Disclaimer: Bleach © Tite Kubo-Sensei
Apa kabar semuanya?
Semoga sehat selalu.
*author masih ngolesin salep di kulitnya, bentol-bentol gaje gara-gara semut merah*
Author berpesan agar yang lain jangan sampai bernasib sama dengannya. Jadi jangan mencoba untuk menantang plot dengan Ichigo *di bankai Ichigo*
Jee-san, boleh kok panggil aku Nee-chan.
Untuk perjuangan Ichigo… sebenarnya ga' cuma segitu kok. Karena bagaimanapun menghapus rasa cinta tidaklah semudah itu kan? **
Kau harus semangat Ichigo!
Ichigo : "Seperti apapun aku bersemangat, jika kau tetap membuat Rukia sama Byakuya, aku bisa apa?"
Nakki : *Garuk-garuk kepala sambil nyengir kuda*
Terima kasih lagi atas reviewnya, aku akan membuat readers kecewa karena aku banting stir plot kali ini. Aku sendiri jadi ga' ngerti kenapa *Dasar author IQ tiarap. Bukan jongkok lagi!*
Nah, Selamat membaca Mina-san ^_^
Title : To Make You Feel My Love
By : Nakki Desinta
Pairing : Byaruki
Chapter 13 : The Gratify or Horrible Night?
#
Rukia kembali ke kampus tiga hari kemudian, kondisinya sudah jauh lebih baik karena matanya sudah tidak bengkak lagi, dia berusaha menghentikan tangisnya sejak Ichigo mengirimnya pesan-pesan singkat untuk menguatkannya, dan menghiburnya. Ichigo benar-benar jiwa cerah yang akan menulari siapapun agar bisa lebih tegar untuk menghadapi hidup.
Tidak ada lagi wartawan atau para pemburu berita yang akan menerornya dengan banyak pertanyaan. Mereka seperti habis tergerus arus, tidak satupun yang muncul baik di rumah maupun di kampus.
Rukia masih tinggal bersama Aizen dan Ulquiorra, membereskan barang-barang milik Hisana. Tepat satu hari setelah kepergian Hisana, Ishida Ryuken datang dan membacakan surat wasiat dari Hisana. Rukia duduk bersama Aizen dan Ulquiorra mendengarkan Ishida Ryuken membacakan isi surat tersebut, tidak ada air mata lagi, yang ada hanya ketegaran hati seorang Rukia.
Hisana mewariskan seluruh tabungan, deposit dan investasi pada Rukia, sedangkan semua perabotan dan baju yang ada dalam rumah, ia berpesan agar dilelang dan diberikan kepada panti asuhan -yang baru mereka ketahui sebagai panti asuhan tempat Hisana berasal-. Hisana dibesarkan disana sebagai seorang anak tanpa identitas, tanpa diketahui siapa orang tuanya. Satu lagi rahasia hidup seorang Hisana terbuka, bahwa ketegaran hati Hisana telah menciptakan pribadi sekeras karang.
Mereka bertiga mengunjungi panti asuhan tersebut tepat dua hari setelah pemakaman Hisana, memberikan beberapa bingkisan pada anak yatim piatu disana, dan mengirimkan sejumlah uang hasil lelang barang-barang milik Hisana, semuanya, tanpa pengurangan satu sen pun.
Aizen tersenyum, tidak ada lagi wajah licik darinya, senyumnya tulus saat menjabat satu persatu anak panti asuhan tersebut.
"Hisana adalah wanita dengan sejuta rahasia," bisik Aizen saat mereka pulang dari panti asuhan.
Sedangkan Rukia tidak repot-repot mengurus warisan yang diberikan Hisana, dia membiarkan warisan itu tetap ditempat semula, tidak menyentuhnya sama sekali. Dia tidak berpikir akan membutuhkan warisan itu, namun ia juga tidak menolaknya, karena itu adalah keinginan Hisana. Dia hanya ingin menjadi seorang anak yang berbakti sekalipun Hisana sudah tidak ada.
