.
.
.
-Happy Reading-
A Little Secret : Cemburu?
Naruto © Masashi Kishimoto
A Little Secret © Rin Mizuki
Genre : Romance & Friendship
Rate T
Cast :
Haruno Sakura x Sasori
.
.
.
.
.
Sakura benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Sasori kemarin. Dia benar-benar bingung bagaimana cara menghadapi pria itu. Kejadian kemarin sudah cukup membuatnnya kehilangan muka. Sakura harus meminta maaf pada kakak Hinata karena sudah meninggalkannya begitu saja, padahal Hinata meminta tolong padanya untuk menjemput kakaknya yang baru saja datang dari Iwa.
Sakura kembali menggerutu. 'Semua ini salah setan merah sialan itu!'
Ponsel Sakura berbunyi, sebuah pesan baru saja masuk.
Sakura Ka-san harus pergi ke rumah Obaa-san selama tiga hari. Kau membawa kunci rumah kan?
Ka-san
'Kunci? Sepertinya aku membawanya.'
Sakura kembali melanjutkan pekerjaannya yaitu mengatur buku. Sebenarnya hari ini, seharusnya ia libur. Tapi karena Ino sebelumnya menggantikannya bekerja, jadi sekarang gilirannya bekerja menggantikan Ino. Hari ini tidak banyak pengunjung yang datang. Jadi yang Sakura lakukan hanya menata stok yang masih tersisa atau merapikan buku-buku yang berserakan.
"Apa kau tahu dimana buku untuk mendapatkan hati seorang gadis?"
Sakura memutar kedua bola matanya saat mendengar pertanyaan yang baru saja ia dengar. 'Yang benar saja!' Sakura kemudian berbalik dan ingin menunjuk ke sebuah rak tapi saat ia menyadari siapa yang berdiri di belakangnya, senyum cerah mulai menghiasi wajah gadis musim semi itu.
"Sasuke? Kapan kau kembali?"
"Baru saja. bagaimana kabarmu?"
"Baik. Hm, tunggu sebentar aku harus menyelesaikan ini." Ucap Sakura sambil menunjuk ke arah tumpukan buku.
"Ku bantu." Tawar Sasuke.
"Tidak perlu." Suara lain berhasil mengalihkan pandangan keduanya.
Seorang pria bersurai merah datang menghampiri keduanya. "Honey. Apa kau sedang berselingkuh sekarang?"
Sakura memutar bola matanya kembali. "Yang benar saja."
Sasuke menatap Sasori dan kemudian bertanya. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Tentu saja menjemput kekasihku." Jawab Sasori santai sembari mengalungkan lengannya ke pundak Sakura.
'Kekasih?' cibir Sakura sembari menyingkirkan lengan Sasori dengan paksa.
"Bukankah kalian sudah putus? Benarkan Sakura?" tanya Sasuke yang sontak membuat Sasori bermuka masam.
"Kau tidak tahu? Tidak ada kata putus dalam hubungan kami. Dia bahkan masih menyimpan cincin itu di jarinya." Ucap Sasori penuh percaya diri sedangkan Sakura berusaha menyembunyikan cincin yang terpasang dijarinya itu.
Sakura mulai menatap jam yang tergantung di sudut ruangan. "Bisakah kalian membantuku menata semua ini?"
"Tentu." Jawab Sasuke.
Bukannya ikut membantu, Sasori malah memilih duduk di sofa yang berada tidak jauh dari situ. Sakura membuka suaranya. "Kau tidak mau membantuku?"
"Untuk apa? Dia kan sudah membantumu." Jawab Sasori santai.
'Lalu apa maksudnya tadi melarang Sasuke untuk membantuku? Aku kira dia tadi cem-' Sakura menggelengkan kepalanya cepat. 'Itu tidak mungkin.'
"Tenang saja, aku akan membantumu."
"Terima kasih. Kau benar-benar sangat membantuku." Ucap Sakura dengan penuh penekanan.
.
Sasori POV
Mereka tertawa bersama sembari menata buku. Cih. Itu pasti hanya alasannya agar bisa dekat-dekat dengan Sakura. Lihatlah, mereka bahkan sudah mulai melupakan keberadaanku. Dan sekarang aku mulai merasa jengkel melihatnya. Aku harus segera mengusir orang itu. Tapi bagaimana? Ah. Aku tahu. Ku keluarkan ponselku dan mengetik sebuah pesan pada seseorang. Tak lama ku dengar ponsel orang itu berdering.
Sasori POV End
.
Ponsel Sasuke berdering, pemuda itu langsung pergi menjauh untuk mengangkat panggilan tersebut setelah melihat siapa gerangan yang tengah kemudian menghampiri Sakura yang sedang sendirian menyusun buku.
