Annyeong...

Masih adakah yang mengingatku? Hehehehe mianhae karena lama updatenya. Soalnya akhir-akhir ini lebih suka maen game. Hountou ni Gomenasai...

Untuk Hyurin Cerry itu bukan kembaran Fia, tapi kembarannya Catty. Memang sengaja memasukkan banyak OC untuk mendukung jalannya cerita. Yang muncul dalam mimpi Hae memang Fia, karena suatu alasan tertentu. Lagipula Hae kan belum tahu siapa Marcus itu, hehehe. Maaf jika tidak berkenan, dan semoga mulai chapter ini bisa lebih fokus ke main chara.

Untuk semua reader terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. Aku sadar jika banyak kekurangan. Dan untuk yang menyempatkan review, terima kasih. *bow

Semoga chapter ini tidak mengecewakan

Present

HEART

Cast : Park Yunhee (OC), Cho Kyuhyun (SJ), Lee Donghae (SJ), Jung Mari (OC), Cerry Walker (OC) , and other

Rate : T

Genre : Friendship, Hurt (maybe)

Warning : Typo, OOC, Alur berantakan, Plot gak jelas, dan kekurangan yang lain

Disclaimer : Their belong to God, Their Parents, and Themselves

RnR

DLDR

Enjoy :)

Previous

"Kau memang yang terbaik Ryeowook-ssi" kata Yunhee setelah nyanyian Ryeowook selesai.

"Arigatou". Keheningan menemani mereka beberapa saat,hingga sebuah ingatan kembali menghampiri Yunhee.

"Apa kau baru pulang dari Jepang?" sebuah pertanyaan keluar dari bibir Yunhee guna memperkuat apa yang tadi sempat terlintas di benaknya.

"Eh, bagaimana kau tahu?"

"Apa kau juga berteman dengan Cho Kyuhyun?" pertanyaan Ryeowook kembali dibalas dengan pertanyaan oleh Yunhee.

"Huh? Ah...kau pasti salah satu teman Kyuhyun kan? Kau pasti Yunhee?" sebuah anggukan membuat namja itu sadar jika yeoja yang baru saja dihiburnya adalah salah satu yeoja yang sering menjadi topik pembicaraannya dengan teman evilnya. Dan mereka pun larut dalam pembicaraan tentang Kyuhyun.

"Dan apa kau mengenal Cerry?" kali ini Ryeowook tidak bisa tidak bertanya tentang yeoja yang hanya sekali dibahasnya dengan Kyuhyun. Yunhee jelas kaget dengan pertanyaan Ryeowook tentang Cerry. Tapi setelah dipikir-pikir, bukannya wajar jika Kyuhyun juga bercerita tentang Cerry kepada namja dihadapannya ini.

Chapter 14

"Tentu, dia salah satu sahabat Kyuhyun. Wae? Apa Kyuhyun tidak pernah bercerita tentangnya?"

"Just once, dan itu pun juga bukan cerita yang menarik. Apa kau tahu dimana dia sekarang?" hampir saja Yunhee mengatakan keberadaan Cerry, tapi dia merasa aneh saat mengetahui jika Kyuhyun hanya bercerita tentang Cerry sekali. Dia juga ingat, sejak pertemuannya dengan Cerry, yeoja itu hampir tidak pernah menyebut nama Kyuhyun ataupun Mari. Hanya Donghae satu-satunya yang sering mereka bahas.

"Entahlah, saat aku meninggalkan Korea, Cerry masih ada di negara ini. Apa Kyuhyun tidak tahu dimana sahabatnya itu? " sebuah gelengan di berikan Ryeowook atas pertanyaan yang terlontar. Keheningan kembali menemani keduanya. Mereka seolah berkelana dalam pikiran masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

"Huft...aku benar-benar penasaran dengan Cerry, kau tahu"

"Eh? Wae?"

"Don't know, aku hanya merasa jika yeoja itu penuh dengan misteri, hehehe"

"Kau benar. Aku yang mengenalnya saja, kadang masih dibuat bingung dengan tingkah dan ucapannya." Dan kedua manusia itu kembali larut dalam percakapan yang acak. Hingga akhirnya Ryeowook undur diri karena tidak mau membuat sang eomma cemas. Begitu juga dengan Yunhee. Perasaannya jauh lebih baik setelah berbicara banyak hal dengan namja imut itu.

Namja Lee itu juga belum terbangun dari tidur panjangnya. Sementara sang eomma masih keukeuh tidak mau membawa Yunhee ke hadapan putranya. Bahkan saran dokter untuk membawa rekaman suaranya saja tidak diindahkan. Yeoja paruh baya itu tetap tidak setuju jika sang putra berhubungan dengan yeoja yang tidak jelas seperti Yunhee. Baginya yang terbaik bagi putranya adalah Mari. Secara mereka berdua adalah sesama anak pengusaha.

