Fanfiction

Title : Kehidupan Baru Boruto

Chapter : 14

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance & Drama

Pairing : Uzumaki Boruto & Uchiha Sarada

Warning : OOC Yg Berlebihan, TYPO, EYD dan bahasa yg hancur, AU.

::==::==::

:

:

:

"Boruto, bagaimana kau bisa selamat. Apa mereka mengobatimu?" tanya Sarada. "Tidak, aku tidak tertusuk pedang, saat itu aku sudah sangat lelah dan tidak punya tenaga untuk bertahan. Saat itu aku nyaris pingsan dan saat Fauzan hampir menghunuskan pedangnya kearahku, aku merosot dan akhirnya pingsan."

"jadi begitu, kukira kau di tusuk dan meninggal. Kau membuatku sangat hawatir dan sangat sedih," ucap Sarada dengan sedikit mengeluarkan air mata. Boruto pun semakin mendekati Sarada dan menepis air mata sarada dengan jarinya. "Kau tidak boleh sedih lagi. Sudah cukup kau bersedih untuk 1 hari." Ucap Boruto lalu ia berdiri dan melihat sekitar.

Sarada terdiam lalu memperhatikan Boruto "Kau sedang apa Boruto?" tanya Sarada. "Aku sedang mencari jalan untuk keluar. Aku yakin sebuah bencana yang buruk akan terjadi jika Mafia mendapatkan Techconnec," ucap Boruto.

"Jadi apa kau mau mencegah ayahku untuk menandatangai Surat penyerahan Saham?" tanya Sarada lagi. "Aku yakin ayahmu juga memiliki pemikiran yang sama sepertiku. Ia pasti berpikir 2 kali untuk menyetujui Perjanjian itu," ucap Boruto.

"Aku juga berpikir begitu. Tapi kita tidak tahu apa yang akan para Mafia lakukan jika ayahku menolak, mungkin mereka akan membunuh kita, dan ayahku pasti tidak ingin aku dan kau mati. Ayahku bisa menyetujui perjanjian itu karena ancaman seperti itu," ucap Sarada.

Boruto melihat setiap sudut dari ruangan itu. Dan semangatnya untuk mencari jalan keluar pun mengendur saat ia tak melihat sedikitpun peluang. Di tambah ada 2 buah kamera CCTV yang terpajang indah di sudut ruangan membuat semangat Melarikan Boruto hilang. Boruto pun membanting dirinya di kasur.

"Ini buruk. Tidak ada jalan keluar dan pastinya keamanan sangat di perketat. Ini buruk," ucap Boruto. Sarada mendekati Boruto yang berbaring di kasur yang sebenarnya bisa di bilang keras dan tidak empuk. Sarada pun duduk di samping Boruto yang sedang tidur terlentang.

"Jika ayahku menandatangai perjanjian itu, bencana yang buruk akan terjadi. Tapi apa itu? Kuharap ayahku tak salah mengambil keputusan," ucap Sarada. Boruto tersenyum dan sedikit tertawa geli. "K-kau kenapa Boruto, kau kira itu lucu?" ucap Sarada.

"Tidak, itu buruk. Tapi ada yang lebih buruk," ucap Boruto. "Apa itu?" tanya Sarada. "Kau tahukan, aku dan kau sudah bekerja di perusahaan ayahmu selama sebulan lebih. Tapi sampai sekarang kita belum mendapatkan Gaji, dan apabila Techconnec jatuh ke tangan Mafia, berarti aku dan kau tidak akan di gaji selamanya," ucap Boruto sedikit tertawa geli.

"Ahh, di saat seperti ini kau malah berpikir soal gaji yang belum kita terima. Dasar mata duitan." Sarada pun menyuruh Boruto bergeser dan ikut tidur di samping Boruto. "Aku masih berharap ayahku tidak mengambil keputusan yang salah yang akan membuat nasib penduduk Konoha menderita," ucap Sarada lalu menutup matanya. Boruto pun bergeser untuk memberi jarak antara dia dan Sarada kemudian ikut menutup matanya.

::==::==::

Sasuke yang sedari tadi memperhatikan Boruto dan Sarada yang terkunci di sebuah ruangan melalui televisi yang langsung terhubung dengan CCTV di ruangan itu pun merasa sedih, dan sangat bersalah. Walau dalam CCTV itu tidak ada suara percapakan, Sasuke bisa merasakan ke hawatiran Sarada dan Boruto jika ia menandatangani Dokumen itu.

"Ini sangat membingungan. Jika aku menandatangani, Sarada dan Boruto akan bebas. Tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Tapi jika aku menolak, aku juga tidak tahu apa yang akan mereka lakukan pada Putriku dan Boruto," batin Sasuke.

