Neji masih berdiri di depan jendela besar di kamarnya. Itu adalah kamar yang ia tempati sejak ia bisa mengingat hingga memutuskan untuk pergi bersama Sakura. Langit sore tampak hangat dari tempatnya berdiri. Memberi ruang baginya untuk tidak larut dalam khayalan meski nyatanya ia tetap juga gagal.

"Aku sudah menduga ini akan terjadi,"

sayup-sayup ingatannya kembali ke pertemuan tempo hari, pertemuan krusial yang memaksanya pulang ke Konoha.

"Tapi tidak masalah, lagipula Sarada sekarang adalah cucuku. Keberadaannya juga menjadi tanggungjawabku." ucapan sang paman -Hiyashi- berdengung di kepala.

"Terimakasih, paman."gumamnya sambil menundukkan wajah takzim. Mereka baru saja membicarakan langkah antisipasi kalau-kalau Sasuke berniat mengambil Sarada. Klan Hyuuga memiliki sejarah buruk dengan Uchiha sejak berabad yang lalu, sedikit saja pemantik bisa berakibat fatal.

"Aku tidak menyangka akan terlibat perseteruan semacam ini dengan mereka," Hyashi menyeruput tehnya pelan, "Beruntung kau membesarkan anak itu dengan baik."

"Cepat atau lambat Sarada akan menyadarinya, tidak ada jalan lain kecuali membuatnya seterikat mungkin denganku."

Hiyashi tertawa kecil sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Sekali lihat saja, Neji yakin pemimpin klan Hyuuga yang terkenal dingin itu sudah bisa menilai potensi Sarada. Sarada adalah aset yang sangat berharga. Betapapun ia membenci Uchiha, ia harus mengakui, gen mereka adalah yang terbaik. Dan memiliki salah satunya adalah keberuntungan besar baginya.

"Ngomong-ngomong, apa kau tidak iri?"

"Hn?"

"Kau harus memiliki keturunanmu sendiri, Neji. Aku tahu anak itu luar biasa, tapi memiliki Hyuuga di keluargamu akan lebih baik."

"Aa..."

"Pertimbangkanlah."


"Hei," Suara lembut disertai lingkaran lengan di pinggang membuyarkan ingatannya, ia tersentak sejenak lalu melirik sekilas pada pemilik suara, "Ada apa? Kau melamun?"

Neji menghela nafas panjang sesaat lalu menepuk pelan tautan tangan di perutnya, "Sejak kapan kau datang?"

"Umm.. baru saja."

Neji melepas tautan tangan itu dan menggenggam sebelahnya selagi ia berbalik, berhadapan dengan perempuan yang amat dicintainya.

"Kau baru saja menangis?"

"Hanya rindu pada Ayah."

Laki-laki itu mengangguk kecil lalu menelengkan pandangan ke luar, ke arah langit yang semakin suram. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan, "Ini tentang Sarada."

Genggaman Sakura refleks menguat saat Neji menyebut Sarada, perkataan Sasuke tentang Sarada menemuinya terlintas dengan cepat di kepalanya.

"Kurasa aku dulu," timpalnya sambil menarik Neji untuk duduk di tepi ranjang, ia tidak ingin Neji berfikir yang tidak-tidak. Ia tahu Neji selalu sensitif tentang Sarada. "Sarada menemui Sasuke," gumamnya tanpa melepaskan genggamannya, ia bisa merasakan Neji menegang meski ekspresi wajahnya tak menunjukkan perubahan apapun. " Anak itu, entah bagaimana caranya sudah tahu, kalau-," Sakura menambahkan satu tangannya lagi untuk menangkup tangan Neji, "-Kau bukan ayah kandungnya, tapi Sasuke,"

Neji menahan nafas sesaat lalu dihembuskannya perlahan, ia sudah menduga skenario seperti ini akan terjadi. Ia hanya sedikit terkejut karena ini jauh lebih cepat dari perkiraannya.

