A Genderswitch Fanfiction
My Story with (Y)Our Baby
Genre : GS, GaJe always, Sad but Happy end, Hurt dan lain sebagainya.
Length : Unknown
Disclaim : Semua cast itu milik Tuhan. Ipech Cuma pinjem nama. Tapi jangan lupa Fanfiction ini punya Ipech seorang.
Typo everywhere… be carefull.
KyuMin and Others (My beloved OTP)
.
~o0o~
.
.
.
The story begin…
My Story with (Y)Our Baby | KyuMin Fanfiction | GS | #14
.
.
.
Lihatlah wanita disampingku ini. Cantik. Satu kata untuk mewakili keseluruhan kriteria cantik yang dipunyai. Aku memang pernah salah dengan menyimpan dan menyembunyikan perasaanku untuknya dibalik kata persahabatan yang akhirnya membawaku pada sebuah kenyataan yang menamparku berkali-kali untuk sadar, menyuruhku bangun. Kenyataan bahwa perasaan itu tidak pernah hilang hingga tahun berganti tahun. Bodoh memang, tapi saat itu yang aku rasakan hanyalah ketakutan ia meninggalkanku jika cinta bermain diantara kami. Tapi sekarang… aku berjanji demi sisa hidupku aku tidak akan melepaskannya. Aku akan mengikatnya untukku sendiri jika perlu. Aku akan membahagiakannya, membalas besar perasaannya dan mengubur pahit yang ia bawa dalam penantian itu dengan segenap perasaanku. Dia… sahabat hidupku hingga kematian nanti datang menengahi kami.
"Wae? Apa ada yang aneh denganku? Kenapa kau juga melihatku seperti itu?" rajuknya. Lucu. Bahkan dengan perut besarnya ia tidak malu menampakkan kelucuan alaminya yang selalu memikat. Lupa kenyataan bahwa sebentar lagi kelucuan alami itu akan dituruni oleh makhluk didalam perutnya. Semoga.
Kudekati wajah istriku, –ah sudah tahukah kalian jika menyebut Sungmin sebagai istri adalah suatu hal yan begitu membahagiakan? Jika belum maka sudah kuberitahukan kalian. Lalu kusentil keningnya begitu lembut dan tersenyum gemas padanya.
"Ah waee?" rajuknya semakin menjadi, megusap kening yang tak seberapa kusentil tadi.
"Eobseo. Hanya saja jangan pernah menunjukkan wajah ini dihadapan orang lain jika tak ingin mendapat tatapan aneh seperti tadi. Arrachi?" kuusap rambut depannya lalu segera menjalankan mobil menjauhi basement rumahsakit. Biarkan saja dia tetap cemberut, toh hanya aku yang melihatnya.
Mengingat bagaimana orang-orang di sepanjang koridor rumahsakit tadi melihat Sungmin membuatku kesal. Mereka menatap sungmin seolah istriku ini adalah model kelas atas yang sering berlalu lalang di televisi. Padahal bentuk tubuhnya jauh dari bentuk tubuh model yang langsing dan tinggi namun sebaliknya. Tapi ternyata benar artikel yang pernah kubaca, wanita hamil terlihat lebih seksi. Tapi heii! Bahkan Sungmin mengenakan piyama lengan panjang yang kebesaran kesukaannya selama hamil, bukan daster yang mencetak bentuk dada besarnya dan pantat kencangnya. Aih, mereka benar-benar menyebalkan. Apa mereka tidak tahu bahwa wanita yang mereka lihat sudah kutandai?
~o0o~
Sungmin mematut bayangannya di depan cermin besar didalam kamar mandi. Bayangan wanita berperut gendut dengan tubuh sedang lah yang terpantul, dibalut piyama berlengan panjang yang dugulung dibawah siku bermotif beruang kecil-kecil. Wajah segarnya tak mampu menyembunyikan rona cemas yang kini menggelayut saat ia menemukan bercak darah berwarna pudar hampir merah muda yang berlendir di celana dalamnya sebelum mandi tadi. Ia yakin ia tidak melakukan hal-hal yang membahayakan, melakukan aktifitas berat atau apapun karena semuanya terkontrol oleh Kyuhyun dan ibu mertuanya. Tapi…
"Sungmin-ah…" Sungmin menoleh pada pintu yang terketuk diikuti dengan suara Kyuhyun memanggilnya. Oh damn! Suaminya sudah pulang dan ia lupa menyambut? "Kau didalam?" Tanya Kyuhyun lagi. Sungmin buru-buru merapikan piyamanya, menormalkan ekspresi wajahnya yang sedikit ketakutan sembari berharap Kyuhyun tidak ngambek atau melakukan tindakan kekanakan yang lain hanya karena ia lupa menyambut dihari pertama sang suami pulang kerja.