Entah pikiran kolot itu datang dari mana. Padahal sang suami sama sekali tidak peduli dengan siapa anaknya menjalin hubungan. Asal mereka bahagia, dia juga akan bahagia. Bukankah kebahagiaan orangtua terletak pada kebahagiaan putra putrinya? Pertunangan Donghae dan Mari juga merupakan ide sang istri.

Taeyon juga masih mencoba membujuk sang eomma agar mau mempertemukan Yunhee dengan Donghae. Tapi usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Selain itu, Taeyon juga masih bingung bagaimana caranya agar bisa mengajak Yunhee ke rumah sakit. Pasalnya dia masih belum bertanya banyak hal kepada designer barunya itu. Setiap kali hendak bertanya, ada saja halangan yang membuatnya batal melakukan hal tersebut. Bahkan Suki, sahabatnya, sempat dibuat heran dengan tingkah Taeyon yang tidak seperti biasanya itu.

Seorang yeoja tengah memandangi sebuah kertas yang didapatnya bertahun-tahun yang lalu. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu ketika sebuah pikiran membuatnya melakukan hal yang membuatnya mendapatkan kertas itu. Hanya sang sahabat yang mengetahui keberadaan kertas itu. Bukan karena tidak disimpan dengan baik, hanya saja yeoja itu memang tidak pernah mampu menyembunyikan sesuatu terhadap sahabatnya yang satu itu.

Berita yang diteimanya dua hari yang lalu membuatnya kembali memikirkan sebuah rencana yang memang sejak dulu tertanam di otaknya. Hanya saja waktu itu ada sesuatu yang membuatnya membatalkan rencananya tersebut. Tapi kali ini rencana itu mungkin dapat segera terealisasikan. Tapi dia masih bingung bagaimana caranya menyampaikan keinginannya itu kepada sang sahabat. Selain itu keberadaan seseorang juga membuatnya ragu dengan keputusannya kali ini.

"Eomma, mom sudah menunggu kita. Hully..." seorang bocah memasuki kamar dan langsung menarik tangan sang yeoja guna segera beranjak.

"Apakah Bryan akan ikut bergabung dengan kita?" pertanyaan sang eomma membuat wajah bocah yang semula tampak bahagia langsung cemberut.

"Hn, actually i dislike if he join with us"

"But your mom's love him. Bukankah seharusnya kau bisa menerimanya sebagai 'Dad'?"

"No, i don't want to. Lagipula aku sudah menemukan 'Dad', hehehe"

"Really ? Who is he? Is your mom know about it?"

"Seclet. Oh c'mon eomma, i don't be late" sang bocah langsung keluar tanpa memberi tahu siapa 'Dad' yang dimaksud kepada yeoja yang telah melahirkannya. Dan sang eomma tampaknya tidak terlalu peduli dengan hal itu. Karena siapapun 'Dad' yang dianggap putranya pasti orang baik. Tanpa diketahuinya jika sang putra sedang melihat sebuah gambar di ruang keluarga.

"Someday we will meet 'Dad', aku jamin hal itu"

Hari itu sepulang dari kerja, Kyuhyun langsung melajukan mobilnya menuju sebuah tempat dimana sang sahabat bekerja. Dia sudah berjanji akan menjemputnya. Dan dia juga sudah berencana akan mengatakan sebuah hal yang bahkan keluarganya belum tahu. Dia berharap tindakannya itu bisa mendapat dukungan dari sang sahabat. Bukankah apa yang akan dilakukannya juga akan berpengaruh pada masa depan sang sahabat? Dengan pemikiran seperti itu, senyum Kyuhyun tidak bisa terlepas dari wajah tampannya.

Sesampai di depan Kiseki Boutique, Kyuhyun mendapati butik sang sepupu cukup ramai. Tapi pekerjaan sang sahabat sebagai designer tentu memiliki waktu jam kerja yang berbeda dengan pegawai yang lain. Setelah memarkirkan mobilnya, Kyuhyun langsung memasuki butik. Dia disambut dengan ramah oleh salah satu pegawai, dan tak lama kemudian netranya telah menemukan seseorang yang memang ingin dijemputnya.

"Kyuhyun-ah" sebuah suara membuat Kyuhyun mengalihkan pusat perhatiannya. Tak jauh darinya, sang sepupu terlihat hendak menghampirinya sebelum dihadang oleh salah satu pegawainya. Tapi tidak sampai memakan waktu yang lama hingga sang sepupu bisa mendatanginya.