"Neji." panggilan lembut Sakura menyadarkan ketegangannya, ia menoleh untuk melihat wajah sang istri sebelum akhirnya kembali memandang keluar jendela.

"Aku sudah tahu," gumamnya kemudian, "Tak usah khawatir."

Neji paham sekarang, sikap aneh Sarada kemarin pasti berhubungan dengan pertemuannya dengan Sasuke. Ia memang memiliki firasat kalau Sarada berbohong tentang tersesat. Ia tahu Sarada bukan tipe anak yang akan tersesat lalu menyerah dengan mudah. Ia bahkan tahu saat Sarada mengatakan tentang menyayanginya ada hal lain yang disembunyikan oleh anak itu.

"Kau, baik-baik saja?" tanya Sakura canggung, bagaimana tidak canggung kalau seharusnya dialah yang diberi pertanyaan itu. Ia adalah ibu kandung Sarada, ini berbeda dengan Neji, tapi selama ini Sarada memang jauh lebih dekat bersama Neji ketimbang dirinya. Lagipula, ia tidak ingin Neji merasa ditinggalkan.

"Seharusnya iya," Neji menghela nafas panjang, ditariknya tangannya yang sedari tadi di genggam Sakura, "Tapi, darimana kau mengetahuinya?"

Sakura tersentak sejenak, "Ah, um-, sebenarnya, aku bertemu Sasuke tadi."

"Oh."

"Maafkan aku," timpal Sakura cepat, ia benar-benar tidak ingin Neji merasa terkhianati, "Aku menemui Ino dan dia tiba-tiba muncul untuk membicarakan Sarada."

"Lalu?" suara Neji terdengar tenang dan dalam. Berkebalikan dengan gemuruh yang ditahannya. Ia masih ingat bagaimana Sasuke merendahkannya di masa lalu. Mencemoohnya karena menikahi Sakura yang ternyata juga adalah pengisi ranjang musuh di depannya. Ia marah, kecewa, dan malu tentu saja. Ia bahkan berniat mematahkan rahang bungsu Uchiha seandainya telat melihat pendar kepedihan di balik wajah angkuh Sasuke. Tentu saja ia tak lupa, pengawalnya membisikkan tentang seorang Uchiha yang berniat merusak pernikahannya.

Satu persatu potongan kejadian ia jalin hingga menjadi cerita yang utuh, dan ia tersenyum samar setelahnya. Membiarkan Sasuke terbuai dalam kemenangan semunya. Neji tidak cukup bodoh untuk terprovokasi Sasuke tentang Sakura. Ia adalah genius Hyuuga, dan mengalah untuk menjaga kemenangan adalah jalan yang dipilihnya. Ia hanya perlu membawa Sakura pergi sejauh mungkin dan Sasuke Uchiha akan berakhir menyedihkan seperti yang diinginkannya.

"Kau mendengarku?" suara hati-hati Sakura menelusup pendengaran, ia menoleh dan mendapati Sakura menatapnya heran. "Aku berbicara panjang lebar dan kau malah melamun?"

Ia tertawa kecil menanggapi ucapan istrinya. Sepuluh tahun berlalu, Sakura mungkin belum seutuhnya memberi cinta yang dimilikinya. Tapi perempuan itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan keseriusannya. "Maaf, kurasa aku sedikit kurang minum."

Sakura memukul lengannya pelan, "Jangan bercanda, kau ini."

Ia kembali tertawa kecil, kehadiran Sasuke tidak akan dibiarkannya merusak apa yang ia jaga sepuluh tahun terakhir. Perasaan Sakura mungkin saja lebih kuat kepada Sasuke, tapi saat perempuan itu terus bersamanya, berbagi tawa, cerita, dan hal-hal menyenangkan lainnya, tak ada alasan untuk dirinya menjadi takut. Ia hanya perlu membiasakan Sakura hidup dengan cintanya, dan kebiasaan yang lalu akan terhapus. "Berkemaslah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."