"Ne," jawabnya sebelum membuka pintu. Setelah pintu terbuka tampak wajah tampan Kyuhyun yang terlihat lelah mencoba tersenyum padanya. Sungmin balas tersenyum kemudian mengusap pipi Kyuhyun lembut. "Lelah?" tanyanya yang dibalas anggukan manja.
"Kenapa tidak menyambutku didepan, hum? Aku kan ingin seperti appa yang disambut eomma centil ku." Rengek Kyuhyun seketika membuat Sungmin mendecih. "Tch! Jadi aku centil? Begitu?" Kyuhyun menampilkan cengiran tak bersalahnya. Sungmin kemudian dengan acuh berjalan menjauh dari Kyuhyun untuk mengambilkan setelan santai milik Kyuhyun di lemari.
"Aniya, kau cantik." Kata Kyuhyun sembari mengekor gerak Sungmin. Memeluk istrinya dari belakang yang masih sibuk memilih setelan untuk ia kenakan malam ini.
"Ne… ne… terus saja menggombal." Decak sebal Sungmin terdengar namun masih sibuk memilihkan pakaian untuk Kyuhyun.
"Aigoo, lihat eommamu sayang, dia marah." Tangan Kyuhyun beralih pada perut besar Sungmin dan mengelusnya tak lupa memberi kecupan singkat di pucuk kepala istrinya.
Sungmin yang agak risih dengan posisi mereka segera berbalik mengangsurkan setelan Kyuhyun. Memberi isyarat tanpa kata agar lelaki itu segera mandi. "Nanti saja mandinya, aku ingin bermain dengan dia dulu." Kyuhyun menarik pelan Sungmin untuk duduk di ranjang mereka kemudian dengan sayang Kyuhyun mengusap perut Sungmin, memberi kecupan-kecupan singkat yang hangat dan juga berbicara kecil pada makhluk yang masih bersembunyi malu di dalam perut istrinya. "Apa hari ini dia rewel?" Tanya Kyuhyun sayang. Tatapannya begitu lembut mengunci dengan jemari yang beberapakali merapikan rambut samping istrinya.
"Sedikit." Jawab Sungmin enggan memberitahukan bercak merah muda yang ia temukan pada celana dalamnya tadi. "Mian tidak menyambutmu, kukira tak apa jika aku mandi terlebih dulu." sesal Sungmin.
"Gwenchana, tidak usah difikirkan lagi. Aku tahu kau mandi agar terlihat cantik didepanku? Aku benar?"
Sungmin lagi-lagi mendecak. Kyuhyun semakin tak terkendali akhir-akhir ini apalagi semenjak pemeriksaan terakhir dengan dokter Kim Jungmo seminggu yang lalu. Beruntungnya ia Kyuhyun tidak menuntut melakukan saran kedua dan ketiga dari dokter Kim. Ia masih belum siap. Ia masih malu. "Hiissh. Sudah sana mandi dulu, air hangatnya sudah kusiapkan. Setelah itu kita makan malam." Ujar Sungmin final. Segera berdiri agar Kyuhyun cepat mandi.
"Baiklah, baiklah." Lesu, Kyuhyun segera masuk kedalam kamar mandi. Padahal ia masih ingin bercerita tentang pengalaman pertamanya bekerja hari ini. Ya bekerja, Hankyung sudah melakukan pembohongan besar dengan mengatakan hanya akan mengenalkannya pada system perusahaan dan juga beberapa staf perusahaan. Nyatanya dari pagi hingga sore tadi Hankyung mengajaknya meeting dengan banyak kolega, berpindah tempat dengan profesi sekretaris ayahnya. Sungguh pembohongan besar yang tak bisa ia terima.
Ia hanya berharap kelak anaknya mampu mewarisi perusahaan itu dengan penuh tanggungjawab seperti apa yang Hankyung ajarkan nanti. Bukan sepertinya yang malah memilih mendirikan perusahaan baru yang melenceng dari usaha keluarga. Tapi lagi-lagi Tuhan berandil besar dengan mengabulkan apa yang pertama kali kita inginkan. Dari pertama ia tidak tertarik dengan bisnis, ia lebih tertarik dengan dunia hukum. Berterimakasih pada Sungmin yang sudah memupuk mimpinya hingga subur meski pernah memotongnya. Memotongnya agar tunasnya bertumbuh semakin tinggi.
