GADIS HARI KETUJUH

REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION

amandaerate

manyeolbae

Novel By Sherls Astrella

.

FF ini adalah hasil Remake dari novel dengan judul yang sama karya Sherls Astrella. Terdapat beberapa perubahan nama atau yang lainnya sesuai dengan kebutuhan cerita.

.

Warning: Genderswitch

.

CHAPTER 14

.

Suara lembut Baekhyun merasuki pikiran Chanyeol. Tiba-tiba Chanyeol melepaskan Baekhyun .

"Tidurlah," Chanyeol membaringkan Baekhyun , "Kalau sore nanti engkau lebih sehat, aku akan membawamu ke pesta Desa Zerupt."

Mata Baekhyun membelalak. "Benarkah, Chanyeol?"

Chanyeol mengangguk.

"Terima kasih, Chanyeol," Baekhyun tersenyum bahagia lalu memejamkan matanya.

Baekhyun berjanji akan segera tidur. Ia sudah tidak sabar meninggalkan ruangan ini. Baekhyun sudah sangat merindukan suara orang-orang.

.

.

.

"Tuan Puteri, bangun."

Samar-samar Baekhyun mendengar suara seseorang memanggilnya.

"Tuan Puteri, bangun." Suara itu terdengar lagi.

"Bangunlah, Tuan Puteri."

Baekhyun membuka matanya.

Seorang wanita muda tersenyum padanya. "Saya tidak senang menganggu tidur Anda yang nyenyak," katanya, "Tetapi Pangeran telah menanti Anda. Pangeran ingin mengajak Anda ke pesta musim dingin Zerupt."

Baekhyun teringat kembali pada janji Chanyeol. Ia segera turun dari tempat tidur.

Pelayan itu dan beberapa pelayan lain segera memandikannya dengan air hangat. Selagi mereka menyeka tubuhnya, seorang wanita mencari-cari sesuatu di dalam lemari.

Ketika berangkat ke Istana Ruethpool, Baekhyun tidak membawa apa-apa selain gaun yang dikenakannya dan mantel tebal. Baekhyun sama sekali tidak mempunyai rencana ke tempat ini.

Selama berada di sini, Baekhyun mengenakan gaun-gaun Ratu sewaktu beliau masih muda. Untung sekali gaun itu cukup untuk Baekhyun. Ukuran tubuh Ratu dan Baekhyun cocok.

"Kulit Anda sangat indah berseri," puji seorang pelayan ketika merapikan gaunnya, "Karena itu gaun warna apapun cocok Anda kenakan."

Baekhyun tersenyum. Ia sudah sering mendengar pujian seperti itu dari pelayannya di rumah. Seperti yang dikatakannya pada mereka, Baekhyun berkata, "Aku berpikir kulit yang kecoklatan seperti kalian lebih cocok dengan gaun warna apapun."

"Kulit kami terlihat sangat pucat sedangkan kulit Anda berseri. Kami iri pada Anda."

Baekhyun memandangi tubuhnya di cermin.

"Kecantikkanmu seperti orang Timur yang penuh misteri," puji Chanyeol ketika ia masih belum mengetahui namanya.

Bila melihat kakak-kakaknya yang semuanya mempunyai kulit Kecoklatan, Baekhyun merasa paling aneh.

Semua mirip ibu mereka, hanya dia yang mirip Earl. Warna rambutnya tidak sama dengan kakak-kakaknya. Rambutnya hitam legam seperti Earl.

Gelombang di ujung rambutnya adalah warisan Countess. Mata hijaunya yang bening seperti kelereng adalah perpaduan dari warna mata Countess yang hijau tua dan mata Earl yang biru bening.

Semua dalam dirinya adalah warisan kedua orang tuanya kecuali kulitnya. Baekhyun tidak tahu darimana ia mendapatkannya. Sejak kecil ia tampak seperti gadis Timur.

"Kalau rambutmu tidak bergelombang dan warna matamu hitam, aku akan menduga engkau gadis Jepang," kata Sehun ketika mereka masih kecil.

"Anda sangat beruntung, Tuan Puteri, Pangeran sangat mencintai Anda," kata seorang pelayan menghamburkan lamunan Baekhyun.

Baekhyun terbelalak kaget.

"Selama ini Pangeran sangat membenci wanita. Sedikitpun ia tidak mau memberikan perhatian pada Anda, tetapi sikapnya kepada Anda sangat lain. Pangeran sangat memperhatikan Anda dan berusaha memberikan yang terbaik bagi Anda," kata yang lain.

"Itu tandanya Pangeran sangat mencintai Anda," pelayan yang lain tak mau ketinggalan.

"Anda membuat iri semua gadis di kerajaan ini."

"Tidak," Baekhyun menggeleng, "Kalian semua salah sangka pada kami. Chanyeol hanya membantuku memulihkan kesehatan."

"Dibandingkan Anda, Pangeran lebih mencemaskan kesehatan Anda."

"Sudahlah. Apakah kalian mengetahui mengapa Chanyeol tampak risau?" Baekhyun mengalihkan pembicaraan, "Apakah ada utusan dari Istana Welyn yang datang menemui Chanyeol?"

"Tidak ada, Tuan Puteri," jawab mereka hampir bersamaan.

"Sepanjang hari Pangeran bersama Anda, tentunya Anda lebih mengetahuinya dari kami."

Baekhyun memandang pelayan itu.

"Pangeran sangat mencintai Anda. Sedetikpun ia tak mau berpisah dari Anda."

"Ia tidak pernah memperhatikan wanita sebelumnya," yang lain mengingatkan.

Baekhyun mengetahui hal itu sejak dulu. Baekhyun tahu Chanyeol sangat membenci makhluk yang disebut wanita. Baekhyun tahu Chanyeol tidak tertarik untuk menikah. Karena itu ia menolak menemui Chanyeol juga menerima lamarannya walau Baekhyun mencintai Chanyeol sejak masih kecil.

Mungkin Chanyeol telah melupakan perjumpaan mereka ketika masih kecil tetapi Baekhyun tidak.

Ketika masih berusia lima tahun, Baekhyun pernah diajak Countess ke Istana Welyn. Saat itu Countess diundang Ratu dalam acara minum teh. Ratu dan Countess adalah sahabat lama. Sering Ratu memanggil Countess ke Istana hanya sekedar untuk berbincang-bincang.

Baekhyun sangat senang berada di Istana.

Ratu sangat senang melihat kedatangan tamu kecilnya itu. "Mainlah bersama Chanyeol. Engkau pasti lebih senang daripada harus mendengarkan kami," kata Ratu sambil tersenyum.

Ratu memanggil pelayan dan menyuruhnya mengantar Baekhyun ke Ruang Kanak-Kanak.

Baekhyun menuruti pelayan itu walau ia enggan berpisah dari ibunya. Baekhyun merasa asing dengan pelayan yang menggandengnya itu. Ia tidak mengenalnya.

Ketika mereka hampir tiba di Ruang Kanak-Kanak, tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari kencang. Anak itu menabrak Baekhyun hingga mereka berdua jatuh di lantai.

"Maaf," kata anak itu sinis sambil membantu Baekhyun berdiri lalu ia berlari pergi. Sesaat kemudian Baekhyun melihat sekelompok anak perempuan berlari mengejar anak laki-laki itu.

Baekhyun memandang penuh keheranan. Lalu ia menengadah memandang pelayan di sampingnya.

"Itu adalah Chanyeol," pelayan itu memberitahu, "Sepertinya Chanyeol sedang sibuk sehingga tidak dapat menemani Anda, tetapi saya akan menemani Anda bermain."

Sejak hari itu, Baekhyun tidak dapat melupakan anak laki-laki yang menabraknya itu. Wajah tampan yang sinis anak itu ketika menabraknya terus terngiang di benaknya. Seiring tumbuhnya Baekhyun, perasaan yang timbul pada saat ia pertama melihat Chanyeol itu tidak pernah hilang. Perasaan itu semakin dalam.

Dengan berat hati Baekhyun memutuskan untuk menolak bertemu Chanyeol. Dengan sangat berat hati Baekhyun menolak lamaran Chanyeol.

Bila mengingat kejadian itu, Baekhyun mengerti mengapa Chanyeol sangat membenci wanita. Sejak kecil, banyak gadis yang menyukainya dan berusaha mendapatkan perhatiannya.