Jadilah sekarang Rukia berjalan di koridor menuju kelasnya, jauh lebih tenang. Lisa pun memberinya waktu agar menenangkan hati dulu, tidak lantas memaksanya kembali ke rumah. Namun Rukia berencana akan mengemasi barang-barangnya malam ini dan kembali ke rumah bersama Lisa, Ukitake dan Byakuya.
"Rukia, bagaimana keadaanmu?" sapa Hinamori yang langsung memeluk Rukia erat, memberi dukungan pada sahabat terbaiknya.
"Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir. Bagaimana tugas-tugas kuliah? Apakah aku ketinggalan banyak tugas?"
Rukia duduk di kursinya dan mengeluarkan bukunya.
Rangiku, Hitsugaya dan Hinamori menatapnya penuh perhatian, masih sedikit cemas karena wajah Rukia agak pucat, namun mereka bisa tenang karena Rukia tidak separah saat pemakaman, dan saat masih berada di rumah duka.
"Aku sudah meng-copy semua tugas untukmu, ini." Hitsugaya memberikan setumpuk kertas pada Rukia, hasil kerja kerasnya dibantu dengan campur tangan Rangiku dan Hinamori.
"Terima kasih," jawab Rukia tulus.
Dia bangga karena memiliki sahabat yang terbaik dan selalu membantunya.
Kuliahpun dia jalani dengan baik, saat istiraha siang dia bertemu dengan Byakuya, menyantap makan siang yang disiapkan oleh ibu, dengan menu kesukaan Rukia. Bahkan tidak lupa satu kantong kecil biscuit chappy.
Sepulang dari kampus Rukia melakukan latihan bersama Pelatih Zaraki, menu latihan seperti biasa dan tanpa pengurangan, justru Pelatih Zaraki menambah menu latihan, tidak memberi sedikitpun waktu luang untuk Rukia memikirkan kesedihannya.
"Catatan waktumu masih sama, Rukia. Aku tidak akan berhenti sampai kau memperbaikinya!" ancam Pelatih Zaraki yang memperhatikan stop watch ditangannya, dan kembali mencatat.
"Baik, Pak. Anda memang jagonya menyiksa orang," celetuk Rukia sambil berjalan kembali di garis start.
"Kau.. sembarangan saja!" Pelatih Zaraki hendak menjitak kepala Rukia, namun Rukia menghindar dan nyengir padanya.
"Baguslah dia sudah kembali seperti semula," bisik Pelatih Zaraki dalam hati.
.
.
Musim berganti dengan cepat, udara sudah berubah lembab karena memasuki awal minggu kedua awal tahun, ulang tahun Rukia pun hanya tinggal dua hari lagi. Rukia tidak terlalu memikirkan hal itu, dia lebih sibuk mengemasi barangnya dan kembali ke rumah, berpamitan pada Ulquiorra dan Aizen.
"Aku akan sering-sering mampir," ucapnya saat pamit.
"Iya, karena bagaimanapun kau juga anakku kan?" jawab Aizen riang, sudah hilang sama sekali duka yang bergelayut diwajahnya.
"Ulquiorra, terima kasih sudah baik padaku. Aku akan menjadikanmu kakak kedua setelah Byakuya," kata Rukia yang mengulurkan tangan dan menjabat tangan Ulquiorra.
Pemilih mata hijau emerald itu mengangguk dalam, merasa senang namun juga merasa sedih. Senang karena Rukia menerimanya masuk dalam hidupnya, namun juga sedih karena Rukia tidak akan pernah mengetahui rasa yang ia rasakan, dan secepat kilat ia telah membuang perasaan itu.
"Aku pastikan aku akan datang di pertandinganmu," sahut Ulquiorra.
"Aku tunggu!"