"Eh?" Sakura berjengit kaget, "Ku kira kau akan marah, apa liburan adalah salah satu caramu melampiaskan kemarahan?"

Neji berdecak pelan lalu berdiri dari duduknya, "Aku sudah terlalu tua untuk merana karena masa lalu," ucapnya sambil berniat pergi, "Aku cemburu, tentu saja, tapi bukan berarti itu bisa menjadi alasan merusak hari baik kita."

"Ha-hari baik?" gumam Sakura tak mengerti, "Aku tidak tahu hari ini hari baik."

Neji hanya mengedikkan bahu menanggapi kebingungan istrinya. "Berkemas saja, tidak usah memikirkan yang lain." ucapnya sesaat sebelum menutup pintu pelan.


"Uchiha corp?" Sarada menautkan alisnya saat sang ayah menghentikan mobilnya di depan gedung kantor Sasuke. "Apa maksudnya ini Otou-san?"

"Ada yang ingin aku tunjukkan padamu."

"Tidak," jawab Sarada cepat, pandangannya menatap lurus ke depan, bibirnya ia buat secemberut mungkin untuk menunjukkan ia tidak menyukai ide sang ayah. "Aku tidak mau. Lagipula aku tidak punya kenalan di sini."

"Sarada dengarkan aku."

"Aku tidak mau dengar apapun."

"Ini menyangkut dirimu."

"Cukup Otou-san," suara Sarada sedikit meninggi, "Aku bilang aku tidak mau dengar."

Neji menghela nafas panjang, ia tahu ini sulit. Sejujurnya ia juga tidak ingin melakukan ini, tapi Sarada memiliki hak untuk mendapat kesempatan bersama bajingan Uchiha itu. Ia sudah memikirkannya, bahkan jika Sarada menolak, ia tetap harus membuat puteri kesayangannya bertemu Sasuke. Ia tidak ingin dipersalahkan di tahun-tahun yang akan datang.

"Sarada."

Diam. Sarada enggan menanggapi panggilan Ayahnya. Jantungnya berdebar keras, ia mulai bertanya-tanya, apakah Otausan mengetahui apa yang ia lakukan minggu lalu, apa Otausan sudah menduga kalau ia mulai menyadari tak ada satupun di bagian tubuhnya yang mengidentikkan kalau ia adalah anak seorang Hyuuga Neji. Apakah-

"Aku tahu kau menyayangiku," suara Neji kembali terdengar, "Begitupun aku," hembusan nafas terdengar kasar dari indera penciumnya, ini lebih sulit dari yang ia duga. "Aku tidak ingin, kau dan aku, kita, saling melukai dengan menyembunyikan rahasia busuk yang bisa menghancurkan kapan saja." Neji mengeratkan genggamannya pada stir mobil, berusaha menahan emosi yang campur aduk di dadanya, "Kau tahu, aku berharap, benar-benar berharap, kita tidak dalam posisi seperti ini." Ia menghela nafas pelan, menenangkan dirinya sendiri, "Tapi, Tuhan selalu punya cara untuk menunjukkan kekuasaannya. Dan disinilah kita terjebak."

"Aku tidak mengerti apa maksud Otousan" ucap Sarada pelan, jengah dengan bahasa berbelit-belit Neji.

"Kau harus menemuinya, ini permintaanku," gumam Neji sambil memiringkan badan agar menghadap ke arah Sarada, "Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi seorang pendendam sayang. Dia juga berhak membuktikan cintanya padamu."

"Aku tidak mau."

"Sarada."

Sarada masih diam, mengerti kemana pembicaraan ini akan berakhir. Ayahnya sudah mengkonfirmasi kalau ia mengetahui kebenarannya. Ia benar-benar menyesal menjadi orang dengan intuisi tinggi. Ia bahkan masih harus menunggu hampir empat bulan untuk memasuki usia sebelas, bukankah ia masih terlalu kecil untuk memikirkan kenapa semua ini bisa menimpanya?