"Noona, annyeong..."

"Annyeong, apa kau butuh sesuatu? "

"Ah, aniyo. Aku hanya ingin menjemput Yunhee. Bukankah waktu kerjanya sudah selesai?"

"Ne, apa kau akan membawanya ke rumah sakit?"

"Mollayo, aku rasa Lee ahjumma masih menjaga Donghae hyung dengan ketat. Jadi akan sangat berbahaya jika aku membawa Yunhee kesana"

"Kau benar. Aku sama sekali bingung dengan jalan pikiran eomma. Padahal ini semua demi Donghae." Keduanya terlibat pembicaraan kecil sebelum yeoja yang mereka bicarakan menghampiri. Setelah berbasa basi sebentar, Yunhee dan Kyuhyun mohon undur diri. Dan tak lama kemudian, Taeyon juga pulang. Karena hari ini yang bertugas menjaga butik adalah Suki.

Di dalam mobil belum ada pembicaraan yang terjadi. Baik Kyuhyun maupun Yunhee masih betah berkelana dengan pikiran mereka. Hanya suara lagu yang diputar yang menemani keduanya. Hingga pada akhirnya Yunhee memutuskan untuk memulai pembicaraan.

"Bagaimana keadaan Donghae oppa?" Yunhee sudah tahu kondisi namja itu, meski sampai detik ini dia belum juga memiliki kesempatan untuk membesuknya.

"Tidak ada yang berubah. Donghae hyung masih koma"

"Oh, i see"

"Tapi dua malam yang lalu dia mengigaukan namamu"

"Jinjjayo?"

"Ne, dan seseorang bernama Marcus. Apa kau mengenalnya?" hampir saja Yunhee berteriak kaget saat Kyuhyun mengucapkan sebuah nama yang memang sudah tidak asing baginya. Tapi bagaimana Donghae bisa tahu nama itu? Apa mungkin dia tahu jika Marcus adalah anak Cerry? banyak hal yang tiba-tiba masuk dalam pikirannya, hingga dia mengacuhkan keberadaan namja yang tepat berada disampingnya.

"Yunhee-ah, kau tahu sesuatu tentang Marcus?" kali ini Kyuhyun berharap jika sang sahabat mengenal orang dengan nama itu. Karena jauh di lubuk hatinya dia sangat penasaran dengan sosok Marcus.

"Eh? Aniyo, aku tidak tahu siapa Marcus. Mungkin saja dia adalah kenalan Donghae oppa" jawab Yunhee seraya berharap jika Kyuhyun tidak menyadari kegugupannya.

"Mungkin juga, tapi anehnya Donghae hyung mengucapkan nama itu setelah beberapa kali memanggil namamu."

"Hehehe, mungkin hanya sebuah kebetulan. Oh ya, beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan Ryeowook-sii. Bukankah dia temanmu saat di Jepang?"

"Ryeowook? Wookie? Bagaimana bisa?" pada akhirnya Yunhee menceritakan bagaimana dia bisa bertemu dan mengenal Ryeowook. Seorang namja manis pemilik suara yang indah. Dimana setiap kali pertemuan mereka, namja itu selalu membuat tenang perasaan Yunhee yang risau. Tentu saja dengan memperdengarkan suara indahnya itu.

Pada awalnya Yunhee sempat meragukan kemampuan namja itu, tapi setelah mengetahui kenyataannya, dia menjadi salah satu penggemar sang namja.

"Tidak hanya itu. Wookie juga sangat jago memasak. Dijamin masakannya jauh lebih enak dibanding masakanmu"

"Mwo ? Ah, aku tahu. Itu salah satu kenapa kau mau berteman dengannya bukan? Hihihihi " ujar Yunhee seraya meledek Kyuhyun dengan menaik turunkan alisnya.

"Hei..." "Hahahahaha" akhirnya mereka tertawa atas gurauan yang dilontarkan Yunhee. Karena pada dasarnya Yunhee tahu jika Kyuhyun tidak seburuk itu. Jika dia bisa berteman dengan seseorang, maka orang itu adalah seseorang yang spesial dimatanya.

Perjalan mereka cukup lancar. Meski memasuki jam sibuk, tapi tidak ada halangan yang berarti. Sehingga tak lama kemudian, mobil mereka sudah berada di depan rumah Yunhee.

"Mau mampir Kyu?" tawar Yunhee.

"Aniyo, aku mau mengunjungi Wookie setelah ini. Kau mau ikut?"