Chanyeol adalah anak yang sangat tampan ketika ia masih kecil.

Sekarang ia lebih tampan lagi dan lebih gagah. Takkan ada gadis yang dapat mengalihkan perhatiannya dari Chanyeol. Tidak ada yang tidak tergiur oleh kedudukan Chanyeol sebagai Putra Mahkota.

Sejak kecil Chanyeol telah mendapatkan banyak kesulitan dari para gadis. Mula-mula Chanyeol mau bersikap ramah kepada mereka, tetapi karena mereka semakin menjengkelkannya, Chanyeol mulai menghindari mereka hingga akhirnya ia sangat membenci mereka.

Baekhyun mengerti hal itu. Karena itu ia menolak lamaran Chanyeol. Baekhyun tahu bukan Chanyeol sendiri yang memberikan lamaran itu tetapi Ratu.

Dalam pesta itu, Baekhyun melihat Ratu berbicara penuh semangat pada ibunya sambil sesekali meliriknya. Dengan melihat sinar mata Ratu, Baekhyun tahu Ratu berencana untuk menikahkannya dengan Chanyeol.

Setelah mempersiapkan Baekhyun, pelayan-pelayan itu mengantar Baekhyun ke Ruang Duduk tempat Chanyeol menanti.

Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai.

"Untuk mencegah hilangnya panas tubuh Anda," kata mereka.

Chanyeol segera mendekat ketika pintu terbuka. Ia meraih tangan Baekhyun dan menciumnya. "Anda tampak sangat cantik."

"Terima kasih, Chanyeol," Baekhyun tersenyum. Baekhyun melihat kerisauan di wajah Chanyeol telah hilang.

"Pakaianmu sudah cukup tebal?" tanya Chanyeol penuh perhatian,

"Engkau merasa kedinginan?"

Baekhyun tersenyum. "Terima kasih atas perhatian Anda, Chanyeol," katanya sopan, "Saya sudah merasa sangat hangat, bahkan kepanasan. Pelayan telah memberikan berlapis-lapis kain pada saya. Silakan Anda melihatnya."

Baekhyun mengulurkan tangannya. Jari-jarinya terbungkus sarung tangan tebal hingga ke sikunya. Kemudian kain tebal lengan bajunya yang panjang menutupi tangannya yang bersarung. Di lapisan paling luar, mantel bulu yang tebal dan berlengan panjang membungkus tubuhnya.

Chanyeol tersenyum puas. "Lebih baik Anda kepanasan daripada kedinginan. Saya tidak ingin membuat Anda jatuh sakit lagi."

"Anda tidak perlu khawatir, Chanyeol. Saya adalah gadis yang kuat. Bila bukan karena saya terjatuh ke dalam sungai, saya tidak akan sakit."

"Ya, aku juga tidak ingin itu terjadi lagi. Karena itu aku akan menjagamu sepanjang sore ini." Chanyeol membuka sikunya.

Baekhyun meletakkan tangan di siku Chanyeol dan mereka berjalan ke luar.

Kereta kuda menanti mereka di depan dengan penuh kesabaran. Kereta emas itu tampak sangat indah dengan latar belakang salju putih. Rodanya yang kokoh berdiri tegak di samping kereta. Kuda-kudanya yang gagah berdiri anggun di depan.

Pelayan memegang pintu yang terbuka. Pelayan itu membungkuk sedikit ketika Chanyeol menaikkan Baekhyun ke dalam kereta.

"Selamat bersenang-senang, Chanyeol," katanya sebelum menutup pintu.

Setelah itu kereta mulai berjalan meninggalkan perkarangan Istana Ruethpool yang tertutup salju putih.

Baekhyun ingin melihat keluar tetapi Chanyeol melarangnya. Chanyeol menutup rapat-rapat tirai jendela kereta.

"Engkau bisa sakit karena udara dingin ini," kata Chanyeol.

Baekhyun tersenyum masam. Ia sedih.

"Kalau engkau semakin memburuk, aku akan mengurungmu di Ruethpool tak peduli berapa lama. Aku telah berjanji pada keluargamu akan mengembalikan engkau dalam keadaan sehat."

"Mereka telah memberi ijin," kata Chanyeol pula.

Baekhyun sedih.

"Chanyeol," kata Baekhyun tiba-tiba. Matanya menatap Chanyeol dengan serius.

"Apa?"

"Kita jangan berhenti di Zerupt," Baekhyun berkata serius. "Lebih baik kita berhenti di luar Zerupt."

"Tidak," Chanyeol menggeleng, "Udara di luar sangat dingin untukmu."

"Tetapi penduduk desa akan mengetahui siapa kita. Pesta mereka tidak akan menarik lagi."

Chanyeol menatap Baekhyun .

"Saya tidak ingin mereka berbuat lebih dari kemampuan mereka karena mengetahui kita datang. Saya ingin benar-benar berada dalam pesta rakyat."

Chanyeol menatap Baekhyun . Akhirnya ia benar-benar yakin mengapa Baekhyun tidak pernah mau mengatakan siapa dirinya. Siapapun yang mengetahui bahwa ia adalah putri keluarga bangsawan, pasti akan berusaha melakukan yang terbaik untuk memuaskan sang putri sedangkan Baekhyun ingin diperlakukan seperti rakyat biasa.

"Baiklah," kata Chanyeol. Chanyeol mengetuk kaca di belakang tempat duduk kusir kuda.

Kusir kuda menghentikan laju kereta.

Chanyeol membuka pintu lalu menutupnya kembali. Sesaat kemudian ia masuk kembali ke dalam kereta.

"Aku telah mengatakan keinginanmu padanya. Kita akan diturunkan lima puluh meter di luar Zerupt. Di sana ia akan menanti kita hingga kita muncul."

"Kasihan dia," kata Baekhyun .

Chanyeol keheranan.

"Apakah kita pasti akan pulang cepat? Kalau ia harus menanti kita, ia pasti akan bosan. Tidak enak menanti seorang diri."

Chanyeol menatap Baekhyun . Gadis itu benar. Baekhyun pasti akan sangat senang di pesta itu dan tidak ingin segera pulang. Chanyeol sendiri belum tentu bisa memaksa Baekhyun pulang.

"Aku akan menyuruhnya segera pulang setelah menurunkan kita," janji Chanyeol.

Baekhyun bahagia.

Chanyeol menepati janjinya. Setelah menggendong Baekhyun turun, ia segera menyuruh kusir kuda itu pulang.

"Pulanglah. Kami akan pulang sendiri."

"Biarlah saya menanti Anda di sini, Pangeran," kata kusir kuda itu, "Saya ingin mengantar Anda pulang."

"Pulanglah. Ini perintah. Kami bisa pulang sendiri. Tidak perlu mengkhawatirkan kami."

"Baik, Pangeran," kusir kuda itu mengalah.

Mereka menanti hingga kusir kuda itu membelok pergi.

Chanyeol merangkul Baekhyun dan berjalan ke Zerupt.

Seperti perkiraan Chanyeol, Baekhyun sangat gembira di pesta itu.

Sepanjang jalan penuh gerobak-gerobak yang menjual bermacam-macam benda. Ada yang menjual manik-manik, makanan khas Zerupt di musim dingin, baju, dan banyak lagi. Suasana di dalam Zerupt seperti pasar kecil.

Di tengah desa, berkumpul para muda-mudi dan para tetua. Semua menari gembira diiringi musik gembira.

Melihat orang-orang itu Baekhyun ingin bergabung tetapi Chanyeol tidak akan mengijinkannya.

Chanyeol tidak pernah melepaskan tangannya dari pundak Baekhyun sejak mereka memasuki Zerupt.

Sejak melangkah ke dalam desa yang sedang berpesta itu, Chanyeol sadar banyak pria yang melirik Baekhyun. Topi mantel yang dikenakan gadis itu tidak dapat menutupi kecantikkannya.

Mereka menelusuri sepanjang jalan desa Zerupt yang dipenuhi orang-orang yang sedang bergembira.

"Tempat ini sangat ramai," kata Baekhyun.

"Engkau tidak boleh lepas dariku," Chanyeol memperingati, "Aku akan kewalahan mencarimu di keramaian ini."

"Saya tidak berani," kata Baekhyun berjanji.

