Penulis : Ohdeerwillis
Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka
Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, dll
Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members
Chapter 14
I picked up my old guitar
The confession that I couldn't make and
the story I stubbornly swallowed
Revealing a song I'm about to tell you
(about) now. Just listen I'll sing for you
I love you a lot but my awkward pride in
those words "I love you" doesn't allow me to (tell you)
Today I will gather all my courage and tell
you so listen to it calmly, I'll
sing for you
-EXO : Sing For You-
Pria berambut caramel itu mengambil kaleng lain setelah melempar asal kaleng yang telah kosong sebelumnya. Jarinya menarik pembuka kaleng lalu dengan cepat meneguk isinya tanpa memperdulikan rasa panas yang menjalar di kerongkongannya. Kepalanya bersandar di sofa, keadaannya bisa dikatakan jauh dari kata baik. Mata yang membengkak karena menangis seharian sebelumnya, rambut berantakan dan wajah yang memerah, bahkan ia belum mengganti bajunya dari terakhir kali menerima telpon dari Kris, dua hari yang lalu. Ia melirik tumpukan kaleng yang belum di buka lalu ponselnya di atas meja yang telah lama mati dan menolehkan ke arah Vivi yang meringkuk di atas tempat tidurnya, tak berniat mendekat, seperti mengetahui jika pemiliknya sedang tidak baik-baik saja. Ia melempar kembali kaleng yang telah kosong lalu berniat mengambil kaleng berikutnya ketika telpon apartemennya berdering, dengan malas ia berjalan gontai menuju telpon apartemennya.
"Ngg?"
"Selamat malam , ada seorang tamu yang menunggu anda di lobby,"
"Ngg? Hnn? Ta-mu?" Luhan tidak ingat jika ia memiliki janji.
"Tu-ng-gguh" Jawabnya setelah berpikir. Ia menutup telponnya lalu berjalan dengan gontai menuju kamar tidurnya, sesekali ia memegang kepalanya yang mulai pusing dan mengabaikannya. Ia membuka nakas mengambil kartu berwarna gold lalu berjalan menuju pintu keluar. Badannya sedikit terhuyung ketika kakinya melangkah keluar lift lalu berjalan menuju meja receptionist dan tersenyum ketika melihat Chen berdiri disana.
"Chen." Chen menoleh ketika mendengar suara memanggilnya dan mendapati Luhan tengah tersenyum dan berjalan ke arahnya, namun ekspresinya berubah ketika melihat cara jalan Luhan yang sedikit terhuyung dan penampilannya yang jauh dari rapi. Chen melangkah mendekati Luhan,
"Kwaenchana?" Ucap Chen memegang pundak Luhan, dan pria berambut caramel itu mengangguk cepat.
"Kam-u ti-dak mengaba-ri ku Chen," Luhan memberikan kode dengan ibu jari dan kelingking yang menempel di telinganya.
"Nomormu tidak bisa dihubungi Luhan,"
"Ahh~ benar, ponselku mati," Chen menyadari bau yang cukup menyengat keluar dari mulut temannya itu.
"Kamu mabuk Luhan?" Luhan menggeleng dengan cepat.
"Aku sadar," Balasnya lalu menepuk dadanya kuat.
"Kalau begitu aku antar ke kamar sekarang," Ucap Chen lalu menari tangan Luhan menuju lift, namun dengan cepat Luhan menahannya dan menarik Chen menuju lift VIP.
"Ini bukan liftnya Luhan, kita harus kesana," Tunjuk Chen.
"Ani, kamu harus menemaniku sebentar Chen. Aku tidak ingin kembali ke kamar," Ucap Luhan lalu masuk ke dalam lift dengan menarik tangan Chen ketika lift terbuka, dengan cepat ia menempel karti VIPnya lalu menekan B untuk bar. Chen ingin bertanya, kemana Luhan akan membawanya namun ia urungkan ketika pintu lift terbuka dan langsung terdengar suara sangat bising di telinganya. Ia menautkan alisnya ketika sadar tempat yang Luhan kunjungi, dengan cepat Chen menahan lengan Luhan yang ingin melangkah keluar.
"Kau mau kemana?" Luhan menunjuk ruangan dengan suara bising di depannya dan Chen menggeleng.
"Aku kira kamu ingin ke rooftop,"
"Ayolah Chen, sesekali." Ucap Luhan lalu menarik Chen memasuki VIP bar itu.
Keadaan bar tidak terlalu ramai, dikarenakan hanya orang-orang tertentu yang bisa mengunjungi bar tersebut. Chen memandang sekeliling bar dengan dominasi warna biru dan gold. Cukup terkagum dengan arsitektur bar yang sangat modern dan elegan. Sofa-sofa beludru yang terjejer rapi nan elegan hingga kursi-kursi tinggi di depan meja bar dengan para bartender pro yang siap melayani. Chen tersadar dari kekagumannya ketika Luhan menarik tangannya menuju salah satu kursi tinggi lalu menyuruhnya duduk disana disusul Luhan yang duduk disampingnya. Pria manis itu memanggil salah satu bartender lalu dengan sigap bartender itu mendatangi Luhan.
"Apa yang ingin anda minum?" Tanya bartender itu ramah.
"Untuk pembukaan aku ingin Margarita satu dan kau Chen?" Luhan menoleh ke arah Chen yang nampak heran dengan dirinya.
"Aku tak ingin minum Luhan," Luhan menggeleng,
"Setidaknya pesanlah sesuatu Chen, aku tidak ingin kau menolak." Chen menghembuskan nafasnya lalu memesan jus jeruk sebagai minumannya. Bukan berarti Chen tidak mengetahui jenis minuman yang ada di bar tersebut, Chen cukup pro untuk urusan minuman, namun dirinya tidak ingin mabuk ketika mengetahui jika temannya sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu pernah kesini sebelumnya?" Tanya Chen, wajar jika Chen bertanya seperti itu. Mengetahui Luhan memesan sesuatu seperti pernah meminum itu sebelumnya dan Luhan menggeleng mendengar pertanyaan Chen.
"Ini pertama kalinya untukku," Jawaban Luhan sukses membuat Chen menganga.
"Pertama kalinya?" Luhan mengangguk.
"Ini pertama kalinya aku kesini tapi bukan pertama kalinya aku minum Margarita Chen," Chen menatap Luhan.
