It's Only My Secret – Last Challenge? – Lily
"-Ran! Ran!" suara Gumi yang keras membuatnya tersadar dari lamunannya. Ran mengangkat kepalanya dan melihat Gumi yang menggertakkan giginya sambil mengangkat sarung tinju. "Kenapa kamu melamun? kita baru saja mau memulai latihan," ucap Gumi sambil mengenakan sarung tinjunya.
Ran melihat tangannga yang telah mengenakan sarung tinju. Ran memoleh-noleh ke sekitarnya. Tidak ada siapapun di dalam lapangan olahraga kecuali mereka berdua. Lapangan basket kosong karena tidak digunakan latihan pada hari ini. Mereka tidak bisa latihan di gedung olahraga karena sedang ada persiapan untuk besok. Ran kemudian memandang mata Gumi. "Maaf, tadi aku memikirkan kondisi tanganku." Ran kemudian menepuk-nepuk tangan kanannya. "Semoga saja tangan ini tidak akan menjadi penghalang." Sial, seharian ini aku memikirkan Miku.
Gumi merekatkan sarung tinju terakhinya menggunakan mulutnya. Gumi kemudian memukul-mukul kedua tangannya. "Jangan melamun lagi atau kamu akan habis olehku."
Ran mengangguk dan sedikit mengangkat tangannya. "Baiklah."
Gumi kemudian menurunkan kedua tangannya, tangan kanannya kemudian memegangi pinggangnya. Tubuhnya sedikit mengayun miring kemudian bertumpu pada kaki kanannya. "Beri tahu padaku, hal apa saja yang kamu pahami dalam tinju."
Ran menggumam. Dia melipat kedua tangannya sambil mengangkat sedikit dagunya. Matanya melirik ke atas mencari sebuah jawaban. "Hmm... aku tidak begitu banyak mengerti sih. Aku hanya tahu cara berkelahi preman jalanan." Ran menatap Gumi. "Tapi aku tahu pukulan jab."
"Baguslah, setidaknya ada satu pukulan dasar yang kamu tahu." Gumi menurunkan tangannya kemudian berjalan mendekati Ran. Dia memegangi bahu kanan Ran. "Aku akan menjelaskan teknik lainnya kepadamu."
Ran mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum canggung. "Kamu atlit tinju ya?" tanya Ran.
Gumi menggelengkan kepalanya sambil melepaskan pegangannya pada bahu Ran. Dia tertawa kecil. "Tidak, tapi sebelum masuk asrama aku memang suka berlatih." Gumi berjalan mundur kemudian mengambil kuda-kuda. Dia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dagunya.
Ran mengangkat sebelah alisnya kemudian menurunkannya lagi. Dia mengikuti gerakan Gumi dalam mengambil kuda-kuda.
"Coba lakukan jab padaku," ucap Gumi.
Ran menegakkan badannya dan mengangkat sebelah alisnya. "Apa?" suaranya tinggi. Timbul perasaan bersalah dalam dirinya. Dia kan perempuan, bagaimana kalau dia terluka. Pikirannya melayang kepada kejadian sewaktu dia pernah memukul IA, rasanya seperti memginjak harga diri sendiri karena memukul seorang gadis, IA bukan petarung.
"Sudah lakukan saja, jangan perdulikan aku. Kalau kamu tidak melakukannya, aku tidak bisa mengukur kemampuanmu." Gumi menginstruksikan tangannya agar Ran mendekat.
Ran kembali mengambil kuda-kudanya kemudian tubuhnya memutar sembilan puluh derajat sambil melanyangkan tinju jab dengan tangan kirinya. Tinjunya melayang menuju wajah Gumi. Tapi dengan cepat Gumi menghindari pukulan ringan Ran. Ran membelalakan matanya kemudian menurunkan tangannya. Dia mengamati Gumi. Dia cepat!
"Terlalu lamban!" sentak Gumi kemudian melayangkan jab ke tubuh Ran.
Ran yang terkejut dengan sigap memegangi tangan Gumi dengan kedua tangannya, tapi telat. Pukulan Gumi mengenai perutnya. Pukulan Gumi tidak terlalu keras, tapi tinjunya cepat. Untung bela diri jalanannya yang selama ini dia pelajari sedikit menajamkan refleksnya.
Gumi menarik tangannya dan menegakkan badannya. "Refleksmu lumayan tapi tidak akan melindungimu, jangan lakukan pertahanan seperti itu. Itu bukan pertahanan. Perhatikan baik-baik." Gumi kemudian mengambil kuda-kuda dan sedilkit meringkukkan badannya. Dia menekukkan tangannya dengan tegak dan merapatkan kedua tangannya sehingga menutupi tulang rusuk dan sebagian perutnya. Sarung tinju menutupi mulutnya. "Lakukanlah pertahanan seperti ini. Ikuti aku."
Ran mengikuti posisi tubuh Gumi. Matanya memperhatikan Gumi.
"Terus seperti ini." Gumi melemaskan pertahanannya dan menegakkan badannya. "Ini adalah pertahanan yang harus kamu lakukan. Tapi, matamu tetap harus fokus mempelajari situasi sekaligus mencari celah." Gumi mengambil kuda-kudanya. "Aku akan menyerangmu. Pertahankan pertahananmu, jangan sampai goyah."
Gumi mencondongkan badannya ke depan kemudian melayangkan jab ke wajah Ran. Tinjunya sangat cepat. Mata Ran fokus mempelajari gerak tangan Gumi. Ran mengangkat pertahanannya ke atas sehingga sarung tinju agar menutupi wajahnya. Tapi belum sempat Ran menutupi seluruh wajahnya, tinju Gumi mengenai sarung tinju Ran yang baru menutupi hidungnya. Tangan-tangan Ran terdorong hingga menekan batang hidungnya hanya dengan satu pukulan Gumi. Tapi pukulan itu tidak sampai menyakitinya. Gumi kemudian melayangkan pukulan lurus dengan tangan kanannya ke perut Ran. Ran terkejut ketika menyasadi pukulan ringan Gumi mengenai perutnya.
Ran terdiam sesaat sambil memerhatikan kepala Gumi. Aku lupa kalau dia bukan gadis biasa.
"Refleksmu lumayan, tapi matamu tetap harus fokus pada setiap gerakan lawan. Saranku adalah, saat kamu melindungi wajahmu, tinggalkan sedikit celah di sarung tinjumu untuk mengamati pergerakan lawan, kecuali kalau refleksmu sudah bagus serta cepat mempelajari dan membaca gerakan lawan." Gumi menurunkan tangan Ran. "Kita akan belajar uppercut dan straight." Gumi kemudian memiringkan badannya dan bertumpu pada kaki kirinya dan tangan kanannya memegangi pinggangnya. Gumi memerhatikan sekitarnya kemudian kemudian menatap Ran. "Sayangnya kita tidak bisa menggunakan gedung olahraga, jadi kita tidak bisa latihan dengan samsak." Gumi mengambil kuda-kuda kemudian tangan kanannya melayangkan pukulan lurus yang sejajar dengan bahu ke udara. Tangan kirinya menekuk melindungi rusuknya. "Ini adalah pukulan straight. Biasa digunakan dengan tangan kanan, dan arah serangannya seperti jab."
Gumi kemudian menekuk tangan kanannya sehingga membentuk huruf v. Gumi meninju tangan kanannya ke atas, meninju udara. "Ini adalah uppercut." Gumi kemudian menegakkan badannya. "Pukulan ini bisa untuk menyerang rahang, dada, ulu hati dan perut, semakin kuat serangannya akan semakin sakit."
Ran mengangkat bahunya. "Hanya itu saja?"
Gumi mengangguk. "Ya, dan sekarang giliranmu untuk mempraktekannya," ucap Gumi kemudian dia merunduk dan melakukan pertahanan dengan kedua tangannya yang menutupi rusuknya. "Anggap saja aku sebagai samsakmu, jangan kurangi kekuatan pukulanmu karena aku. Jangan tanggung-tanggung memukulku."
Ran mulai mengambil kuda-kudanya. "Apa tidak apa-apa bagaimanapun juga kamu perempuan." Ran menatap Gumi dengan ragu. Meskipun Gumi kuat tapu rasanya dia akan setengah hati untuk memukul perempuan. Meskipun dia pernah memukul IA karena amarahnya yang tersulut dia tetap merasa menyesal.
Gumi menurunkan pertahanannya menajamkan matanya dan memandang heran Ran. "Apa maksudmu? dalam pertandingan jangan pedulikan jenis kelaminmu."
Ran tersentak dengan apa yang baru saja dikatakannya. "Ah... ma-maksudku itu... aa–"
Gumi menguatkan pertahanannya lagi. "Sudahlah, cepat lakukan saja. Hari semakin sore."
"Baiklah..." Ran kemudian dengan ragu mengambil kuda-kudanya.
Ran melakukan serangan jab diikuti uppercut rendah pada Gumi. Pertahanan Gumi benar-benar bagus. Dia tidak goyah sama sekali dan tetap tegak.
"Seranganmu terlalu lemah!" teriak Gumi sambil mengukuhkan pertahanannya.