Rukia pun pergi dari hadapan mereka, membawa barang yang hanya berupa satu tas kecil, karena beberapa barang seperti poster TVXQ tidak ia bongkar, ia tinggalkan tertempel di dinding kamarnya, ia ingin meninggalkan jejak kehadirannya di rumah itu.
Byakuya menjemputnya, dan membawanya kembali ke rumah. Senang karena akhirnya Rukia kembali dalam jangkauannya.
.
.
"Jadi besok kita akan berangkat jam empat sore, tepat setelah kau selesai latihan," kata Rangiku dengan nada suara riang membayangkan rencana hebat yang telah ia cetuskan.
Rukia melongo melihat seluruh temannya, termasuk Byakuya dan Grimmjow malah ikut andil dalam diskusi yang telah menghasilkan sebuah keputusan tanpa campur tangannya.
Mereka tengah sedang berkumpul di kantin, membicarakan rencana liburan yang Rangiku sudah pikirkan sejak beberapa hari lalu, rencana untuk merayakan ulang tahun Rukia. Rukia setuju-setuju saja awalnya, namun kemudian Rangiku menyinggung Ichigo yang akan ikut hadir, mengingat hadiah festival mereka masih belum digunakan, dan Ichigo tidak keberatan menggunakannya untuk memberi gratisan pada yang lain.
Rukia ingin menolak mentah-mentah semua usulan, tapi apa daya. Kalah suara dan ditambah Ichigo yang merupakan objek terakhir juga sudah menyetujuinya.
Jadi mereka positif pergi ke pemandian air panas bersama-sama. Rangiku akan mengajak Gin, lalu Hitsugaya, Hinamori, Grimmjow akan bersama Nell, Byakuya, Ichigo dan Rukia sendiri.
"Ichigo sangat baik, dia bisa dengan lapang dada menerima kenyataan. Jadi kapan kalian resmi jadian?" celetuk Grimmjow serayameneguk minumnya.
"Kau bicara apa Grimmjow?" hardik Byakuya memperingatkan.
"Lho benarkan? Toh kalian sudah berciuman," sahut Grimmjow tanpa beban.
"Apa?" seru Rangiku, Hitsugaya dan Hinamori bersamaan.
Grimmjow seketika menekap mulut lancangnya, dia sudah keceplosan sampai-sampai Byakuya menginjak kakinya kuat-kuat.
"Aku.. aku akan mengunci mulutku mulai sekarang," ucap Grimmjow penuh penyesalan, matanya memelas maaf pada Byakuya dan Rukia.
"Kalian sudah berciuman?" Rangiku yang paling suka berita hangat langsung menyerang Rukia dan Byakuya.
"Bukan berciuman, tapi aku yang lepas kendali," respon Byakuya mengoreksi.
"Jadi benar kan kau menyukai Rukia, Byakuya?" kejar Rangiku mempertegas.
Byakuya diam, dan itu menjadi jawaban paling jelas untuk semuanya. Rangiku melirik penuh kemenangan pada Hitsugaya, dan si pemilik rambut spike itu hanya melempar sorot mata memperingatkan pada Rangiku. Dia tidak suka saja, jelas-jelas dia sudah mengaku kalah beberapa hari lalu, tapi Rangiku masih saja menari-nari senang diatas kekalahannya.
"Tapi sepertinya Rukia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu," sahut Grimmjow yang melirik Rukia, dan mendapati wajah Rukia sudah semerah tomat.
"Tutup mulutmu, Grimmjow, atau kau sudah bosan bicara?" ancam Byakuya dengan melempar sorot mata tajam pada Grimmjow.
"Ok. Ok." Grimmjow mangangkat tangannya tinggi-tinggi, menyatakan menyerah pada keseriusan ancaman Byakuya.
"Sudah, sudah. Jadi besok kita berkumpul di parkiran jam empat, Ichigo dan Gin akan menjemput kita disini. Kau beruntung sekali, Rukia. Dihari ulang tahunmu malah libur." Rangiku menyenggol bahu Rukia, tersenyum meledek pada sahabat mungilnya.