"Ohh~ ayolah Chen, aku pria berumur 25 tahun jadi wajar aku minum itu," Ujar Luhan lalu terkekeh. Luhan bukanlah seorang peminum, namun beberapa kali ia mengunjungi bar ketika berada di China, Korea maupun beberapa negara yag pernah ia datangi untuk berlibur, walaupun tidak sering namun hal tersebut cukup membuat Luhan paham dengan jenis-jenis minuman di bar dan hampir semua bar menjual jenis minuman yang sama di setiap negara. Sama seperti sekarang ketika ia berada di London, hampir menginjak 3 tahun setengah ia menetap di London tapi ini kali pertamanya ia memasuki bar dan merasakan suasana bar lagi. Bukan karena ia tidak memiliki teman minum, hanya saja dirinya merasa tidak perlu lagi untuk pergi ke bar seperti saat sebelum ke London. Ada hal yang berbeda ketika ia mendatangi bar saat ini, jika dulu Luhan mendatangi bar untuk bersenang-senang tanpa beban berbanding terbalik dengan sekarang, ia mendatangi bar untuk menghilangkan beban dalam dirinya.
Luhan tersenyum ketika bartender selesai membuatkan pesanan mereka berdua, dengan pelan Luhan menegak minumannya diikuti arah mata Chen yang terus melihat ke arahnya.
"Kamu tidak menyukaiku kan Chen?" Chen terbatuk mendengar ucapan Luhan.
"Yaa! Michyeoseo? Aku sudah bertunangan Luhan." Balas Chen lalu menarik keluar kalungnya dan Luhan hanya terkekeh mendengar temannya itu.
"Arraseo..arraseo, aku hanya bercanda jadi berhentilah menatapku Chen," Chen memutar bola matanya lalu meneguk jus jeruknya.
"Bureopta," Ucap Luhan ketika melihat kalung Chen. Chen mengikuti arah pandang Luhan dan melihat kalung dengan bandul cincin tunangannya yang melingkar di lehernya.
"Apa yang membuatmu iri?" Tanya Chen.
"Banyak hal," Jawab Luhan lalu meneguk minumannya.
"Cepat atau lambat kamu akan mendapatkan banyak hal yang membuatmu iri itu Luhan," Ujar Chen dan Luhan tertawa dengan getir menatap gelas di tangannya.
"Sebelum aku mendapatkannya aku sudah kehilangan banyak hal Chen," Balas Luhan lalu menopang dagunya. Chen menatap Luhan, ia mengerti jika teman Korea satu-satunya di kantor itu sedang memiliki masalah yang rumit, namun ia urung bertanya tidak ingin membuat Luhan semakin sedih.
"Kamu akan mendapat gantinya Luhan, jangan menyerah," Luhan menoleh ke arah Chen dengan tangan yang masih menopang dagunya.
"Bagaimana jika penggantinya tidak membuatku bahagia?" Tanya Luhan, dan Chen menyerngitkan dahinya.
"Contohnya?" Chen balik bertanya dan Luhan mengangkat bahunya.
"Banyak hal Chen."
"Karena tidak semua di dunia ini sempurna Luhan, mungkin menurutmu pengganti tersebut tidak sempurna saat ini tapi tidak ada yang tahu dengan masa depan Luhan, semua yang diberikan itulah yang terbaik untukkmu saat ini." Ucap Chen lalu menatap meja bar.
"Ahh~ molla..molla… aku kesini untuk bersenang-senang, jadi mari lupakan beban kita Chen," Balas Luhan lalu meminta bartender untuk mendekatinya.
"Aku ingin sesuatu yang lebih kuat," Ucap Luhan ke bartender.
"Bagaimana dengn Balantines Gold?"Saran bartender dan Luhan mengangguk.
"Baiklah, Balantines Gold." Chen menoleh ke arah Luhan dengan sedikit panik.
"Yaa! Bukankah itu berlebihan? Bagaimana jika wine? Atau White Russian?" Chen memberikan saran yang lebih baik dan Luhan menggeleng.
"Atau aku harus memesan vodka saja?" Luhan menaikkan alisnya.
"Yaa!" Luhan terkekeh
"Kalau begitu biarkan Balantines Goldku datang," Chen mendesah dan membiarkan Luhan memesan minumannya.
"On the rock? Straight up?Atau Hi-ball drink?" Tanya bartender.
"On the rock, please"Jawab Luhan. Bartender meletakkan old fashion glass di depan Luhan, menambah beberapa kubus es lalu menuangkan Balantines Gold ke dalam gelasnya, Luhan mengangkat gelasnya,
"Thanks." Ucapnya lalu menyesap pelan whisky nya.
"Kau tidak ingin?" Chen menggeleng lalu mencoba mengabaikan Luhan dan menikmati musik yang mengalun di bar itu. Luhan terkekeh melihat tingkah Chen lalu menyesap kembali cairan itu, mengabaikan pusing di kepalanya.
"Pergilah jika kau ingin menikmati musiknya," Ucap Luhan lalu mendorong pelan bahu Chen dan pria itu menggeleng,
"Aku tidak menikmati musiknya Luhan, aku hanya mencoba menikmati. Cepatlah selesaikan minum mu lalu kita kembali ke apartemen,"
"Kembali? ahh~ aku ingat jika tidak membawa kartu apartemenku Chen," Chen menoleh cepat ke arah Luhan ketika mendengar ucapan Luhan.
"Yaa! Jangan bercanda," Luhan menggeleng,
"Bagaimana mungkin aku bercanda Chen, aku sengaja ingin lebih lama disini," Chen menggeleng cepat.
"Yaa! Bagaimana kamu akan kembali?"
"Aku tidak ingin kembali Chen, jika kau ingin pulang kau bisa pulang,"
"Ini bukan tentang aku, ini tentang kamu Luhan, bagaimana caranya kamu turun tadi tanpa kartu?" Luhan menegak minumannya hingga habis lalu memanggil bartender kembali.
"Turun tidak perlu kartu Chen," Jawab Luhan pelan lalu terkekeh.
"Luhan ini serius, kamu meninggalkan kartumu? Bagimana ponselmu?"
"Tolong berikan aku lagi," Ucap Luhan kepada bartender.
"Yaa! Berhentilah minum, jawab aku,"
"Aku hanya membawa kartu VIP dan tubuhku Chen." Jawab Luhan lalu mengangkat gelasnya ketika bartender selesai menuangkan minumannya. Chen menahan tangannya,
"Berhentilah minum Luhan, kau tak membawa apapun," Luhan tertawa pelan lalu sedikit meringis ketika merasa pusing.
"Tenang Chen, semua pembayaran akan masuk ke tagihan apartemenku, kamu tidak perlu panik." Balas Luhan lalu menyesap minumannya.
"Bukan itu Luhan, ahh… bagaimana bisa kau meninggalkan kartu apartemenmu, dan berhentilah minum, kau mabuk."