Ran kemudian menguatkan serangan-serangannya. Gumi masih tidak goyah. Dia dengan cepat menghindari serangan-serangan Ran. Bergeser kesana kemari membuat mata Ran berputar-putar. Kakinya terus berputar-putar mengikuti gerakan Gumi yang menghindari tinju-tinjunya. Semua tinju dengan tangan kanannya terasa berat ketika rasa linu terasa ketika tangannya sedikit naik dari bahunya. Ran meneruskan serangan dengan tangan kirinya. Sesekali dia menggunakan tangan kanannya untuk serangan lurus.
"Seranganmu terlalu lambat! percepat pukulanmu!" sentak Gumi.
Karena amarah yang membara Ran kemudian meningkatkan kecepatan pukulannya. Setelah latihan beberapa lama Ran bisa mengimbangi kecepatan Gumi. Ran terus memberikan jab dan straight, sesekali melakukan uppercut dengan tangan kanannya pada perut tapi Gumi selalu bisa menghindarinya dengan merunduk. Ada satu atau dua orang yang berjalan melewati tepi lapangan dan memperhatikan Ran. Tak jarang dari mereka yang lewat menyoraki Ran tapi Ran mengabaikannya karena terlaku fokus memukuli Gumi.
Setelah memakan banyak waktu dan hari mulai gelap, Ran akhirnya kehabisan tenaga. Dia tidak berhasil menggoyah kan pertahanan Gumi. Gumi begitu lincah dan kuat. Sekali lagi dia mencoba untuk melakukan rangkaian serangan tinju pada Gumi. Kali ini Gumi terlihat tertekan karena dia sesekali menggeram.
Hari yang gelap semakin gelap. Udara dingin menusuk-nusuk kulitnya yang panas karena keringat. Nafas Ran mulai terengah-tengah dan tangannya terasa kaku. Ran kemudian menyadari kalau tubuh Gumi yang dilindungi hanga bagian depannya saja. Dia kemudian melakukan serangan jab dengan tangan kiri, straight tangan kanan, melakukan straigh tangan kiri. Tangan kanannya kemudian melakukan uppercut pada perut Gumi. Ketika Gumi melindungi perutnya dan menangit uppercut Ran, Ran melayangkan tinju dengan tangan kirinya. Tinju itu melengkung setengah lingkaran dan mengarah pipi Gumi. Karena pipi Gumi yang tidak terlindungi, pukulan keras itu mengenai pipi Gumi.
Kepala Gumi terdorong dan pertahanan Gumi goyah. Ran menggunakan kesempatan itu untuk melakukan uppercut pada perut Gumi. Meskipun Gumi berdiri dengan terhuyung-huyung dia berhasil menangkis uppercut Ran. "Cukup!"
Ran pun menurunkan tangan-tangannya dan berdiri tegak di depan Gumi. Alisnya sedikit menyentak. Dadanya mengenbang mengempis dengan cepat seperti kehabisan udara. Keringat mengalir deras di kening dan punggungnya.
Gumi mengusap pipinya dengan sarung tinju kemudian menyeka darah yang keluar dari ujung bibir kanannya. "Lumayan, kamu bisa membaca celahku. Tanpa aku ajarkan akhirnya kamu menggunakan teknik hook tadi."
Tangan Ran hendak meraih pipi Gumi tapi Gumi menggesturkan kalau dia baik-baik saja dengan mengangkat satu tangannya. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu terluka."
Gumi menyeringai. "Terluka dalam latihan adalah hal yang wajar, tidak usah dipikirkan." Gumi kemudian membuka perekat sarung tinju kanannya dengan giginya. Gumi menarik sarung tangan tinjunya. "Ini juga salahku karena aku tadi lupa untuk memberikan pengaman mulut," ucap Gumi sambil membuka sarung tinju kirinya dan menggerakkan rahang bawahnya ke kiri dan ke kanan. "Latihan selesai."
Ran menyentakkan tangannya ke bawah dan mendekati Gumi. "Tapi... aku baru berhasil memukulmu satu kali. Apa itu cukup untuk melawan Lily?"
Kedua tangan Gumi memegangi pinggangnya dan tangan kanannya memegang tali-tali perekat sarung tinju. "Memang belum cukup, tapi yang penting kamu sudah bisa dasarnya. Lily memang lawan yang susah, tapi dengan refleksmu yang lumayan, aku sedikit yakin kamu bisa sedikit menandinginya."
Ran menatap Gumi dengan serius. Dia mengabaikan keringat uang mengalir di atas alis-alisnya. "Aku masih ingin latihan."
Gumi menggelengkan kepalanya. "Tidak, cukup latihannya. Lihatlah, hari sudah gelap, sudah lewat jam tujuh malam. Luka dan yang lainnya menunggu di kamarmu bukan?"
Ran menyentakkan alisnya. "Tapi aku sanggup untuk belajar ekonomi dan bahasa asing sampai larut malam!" sentaknya dengan suara tinggi.
"Kamu harus istirahat yang cukup Ran. Kalau kamu kurang istirahat, besok otot-ototmu akan sakit dan kaku. Tangan kananmu juga butuh istirahat bukan? aku yakin, tangan kananmu pasti sakit sekali saat kamu mencoba melakukan uppercut bukan? makanya uppercut mu selalu menyerang perut, padahal kamu bisa mengincar daguku dengan rangkaian serangan," ucap Gumi sambil menunjuk lengan kanan Ran.
Pupil mata Ran mengecil. Rahangnya jatuh ke bawah membuka mulutnya menjadi menganga. Ran kemudian melirik ke lengan kanannya dan menatap Gumi. "Bagaimana kamu bisa tau kondisi tanganku?"
Gumi melengkungkan senyuman hambar, seperti berempati kepada Ran. "Miku yang memberitahuku tentang kondisi luka di tubuhmu."
Mata Ran membulat dan mulutnya menganga. "Miku?" Jantungnya berdebar saat mendengar nama Miku disebut oleh Gumi. Dia kembali mengingat peristiwa tadi malam saat Miku mengutarakan perasaannya padanya.
Gumi mengangguk. "Iya, sebelum latihan tadi Miku memberitahukan segala yang ia tahu tentang kondisi tubuhmu. Kalau bukan karena Miku, mungkin aku sudah memaksamu untuk menggunakan tangan kananmu dan tidak sengaja menghajar tangan kananmu," ucap Gumi kemudian tangan kirinya menepuk-nepuk lengan kanan Ran.
"Untunglah Lily tidak menantangmu kick-boxing. Aku yakin kamu akan kalah dalam menit pertama," ucap Gumi smabil tersenyum lega dan menghela nafas panjang.
Ran menyipitkan matanya dan sedikit menyentakkan alisnya. "Kamu terlalu jujur Gumi, dan itu membuatku sakit."
Gumi tertawa terbahak-bahak dan berjalan ke samping Ran. Dia merangkulkan tangannya pada lengan Ran. "Karena aku sudah banyak berbohong untuk hal-hal yang besar jadi aku tidak bisa berbohong untuk hal-hal sekecil itu." Gumi menepuk-nepuk punggung Ran.
Ran melirik kepada Gumi. "Apa yang kau anggap kecil dan apa yang aku anggap kecil sepertinya berbeda." Ran kemudian melepaskan sarung tangan tinjunya.
Gumi tertawa lagi sambil mendorong Ran agar berjalan di sebelahnya. "Mungkin saja. Tapi, apa yang kukatakan itu memang benar. Kalau kalian berkelahi dengan adu tendangan, kamu akan kalah karena kondisi kakimu." Gumi berjalan dan menatap ke depan.
Ran mulai berjalan berdampingan dengan Gumi. "Bagaimana ceritanya aku akan kalah? kan kaki kiriku yang sakit, bukan kaki kanan, aku kan menendang dengan kaki kananku tentunya," ucap Ran sambil menoleh kepada Gumi.
Gumi tetap menatap ke depan dan tersenyum. "Aku memang tidak tahu apa yang terjadi dengan kakimu karena kamu tidak pernah membahas penyakitmu kepada kita semua. Tapi, setelah mendengar cerita Miku kalau kamu seperti menahan sakit kakimu, aku memiliki dua pilihan untuk menebak-nebak kondisi kakimu. Antara otot yang terjepit, atau tulang yang retak. Tapi berdasarkan pengalamanku, guru Ars bisa menyembuhkan otot terjepit dengan pijatannya, dan sekitar satu minggu sakit nyerinya akan menghilang. Sementara tulang retak penyembuhannya akan memakan waktu yang lama, hampir mirip dengan patah tulang." Gumi kemudian melepaskan rangkulannya dari Ran.
"Bayangkan saja dengan pikiranmu. Kamu menendang dengan kaki kananmu, dan kaki kirimu yang luka akan menumpu seluruh berat badanmu. Saat kamu berdiri biasa atau menendang biasa mungkin tidak apa-apa, tapi saat tendangan itu dimodifikasi dengan gerakan memutar atau melompat, bayangkan bagaimana tulangmu yang retak bisa bertahan menumpu gerakanmu. Kalaupun kamu berhasil melakukan gerakannya aku yakin kamu tidak akan bertahan lama, kekuatan tendanganmu juga akan lemah, kamu tidak akan mampu memanfaatkan berat badanmu untuk menendang, dan kakimu akan sakit lagi," jelas Gumi sambil menunjuk kaki Ran.