"Baiklah, kita berkumpul jam empat," sahut Rukia menutup diskusi yang hanya berisi ledekan untuk dirinya, diapun tidak terlalu peduli, teman-temannya memang suka seperti itu.
.
.
Waktu yang mereka janjikan pun tiba, Rukia baru selesai latihan dengan Pelatih Zaraki. Karena beliau tau Rukia dan kawan-kawan akan pergi liburan besok, dia menambah sesi latihan selama setengah jam, memastikan catatan Rukia jauh lebih baik dari sebelumnya.
Rukia yang kondisi sudah stabil dapat dengan mudah mewujudkan harapan Pelatih Zaraki. Catatan waktunya sudah jauh meningkat dari sebelumnya, hingga Pelatih Zaraki menyeringai puas melihat perkembangannya. Pelatih Zaraki berpesan agar Rukia segera kembali latihan besok lusa, dia memberi Rukia libur besok, padahal diberi libur atau tidak Rukia tetap akan tidak hadir, mengingat besok adalah ulang tahun Rukia.
Yang lain menuggunya dengan sabar, bahkan Rukia tidak sempat mandi karena waktunya sudah molor setengah jam. Dia berlari-lari dengan tas olahraga ditangannya menuju parkiran.
"Maaf, aku terlambat." Rukia megap-megap begitu sampai di parkiran.
"Tidak apa, ngomong-ngomong kau hanya membawa barang itu?" sahut Ichigo yang memperhatikan tas Rukia yang cenderung terlihat kosong.
"Ah, aku lupa. Masih di loker!" Rukia menepuk dahinya, menyatakan kebodohannya.
"Sudah ku ambil," jawab Byakuya yang baru sampai, dia membawa dua buah tas. Satu miliknya dan yang satu lagi milik Rukia.
"Bagaimana bisa kau masuk ruang loker perempuan?" tanya Rukia curiga.
"Aku tidak perlu izin, toh ruang itu kosong," sahut Byakuya santai. Rukia memicingkan kearahnya, curiga dengan jawaban Byakuya, tapi dia heran juga karena bisa tau yang mana loker miliknya.
"Ayo kita berangkat." Ichigo merangkul bahu Rukia tepat didepan mata Byakuya, dia tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan marah, Byakuya. Karena Rukia adalah pasangan kencanku karena memenangkan hadiah kali ini, jadi kau harus berbesar hati melihat kebersamaan kami. Iya kan, Rukia?"
Rukia nampak canggung berada dalam jarak sedekat ini dengan Ichigo, terlebih lagi melihat Byakuya yang hampir membiarkan matanya melompat keluar karena marah melihat tangan Ichigo yang mengait dibahunya.
"Makanya kau cepat mengikat hati Rukia, jika tidak aku akan mengambilnya kembali darimu," celetuk Ichigo riang.
"Kau apa-apaan, Ichigo. Jangan bicara sembarangan." Rukia melotot pada Ichigo, tapi disaat yang sama pipinya merona, sekilas ia melirik Byakuya yang tetap tenang.
"Lho, apa yang salah? Kau seharusnya menjawab perasaan Byakuya dengan tegas. Kau terima atau kau tolak, itu saja kok!"
Mereka semua memperhatikan sikap Ichigo yang luar biasa santai, tidak terlihat sedikitpun canggung dengan status antara ia, Rukia dan Byakuya. Semua malah merasa aneh, apa iya ada orang yang bisa dengan semudah itu menyembuhkan hatinya dan berbalik mendukung kebersamaan orang yang sudah menciptakan luka dihatinya.
"Jangan bicara yang tidak-tidak, kau membuat dia malu," sahut Byakuya.
"Sudahlah, Ichigo. Kita harus berangkat sekarang. Nanti kita kemalaman sampai di villa pemandian air panasnya," celetuk Gin yang merangkul pinggang Rangiku posesif.
"Yup, kita berangkat!"