Sasuke berpikir sejenak lalu mematikan Televisi tersebut dan kembali berpikir. "Kakak, Sakura, Ayah, Ibu, Kakek, apa yang harus ku lakukan." Sasuke lalu membanting kepalanya di meja dan menutup matanya seraya berusaha memasuki alam mimpi berharap ia mendapatkan petunjuk.

::==::==::

Bee memperhatikan Sasuke dari kamera CCTV yang terpasang di ruang tempat Sasuke berada. Ia menjadi sedikit kesal karena melihat Sasuke tak kunjung menandatangai dokumen itu. Tangannya ia kepal lalu ia tumbukan ke salah satu tembok. Giginya bergetar dan matanya ia buka lebar karena rasa marah yang mulai timbul.

"FAUZAN...RIDWAN...BAWA ANAK SASUKE DAN TEMANNYA KESINI CEPAT." Ridwan dan Fauzan pun dengan segera berlari ke ruangan tempat mereka menyekap Sarada dan Boruto.

Bee pun berjalan masuk ke dalam ruangan tempat Sasuke berada. Ia sudah benar-benar kehabisan kesabaran. Pintu ia tendang untuk membukanya. Pistol pun ia keluarkan dan ia todong ke arah Sasuke yang sepertinya sudah tertidur. "Brengsek kau Sasuke, ku minta kau menandatangani dokumen itu tapi malah tidur. Akan ku tembak kau," teriak Sasuke.

Salah satu tangan kanan Bee pun memegang Pistol Bee. "Sabar tuan, kita memerlukan tanda tangannya. Jika ia sudah menandatanganinya, anda bisa menembaknya" ucap tangan kanan itu. Bee pun menurunkan emosinya perlahan dan menyimpan kembali Pistolnya.

"Lepaskan aku, Brengsek lepaskan aku. Jangan pegang-pegang dasar pengecut pecundang."

"Hey, jangan kasar dengan Sarada." "Diam kalian berdua, aku tidak segan-segan melukai kalian berdua."

"Agh, sial kau Ridwan." "jika kau tidak diam, mungkin pelatuk pistol itu yang akan kutarik."

Suara itu terdengar dari luar ruangan dan langsung membangunkan Sasuke. "Sarada..." ucap Sasuke spontan saat bangun. Bee lalu melipat tangannya dan berkata "Bagus, bagus sekali. Ku minta kau menandatangai dokumen itu. Namun kau malah tidur Mr. Sasuke," ucap Bee.

Sasuke pun menatap Bee "Di mana Sarada, apa yang kalian lakukan," ucap Sasuke. Bee pun menunjuk pintu yang tidak lama kemudian Ridwan yang membawa Boruto pun masuk di susul Fauzan yang membawa Sarada.

"Lepaskan Tanganmu brengsek. Jangan pegang-pegang dadaku," teriak Sarada kesal. "Diam kau dasar sampah," ucap Fauzan lalu memegang leher belakang Sarada dan salah satu pundak. "Jika kau tak berusaha melepaskan diri, aku tidak akan memegangmu seperti tadi," ucap Fauzan.

"Ternyata Putrimu memiliki tata bahasa yang kotor, mirip sekali dengan kau yang dulu. Anak dan ayah memang sama saja," ucap Bee lalu mendekati Sarada dan Boruto.

"Kenapa kau membawa mereka kemari, jawab bee," ucap Sasuke marah. "Kau mau tahu? Ini adalah cara agar kau tidak berpikir dua kali untuk menandatangani dokumen itu," ucap Bee lalu mengeluarkan pistolnya dan mengkokangnya.

"Sial," batin Sasuke. Bee lalu mengambil Sarada dan menempelkan ujung Pistolnya Di pelipis Sarada. "Masih mau berpikir 2 kali?" tanya Bee. "Jangan, ayah. Jangan tanda tangan dokumen itu," ucap Sarada. "Oke, lepaskan Sarada dan letakan pistolmu, kita bicarakan lagi perjanjian ini," ucap Sasuke pelan berusaha menghentikan Bee.

"Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Pilihannya kini tinggal dua. Tanda tangan atau saksikan kematian anakmu," ucap Bee. "Sarada..., hey lepaskan dia," teriak Boruto. Bee pun melirik Boruto kemudian membuang Sarada ke belakang hingga Sarada terjatuh dan kejeduk salah satu bangku.

"Sarada...," teriak Sasuke dan Boruto bersamaan. Fauzan pun medekati Sarada dan membantunya berdiri dengan kasar. Bee mendekati Boruto. Boruto yang menyadari Bee mendekatinya menjadi sedikit ketakutan. Bee mengitari Boruto lalu menyepaknya dari belakang membuat Boruto terjatuh ke depan alias jatuh tiarap.

Bee pun mendekati Boruto lagi lalu menginjak Punggung Boruto dengan Kaki kirinya dan mengarahkan Pistol di belakang kepala Boruto. "Boruto..." teriak Sarada. "Kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Bee. Sasuke pun melihat Putrinya yang kini sedang terduduk sambil menangis dengan memar di kepalanya.