"Aku bahkan baru mulai Chen," Chen menggeleng.
"Aku tahu kau sudah minum sebelumnya," Luhan menepuk bahu Chen pelan.
"Waah~ daebak. Kau terbaik," Luhan mengangkat ibu jarinya ketika Chen berhasil menebak.
"Jadi berhentilah minum Luhan." Luhan menggeleng, lalu menegak minumannya hingga habis dan memanggil bartender lagi.
"Geumanhae Luhan." Luhan tersenyum lalu menegak minumannya lagi dan lagi.
"Kau harus mencobanya Chen~ kau pasti tahu sensasinya." Ucap Luhan dengan mata sedikit terpejam. Kepalanya sudah mulai sakit sekarang, wajahnya pun mulai terasa panas namun ia mengabaikannya. Luhan menegak minumannya lagi lalu memanggil bartender.
"Stop it! Kau mabuk Luhan, jangan lagi." Chen menahan tangan Luhan lalu menyuruh bartender menjauh.
"Yaa! Kenapa kau melarangku. Aku membelinya Chen, biarkan aku meminumnya~" Ucap Luhan mencoba melepas tangan Chen yang menahannya.
"Berhentilah Luhan," Luhan mendesah pelan, ia merasa hanya dirinya yang berada disana tetapi jiwanya seperti pergi entah kemana. Ia menempelkan pipinya di meja bar lalu berguman tidak jelas. Chen memandang Luhan khawatir, ia mendengar Luhan menyebut beberapa nama di dalam gumanannya, dan yang paling sering tertangkap pendengarannya adalah "Sehun" dan "Mama". Siapa sehun? Pikir Chen lalu menyentuh pipi Luhan yang memanas.
"Kamu sedang tidak baik Luhan, kita harus segera kembali," Ucap Chen lalu menggoyangkan tubuh Luhan.
"Ka-u..hik.. tau Chen~?" Luhan mengangkat kepalanya yang terasa berat.
"Dia itu penge-cut..hik" Chen tidak membalas ucapan Luhan dan menganggap Luhan sangat mabuk saat ini.
"Dia ti-dak me-hik-nyukaiku,"
"Kau- hik- tau dia si-apa?" Chen menatap Luhan yang terus berbicara tanpa niat membalas ucapan temannya itu, ia sedang memikirkan bagaimana cara mengantar Luhan kembali ke kamarnya.
"Dia-hik-dia."
"Willis" Ucap Luhan berakhir dengan ia yang terhuyung kebelakang dan hampir terjatuh dari kursinya, beruntung Chen sigap menahan tangan Luhan.
"Luhan! Yaa!" Chen cukup panik dengan keadaan temannya itu. Dengan cepat ia membantu Luhan dan memindahkannya ke sofa. Ia mengambil ponselnya dan mencari nomor seseorang, lalu menelponnya.
"Halo?"
"Willis!" Chen cukup panik sekarang dan beruntung Luhan menyebut nama Willis sehingga ia memutuskan untuk menelpon bosnya itu.
"Ada apa?" Terdengar suara kelelahan dari Sehun
"Luhan" Chen ragu untuk memberitahu Sehun.
"Cepat pulang ke apartemen, Luhan mabuk,"
"Tunggu aku!" Telpon terputus. Chen menatap Luhan yang tengah berbaring di sofa.
"Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Willis, tapi ku harap ia membantumu,".
..
..
Sehun sedikit berlari ketika memasuki lobby apartemen, dengan cepat ia menuju lift, mengambil kartu VIP nya dari dompet lalu segera memasuki lift dengan tergesa. Pikirannya penuh dengan nama Luhan, ia khawatir saat ini. Mendengar Luhan mabuk adalah sesuatu hal yang baru untukknya, walaupun ia yakin itu bukan kali pertama Luhan mabuk, namun ia masih begitu khawatir hingga pintu lift terbuka dan terdengar suara yang cukup bising di telinganya. Chen mengirim pesan sebelumnya jika ia dan Luhan berada di VIP bar apartemennya, sehingga Sehun langsung menuju bar dengan tergesa. Ia melangkah memasuki bar dan mengarahkan pandangannya mencari keberadaan Luhan dan Chen hingga ia menemuka sosok Chen yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Sehun berjalan mendekati Chen lalu menepuk bahunya,
"Ah~ kau datang? Syukurlah," Ucap Chen ketika mengetahui kedatangan Sehun.
"Aku pasti datang Chen, bagaimana Luhan?" Tanya Sehun dan Chen menunjuk sosok Luhan yang tengah terbaring di atas sofa.
"Aku kira dia terlalu banyak minum Willis, bahkan aku yakin dia telah minum sebelum mengajakku kesini," Ujar Chen lalu menatap Luhan.
"Kau tidak menahannya?" Sehun mendekati Luhan lalu menyentuh pipinya yang memerah.
"Aku bahkan sudah melarangnya Willis, berkali-kali aku menahannya untuk berhenti tapi berkali-kali juga ia tidak mendengarkanku,"
"Ia tidak membawa kunci kamarnya dan juga ponselnya, jadi aku bingung harus seperti apa dan tiba-tiba saja ia hilang kesadaran," Lanjut Chen lalu menatap Sehun yang sedang melepas jasnya dan memakaikan ke depan tubuh Luhan.
"Aku akan membawanya pulang Chen, terimakasih sudah memberitahuku." Ucap Sehun lalu mulai menggendong Luhan ala bridal style.
"No problem Willis, mm.. sepertinya Luhan memiliki masalah yang membuatnya cukup tertekan sehingga ia seperti ini, jadi aku harap kau menjaganya," Ujar Chen dan Sehun mengangguk. Sehun meninggalkan Chen dan berjalan menuju lift dengan Luhan di gendongannya.
"Jangan seperti ini ku mohon, Xiao Lu," Ucap Sehun pelan menatap mata Luhan yang terpejam di dadanya.
Sehun keluar dari lift lalu menuju apartemen Luhan, beruntung ia selalu membawa kartu pemberian Luhan. Ia melangkah masuk dengan Luhan yang mulai bergerak pelan di dalam gendongannya, merasa tidak nyaman, beberapa kali juga Sehun menangkap Luhan berguman kecil yang tidak terlalu jelas di pendengarannya. Kaki Sehun memasuki ruang tamu Luhan dan seketika penciumannya menjadi sangat peka dengan bau yang kuat, ia juga membulatkan matanya cukup kaget dengan kondisi ruang tamu Luhan yang jauh dari kata bersih dengan bau alcohol yang cukup kuat, matanya melirik tempat tidur Vivi dan menemukan anjing itu meringkuk lalu terbangun ketika melihat kehadirannya.
