandang Ginny lagi, tersenyum terang, "Kami yang sekarang, yang disini di sekitarmu, mengetahui beberapa hal yang tak memerlukan alasan."

Ginny memerlukan waktu mencernanya, setidaknya setengah menit, namun dia mengangguk begitu saja.

Senyum pria itu semakin terang, "Kami tidak berharap akan bertemu kalian secepatnya, tapi... Kami harap kalian bahagia."

Ginny tercengang, memandang takjub mereka berdua yang hanya berdiri di ambang lorong. Ginny memegang perkataan mereka sangat erat. Perkataannya.

"Ginny, esai mantramu sudah selesai?" suara yang asing memanggilnya. Namun itu tidak asing, itu Avy, temannya yang lain yang sedang mengerjakkan peer dengannya tadi. Memanggil dari tempat yang sama dengan dia mengerjakkan peer berwaktu lalu. Kini dia di sofa lima meter jaraknya.

Ginny menoleh padanya, ternyata sedang diledek oleh Laura karena tahu dia mau melihat pekerjaan Ginny. Ginny segera berpaling pada pintu asrama, itu bergetar kecil dan tertutup. Tak ada seorang pun dekat pintu.

"...aku tahu Ginny gadis yang baik. Eh, boleh kan, Ginny?"

Ginny menunduk memandang pangkuannya. "Yeah, terserah-" lalu terdengar suara Avy, "Trimakasih. Yang mana? Oh, ini-"

"Sekali lagi!" seru Seamus kesal. Ginny begitu kaget lebih dari seharusnya, tak ada yang memerhatikan sikapnya. Ron tertawa geli. "Bukan karena sepuluh sickle ini, tapi harga diriku..." lalu mengumpat kesal sambil mengamati papan catur merapih sendiri. Ron ahli catur, dan Seamus aneh mau bertaruh dengannya.

Keseluruhan, ruang rekreasi berisik seperti biasa di malam yang nyaman. Teriakan pun hal yang wajar, jelas mustahil ada yang tahu kegelisahan Ginny. Sekarang dia membuat keputusan apa yang baru saja terjadi, dia melamun dan mengkhayal bertemu mereka. Khayalan nyata yang mungkin terjadi.

Beberapa pengetahuan di luar yang seharusnya berdatangan, terjarah oleh pikirannya yang berbelit. Dia tahu kapan Narcissa akan meninggal, tepat tiga minggu dari sekarang.

Dan dari semua keputusan, salah satunya adalah Ginny memercayai apa yang mereka coba sampaikan kepadanya. Dia diminta memedulikan Draco.

.

Itulah yang memenuhi pikirannya, semenjak sesuatu yang membuat orang tua Draco mendatanginya. Ia tidak menceritakannya, hanya dia yang tahu. Dan setiap ada Draco, ataupun hanya melihatnya berjalan sambil lalu, Ginny akan sedih. Apapun kesenangan yang dia dapat sebelumnya.

Perasaan itu memuncak pada hari ini. Sudah tiga minggu yang diketahuinya akan membuat Draco sebatang kara. Jelas ia tidak tega, tidak yakin untuk menceritakannya pada Draco. Hanya peduli.

Tak ada yang menyangkanya mengalami kejadian ajaib ini, ia tampak normal, sepertinya. Bahkan tidak ada yang melihat kalau dia begitu berusaha senang jika tak sengaja di dekat Draco. Ia tak pernah sengaja berada di sekelilingnya.

Namun kepeduliannya terkatakan tadi siang. Dan malam saat makan ia tak henti-hentinya resah, seolah tetap tak ada yang sadar. Karena besok adalah harinya. Akan terbukti ataukah Ginny hanya paranoid, ketakutan pada hal yang kemungkinannya kecil karena sesuatu di lamunannya.

Kegelisahannya membuatnya tak bisa terpejam, tak memikirkan untuk tidur. Terus berpikir mungkin seharusnya Draco berada di sisi Ibunya sekitar besok. Ia berbaring miring berjam-jam, sampai tidak sadar selang kedip matanya terlalu lama dari normal.

