Family
Disclaimer : Furudate Haruichi.
Warning : OOC, Shounen-ai :v, typo dan lain sebagainya jadi dimohon agar berhati-hati :v *plak
Happy Reading :)
Akaashi duduk disisi ranjangnya dengan wajah terkekuk. Entah kesal atau apa yang pastinya ialah pikirannya sedang berkecamuk sekarang.
Perasaan kesal, sedih dan kecewa nampak jelas dari manik matanya jika diamati baik-baik.
"Ada apa denganmu kali ini hm?" Tanya Bokuto yang memang sedari tadi sudah memperhatikan istrinya itu.
Akaashi menatap Bokuto dengan pandangan kesalnya.
"Apa kubilang, seharusnya kita culik saja Shoyo jauh-jauh hari."
"Eh? S-sebenarnya apa maksudmu sih? A-aku tidak mengerti." Sahut Bokuto gugup karena tatapan tajam milik Akaashi.
"Jangan pura-pura tak paham, Bokuto!"
"Apa sih? Sebenarnya ada apa? Aku benar-benar tak mengerti." Beneran ini, Bokuto memang tak paham akan apa yang terjadi. Ia baru pulang dan melihat kondisi sang istri yang seperti sedang dilanda masalah. Makanya tadi Bokuto yang tampan ini bertanya pada istrinya apa yang sedang terjadi. Dan anehnya ia malah disahuti dengan kata-kata berbau kesal disertai tatapan tajam yang siap menyayatnya hingga mati.
"Shoyo.. dia-" Akaashi terdiam, Ia rasanya tak kuat mengatakannya. Melihat ini Bokuto menghembuskan nafasnya.
"Ada apa? Hm? Bicara perlahan-lahan saja oke?" Bokuto mendudukkan dirinya disamping sang istri.
"Hm.."
"Jadi, apa?"
"Tadi sore Daichi-Nii menghubungiku." Mendengar ini Bokuto berjengit kaget.
"U-untuk apa dia menghubungimu?"
"Dia menghubungiku karena.. Shoyo." Ucap Akaashi lirih namun masih bisa didengar oleh Bokuto.
'Shoyo?' Sedikitnya mengernyit heran, kalau Shoyo itu sakitkan harusnya memanggil dokter atau Yamaguchi yang memang seorang dokter, terus ini kenapa yang di hubungi adalah Akaashi pikir Bokuto bingung sekaligus penasaran.
"Lalu dia bilang apa?"
"Dia ingin aku kerumahnya, memeriksa keadaan Shoyo. Katanya.. Shoyo tertekan akan sesuatu dan meminta agar aku bisa membantunya menangani Shoyo."
"Hm.. begitu." Bokuto manggut-manggut. Sedikitnya Bokuto merasa Kakak Iparnya itu telah berubah, walau pun masih sedikit.
"Kenapa kau sangat santai menanggapinya! Lihat sekarang, saranmu tak terlalu berguna. Shoyo benar-benar tertekan disana! Sudah kubilang ayo culik Shoyo! Kau malah memberi saran untuk tinggal disebelah rumah Nii-chan." Ucap Akaashi kesal.
Bokuto diam, Ia sejenak berpikir tentang apa yang diucapkan Akaashi.
"Kau tahu, hatiku rasanya sesak saat melihat Shoyo tertekan. Aku merasa aku tak pantas menjadi ps-"
"Ssttt.. sudah-sudah. Jadi kau tadi kerumah Nii-chan?" Bokuto mencoba mengubah pembicaraan.
"Hm."
"Lalu bagaimana keadaan Shoyo?"
"Saat aku kesana dia masih tidur. Dan saat kembali mengecek Shoyo aku melihat Nii-chan memberitahukan rahasia keluarga Karasuno padanya."
"T-tunggu! Me-memberitahukan? Jangan-jangan ia bermaksud mengajari Shoyo bagaimana menjadi pewaris sejak dini?!" Ucap Bokuto kaget.
Akaashi hanya diam. Perasaannya semakin berkecamuk sekarang.
"Akaashi.. Kau tahu.."
"Nee~ Akaashi!" Panggil Bokuto lagi.
"Apa?!" Sahut Akaashi ketus. Bokuto menangkup kedua pipi milik sang istri, ditatapnya lembut wajah sang istri yang sekarang tengah kalut.
"Bukan hanya kau saja. Aku juga sangat menyayangi Shoyo dan em.. sebenarnya sempat ada pikiran untuk.."
Akaashi membulatkan matanya kala mendengar apa yang diucapkan sang Suami tampannya itu. Dan sedetik kemudian sebuah senyum tercetak dibibir cherrynya.
"Aku akan membantumu, Anata."
oOo
Hinata menaiki kursi meja makan dengan sedikit lesu. Entah kenapa ia malas makan. Dan rasa malasnya bertambah saat sang Tou-chan tercintanya tak ada. Iya tercintanya sejak Tou-channya itu memberitahu kebenaran akan rahasia keluarganya.
"Haah~" Hinata menghela nafasnya. Ia sungguh tak selera makan.
Melihat ini Sugawara sebenarnya ingin menegur dan menyuruh sibungsu untuk makan karena porsi makannya menurun kecuali jika suaminya ada dimeja makan.
'Kenapa hanya saat ada Daichi saja Kamu banyak makan, Shoyo?' Batin Sugawara.
"Sh-"
"SHOYO!!! NII-CHAN KANGEN!!!" Teriakan seorang anak kecil memotong perkataan Sugawara. Hinata menatap terkejut kearah suara yang baru saja memasuki gendang telinganya.
"Eh? Lev-Nii? Kenapa bisa ada disini?" Tanya Hinata.
"Menjengukmu, tenang aku pergi kemari bersama Tou-chan~" ucapnya seraya menaiki kursi yang ada disamping Hinata.
"Hm.. begitu."
"Kenapa wajahmu seperti itu, Kuroo?" Tanya Sugawara penasaran dengan wajah tertekuk milik Kuroo.
"Anak itu... haah~ menyeretku kemari, padahal pekerjaanku masih banyak dikantor."
"Hee.. kalau begitu kembali saja kekantor. Biar anak-anak aku yang jaga." Usul Sugawara sembari melihat anak bungsunya yang tengah tertawa bersama Lev.
"Benarkah? Wah Nii-chan arigatou. Jaa aku pergi dulu." Kuroo berjalan kepintu keluar diiringi oleh Sugawara.
"Ha'i Ittekimasu!" Ucap Kuroo sebelum benar-benar keluar dari rumah keluarga Karasuno.
"Hm.. hati-hati dijalan."
Berpikir sejenak, Sugawara ingin membuat sesuatu yang disukai oleh anak bungsunya agar hubungannya dengan si bungsu membaik.
Tenang, Sugawara sudah mengetahui tentang makanan kesukaan Hinata. Jangan bingung tahunya darimana, tentu saja dari mata-matanya.
"Shoyo pasti suka." Ucapnya menutup pintu, kemudian berjalan kearah dapur.
*TBC
Hola~
Adakah yang kangen dengan cerita ini?
Hm..
Atau
Adakah yang menanti-nanti cerita ini di Update?Hehe~
Kalau ada terima kasih ne~
Maaf kalau masih ada kekurangannya.
Hm.. sebenarnya kali ini ada apa ya?
Akan terjawab chap berikutnya wuahahahaha *plak
See You in Next Chap