Tiba-tiba Chanyeol berhenti. "Tunggu di sini. Jangan pergi ke manapun. Jangan ikut orang yang mengajakmu," Chanyeol memperingati.

Baekhyun mengangguk.

Chanyeol menerobos orang-orang.

Baekhyun berdiri memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Keramaian ini seperti keramaian pesta di Pienlang. Mungkin seperti pesta di Pienlang, penduduk dari desa lain juga datang meramaikan suasana.

Baekhyun merasakan ada orang yang mendekat. Baekhyun membalikkan badan sambil tersenyum, "Ca…"

Wajah Baekhyun memucat melihat pria bertubuh besar itu. Tubuhnya tinggi besar seperti batang pohon. Mukanya dipenuhi janggut tebal. Matanya yang buas menatap Baekhyun dengan tajam.

"Apa yang Anda lakukan di sini, Nona cantik?"

Tubuh Baekhyun bergidik ketakutan mendengar suara besar yang menakutkan itu.

"Seharusnya Anda tidak sendirian di sini."

Baekhyun ketakutan. Kakinya mundur selangkah demi selangkah. Tiba-tiba Baekhyun menabrak seseorang di belakangnya.

Baekhyun tidak berani menoleh. Ia takut orang yang ditubruknya adalah teman pria itu.

"Ia tidak sendirian. Ia bersamaku."

Baekhyun sangat lega mendengar suara Chanyeol.

"Baiklah," kata pria bertubuh besar itu, "Hati-hati menjaga dia. Banyak pria bermata jalang di tempat ini."

"Tentu."

Setelah pria itu pergi Baekhyun baru berani membalikkan badan. Baekhyun memeluk Chanyeol. Tubuhnya bergetar ketakutan.

"Tidak perlu takut. Ia adalah kepala desa Zerupt. Setiap kali ada pesta besar, ia selalu berkeliling dengan wajahnya yang seram itu."

"Ia membuat saya sangat ketakutan."

"Itulah gunanya wajahnya yang seram. Untuk menakuti gadis nakal sepertimu," goda Chanyeol.

Baekhyun mengangkat wajahnya. "Lebih cocok untuk menakuti Anda yang jahat," Baekhyun balas menggoda.

Chanyeol tertawa. "Jangan marah. Sebagai permintaan maafku, kuberikan ini khusus untukmu."

Baekhyun terkejut melihat rangkaian bunga mawar putih di tangan Chanyeol.

Chanyeol tersenyum lembut.

Baekhyun mencium wangi bunga itu. "Terima kasih, Chanyeol. Anda membuat saya gembira."

"Aku ingin terus membahagiakanmu," gumam Chanyeol kemudian mencium dahi Baekhyun.

Wajah Baekhyun memerah menatap Chanyeol.

"Mari kita berjalan lagi."

Baekhyun merangkul bunga mawarnya dan berjalan di sisi Chanyeol.

"Sup jagung! Sup jagung!"

Chanyeol berhenti. "Engkau ingin mencobanya?"

Baekhyun menatap Chanyeol.

"Rasanya sangat enak. Engkau pasti akan menyukainya." Chanyeol membawa Baekhyun ke tempat wanita yang meneru-nyerukan dagangannya itu.

"Kami beli dua mangkuk," kata Chanyeol.

"Baik, Tuan."

Wanita itu segera menyajikan dua mangkuk supnya yang masih panas.

Baekhyun menatap sup yang kuning itu. Ia belum pernah melihat masakan semacam ini. Baekhyun menatap Chanyeol.

"Hati-hati sup ini sangat panas."

Baekhyun mengambil sesendok sup itu dan meniupnya sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya.

Kehangatan sup itu memenuhi seluruh tubuh Baekhyun . Seluruh pori-pori Baekhyun terasa sangat hangat. Dalam dadanya terasa sesuatu yang hangat mengalir turun.

"Seperti minum susu jagung tetapi rasanya lebih enak," kata Baekhyun kepada wanita itu.

"Tentu saja, Nona. Ini adalah makanan khas kami di musim dingin. Di setiap pesta musim dingin, saya selalu menjualnya."

Baekhyun menyukai sup itu tetapi ia tidak sanggup menghabiskannya. Baekhyun tidak sedang berselera makan. Selama ia sakit, selera makannya turun. Sehari-hari ia makan sedikit. Sekarang ia makan lebih sedikit lagi.

Chanyeol memperhatikannya seolah ingin mengatakan tidak baik meninggalkan sisa. Sang wanita penjual tidak akan senang melihat pembelinya tidak menghabiskan makanan yang dipujinya.

Perlahan-lahan Baekhyun menghabiskan sup itu.

Sesaat kemudian mereka meninggalkan wanita itu dan berjalan-jalan kembali.

Chanyeol terus membawa Baekhyun berkeliling sambil sesekali berhenti melihat keramaian. Chanyeol membuat Baekhyun sangat bahagia.

Tak terasa hari sudah malam. Langit sudah gelap ketika Chanyeol menyadari betapa lamanya mereka berada di Zerupt.

"Sebaiknya kita kembali sekarang."

Baekhyun melihat kekhawatiran Chanyeol. "Saya tidak ingin membuat orang lain mengkhawatirkan kita."

Chanyeol menarik Baekhyun merapat.

"Apakah kita akan berjalan pulang?" tanya Baekhyun penuh harap.

"Tidak, aku tidak ingin engkau sakit," kata Chanyeol tegas.

"Saya ingin sekali berjalan pulang," bujuk Baekhyun dengan manis, "Saya sangat menginginkannya."

"Bagaimana kalau engkau jatuh sakit lagi?" tanya Chanyeol, "Udara semakin dingin."

"Tidak," bantah Baekhyun tetapi gadis itu menggosok-gosokkan tangannya.

Chanyeol tersenyum. "Benarkah?" tanyanya tak percaya.

"Sewaktu Anda berada di sisi saya, saya merasa hangat."

Tiba-tiba raut gembira Chanyeol menghilang.

"Apakah saya mengucapkan sesuatu yang salah, Chanyeol?" Baekhyun kebingungan.

"Tidak," Chanyeol mengelak, "Mari kita pulang."

Baekhyun merasa tidak enak. Sepanjang jalan itu mereka sama-sama berdiam diri.

"Chanyeol," panggil Baekhyun lembut.

" Ada apa?"

"Apakah yang membuat Anda risau?" tanya Baekhyun, "Apakah saya membuat Anda sedih?"

"Tidak, Baekhyun . Tidak ada yang merisaukanku."

"Saya melihat Anda sedang memikirkan sesuatu. Apakah Paduka Raja marah karena Anda meninggalkan pekerjaan Anda?"

"Tidak."

"Apakah…" Baekhyun memberanikan diri, "Anda merasa tidak enak karena hal itu?"

"Hal apa?" tanya Chanyeol lembut.

"Anda mengatakan banyak hal tentang kakak saya kepada saya."

"Ya," Chanyeol akhirnya mengakui, "Antara lain itu yang kupikirkan. Aku merasa sangat menyesal telah mengatakannya."

"Tidak, Chanyeol," Baekhyun menggeleng, "Sebagian besar dari yang Anda katakan itu benar. Xiumin adalah gadis yang manja. Luhan adalah gadis yang cerewet. Itu semua benar. Juga tentang kakak-kakak saya yang lain."

"Tetapi aku sangat salah menilaimu."

"Tidak," bantah Baekhyun, "Sebagian yang Anda katakan benar. Saya menyadari saya sangat sombong dan angkuh. Saya tidak mau memenuhi panggilan Ratu juga tidak mau menghadiri pesta orang-orang yang telah mengundang saya."

"Tetapi engkau mempunyai alasan yang tepat."

"Karena saya menghindari laki-laki yang mengejar saya?" tanya Baekhyun .

"Aku mengerti mengapa engkau melakukannya."

"Mengapa Anda membenci para wanita kecuali saya?" tanya Baekhyun tiba-tiba.

Chanyeol tidak menjawab.

Baekhyun berharap mendengarnya langsung dari Chanyeol tetapi sepertinya harapan itu terlalu tinggi.

.

.

.

Keesokan harinya Baekhyun terus memikirkan sikap Chanyeol.