~o0o~
Sudah terhitung lebih dari sepuluh kali Sungmin terbangun dan terduduk di kasurnya saat rasa mulas melilit dan nyeri diperutnya terasa . Awalnya hanya rasa nyeri biasa yang sering ia rasakan di punggungnya seperti siang tadi, tapi sepulang Kyuhyun kerja sakit itu merambat ke perut bagian bawahnya kemudian keatas, membuatnya mulas. Dan rasa sakit yang bertahap ini benar-benar tidak bisa membuatnya tertidur. Keringat sudah membasahi keningnya, membuat rambut disekitaran keningnya basah dan lepek. Apa mungkin ia akan melahirkan malam ini? Tapi bukankah dokter Kim minggu lalu bilang masih dua minggu lagi sebelum hari kelahiran? Ia kembali mengelus perutnya yang mulas bak gelombang, datang teratur dimulai dari nyeri dipunggung.
"Kyuh…" Pelan ia memanggil Kyuhyun yang sudah terlelap. Wajar saja, ini sudah lewat tengah malam, jam 1 pagi lebih tepatnya. "Kyuhyun-ah… ireona." Panggilnya masih dengan suara pelan saat rasa sakit diperutnya mereda. Ia kemudian bangun dan berjalan-jalan ringan di sekitar kamar, Heechul dan Leeteuk bilang hal itu bisa mengurangi tegang. Namun hampir setengah jam berjalan rasa mulas datang kian membelit membuatnya kembali duduk namun kali ini diranjang bagian Kyuhyun.
"Cho Kyuhyun ireona!" panggilnya, mencengkeram lengan Kyuhyun saat kontraksinya datang lagi. Ia merintih pelan mengambil nafas.
"Sungmin-ah…" Sungmin menoleh, memberi senyum lemah pada Kyuhyun yang masih terlihat mengantuk. "Wae…?" Kyuhyun duduk, menatap pada Sungmin meski nyawanya belum terkumpul penuh.
"Appo…" lirihnya sambil memegangi pinggangnya yang pegal.
Kyuhyun yang memang belum sepenuhnya sadar malah membuka piyama Sungmin dan mengusap perutnya sayang, memberi kecupan-kecupan yang jujur membuat rasa sakit yang Sungmin rasakan berangsur hilang meski selanjutnya gelombang mulas itu datang lagi dan lagi.
"Ah!" Kyuhyun berteriak saat cengkeraman di lengannya menguat, kesadarannya disentak penuh seketika. Ia menatap Sungmin hati-hati kemudian segera menghidupkan lampu tidur. Istrinya ini tersenyum lemah dengan keringat yang begitu banyak. "Oh, seolma…? Omo! Eotokhaee?" Kyuhyun segera bangkit untuk keluar kamar. Kangin bilang langkah pertama yang harus dilakukan saat istri akan melahirkan adalah memanggil orang yang lebih berpengalaman. "Tunggu sebentar, eoh?" ucapnya pada Sungmin sebelum benar-benar meninggalkan kamar.
Sungmin memandangi kepergian Kyuhyun sambil meringis. Sakitnya benar-benar membuatnya ingin berteriak. Ia mengmbil nafas pendek-pendek, mengurangi sakit hingga tak lama suara gemuruh langkah terdengar mendekat dan suaminya masuk kedalam kamar kembali diikuti Heechul dan Hankyung.
Heechul mengambil posisi duduk disebelah Sungmin sementara Kyuhyun menopang tubuh Sungmin dibelakang. "Sungmin-ah…" Panggilnya sambil mengusap peluh Sungmin kemudian mengusap sayang perut menantunya. "Sakit?" Tanya Heechul. Sungmin hanya mengangguk. "Masih bisa berdiri?" tanyanya lagi.
"Ne, eomma." Jawab Sungmin sesekali mengambil nafas.
"Baiklah, tahan sebentar ya? Kita kerumah sakit sekarang?" Sungmin hanya mengangguk saat Heechul menatapnya lembut. Sejenak Sungmin mendongak dan mendapati Kyuhyun mengangguk padanya sambil tersenyum, membuatnya lega meski rasa takut menghampirinya. "Kyu, ambil perlengkapan yang eomma siapkan di kamarmu. Yeobo, kau siapkan mobil dan hubungi Kangin juga Eeteuk. Aku akan membawa Sungmin keluar." Titah Heechul sebisa mungkin untuk tenang.