"Paman Sasuke, apapun yang terjadi, jangan menandatangai Dokumen itu, aku dan Sarada mempunyai Firasat buruk soal keinginan mereka ingin mengambil Alih Techconnec," ucap Boruto. Bee melihat Boruto sejenak lalu berkata "Akan kuhitung Sampai tiga. Dan jika kau belum memutuskan, aku akan menembak Boruto. dan pastinya itu akan berefek juga pada Putrimu," ucap Bee.

Sasuke kembali memperhatikan Sarada yang kembali sedih. Ia lalu mengambil Bolpen yang telah lama ia letakan. "Paman, jangan lakukan. Mereka tidak akan membunuh Sarada jika kau tidak menandatangani dokumen itu. Mereka membutuhkan Sarada, tapi mereka tak membutuhkanku. Jangan menandatangani dokumen itu," ucap Boruto.

"Atas dasar apa kau berbicara, kami membutuhkan Sarada? Dan tidak akan membunuhnya, sepertinya kau mulai melantur menjelang kematian," ucap Ridwan. "Anak ini seperti bisa membaca pikiranku saja," batin Bee.

Sasuke terdiam dan meletakan kembali bolpen. "Jika kau tak mau menandatangani, akan ku tembak Boruto. Dan selamat merawat Putrimu yang pastinya akan depresi berat," ucap Bee.

"Paman, jangan tanda tangani. Aku rela berkorban agar Techconnec tidak jatuh ke tangan mereka. Mereka tidak akan membunuh Paman dan juga tidak akan membunuh Sarada, karena mereka memerlukan Sarada untuk membuatmu menandatangani perjanjian itu" ucap Boruto.

Bee semakin kuat menginjak Boruto sehingga, Boruto berteriak karena sakit. "Aku akan mulai menghitung. Ucapkan selamat tinggal pada Putra Naruto," ucap Bee. "Sarada," panggil Boruto. "Kau harus kuat, jangan mudah putus asa. Kali ini mungkin aku akan tewas beneran. Jadi kuatkan dirimu. Jangan terus bersedih. Aku rela mati demi kau karena aku mencintaimu," ucap Boruto yang bahkan sampai meneteskan air mata Sasuke dan tak lupa air mata Boruto juga ikut menetes.

"Satu..." Bee mulai memegang pistol dengan kuat dan menyentuh pelatuknya. Sasuke menjadi semakin bingung. Ia mendekati tangannya untuk mengambil Bolpen.

"Dua..." Bee mulai menekan pelatuk pistolnya. Boruto pun menutup matanya. Sarada semakin tak dapat mengontrol Air matanya dan memutuskan untuk memalingkan perhatiannya.

"Tiga..." Bee telah menekan setengah dari pelatuknya. Ia memperhatikan Sasuke yang telah memegang Bolpen. Tapi, tiba-tiba Saja Sasuke membuang bolpen itu. Bee menjadi semakin marah kemudian bersiap menembak.

Dor...

Suara Pistol pun terdengar begitu nyaring. Darah pun berjatuhan di lantai. Sasuke dan Sarada beserta semua orang yang berada di ruangan itu kaget.

Seseorang pun terjatuh dengan darah di pelipis kiri dan kanan. "AYAH..." ucap Fauzan dan Ridwan bersamaan lalu mereka mendekati Seseorang yang terjatuh itu yang tidak lain adalah Bee.

Anak buah Bee kemudian melihat ke arah luar jendela. Peluru-peluru pun terlihat mendekati mereka dan menembus kaca. "Berlindung," ucap salah satu anak buah Bee. Namun mereka terlambat, peluru telah mengenai beberapa orang yang terlambat pindah dari posisi mereka.

Boruto lalu berdiri perlahan dan mendekati Sarada. Sasuke pun menunduk di bawah meja dan menyuruh Boruto dan Sarada mendekatinya.

Fauzan dan Ridwan masih terlihat berada di dekat jasad ayahnya dengan beberapa anak buah Bee yang berusaha melawan balik serangan Musuh yang tidak di kenali dari luar. Tepatnya sebuah gedung yang bersebelahan dengan gudang dengan jarak yang lumayan jauh.

"Tuan muda, kita harus kabur. Tinggalkan dulu tuan, nanti kita kembali lagi," ucap salah satu tangan kanan. "Tidak, ayah, ayah, brengsek kalian," ucap Fauzan lalu mengeluarkan pistolnya dan menembaki Boruto dan Sarada yang sedang merunduk untuk mendekati Sasuke. Namun semua tembakannya meleset karena ia tak berkonsentrasi.

Ridwan pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu meninggalkan Fauzan yang masih menembaki Boruto. tiba-tiba sebuah peluru menghampiri telapak tangan Fauzan. "Aghhhhh, tanganku..." Fauzan lalu di tarik oleh salah satu tangan kanan Bee untuk ke tempat aman.