"Kau pasti sangat takut ya," Ucap Sehun pelan ketika melihat Vivi berjalan ke arahnya dan mengikuti arah gerak Sehun yang menuju kamar tidur Luhan. Sehun meletakkan Luhan di atas tempat tidur lalu berjalan menuju lemari dan mencari piyama tidur Luhan. Ia mengambil sepasang piyama berwarna dongker lalu membawanya mendekati Luhan, dengan perlahan ia melepas jas yang ia pakaikan pada Luhan lalu melepas pakaian Luhan.
"Bahkan kamu belum mengganti baju dari terakhir kali kita bertemu," Pria berambut perak itu dengan perlahan memakaikan piyama tidur untuk Luhan dan tanpa sengaja tangannya menyentuh junior Luhan ketika ingin memakaikan celana piyama membuat Luhan melenguh pelan,
"Ahnn~" Sehun menoleh ke arah wajah Luhan, memastikan ia tidak terbangun.
"Maafkan aku, itu tidak sengaja, seandainya kamu tidak mabuk," Ucap Sehun lalu mendesah pelan.
Sehun sempat mengusap perut Luhan pelan sebelum mengancingkan piyamanya. Dengan perlahan ia menarik selimut hingga menutupi tubuh Luhan, mengecup singkat dahi Luhan, mematikan lampu lalu menggendong Vivi dan membawanya kembali ke ruang tamu.
"Kau lapar jagoan?"Sehun bertanya seolah Vivi mengerti ucapannya, ia menggongong pelan. Ia meletakkan Vivi lalu mengambil kantung makanan anjing dan menuangkannya di pet bowl milik Vivi.
"Selamat makan," Ucapnya lalu mengusak pelan kepala Vivi yang mulai menikmati makanannya.
"Dan sekarang aku harus membersihkan ini semua," Ujarnya menatap ruang tamu Luhan yang penuh kaleng dan botol bir miliknya. Ia mengambil kantung sampah besar dari dapur lalu membawanya ke ruang tamu, menggulung lengan kemejanya sebelum melakukan pembersihan. Tangannya mulai mengambil satu persatu kaleng bir dan membacanya sebelum membuangnya ke kantung sampah.
"Darimana ia memiliki semua ini," Ia memastikan bahwa setiap kaleng dan botol bir Luhan aman dari bahan yang berbahaya. Ia juga menemukan beberapa botol soju bertebaran disana,
"Bahkan kamu memiliki soju? Siapa yang mengirimkan ini?" Keluhnya lalu memasukkan botol-botol itu ke kantung sampah. Gerakan tangannya berhenti ketika manik matanya menangkap bungkusan lain di antara kaleng dan botol bir, ia mengambil bungkusan itu lalu terdiam,
"Luhan merokok?" Sehun tertegun dengan bungkusan di tangannya lalu membuang nafasnya berat. Ia mengusak rambutnya dan entah mengapa ia merasa sakit setelah menemukan bungkusan itu. Sehun bisa memaklumi jika Luhan mabuk tapi merokok? Hal yang membuat Sehun mendapatkan rasa nyeri di dadanya, ia merasa bersalah pada dirinya sendiri. Ia bersender pada meja, menatap bungkusan itu lalu membuangnya bersama botol dan kaleng bir Luhan. Ia berdiri dan mata elangnya mencari bekas-bekas rokok Luhan, berharap tidak menemukan bungkusan lainnya. Dan cukup bersyukur ketika ia hanya menemuka puntungan-puntungan rokok tanpa bungkus yang lain.
Sehun mengikat kantung sampah itu ketika selesai membersihkan ruang tamu Luhan, lalu meletakkannya di tempat sampah. Ia mendapatkan pengharum ruangan ketika mencari di tumpukan alat kebersihan Luhan dan langsung menyemprotnya untuk mengurangi bau alcohol di ruangan itu. Senyumnya sedikit terangkat ketika berhasil membersihkan ruang tamu Luhan. Ia melirik Vivi yang entah sejak kapan telah meringkuk dengan tenang di tempat tidurnya lalu kembali tersenyum. Ia menekan beberapa remote lampu untuk memadamkan cahaya di apartemen Luhan lalu berjalan menuju kamar Luhan.
..
..
..
Pria manis itu mengerjapkan matanya pelan ketika merasa cahaya menganggu tidurnya dari jendela yang tidak tertutup gorden, ia merasa kepalanya sangat sakit dan perutnya terasa perih. Ia ingin menggeser tubuhnya, ketika merasa ada tangan yang melingkari perutnya, juga deruan pelan nafas di tengkuknya.
"Sudah bangun?" Suara serak yang sangat pria manis itu hafal menyapanya. Luhan tidak menjawab, dan tiba-tiba Sehun sudah memutar tubuhnya menghadap Sehun sehingga Luhan tidak terkena cahaya matahari.
"Kembalilah tidur jika masih merasa mengantuk," Ucap Sehun pelan lalu mengusap punggung Luhan. Pria berambut caramel itu tidak menanggapi perkataan Sehun dan sedang mencoba berpikir, bagaimana Sehun bisa bersamanya sekarang? Namun ia tidak mendapati jawaban dan hanya membuat kepalanya sakit, ketika ia ingin menutup matanya tiba-tiba perutnya terasa sangat mual, dengan cepat ia melepas pelukan Sehun dan turun dari kasur lalu berlari menuju kamar mandi.
"Hoek.." Luhan memuntahkan isi perutnya ke dalam kloset. Sehun terkejut lalu menyusul Luhan.
"Are you okay?" Sehun memijat tengkuk Luhan, membantu Luhan mengeluarkan isi perutnya.
"Aku merasa sangat mual dan kepalaku cukup sakit," Ucap Luhan lalu memuntahkan kembali isi perutnya yang hanya mengeluarkan cairan. Sehun masih memijat tengkuk Luhan membantu meringankan rasa mualnya.
"Lebih baikan?" Tanya Sehun ketika Luhan berjalan ke arah wastafel lalu mencuci mukanya, Luhan mengangguk. Sehun membantu Luhan menuju kasurnya, memakaikan selimut lalu menutup gorden kamar.
"Aku akan membuatkanmu bubur," Ucap Sehun lalu mengusak rambut Luhan pelan.
"Beristirahatlah selagi menunggu," Lanjutnya lalu meninggalkan Luhan.
Pria manis itu menatap punggung Sehun yang menghilang di balik pintu kamarnya lalu mendesah pelan dan menyenderkan kepalanya pada headboard. Ia melirik jam beker yang menunjukkan pukul 07.30 A.M.