"Kau lambat sekali!"
"Kenapa tidak kau saja yang menatanya?" sindir Sakura.
"Dimana orang itu?" tanya Sasori basa-basi.
"'Orang itu' punya nama. Dia sedang menerima telpon diluar."
Beberapa menit kemudian Sasuke masuk kembali dan menghampiri Sakura. Sepertinya sesuatu sedang terjadi, terlihat dari wajahnya yang berubah serius. "Maaf Sakura, aku harus pergi dulu, ada pekerjaan yang harus aku lakukan."
"Pergilah, sepertinya itu sangat penting."
"Begitulah. Aku tidak tahu kenapa orang itu tiba-tiba menelponku, tapi sudahlah. Aku pergi dulu."
Sakura kemudian mengantar Sasuke keluar toko dan saat ia kembali ia menemukan Sasori tengah berbaring kembali di sofa dengan senyum liciknya.
'Dia pasti baru melakukan sesuatu.' Batin Sakura.
Mengetahui sedang ditatap oleh Sakura, Sasori berbalik menatap gadis musim semi itu. "Cepat selesaikan pekerjaanmu!" Sakura kembali memutar bola matanya mendengar ucapan Sasori.
.
.
.
Sakura POV
Saat aku sedang sibuk menata tumpukan buku ini, dia malah asik tidur di sofa. Setidaknya bantu aku agar cepat selesai. Dasar! Dia sama sekali tidak berubah. Bisa-bisanya aku jatuh cinta pada orang seperti itu. Lihatlah dia bahkan sudah tertidur pulas. Dasar!
Cuaca hari ini begitu dingin, ditambah dengan AC yang menyala. Apa dia tidak kedinginan dengan pakaian seperti itu? Aku mematikan AC dan kemudian melepaskan sweater yang kukenakan dan menyelimutinya dengan sweater itu. Untuk tidak ada pelanggan.
Setelah selesai menata semua buku, aku memastikan jam berapa sekarang dan sudah pukul sepuluh malam. Saatnya tutup. Baru saja aku akan memasang tanda tutup, seorang pelanggan datang.
"Bisakah kau menundanya sebentar? Aku harus mencari sebuah buku. Kumohon." aku kemudian membiarkan gadis itu masuk.
Dengan cepat gadis itu menemukan buku yang ia cari dan segera pergi ke arah kasir. "Apa kau sudah menemukannya?" tanyaku.
"Hm, iya. Untung saja! kalau tidak besok aku pasti sudah dihukum." Ucap gadis itu.
"Hm, kau sangat beruntung ya." Tambah gadis itu.
"Hm?" aku tidak mengerti dengan apa yang baru saja gadis itu katakan.
"Itu!" gadis itu sepertinya menunjuk ke arah Sasori yang sedang terlelap di atasa sofa.
"Dia kekasihmu kan?" tebak gadis itu dan semburat merah menghiasi pipiku.
"Hm-"
"Eh, kau tahu? Katanya salju pertama akan turun besok malam."
"Benarkah?"
"Hm, ada yang bilang jika kau mengatakan harapanmu saat salju pertama turun, maka itu akan terwujud dan jika sepasang kekasih berciuman saat salju pertama turun, maka mereka akan bersama selamanya. Apa kau percaya?" tanya gadis itu.
Jelas-jelas itu hanya takhayul. Lagi pula hal seperti itu agak mustahil terjadi. Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan gadis itu.
Sakura POV End
.
Setelah selesai melayani pelanggan, Sakura menghampiri Sasori yang masih tidur di sofa. Sakura duduk di lantai sembari menatap wajah Sasori. Tangannya secara perlahan menyentuh rambut yang menutupi mata Sasori. Sasori tersenyum dan membuka matanya. Terkejut, Sakura berusaha menarik kembali tangannya, namun Sasori menahannya dan kembali meletakkan tangan Sakura di atas kepalanya tapi sekali lagi Sakura menarik tangannya.
Sakura bangkit dari duduknya. "Pulanglah."
"Aku antar." Tawar Sasori.
"Tidak perlu aku bisa pulang sendiri."
"Lalu untuk apa aku menunggumu sedari tadi? Cepatlah." Sasori kemudian keluar toko terlebih dahulu. Sebelum ia melewati pintu depan toko ia berbalik. "Jangan berpikir untuk pulang sendiri."
Sakura menghela napasnya. Akhirnya, Sakura menuruti ucapan Sasori untuk mengantarnya pulang. Di tengah jalan, ponsel Sakura berdering. Sasori sempat melirik saat Sakura berniat mengangkat panggilan itu.
"Sasuke ada apa?" Wajah Sasori terlihat kesal.