::==::==::

5 orang dengan pakaian zirah tempur full body dengan lambang garuda dan bendera merah putih pun terlihat memasuki pintu ruangan tempat Sasuke berada dan mendekati Jasad Bee. "Garuda 1 kepada Komando Misi Konoha, target berhasil kita lumpuhkan, Raikage Bee berhasil di bunuh," ucap Salah satu Personil.

Seorang dari mereka pun mendekati Sasuke dan membuka Kaca helmnya. "Tuan Sasuke, perkenalkan kami adalah Satuan Khusus Rahasia Indonesia anda bisa menyebut kami SAKHURI," ucap salah satu personil pada Sasuke.

"Hey, tutup kaca helmmu, tidak ada yang boleh mengetahui identitas kita, mari tuan Sasuke, kami akan mengeluarkan anda," ucap Salah seorang lagi yang merupakan Ketua dari tim itu. "Tunggu, ada pengawalku yang harus aku selamatkan dulu," ucap Sasuke.

"Tak perlu, tim kami yang lain sedang menuju ruang Bawah tanah untuk menyelamatkan mereka, sekarang kita harus keluar. Mafia akan mendatangkan bantuan," ucap Ketua Garuda 1. Sasuke pun berjalan keluar di ikuti Boruto dan Sarada.

::==::==::

Setibanya di luar gudang itu, Sasuke beserta Sarada dan Boruto di sambut oleh sosok yang sudah tak asing lagi bagi mereka. Itachi dan Naruto yang sedang memegang sebuah Pistol Pietro Beretta M92 XX-Treme yang memiliki teleskop untuk membidik musuh dari kejauhan.

"Sasuke, senang kau dan anak-anak baik-baik saja," ucap Naruto lalu menghampiri Boruto yang juga menghampirinya. "Entah kau beruntung atau apa, mereka tidak membunuh Boruto," ucap Sasuke.

Boruto lalu memeluk sang ayah. Naruto pun membalas pelukan putranya itu dengan sangat erat. Air mata jelas keluar dari matanya. Sasuke mendekati Itachi bersama Sarada. "Syukurlah, kau dan Sarada baik-baik saja," ucap Itachi.

"Naruto, ternyata kau masih menyimpan Beretta, kukira kau sudah membuangnya," ucap Sasuke. "Membuangnya? Kau gila. Barang sebagus ini harus aku buang hanya karena aku sudah semakin tua," ucap Naruto.

"Beretta adalah barang yang bagus, mengingatkan masa lalu di mana peluru berterbangan dengan liar," ucap Sasuke. "Aroma bubuk mesiu yang terbakar memenuhi setiap inchi hutan konoha, dan darah ada di mana-mana. Aku jadi mengingat dosa yang telah kita lakukan zaman dulu," ucap Naruto.

"Dan kini kau sudah kembali menodai dirimu dengan membunuh Bee, kukira kau sudah bertobat dan ingin menjadi manusia yang lebih baik," ucap Sasuke. "Ini semua karena kau yang tidak becus menyelamatkan Putrimu, aku harus turun tangan dan mengotori tanganku lagi," ucap Naruto.

"Apa tadi paman Naruto yang menembak Bee?" tanya Sarada. "Aku tidak tahu kalau ayah juga jago menembak. Padahal jarak gudang dengan gedung itu cukup jauh," ucap Boruto. Naruto pun tersenyum bangga. "Kami berdua ini adalah penembak jitu milik perusahaan Techconnec. Tapi di bandingkan Sasuke, paman lebih hebat dalam menembak target jauh dan bergerak," ucap Naruto bangga.

"Ingat, Itachi dan aku yang melatihmu, jangan sombong," ucap Sasuke. "Sebaiknya kita segera pergi, bantuan Mafia akan segera datang," ucap Itachi. "Tidak, kita pergi setelah para pengawalku tiba," ucap Sasuke.

Seorang Anggota dari Sakhuri pun mendatangi Sasuke dan Itachi dan berkata "Kita harus pergi sekarang jika tidak mau terlibat adu tembak lagi. Dari pantauan Satelit kalian, musuh tinggal 3 km lagi."

"Mereka benar Sasuke, kita harus bergerak. Aku tidak mau tambah dosa lagi," ucap Naruto. 3 Mobil Ranger yang berwarna hitam dengan hiasan bendera Indonesia dan lambang Garuda pun terlihat menghampiri mereka. "Kalian naik mobil kami saja, mobil kalian nanti akan di bawa pasukan kami,"

Mereka pun bergerak memasuki mobil. 2 pasukan Sakhuri terlihat keluar dari setiap mobil dan berlari menuju Gudang.