Tidak ada sikap Chanyeol yang aneh pada mulanya tetapi semakin lama Chanyeol terlihat semakin risau. Semakin lama bersamanya, Chanyeol semakin muram. Baekhyun tidak tahu apa kesalahannya. Sepanjang malam kemarin ia telah membujuk Chanyeol untuk menceritakannya padanya tetapi Chanyeol tetap bersikeras berkata tidak ada apa-apa.

Perjalanan kemarin malam sangat membahagiakan Baekhyun .

Chanyeol berkata akan menyewa kereta tetapi ia tidak melakukannya.

Tidak ada kereta yang berjalan saat itu. Semua orang sibuk menikmati pesta Zerupt. Dengan terpaksa, Chanyeol menuruti keinginan Baekhyun. Tentu saja yang paling bahagia dengan keputusan itu adalah Baekhyun .

Chanyeol menarik Baekhyun merapat dan berjalan perlahan-lahan.

Walaupun hari telah gelap dan jalan-jalan semakin gelap, Baekhyun tidak takut. Ia merasakan perlindungan dari Chanyeol. Baekhyun tidak merasa kedinginan. Tubuh Chanyeol yang hangat menyelimutinya.

Baekhyun sangat bahagia hingga tidak menyadari mereka telah tiba di Istana Ruethpool.

Para pelayan telah menanti mereka dengan cemas.

Begitu mereka memasuki Istana, Chanyeol memerintahkan pelayan untuk membawa Baekhyun ke tempat tidur. Katanya, Baekhyun sudah lelah dan harus beristirahat.

Baekhyun tidak membantah. Ia menurut ketika para pelayan mengajaknya kembali ke kamarnya di tingkat atas.

Sebelum tidur, Chanyeol mampir ke tempat Baekhyun untuk mengucapkan selamat malam. Chanyeol meninggalkan kecupan di dahi Baekhyun sebelum meninggalkan gadis itu.

"Orang suruhanku baru tiba," kata Chanyeol, "Ia mengatakan Suho baru bisa datang besok."

"Bolehkah saya bermain di luar?"

"Bermain apa!? Engkau ingin sakit!?"

"Tetapi saya sudah sembuh," bantah Baekhyun . "Saya sangat ingin bermain di luar."

"Sekali aku memberimu ijin, engkau terus memaksa."

"Sekarang masih siang. Matahari akan membuat saya merasa hangat."

"Sekarang mengertilah aku mengapa Earl tidak bisa menolak bujukanmu. Engkau sungguh membuat tiap orang menurutimu."

Baekhyun tersenyum bahagia. "Terima kasih, Chanyeol."

"Aku belum memberimu ijin."

"Tetapi saya yakin Anda akan mengijinkan saya."

"Dasar anak nakal," gerutu Chanyeol. "Kenakan baju yang tebal. Aku akan menantimu di bawah."

"Tentu," Baekhyun melompat turun dari tempat tidur.

Chanyeol memanggil pelayan untuk membantu Baekhyun kemudian ia mengambil mantelnya sendiri.

Chanyeol tidak perlu menanti lama. Sesaat setelah ia tiba di depan pintu, Baekhyun muncul dengan wajah cerianya.

Siang itu Chanyeol membawa Baekhyun berkeliling.

Baekhyun sangat gembira ketika melihat Istana Ruethpool berdiri di tepi sebuah danau yang luas. Permukaan danau yang tertutup es berkilau-kilau seperti permata emas. Di sekitarnya terlihat hutan putih.

"Indah sekali!" seru Baekhyun. "Saya ingin terus berada di sini."

"Dan sakit?" tambah Chanyeol.

Baekhyun menatap Chanyeol. Ia tahu Chanyeol mencemaskannya. Baekhyun membungkuk mengambil segumpal salju dan melemparkannya pada Chanyeol.

Chanyeol terkejut. Ia tidak sempat menghindar.

Baekhyun tertawa gembira. Sejak ia melihat salju putih, inilah yang ingin dilakukannya. Biasanya di musim dingin, ia selalu bermain salju bersama anak-anak.

Sekarang ia tidak mempunyai kawan selain Chanyeol.

Chanyeol membalas perbuatan Baekhyun.

Baekhyun tetap tertawa gembira walau ia terkena lemparan Chanyeol.

Sambil menghindari lemparan Chanyeol, Baekhyun membalas serangan Chanyeol.

Chanyeol senang melihat tawa Baekhyun. Saat ini Baekhyun bisa melupakan kesedihannya akan Sehun tetapi hingga kapan?

Baekhyun kesal.

Setiap lemparan Chanyeol selalu bisa mengenai Baekhyun tetapi Baekhyun sukar mengenai Chanyeol. Dengan gesitnya, Chanyeol selalu menghindari lemparan Baekhyun.

Mereka berdua bermain seperti dua anak kecil.

Tiba-tiba Baekhyun menjerit kaget. Ia jatuh terperosok di antara salju yang dingin.

"Baekhyun!" seru Chanyeol panik. Chanyeol mendekati Baekhyun. "Engkau tidak apa-apa?"

Baekhyun tersenyum licik. Tiba-tiba ia melemparkan bola salju di wajah Chanyeol. "Kena," katanya gembira.

"Anak nakal," geram Chanyeol sambil mencengkal tangan Baekhyun.

Baekhyun tertawa. Batuk Baekhyun yang mulai mereda tiba-tiba muncul lagi.

"Itu adalah hukuman untuk anak nakal."

Batuk Baekhyun tidak mau berhenti. Chanyeol mulai cemas.

"Engkau baik-baik saja?"

Baekhyun mengangguk dan berusaha menghentikan batuknya.

"Kita akan kembali. Engkau mulai sakit lagi." Chanyeol sudah siap mengangkat Baekhyun ketika Baekhyun memegang tangan Chanyeol.

"Tidak," katanya sambil menggelengkan kepala. "Saya ingin bermain di sini."

"Engkau akan sakit lagi," bujuk Chanyeol, "Kalau engkau tidak segera sembuh, aku tidak akan segera memulangkanmu."

"Saya tidak ingin pulang!"

Chanyeol terdiam.

"Saya tidak akan pulang sebelum mengetahui apa yang merisaukan Anda. Saya tidak ingin mengembalikan Anda pada Evangellynn dalam keadaan seperti ini."

"Aku tidak apa-apa."

"Anda sedang memikirkan sesuatu yang sangat membebani pikiran Anda. Apapun itu, saya tahu Anda tersiksa olehnya."

"Besok lusa Suho akan datang memeriksamu. Bila ia mengatakan keadaanmu sudah baik, aku akan mengantarmu pulang." Chanyeol mengacuhkan kata-kata Baekhyun.

"Apakah saya yang membuat Anda risau?"

"Tidak, Baekhyun," elak Chanyeol, "Engkau ingin mengetahui bagaimana Luhan dan Sehun, bukan?"

"Saya sangat ingin mengetahuinya tetapi tidak lebih penting dari mengetahui apa yang merisaukan Anda."

"Tidak ada yang merisaukanku, Baekhyun. Tidak ada."

"Saya sangat sedih, Chanyeol," Baekhyun mengakui, "Saya sedih Anda tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada saya."

"Engkau terlalu perhatian, Baekhyun. Aku sungguh tidak apa-apa. Aku akan segera mengantarkanmu pulang."

"Apakah Anda tidak menyukai saya?" tanya Baekhyun mengejutkan Chanyeol. "Mengapa Anda sangat ingin mengusir saya?"

"Aku tidak ingin mengusirmu tetapi keluargamu pasti telah mencemaskanmu."

"Bukankah Anda telah memberitahu mereka di mana saya?"

"Tidak, Baekhyun. Waktu itu aku begitu tergesa-gesa sehingga aku terpaksa mengatakannya padamu. Saat itu aku berpikir untuk mengirim orang dari sini tetapi hingga saat ini aku lupa melakukannya."

"Saya telah banyak merepotkan Anda. Pantas saja Anda tidak menyukai saya."

"Aku tidak membencimu."

"Tetapi Anda tidak pernah senang melihat saya. Tidak akhir-akhir ini. Saya yakin ada yang merisaukan Anda. Pas…"

Batuk Baekhyun muncul lagi.

"Kita kembali sekarang," Chanyeol memutuskan dengan tegas.