"Jadi ini masih pagi?" Pikirnya lalu merebahkan tubuhnya. Ia ingin menutup matanya ketika mendengar suara gonggongan pelan dari depan pintu, ia melirik pintu dan mendapati Vivi yang masuk dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, berjalan ke arahnya dan melompat ke atas kasur.
"Kau merindukanku? Maaf tidak mengurusmu dengan baik selama 2 hari kemarin," Ucapnya lalu mengusak bulu Vivi. Anjing berbulu putih itu menyamankan tubuhnya di atas tubuh Luhan dan Luhan mencoba menutup matanya kembali namun rasa kantuknya telah hilang akibat mualnya.
"Kau tau kapan dia datang? Dia pasti tahu kalau aku mabuk berat," Ujar Luhan mengajak Vivi berbicara.
20 menit kemudian Sehun datang dengan nampan di tangannya, ia meletakkan nampan di atas nakas lalu memasang meja kecil di atas kasur. Luhan pun berganti posisi dengan bersender pada headboard.
"Lama menunggu?" Tanya Sehun lalu menoleh ke arah Luhan dan pria itu hanya menggeleng.
"Vivi menemaniku," Ucapnya lalu tersenyum. Pria berambut perak itu meletakkan nampan di atas meja kecil dan Luhan tersenyum melihat isinya, semangkuk bubur dengan potongan sayuran, secangkir ginger tea, segelas air putih, dan sebutir obat pereda hangover.
"Beruntung kau memilikinya," Ucap Sehun lalu menunjuk sebutir obat di atas nampan dan Luhan hanya terdiam.
"Terimakasih sudah membuatkan ini," Sehun hanya mengangguk lalu duduk di depan Luhan.
Luhan mulai menyendok buburnya lalu memakannya dengan pelan.
"Kamu tidak ingin tahu bagaimana rasanya?" Tanya Luhan.
"Tidak perlu, enak ataupun tidak, kau tetap harus memakannya. Kamu tidak makan apapun dua hari kemarin." Ucapan Sehun membuat Luhan sedikit menengang.
"I know, maaf." Balas Luhan lalu menyuap buburnya lagi.
"Bagaimana bisa kamu memiliki begitu banyak bir?" Luhan mengangkat wajahnya lalu menatap Sehun yang balik menatapnya dengan satu alis terangkat.
"Aku tak pernah menyimpan bir, aku membelinya dua hari yang lalu," Jawab Luhan pelan.
"Dan soju?" Tanya Sehun lagi.
"Sahabatku Baekhyun yang mengirimnya, tapi baru kemarin aku meminumnya." Luhan menyesap ginger teanya. Sehun tak bertanya lagi, walaupun ia memiliki banyak pertanyaan di kepalanya, termasuk kenapa dia begitu mabuk dan mengapa Luhan merokok. Namun, ia hanya menahan semua pertanyaan itu di kepalanya dan membiarkan Luhan yang akan bercerita dengan sendirinya.
"Kamu tidak berangkat bekerja?" Kali ini Luhan yang bertanya.
"Aku sudah memberikan kabar pada kantor jika akan telat." Luhan mengangguk paham.
"Luhan,"
"Hn?" Luhan menyuap buburnya lagi.
"Jangan membuatku khawatir lagi seperti kemarin ketika aku tidak berada di sini," Luhan menghentikan gerak sendoknya.
"Kamu akan pergi Willis?" Tanya Luhan lalu menatap Sehun dan yang ditatap hanya terdiam cukup lama lalu mengangguk.
"Kemana?" Sehun menghembuskan nafasnya pelan.
"Amerika." Jawabnya singkat dan Luhan menelan makanannya dengan berat ketika mendengar jawaban dari Sehun.
"Kapan?" Sehun menatap mata Luhan yang selalu membuatnya jatuh untuk Luhan, lagi dan lagi.
"Kurang lebih satu minggu lagi,"Dan jawaban terakhir Sehun sukses membuat Luhan kehilangan selera makannya, lenyap entah kemana.
"Jadi aku mohon, selama aku tidak disini, kau jangan membuatku khawatir."Ucap Sehun lalu mengusak rambut Luhan pelan.
"Kalau begitu, aku akan pergi ke kamarku, dan bersiap bekerja. Habiskanlah makananmu dan jangan lupa minum obatnya. Kamu ku beri ijin untuk beristirahat sampai kau siap bekerja. Sampai nanti," Lanjut Sehun lalu berdiri dari duduknya, mengecup kepala Luhan lalu berlalu dan Luhan hanya menatap punggung Sehun lalu mendorong mejanya ketika Sehun menghilang di balik pintu tanpa berniat menghabiskannya.
"Bahkan kau tak bertanya kenapa aku mabuk Willis," Ucap Luhan lirih.
..
..
..
Ini hari keduanya bekerja setelah hampir 4 hari tidak masuk bekerja, cukup kerepotan memang setelah 4 hari meninggalkan pekerjaan yang membuatnya menumpuk begitu banyak. Bahkan kemarin ketika ia memutuskan masuk bekerja setelah sembuh dari hangover nya, hampir seluruh teman ruangannya bertanya kabarnya terutama Cassie yang khawatir dengan keadaannya yang tidak ada kabar. Dan cukup membuat pria berambut caramel itu sedikit senang dengan perhatian dari teman-teman kantornya. Namun, walaupun ia terlihat lebih baik dan kembali seperti semula, nyatanya beban di pikirannya tidak berkurang bahkan dapat dikatakan bebannya menjadi bertambah setelah mendengar perkataan bosnya itu yang akan pergi ke Amerika untuk urusan pekerjaan. Berbicara soal bosnya, bahkan ini adalah hari ketiganya tidak melihat penampakan dari bosnya itu. Setelah mengurusnya tiga hari yang lalu, Sehun tidak nampak lagi sampai saat ini. Tidak mengajak berangkat ke kantor ataupun pulang, tidak bertanya kabar bahkan tidak mengirim pesan satu pun setelahnya.
Luhan mencoba memahami kesibukan bosnya itu yang mengurus banyak hal sebelum pergi ke Amerika, namun, hal itu cukup mengusiknya. Ketika pria itu memilih tidak bertanya banyak hal kepada Luhan, membuat Luhan cukup sedih dengan keadaannya. Entahlah, dia semakin berpikir jika bosnya itu tidak menyukainya, hanya kasihan pada dirinya, memikirkan hal itu membuat Luhan merasakan sakit di dadanya. Tinggal sekitar tiga atau empat hari lagi Sehun meninggalkannya dan Luhan belum tahu akan bersikap seperti apa. Pria manis itu merenggangkan tangannya ketika berhasil menyelesaikan pekerjaannya lagi. Luhan memilih lembur agar menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk, walaupun ia ingin mengabaikan makan siangnya saat ini, tapi perutnya tidak bisa diajak kerjasama dengan baik.