Sampai hari itu datang. Ia tak sedikitpun tidur, mungkin ada yang menyadari karena sekeliling matanya kontras jauh dengan warna kulit pucatnya. Tapi dia tak membuang waktu menjelaskan, karena di Aula Besar, saat dia akan memberanikan diri segentar apapun untuk mendekati Draco, orang itu tak muncul di mejanya. Dan menurutnya itu di luar kebiasaan. Ada hal signifikan yang menyebabkan, pasti.

Mendadak, dia berhenti tak bersemangat, namun bukannya sebaliknya, Ginny tegang, perasaannya jadi tidak enak.

Ia panik seketika, tak peduli orang-orang memerhatikannya bangkit meninggalkan sarapan yang belum tersentuh sesuap pun. Ron memanggilnya, tapi dia tak menggubrisnya. Harry dan Hermione saling pandang heran.

Sebagai satu-satunya yang berjalan, cepat dan tegang di antara semua yang duduk baru memulai sarapan, perhatian untuknya terjadi lebih banyak. Dari cara jalannya, beberapa anak di meja Slytherin siaga, atau takut. Mereka yang ditujunya.

Seakan tidak memerhatikan dan tak peduli, Ginny menghadap pada Pansy Parkinson. (yang dia serta jagoan gadis Slytherin bangkit berdiri seolah Ginny menantang berkelahi) Suaranya melengking panik ketika bertanya, "Kau melihat Draco?"

Suaranya itu nyaring, terdengar ke banyak telinga. Parkinson mengernyit bertanya-tanya, memandang berkeliling dan baru sadar Draco absen sarapan. Kembali memandang menilai Ginny. "Apa urusanmu?" sahutnya sengit, curiga.

"KATAKAN SAJA DIMANA DIA?" jeritnya mendadak, benar-benar histeris, hampir menangis. Seluruh Aula Besar langsung hening, terkejut. Parkinson tersandung jatuh ke belakang, dia yang paling kaget sampai tak bisa berkata-kata.

Suara langkah kaki mendekat, McGonagall ternyata sudah sadar dan mendatangi Ginny. Menentramkan bahunya yang bergetar, beliau berbisik, "Apa yang terjadi?"

"DRACO-"

"Kenapa- kenapa dengannya?" McGonagall memandang Slughorn yang berlari gontai mendekat. Kembali ke Ginny, berpikir tidak ingin membuat keributan. "Ayo, Miss Weasley, kau bisa bicara di tempat selain di sini."

"Kantorku, Minerva!" Slughorn mengusuli, dia mendahului mereka.

"Kau juga, Miss Parkinson. Ayo!"

Bisik-bisik terdengar, seluruhnya ingin tahu dan penasaran. Tak terkecuali. Ron menanyai Harry, "Ada apa itu? Kau tahu sesuatu?"

Harry menggeleng, memerhatikan punggung Ginny keluar Aula Besar.

"Apa dia mencari Draco?"

Hermione yang juga mengamati mereka menghilang, seperti ratusan orang dan makhluk lainnya, tapi juga tidak tahu yang terjadi, berkata pelan, "Ya. Dia mencari Draco." Kemudian setelah Ginny menghilang, dan mengabaikan repetan Ron, Harry dan Hermione bersamaan saling pandang, menyamakan apa yang mereka pikirkan.

.

Pintu ruang bawah tanah dibuka terburu-buru, Slughorn lupa telah menguncinya. Setelah berhasil, dia mempersilakan tiga orang yang berjalan di belakang mereka. McGonagall menuntun dua gadis itu.

Dua kursi disediakan, dan dua gadis tadi duduk bersampingan. Tak saling pandang, maupun bersuara.

"Baiklah, sekarang ada apa dengan Mr Malfoy?" mulai McGonagall pada Ginny. "Kenapa kau tadi bersikap seolah jika dia tak ada akan ada kekacauan besar?"