::==::==::

Rombongan Mobil Ranger yang di naiki Sasuke dan Naruto beserta anak mereka pun telah tiba di kediaman Uchiha. Sakura dan Hinata beserta beberapa pengawal terlihat menanti mereka. Sakura terlihat senang. Tapi Hinata masih terlihat sedih. Mungkin karena ia belum mengetahui kalau Putranya selamat.

Satu persatu orang keluar dari dalam mobil. Pasukan Sakhuri pun berlari mengamankan kediaman Uchiha. Sasuke dan Naruto pun keluar dari mobil mereka. Sarada pun keluar dari mobil dan di ikuti si rambut pirang yang tentunya membuat Hinata yang menyaksikan bingung dan Bahagia.

"Bo-ru-to, kau," air mata kebahagiaan pun membasahi pipi Hinata. Boruto hanya bisa menyaksikan sang ibu dari jauh. Perlahan dan pasti, Hinata berlari ke arah Boruto, Sakura pun berjalan menuju Sarada. Mereka memeluk anak mereka dengan sangat kuat.

Naruto pun mendekati Boruto dan Hinata. Sasuke dan Itachi pun mendekati Sarada dan Sakura.

"Boruto, ibu senang ternyata kau masih hidup, ibu takut kehilanganmu, Himawari bisa menjadi sangat sedih," ucap Hinata. Boruto mengendurkan pelukannya lalu melepas pelukan hangat ibunya. "Apa Himawari tau?" tanya Boruto. "Himawari, kakekmu, dan bibimu belum mengetahuinya. Biarlah ini rahasia kita. Kakek dan adikmu serta bibimu jangan boleh tahu," ucap Naruto.

"Ayahmu benar Boruto, jika saja kemarin Himawari di beritahu, pasti dia sangat sedih," ucap Hinata. Naruto mendekati Boruto lalu menarik tangan Boruto lalu Naruto membawa Boruto dari hadapan Hinata.

"Jangan beri tahu ibumu apa-apa mengenai kejadian hari ini, masa lalu ayah juga adalah rahasia, kau mengerti, Boruto?" tanya Naruto memastikan. "Aku mengerti ayah, aku berjanji aku tidak akan pernah menceritakan apapun kepada siapapun kecuali ayah dan Sarada," ucap Boruto.

"Loh, kok Sarada juga?" Naruto menjadi bingung. "Karena Sarada mengetahui kejadian hari ini, pastinya ayahnya juga akan menceritakannya. Dan pastinya aku ingin mengetahui lebih banyak lagi dari ayah," ucap Boruto.

Kapten dari tim garuda 1 menghampiri Itachi. Itachi langsung membalik badannya menghadap ketua tim garuda 1. "Terima kasih atas bantuan anda," ucap Itachi. "Sebuah kehormatan bagi kami bisa melayani kalian, terutama tuan Sasuke," ucap Kapten itu.

Sasuke pun mendekati Itachi yang sedang mengobrol. Naruto pun ikut bergabung dalam pembicaraan itu. "Sebaiknya kita berbicara di tempat lain saja," ucap Sasuke. Mereka pun berjalan menuju Salah satu mobil dan memuali percakapan di sana.

Sakura mengajak Sarada untuk mendekati Hinata dan Boruto. "Hey Boruto, kau sempat buat aku kaget dan sedih, terutama ibumu. Senang kau selamat Boruto," ucap Sakura. "Hehe, aku beruntung saat itu. Terlambat pingsan satu detik saja mungkin aku sudah mati," ucap Boruto.

"Sepertinya kalian harus membersihkan badan, ayo masuk. Akan bibi suruh ART untuk mengambil handuk dan pakaian lama paman Sasuke untukmu," ucap Sakura. "Kalau begitu, aku akan buatkan Boruto dan Sarada makanan spesial," ucap Hinata.

"Di pikir-pikir, aku sudah lama tidak merasakan Gado-gado buatan Bibi," ucap Sarada. "he'e, aku juga sudah lama tak merasakan Gado-gado buatan ibu, Sankin lamanya aku lupa kalau ibu bisa bikin gado-gado," ucap Boruto.

"Jadi kalian mau gado-gado, tapi ngak ada lontong, rasanya kurang pas jika pakai nasi," ucap Hinata. "Dan juga, bumbu serta bahan utamanya ngak ada. Yang ada Cuma kacang dan sayurannya, di rumah kami juga sudah habis," sambung Hinata.

"ya'a, berarti tidak jadi, sayang sekali," ucap Boruto. Sarada hanya bisa diam. "Hinata, aku baru ingat. Ada bumbu yang kau perlukan untuk membuat gado-gado di lemari. Aku beberapa bulan yang lalu membelinya untuk belajar cara membuatnya. Rencananya nanti mau kubuatkan Sarada gado-gado buatanku," ucap Sakura sangat bersemangat.