Ichigo menarik Rukia masuk ke mobilnya, Byakuya, Grimmjow dan Nell ikut bersamanya, sedangkan Rangiku, Hitsugaya dan Hinamori masuk ke mobil Gin.
Ini pertama kalinya Ichigo membawa mobil, menyetir seperti keahliannya saja, karena ia terlihat begitu santai sekalipun melewati jalan padat dengan kecepatan diatas seratus. Byakuya salut dengannya kali ini, tidak salah orang seperti Ichigo menjadi ketua serikat mahasiswa Universitas Soul Society, karena segala bidang bisa dikuasai pemilik rambut oranye itu.
Perjalanan membutuhkan waktu selama dua jam, dan mereka sempat transit di stasiun pengisian bahan bakar sebentar. Ichigo turun untuk ke toilet bersama yang lain, sedangkan Rukia tetap tinggal di mobil, memperhatikan suasana diluar mobil, matanya menangkap sosok Gin yang mengecup pipi Rangiku.
"Hah… mereka selalu memamerkan kemesraan," gerutu Rukia iri.
Rukia melirik jam tangannya, sudah menunjukkan jam 6 sore, dan mereka belum sampai di tempat yang mereka tuju, sedangkan hari sudah mulai gelap.
Drrt.. Drrt… Drrt…
Rukia mendengar suara getar ponsel, dia mencari-cari sumber suara tersebut. Baru menemukannya setelah suara getaran yang kelima, ada di dashbor mobil. Ponsel milik Ichigo dan tertera nama pemanggil disana. Rumah. Rukia melihat keluar, kalau-kalau Ichigo sudah kembali, tapi batang hidungnya saja tidak terlihat.
Rukia pun menerima panggilan tersebut.
"Hallo?"
"Hallo, Yuzu," sapa Rukia yang sangat mengenal suara adik Ichigo yang keibuan itu.
"Kak Rukia?" Yuzu tampak kaget mendapati Rukia yang mengangkat telepon milik kakaknya.
"Iya, apa kabar?" jawabnya
"Baik, emm.. dimana Kak Ichigo?"
"Dia sedang ke toilet, ponselnya ketinggalan di mobil."
Jeda sebentar, Rukia mendengar suara kasak kusuk sebelum akhirnya Yuzu bicara lagi.
"Apakah Kak Rukia sudah kembali pada Kak Ichigo?" suara Yuzu berbisik seolah takut didengar orang lain.
Rukia merasakan dadanya seperti tertohok, Yuzu dan Karin, mereka sangat dekat hingga Rukia merasa sangat terikat dengan mereka, sedangkan sekarang dia telah putus dari Ichigo. Apakah itu artinya hubungan mereka juga rusak seketika?
"Kak Ichigo seperti orang sekarat saat putus dari Kak Rukia. Dia tidak mau makan dan terus mengurung diri di kamar, tapi keesokan harinya dia keluar dari kamar sudah berwajah seperti semula. Yuzu takut Kak Ichigo hanya membohongi orang lain agar tidak iba padanya, padahal hatinya sendiri sakit. Yuzu takut Kak Ichigo akan mengalami hal yang sama seperti saat kematian Ibu, dia memang bisa tersenyum, tapi saat sendirian ia menangis."
Hati tulus itu telah terluka. Rukia tidak bisa menyangkal itu, namun ia juga tidak bisa mengobatinya, karena Ichigo tidak mengizinkannya menyentuh hatinya. Rukia sendiri sadar karena hatinya belum bisa menerima cinta Ichigo, dia akan tetap membuat hati itu terluka karena tidak bisa menerimanya.
"Maafkan Kakak, Yuzu," bisik Rukia yang merasa amat bersalah.
"Tidak apa, karena Kak Ichigo pasti akan kembali berdiri setelah runtuh seperti apapun. Sekarang Kak Rukia yang harus mendapatkan pengganti Kak Ichigo, jika tidak maka Kakakku yang hebat itu akan membuat Kak Rukia jatuh hati padanya," canda Yuzu riang.