Ginny diam saja. Ia tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Mencoba bersabar, McGonagall menanyai Parkinson, "Kau melakukan sesuatu pada Draco, atau sesuatu apa saja?"

"Saya melakukan banyak hal." kata Parkinson jengkel. "Tapi tidak yang membuatnya sinting."

Kerutan di dahi McGonagall menjelas sengaja. Namun sebelum mengatakan apapun, Ginny sudah menginterupsi beliau, suaranya pelan, sehingga bisa dikira berbisik pada dirinya sendiri. "Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu pada Draco."

"Dan jika aku boleh tahu, sesuatu tentang apa?" tentu saja McGonagall curiga, jika memang hanya itu, kenapa Ginny sampai histeris, di Aula Besar, saat sarapan. "Pentingkah?"

"Tentang Ibunya." Ginny telah mengatakannya, tak peduli lagi jika alasannya tidak waras, kecemasannya ini yang asli.

Begita terserap, kedua profesor itu segera tak bersikap bertanya atau curiga lagi, malah menampakkan perasaan tak enak dan menyesal ketika Slughorn dan McGonagall saling pandang.

Ginny mengamati itu, Parkinson juga. Tampak sama tak tahunya. Memandang bergantian pada kedua profesor, dan saat berhenti di Slughorn Ginny bertanya tercekat, meski ngeri akan mendengar jawaban yang diduganya. "Memangnya di mana dia sekarang?"

Melihat ke dalam mata Slughorn, Ginny telah mengetahui jawabannya nanti akan sama dengan yang dipikirkannya.

"Beritanya sampai sekitar jam dua semalam." kata Slughorn lemah. "Mendengar itu, kami mempersilakan Draco pergi." Slughorn tampak mengempis sejenak. Dia menunduk dalam dan berusaha tak canggung saat mengatakannya. "Ibunya sekarat, sangat sekarat lebih dari sebelumnya. Kini-"

Ia tak melanjutkan, tapi Ginny tahu apa lanjutannya. Mungkin kini keluarga Draco yang tersisa telah pergi, seperti yang- entah dia harus menyebutnya lamunan atau apa.

Parkinson menganga terkejut, nampak paham juga. Kedua profesor itu, meski bingung, tak penasaran. Hanya McGonagall tak berani melihat Ginny.

Yang dia pikirkan, juga bukan air matanya yang tak ragu mengalir. Sebuah wajah berdagu runcing dan kosong tanpa segalanya adalah tak lain hanya itu yang menyelimuti.

o-0-o

Narcissa Malfoy, cukup banyak yang hanya mengenalnya sebagai Ibu Draco, bahkan ada yang tidak tahu siapa dia. Untuk ukuran penyihir, dia berumur pendek dan dikarenakan sebuah penyakit. Hal yang jarang di dunia sihir.

Kabar bahwa Draco Malfoy telah menjadi bocah terakhir salah satu keluarga darah murni tersohor, tersebar di kastil. Namun tak ada yang bangga maupun senang. Itu kabar buruk.

Tampak tak begitu berkabung, tampak tak terlalu direndung duka kehilangan. Juga tak ada di berita duka Daily Prophet, lagipula mungkin biasa. Entah bermula dari mana, tapi pun mereka yang mendengarnya sudah lupa ada berita duka dalam dua hari atau kurang.

Tidak dirinya. Awan kabut kelabu menggantung di atas Draco sepanjang waktu. Dia begitu merasakannya, hal yang selama ini tak pernah terpikir bagaimana mencekamnya; sendiri.

Hal-hal kecil yang mungkin bisa mengurangi rasa sendiri, sampai menempel penuh di otaknya dan dikonfrontasi. Seperti Hogwarts tak berduka cita saat makan, sampai semua orang yang tertawa. Dia begitu memikirkan hal-hal tak penting itu, karena ini Ibunya. Ibunya telah tiada, kenapa mereka tak bersedih?