"Eoh!" Koor Hankyung dan Kyuhyun bersamaan. Hankyung segera keluar sementara Kyuhyun masih disana, memberi senyum menguatkan pada Sungmin kemudian mencium keningnya sayang. "Bertahan, eoh?" katanya yang dibalas senyum lemah Sungmin.
~o0o~
"Sejak kapan sudah kontraksi, sayang?" Tanya Heechul sembari memapah Sungmin membawanya keluar.
"Sejak sore tadi, eomma." Ujar Sungmin.
"Omo! Enam jam lebih dan hebatnya kau tidak berteriak? Seharusnya kau menjambak rambut suamimu sebagai pelampiasan rasa sakitnya." Saran Heechul yang ditanggapi kekehan kecil Sungmin.
"Memangnya eomma dulu begitu?" Tanya Sungmin sesekali mengusap perut bulatnya saat gerakan didalamnya sedikit meronta, membuatnya menahan nafas sejenak.
"Aniya, eomma hanya mencakar appa saja dulu." Heechul tersenyum sesekali mengelus kepala Sungmin. Dulu saat ia hendak melakirkan Kyuhyun jujur ia berteriak kesakitan sejak kontraksi pertama. Tapi Sungmin? Sejak sore tadi masih diam, anteng tanpa menunjukkan gejala sakit dan sebagainya, bahkan masih sempat tertawa bersama mendengar betapa mengenaskannya Kyuhyun dihari pertama ke kantor tadi.
"Sudah siap?" Tanya Heechul lebih pada persalinan nanti setelah membantu Sungmin duduk di mobil. Ia genggam jemari menantunya yang dingin. Sungmin hanya mengangguk. Suara klakson dari mobil milik Kangin membuat Hankyung segera masuk mengambil alih kemudi dikuti Heechul yang duduk disebelahnya. Kyuhyun kemudian datang tak lama dan duduk disebelah Sungmin setelah meletakkan satu tas besar keperluan bayi yang ia ambil tadi dibagasi. Segera ia peluk Sungmin dengan hangat, sesekali memberi usapan pada perut besar Sungmin yang sedikit bergolak dan ia merasakannya. "Sakit?" Kyuhyun mengusap perut Sungmin saat cengkeraman di lengannya terasa. Melihat senyum lemah Sungmin membuatnya kasihan. "Kau pasti bisa. Eoh?" katanya memberi semangat, mengusap peluh yang terus menetes dari kening sang istri.
~o0o~
Sesampainya di rumah sakit suster jaga segera tanggap membawa Sungmin ke sebuah bangsal untuk diperiksa terlebih dahulu. Beruntung karena dokter Kim Jungmo selaku dokter kandungannya masih jaga di shift itu. "Sudah pembukaan lima. Kita tunggu beberapa jam lagi hingga pembukaannya lengkap." Dokter Kim Jungmo memberitahu. "Jika kontraksinya datang jangan mengejan dulu, tarik nafas dan rileks. Oke, Sungmin-sshi?" Sungmin mengangguk lemas.
Dokter Kim kemudian berpamit untuk visit beberapa pasiennya sembari menunggu beberapa waktu lagi agar pembukaan jalan lahir Sungmin lengkap dan siap untuk bersalin. Heechul segera ke bagian administrasi untuk memesan sebuah kamar yang lebih privasi lalu tak lama beberapa suster masuk untuk membantu pemindahan.
~o0o~
Jam-jam berlalu sementara suster masuk setiap sepuluh menit sekali untuk memeriksa jalan lahir Sungmin yang sudah bertambah menjadi pembukaan tujuh. Masih panjang waktu menunggu hingga pembukaan lengkap. Kyuhyun berubah menjadi sosok dewasa dalam seketika waktu, meski bukan termasuk dalam golongan suami siaga tetapi sebisa mungkin ia berada disamping Sungmin dalam proses ini. Dengan sayang ia menggenggam jemari istrinya sesekali menciuminya. Membisiki kata-kata hangat dan semangat saat kontraksi datang hingga mereda, datang lagi kemudian mereda hingga hampir tiga jam lamanya.