Baekhyun menahan tangan Chanyeol dan menggelengkan kepala. "Sa… saya… ti… dak… mm…a…u…"

Baekhyun berusaha keras menghentikan batuknya. "Tidak setelah Anda mengatakan apa yang merisaukan Anda."

Chanyeol bersikeras tidak mau memberitahu.

Baekhyun merasa sangat sedih. Apakah Chanyeol menyesal telah membawanya ke sini? Apakah Chanyeol merasa telah dibodohi olehnya?

Apakah Chanyeol menyesali semua ini? Mungkinkah Chanyeol membencinya seperti ia membenci para wanita yang lain?

Benar, pasti karena itu. Bukankah Chanyeol tidak pernah menyukai para Pelangi Evangellynn termasuk dirinya. Bukankah Chanyeol pernah bersumpah tidak mau berhubungan dengan Pelangi Evangellynn.

Bila bukan karena ia adalah orang yang banyak berjasa bagi Evangellynn, Chanyeol tidak akan mau bersusah payah seperti ini.

Air mata Baekhyun meleleh.

Chanyeol terkejut. "Ada apa, Baekhyun? Apa yang membuatmu sedih?"

"Anda," jawab Baekhyun, "Anda membenci saya, bukan?"

"Tidak, Baekhyun," kekerasan hati Chanyeol luluh melihat sinar sedih itu.

"Bagaimana aku bisa membencimu kalau aku sangat mencintaimu? Katakan padaku, Baekhyun."

Baekhyun membelalak kaget.

"Aku sangat mencintaimu dan aku cemburu pada Sehun. Itulah yang membuatku risau akhir-akhir ini. Aku selalu berpikir hingga kapankah aku bisa membuatmu melupakan pria itu."

Baekhyun terpana.

"Tidak pernah ada apa-apa di antara saya dan Sehun. Saya tidak pernah mencintai Sehun lebih dari kasih sayang adik kepada kakak. Sejak dulu Sehun mencintai Luhan tetapi ia tidak berani mengakuinya. Sehun mencintai saya juga tetapi sebagai adik. Sebagai kakak, ia selalu merasa harus melindungi saya. Saya tahu ia lebih dekat dengan saya daripada kakak-kakak saya yang lain. Saya tahu Luhan selalu merasa cemburu pada saya karena Luhan juga mencintai Sehun. Bagaimana saya bisa mengganggu mereka? Saya berusaha menyatukan mereka."

"Sepertinya Anda tidak pernah mempercayai apa yang saya katakan," kata Baekhyun sedih.

"Maafkan aku," Chanyeol menyesal, "Aku mempercayaimu tetapi rasanya sukar bagiku untuk mempercayai bahwa gadis secantik engkau tidak mempunyai kekasih."

"Saya tidak dapat mencintai seorang laki-lakipun sejak saya jatuh cinta pada seorang lelaki. Sejak kecil saya mencintainya dan saya tidak pernah melupakannya."

Baekhyun melihat kecemburuan di mata gelap Chanyeol. Tiba-tiba saja Baekhyun ingin mempermainkan Chanyeol sebelum mengatakan semuanya.

"Sekali saya bertemu dengannya tetapi sejak itu saya tidak dapat melupakannya. Saya sangat mencintainya hingga tidak dapat melihat lelaki yang lain."

Rahang Chanyeol mengeras.

"Dia adalah laki-laki yang sangat tampan. Banyak gadis yang mencintainya dan berharap menjadi istrinya. Tetapi ia tidak pernah memperhatikan mereka."

"Siapa dia?" tanya Chanyeol tidak sabar.

Baekhyun tahu Chanyeol sudah siap meledak karena cemburu. Ia memutuskan untuk menghentikan permainannya. Baekhyun tidak mau Chanyeol marah padanya.

"Pria itu sekarang menatap saya," jawab Baekhyun.

Chanyeol menatap Baekhyun.

"Apakah Anda percaya bila saya mengatakan saya mencintai Anda sejak masih kanak-kanak?"

"Apakah aku pernah bertemu denganmu waktu engkau masih kecil?"

"Anda pasti telah melupakannya. Anda menabrak saya ketika menghindari kejaran para gadis."

"Aku tidak dapat mengingatnya," Chanyeol mengeluh. Chanyeol berbaring di atas es seperti Baekhyun.

Chanyeol menatap Baekhyun. "Engkau membuatku sangat bahagia, Baekhyun. Engkau telah melelehkan keangkuhan hatiku dan aku telah terjerat olehmu tetapi aku tidak ingin melepaskan diri. Aku ingin semakin menjeratkan diri padamu dan menjeratmu."

"Saya merasa hati saya telah terjerat oleh Anda sejak saya lahir."

"Kalau engkau mencintaiku sejak dulu, mengapa engkau menolak bertemu denganku? Mengapa engkau menolak lamaran itu?"

Akhirnya Chanyeol menanyakannya. Baekhyun mulai berpikir untuk mengatakan semuanya ketika Chanyeol bertanya.

"Pertama-tama karena saya tahu Anda sangat membenci wanita. Anda sama sekali tidak tertarik untuk jatuh cinta pada seorang wanitapun. Kedua saya tidak ingin menjajakan diri saya pada Anda."

"Menjajakan?"

"Itulah istilah saya. Saya merasa seperti barang dagangan yang akan dipamerkan kepada pembeli ketika Ratu mengundang saya. Saya tidak menyukainya. Saya tahu Anda juga tidak akan menyukainya. Daripada membuat saya dan Anda sama-sama tersiksa, lebih baik saya pergi ke tempat yang lebih menyenangkan."

"Jadi, itu pikiranmu waktu itu," gumam Chanyeol, "Sekarang apa yang akan kaulakukan bila hal yang sama terjadi."

"Hal seperti itu tidak akan terjadi lagi. Tidak akan sampai Ratu memaksa Anda untuk menemui saya."

"Tidak, bukan itu yang kumaksudkan. Aku sendiri yakin tidak perlu mencarimu dengan susah payah untuk menemuimu. Yang kumaksud adalah apa yang akan kaulakukan bila aku melamarmu?"

Baekhyun bingung. Wajahnya memerah.

"Sejak dulu aku ingin melakukan ini ketika wajahmu memerah."

Chanyeol mencium pipi Baekhyun yang memerah.

Tiba-tiba Chanyeol menarik kepalanya dengan kaget. Ketika bibirnya menyentuh pipi Baekhyun, ia merasakan panas. Chanyeol mengulurkan tangannya menyentuh dahi Baekhyun.

"Ya, Tuhan. Panasmu naik lagi," Chanyeol terkejut, "Aku begitu ceroboh membiarkanmu berbaring di atas es."

Chanyeol berdiri dan mengangkat Baekhyun. "Kali ini tanpa protes. Engkau harus kembali ke kamar."

Baekhyun patuh. Ia melingkarkan tangan di leher Chanyeol dan membaringkan kepala di pundak Chanyeol dengan mesra.

"Ada apa? Engkau merasa pusing?"

"Tidak, Chanyeol. Saya merasa lelah."

"Tentu saja. Engkau telah berlari-lari sepanjang siang ini dan tidur di es yang dingin. Aku juga bersalah dengan mudahnya luluh pada bujukanmu yang menggoda."

Baekhyun tertawa senang. "Kalau saya tidak membujuk Anda, saya akan merasa sangat jenuh di ruangan itu. Saya juga ingin berjalan-jalan di sekitar Istana."

"Aku akan membawamu kalau engkau sudah sembuh."

"Saya akan menagihnya kalau saya sudah sembuh." Batuk Baekhyun kambuh lagi.

Chanyeol mempercepat langkahnya.

Dalam waktu singkat Baekhyun telah berbaring di tempat tidurnya yang empuk dan berselimutkan selimut yang sangat tebal. Baekhyun tidak tahu berapa lapis selimut di atasnya itu tetapi ia merasa kepanasan. Api perapian yang membara terus memanaskan ruangan.

Chanyeol begitu khawatir padanya.

Baekhyun merasa bahagia mendapatkan perhatian Chanyeol.

"Tidurlah," bisik Chanyeol lalu mencium bibir Baekhyun.

Wajah Baekhyun memerah. Matanya perlahan-lahan menutup karena pengaruh obatnya yang mengandung obat tidur. Bibirnya melekuk membentuk senyum yang paling indah yang pernah dilihat Chanyeol.

.

.

.

"Di mana anak itu?" geram Raja.