"Setidaknya aku harus makan untuk lembur nanti malam," Gumannya lalu mendorong kursinya mundur. Ia berjalan menuju lift dan turun menuju lantai dasar.
Kakinya melangkah masuk ke salah satu café yang tidak jauh dari kantornya dan memilih duduk di ujung ruangan yang berhadapan dengan jendela. Ia memesan makanan ketika pelayan menghampirinya dan segera berlalu ketika mendapat pesanan dari Luhan. Luhan mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang,
"Annyeong Baekkie," Ucapnya setelah mendapat sapaan diujung telpon.
"Kwaenchana?" Tanya Baekhyun.
"Aku baik Baekkie, apa aku menganggumu?" Baekhyun terkekeh.
"Ani, kau tak pernah mengangguku Lu, ada apa?"
"Hmm, Baekkie ada yang ingin kutanyakan padamu," Ucap Luhan sedikit berpikir.
"Apa menurutmu aku harus menceritakan masalahku dengan Willis dan rencana kepulanganku?" Tanya Luhan. Baekhyun telah mengetahui masalah yang menimpa sahabatnya itu bahkan ia telah mengetahui rencana pulang Luhan dua hari yang lalu dan membuatnya sangat bahagia.
"Kau ingin memberitahunya Lu?" Luhan nampak berpikir sejenak.
"Ia akan pergi ke Amerika Baekkie, dan aku tidak tahu kapan ia kembali. mungkin aku telah pergi saat ia kembali, jadi bagaimana menurutmu?" Pesanan Luhan datang, ia bersiap makan.
"Hnnm, aku tidak bisa memberi banyak saran Lu, selain aku tidak pernah kenal orang itu sebelumnya. Sebenarnya semua keputusan di tanganmu, jika kamu merasa perlu memeberitahunya, maka beritahulah. Jika tidak, jangan beritahu, semuanya ada di tanganmu Lu," Balas Baekhyun kemudian.
"Tapi ia bahkan tidak menghubungi sampai saat ini Baekkie," Ujar Luhan pelan lalu mengaduk makanannya.
"Kau tak ingin mencoba menjadi yang pertama?"
"Aku takut menganggunya Baekkie,"
"Karena itulah, yang bisa memutuskan hanya kamu." Luhan mendesah pelan.
"Kamu memiliki kartu kamarnya Lu, kenapa kau tidak mengunjunginya?"
"Aku tidak seberani itu Baekkie," Kali ini Baekhyun yang mendesah pelan.
"Bagaimana jika kau memberitahunya sehari sebelum keberangkatannya?" Usul Baekhyun.
"Wae?"
"Setidaknya setelah itu ia pergi, dan tidak membuatmu canggung. Jika kau memberitahunya sekarang, ada kemungkinan kau canggung Lu jika bertemu dia besoknya." Luhan menatap jendela mencoba memikirkan cara dari Baekhyun.
"Hmm, baiklah. Akan ku pertimbangkan caramu Baekkie."
"Jangan terlalu diambil pusing Lu, dan jangan membuatmu tertekan karena hal itu." Luhan mengangguk lalu terkekeh.
"Arra,"
"Jadi, kapan kau akan ke sini?" Tanya Baekhyun
.
.
.
Hari ini tepat sehari sebelum Sehun berangkat ke Amerika. Ia cukup tertekan dengan banyaknya pekerjaan yang ia selesaikan belakangan ini membuatnya tidak bisa berdekatan dengan Luhan. Bukan apa, hanya saja dia harus fokus dengan kerjaannya sebelum berangkat ke Amerika untuk mengurus beberapa hal dan ia yakin itu memakan waktu cukup lama sehingga ia harus memastikan semuanya baik-baik saja selama ia di Amerika, akan ada kemungkinan ketika dirinya kembali nanti kantor ini tidak dipimpin ia lagi. Memikirnya membuat Sehun cukup khawatir, dan susah beristirahat. Beberapa hari ini, ia bahkan kurang tidur dan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada di apartemen. Bahkan cukup tersiksa ketika tidak bisa menghubungi Luhan, dan itu sengaja. Ia tidak ingin menjadi goyah ketika terlalu banyak berhubungan dengan Luhan di waktu keberangkatannya nanti. Ia melonggarkan dasinya ketika selesai mengirim beberapa surel, lalu melihat jam tangan, setengah 6. Pasti karyawannya telah pulang sekarang ini, dan ia masih di sibuk dengan pekerjaannya.
"Permisi," Sehun menoleh ke arah pintu, ketika mendengar suara.
"Ini laporan yang diminta, dan sisanya akan dikirim via surel." Ucap Marley lalu menyerahkan beberapa map dan Sehun mengangguk lalu mengambil map-map itu.
"Tolong urus segala sesuatunya ketika saya tidak ada, termasuk perijinan atau surat pengunduran diri jika ada." Ucap Sehun lalu menatap map di tangannya.
"Saya tetap harus menerimanya? Surat pengunduran diri?" Tanya Marley bingung, ia tidak memiliki hak untuk mengurus hal seperti itu.
"Saya yang menyuruhmu, saya akan beritahu pihak lain juga, kita tidak perlu menahan orang yang ingin keluar bukan?" Ujar Sehun dan Marley mengangguk paham.
"Baik , saya akan urus dengan baik," Sehun mengangguk.
"Terimakasih," Marley pun meninggalkan Sehun.
Sehun kembali berkutat dengan komputernya sampai ia mendengar suara ketukan dari pintu ruangannya.
"Come in," Pintu terbuka dan sepasang kaki melangkah masuk, Sehun belum beralih dari layar komputernya sampai ia menyadari jika tamunya tidak berkata apapun. Pria berambut perak itu mengangkat kepalanya dan sedikit terkejut mendapati Luhan di ruangannya.
"Kau lembur?" Satu pertanyaan keluar dan Luhan hanya mengangguk tanpa membalas perkataan Sehun. Sehun menatap Luhan dari atas hingga kebawah, kemeja ditambah cardi lalu chino pants nya dan dua gelas kertas kopi di tangannya. Ia mengalihkan pandangannya dari Luhan lalu kembali fokus dengan komputernya.
"Kamu tidak boleh goyah Sehun," batinnya.