Para orangtua hanya menasehati agar Sungmin tidak terlalu tegang saat melahirkan nanti. Sisanya itu biarlah dokter yang mengurus dan asal Kyuhyun selalu ada disampingnya menemani. "Kyu… aku mengantuk." Keluh Sungmin. "Shhtt… sebentar lagi dia lahir. Jangan tidur dulu, eoh?" semangat Kyuhyun diiringi senyum meski jika boleh jujur rasanya bibirnya sudah terlalu kaku untuk tersenyum. Melihat Sungmin menahan sakit dan kurang istirahat membuatnya tak jernih berfikir. Jika bisa ingin ia saja yang menggantikan kesakitan Sungmin saat ini, biar ia saja yang melahirkan. Dan jika bisa juga ia ingin berteriak memarahi dokter mesum Kim Jungmo yang sudah membiarkan istrinya menunggu dalam kesakitan seperti ini dalam waktu yang tak sebentar. Tapi kesadaran menghantamnya, semuanya sudah ada pada tempatnya masing-masing. Dokter lebih tahu dari pada ia yang bukan apa-apa. Tak ada guna berteriak marah atau sebagainya.
"Menurutmu dia laki-laki atau perempuan?" Kyuhyun mengajak Sungmin melupakan rasa kantuknya dengan topik yang belum pernah mereka bicarakan sebelumnya. Tangannya yang lain sibuk mengusap perut besar Sungmin dengan gerakan lembut yang memutar. Tak sabar sebentar lagi wajah bayi yang Sembilan bulan dikandung Sungmin akan ia lihat. Ada bahagia menyusup meski setiap kali melihat Sungmin merasakan kontraksi, mencengkeram erat tangannya sambil memejam mata membuat jantungnya lari dari tempat.
"Kau lebih suka laki-laki atau perempuan?" Sungmin membalik pertanyaan Kyuhyun dengan senyumannya.
"Apapun, asal itu darimu aku suka." Jawab Kyuhyun.
"Ya Eonnie! Suamimu sangat pandai menggombal." Seloroh suara cempreng. Dua orang itu sentak menoleh. Ada Taemin yang sedang merebah di pangkuan Kangin dengan piyama onepiecenya. Hampir saja melupakan sosok cerewet itu jika suara cemperengnya tak terdengar.
"Katakan saja kau ingin digombali kekasihmu. Benar kan?" sewot Kyuhyun geli. Taemin mencebik kesal, merasa percuma melawan karena akan kalah gadis remaja itu lebih memilih kembali merebahkan diri menikmati usapan dikepalanya dari sang ayah. Kantuknya hilang berganti ketidaksabaran menanti keponakan mungil yang akan kakak perempuannya lahirkan nanti. Semoga saja selucu dirinya. Hehe^^
Kangin dan Leeteuk duduk berdampingan di sofa panjang dengan Taemin yang tidur dipangkuan Kangin sementara Hankyung terkantuk-kantuk di single sofa. Heechul? Calon nenek itu masih aktif dengan ponselnya hingga beberapa menit kemudian seorang suster datang dengan senyum ramahnya.
"Selamat pagi, Sungmin-sshi?" sapa suster itu.
"Pagi," jawab Sungmin yang hanya mampu berupa gumaman. Suster kemudian meminta ijin untuk memeriksa jalan lahir Sungmin, membuat para orangtua segera berdiri dengan antusias.
"Wah… pembukaannya sudah hampir lengkap." Suster bermarga Ahn itu sekilas tersenyum. "Bagaimana, sungmin-sshi? Sudah siap melahirkan?" Tanyanya lagi. Sungmin mengangguk, cengkeraman tangannya semakin erat pada Kyuhyun saat satu sentakan kontraksi hampir membuatnya memekik keras. Menyentak seluruh kesadarannya dengan kesakitan berkali-kali lipat. Sebentar lagi…
Suster segera membawa Sungmin ke ruangan bersalin tak lama setelah itu. Hanya mengijinkan suami menemani sementara keluarga yang lain menunggu diluar ruangan. Dan prosesnya dimulai, menyisakan Kyuhyun yang hampir pingsan ditempat kala menyaksikan orang yang ia cintai berjuang demi satu nyawa yang hadir karena ulahnya. Begitu kesakitan yang membuatnya seketika lemas, cemas dalam penantian hingga membuatnya beku untuk sekedar tersenyum. Sesudah ini ia berjanji tidak akan pernah membuat Sungmin menangis lagi kecuali bahagia. Itu janjinya.
Sesuai aba-aba Sungmin mengejan, menuruti sang bayi yang merangsek ke jalan lahir. Bayi yang Sembilan bulan lebih tumbuh didalam rahimnya, berbagi sari makanan dengannya, berbai nafas yang sama dengannya dan menguatkannya saat kesakitan hati menderanya. Disela-sela mengambil nafas ia masih bisa tersenyum. Bersyukur karna Kyuhyun terus mendampinginya, memberi semangat dan membisikkan kata-kata penenang yang begitu lembut bak lullaby yang anehnya membuatnya semakin terjaga dan semangat, bukan tertidur. Bayangan buruknya dulu menguar sudah. Meski wajah Kyuhun terlihat pucat tapi ia senang. Kyuhyun mendampinginya melahirkan buah hati mereka.