"Ada? Baguslah, ayo kita masak Sakura, aku akan mengajarimu cara memasaknya. Langsung dengan resep milik nenek Boruto," ucap Hinata ikut bersemangat. "Kita buat banyak, berhubung di sini ramai," ucap Sakura memberi saran. Hinata pun mengangguk dan berhenti.

Mereka berhenti karena telah berada di dapur tanpa mereka sadari. "Ternyata sudah sampai dapur, Oh bibi baru ingat. Kamar mandi dapur sedang rusak. Jadi, Sarada kau mandi di kamar mandi kamar kami, dan kau Boruto bisa mandi di kamar mandi di kamar Sarada," ucap Sakura.

"Loh, aku di kamarku saja bu, Boruto yang mandi di kamar ibu, pakaianku kan ada di sana semua," ucap Sarada menolak. "Sebelum Boruto masuk, kau ambil pakaian yang mau kau pakai dulu, lagi pula papamu itu orangnya sensitif, ia tidak mau orang lain memasuki kamar kami," ucap Sakura yang membuat Sarada mengangguk untuk menurut.

"Boruto, ikut bibi, kita ambil pakaian untukmu, Hinata, kau deluan. Aku akan menyusul setelah selesai," ucap Sakura lalu pergi. Boruto pun mengikuti Sakura ke lantai atas dan Sarada pun menyusul karena memang kamar berada di lantai dua.

::==::==::

Bertempat di dalam kamar Tamu, Boruto sedang duduk di kasur sementara Sakura sedang memilah baju di lemari. Tak lama kemudian, Sakura menujukan sebuah baju berwarna hitam bergambar 2 buah pistol yang saling di silangkan dengan 2 buah lengan yang saling berjabatan ala sahabat di bagian depan. Dan bagian belakangnya bertulis Techconnec.

"Ini pakaian Favorit Sasuke dulu, tapi sekarang sudah sempit jadi kami menyimpannya, sebenarnya pakaian seperti ini ada 2. Tapi Sasuke lebih suka memakai yang ini, dan Satunya lagi ada di lemari pakaian Sarada, Sasuke memberikan padanya 5 tahun yang lalu sebagai hadiah karena telah naik sabuk hitam," ucap Sakura.

"Wah, baju ini bagus sekali, kainnya lembut dan tebal. Dan terlihat bersinar," ucap Boruto. "Tapi, aneh karena baju itu cukup berat. Padahal Cuma kaos," ucap Sakura. Sakura pun kembali memilah pakaian yang berada di sana.

"Ini celana untukmu. Sama ini juga celana lama Sasuke, tapi bukan favoritnya," ucap Sakura lalu memberikan celana itu pada Boruto lalu kembali menghadap lemari dan mengambil sesuatu yang berada di pojok dari lemari itu.

"Dan ini terakhir, seharusnya Paman Sasuke atau ayahmu yang memberikannya padamu, tapi mereka sedang sibuk, tapi tidak masalah, ini untuku," ucap Sakura lalu membalik badannya menghadap Boruto. "Kolor milik Rama, ia pernah tinggal di sini beberapa bulan saat ayahnya pergi keluar negeri. Beberapa kolor miliknya saat ia berkemas," ucap Sakura yang jelas membuat perasaan Boruto lain, alisnya bergoyang dan dahinya mengkerut.. "Kolor bekar, yang benar saja," batin Boruto.

"Tapi kau jangan berpikir ini bekas, ini masih baru bahkan masih ada labelnya, ini di beli seminggu sebelum Rama di jemput ayahnya. Dan ia lupa membawa ini pulang bersamanya, dan lagi pula ini terlihat kebesaran," ucap Sakura. "Kukira bibi juga akan memberiku Pakaian dalam bekas," ucap Boruto.

"Kalau ini bekas, bibi tidak akan mau memegangnya," ucap Sakura lalu melempar kolor—pakaian dalam itu ke wajah Boruto lalu berdiri dan berjalan keluar. "Nanti kunci lagi pintunya, bibi mau membantu ibumu memasak," ucap Sakura.

Tanpa di sadari, Sarada berada di sebelah kanan. Ia baru saja menguping pembicaraan Sakura dan Boruto. Ibunya keluar dari kamar tamu tapi tak menyadari keberadaan Sarada di sampingnya. Setelah ibunya sudah jauh, Sarada lalu menampakan Dirinya di hadapan Boruto yang baru saja menurunkan kolo—Celana dalam dari wajahnya.

Sarada tertawa geli, Boruto yang menyadari keberadaan Sarada menjadi kaget. Ia pun melihat tangan yang ia pakai untuk memegang Celana dalam itu, "ehem" Boruto lalu berdehem dan menyembunyikan Celana dalam itu di belakangnya.