Rukia tersenyum melihat keceriaan Yuzu yang sama persis dengan Ichgio, kakak adik yang serupa dan mampu berlapang dada atas apapun yang terjadi pada mereka.
"Kakakmu pasti akan menemukan seorang yang tepat untuknya," jawab Rukia sungguh-sungguh.
"Aku tau. Oh ya, Kak Rukia, aku titip pesan saja untuk Kak Ichigo, jika dia sudah pulang dari liburan langsung mampir ke makam ibu saja, kami akan berziarah kesana. Jadi rumah akan kosong, tolong sampaikan ya Kak," kata Yuzu lagi.
"Ya, akan aku sampaikan. Hati-hati dijalan ya."
Pembicaraan pun berakhir, Rukia merasakan hatinya penuh dengan rasa bersalah. Ia tidak pernah menyangka akan menyakiti Ichigo hingga sedemikian rupa, bahkan Ichigo masih bisa tersenyum atas apa yang sudah ia lakukan.
Ponsel Ichigo yang berada dalam genggaman tangannya jatuh ke pangkuannya. Matanya kosong karena memikirkan apa yang Yuzu katakan, memang tidak ada orang yang secepat itu menghapus duka, dan Ichigo hanya berpura-pura tegar dengan tersenyum lebar.
"Ada yang meneleponku?"
"Ah?" Rukia tersadar dari lamunannya, mendapati Ichigo sudah berada di kursi pengemudi lagi.
"Iya, tadi Yuzu menelepon," kata Rukia seraya menyerahkan ponsel kembali pada pemiliknya, "dia bilang setelah pulang dari liburan langsung ke makam ibumu, rumah akan kosong karena semuanya berziarah kesana," lanjut Rukia dengan mata redup.
"Oh, padahal dia sudah mengirim pesan tadi. Dasar, Yuzu."
Rukia melihat Ichigo yang tidak berubah ekspresi sama sekali, tidak ada kesedihan atau gundah yang tergambar, dia seperti seorang yang baik-baik saja, dan aku selalu baik-baik saja.
Ichigo mengenakan kembali sabuk pengamannya, dan menunggu hingga Byakuya, Grimmjow dan Nell menyusulnya masuk mobil. Tatapan Rukia masih tertuju padanya, dan Ichigo tidak meributkan hal itu, dia tau apa yang Rukia pikirkan, karena itu ia tidak akan meminta Rukia menghentikannya, dia hanya ingin Rukia berhenti jika memang sudah merasa waktu yang tepat telah datang untuk menghentikan rasa bersalah itu.
Kedua mobil itu kembali meluncur, menerobos jalan dengan kecepatan penuh, hingga mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Sebuah villa besar yang berada di tengah-tengah pegunungan, villa mewah dengan nuansa Jepang yang sangat kental, bangunannya dip agar bambu setinggi dua meter, pohon-pohon rindang menjadi pagar keliling bangunan itu.
Tenang dan nyaman, itulah kesan pertama yang mereka peroleh saat masuk ke villa pemandian air panas itu.
"Selamat datang," sapa pengelola villa itu, seorang perempuan dengan rambut kuning menyala.
"Selamat malam, Tia Harribel. Apa kabar?" jawab Gin yang memberikan senyum menyeringai lebar di wajahnya.
"Baik, Tuan. Saya sudah menyiapkan kamar untuk semuanya, silahkan." Harribel mempersilahkan semuanya masuk.
Dia mengenakan kimono dengan motif garis-garis hitan merah yang monoton, membuat wajahnya yang sudah sekaku besi terlihat jauh lebih kaku dari yang sesungguhnya.
Semua orang kaget dengan kedekatan Gin dan orang bernama Harribel itu. Mereka terus bicara, mendiskusikan perkembangan villa, dan rencana perluasannya, persis investor yang bertanya pada perusahaan miliknya.