"Oh, begitu syukurlah kalau tidak ada masalah. Iya aku sedang di jalan sekarang. Hm? Ah tidak perlu, aku sudah hampir sampai di rumah." Sasori semakin kesal setiap kali mendengar Sakura membuka suaranya untuk menanggapi si penelpon itu.
"Besok? Aku pikir aku tidak ada acara apa-apa." Mendengar ucapan Sakura, Sasori dengan cepat menginjak rem mobilnya hingga hampir membuat dahi Sakura menyentuh dashboard mobil jika saja ia tidak mengenakan sabuk pengaman.
"KAU MAU MEMBUNUHKU?"
Sasori tidak menanggapi Sakura, malah meraih ponsel gadis itu. "DIA SIBUK! DAN KAU! JANGAN HARAP MENGAJAK KEKASIHKU KELUAR!" Sasori kemudian langsung mengakhiri panggilan itu. "
"Kau ini kenapa?"
"Kau berhenti terlibat dengan orang itu."
"Sudah kubilang 'orang itu' punya nama dan kau bukankah sudah bertunangan. Urusi saja tunanganmu itu."
"Kau benar. Karena itu, aku sedang mengurusnya sekarang. Bagaimana mungkin aku membiarkannya bermesraan dengan pria lain saat aku masih bersama dengannya."
"Berhenti mengatakan omong kosong." Sakura mengakhiri perdebatannya dan hanya memilih menatap ke luar jendela mobil.
"Kau masih marah padaku?"
"Kau pikir aku ini siapa repot-repot mengurusimu? Lagi pula itu kan hidupmu?"
"Kau." Sasori kehilangan kata-katanya.
Suasana berubah canggung di antara keduanya. Perlahan Sakura membuka sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu mobil, melihat hal itu Sasori langsung menarik lengan Sakura.
"Kau mau kemana? Sudah ku bilang, aku akan mengantarmu."
"Aku lapar Tuan." Sakura melepas paksa tangan Sasori dari lengannya.
Setelah mengambil dompetnya Sakura kemudian masuk ke dalam sebuah kedai dan memesan semangkuk soba. Sambil menunggu pesanan datang ia menatap keluar jendela. Pria itu masih disana, duduk di dalam mobil.
"Apa dia tidak lapar? Ah, selalu saja membuatku khawatir." Sakura kemudian bangkit dari kursinya.
"Paman aku pesan satu lagi sobanya ya."
Setelah memesan Sakura pergi ke luar dan membuka pintu mobil dan melepaskan sabuk pengaman Sasori lalu menarik pemuda itu masuk ke dalam kedai. Tak lama pesanan Sakura datang.
Sakura langsung menyantap soba yang baru saja dihidangkan, sementara Sasori sama sekali tidak menyentuh soba yang ada dihadapannya dan hanya mengalihkan pandangannya. Sakura menghentikan acara makannya dan menatap pemuda yang kini duduk dihadapannya itu.
"Kau tidak lapar?"
"Sejak kapan kau mulai memperhatikanku?"
"Oh ya Tuhan. Pendendam sekali orang ini. Cepat makan nati keburu dingin."
"Makan saja, aku tidak lapar." Sasori bangkit namun Sakura berhasil menahannya.
"Maaf. Aku tahu aku sudah sangat kasar padamu. Sekali lagi aku minta maaf. Duduklah, kita belum makan sejak tadi sore."
Sasoori kembali duduk. "Makanlah."
.
Setelah selesai makan, keduanya kemudian melanjutkan perjalanan pulang. Suasana masih terasa canggung antara keduanya sampai tiba di depan rumah Sakura. Sekura keluar dari mobil itu dan menghampiri Sasori yang kini berdiri di depan pintu rumahnya.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Besok, apa kau ada waktu?"
"Hm, entahlah. Sepertinya aku akan sangat sibuk."
"Kau bahkan mengatakan hal yang berbeda saat bicara dengannya tadi."
Sakura tertawa melihat tingkah Sasori. "Jam berapa?"
"Hm? Jam 9."
"Baiklah." Sakura kemudian masuk ke rumahnya, sesaat gadis musim semi itu berbalik. "Hati-hati."
"Hm."
.
.
.
.
.
-to be continued-
.
.
.
#Author's Corner
Hm, Rin habis bertapa di Kutub Utara baru-baru ini [lebay]… Lama ya updatenya maaf..
Kali ini cerita nya pendek lagi
Soalnya Rin kalo bikin cerita nggak pernah bikin plotnya dulu dan Cuma ide ceritanya aja. Jadinya gini deh. Ceritanya harus dibiarkan mengalir kemana-mana.
Dan ceritanya semakin aneh Rin rasa… Rin berterima kasih untuk semuanya yag masih mengikuti dan membaca cerita ini. Terima Kasih