Ran menyela Gumi dengan mengangkat bahunya. "Kalau begitu aku akan menggunakan kaki kiriku untuk menendang."
Gumi mendengus seperti mengejek Ran. "Apa kamu yakin bisa menandang dengan kondisi kaki seperti itu? bagaimana kalau Lily memegang kakimu dan memelintir kakimu?"
Ran menundukkan kepalanya dan melengkungkan ujung bibirnya ke bawah. "Ah... benar juga."
Gumi menepuk-nepuk bahu Ran. "Aku yakin kalau kamu bisa tahan dari serangannya. Karena bagaimanapun juga ketahanan tubuhmu lebih kuat. Gunakan berat badanmu untuk membantu kerasnya pukulanmu. Lalu, jangan serang kepala bagian atas, belakang, juga belakang tubuh. Kamu juga tidak boleh memukul di bawah perut. Bagian perut sampai kebawahnya itu dilarang."
Ran tertegun mendengar apa yang diucapkan Gumi. "Ah.. i-iya."
Ran dan Gumi kemudian berjalan menuju asrama. Gumi memberinya tips-tips dalam bertanding. Setelah sampai asrama Ran masuk ke dalam kamarnya sementara Gumi pergi ke kamarnya. Di dalam kamar nomor seratus tiga belas ada Luka dan Miku yang sudah siap dengan buku pelajaran mereka. Ran masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat.
Ran keluar dengan piyamanya. Dia mencuci rambutnya juga. Ran mengambil buku rangkuman yang ia pelajari sewaktu belajar untuk bertanding dengan Yukari dan duduk lesehan di karpet kamarnya. Dia duduk di sebelah Luka. Miku duduk si sebelah Luka juga sehingga membuat Luka berada di tengah-tengah. Tapi suasana di dalam ruangan itu canggung. Luka mengamati mereka berdua. Ran menatatap mata Luka dengan pasrah.
"Rin tidak ikut kesini?" tanya Ran sambil membuka buku tulisnya.
Luka menggelengkan kepalanya sambil mematikan telivisi dengan remot yang dipegangnya. "Tadi dia disini, tapi dia kembali ke kamar karena merasa tidak enak badan."
"Oh..." Ran menundukkan kepalanya. Aku jadi sedikit canggung dengan Rin. Setelah aku memberitahukan jati diriku dia selalu menghindar saat kita sedang berdua saja.
Miku kemudian menyodorkan sekotak makanan kepada Ran. "Ran, karena kamu tidak mengikuti makan malam, aku menyiapkan makanan ini untukmu, kamu pasti belum makan malam kan?" Kotak makanan itu berisi ikan tuna panggang dengan tumisan wortel dan buncis dengan taburan wijen.
Ran menjulurkan kepalanya. Matanya berkilau-kilau memperhatikan hidangan yang ada di dalam kotak makan tersebut. "Kamu yang memasak ini Miku?" Ran mengangkat kepalanya dan memandangi Miku.
Miku mengangguk malu-malu. Pipinya merona merah. "Iya... untunglah kita dibebaskan untuk menggunakan dapur oleh koki asrama."
Luka melirik kepada Miku dan tersenyum menahan tawa. Luka kemudian menolehkan kepalanya kepada Len. "Makan saja makan malammu dulu. Kasihan Miku memasak ini setelah kita makan malam. Aku dan Rin jadi harus menemaninya, tapi kita tidak boleh ada yang membantu sampai-sampai Miku dan Rin ribut."
Darah Ran bergejolak dan memanas sampai dia merasakan panas di telinganya. "Terima kasih Miku." Ran kemudian mengambil kotak makan dari tangan Miku. "Aku makan ya..." Rin menundukkan kepalanya, tapi matanya melirik Miku.
Luka mencondongkan badannya dan berbisik kepada Ran. "Sepertinya aku paham, ada sesuatu di antara kalian bukan?" bisik Luka kepada Ran. Luka cekikikan di dekat telinga Rin, "aku tahu kalau kamu senang, tapi ingatlah identitasmu sebagai Ran. Kamu adalah tunangan Gakupo, ingat itu," bisik Luka kemudian cekikikan. "Jangan lupa untuk jaga rahasiamu. Coba pikirkan apa yang akan dia pikirkan kalau tahu kalau kamu itu jadi-jadian. Dia pasti akan membencimu." Luka menjauhkan kepalanya dari telinga Luka.
Wajah Ran memerah. Tubuh Ran menjadi lemas mendengar ucapan Luka. Mulutnya mendesis kemudian menghela nafasnya dengan pasrah.
Miku menyela mereka. "Apa yang kalian bicarakan?" tanya Miku.
Luka menyeringai. "Aku hanya memberitahukan Ran apa yang kamu lakukan di dapur, aku juga menceritakan padanya bagaimana ekspresi khawatirmu saat menunggu Ran pulang." Luka kemudian mengeluarkan tawa jahil. Tangannya menutup mulutnya yang tertawa.
Wajah Miku kemudian memerah. Dia langsung menundukkan kepalanya dan menelungkupkan tangannya di atas pahanya.
Ran kemudian memakan makanan yang di siapkan Miku. Lidahnya mengecap rasa yang sedap. Mata Ran membulat. Bibirnya merekahkan senyuman lebar. Ran mengangkat alisnya. "Enak!"
Miku mengangkat kepalanya dan tersenyum lembut pada Ran. "Syukurlah kalau kamu suka."
Setelah memakan makanan dari Miku, Ran mulai belajar bahasa asing dan ekonomi dengan Miku dan Luka. Luka menyiapkan dua puluh soal untuk Ran. Ran mengerjakan soal tersebut dengan singkat. Selama pelajaran Ran merasakan kantuk mulai menguasainya. Setelah pukul sembilan malam dan Miku mulai menguap, Luka memutuskan untuk kembali ke asrama.
Setelah Luka pergi ke kamarnya sendiri, Miku dan Ran membersihkan tempat belajar mereka. Mereka berdua naik ke ranjang masing-masing dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.
Ran memutar badannya menghadap Miku. "Miku."
Miku menolehkan kepalanya kepada Ran. "Ada apa?" Miku menarik dagunya ke dalam dadanya.
"Aku ingin membalas... yang kemarin..." Ran ikut menundukkan kepalanya. Ran kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Miku. "Miku, aku juga menyukaimu." Ran tersenyum.
Senyuman sedikit merekah di wajah Miku setelah mendengar jawaban Ran. Pipinya merona merah.
Ran mendorong ujung-ujung bibirnya ke bawah membuatnya sendu. Alis Ran turun. "Tapi, hanya sebagai teman." Ah... rasanya sayang sekali... sebenarnya aku juga ingin jujur padanya. "Aku paham apa maksudmu sewaktu kamu mengutarakan perasaanmu." Ran mengeluarkan senyuman sendu lagi. Penyesalan menyelimuti perasaannya. Aku menyukainya, tapi aku harus menempatkan diriku. "Dan... aku juga sudah bertunangan dengan Gakupo..." Dari semua kebohongan yang kukatakan. Mengaku sebagai tunangan Gakupo benar-benar menghilangkan martabatku sebagai laki-laki. "Tapi kita masih bisa berteman kan?"
Senyuman dari wajah Miku menghilang. Kemudian dia melengkungkan senyuman tapi matanya menatap sendu karena alisnya yang turun. "Oh... i-iya, kemarin kan aku sudah bilang padamu untuk melupakan apa yang telah kukatakan..." Miku kemudian menganggukan kepalanya. "Tentu saja... kita tetap berteman kok, jangan dipikirkan..." Miku kemudian matikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidurnya. "A-aku ngantuk... aku tidur dulu ya... selamat malam." Miku kemudian berbalik memunggungi Ran.
Hatinya sakit ketika mendapati dia hanya bisa menatap punggung dan rambut Miku yang terurai. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Miku tidur memunggunginya. Rasanya sakit, apalagi setelah melihat matanya yang membasah. Kalaupun aku bilang suka... aku tidak akan bisa mendapatkanmu. Yang kamu sukai itu Ran, bukan Len. Kalau kamu tahu aku adalah Len, mungkin kamu akan membenciku. Ran itu hanha karakter yang kuciptakan. Ah... aku benar-benar sial.
Len terus menatap punggung Miku sampai kantuk mulai menyerangnya. Perlahan-lahan matanya menutup dengan sendirinya akibat dorongan dari tubuhnya yang kelelahan.
.
Pagi ini otot-otot tangan Ran terasa sedikit kaku dan sakit. Dia terus menahan rasa sakitnya dan terus berusaha menggerakan badannya berharap rasa sakit itu akan menghilang dan membuatnya kebal.
Waktu berlalu dan bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid bergegas keluar dari kelas mereka dan pergi ke gedung olahraga.