"May be next time, sampaikan salamku padanya"

"Okay, jaa..." setelahnya Kyuhyun menjalankan mobilnya ke rumah sahabatnya yang baru saja diketahui bahwa dia telah berada di Korea. Karena hanya berjarak beberapa blok dari rumah Yunhee, hanya butuh sepuluh menit bagi Kyuhyun untuk sampai di rumah Ryeowook. Namja tampan tersebut sudah bersiap untuk memencet bel ketika pintu dibuka dari dalam.

"Eh, Kyuhun? Apa yang kau lakukan di depan rumahku?" tanya seorang namja dengan polosnya.

"Aku mau menagih hutang " jawab Kyuhyun sedikit kesal. Karena temannya yang satu itu memang benar-benar terlewat polos, cenderung bodoh.

"Huh? Apa kau menjadi debt collector sepulang dari Jepang?"

"Yakkk...Wookie, aku kesini tentu saja ingin menemuimu baka" akhirnya Kyuhyun tidak bisa menahan rasa kesalnnya. Sementara namja di depannya hanya tertawa cekikikan karena berhasil menggoda temannya tersebut.

"Arraseo...arraseo...Masuklah. " akhirnya sang pemilik rumah mempersilahkan tamunya untuk masuk. Bahkan sepertinya dia lupa kenapa tadi dia keluar rumah. Mungkin dia merasakan kehadiran seorang teman yang cukup lama tak dijumpainya itu. Selain itu, Ryeowook juga merasa jika temannya itu ingin bercerita sesuatu. Itu sebabnya setelah membuatkan minuman untuk keduanya, namja manis itu langsung bertanya.

"Jadi, kenapa kau kesini Kyu?"

"Apa maksudmu? Tidak bolehkah aku berkunjung?"

"Bukan seperti itu. Hanya saja aku pikir ada sesuatu yang ingin kau ceritakan" Kyuhyun hanya bisa memandang wajah teman manisnya itu. Seakan dia ingin mengatakan sesuatu yang besar, tapi masih ragu-ragu. Dia melihat sekeliling sebelum kembali menghembuskan nafas besar. Sedangkan tidak sekalipun dia memandang mata lawan bicaranya.

"Ceritakan saja, lagipula aku sedang sendirian di rumah. Jadi tidak akan ada yang mendengar pembicaraan kita. Atau kau mau kita ke kamarku?" tawar Ryeowook.

"Kita ke kamarmu" akhirnya Kyuhyun berdiri dan diikuti Ryeowook. Mereka melangkah dalam diam. Warna ungu menjadi hal pertama yang terlihat saat mereka memasuki sebuah kamar paling ujung. Tidak hanya itu beberapa boneka jerapah juga terlihat sedikit memenuhi ranjang. Memaklumi kesukaan sang teman, Kyuhyun hanya memasuki ruangan itu tanpa banyak komentar.

Sebelum dia sampai di kursi yang terletak tak jauh dari jendela, dia bisa melihat sebuah foto. Di dalamnya terlihat seorang namja seumurannya yang terlihat sangat terpaksa untuk tersenyum. Disebelahnya ada seorang bocah berumur sekitar tiga tahun juga tampak tidak suka dengan pose yang dilakukannya.

"Siapa mereka?" tanya Kyuhyun. Dan Ryeowook yang kebetulan sudah menyamankan dirinya di ranjang, langsung duduk seraya memeluk salah satu boneka kesayangannya.

"Kim Kibum, dia sepupuku. Bukankah aku pernah bercerita tentangnya padamu?"

"Hn, lalu bocah disampingnya?"

"Marcus, dia anak kekasihnya"

"Eh...?" terlihat keterkejutan di wajah Kyuhyun mendenganr penuturan Wookie. Dan hal itu sukses membuat Ryeowook terkekeh. Pada akhirnya namja manis itu menjelaskan jika anak itu adalah anak dari sahabat kekasih Kibum. Dan entah kenapa, bocah itu memanggil kekasih Kibum sebagai Mom tapi sama sekali tidak mau memanggil Kibum dengan panggilan Dad. Bocah itu selalu bilang jika Kibum tidak pantas menjadai Dad baginya. Dan hal itu sukses membuat Kibum kesal dengan tingkah sang bocah. Mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu. Tapi jauh di lubuk hatinya Kibum sangat menyanyangi Marcus. Begitu pula sebaliknya.

"Dan dia sangat senang jika kami saling menyapa. Sepertinya dia langsung menyukaiku saat pertama kali kami berinteraksi. Dan itu sukses membuat Kibummie kesal."

"Kau bilang namanya Marcus?"

"Hmm...wae? Kau mengenalnya?"