"Aku berharap kolor itu merupakan kolor bekas, hahaha," ucap Sarada. "Tidak lucu," ucap Boruto datar lalu berdiri "Kau sudah mengambil pakaianmu?" tanya Boruto. "Sudah, aku baru saja membawanya ke kamar orang tuaku," ucap Sarada. "Ada pasti yang kau lupa, alat make up," ucap Boruto.

"Aku lebih suka wajahku yang Natural," ucap Sarada. "Aku juga lebih suka wajahmu yang Natural, lebih terlihat manis. Kalau berdandan sampai menor, rasanya aku mau muntah," ucap Boruto sambil tertawa dan menirukan suara muntah.

"Dasar, kau ini sukanya menganggu saja," ucap Sarada sambil memukul-mukul lengan Boruto pelan. "Sudahlah, Lupakan. Lebih baik kita mandi. Badanku sudah gatal-gatal," ucap Boruto.

::==::==::

Setelah selesai Mandi, Boruto berkaca di kamar Sarada. Sedikit memakai Bedak bayi yang berada di meja yang berisi berbagai perlengkapan make up perempuan yang masih terlihat utuh semua, kecuali bedak bayi yang sedang di pegang Boruto yang terasa ringan. "sedikit saja bedak agar wajahku tak terlihat berminyak," ucap Boruto.

Saat ia baru menempel kedua telapak tangannya yang bertabur bedak ke pipinya, Sarada memasuki kamar tanpa mengetuk pintu dan langsung menyaksikan Boruto. Boruto terdiam, ia tidak bergerak sama sekali kecuali matanya yang ia pakai untuk menatap Sarada melalui cermin.

"Boruto, kau memakai Make up," ucap Sarada. Malu pun di rasakan Boruto tapi, ia harus tetap berpikir jernih. "Aku Cuma pakai bedak bayi punyamu. Tanpa sabun wajah, mukaku terlihat berminyak. Makanya aku pakai bedak," ucap Boruto.

"ooo, kau benar Boruto, tak jarang juga sih laki-laki yang pakai bedak di mukanya. Hanya saja kebanyakan dari mereka malu untuk mengungkapkan," ucap Sarada. "Kenapa kau masuk dan tak mengetuk pintu, syukurnya aku tidak telanjang di sini," ucap Boruto.

"Jika kau telanjang di kamarku, aku akan menghajarmu. Apalagi sampai tidur di kasurku," ucap Sarada. "Kalau kau ingat, Teman kuliah kita bilang kita pernah telanjang berdua, kau ingat," ucap Boruto.

"jangan ungkit lagi, Itu semua gara-gara si brengsek Ridwan, beraninya ia menuangkan Bir super kuat ke minuman kita," ucap Sarada. "Syukurnya teman-teman kita menyadarinya dan dengan cepat memisahkan kita. Jika tidak mungkin aku sudah mati sejak lama karena ayahmu membunuhku," ucap Boruto.

"Sudahlah, jangan ungkit-ungkit lagi, aku sudah tak mau membahasnya. Ehhh, ngomong-ngomong apa baju ini ibuku yang berikan?" tanya Sarada. "Oh, iya. Gambarnya bagus, kainnya juga halus dan tebal. Tapi sayangnya berbeda dengan kaos biasanya karena yang ini lebih berat," ucap Boruto.

"Ayahku memberiku baju seperti ini 5 tahun yg lalu. Saat itu masih kebesaran tapi sekarang sudah pas. Tapi itulah, bajunya terasa berat makanya aku tidak memakainya," ucap Sarada. "Kau mau apa datang ke sini sampai-sampai tak mengetuk pintu Sarada?" tanya Boruto. "Kau marah? Ini kan kamarku, mau aku masuk tak mengetuk pintu kek, mendobrak pintu kek, terserah gue," ucap Sarada.

Sarada diam sejenak lalu "Kau benar, ada yang ketinggalan. Bisa lempar bedak yang baru saja kau pakai kepadaku," ucap Sarada. Beberapa detik kemudian, Sarada telah selesai memakai bedak, Boruto pun keluar dari kamar Sarada. "Aku kembalikan kamarmu," ucap Boruto.

Tiba-tiba, Terdengar suara helikopter yang cukup keras dari atap rumah kediaman Uchiha. Boruto dan Sarada pun dengan segera berlari keluar untuk melihat Helikopter itu. "Ada apa ini, apa Mafia menyerang," ucap Sarada.

Setibanya di depan pintu, Mereka melihat sebagian Pasukan Sakhuri sedang berlari dari depan pagar menuju lapangan luas di halaman Uchiha. Mereka lalu bersiaga. Helikopter pun terlihat sedang mengudara di atas Kediaman Uchiha. Para pasukan Sakhuri sedang bersiapa untuk menantikan pendaratan Heli itu.

Beberapa menit kemudian, Heli itu sudah mendarat dengan damai di tanah. Terlihat seseorang dan 3 orang Pasukan Sakhuri keluar dari heli itu dan berjalan menuju Sasuke dan Naruto serta Itachi. Seseorang yang di kawal itu tak memakai helm tetapi ia masih memakai Baju Zirah seperti pasukan yg lain.