"Tarik nafas, Sungmin-shhi. Setelah itu jika kontraksi terasa maka mengejanlah. Oke?" Dokter Kim Jungmo memberi instruksi.
"Kau bisa. Kajja." Sungmin mengangguk haru menerima ciuman kecil di pelipisnya dari Kyuhyun. Semangatnya bertambah, dan saat kontraksi hebat mencekiknya ia mengejan kuat-kuat hingga akhirnya suara gelak tangis memenuhi ruangan, membuatnya kehilangan kesakitannya semalaman penuh. Sungmin menarik nafas, menetralkan kembali nafasnya yang tersegal sambil berucap syukur. Ia membuka mata saat jemari halus Kyuhyun mengusap tangis haru yang tak sengaja ia keluarkan.
"Bayinya laki-laki. Sehat." Sungmin dan Kyuhyun seketika tersenyum karena ucapan suster. Banyak keharuan merebak melalui embun dimata masing-masing. Segera Kyuhyun rengkuh istrinya. "Gomawo~ jeongmal gomawo~" bisiknya dibarengi ciuman-ciuman yang ia beri di pucuk kepala hingga pipi Sungmin. Sejenak ia hapus airmata yang masih turun di pipi istrinya. Suster tadi meletakkan bayi merah yang baru lahir itu ke dada Sungmin, dan langsung saja bayi merah dengan berat 3,4 kg dan panjang 49 cm itu menggeliat tak sabar mencari sumber kehidupan barunya.
Pandangan Kyuhyun tak lari dari dua orang yang ia cintai. Menatap takjub saat putra yang pernah ia tolak kehadirannya itu agak kesulitan menyesap sumber kehidupan yang berasal dari ibunya, dari istrinya. Istri yang tak ia anggap, ia sia-siakan namun Tuhan begitu baik menyatukan.
"Dia tampan." Bisik Kyuhyun ke telinga Sungmin. Istrinya itu mengangguk, meski kesakitan masih terasa tapi ini sangat membahagiakan. Ia sentuh rahang Kyuhyun, dipandangnya suami yang terlihat lesuh itu dengan haru. "Sepertimu." Balas Sungmin.
Kyuhyun menunduk untuk membisikkan sesuatu pada bayi merahnya, memberi ciuman selamat datang di kepala belakang putranya yang masih terasa lunak. Tak berani menggendong atau melakukan hal lebih karena ia masih lemas pasca melihat perjuangan istrinya. Biarlah orang bilang dia cengeg atau lemah, tapi sungguh pengalaman ini benar-benar membuatnya sadar bahwa jasa ibu begitu besar.
Sungmin kemudian menatap Kyuhyun dan putra yang baru ia lahirkan secara bergantian. Air matanya lagi-lagi meluruh bahagia, terharu. Apalagi saat bibir mungil milik putranya melahap putingnya dengan tak sabaran. Putranya, bayi Kyuhyun sudah lahir. Dan ia tidak percaya bahwa baru saja bayi tampan yang masih merah ini terlahir dari rahimnya. Suster kemudian meminta ijin membawa kembali bayinya untuk dibersihkan, ia juga harus dibersihkan dan segera dipindah ke ruang perawatan sementara bayinya nanti menyusul.
"Aku keluar dulu, eoh?" Pamit Kyuhyun yang diberi anggukan oleh Sungmin, membiarkan para suster mebersihkan dua orang yang ia cintai.
~o0o~
"Bagaimana?" tepat setelah Kyuhyun menutup pintu ruangan bersalin suara tanya menyergapnya. Ada orangtuanya, orangtua Sungmin dan si cerewet Taemin yang menatapnya penasaran dan tak sabar. Kyuhyun meminta ijin untuk bernafas normal terlebih dahulu setelah merasa hidupnya berakhir didalam tadi. "Bayi laki-laki. Sehat." Katanya pendek disambut gelak syukur dari masing-masig manusia dihadapannya. Kyuhyun baru bisa tersenyum lega saat sang ayah memeluknya, menenangkannya. "Ana kappa sudah menjadi ayah rupanya." Lirih Hankyung. "Selamat, ya. Kyu." Ucapnya lagi setelah mengurai peluk.
"Gomawo, appa."