Pertandingan sudah di depan mata. Ran berdiri di depan gedung olahraga bersama dengan murid-murid lainnya, menunggu pintu gedung olahraga terbuka. Gedung olahraga berada di antara lapangan voli dan juga lapangan sepak bola. Luasnya dua kali lapangan sepak bola.
Pintu ruang olahraga pun terbuka. Murid-murid berbondong-bondong masuk ke dalam gedung olahraga. Murid-murid itu berkumpul ke ruang olahraga setelah Yukari mengumumkan akan diadakannya lomba adu kecerdasan dan adu tinju antara Ran dan Lily.
Rin, Miku, Gumi dan Luka mengikuti Ran di sebelahnya. Mereka berempat kemudian berhenti di batas penonton dan berdiri di gadis belakang garis tersebut. Di depan garis-garis itu anggota OSIS dan anggota klub tinju mengamakankan para pernonton. Gedung olahraga benar-benar luas seperti stadion. Di dalam gedung olahraga terdapat panggung untuk acara-acara penting. Di dalamnya juga terdapat bagai peralatan olahraga untuk menunjang pelajaran olahraga para siswa.
Ran berjalan ke atas panggung. Di depannya sudah disiapkan dua meja yang terdapat soal dan alat tulis di masing-masing mejanya. Ran kemudian duduk di kursi sebelah kiri. Kursi itu menghadap ke penonton. Saat Ran duduk, ponsel yang ada di dalam tasnya bergetar. Ran mengambil ponsel di dalam tasnya dan mendapatkan sebuah notifikasi pesan. Ran membuka pengunci layarnya dan membuka pesan tersebut. Pesan singkat tersebut berasal dari Gakupo. Isinya:
Aku ingin melihatmu bertanding, tapi ada pekerjaan yang harus kukerjakan. Aku lupa memberitahumu kalau aku ada pekerjaan di luar kota. Aku akan kembali nanti malam. Mikuo tidak ikut denganku, jadi kalau kamu membutuhkan sesuatu beritahu Mikuo.
Salam cinta
Gakupo
Ran menyipitkan matanya dan meneka 'balas' pada ponselnya. Kenapa pakai salam cinta segala? dia ga punya malu ya? Ran membalas pesan Gakupo dengan singkat kemudian memasukan ponselnya
Lily datang dari balik kerumunan penonton bersama dengan IA dan Yukari. IA berhenti di batas garis penonton. Dia berdiri di sebelah Gumi. Lily dan Yukari meneruskan langkah mereka kemudian menaiki panggung. Lily duduk di kursi sebelah kiri sementara Yukari berdiri di depan Ran dan Lily.
Lily menolehkan kepalanya kepada Ran kemudian memiringkan kepalanya. "Bagaimana? gugup? kamu orang pertama di sekolah ini yang bertanding denganku."
Ran menolehkan kepalanya pada Lily. Dia menyentakkan alisnya. Ran berdengus sambil menyentakkan bahunya. "Tentu saja aku gugup! tapi aku tidak akan kalah darimu! aku pasti menang!" sentak Ran.
Lily menyandarkan tubuhnya pada kursi kemudian melipat tangannya. Lily mendengus sambil mengangkat sebelah alisnya. "Percaya diri sekali. Kita lihat saja nanti."
Yukari mengambil secarik kertas dari meja Ran kemudian membaca kertas tersebut. "Aku akan membacakan peraturan pertandingan ini." Mata Yukari melirik kepada Ran dan Lily. Ran merasa gugup karena tatapan Yukari yang tajam. Dia belum menjadi teman meskipun telah menyetujui perjanjian, tapi dia juga tidak mengganggu Rin lagi dengan anak buahnya. Mata Yukari menatap kertas tersebut. "Saya akan membacakan peraturannnya: jumlah soal ada dua puluh lima soal dan di kerjakan dalam waktu lima belas menit; Soal terdiri dari dua puluh lima soal pilihan ganda; Selama ujian berlangsung, peserta dilarang bertanya, menoleh atau berbuat curang; Jika ketahuan melakukan kecurangan maka peserta akan didiskualifikasi dari seluruh pertandingan; Setelah ujian selesai, hasil akan langsung diumumkan di sini dan yang menang berhak untuk meminta satu permintaan kepada siapapun; Jika nilai kedua peserta sama maka akan ada soal rebutan."
Ran melirik kepada Lily. Lily membalas lirikannya tersebut dengan senyuman. Ran kemudian menoleh kepada Yukari.
Yukari melipat kertas tersebut kemudian memasukkannya ke dalam saku seragam overallnya. Saat tangannya keluar, dia memegang ponsel. "Ujian akan dimulai, dari sekarang. Kalian bisa membuka soal kalian." Yukari memulai waktu hitung mundur dari ponselnya.
Suasana gedung olahraga yang sebelumnya hangat seketika menjadi dingin dan menusuk-nusuk punggung Ran. Ran melirik ke depan, dia memperhatikan ekspresi teman-temannya yang cemas. Dia mendengar suara kertas yang di balik oleh Lily, tapi Ran tidak menoleh kepadanya karena peraturan.
Ran membuka soalnya dan memeriksa jika ada soal yang tidak lengkap. Ran kembali lagi ke halaman paling depan kemudian membaca soal-soal dan pilihan gandanya. Soal-soal tersebut dituliskan dalam bahasa asing tapi materi soalnya adalah materi ekonomi.
Ran mengernyitkan dahi ketika bibirnya bergerak, membaca soal dengan bisu. Bahasa asingnya sedikit asing baginya. Tingkat penggunaan bahasanya lebih rumit dari pada yang biasa dia gunakan. Ran melewati beberapa soal yang dia anggap sulit. Mungkin bukan sulit karena dia kenal istilah-istilah ekonomi dalam soal. Tapi, dia terhalang karena kendala bahasa.
Menit-menit terus berlalu dan Ran berhasil mengerjakan soal-soal yang dia mengerti bahasa asingnya. Tiga belas menit pun berlalu. Tertinggal tujuh soal dari dua puluh lima soal yang disediakan. Tujuh soal itu memiliki bahasa asing dengan tingkat kesulitan bahasa yang tinggi. Meskipun mengenal satu istilah ekonomi dari soal, tapi Ran belum bisa mengerjakannya. Ran menggunakan pikirannya untuk mengundi jawaban secara acak dari ketujuh soal tersebut.
"Waktu kalian kurang dari satu menit lagi," ucap Yukari.
Suaranya yang datar membuat Ran semakin gugup. Tinggal tiga soal yang tersisa. Ran bisa mendengar suara alat tulis yang bersentuhan dengan meja kayu. Lily pasti sudah selesai... sial... tiga soal lagi. Ran kemudian mengisi jawaban secara asal. Saat Ran selesai dengan soal terakhir alarm dari ponsel Yukari berbunyi menandakan waktu ujian yang telah berakhir.
"Waktunya habis." Yukari mematikan alarm dari ponselnya dan memasukan ponselnya ke dalam saku overallnya. Yukari berjalan mendekati meja Lily dan Ran. Yukari mengambil kertas-kertas ujian yang ada di meja Ran dan Lily.
Setelah mengambil kedua kedua soal tersebut, Yukari berjalan melewati bangku Ran dan Lily ke bagian belakang panggung. Di belakang bangku mereka berdua terdapat satu bangku. Bangku itu kemudian diduduki oleh Yukari.
Suasana gedung olahraga sedikit lebih ramai dari yang tadi karena banyak dari mereka yang saling berbisikan.
Ran menolehkan kepalanya dan menatap teman-temannya. Wajah mereka tampak khawatir. Ran merekahkan senyum kepada mereka. Senyuman yang memaksa agar mereka sedikit lega. Tapi tetap saja, dia tidak bisa lega karena dia tidak bisa mengerjakan tujuh soal.
Setelah menit-menit menegangkan. Yukari akhirnya berdiri. "Akan saya umumkan pemenangnya." Kacamata yang digunakan Yukari berkilau. Bibirnya kemudian melengkungkan senyuman sinis. "Pemenangnya adalah Lily." Yukari menunjukkan kertas ujian Ran dan Lily ke depannya. Semua penonton tersentak.
Ran tersentak melihat hasil ujiannya. Pertama kali baginya dia mendapat kesulitan dalam pelajaran ekonomi. Ran menoleh kepada Lily. Lily melirik kepada Ran kemudian menolehkan kepalanya. Lily tersenyum dengan manis kepada Ran dengan melemaskan otot-otot matanya yang tajam. Ran kemudian menoleh kepada Yukari.
Yukari merekahkan senyuman di wajahnya. "Skor Lily seratus dan skor Ran sembilan puluh empat. Pemenangnya Lily!" Suara Yukari meninggi ketika menyebutkan Lily sebagai pemenangnya. Suara sorak sorai dari kubu Lily pun memecah suara bisik-bisik yang sebelumnya yang beradu.
Lily menolehkan kepalanya kepada Ran. Satu tangannya kemudian beristirahat pada meja dengan bertumpu pada sikunya. Lily mengistirahatkan pipinya pada kepalan tinjunya. "Hei Ran, bagaimana rasanya kalah itu? aku belum pernah kalah sebelumnya, jadi aku tidak tahu. Bisa beri tahu aku bagaimana rasanya?"