Draco tak pernah mau melakukan pembenaran. Contohnya; Hogwarts tidak bisa mengumumkan orang yang meninggal setiap ada yang meninggal. Seperti penyangkalan 'Orang meninggal tiap hari', dan Hogwarts adalah sekolah yang tak butuh renungan setiap sebelum sarapan. Dia tak mau. Dia mau mereka menyadari betapa pentingnya orang yang baru meniggal seminggu lalu. Ibunya terpenting. Tapi Draco tak bisa bergerak untuk membentak, menyalahi, dan mengutuk mereka. Draco Malfoy menjadi lebih biasa dari dugaan seorang pun. Pamornya yang dulu lenyap dalam sekejap dalam segi manapun dengan sendirinya. Ia hanya orang yang berjalan ke kelas sendirian meskipun di beberapa jarak orang juga berjalan. Ia hanya orang yang menghindari menyapa dan disapa, selalu menunduk. Tak ada seringai, tak ada ejekan, dan tak ada yang memikirkannya untuk peduli. Paling tidak itu mayoritas. Segelintir orang menanyakan keadaannya. Slytherin? Jangan pernah melewatkan Pansy, entah apa maunya. Satu dari orang Quidditch, hitungan jari Slytherin lainnya. Ia keturunan terakhir, namun tak sedikit pun memikirkan harus mempunyai keturunan. Memang tak ada yang menyinggungnya, tentu selain Pansy, namun Draco menyadari ada yang lain, adik kelasnya. Ia kenal namanya Astoria, namun tak merubah caranya menanggapi sedikit perhatian mereka.

"Kau baik-baik saja?"

"Ya." jawabnya netral memandang penanya tanpa putus, meski setelah, "Trimakasih."

Jika pertanyaan jawaban Ya dan Tidak, Draco hanya dengan mudah menjawab dan diiringi terima kasih. Tak ada bentakan, apalagi basa-basi. Hanya selalu memperlihatkan matanya. Walaupun pada Pansy yang cerewet.

"Aku ikut berduka."

"Terima kasih." dia begitu sabar. Tapi ada satu masalah, dia tidak benar-benar pernah setegar itu. Tak pernah ada yang sungguh-sungguh menghiburnya. Ia begitu menjadi anak kebanyakan, terlepas ia mantan pelaku jahat.

Kesendirian yang membuktikannya.

Tapi seperti yang sudah dibilang, mereka adalah mayoritas. Dan Draco menyimpulkan dari mayoritas.

Minggu berat ini dimulai lagi, tak meringan semiligrampun meski seminggu dilewati. Seseorang bernama Draco Malfoy mengarungi kesehariannya selayaknya, namun ia kosong. Ia seperti Inferi yang menyamar, dan orang yang menyamarinya tak punya tujuan untuknya. Hati dan pikirannya seolah transparan dan bersifat air. Ia sedih. Terlalu sedih.

Bagi orang lain yang memahaminya, pasti siapapun dia bersyukur Draco tak memikirkan apapun termasuk bunuh diri. Percayalah, jika kau Draco Malfoy, kau pasti merasionalkan bunuh diri. Si minoritas, dia bersyukur Draco tidak bunuh diri.

Ginny tak pernah tak berusaha untuk mengetahui bagaimana keadaan Draco. Mungkin ia satu dari sedikit orang yang masih ingat Ibu Draco sudah meninggal. Dan tidak mungkin lupa.

Ginny merasa Draco ditinggalkan oleh orang tuanya untuk dia jaga. Ia bingung kenapa Hogwarts dan Daily Prophet tak mengumumkan duka citanya, hal yang sama yang tak diketahuinya juga dipertanyakan Draco. Lagipula pikirnya itu mungkin biasa.

Apa yang dia pedulikan juga bukan tanggapan orang lain, tapi dia mengkhawatirkan, sangat mencemaskan, ketika Draco merasa sendirian. Dan ia tak bisa membantu menghiburnya. Sesuatu yang benar-benar dia ingini.