Sudah hampir sebulan lamanya Chanyeol meninggalkan Istana Welyn tanpa memberitahu keberadaannya.

Ratu sangat mencemaskan keadaannya. Ratu takut karena patah hati setelah lamarannya ditolak Baekhyun, Chanyeol melakukan sesuatu yang mencelakakan dirinya. Setiap hari Ratu takut mendengar berita ditemukannya Chanyeol dalam keadaan tewas.

Akhirnya Raja mendengar bahwa Chanyeol berada di Istana Ruethpool.

Segera Ratu memutuskan untuk pergi menyusul putranya. Ratu ingin menasehati Chanyeol untuk melupakan kesedihannya. Ratu ingin menyadarkan Chanyeol bahwa masih banyak wanita lain di dunia ini yang lebih pantas untuknya.

Raja dan Ratu langsung berangkat setelah mempersiapkan segalanya.

"Pangeran sedang pergi ke danau, Paduka," jawab pelayan.

"Oh, Tuhan. Apa yang dilakukannya di sana?" tanya Ratu cemas. "Kita segera ke sana. Aku khawatir ia melakukan sesuatu yang bodoh di sana."

Raja dan Ratu berjalan tergesa-gesa ke tepi danau.

"Danau ini sangat luas. Di manakah ia berada?" tanya Ratu cemas. "Kita harus segera menemukannya sebelum ia bertindak bodoh."

"Kita berpencar. Engkau ke timur, aku ke barat."

Ratu bergegas mencari putranya. "Chanyeol!" panggilnya.

Raja juga menelusuri tepi danau.

Tiba-tiba terdengar tawa riang seorang gadis ketika mereka tiba di sana. Belum hilang keheranan Raja ketika seorang gadis muncul dari semak-semak dan menabraknya.

"Hati-hati!" Raja menahan gadis itu.

Baekhyun terkejut. Ia menatap Raja. "Oh, maafkan saya, Paduka."

Raja tertegun melihat Baekhyun.

"Mau ke mana engkau?" terdengar seruan yang lain. Bersamaan dengan itu sebuah bola salju jatuh di wajah Raja.

"Chanyeol!"

Chanyeol tertegun.

Baekhyun mengangkat tangannya menyeka wajah Raja. "Maafkan kami, Paduka. Kami tidak bermaksud mengenai Anda."

"Juga jangan Anda marahi Chanyeol, Paduka," pinta Baekhyun, "Chanyeol meninggalkan Istana karena ia ingin membantu saya memulihkan kesehatan saya."

"Rupanya engkau menghilang ke sini bersama putraku untuk memulihkan kesehatan. Bukan ke tempat yang tak diketahui untuk menghindari pria-pria yang terus mengirimimu hadiah, seperti kata kakak-kakakmu."

"Benar," Baekhyun membenarkan.

Raja menatap Chanyeol. Sedikitpun tidak ada kesedihan di wajah Chanyeol. Yang ada hanya kegembiraan.

"Engkau telah membuat putraku sangat bahagia. Engkau patut mendapatkan hadiah."

Raja menunduk hendak mencium dahi Baekhyun.

Tiba-tiba Chanyeol menarik Baekhyun.

Raja terkejut ketika menyadari Baekhyun sudah tidak ada di dalam pelukannya lagi.

"Orang tua tidak tahu diri!" terdengar seruan marah Ratu, "Sudah tua masih ingin merebut kekasih putranya."

"Aku hanya ingin memberinya ciuman kasih sayang."

Ratu membuang muka.

Baekhyun menahan tawa gelinya. "Mereka seperti anak kecil," bisiknya pada Chanyeol.

Rupanya Raja dan Ratu mendengarnya karena seketika itu juga mereka menatapnya.

Baekhyun bersembunyi di belakang Chanyeol. Ia takut melihat tatapan tajam Raja dan Ratu.

Kedua orang tua itu menatap Chanyeol lalu Baekhyun. Keduanya tampak sangat bahagia.

"Kupikir engkau bunuh diri tetapi rupanya engkau sedang bersenang-senang," kata Ratu kesal tetapi dalam hati ia bahagia.

Ratu tidak dapat menutupi kebahagiaannya melihat putranya dan Baekhyun.

"Jadi, apakah ini berarti akan ada berita yang menggembirakan?" tanya Raja.

Chanyeol menatap wajah Baekhyun yang memerah. Chanyeol mengulurkan tangannya ke dahi Baekhyun. "Kita harus kembali sebelum engkau sakit lagi."

"Bagaimana keadaanmu, Baekhyun?" tanya Ratu penuh perhatian,

"Kudengar engkau sakit. Apakah engkau sudah menemui dokter?"

"Aku telah memanggil Suho," lapor Chanyeol, "Ia mengatakan keadaan Baekhyun sudah membaik tetapi ia harus menjaga diri selama bulan ini. Bulan ini akan menjadi musim dingin yang sangat dingin. Ia khawatir sakit Baekhyun kambuh lagi."

"Lebih baik kita masuk ke dalam dan menghangatkan diri. Jangan sampai engkau sakit lagi."

"Ayo, Baekhyun," Chanyeol mengulurkan tangannya. Baekhyun memeluk tangan itu dan berjalan di samping Chanyeol. "Kalau engkau lelah, katakan padaku."

Baekhyun mengangguk.

"Aku iri pada mereka," gumam Ratu di belakang Chanyeol dan Baekhyun, "Andai aku masih muda."

"Kita juga bisa seperti mereka," Raja membuka sikunya.

Ratu tersenyum dan memasukkan tangannya di siku Raja dan berjalan mengiringi putra mereka.

Pelayan segera menyiapkan minuman hangat untuk mereka di Ruang Duduk.

Seperti biasa, Chanyeol memaksa Baekhyun duduk di dekat perapian di atas karpet hijau tebal. Lalu Chanyeol duduk di samping Baekhyun.

"Kapan kami akan mendengar berita yang membahagiakan itu?" tanya

Ratu memecah kesunyian.

"Mengapa Mama tidak menginap di sini untuk beberapa hari?" Chanyeol balas bertanya.

"Baiklah, aku akan menginap di sini sampai aku mendapatkan apa yang kuinginkan."

Baekhyun batuk-batuk.

Chanyeol segera menepuk punggung Baekhyun.

"Beri dia minuman yang hangat."

"Tidak perlu. Sekarang sudah waktunya dia minum obat dan tidur."

"Chanyeol membuat saya tidur tiga kali dalam sehari," lapor Baekhyun, "Seperti waktu makan saja."

"Itu demi kebaikkanmu," Chanyeol mengangkat Baekhyun. Kepada kedua orang tuanya, Chanyeol berkata, "Aku akan membawa Baekhyun ke kamarnya."

Selepas kepergian mereka, Ratu bertanya pada pelayan. "Selama mereka berada di sini, apa saja yang mereka lakukan?"

"Tidak ada, Paduka. Pangeran sangat mencemaskan kesehatan Tuan Puteri sehingga ia melarang Tuan Puteri meninggalkan kamar. Hanya beberapa hari ini setelah keadaan Tuan Puteri membaik, setiap siang Pangeran mengajak Tuan Puteri berjalan-jalan di sekitar danau."

Ratu menatap Raja.

"Aku juga berharap ada berita gembira."

"Aku ingin menemui Baekhyun," Ratu bangkit. "Tunjukkan di mana kamar Baekhyun." Di dalam kamar, Chanyeol tengah menyuapkan obat Baekhyun.

"Setelah ini tidurlah. Sore nanti engkau akan merasa lebih baik."

"Saya tidak ingin tidur tetapi saya selalu merasa mengantuk setiap meminum obat. Pasti Anda menyuruh Suho memberikan obat tidur pada saya."

"Sebab engkau gadis yang keras kepala untuk beberapa hal terutama kalau sakit." Chanyeol membungkuk mencium bibir Baekhyun.

Tiba-tiba terdengar suara batuk Ratu.

Tanpa merasa bersalah, Chanyeol menatap ibunya yang sedang tersenyum penuh arti.

"Engkau tidak keberatan aku berbicara dengan kekasihmu?"

"Tidak selama tidak menganggu waktu tidurnya."

"Tentu," Ratu berjanji, "Aku akan pergi bila aku telah selesai."