Ran menolehkan kepalanya kepada Lily. Ran menyentakkan alisnya dan menggertakkan giginya. "Kamu mau tahu? rasanya sangat lucu. Seperti jari yang ditusuk oleh jarum. Kamu ingin merasakannya?"
Lily menyeringai. "Tidak perlu. Aku tidak ingin merasakannya karena aku terbiasa merasakan kemenangan."
Ran mengernyit. Ran mengalihkan pandangannya kepada teman-temannya. IA sedang berdebat dengan Miku, dan Luka menahan Miku. Tidak jelas apa yang mereka katakan karena suasana riuh di gedung olahraga.
Yukari menatap Lily. "Lily, sebutkan apa yang ingin kamu minta dari Ran."
Lily tersenyum dan melirik Ran. "Apa aku boleh menyimpan permintaan itu akhir seluruh pertandingan?"
Yukari mengangguk. "Tentu saja." Yukari berdiri dan mengambil mikrofon yang ada di mejanya. "Pertandingan selanjutnya adalah pertandingan tinju. Ring tinju telah disiapkan di belakang para penonton di tengah-tengah gedung olahraga."
Para penonton kemudian menoleh ke belakang. Lantai di tengah gedung olahraga membuka. Dari bawah tanah, sebuah ring tinju muncul Ran memerhatikan ring tinju tersebut sambil mengernyitkan dahinya. Bagaimana caranya ring tinju muncul dari bawah tanah?! Sekolah ini gila! Ran menoleh kepada Yukari.
"Kenapa para penonton dimohon untuk mengosongkan jalan di tengah panggung. Kalian bisa menonton pertandingan tinju dengan mengelilingi ring tinju. Tapi tolong kosongkan jalan untuk petinju kita." Yukari mematikan mikrofonnya dan menepuk tangannya satu kali.
Ran mengalihkan pandangannya ke ring tinju. Para anggota OSIS dan anggota klub tinju mengamankan jalan menuju ring tinju dan juga mengamankan murid-murid yang memutari ring tinju.
Ran dan Lily bangkit dari kursi mereka masing-masing dan mengambil tas mereka yang ditaruh di sebelahnya. Ran dan Lily dituntun turun dari panggung. Mereka kemudian dituntun lagi menuju toilet yang berada di ujung gedung olahraga.
Ran masuk ke dalam toilet tersebut. Lily ditemani dengan ketua klub tinju. Mereka mengganti pakaian di pintu sebelah. Ran mengganti pakaiannya dengan seragam olahraga, kemudian dia bercermin. Pertandingan tinju ini... aku harus menang!
Ran melipat seragamnya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Ran menepuk-nepuk pipinya dan menyentak alisnya. Api semangat berkobar dalam dirinya. Tubuh Ran mulai mendingin. Ran melakukan gerakan lari di tempat untuk menghangatkan tubuhnya. Setelah mendapat ketukan pintu Ran keluar dan dituntun menuju ring tinju.
Ran melompat ke dalam ring tinju dan berdiri di salah satu ujung ring. Dia melirik pada Lily yang berada di sisi sebrang ring bersama dengan ketua klub tinju. Lily mengenakan sport bra hitam dengan celana pendek ketat. Tangannya mengenakan sarung tinju berwarna biru. Lily mengikat rambut panjangnya menjadi buntut kuda yang tinggi. Ran merasa aneh karena dirinya menggunakan pakaian olahraga dan tidak menampakan kulitnya yang putih.
Seseorang menepuk bahu Ran. Ran menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Gumi berdiri di belakang ring. "Apa kamu ga punya baju yang seksi untuk tinju Ran?" bisik Gumi sambil menyipitkan matanya. Bibir Gumi masih membiru karena pukulan kemarin malam.
Ran menyentakkan alisnya. "Maaf saja ya! aku disini untuk mengalahkannya! bukan untuk mempertontonkan kulitku yang mulus!"
Gumi tertawa kecil. "Baiklah-baiklah. Maafkan aku. Tapi untunglah kamu menggunakan pakaian tertutup, kalau tidak aku tidak akan mau berada di dekatmu melihat tubuhmh yang rata."
Ran menyipitkan matanya. "Maaf saja ya tubuhku memang rata dan aku ga suka make yang palsu!"
Gumi tertegun dan satu alisnya terangkat sebelah. Gumi kemudian terkekeh. "Sudah gunakan pelindung rahangmu dan sarung tinjunya."
Ran mengambil pelindung rahang dan menggigitnya. Ran kemudian menggunakan sarung tinju berwarna merah.
"Ran!" Suara teriakan Rin membuat Ran memalingkan wajahnya pada Rin yang berjalan mendekati Gumi. Ran tidak bisa menjawab karena dia sudah terlanjur menggunakan pelindung rahang, sulit untuknya berbicara karena mulutnya yang penuh.
Rin menatap Ran dengan tatapan memohon. Dia menautkan kedua tangannya kemudian mengangkatnya di depan dadanya. Bibirnya melengkungkan kesedihan dan kekhawatiran. "Ran... jangan terlalu keras pada Lily..."
Gumi menolehkan kepalanya pada Rin. Dia hendak marah tapi kemudian menutup mulutnya lagi.
"Aku yakin Ran bisa menang... tapi jangan terlalu menyakitinya..." pinta Rin.
Ran tertegun. Perasaan iri timbul dalam dirinya. Bagaimana bisa dia lebih peduli pada Lily. Tapi kalau Rin meminta begitu... apa tidak apa-apa? Ran kemudian mengangguk.
Suara mikrofon yang baru dinyalakan membuat mereka semua yang ada di dalam gedung olahraga diam dan menutup mulutnya. Ran menoleh ke arah sumber suara. Di sisi sebelah kanan ring tinju tersusun meja yang diduduki oleh beberapa orang anggota klub tinju. Di atas meja tersebut terdapat name tag 'juri'. Seseorang yang duduk di deretan bangku kemudian berdiri sambil memegang mikrofon. Gadis yang memegang mikrofon itu berambut hitam panjang dan menggunakan jersey sekolah berwarna merah.
"Saya akan membacakan peraturan untuk hari ini, peraturan tinju akan sedikit diubah. Peraturannya adalah: satu. Pertandingan akan dilangsungkan dalam waktu tiga puluh menit; dua. Pertandingan akan diadakan dalam dua set. Waktu dalam satu set pertandingan adalah empat belas menit; tiga. Istirahat selama dua menit setelah set pertama; empat. Jika hasil dari seluruh pertandingan ini seri, berdasarkan perjanjian yang telah di sepakati, Lily akan mengundurkan diri dari pertandingan. terakhir, peraturan lainnya mengikuti peraturan tinju lainnya," ucap gadis berambut hitam tersebut Gadis itu memberi sinyal kepada temannya yang ada di sebelahnya untuk menekan bel. Setelah memberi sinyal dia kemudian menatap temannya yang satu lagi berdiri di sisi ring tinju. Gadis yang berada di sisi ring tinju itu berambut biru tua dengan kulit kecoklatan kemudian melompat ke dalam ring tinju dan menggesturkan agar Ran dan Lily mendekat.
Gumi menepuk-nepuk bahu Ran kemudian menariknya kebelakang ketika Ran hendak berjalan mendekati wasit. "Untuk pertama-tama, jangan terlalu banyak menyerang, lakukan pertahanan dan coba pelajari gerakan lawan. Aku akan membantumu membacanya."
Ran mengangguk. "Baiklah." Ran kemudian berjalan mendekati wasit tersebut. Dia berdiri berhadap-hadapan dengan Lily. Mata mereka saling beradu pandang. Lily memandangnya dengan santai, sementara Ran memandang Lily dengan tajam.
"Mulai!" teriak wasit bersamaan dengan bel yang berbunyi. Wasit tersebut langsung melangkah mundue tapi matanya masih mengawasi Ran dan juga Lily.
Lily sedikit memutar tubuhnya sembilan puluh derajat kebelakang. Tinju kanannya di bawah bahu sementara tinju kirinya sejajar dengan bahunya dan tangannya menekuk ke belakang.
Jab! Ketika Lily memutar badannya, Ran merapatkan tangannya dan melindungi wajahnya. Tinju Lily sangat tepat waktunya ketika Ran merapatkan tangannya. Tinju Lily terjepit oleh tangan Ran yang melakukan pertahanan. Tinjunya tak terlihat! Dia lebih cepat dari Gumi!
Lily menyeringai. "Refleks yang lumayan. Tapi mari kita lihat seberapa fokus dirimu." Lily kemudian merarik tinjunya yang terjepit tangan Ran.
Gadis berambut hitam itu mulai mengomentari setiap gerakan Lily dan Ran. Dia adalah komentator pertandingan. "Refleks yang bagus! Ran berhasil menghadang jab dari Lily!" teriaknya.
Ran segera merapatkan pertahanannya dan melangkah mundur. Matanya fokus melihat gerakan pinggang dan bahu Lily. Lily sedikit melangkah maju dengan mendorong bahu kanannya ke depan. Tinju melayang secara datar menuju wajah Ran. Ran menghindar dengan bergeser ke kanan. Matanya terlalu fokus dengan tangan kanan Lily.