"Iie... hanya saja beberapa waktu yang lalu Donghae hyung mengucapkan nama itu dalam komanya"

"Ah...Wakatta, bagaimana keadaan Donghae hyung saat ini?"

"Masih sama dengan kemarin. Tapi tak lama lagi dia akan hidup dengan lebih baik" pernyataan Kyuhyun tak ayal membuat Ryeowook mengernyitkan kening tak mengerti. Dan Kyuhyunpun menceritakan semua rencananya. Sementara Ryeowook sama sekali tidak bersuara selama Kyuhyun bicara. Tidak ada perdebatan seperti biasanya.

"Kau yakin? Apa kau sudah memikirkan semuanya? Lalu bagaimana dengan Cerry jika suatu saat nanti dia kembali ke Korea? Bagaimana dengan anak kalian?" pertanyaan bertubi dari Ryeowook sudah diprediksinya. Tapi pertanyaan terakhirnya sama sekali tidak pernah terlintas dipikirannya.

"Entahlah. Aku rasa Donghae hyung akan menyayanginya seperti dia menyayangiku dan Cerry"

"But your baby need you, not Donghae hyung"

"I don't think so. Mengingat sikapku selama ini"

"Kyu..."

"Aku akan tetap melakukannya. Bahkan seandainya keluargaku menolaknya. " tekad yang besar jelas terlihat di kedua mata namja tampan itu. Dan Ryeowook yang menyadari hal itu hanya bisa menghela nafas pasrah.

"Semoga keputusanmu tidak mengecewakan banyak pihak"

Tak lama setelah kepergian Kyuhyun, sebuah mobil terlihat berhenti di depan rumah Yunhee. Belum jelas siapa yang ada di balik kemudi, karena sepertinya orang itu masih tidak yakin dengan keputusan yang telah dibuatnya. Setelah cukup lama, akhirnya terlihat seorang yeoja keluar dari dalam mobil. Tampaknya kali ini dia sudah mantap dengan keputusannya.

Tak butuh waktu lama bagi sang tamu untuk bisa masuk. Seorang yeoja paruh baya dengan ramah mempersilahkannya masuk. Ini adalah pertama kalinya yeoja muda itu ke rumah Yunhee. Meski sudah berteman cukup lama dengan sang pemilik rumah, baru kali ini dia memiliki kesempatan untuk berkunjung. Bukan karena sombong atau apa, hanya saja dulu dia merasa tidak terlalu akrab dengan Yunhee. Bahkan masih ada sedikit rasa canggung saat merasakan keramahan yang ditawarkan oleh nyonya rumah.

"Jadi kau adalah teman Yunhee, benar?"

"Ne, ahjuma"

"Wow, aku benar-benar tidak menyangka jika Yunhee bisa mengenal seorang ballerina terkenal sepertimu Mari-ssi"

"Ini semua berkat Kyuhyun"

"Ah, aku mengenal namja itu. Dia adalah teman Yunhee sejak Junior High" dan dengan mudahnya kedua yeoja itu terlibat percakapan yang menarik.

*Yunhee Pov*

Aku memutuskan untuk langsung membersihkan diri setelah sampai di rumah, tidak seperti biasanya. Entah kenapa hari ini aku ingin berendam lebih lama. Fia juga sering berkata jika berendam bisa membuat kita lebih fresh. Baik itu tubuh maupun pikiran. Aku memang membutuhkan keduanya mengingat beberapa hari ini pikiranku dipenuhi dengan kecemasan tentang keadaan Donghae oppa.

Bukan hanya itu, pertemuanku dengan Ryeowook-ssi beberapa waktu yang lalu juga membuatku sedikit berpikir tentang kejanggalan sikap Kyuhyun. Namja itu sepertinya tidak bercerita banyak tentang Cerry kepada Ryeowook. Padahal dari apa yang kami bicarakan malam itu, Kyuhyun cukup sering bercerita tentangku, Mari dan Donghae oppa. Ryeowook-ssi mengatakan jika Kyuhyun hanya bercerita sekali tentang Cerry. Itupun bukan sebuah cerita yang bagus. Jadi apa yang dikatakan Kyuhyun tentang sahabatnya yang satu itu membuatku penasaran juga. Pasalnya Ryeowook-ssi tidak mau mengatakannya.

Dan aku yakin jika Kyuhyun juga tidak akan mau menceritakannya padaku. Karena selama ini –sejak kepergianku ke USA sampai saat ini- Kyuhyun tidak pernah lagi mengucapkan nama Cerry.