"Ada apa?" Tanya Sehun dengan jari yang masih sibuk dengan keyboardnya. Luhan belum mengeluarkan suaranya, entah karena terlalu gugup atau karena aura di ruangan Sehun terlalu dingin membuatnya takut mengeluarkan suara. Luhan menghembuskan nafasnya pelan,
"Kita perlu bicara Willis," Suara Luhan berhasil keluar.
"Aku sudah memberimu waktu berbicara Luhan," Luhan mengenggam gelas kopinya erat.
Yang ia maksud bukan berbicara dengan suasana dingin seperti ini, Luhan menginginkan suasana yang lebih santai agar ia mudah mengeluarkan perkataannya. Suasana seperti ini hanya membuatnya gugup saja, entah kapan terakhir kali Luhan segugup ini di depan Sehun.
"Mmm.." Luhan tampak ragu dengan perkatannya. Apakah ia tunda saja memberitahu bosnya itu? Luhan terlalu ragu hingga terdiam cukup lama. Dan Sehun cukup bingung dengan tingkah Luhan, ia hanya berdiri tanpa sepatah katapun dengan dua gelas kopi, apa yang ia inginkan? Bukan Sehun tidak suka dengan kehadiran Luhan, hanya saja bukankah lebih baik jika Luhan pulang daripada berdiri di sana tanpa berniat ngomong? Sehun mencoba mengabaikan tingkah aneh Luhan dan kembali dengan pekerjaannya, hal itu membuat Luhan semakin yakin jika ia tidak perlu memberitahu Sehun, ia yakin Sehun tidak akan terlalu peduli.
Luhan memilih untuk berjalan mendekati meja Sehun untuk memberikan kopi, namun karena suasa ruangan Sehun, berjalanpun membuatnya gugup, tangannya hampir sampai ke atas meja Sehun,
"Permisi, Su-"
"LUHAN!" Sehun terkejut dengan tingkah Luhan yang menumpahkan kopi diatas mejanya.
"Apa yang kau lakukan!?" Sehun panik, cairan kopi Luhan mengotori meja kerja dan mengenai dokumen kantornya. Dan Luhan masih terkejut dengan bentakan Sehun pada dirinya, sungguh ia tidak berniat menumpahkan kopinya. Kehadiran Marley yang tiba-tiba membuat ia melepas gelas kopinya.
"Ma-maafkan aku Willis, aku tidak sengaja," Luhan menarik beberapa lembar tisu lalu mencoba membersihkan cairan hitam itu.
"Willis?" Luhan menoleh ke arah pintu, ia melupakan kehadiran Marley dan dengan tidak sopannya memanggil nama bosnya begitu saja.
"Stop it!" Sehun menahan tangan Luhan yang masih berusaha membersihkan kopinya.
"STOP IT LUHAN!" Tangan Luhan menegang, tiba-tiba ia merasa sangat bodoh.
"Kau bisa keluar sekarang," Ucap Sehun dan Luhan menggeleng.
"Ta-tapi aku yang-"
"Aku bosmu, dan aku perintahkan kamu untuk keluar dari ruanganku sekarang," Perintah Sehun tegas.
Ah benar, Willis tetaplah Willis, bosnya dan Luhan melupakannya. Harusnya Luhan sadar jika statusnya dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah "Bos dan Karyawan" tidak lebih. Dia begitu bodoh berada di ruangan itu, Luhan mengambil langkah mundur lalu sedikit membungkuk,
"Maafkan saya , maaf sudah menganggu waktu anda dan mengacaukan meja anda, saya permisi," Ucap Luhan lalu berlalu meninggalkan Sehun dan Marley yang masih menatap mereka dengan bingung. "Tunggu! Kau tidak perlu membungkuk bodoh," Pikir Sehun lalu menatap punggung Luhan yang menghilang dibalik pintu ruangannya, dan entah mengapa sekarang ia merasa sangat bersalah telah membentak Luhan seperti tadi.
"Lagi, kau membentaknya lagi Sehun. Kau bersikap sangat bodoh Sehun."Batin Sehun lalu menatap dokumennya yang penuh noda kopi dan mendesah pelan.
Luhan menatap gelas kopi miliknya lalu membuangnya dan segera memasuki lift.
..
..
..
-1 bulan kemudian-
Langkah kaki dari sepatu kets yang baru memasuki lobby beberapa waktu yang lalu terdengar ringan, sang pemilik sepatu memasang wajah bahagianya dengan tangan yang penuh paper bag dari berbagai merek yang akan ia berikan pada seseorang yang selama sebulan ini sangat ia rindukan. Tangannya menempelkan kartu ketika berhasil memasuki lift dan segera lift itu menuju lantai yang ia maksud.
Ia melepas kacamata hitamnya ketika kakinya melangkah masuk ke apartemen seseorang yang ia rindukan,
"Luhan?" Sehun memanggil nama Luhan ketika berhasil masuk apartemen milik Luhan. kakinya melangkah menuju ruang tamu dan meletakkan semua paper bag yang ia bawa di atas meja. Ia menatap apartemen Luhan yang terkesan sepi, lalu berjalan menuju kamar tidur Luhan.
"Luhan?" panggilnya dan mendapati kamar tidur Luhan sepi. Ia menyerngit ketika mendapati kamar mandi Luhan juga sepi begitu pula dengan ruangan-ruangan lain yang berada di apartemen Luhan. Ia kembali ke ruang tamu ketika ponselnya berdering,
"Hallo?"
"Hallo selamat sore , saya dengar anda telah kembali," Ucap suara di ujung telpon.
"Iya, saya baru sampai beberapa waktu yang lalu Marley, ada apa?"
"Saya ingin mengirim data selama satu bulan ini, karena ada beberapa data yang harus segera di selesaikan," Sehun melihat jam tangannya.
"Baiklah, kamu bisa kirimkan,"
"Baik , saya akan kirimkan termasuk data yang ijin dan keluar," Sehun menautkan alisnya.
"Ada yang keluar?"
"Iya,"
"Baiklah," Sehun memutus telpon ketika selesai berbicara. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, masih memikirkan dimana Luhan berada, lalu teringat dengan tetangga bawahnya, Cindy. Pria itu berjalan ke arah pintu, lalu tidak sengaja melirik tempat tidur Vivi, ia juga merindukan Vivi, mungkin Luhan sedang pergi dengan Vivi.
Sehun bertanya pada receptionist tentang Cindy ketika sampai di lobby, ia tersenyum ketika Cindy berhasil dihubungi dan akan segera turun. Sehun menunggu Cindy dengan perasaan yang tidak tenang, berharap Luhan sedang bersama Cindy sekarang. 10 menit kemudian Sehun melihat Cindy keluar dari lift dan berjalan ke arahnya,
"Tunggu, Vivi? Tapi dimana Luhan?" pikirnya ketika melihat Cindy berjalan ke arahnya dengan menggendong Vivi tanpa Luhan disampingnya.