"Ini villa milik orang tuaku, dan aku meminta mereka khusus mengosongkannya untuk liburan kita kali ini," jelas Gin menjawab tatapan penuh tanya mereka.
"O…" mulut mereka langsung membulat, tidak heran jika seorang Gin memiliki tempat semegah ini ditengah pegunungan.
"Dan kau tetap mengenakan biaya sewa semahal itu padaku?" seru Ichigo tidak terima, karena uang yang ia keluarkan untuk biaya sewa tempat ini sungguh fantastis, tidak heran jika Gin merekomendasikan tempat ini untuk liburan.
"Bisnis tetap bisnis, Ichigo. Lagipula jika kau mau tau, biaya yang sesungguhnya jauh lebih besar dari itu, aku sudah meminta diskon dari Ayahku," sahut Gin masih dengan seringai yang sama.
Byakuya melihat betapa orang berambut silver dihadapannya ini sangat tau bagaimana mengatur batasan-batasan antara bisnis dan hubungan pertemanan. Tadinya dia keberatan jika harus pergi bersama Gin, tapi dia juga tidak bisa membatalkan rencana yang sudah disusun oleh semua. Dia hanya tidak suka melihat wajah Gin yang selalu tersenyum, terkesan sangat licik.
Mereka melintasi koridor panjang dengan lantai parquet, dekorasi di sekitar bangunan sungguh apik, dengan tata cahaya seperlunya namun tetap indah. Pemandangan langit yang jernih dapat dilihat dengan jelas, bintang terlihat jauh lebih terang, karena mereka berada di daerah pegunungan.
Harribel menunjukkan kamar mereka masing-masing. Gin sekamar dengan Rangiku, Hitsugaya sekamar dengan Hinamori, Grimmjow dengan Nell, sedangkan Ichigo, Rukia serta Byakuya harus berlapang dada untuk menggunakan satu kamar besar bersama-sama. Karena tidak mungkin membiarkan Rukia memilih salah satu teman kamar dan membiarkan yang lain sendirian.
"Disebelah kiri adalah pemandian air panas wanita, dan dikanan untuk pria," jelas Harribel yang menunjuk dua arah tempat yang saling berlawanan itu.
"Sedangkan disana adalah ruang keluarga, kami akan menyiapkan makan malam sesuai permintaan Tuan Gin."
Tangan Harribel menunjuk ujung lorong dihadapan mereka, sepanjang lorong terdapat banyak pintu-pintu kamar lain yang kosong, ada belasan kamar, hingga ruang keluarga terlihat sangat jauh di ujung koridor.
"Terima kasih, Harribel." Gin mempersilahkan Harribel untuk undur diri.
Gin berbisik pada Rangiku sesaat sebelum pergi menuju pemandian air panas pria.
"Kau genit sekali, Gin!" protes Rangiku dengan senyum lebar, melepas kepergian Gin.
"Kalian ini apa-apaan? Mau membuatku iri?" celetuk Ichigo tidak terima, karena mengingat dia sendiri yang tidak punya pasangan.
"Tidak, Gin hanya ingin semua berkumpul di ruang keluarga setelah mandi. Dia memintaku memakai kimono yang sudah ia siapkan untukku di kamar," kata Rangiku tersipu malu.
"Woo.. Ku kira ada apa," komentar Grimmjow. Dia berbalik dan menghadap Nell.
"Kau juga jangan kalah dari Rangiku, Nell," ucapnya seraya menyusul Gin.
"Kau seperti anak kecil, Grimm," sahut Nell dengan pipi merona.
Rukia dan Hinamori menggeleng pasrah, kedua pasangan itu sudah selengket lem super, bahkan sudah tidak malu-malu lagi menunjukkan kemesraan dihadapan orang lain.
Semua berpisah menuju pemandian yang sudah ditunjukkan oleh Harribel, Rukia membawa tas mungil ditangannya, serta selembar handuk yang sudah ia siapkan, hanya saja sudah agak bau apak karena habis ia pakai tadi pas latihan dengan Pelatih Zaraki.