Dan entah kenapa aku baru sadar jika Cerry juga tidak pernah membicarakan tentang Kyuhyun dan Mari lebih dari dua menit. Dia akan terlihat antusias setiap kami membahas tentang Donghae oppa, tapi setiap kali aku mengungkit Kyuhyun atau Mari, dia akan langsung terdiam dan mengganti topik pembicaraan. Sering kali aku menemukan Cerry memandang lukisan yang tergantung di rumahnya dengan pandangan yang penuh dengan kerinduan. Entah kepada siapa pandangan itu ditujukan. Tapi hal itu hanya terjadi beberapa saat. Karena aku sama sekali belum bisa mengetahui bagaimana Cerry mampu mengatur emosinya menjadi tak terbaca setelah itu.

Bahkan Catty yang merupakan saudara kembarnya tidak bisa mengetahui apa yang tengah dirasakan Cerry. Yeoja itu selalu bisa mengatur emosinya dengan baik. Dan semakin baik lagi setelah apa yang menimpanya selama ini. Cerry selalu terlihat bahagia degan hidupnya, seolah kesedihan enggan mendekatinya. Tapi tidak mungkin bukan jika dia tidak pernag merasa sedih atau kecewa? Hanya saja dia mampu menyembunyikannya dengan sangat baik.

Aku rasa Fia adalah satu-satunya orang yang bisa membaca emosi Cerry. Entah bagaimana dan dimana dia belajar membaca emosi orang. Dia dengan sangat mudah mengetahui apa yang selama ini kurahasiakan dari orang-orang disekitarku. Tapi hanya butuh beberapa menit bagi Fia bisa tahu hal itu. Mungkin bagi Fia itu adalah hal yang biasa karena selama ini dia bisa membaca emosi Cerry dengan sangat mudah, apalagi membaca emosi orang sepertiku. Dia pernah berkata jika aku sangat mudah dibaca. Dan aku tidak suka hal itu.

Bukan hanya Fia saja yang bisa membaca emosi seseorang dengan pengamatannya. Kekasihnya juga bisa melakukan hal tersebut. Hanya saja Bryan bukan orang yang suka berkata banyak, cenderung pendiam malah. Jadi dia hanya akan ikut menyumbangkan hasil pengamatannya jika Fia seperti kelelahan berbicara. Kadang aku berpikir bagaimana ada dua orang yang memiliki banyak persamaan dan perbedaan dalam waktu yang sama, apalagi bisa menjadi sepasang kekasih. Tapi hal seperti itu merupakan salah satu rahasia Tuhan bukan? Jadi aku memutuskan untuk tidak peduli tentang hal itu.

Hufftt...sepertinya memikirkan Cerry semakin membuat kepalaku pening. Yeoja itu terlalu banyak menyimpan rahasia dalam hidupnya. Dan setiap kali memikirkan Cerry, aku pasti juga akan memikirkan bocah tampan itu. Siapa lagi kalau bukan Marcus. Seorang bocah yang sama sekali tidak pernah bertanya keberadaan sang appa, meski aku yakin dia juga merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Tapi sikapnya yang hampir sama dengan sang eomma membuatku percaya jika bocah itu akan tumbuh menjadi namja yang hebat. Ditambah dengan keberadaan sang 'Mom' yang selalu membuatnya seakan tidak pernah kekurangan kasih sayang. Karena aku yakin jika setiap orang yang melihat Marcus akan langsung jatuh hati dan tanpa diminta akan menyayanginya setulus hati.

Bicara tentang Marcus membuatku teringat dengan percakapanku dengan Kyuhyun. Dia mengatakan jika Donghae oppa sempat mengigaukan nama Marcus. Apa mungkin Donghae oppa tahu tentang Marcus ya? Tapi itu mustahil. Mengingat Cerry pergi dari Korea sebelum dia melahirkan. Dan aku yakin dia tidak pernah berhubungan dengan siapapun lagi sejak memtuskan pergi dari negeri ini. Mungkin saja yang dimaksud Donghae oppa adalah Marcus yang lain. Lagipula di dunia ini yang bernama Marcus bukan hanya anak Cerry kan? Ya, pasti seperti itu.

Memikirkan tentang mereka membuatku lapar. Sepertinya aku harus segara mengakhiri acara berendamku sebelum aku pingsan karena kelaparan. Setelah membasuh tubuhku untuk terakhir kalinya, aku segera memakai baju yang memang sengaja aku bawa. Dan disaat itu aku mendengar suara eomma dan seorang yeoja yang tengah tertawa. Aku heran, bagaimana mungkin pada jam segini teman eomma berkunjung kemari. Memang sejak appa naik pangkat menjadi manager, dia sering pulang lebih malam. Aku bersyukur akhirnya kerja keras appa selama ini mendapat apresiasi dari atasannya. Meski harus pulang terlambat, kami semua mensyukurinya. Lagipula tidak setiap hari appa pulang larut.