Lily melayangkan tinju teknik hook dengan tangan kirinya. Tinjunya pas mengenai pipi Ran. Pipi Ran terdorong tapi untung karena pelindung yang digigitnya rahangnya tidak bergeser jauh. Ran merasa pusing, pandangannya sedikit buyar. Ran menolehkan kepalanya yang terasa berat ke Lily. Wasit berdiri di sebelahnya dan menahan Lily untuk menyerangnya.
Komentator terus berbicara mengomentari tapi Ran tidak bisa mendengarnya dengan jelas. "Ran!" Ran bisa mendengar suara orang-orang yang meneriaki namanya, tapi telinganya berdengung.
Lily menurunkan "Aku baru mulai, dan kamu sudah kena tinjuku, membosankan." Lily mendengus sambil menurunkan tinjunya. Dia mengambil kuda-kudanya lagi dan menyeringai. "Tapi sudah lama aku tidak latihan dengan orang lain sejak aku masuk sekolah ini. Ternyata kemampuanku belum karatan."
Ran berusaha mengambil kuda-kudanya lagi kemudian melakukan pertahanan lagi. Wasit kemudian melangkah mundur dan kembali mengawasi mereka.
"Masih mau bertahan? baiklah akan kulayani." Lily kembali melakukan serangan straight kepada Ran. "Kita lihat sampai kapan kamu bisa bertahan!"
Ran berhasil menghindari serangan straight dari Lily dengan merunduk dan melangkah kebelakang, tapi jaraknya dengan batas ring telah dekat. Tapi dia tidak belajar dari kesalahannya. Lily melakukan uppercut dengan tangan kirinya pada dagu Ran. Lily berhasil mematahkan pertahanannya. Tubuhnya ikut terdorong ke belakang dan menabrak tali sisi ring.
Ran berteriak sambil mengerang kesakitan. Dagunya terdorong ke atas. Pukulan berkali-kali lipat dari pada yang pernah dirasakan sewaktu perkelahian jalanan dengan musuh-musuhnya di sekolah. Wasit segera mendekatinya dan memisahkan keduanya.
Ran terjatuh duduk dengan satu tangan yang menumpunya. Ran berdiri lagi. Wasit kembali melangkah mundur. Melihat Lily melakukan serangan jab Ran melakukan pertahanan lagi sambil bergeser ke kiri dan memutar. Dengan cepat Lily ikut memutar badannya dan menyerang Ran dengan cepat menggunakan serangan straight tangan kanan. Ran meringkukkan badannya dan mengayun tubuhnya ke belakang. Lily kembali melakukan uppercut dengan tangan kirinya ke arah perut Ran.
Karena pertahanan yang kurang kuat lagi-lagi Lily dapat menembus pertahanannya tersebut. Ran terdorong ke bekalang dan jatuh berjongkok. Ran mengernyitkan dahinya. Giginya menggertak berusaha menahan muntahan yang akan keluar dari mulutnya. Ran memegangi perutnya yang sakit. Teriakan-teriakan dan sorak sorai semakin meriah. Dia bahkan tidak bisa mendengarkan dengan jelas apa yang diterikan Gumi di belakangnya meskipun dia yakin kalau Gumi meneriakinya sesuatu.
Ran berdiri lagi. Saat Ran berdiri dan mengambil kuda-kuda Lily telah siap dengan tinju hooknya. Ran segera merunduk kemudian bergeser ke sebelah kanan dan mengambil langkah memutar di belakang Lily.
Lily melangkah maju kemudian memutar. Tangan kanannya melayangkan hook. Ran merunduk lagi. Tangan kiri Lily melayangkan uppercut. Dengan gesit dan melangkah serong ke belakang. Jaraknya dengan tali ring masih cukup lebar.
"Improfisasi yang cukup bagus!" ucap Lily sambil mendengus dan ujung-ujung bibirnya terangkat membentuk seringai. Lily menggeram kemudian menggertakkan giginya. Lily kemudian menyerang dengan berbagai kombinasi pukulan. Ran bertahan dengan tangannya sambil melangkah mundur. Tapi kini dia tidak bisa menghindar karena tinju Lily selaku tepat mengikuti pergerakannya. Sial! tinjunya lebih cepat dari yang tadi!
Tubuhnya memang terlindungi dari pukukan tinju Lily tapi, tangan Ran benar-benar sakit merasakan pukulan-pukulan keras dari Lily. Lily benar-benar memanfaatkan berat badannya untuk menguatkan pukulannya.
Ketika Ran terdesak di tali ring wasit memisahkan mereka berdua. Setelah wasit melangkah mundur Ran melakukan serangan jab dan memanfaatkan beratnya kepada Lily. Lily melindungi tubuhnya dengan tangannha dengan cepat sambil bergeser ke kiri.
Kini giliran Ran yang terus menyerangnya dengan rangkaian kombinasi tinju. Lily terus berjalan mundur dan bergeser tapi tak ada satupun dari pukulan Ran yang mengenai pertahanan Lily. Bahkan dalam pertahanan dia juga cepat!
Lily terus menyeringai. Mata Ran tetap fokus memerhatikan gerakan lincah, berusaha membacanya. Otaknya berusaha mengira-ngira gerakan selanjutnya yang akan diambil oleh Lily dan menentukan di titik mana dia harus menyerang. Ran tetap menjaga tangan kanannya untuk memukul dengan arah sejajar dengan bahu dan juga melakukan uppercut ke arah perut. Ran juga menggunakan uppercut ke arah perut dengan tangan kirinya agar Lily tidak bisa membaca bagian mana dari tubuhnya yang luka.
Satu gerakan memutar dari Lily membuatnya kewalahan. Ran memutar dengan berporos pada kaki kirinya. Satu hal telah dilupakannya karena terkalu fokus melindungi tangan kanannya. Kaki kirinya sedikit ngilu setelah dia berputar. Ran mengernyitkan matanya dan melemaskan kuda-kudanya. Dia mengangkat kaki kirinya kemudian menghentak-hentakkan kakinya tersebut. Lily kemudian membuka pertahanannya dan menyerang Ran dengan straight.
Ran segera melindungi wajahnya tapi telat untuk menghindar karena sakit kakinya yang kambuh. Tinju Lily mengenai tangannya. Tapi rasanya pukulannya tidak sekeras sebelumnya, meskipun tetap saja membuatnya sakit karena lebam-lebam di tubuhnya.
Ran menahan rasa sakit di kakinya dan memaksakan diri untuk bergerak memutar. Dia bergerak memutar dan ketika Lily berputar Ran memukulnya dengan serangan hook ke pipi kanan Lily. Lily merunduk. Tangan kanan Ran melayangkan tinju uppercut ke perutnya. Ran berhasil mengenai perut Lily tapi tinjunya tidak bisa sekeras yang dikeluarkan Lily ketika dia melihat bayangan Rin dalam benaknya yang memintanya jangan menyakiti Lily. Ran terdiam, sementara Lily mengambil langkah mundur. Pertahanannya sedikit miring, lebuh condong ke arah kanan.
Lily menyeringai sambil mengusap-usap perutnya yang ditinju Ran. "Lumayan... akhirnya kamu bisa memukulku... tapi pukulan seperti ini tidak berarti apa-apa untukku."
Bel berbunyi dan menandakan set pertama telah berakhir. Wasit kemudian memisahkan mereka. Ran dan Lily berbalik kemudian berjalan kembali ke ujung-ujung ring tinju menemui pelatih mereka masing-masing.
Ran bersandar di sudut ring sementara Gumi berada di belakangnya. Gumi menepuk-nepuk bahu Ran. Ran berbalik dan menghadap Gumi. "Pasti sakit mendapatkan pukulannya." Gumi memegangi tangan Ran dan menekan-nekan tangannya.
Ran mengernyit dan sedikit menggeram kesakitan. Ran melepaskan sarung tangan tinju kanannya dan mengeluarkan pengaman rahangnya. "Aw... tentu saja!"
Gumi mendekatkan kepalanya kepasa Ran dan berbisik, "apa kamu sudah bisa membaca gerakannya? kamu sepertinya masih sulit mencari celahnya." Gumi memberikan sebotol air mineral kepada Ran. "Minumlah."
Ran mengangguk sambil melirik ke belakang. Ran memperhatikan Lily yang sedang berdiskusi dengan pelatihnya. Ran menoleh kepada Gumi lagi dan menerima air mineral dari tangan Gumi. "Terima kasih." Ran membuka tutup botol tersebut. "Ya... aku mulai bisa memahami gerakannya yang lincah... hanya saja aku belum bisa mencari kelemahannya." Ran menegak air dari dalam botol minumnya.
Gumi berbisik lagi setelah Ran menutup botol miliknya. "Tapi aku sudah mulai bisa mencari titik lemahnya."
Ran memberikan botol tersebut kepada Gumi sambik membulatkan matanya. "Apa? beritahu aku!"