Dari sekali pandangan, meskipun itu dia lihat dari puncak menara, dan Draco satu dari ratusan ramainya yang bergerak di dasar, serta hanya melihat punggung Draco; Ginny tahu Draco merasa sendirian.

Namun dia tak pernah berhasil mendekat, selama seminggu yang semestinya dia menemani Draco, dia tak lebih hanya mengamati dari kejauhan. Dan itupun hanya setiap kali dia beruntung. Karena bagaimanapun dia berusaha, orang yang beda asrama hampir jarang bertemu tiap hari tanpa kesengajaan. Ginny, hanya jadi pengamat tak terlihat yang berniat menjaga.

Sudah seminggu ini dia cuma memerhatikan Draco dalam jarak. Dia tak percaya diri untuk akrab dan sedikit mengurangi kesendirian Draco. Tak ada yang dilakukannya selain mengasihani Draco. Walau mungkin orang lain juga akan mengasihaninya.

Ginny tak sanggup mendekat, entah dengan alasan apa, mungkin belum siap. Sebenarnya tak ada yang diinginkannya selain bisa mendekat, tak masalah apapun selanjutnya.

Dan sore ini hujan turun, hari di mana akhirnya tim Quidditch Slytherin mendapat jatah latihan seharian penuh. Ginny tak akan luput mengamatinya, selalu dengan ekspresi simpati dan sedih. Mungkin alibinya berdiri di lorong itu adalah memata-matai formasi Slytherin, dia bahkan menyiapkan alibi, tak mau mereka mendengar alasan sebenarnya.

Mereka selesai sekitar sore jam empat, Ginny belum ketahuan mengamati. Berniat tetap disitu sebab tahu akan ada yang tinggal lebih lama di lapangan. Seseorang yang selalu banyak menangkap snitch, tak ada yang membujuk Draco untuk berhenti.

Itu kebiasaan Draco, dia tahu. Jika melihatnya tak terlihat sama sekali dia baru berduka, sikapnya sangat umum pada siapapun. Cuek, bisa disebut malas-malasan.

Ginny tahu saat Draco menyudahi latihannya, di kamar ganti hanya Draco sendiri. Namun tetap tak menguatkan dirinya untuk berbicara padanya. Dia tahu Draco tak akan berlama di kamar ganti, dia melihatnya keluar dan berjalan biasa meski hujan akan membuat perkiraan bahwa dia baru saja tercebur ke danau.

Selanjutnya dia pun tahu rutinitas Draco. Langkahnya dari latihan langsung ke asramanya, membersihkan diri lalu datang lebih awal makan malam. Namun tak langsung masuk Aula Besar, melainkan menuju undakan gerbang Aula Depan, mengamati dan seperti menunggu sesuatu. Meski yang diamati adalah hujan.

Draco menikmati kesendiriannya di sana. Tanpa suara, tanpa ledakan emosi. Ginny ingin menebak apa perasaan Draco dari jauh, tapi tak ada selain menangis sedih dan rapuh. Logikanya yang menyangkal Draco Malfoy menangis.

Ini tak bisa dibiarkan, Ginny tak boleh tetap begini. Dia harus menghiburnya, setidaknya berhasil sedikit kesedihan dan kesendirian yang mengendap padanya. Ginny tak mau menyalahkan dirinya lagi karena membiarkan Draco bersedih. Begitu batinnya.

Entah efek dari hujan itu, tapi akibatnya Draco semakin nampak jelas bersedih. Oh, dia harus mendekat, Ginny harus mendekatinya. Tak peduli sedang apa dirinya.

Ginny memulainya, dia berhenti bersembunyi. Dan sementara dia bangkit dari meja besar Ravenclaw yang karena pandangan ke Aula Depan jelas, Ginny segera menghentikan usahanya.

Gadis itu datang, turun dari tangga pualam sendirian seperti orang yang diutus khusus, lebih hebat darinya. Hermione tak berhenti sedetikpun memastikan ada orang di undakan gerbang, tapi langsung menuju kesana, seperti paham akan Draco juga.