Karena penasaran aku segera bergegas keluar dari kamar mandi. Dan baru saja aku sampai di ruang tamu sebuah atau lebih tepatnya seseorang menerjangku. Kami hampir saja jatuh terjungkal jika saja tanganku tidak langsung meraih pegangan tangga.

"Yunhee-ah" sebuah suara yang sudah lama tidak menyapa indra pendengarku membuatku menjadi orang bodoh untuk beberapa detik. Karena tidak ada respon yang kuberikan seseorang yang memelukku tadi melepaskan pelukannya. Dan sebuah cubitan dipipiku akhirnya membuatku kembali dari masa transku.

"Yakkk...appoyo" ujarku setelah berhasil melepaskan cubitan yeoja cantik di depanku. Kuusap kedua pipiku yang kuyakin sudah memerah saat ini. Sementara pelaku hanya nyengir tanpa dosa melihatku kesakitan. Begitu pula dengan eomma yang hanya terkikik melihat ekspresiku.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku masih sedikit kesal dengan apa yang baru saja dilakukannya. Sebenarnya aku sama sekali tidak menyangka jika Mari akan datang ke rumahku. Ya, yeoja itu adalah Mari. Lagipula bagaimana dia tahu kalau aku sudah berada di Korea? Taeyon eonni tidak mungkin memberitahunya kan? Lagipula aku sendiri tidak yakin jika Taeyon eonni mengingatku. Jadi satu-satunya orang yang telah memberitahunya adalah Kyuhyun. Aish...namja itu !

"Mengunjungimu, apalagi? Lagipula banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu. Dan omong-omong, tidakkah kau merindukanku?" jawab Mari seraya kembali ke tempatnya tadi duduk. Sementara eomma hanya memperhatikan interaksi diantara kami. Jujur, dulu hubunganku dengan Mari hanya sebatas teman. Tidak lebih. Jadi melihatnya bersikap seperti saat ini membuatku sedikit canggung. Well, bahkan sikap Cerry kepadaku tidak berubah. Keberadaan Fia dan Marcuslah yang membuatku nyaman berada satu atap dengan Cerry di saat-saat terakhirku di New York.

"Kita ke kamarku" setelah itu aku langsung berbalik dan diikuti oleh Mari. Sementara eomma memutuskan untuk melanjutkan menyiapkan makan malam. Tidak ada percakapan apapun yang terjadi selama perjalanan ke kamarku. Bahkan sampai kami sudah berada di dalam ruang pribadiku.

"Kondisi Donghae oppa tidak begitu baik" kalimat pertama yang keluar setelah keheningan yang cukup lama. Aku hanya menyahutinya dengan gumaman tak jelas. Bergaul dengan Kyuhyun dan Cerry selama ini membuatku ikut-ikutan kebiasaan mereka.

"Dia hanya akan sembuh jika mendapat donor jantung" lanjutnya. ' Ya, aku tahu hal itu. Dan aku tidak bisa membantunya' teriakku dalam hati. Aku masih berusaha untuk tidak berkontak mata dengan Mari. Aku takut jika tidak bisa menahan airmataku jia menatap mata Mari. Sementara Mari semakin menyamankan dirinya duduk di ranjangku.

"Dan aku akan melakukannya" pernyataan terakhir Mari membuatku langsung melihat matanya. Terdapat kesungguhan terpancar dari kedua netra coklatnya. Dan sebuah senyum juga menghiasi wajahnya. Seolah apa yang baru saja diucapkannya adalah hal yang biasa.

"Apa maksudmu?" tanyaku setelah berhasil mengatasi kekagetanku.

"Beberapa waktu yang lalu aku melakukan tes jantung. Dan dokter bilang jika jantungku cocok untuk Donghae oppa. Dan tanpa pikir panjang lagi aku langsung memutuskan untuk mendonorkannya" jawabnya tanpa beban. "Dan kau adalah orang pertama yang kuberitahu"

"Bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana dengan Donghae oppa dan Kyuhyun? "

"Mereka akan baik-baik saja tanpaku"

"Jinjjayo?"

"Ne" entah kenapa jawaban yang diberikan Mari membuatku kesal. Bagaimana dia bisa mengambil keputusan bodoh seperti ini? Apa dia tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya? Dan entah apa yang merasukiku, hingga tanpa sadar tanganku sudah berada dipipinya.