"Perkenalkan, Namaku Jendral Hashirama. Komandan pasukan yang menjalankan Misi di Negara ini selama beberapa waktu," ucap Hashirama sambil menjabat tangan Sasuke dan Naruto dan Itachi. "Kini utang Budi kalian sudah lunas, terima kasih atas bantuannya," ucap Itachi.

Boruto dan Sarada pun berjalan mendekati Hinata dan Sakura yg menyaksikan dari jauh.

"Tuan Sasuke, Lama tak jumpa, syukurnya pasukan kami datang tepat waktu," ucap Hashirama. "Katanya pasukan elite, tapi menembak target yg jaraknya jauh saja ngak bisa, Syukur aku bisa melakukannya tepat waktu," ucap Naruto.

"Maaf, pasukan kami belum terbiasa menembak target yang jauh hanya dengan Senapan biasa, biasanya kami memakai Sniper untuk menembak target jauh," ucap Hashirama. "Tapi anda hebat Pak Naruto, hanya berbekal pistol dengan teropong, anda bisa menembak kepala Raikage Bee," ucap Ketua tim 2 (tim yang menembak dari luar jendela).

"Persiapkan pasukan, kalian harus kembali ke sana malam ini untuk mengevakuasi Jasad musuh. Amankan juga persenjataan mereka serta gudangnya. Besok pagi saya akan mengirim truk-truk untuk mengangkati barang-barang Mafia," ucap Hashirama lalu berbalik.

"Apa anda mau pergi," ucap Sasuke. "Ya, ada satuan yang harus ku pimpin, Sampai jumpa Tuan Sasuke," ucap Hashirama. Baru akan melangkah, tiba-tiba terdengar beberapa kali bunyi tembakan dari arah luas kediaman Uchiha.

Rombongan mobil hitam bertuliskan Techconnec sedang mengejar rombongan Mobil Ranger Coklat bertuliskan Mafia. Suara senjata pun menutupi suara Gas mobil. Rombongan Mobil Mafia pun menerobos pagar kediaman Uchiha lalu menembak secara Brutal.

Sebuah Mobil pun terlihat mendekati Boruto dan Sarada. Kemudian seseorang memunculkan kepala dari jendela. Ia adalah Fauzan dengan tangan yang di perban memegang sebuah Shoutgun.

Boruto dan Sarada pun menjadi panik, dan dengan cepat Boruto membelakangi Sarada. Fauzan mengkokang Shoutgunnya lalu menembak Boruto "Rasakan ini B*a*ab,". Karena terkena peluru Shoutgun, badan Boruto pun terdorong ke belakang hingga membentur tembok rumah.

"Boorrruuutttoo..." teriak Sarada spontan. Mobil Fauzan pun kembali. Sarada pun berlari ke arah Boruto yang sudah terbaring di tanah. "Rasakan ini, dasar perempuan B*a*ab menyebalkan. Kau akan segera menyusulnya," teriak Fauzan dari dalam mobil sambil mengkokang senjatanya. Pelatuk pun siap di tarik saat Sarada sedang merangkul Boruto.

"Saradaaaaaa..." teriak Hinata dan Sakura.

Peluru meluncur dan mengenai Fauzan tepat di pelipis. Peluru itu pun berlanjut dan mengenai Supir yang ternyata adalah Ridwan. Mobil yang di kendarai pun kehilangan kendali dan menabrak sebuah pilar di kediaman Uchiha.

Dari jauh, Naruto sedang mengarahkan Pistol ke arah Fauzan. Pistol itu masih terlihat mengeluarkan asap. "huh, huh, Borutoooo," dengan cepat Naruto pun berlari menghampiri Boruto yang sudah terbaring di tanah. Sasuke pun mengikuti Naruto.

Hinata dan Sakura pun mendekati Boruto yang sudah terkapar di tanah. Air mata terlihat menetes dari mata Sarada dan Hinata serta Naruto.

:

:

:

To Be Continued

==========[][][][]==========

A/N : Salam jumpa lagi.

Saya kembali dengan membawa Chapter terbaru dari Cerita Kehidupan Baru Boruto.

Saya rasa ini sudah mendekati Kehidupan Baru memang ya,

Pertama saya mau minta maaf karena updatenya tak di hari ketiga lebaran. Maaf karena ada banyak kendala.

Chapter ke 15 rencananya akan di publish 2 hari lagi. Kalo ngak ada hambatan akan saya update 2 hari lagi. Kalo ada hambatan ya 3 sampai 6 hari.

Oke sekian dari saya.

Terima Kasih Telah Mau Membaca.

Ada yang Mau kasih komen? Ngak ada ngak apa-apa. Saya menghargai Sider.