Ginny tak menyalahkan sahabat keluarganya itu karena tidak melihat dirinya, terlepas Ginny akan pergi ke tempat yang sudah dikunjungi Hermione. Persiapan Ginny percuma dan dia hanya bengong berdiri di dekat ambang Aula Besar.

Meski guyuran hujan berisik dan jaraknya yang tak bisa dibilang bagus buat menguping, Ginny hanya tahu apa yang mereka bicarakan.

"Boleh aku duduk?" pinta suara Hermione.

"Ya." seperti biasa, netral.

Hanya butuh beberapa detik diam sampai Hermione bilang, "Boleh aku menghiburmu?"

Kali ini ada jeda sebelum suara datar berbunyi, "Ya."

"Baguslah." suara Hermione penuh senyum. "Ini akan menyenangkan. Maukan kau ikut kami, saat liburan?"

Ginny tahu Draco mengangguk, terkesan tak peduli. Seolah-olah tak punya pilihan selain makan atau dia akan mati. Meskipun ia tahu tak suka makanan itu, sebelum dia tahu apa makanannya.

"Hanya kunjungan ke beberapa kerabat." suara Hermione tetap ceria. "Kami akan mengejutkanmu. Jadi bersiaplah-"

Tak ada yang menyinggung soal Ibu Draco. Dan Draco tetap sabar. Lagipula Draco tak punya siapapun lagi untuk dikunjungi saat liburan natal. Ginny tahu rencana Hermione dan Harry untuk Draco.

Yang terpenting sekaligus bermasalah sekarang adalah Ginny juga tahu kesempatannya untuk mendekat lenyap, kali ini, dan entah kapan lagi. Percakapan Hermione dan Draco berlanjut seperti dua orang yang saling pengertian.

Bukanlah Ginny yang berada di sana menghibur Draco dengan cara apapun. Dia iri. Hermione lebih menarik ditilik dari kadar apapun. Pintar dan Cantik, tak ada yang diperlukan lagi jika kebaikan hatinya jelas. Semua orang, cowok, rela sabar untuknya. Dia tak berani bersaing, jika bisa menghindar.

Ternyata sekarang makan malam sudah mulai, dia baru kembali lagi dari manapun itu setelah berpaling dari mereka berdua yang hampir terhanyut.

"Kurasa kau sudah mulai terkejut dari sikap kami." kata Hermione memandang ke depan. "Kita semua sering bertikai. Kau, dengan Harry, denganku, tentu saja Ron, dan Ginny..."

Draco tak begitu memerhatikannya. Bahkan jika ada yang memasuki pikirannya, sangat diragukan mereka akan menemukan sesuatu.

"...kau tidak akan tahu bagaimana ramahnya keluarga Weasley, aku dan Harry hampir tak pernah melewatkan liburan menemui mereka. Kalian pasti akan saling menyukai." Hermione berbicara tak menyadari sesuatu- "Tapi aku menahan diri menyampaikan kejutannya..."

-Draco memindahkan lamunannya dari hujan di depan, bukan berpaling pada Hermione yang pandangannya sedang lepas, tapi 180° berputar menuju sekelebatan rambut merah menyala di bawah api ratusan lilin layang. Dia selalu berpikir meski saat dia tak berpikir, kenapa setiap saat dia tahu Ginny di sekitar, gadis itu tidak duduk saja di sampingnya dan melakukan hal yang tak disukainya? Hanya memedulikan dia dengan cara gadis itu?

Xt-B-cX

Penjelasan Chapter:

-Penyakit Narcissa Malfoy rekaan author, ada di ch.8

Yang terjadi pada Ginny, semirip dengan ide film Devour, 'mimpi ketika terjaga, tapi lebih dari sekedar lamunan' Jangan ragu bertanya dan mengkritik, jujur aja, kalau bukan kritik tulisan saya tak pernah maju. Ada yang sulit dimengerti, tolong tanyakan dan stay tuned next chapter atau inbox surel-mu.

See ya next chapter then! :D