"Sarada,"

Panggilan sang ayah mengetuk lamunannya. Ia menoleh, dilihatnya wajah nanar Neji tengah menatapnya terluka. Ya, Sarada memang masih kecil, tapi ia cukup pintar untuk mengetahui bahwa beban yang ditanggung sang ayah pastilah amat berat. Membesarkan anak dari laki-laki yang dicintai istrimu, atau mungkin mantan pacar istrimu, yang sekaligus adalah musuhmu -Sarada sedikit mendengar permusuhan antara Hyuuga dan Uchiha- bagaimana ayahnya bisa menyayanginya selama ini? Bukankah lebih masuk akal jika ia dibunuh saja, atau dibuang, atau ditaruh di panti asuhan, atau dimanapun itu asal bukan di pelukan hangat sang ayah seperti yang selama ini diterimanya.

"Sarada apa yang kau pikirkan?" tegur Neji cemas saat dilihatnya Sarada hanya memandang kosong ke arahnya.

Sarada bergeming, rentetan pertanyaan bagai benang kusut di kepalanya. Bingung mencari jalan keluar.

"Sarada."

tepukan ringan di kedua pipi menyentaknya pelan.

"O-otousan."

Neji menghembuskan nafas lega saat dilihatnya Sarada mengerjab cepat, "Astaga, jangan seperti itu sayang, kau membuatku takut."

"Ma-maaf," gumamnya pelan sambil menundukkan wajah, menyembunyikan tetesan bening yang sudah ditahannya sejak tadi. "Maafkan aku."

"Maaf untuk apa?" Neji mengerenyit heran melihat Sarada yang tiba-tiba sibuk sesenggukan.

"Karena aku, Otousan jadi menderita. Harusnya, harusnya aku-."

"Kau melupakan pelajaran tentang fokus pada pembahasan sayang, kekhawatiranmu tidak ada korelasinya dengan pembicaraan awal kita."

"Tapi aku-"

"Bukankah kita sudah saling berjanji?" ucap Neji sambil mengelus rambut Sarada pelan, "Kalau kita tidak akan saling meninggalkan apapun yang terjadi. Saat kau minta maaf, itu berarti kau menyesali apa yang sudah kita lalui. Termasuk-."

"Tidak," sanggah Sarada cepat, dipandangnya sang Ayah yang kini tersenyum lembut, "Aku hanya merasa, aku hanya-."

"Aku tidak tahu kau punya kecenderungan gagap," goda Neji sambil melepas sabuk pengamannya, "Apa ada yang kulewatkan dari perkembangan puteriku?" ucapnya sambil menyentil ujung hidung Sarada.

"Otousan, tidak lucu." ucap Sarada keki, diusapnya kasar bulir bening yang membasahi pipinya.

"Nah, seperti itu lebih baik," Neji mengambil kotak tissue dari bangku belakang, "Bersihkan wajahmu, kau tidak boleh terlihat menyedihkan di depan umum. Itu merusak reputasiku."

Sarada menyambar kotak itu dengan wajah cemberut. Musnah sudah keinginannya membahas secara tuntas kenapa semua ini bisa terjadi. Melihat sang ayah kembali tersenyum dan enggan menatap masa lalu membuatnya tersadar, ia juga harus segera berdamai dengan dirinya. Cukup mereka sama-sama tahu dan cerita itu akan tetap berada di masa lalu. Tak ada alasan untuk mengorek-ngorek kejelasan yang nantinya justru membuat semua semakin runyam. Karena tidak tahu, terkadang jauh lebih baik dari sok tahu ataupun selalu ingin tahu.


tbc

yaaa... siapa di chapt. lalu yang selalu berfikir neji seperti malaikat? xd