'Plakkkk' sebuah tamparan lumayan keras mendarat dipipi mulus Mari. Aku sama sekali tidak peduli jika dia akan membalas menamparku. Tapi dia hanya melihat kearahku dengan mata yang berkaca-kaca. Tak butuh waktu lama untuk airmata keluar dari kedua netra indahnya. Aku menyesal telah membuatnya menangis seperti saat ini. Tapi yeoja dihadapanku ini harus disadarkan dari niat bodohnya itu. Aku yakin Donghae oppa akan mendapat donor tanpa harus kehilangan orang-orang yang dikasihinya.

"Mianhae, aku..." kata-kataku terpotong dengan kalimat Mari yang membuatku bingung.

"Jadi beginikah rasanya?" ujarnya dengan masih sesenggukan. Kuhampiri Mari dan kupeluk dia. Berharap dia bisa sedikit lebih tenang. Meski aku masih bingung dengan pertanyaannya barusan.

"Apa maksudmu?"

"Jadi seperti ini rasanya ditampar oleh orang yang sangat kau sayangi?" tanyanya lagi masih dengan menangis. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkannya. Hingga akhirnya dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kusangka akan terjadi. Mari pernah menampar Cerry beberapa tahun yang lalu sebelum yeoja itu menghilang.

"Pasti dia mengerti kenapa kau sampai melakukan hal itu" ujarku yakin. Karena selama mengenal mereka, Cerry selalu saja membantu setiap kesulitan yang dialami Mari. Jadi jika waktu itu Mari menamparnya, Cerry pasti dapat memakluminya.

"I hope so, meski aku sendiri tidak bisa memaafkan apa yang telah kulakukan padanya" akhirnya dia menceritakan apa yang terjadi saat itu. Saat-saat terakhir seorang Cerry Walker berada di Korea. Dan saat terakhir bagi Mari dan Kyuhyun bertatap muka dengan sahabat es mereka.

Aku benar-benar terkejut dengan apa yang kudengar. Suatu hal yang aku yakin juga diceritakan Kyuhyun kepada Ryeowook-ssi. Dan dari cerita itu kepingan kepingan kosong dalam otakku terisi. Sebuah kesimpulan yang membuatku sadar atas sikap Cerry selama ini. Bagaimana dia berusaha tidak membahas tentang Kyuhyun dan Mari meski jauh dilubuk hatinya dia sangat merindukan keduanya. Bagaimana dia menangis diam-diam setiap kali melihat wajah damai Marcus saat tertidur. Dan akhirnya aku sadar jika dilihat sekilas, maka akan terlihat kemiripan antara Kyuhyun dan Marcus.

" 'Terima kasih, aku sangat beruntung bisa menjadi bagian dari hidup kalian' itu adalah kata terakhir Cerry sebelum dia menghilang. Dan aku selalu merasa bersalah setiap waktu. Aku merasa aku adalah sahabat terburuk di dunia. Di saat sahabatku mendapat masalah aku yang seharusnya membantunya malah menyakitinya sedemikian rupa" Mari masih belum bisa menghentikan tangisnya. Aku sendiri tidak sadar jika airmata juga telah mengalir di kedua sisi wajahku.

"Dan kau berpikir jika tindakanmu kali ini bisa membuatnya memaafkanmu?" tanyaku setelah cukup lama suara sesenggukan kami yang mendominasi.

"Setidaknya Donghae oppa dan Kyuhyun masih bisa mengembalikan senyumnya." Meski sudah tidak menangis lagi, aku yakin Mari masih sangat sedih karena telah memberitahukan masa lalunya yang bisa dikatakan cukup menyedihkan itu. "Dan aku berharap bisa melihatnya tersenyum untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi"

"Kau tidak akan kemana-mana. Aku yakin dimanapun Cerry saat ini, dia tidak ingin kehilangan kalian semua. Dia selalu menyayangi kalian" ujarku yakin. Karena memang seperti itulah kenyataannya.

"I don't think so, berjanjilah kalau kau tidak akan mengatakan rencanaku ini kepada siapapun Yunhee. Maaf telah merepotkanmu" itu adalah pernyataan terakhir Mari sebelum meninggalkanku sendirian di kamar. Aku masih terlalu syok dengan kebenaran yang baru saja kudapat. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan saat ini? Haruskah aku mengkonfirmasikan hal ini kepada Cerry? Atau kepada Fia? Atau mungkin kepada Kyuhyun? Huuffttt...kepalaku benar-benar sakit saat ini.

*Yunhee Pov End*

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Aku rasa hanya ini yang bisa kupersembahkan kepada kalian. Semoga tidak mengecewakan. Dan untuk chapter selanjutnya, aku tidak tahu kapan bisa update. Sekali lagi terima kasih kepada siapa saja yang sudi membaca cerita anehku ini.

Salam

Opie ^^