"Kalau ia memaksamu, jangan mau. Ingat, turuti pesan dokter."

Baekhyun hanya tersenyum.

"Aku bersungguh-sungguh, sayang," Chanyeol mencium bibir Baekhyun lalu pergi. "Jangan lupa," bisik Chanyeol ketika melewati Ratu.

Ratu tersenyum melihat kepergian putranya lalu ia duduk di sisi Baekhyun.

Matanya memandang seluruh ruangan dengan jeli.

"Seumur hidup aku belum pernah melihat bunga mawar sebanyak ini di musim dingin."

Baekhyun tersenyum melihat rangkaian-rangkaian bunga mawar berbagai macam warna di seputar dinding kamar.

"Dari mana ia mendapatkannya?"

"Saya kurang tahu, Paduka. Setiap pagi Chanyeol membawakannya."

"Aku akan lebih senang bila engkau bersikap lebih akrab denganku. Tak lama lagi kita akan menjadi ibu dan anak."

"Bila hal itu telah terjadi, Paduka."

"Engkau berkata seperti engkau tidak mau menikah dengan Chanyeol," Ratu tidak senang, "Aku tidak dapat mengerti engkau. Dulu engkau menolak lamaran Chanyeol sekarang engkau begitu dekat dengannya. Apakah selamanya engkau tidak mau menikah dengan Chanyeol?"

"Anda salah menangkap maksud saya, Paduka. Saya mencintai Chanyeol. Sangat mencintainya sejak saya masih kecil."

"Masih kecil?" Ratu terkejut, "Apakah engkau pernah berjumpa dengannya sebelumnya?"

Baekhyun tersenyum penuh pengertian. Semua orang telah melupakan kejadian itu.

"Sewaktu saya masih anak-anak, ibu saya pernah membawa saya ke Istana. Anda menyuruh pelayan mengantar saya ke Ruang Kanak-Kanak untuk bermain dengan Chanyeol."

Ratu termenung.

"Kejadian itu telah berlangsung sekitar dua belas tahun lalu, saya tidak berani berharap Anda mengingatnya."

"Aku ingat!" sahut Ratu gembira, "Waktu itu aku meminta Countess datang karena telah begitu lama kami tidak bertemu. Countess datang dengan putri bungsunya dan itu adalah engkau."

"Aku ingat sekarang! Dulu aku memintamu bermain dengan Chanyeol sewaktu aku dan ibumu berbicara."

Baekhyun mengangguk.

"Kalau engkau telah mencintai Chanyeol sejak dulu, mengapa engkau menolak lamarannya?" tanya Ratu keheranan, "Kata orang tuamu engkau juga tidak tertarik untuk bertemu dengan Chanyeol. Mengapa, Baekhyun?"

"Jawabannya sangat mudah, Paduka. Saya tidak ingin menikah dengan orang yang jelas-jelas tidak tertarik untuk menikah. Saya juga tidak mau menikah dengan pria yang tidak mencintai saya."

"Terdengar sangat mudah tetapi sulit kupahami."

"Tidak terlalu sulit bila Anda memikirkan kesedihan Chanyeol bila Anda memaksanya menikahi gadis yang tidak Chanyeol cintai dan di saat Chanyeol tidak tertarik untuk menikah."

Ratu tersenyum. "Engkau ingin berkata penderitaan Chanyeol, bukan?"

Baekhyun tersenyum.

"Aku begitu senang engkau telah meluluhkan kekerasan hatinya. Aku sangat menantikan berita yang lebih menggembirakan dari ini."

Baekhyun mulai merasa mengantuk. Obat yang diminumnya telah bekerja.

"Tidurlah, anakku. Jangan sampai aku menganggu istirahatmu," Ratu mencium dahi Baekhyun yang mulai tertidur.

.

.

.

Baekhyun merasa bermimpi. Ia seperti mendengar bisik-bisik kakaknya.

"Lihatlah wajahnya yang semakin memerah."

"Aku ingin sekali mencubitnya."

"Aku lebih ingin memakan pipinya yang memerah seperti buah apel itu."

"Jangan ribut! Biarkan ia beristirahat."

"Aku akan menuntutnya bila ia terbangun."

"Kupikir ia sedang bersembunyi tetapi ia sedang bersenang-senang di sini."

Suara mereka semakin terdengar jelas. Baekhyun membuka matanya perlahan-lahan.

"Bangun juga engkau, putri tidur."

Mata hijau Baekhyun berkedip melihat wajah Krystal yang sangat dekat dengannya. Di belakang Krystal, tampak wajah-wajah kakaknya yang lain yang dengan penuh ingin tahu menatapnya lekat-lekat.

"Apa yang kalian lakukan di sini?"

Semua gadis itu berdiri tegak dan bertopang pinggang. "Begitukan sambutanmu?"

Baekhyun menatap mereka. Angin dingin yang memasuki ruangan membuatnya batuk-batuk.

"Kyungsoo!" Xiumin marah, "Sudah kukatakan engkau tidak boleh membuka jendela!"

"Udara di sini sangat panas," Kyungsoo membela dirinya.

Dengan kesal Luhan menutup jendela.

"Kalau Baekhyun sakit lagi, engkau tidak akan mendapatkan pengampunan!"

Mata Yixing bersinar kejam ketika memperingati.

"Maafkan aku, Baekhyun," Kyungsoo mengenggam tangan Baekhyun, "Jangan kau katakan yang kulakukan pada Chanyeol."

Baekhyun memandang kakak-kakaknya dengan bingung. "Mengapa kalian di sini?"

"Paduka Raja dan Ratu memanggil kami," jawab Tao, "Ia mengundang kita semua ke sini."

"Mama dan Papa juga datang!" sahut Krystal. "Kita semua berkumpul di sini!"

"Engkau sangat beruntung," Yixing memandang sekitar, "Chanyeol membawamu ke tempat yang sangat indah."

"Engkau membuat kami benar-benar menjadi penjaga pintu," keluh Tao, "Sepanjang hari kami harus berdiri di depan pintu dan menolak semua surat dan bunga yang dikirim untukmu."

"Semuanya sangat indah!" seru Kyungsoo kagum, "Engkau takkan melihat bunga sebanyak itu dan surat yang menggunung itu seumur hidup!"

Baekhyun tersenyum.

"Chanyeol sangat mencintaimu," sahut Xiumin, "Aku bisa melihatnya ketika ia menyebut namamu."

"Ceritakan apa saja yang kaulakukan di sini," desak Kyungsoo.

"Tidak ada," jawab Baekhyun.

"Jangan pelit!" Yixing cemberut, "Ceritakan pada kami."

"Benar, tidak ada," ulang Baekhyun, "Setiap hari aku hanya boleh berada di tempat tidur."

"Jangan bohong," Xiumin memperingati.

"Ia tidak bohong."

Gadis-gadis itu menoleh ke pintu.

"Aku melarangnya meninggalkan Istana sebelum ia sembuh benar,"

Chanyeol menegaskan.

Chanyeol duduk di sisi Baekhyun. "Bagaimana tidurmu?" tanyanya lembut.

"Sangat nyenyak."

"Ibuku tidak mengajakmu berbicara lama, bukan?"

"Tidak. Ratu hanya mengajak saya berbicara sebentar kemudian ia menyuruh saya tidur."

Chanyeol tersenyum puas lalu ia menoleh pada para gadis yang dengan tertarik menatap mereka. "Apakah kalian tidak ingin melihat matahari terbenam di danau saat musim dingin?"

Para gadis itu menoleh ke jendela.

"Belum terlambat kalau kalian pergi sekarang."

"Selamat sore, Chanyeol!" para gadis itu berlomba pergi.

Baekhyun menatap mereka dengan kebingungan.

"Kupikir aku salah menilai mereka. Aku harus belajar menyukai mereka walau akan membutuhkan waktu yang sangat lama."

"Saya akan membantu Anda."

"Engkau guru yang sangat baik," Chanyeol mencium Baekhyun, "Sejak mengenalmu, semua pandangan burukku kepada wanita menghilang. Dan sejak itu mataku selalu tertuju padamu."

Baekhyun membaringkan kepala di dada Chanyeol. "Bagaimana mereka bisa berada di sini?"

"Ibuku mengirim utusan ke Kastil Clypst untuk mengundang mereka datang. Agar semua orang bisa berbagi kebahagiaan, katanya."