Gumi melirik kepada Lily. "Pipi kirinya. Saat dia bertahan, bertahanan di pipi kirinya sedikit lebih lambat. Dan di menit-menit terakhir set pertama sebenarnya pertahanan sebelah kirinya melemah. Kalau kamu tadi bisa menggunakan kesempatan barusan, kamu bisa memukulnya K.O dengan hook dibantu dengan berat badanmu."
Ran menjentikkan jarinya. "Benar juga! kenapa aku tidak terfikirkan ya..." Ran mengigit pengaman rahangnya kembali kemudian mengenakan sarung tangan tinjunya.
Gumi menyeringai. "Wajar saja. Saat fisik sudah kelelahan kita memang jarang fokus."
Wasit menginstruksikan agar Ran dan Lily mendekatinya. Gumi kemudian menepuk-nepuk bahu Ran. "Ingat kata-kataku tadi. Pipi kiri, menit-menit terakhir, dan jangan sampai dia mengetahui kondisi tanganmu."
Ran mengangguk kemudian berjalan mendekati wasit. Bel kembali berbunyi menandakan masuknya permainan ke set kedua dimulai. Wasit mengambil langkah mundur sambil menyentakkan tangannya.
Ran dan Lily sama-sama mengambil kuda-kuda dan mata mereka saling beradu pandang. Keduanya diam senejak. Ran memutar tubuhnya ke belakang. Ran kini sedikit dapat membaca gerakan Lily. Lily menarik tangan kanannya ke belakang. Dengan cepat tinju itu melesat maju menyerang wajah Ran. Ran menunduk kemudian menggunakan tangan kirinya intuk melakukan uppercut pada dagu Lily.
Lily menghindar dengan mencondongkan badannya ke belakang dibarengi dengan sedikit lompatan ke belakang. Ran kembali menyerang Lily. Lily melakukan pertahanan dan terdesak ke belakang. Ran berhasil memukul pertahanan Lily. Wasit memisahkan mereka ketika posisi Lily terpojok di sisi ring.
Lily melakukan jab dengan tangan kirinya dan mengkombinasikannya dengan straight. Dia melakukan gerakan itu dengan sangat cepat. Ran lolos dari jab dengan bergeser ke kiri tapi langsung di datangi tinju di pipi kirinya. Ran mengangkat tangannya untuk melindungi pipinya. Waktu Ran mengangkat tangan sangat tepat sehingga membuat tangannya terdorong dan mendorong pipinya.
Meskipun Lily terus menyerang sedikit demi sedikit Ran mulai bisa menghindari pukulan-pukulannya. Dia terus bergeser, mundur dan berputar-putar sambil sesekali menyerang Lily ketika dirinya sedang mengikuti gerakan memutar Lily.
Pertarungan semakin alot karena keduanya menghindar dengan baik. Ran mulai bisa mengikuti gerakan Lily yang cepat. Banyak pukulan Ran yang meleset dan banyak juga pukulan Lily yang hampir-hampir mengenainya.
Seperempat menit set ke-dua keduanya berhenti menyerang dan saling memandang satu sama lain. Lily kemudian memulai serangan dengan straight tangan kanan. Ran merunduk kemudian melayangkan tinju hook dengan tangan kiri kepada Lily. Lily ikut menggunakan hook dengan tangan kanan dan memukul pipi Ran.
Tapi karena tangan mereka yang terkait pukulan tidak sekeras hook yang diterima Ran sebelumnya. Serangan Lily semakin cepat dan kini mengenai pertahanan Ran. Ran melonggarkan petahanan tangan kirinya, Lily juga melonggarkan pertahanan sebelah kirinya.
Mereka terus menyerang dengan pertahanan terbuka. Keduanya kini disulut oleh amarah dan ambisi untuk menang. Setiap matanya tak sengaja melihat Rin pertahanan dan serangannya meleham sehingga Lilt menghajarnya dengan hook dan uppercut.
Perutnya melilit dan kepalanya pusing seperti baru turun dari roller coaster. Keduanya kini diam dan saling beradu tatap.
Lily mengernyitkan alis sambil menyentakkan kuda-kudanya. "Kenapa kamu menahan dirimu? aku yakin pukulan bisa lebih keras dari ini," ucap Lily. Darah muncul dari ujung bibir kirinya. Pelipis matanya juga lebam. Perkataan Gumi benar, pertahanan pipi kirinya lebuh ceroboh.
Ran menyentak kepalanya ke sebelah kiri sambil tangannya menyeka darah di wajahnya. Ran mengernyit dan bayangan Rin muncul dalam dirinya.
Lily menyeringai. "Tidak menjawab ya? sudah kuduga. Berarti yang dikatakan Rin itu benar."
Ran tersentak pupil matanya mengecil dan konsentrasinya buyar. Ran melirik kepada Rin kemudian menatap Lily.
Lily berputar kemudian melayangkan tinju straight kepada Ran. Ran tidak sempat menghindar sehingga dia hanya bisa merapatkan tangannya dan wajahnya tapi dugaan Ran kalau Lily melayangkan straight salah. Lily melayangkan tinju hook ke pipi kanan. Tinju itu tepat mengenai pipi Ran sehingga membuatnya terdorong. Lily menjemput pipi kiri Ran dengan pukulan hook yang sedikit mengarah ke bawah. Ran merunduk jatuh akibat dorongan di pipi kirinya. Lily melakukan uppercut pada perutnya.
Ran jatuh terpental ke tali sisi Ring. Tubuhnya memantul akibat tali ring yang cukup elastis. Ran jatuh tersungkur. Pengaman rahangnya lepas dan jatuh di sebelahnya.
Pandangannya buyar. Tubuhnya kaku, rasanya sakit sekali. Telinganga berdengung. Pipi, bibir dan urat di lehernya berkedut-kedut. Apa ini kekuatan wanita yang sebenarnya?
"Ran jatuh!" teriak komentator.
Wasit mendatangi Ran dan merunduk di sebelahnya. Wasit mulai menghitung dari angka satu.
Ah... kenapa aku sekarang mau berkelahi untuk membela orang lain... Ran menutup matanya dan mendengar suara wasit dan orang-orang yang memanggilnya. Kalau dipikir-pikir... sejak kapan aku mulai peduli dengan orang lain... Hitungan wasit sampai ke hitungan ke empat. Entah kenapa sejak mengetahui Rin anak ayah sepertinya aku disihir dan jalan pikirku mulai berubah. Pertemuan dengannya membuatku berubah? atau karena aku ingin memenuhi keinginan ayah?
"Ran!" suara Rin menjangkau kesadaran Ran.
Ran membuka matanya dan melihat wasit berjongkok di sebelahnya. Wasit mengitung sampai angka ke enam.
"Jangan mati Ran!" suara Miku melengkingkan telinganya dan membuat Ran merasa geli. Dia ingin tertawa tapi perutnya terlalu kaku untuk tertawa.
"Tujuh!" teriak wasit.
Ran perlahan-lahan bangkit. Dia bertumpu pada kaki kanannya. Ran mengambil pengaman rahang yang ada di sebelahnya.
"Delapan!"
Meskipun seluruh badannya kaku dan terasa nyeri, Ran berhasil bangkit. Dia berdiri dengan sedikit terhuyung-huyung.
"Ran berhasil berdiri kembali!" teriak komentator dan membuat riuh penonton.
Ran mengambil kuda-kudanya. Dia melirik kepada Miku. Ran tersenyum kepadanya. "Aku tidak akan mati karena ini." Ran memasukkan pengaman rahang ke mulutnya dan menggigitnya.
Air mata menitik dari ujung matanya. Miku tertawa kecil kepada Ran dan mengangguk-angguk. Luka merangkul Miku dan menepuk-nepuknya.
Ran kemudian melirik kepasa Gumi. Gumi menghela nafasnya. Mata Ran kemudian melirik ke Rin yang ada di sebelah Miku. Rin menghela nafasnya sambil tersenyum lega. Tapi perasaan kesal muncul dalam dirinya. Apa yang Rin beritahu kepada Lily?
Pikirannya buyar ketika wasit menyuruhnya mendekatinya. Ran mendekat kepada wasit dan beradu pandang pada Lily. Wasit menghentakkan tangannya dan berjalan mundur.
Keduanya diam dan saling beradu pandang. Lily menyeringai. "Masih bisa berdiri juga. Wajar saja, karena bagaimanapun kamu pasti lebih kuat dari perempuan normal."
Dia terus bisa bicara dengan pengaman rahang... bagaimana bisa Ran mengernyitkan dahi dan melontarkan tinju jab pada pipi kiri Lily. Disambungnya jab itu dengan uppercut rendah pada tangan kanannya. Ketika tangan kanan itu meninju perut Lily, rasa linu menjalar di tangan kanannya. Sial! jangan sekarang! Pukulannya melemah karena rasa sakit yang tiba-tiba menyerang tangan kanannya.
Lily kembali menyerang. Ran menghindar dengan mencondongkan tubuh ke belakang. Mereka saling beradu tinju tapi keduanya tetap kokoh. Ran mengambil nafas dengan berat. Dia memperhatikan Lily yang sama-sama mengambil nafas. Mereka berdua terengah-engah. Dada mereka mengembang mengempis.