Dokter Kim dan dua orang suster tak lama kemudian keluar, memberi senyumnya pada keluarga pasiennya. "Chukkae, Kyuhyun-sshi atas kelahiran putranya." Ucapnya tulus. Silahkan menunggu di ruangan karena sebentar lagi Sungmin-sshi dan putra kalian akan dipindahkan kesana. Permisi." Kata dokter itu.
"Gamsahamnida, dokter."
~o0o~
Kebahagiaan memang selalu bisa menjadikan semua orang lupa akan rutinitas seharusnya. Jam dinding di kamar rawat Sungmin sudah menunjukkan pukul setengah Sembilan pagi ketika Kyuhyun menguap. Lupa bahwa ternyata ia juga tidak tidur semalaman. Terlihat dijangkauan mata, putranya tengah terlelap dalam penjagaaan dua neneknya sementara kakek-kakeknya sudah pulang untuk bekerja dan juga Taemin yang kembali sekolah meski ia mengeluh lelah. Istrinya masih terlelap sejak selesai menyusui dua jam yang lalu.
"Istirahatlah dulu, Kyu." Tegur Leeteuk. Mengangsurkan minuman yang tadi ia beli diluar.
"Nanti dulu eomma, gomawo." Ucapnya.
Tidak, bukan tidak mau istirahat. Tapi ia ingin memastikan istrinya ini cukup istirahat setelah berjuang keras demi melahirkan bayi mereka. Jika mengingat perjuangan Sungmin dari kesakitan hingga melahirkan jujur itu membuatnya sesak sendiri. Ada rasa tak nyaman dan sedih yang seketika merangsek memeluknya. Tapi… diluar semua itu ia bangga. Entah apa yang akan terjadi jika kemarin ia meninggalkan Sungmin demi keegoisan akan cinta konyolnya. Sekarang, ia janji hanya ada Sungmin dan anak-anak mereka kelak. Cintanya sudah mentok, tak ada ketakutan lagi seperti dulu.
Kyuhyun bangkit dari duduk, mendekat pada bayi merah yang sedang terlelap didalam boxnya. Menatanya lembut sebelum menrunduk untuk menciumnya. Betapa bangganya ia menggendong bayi ini tadi. Ia ingin menggendong lagi, tapi bayinya ini butuh tidur yang cukup untuk perkembangannya dikemudian hari.
~o0o~
Kyuhyun terbangun saat suara ribut terdengar di dalam kamar rawat Sungmin. Entah sejak kapan dirinya jatuh tertidur, tetapi seingatnya suara ini tidak ada dalam pendengarannya sebelum ia jatuh tertidur entah kapan diranjang Sungmin. Ia meluruskan ototnya yang tegang.
"Sudah bangun?" ia mengangguk. Senyum istrinya begitu manis, segera saja ia sambar bibir Sungmin yang tersenyum padanya.
"Ya! Ada kami disini!" kyuhyun menoleh sebal. Suara berisik yang ia dengar ternyata berasal dari dua pasang manusia yang mengaku sahabat mereka. Eunhyuk, Donghae, Siwon dan Kibum. Bayinya ada dalam gendongan Kibum sementara yang lain mengerubungi, Eunhyuk sibuk memotret bayinya dan ia yakin sebentar lagi alumni sekolah menengah mereka akan heboh dengan postingan salah satu akun media social milik gadis itu. Apalagi jika caption di foto itu menyebut bayi Kyuhyun dan Sungmin. Ia berani bertaruh mengingat eksistensinya juga sang istri yang begitu tinggi.
"Bagaimana rasanya menjadi ayah, Kyu.?" Ini pertanyaan Siwon. Membuatnya tersenyum. "Bahagia, rasanya seperti kejatuhan lotere berkali-kali bahkan lebih." Jawabnya hiperbola. Dalam hati bertanya kemana para nenek itu?
"Eomma pulang sebentar mengambil sesuatu." Sungmin memberitahu saat melihat gelagat suaminya.
"Aigooo~ dia tampan sekali." Seru Kibum dan Eunhyuk heboh.
"Tentu saja! Tidak lihat cetakannya? Tampan begini." Pede Kyuhyun dibalas cibiran oleh mereka kemudian terkekeh.
~o0o~
Selepas kepergian empat makhluk berisik itu kini hanya ada mereka bertiga diruangan, para nenek belum kembali. Sungmin masih menyusui putra mereka sementara Kyuhyun duduk disamping sungmin satu ranjang, memeluk pundak istrinya, menatapi intens penuh puja setiap gerakan putranya. "Aku masih tidak percaya aku jadi ayah." Kata Kyuhyun memecah keheningan. Diusanya kepala putranya sayang kemudian menatap istrinya yang beralih menatapnya juga. "Kyu…" panggil Sungmin.