"Mereka baru bertanya padaku kapan kita memutuskan untuk menikah."

"Saya menyerahkan keputusannya pada Anda, Chanyeol."

"Apakah itu berarti engkau setuju?"

"Saya sangat mencintai Anda. Saya sangat menginginkan menjadi istri Anda."

Chanyeol mempererat pelukannya. "Kita akan menikah secepatnya. Aku begitu takut engkau menjadi milik yang lain. Sejak awal bertemu denganmu, aku sangat takut kehilanganmu."

"Saya tidak akan pergi ke manapun tanpa Anda. Saya ingin selalu berada di sisi Anda."

Chanyeol mencium Baekhyun. Ia tidak ingat lagi kapan Baekhyun membuatnya sangat bahagia seperti ini. Setiap hari ia sangat bahagia bersama Baekhyun. Dulu Chanyeol cemburu pada pria yang mendapatkan gadis ini tetapi sekarang Chanyeol merasa sangat beruntung mendapatkan Baekhyun, gadis yang telah menjerat hatinya sejak awal.

"Sekarang dan selamanya engkau akan menjadi milikku yang paling kucintai," janji Chanyeol.

"Saya sangat bahagia."

"Aku harus meninggalkanmu," bisik Chanyeol, "Aku ingin engkau berdandan yang cantik untuk kemudian aku ajak berjalan-jalan."

Baekhyun membelalak senang.

Chanyeol mencium dahi Baekhyun lalu meninggalkannya.

Seperti janjinya, setelah pelayan mempersiapkan Baekhyun, Chanyeol mengajak gadis itu berjalan-jalan di sepanjang tepi danau.

Keluarga mereka yang lain telah berada di danau itu. Mereka bersenang-senang di sana.

Raja dan Ratu sedang berbicara dengan Earl dan Countess sambil mengawasi para gadis keluarga Kim Horthrouth. Para gadis itu saling melempar bola salju yang dingin.

Baekhyun hanya bisa melihat mereka. Chanyeol takkan mengijinkannya bermain bersama mereka ketika hari sudah malam seperti ini. Udara semakin dingin dan salju sangat dingin. Tubuh Baekhyun telah dibungkus oleh baju musim dingin yang tebal dan mantel bulu yang sangat tebal.

Chanyeol berdiri di sisi gadis itu.

"Mereka sangat bahagia."

"Aku pun bahagia bersamamu."

"Baekhyun!" akhirnya para gadis itu menyadari kehadiran Baekhyun.

Seketika para orang tua membalikkan badan.

"Baekhyun!" Countess mendekat dengan cemas, "Engkau tidak apa-apa keluar?"

"Jangan khawatir, Countess. Ia telah mengenakan baju hangat."

Chanyeol menarik Baekhyun mendekat.

Countess memandang mereka dengan tatapannya yang aneh.

Keenam kakak Baekhyun berlari mendekat. "Engkau mau bermain dengan kami?"

"Ia tidak boleh bermain dengan kalian sebelum ia benar-benar pulih," jawab Countess.

Para gadis itu kecewa.

"Bukankah Baekhyun sudah jauh lebih baik dari terakhir kali kami melihatnya?" protes Kyungsoo.

"Benar, Mama," sahut yang lain.

"Kata Suho, lebih baik menjauhkan dia dari udara dingin ini sampai musim ini benar-benar berlalu. Suho takut sakitnya akan kambuh lagi."

"Masuklah agar tidak sakit," sahut Ratu.

"Tidak apa-apa. Aku yang mengajaknya keluar."

"Berhati-hatilah. Jangan sampai ia kedinginan," timpal Raja.

Chanyeol menatap Baekhyun dan tersenyum. "Ia tidak akan kedinginan."

Mereka percaya pada Chanyeol dan meninggalkan Chanyeol untuk bersenang-senang lagi. Mereka tidak perlu takut akan Baekhyun sebab Chanyeol tidak mengijinkan gadis itu berlama-lama di luar.

Ketika hari mulai malam, Chanyeol membawa masuk gadis itu. Mereka berkumpul di Ruang Keluarga ketika Ratu kembali mengajukan pertanyaannya.

"Kapan berita gembira itu muncul?"

Chanyeol menatap Baekhyun. "Secepatnya tetapi kupikir Baekhyun akan lebih senang bila Luhan menikah dulu."

Kelima gadis yang lain membelalak pada Luhan.

"Dengan siapa?" desak mereka.

Wajah Luhan memerah. Ia menatap Baekhyun – berharap gadis itu mengantikannya menjawab pertanyaan itu tetapi Baekhyun membuang muka.

"D… dengan Sehun," jawab Luhan malu-malu.

"Sejak kapan?" tanya Countess terkejut, "Kupikir Sehun mencintaimu, Baekhyun."

"Mereka sepasang orang yang aneh," Baekhyun menerangkan, "Sehun sudah sejak dulu menyukai Luhan tetapi malah mendekatiku. Luhan juga sama. Ia mencintai Sehun tetapi mendesakku untuk mendekati Sehun."

Semua orang menatap wajah merah Luhan.

"Mengapa engkau tidak pernah mengatakannya pada kami?" tanya Xiumin.

"Kupikir kalian sudah tahu."

"Jahat sekali engkau! Engkau sudah tahu tetapi tidak mau memberitahu kami!" Kyungsoo marah.

Baekhyun tak merasa bersalah.

"Jadi, kapan kalian akan menikah, Luhan?"

"Saya belum tahu, Paduka Ratu. Sehun dan saya belum memutuskan."

"Sebaiknya secepatnya," desak Ratu, "Aku sudah tak sabar menjadi ibu mertua."

"Daripada menanti Luhan, bukankah lebih baik kalian cepat-cepat menikah?" tanya Raja, "Melihat kalian berdua sangat dekat seperti itu, aku yakin semua orang berpikir kalian sudah menikah."

Chanyeol hanya tersenyum – menanggapi pernyataan ayahnya.

"Bukankah lebih baik begini daripada ia direbut orang lain?" tangan Chanyeol meraih Baekhyun ke dalam dekapannya yang hangat.

Baekhyun memerah.

"Dalam satu keluarga selalu ada yang berbeda," ujar Ratu, "Tetapi Baekhyun ini benar-benar berbeda. Dasar gadis ketujuh."

Chanyeol menatap Baekhyun. Gadis itu tidak unik tetapi sempurna. Ia mencintai gadis itu dan selamanya tidak akan melepaskannya walau maut memisahkan mereka. Seumur hidupnya akan digunakan untuk mencintai gadis itu.

Baekhyun adalah gadis yang sangat dicintai Chanyeol. Kebaikkan hatinya yang lembut membawa kedamaian bagi seluruh rakyat. Dulu Chanyeol iri pada kerajaan yang memiliki putri ini. Sekarang Chanyeol merasa sangat beruntung.

Gadis yang dikaguminya akan menjadi Ratu di hatinya dan di hati rakyatnya.

Selamanya…

.

.

.

FINALLYYY END!

Yaap akuu memutuskan untuk menggabungkan kedua Chapter muehehe biar cepet selesaai^^

Terimakasih untuk semua yang sudah mengikuti dari chapter awal sampai chapter akhir~~~~

Thanks To:

Septianaditya1997, Chanbaekhunlove, Baeks06, Hanbyeol267, parkbaexh614, chanye00l, leeminoznurhayati, mandwa, pinkpurple94, along9, yousee, Iyyn21, BBH75, chanbyun0506, elfviliebe, geera, chocolatebyun, Sylph, Rainbow, babyce, BabyB, gray, baelight, Gianty581, nik4nik, Kim Zaa, ExoPlanet, Park Beichan, Rmsfxxo, Byun Ana, Light-B, misslah, Teolbee, fvirliani, Candyyy, Byun Nayeol, Sellin, 794, ryanryu, aizahputri, estyn48, erry-shi, Nijika, Sellinpart.2, BJJ268, narsih556, pucuk, Asmaul, ExoL123, Kazuma B'tomat, hun794, Chanchan, nev, annkg, Nur Safitri Shiners Exo-l, azurradeva, neu, Re-Panda68, guest. Dan kepada siders yang masih aja berkeliaran aku tunggu sampe kalian muncul ya hehehe^^^^

See you in the others ff remake^^^

Manyeolbae.