Lily mulai menyerang dengan tangan kanannya. Kini pertahanan kirinya melemah. Ran bergeser dan melayangkan tinju straight dengan tangan kanannya. Rasanya linu setengah mati ketika tidak sengaja tangannya berada sedikit di atas bahunya. Pipi kiri Lily terkena tinju Ran.
Lily mundur kebelakang dan melakukan hook. Ran juga membalas serangan Lily dengan hook. Keduanya terkena pukulan tinju dan tangan mereka juga saling berkaitan. Wasit memisahkan mereka berdua.
Menit demi menit berlalu. Pertandingan sudah berlangsung tiga perempat set. Tinggal beberapa menit lagi sebelum pertandingan berakhir. Ran sudah kehabisan tenaganya. Keringat mengalir deras di belakang balik baju olahraganya.
Pukulan-pukulan kembali menyerang Ran. Ran terus menghindar sambil sesekali menyerang celah Lily. Mereka saling melontarkan tinju satu sama lain. Wajah dan tubuh mereka telah penuh dengan luka lebam.
Ran menemukan celah pada dagu Lily tapi tangan kirinya baru saja melakukan hook. Ran melakukan uppercut pada dagu Lily dengan tangan kanannya. Dia mengabaikan seluruh rasa sakit tangannha dan berharap-harap cemas pada tangannya. Kepalanya pusing, pandangannya berkunang-kunang karena terlalu banyak menerima hook menyakitkan dari Lily. Sekali saja uppercut dan aku akan melakukan hook untuk menumbangkannya!
Tinjunya berhasil mengenai dagu Lily. Ran terus mendorong dagu Lily ke atas. Kepala Lily mendongak ke atas menerima pukulan di dagunya. Lily melangkah mundur dan tubuhnya terhuyung-huyung.
Rasa sakit menusuk-nusuk lengan atasnya yang sedikit tinggi dari bahu karena dorongan ke atas tinjunya. Tangan Ran berhenti dan jatuh. Ran mengernyitkan matanya sambil mendesis.
Lily memutat tubuhnya dan melayangkan hook menggunakan tangan kirinya. Tinjunya meninju pipi Ran. Ran tidak dapat menghindar karena terhalang rasa sakitnya. Lily menyambung pukulan itu dengan meninju pipi kiri Ran. Lily kemudian melakukan uppercut kepada dagu Ran. Ran menguatkan gigitannya kepada pengamannya. Pukulan hook Lily dan uppercutnya dua kali lebih kuat dari sebelumnya. Ran sedikit terlembar ke atas dan jatuh di sisi ring tinju. Ran kembali terjatuh. Komentator berteriak memanggil namanya sementara penonton bersorak-sorai.
Ran terkulai lemas di sisi ring. Tubuhnya terlentang. Matanya tertutup. Dia bisa mendengarkan teriakan-teriakan orang-orang yang menyuruhnya untuk bangkit. Suara komentator juga memekakkan telinganya. Juri mulai menghitung dari angka satu dengan suara lantangnya. Tubuhnya sudah tidak mampu bangkit lagi. Rasanya terlalu berat, otot-ototnya kaku dan menolaknya untuk bergerak.
Apa aku akan kalah? Ran merasakan sakit di dagunya. Dia melemaskan gigitannya pada pengaman rahangnya.
"Ran! bangun!" teriak Gumi.
"Ran!" Ran bisa mendengar suara-suara teriakan dari teman-temannya.
"Lima!" teriak wasit.
Ah... tapi tubuhku sudah menolak untuk bangun. Bayangan Rin muncul dalam benaknya. Sosok Rin yang tersenyum membuatnya menyentakkan alisnya. Air mata keluar dari ujung-ujung matanya. Aku kalah dari seorang gadis... Bayangan Miku yang tersenyum muncul dalam benaknya, juga suaranya yang sebelumnya membangkitkan semangatnya. Aku pasti dikeluarkan dari sekolah. Itu kan perjanjiannya. Rasanya perutnya seperti tergelitik ketika mengingat Miku dan telinganya memanas. Ah... kita tidak akan bertemu lagi. Bayangan Gakupo yang memakaikan baju perempuan untuknya muncul dalam benaknya. Awal kedatanganku kesini adalah untuk melindungi Rin, tapi aku justru berurusan dengan mereka. Suara wasit menghitung di angka depalan. Len tiba-tiba teringat akan ayahnya dan juga kuburannya. Tapi setelah ini aku tidak perlu menjadi orang lain lagi. Yah, setelah ini aku akan membuka semuanya pada Rin dan melindungi Rin dengan caraku sendiri. Bayangan orang yang dulu pernah mengintainya di kuburan juga tergambar jelas dalam benaknya. Tapi aku juga masih harus menyelesaikan banyak masalah yang Ran tinggalkan sebagai Len. Ah tidak, itu sekarang menjadi masalah Len karena dia melihatku dalam wujud Len.
"Sepuluh! Knocked Out!" teriak wasit kemudian berdiri dan mengabgkat tangan kanan Lily ke atas.
"Pemenangnya adalah Lily!" teriak komentator dan penonton semakin riuh dengan sorak-sorai kemenangan mereka.
Ran melengkungkan senyuman tipis di bibirnya. Ran membuka matanya secara perlahan. Aku kalah...
Ran mendengar seringai Lily. "Apa aku bisa bicara sebentar dengan mic'mu komentator?" suara Lily sedikit menggema di telinganya. Suara Lily kemudian dibalas oleh suara dengung dari mikrofon yang dipindah tangankan kepada Lily. "Semuanya harap tenang," ucap Lily dengan suara tenangnya. Ran tidak ingin mendengar apapun jadi dia hanya membuka matanya dan menatap langit-langit. Suara riuh sesaat langsung tenang.
"Aku punya pengumuman untuk kalian semua." Suara Lily menjadi lebih jelas dari sebelumnya tapi telinganya masih sedikit berdengung. "Aku ingin mengumumkan semua rahasia terbesar di sembunyikan oleh teman kita yang terkulai saat ini."
Mata Ran terbelalak. Pupil matanya mengecil. Ran berusaha mengangkat kepalanya.
"Apa kalian tahu? Ran adalah kembaran dari Rin." Suara Lily menusuk dadanya. Semuanya sunyi. Para penonton kemudian mulai berbisik-bisik.
Ran tidak mampu bangun. Ototnya benar-benar menolak perintahnya. Ran menatap pasrah pada langit-langit. Keringat mengalir dari kening ke pojok keningnya dan masuk ke dalam poni rambutnya. Ah! Tunggu dulu... bagaimana dia bisa tahu?! yang tahu hanya Mikuo, paman, guru Ars dan Luka. Ah iya aku juga sudah membongkarnya pada Rin. Siapa yang memberitahukan Lily. Mikuo? Tidak mungkin, dia orang yang paling sering mengingatkanku untuk menjadi Ran. Paman... rasanya tidak mungkin, meskipun dia aneh tapi aku percaya padanya. Guru Ars, tapi dia sendiri bilang akan membantuku, Luka juga begitu. Apa mungkin Rin?
Lily tertawa kecil. "Kalian pasti tidak percaya. Aku juga begitu. Ketika seseorang memberitahuku aku tidak percaya. Tapi aku sadar kalau orang yang memberitahuku bukanlah seorang pembohong."
Ran bergumam bisu mengucapkan kutukan-kutukan kepada Lily. Tapi, aku tidak tahu siapa diantara mereka berlima yang bukan pembohong.
"Tapi kalian tahu, ada hal yang lebih mengejutkan lagi dari Ran," ucap Lily.
Apa? jangan-jangan dia! Mata Ran membelalak. Dia menumpu sikutnya untuk membangunkan dirinya. Ran sedikit mengangkat kepalanya.
"Ran adalah seorang anak laki-laki," ucap Lily dengan seringai dan kekehannya.
Otot-otot Ran langsung lemas dan tubuhnya terkulai lagi. Ini yang namanya sudah jatuh tertimpa tangga... tapi... dia tahu dari mana?!
A.N
helloo. Sudah di puncak masalah sepertinya. kyaaa ini chapter terpanjang yg pernah aku ketik di re:IOMS X'D
sebenernya cerita awal IOMS dirancang sampai ch 12, dan dalam draft seharusnya ini ada di chapter 8-10, eh taunya.. salah perhitungan :'' 😂
oh iya, ada pembaca yang baik hati yang memberitahuku ada beberapa typo, dia nge screen shot letak kesalahannya dan mengirimnya padaku, aku sangat berterima kasih(jujur aku suka bingung dan terus ada yg kelewat kalau meriksa typo) 😂 dan aku maklumi, dalam penulisan nama Ran sama Rin aku suka ketuker karena mereka cmn beda huruf vokal doang 😂. meskipun udah diperiksa, masih ada yang lolos eliminasi, maafkan ya kalau ada kesalah, dan jangan sungkan-sungkan untuk memberitahu kalau ada kesalahan penulisan nama, atau typo apapun, bisa lewat pm atau review. (sebenernya ada beberpa yg suka ngasih tau typo :')) ). terima kasih atas perhatiannya X'D
feel free to review :3