"Hallo, selamat sore Willis," Sapa Cindy dan Sehun membalas sapaan Cindy.
"Bagaimana perjalananmu?" Tanya Cindy.
"Cukup melelahkan," Jawab Sehun lalu tersenyum.
"Ahh~ kalau begitu ini untukmu, Luhan menitipkannya padaku," Sehun menaikkan alisnya ketika mendengar perkataan Cindy.
"Luhan? menitipkannya?" Cindy mengangguk lalu menyerahkan Vivi kepada Sehun.
"Dan dimana Luhan sekarang?" Cindy menggeleng,
"Dia tidak memberitahumu? Dia pergi Willis," Sehun menengang,
"Pergi? Maksudnya?" Cindy menatap Sehun bingung,
"Ahh~ jadi dia tidak memberitahumu? Luhan pergi Willis, dan dia menitipkan Vivi padaku dari dua minggu yang lalu, dia mengatakan kau akan datang mengambil Vivi."
"Apa? Tunggu, Luhan pergi? Pergi dari London?" Sehun menatap Vivi di gendongannya.
"Apa dia memberitahumu kemana ia akan pergi? Kapan ia kembali?" Tanya Sehun penuh harap dan Cindy hanya menggeleng pelan.
"Luhan tidak memberitahu kemana ia akan pergi dan ia mengatakan jika tidak akan kembali lagi," Sehun menatap Vivi nanar. Jadi Luhan meninggalkannya? Tanpa kabar? Sehun terdiam cukup lama sampai ponselnya bergetar, dengan malas ia mengambil ponselnya dan membuka surel dari Marley. Manik matanya menatap satu persatu surel yang masuk dan jarinya berhenti pada surel yang berisi data karyawan yang keluar ataupun ijin dari kantornya bulan lalu, dengan gugup Sehun membuka surel itu dan mendapat beberapa nama, lalu matanya terkunci pada satu nama, Luhan.
"Jadi dia keluar dari kantor?" Guman Sehun setelah melihat daftar nama.
"Kalau begitu aku pamit Willis, sampai jumpa," Sehun mengangguk.
"Thanks Cindy," Cindy mengangkat ibu jarinya lalu meninggalkan Sehun yang dipenuhi aura putus asa.
"Bahkan ketika aku berhasil menyelesaikan masalah besarku dan tinggal memberitahumu, kau malah meninggalkanku Luhan," Guman Sehun sendu lalu menatap Vivi
.
.
.
Ini menjadi minggu kedua dirinya berada di Korea, negara yang sudah lama tidak ia datangi. Setelah kejadian 2 bulan yang lalu ia memutuskan untuk menerima saran teman menyebalkannya untuk mendatagi Korea setelah sekian lama.
"Sehun, kau jadi menemanikukan hari ini?" Sehun menoleh ke arah perempuan yang telah duduk di sampingnya dengan perut yang mulai terlihat besar.
"Kenapa tidak meminta Kai yang mengantarmu?" Perempuan di sampingnya mendesah,
"Ia tidak bisa di andalkan Sehun, ayolah kau janji untuk mengantarku ke dokter kandungan," Sehun mengusak rambutnya sendiri.
"Arraseo, tunggu aku ganti baju dulu," Ucapnya lalu meninggalkan perempuan bernama Reina, sepupu dari temannya.
Sehun dan Reina berjalan beriringan setelah keluar dari taksi, Sehun cukup kesal dengan teman hitamnya itu yang tidak cepat mengurus mobilnya.
"Kau tau Sehun, aku harap anakku mirip denganmu," Ucap Reina lalu tertawa dan Sehun tidak menanggapi hanya menatap lalu lalang orang yang menuju rumah sakit seperti dirinya. Langkahnya berhenti ketika manik matanya menangkap sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat,
"Kau kenapa Sehun?" Tanya Reina ketika mengetahui Sehun berhenti secara mendadak dan mengikuti arah pandang Sehun.
Sesosok pria keluar dari rumah sakit, ia menutupi wajahnya denga turtle neck hingga hidungnya, syal abu-abunga membungkus manis lehernya serasi dengan duffle coat abu-abunya, rambut caramelnya bergoyang pelan terkena angin musim dingin. Kakinya melangkah pelan ketika keluar dari rumah sakit, wajahnya menunduk hingga akhirnya pria itu mengangkat wajahnya dan membulatkan matanya ketika melihat sosok yang lebih dulu menatapnya tajam. Namun, langkah pria itu tidak berhenti, ia terus melangkah dan sedikit membungkuk ketika melewati Sehun dan Reina dan terus berjalan melewati mereka berdua. Sehun menegang, ia yakin dengan perasaannya lalu berbalik.
Pria bersyal abu-abu itu memberhentikan taksi dan membuka pintu taksi, sampai
"Xiao Lu," Pria berambut caramel itu menoleh dan terdiam.
..
..
..
Look you can play in core
I got you don't care
River don't be in cruel
You push me away
Don't want to get hurt
So you hurt me first
With phone words you say
Maybe you should fall
There's one river stood
Cause you're in love
You don't wonder different view
Things are looking love
Oh river
River
-Charlie Puth : River-
..
.
.
.
R
C
L
terimakasih buat yang baca,
NB : Bersyukur bisa menyelesaikan chapter baru lagi :3 dan lagi-lagi di akhir pekan, karena weekdays ku cukup padat jd aku baru bisa bikin di akhir pekan dengan mode cepat dan aku harap ini cepat selesai sebelum UAS datang :") mungkin tinggal satu atau dua chap lagi ff ini tamat *joget* aku harap kalian bisa meninggalkan kesan dan pesan juga saran ya, karena aku pingin baca pendapat kalian tentang ff ini bagaimana selama ini sebelum tamat ;) aku mohon bantuannya untuk tidak menjadi silent readers yaa chingu ^^
Semoga ff ini bisa menghibur kalian ya, dan juga aku harap ff ini menjadi lebih baik setiap chapternya :")
Dan sekali lagi terimakasih sudah me review di chap sebelumnya, ^^ aku harap kalian akan mereview chap ini. Review dan pertanyaan kalian akan dibalas berbentuk pesan.
Sampai bertemu di updatetan selanjutnya ^^
silahkan kirim email untuk berteman, cerita, curhat, kenalan, tanya-tanya atau apapun di ohdeerhunhan aku akan senang hati membalasnya ^^
Sarangahaeee chinguu