"Hm?"
"Tahu tidak? Dulu, kufikir… ini hanya akan berakhir dengan ceritaku dan bayimu saja." ujar Sungmin. Ibu muda itu mengelus lembut pipi merah putranya yang selesai menyusu. Senyum lemah diwajahnya tercetak kala mengingat awal-awal kehamilannya. Kyuhyun tersenyum, namun terselip ekspresi tidak setuju dengan penuturan istrinya. Ingin sekali menghapus kenangan buruk itu dari fikiran istrinya jika ia bisa.
"Tapi itu dulu, benar kan?" Tanya Kyuhyun yang dibalas anggukan pasti Sungmin. "Sekarang, kau harus mengganti judulnya karena ini bukan semata ceritamu dan bayiku, tapi cerita kita, bersama dengan bayi kita dan keluarga kecil kita." Koreksi Kyuhyun. Mata tajamya menatap lembut Sungmin, memberi istrinya itu cinta lewat tatapan matanya yang hangat. Sungmin memberengut.
"Panjang, Kyu." Protesnya.
"Biarkan saja. Memang siapa yang akan memprotes?" kyuhyun memutuskan untuk menciumi dan sesekali mengusap gemas bayi gembul tampan yang merupakan buah hatinya itu di gendongan Sungmin.
"Kau kembali menjadi Kyuhyun. Aku senang." Mendengar itu Kyuhyun berhenti dengan kegiatannya lantas menatap kembali wajah lelah bahagia istrinya dan tersenyum. Ia membenahi posisi duduknya senyaman mungkin sembari memeluk lagi istri dan anaknya. Menumpukan dagunya di puncak kepala sang istri.
"Dengar, aku tidak pernah kembali karena sejatinya aku tidak pernah pergi, Ming." Tuturnya tulus. "Maaf, untuk semua kesakitan yang kuciptakan dari semua keegoisanku dulu." Sungmin meremas jemari Kyuhyun saat suara sesal suaminya terdengar. Ia tersenyum kemudian menggeleng, memberi isyrat bahwa tak boleh mengucap maaf untuk kesalahan yang bukan sepenuhnya diperbuat Kyuhyun. Dia juga salah.
"Aku berfikir, aku sudah berkorban dengan mengubur perasaanku agar kita terus bersama, tapi ternyata aku salah. Kau lebih banyak berkorban dengan bertahan mencintaiku. Saranghae, Cho Sungmin." Lanjut Kyuhyun diiringi ciuman di puncak kepala. Sungmin tersenyum haru hinga tak terasa air matanya menetes membasahi kain balutan putra kecil mereka. "Nado… nado saranghae. Cho Kyuhyun." Bisiknya penuh bahagia.
Tidak menyangka akhirnya kisahnya akan berakhir seperti ini.
Tuhan menyatukannya dengan Kyuhyun lewat ceritanya sendiri. Padahal ia sudah membuat draft ceritanya dulu, tapi Tuhan ternyata lebih gesit mengganti jalan cerita versinya yang ia percaya akan membuatnya bahagia selamanya.
.
.
.
.
.
.
END!
.
.
.
.
Yoshh! Akhirnya menemui kata END!
Maaf untuk keterlambatannya. Seperti biasa tugas dan segala macam masih mengepung. Ditambah PHP pengumuman kelulusan PPL 1 dan info pendaftaran PPL 2 yang simpang siur bikin mood terjun bebas. Mian^^
Maaf juga untuk feel part ini yang ancur seancur-ancurnya.
Masalah kehamilan dan kelahiran jujur aku belum pernah mengalami. Jadi maaf kalau salah, itu hanya hasil riset dari Mbah Google dan sumber terpercaya yang kupunya. Hehe^^
Terimakasih aku ucapin buat kalian yang sudah mau menunggu story apa banget ini. Story yang udah aku timbun di draft terlama daripada storyku yang lain dan kalian masih nunggu. Ahmazing buat aku. Big thanks^^
Terimakasih juga untuk yang udah fav and follow. And very big thanks yang udah nyempetin komen. Pokoknya terimakasih buat kamu-kamu semua yang nggak bisa aku sebutkan satu persatu. Big thanks lah pokoknya. #Peketin cium
Yang punya akun wattpad, boleh dong di follow dyara_zati. #Promote mengisi kejenuhan kalau nggak ada bacaan di ffn mampir ke si oren yahh.
Dan selamat berpuasa^^ fighting!
And the last, see you at extra part. Mumumu :*