Sedangkan Hinamori sudah menyiapkan seperangkat peralatan kecantikan yang sangat mahal, semua orang tau kalau Hinamori sangat menjaga penampilan, perhatikan saja bulu matanya yang terawat dengan sangat baik, kulitnya yang bersih, serta tatanan rambutnya yang selalu rapi, berbanding terbalik dengan Rukia yang sekalipun memiliki kulit bersih, tapi warnanya lebih cokelat karena aktivitas berat bersama Pelatih Zaraki.
"Jadi, Nell. Kimono mana yang akan kau gunakan?" Rangiku bertanya, karena Nell tengah bingun memilih kimono yang akan ia kenakan. Yang satu berwarna hujau, sewarna rambutnya yang indah, yang satu lagi berwarna biru, sewarna dengan rambut Grimmjow.
"Kalau Grimmjow pasti lebih suka kau tidak pakai apa-apa," celetuk Rukia asal.
"Rukia!" Hinamori langsung menyikutnya, habisnya ucapan Rukia terlalu vulgar.
Nell malah memasang wajah malu-malu, membuat semua orang yang melihatnya sadar kalau hubungannya dengan Grimmjow sudah sampai pada tahap itu.
"Aku akan pakai yang biru, aku yakin Grimm akan suka." Nell langsung memasukkan kembali kimono berwarna hijau, dan menaruh kimono berwarna biru di gantungan baju yang telah tersedia.
Pemandian air panas milik ayah Gin benar-benar nyaman dan mewah, sekalipun kesan sunyi dan terisolasinya terasa kental mereka tidak merasa takut sama sekali, karena dari tempat mereka berendam sekarang, mereka bisa melihat langit dengan jelas, langit yang indah dan bersih.
Tempat pemandian bersumber pada air panas bumi yang sangat alami, menyegarkan kulit dan menciptakan kabut putih disekeliling mereka.
Ruang pemandian wanita memiliki dekorasi alami dengan pintu kayu dengan system geser, pintu tersebut dilapisi kaca sandblast yang menyebabkan cahaya dari luar samar-samar masuk, dan mereka bisa melihat orang yang lewat di sepanjang koridor, namun juga menghalangi orang luar melihat kedalam.
Rukia melilitkan kain yang disediakan villa, dan turun ke air hangat yang langsung menyesap ke kulitnya yang memang sudah lengket dengan daki dan keringat dari latihan tadi.
"Aku akan membuat Gin pingsan karena kecantikanku," kata Rangiku dengan mata melirik nakal, dia berdiri di tepi kolam, seperti tengah memamerkan tubuh bagusnya pada yang lain.
Nell yang melihat tingkah Rangiku ternyata tidak mau kalah, dia ikut-ikutan berdiri di samping Rangiku, bertolak pinggang dan berlagak bak pragawati professional.
"Kalian cocok jadi model majalah," kata Rukia dengan kedua jempol tangan terangkat.
"Benarkah?" sahut Rangiku dan Nell bersamaan.
"Tapi majalah sobek!" seru Rukia kegirangan.
"Dasar kau, Rukia. Kau iri kan melihat tubuh kami yang jauh lebih bagus. Iya kan?" Rangiku berkata dengan sorot mata bangga.
"Yang benar saja, aku sudah ditakdirkan begini cantik kok."
Rangiku salut melihat percaya diri Rukia yang luar biasa, sampai muncul ide konyol dalam benaknya. Dia mencipratkan air kearah Rukia, membuat Rukia gelagapan karena tidak mampu menahan air yang terasa panas di wajah.
"Panas. Rangiku, awas kau ya!" Rukia membalas aksi Rangiku, tapi tidak sengaja mengenai Nell, Nell pun membalas Rukia, tapi malah kena Hinamori, jadilah mereka ciprat-cipratan air, persis anak kecil saja.
"Sudah, nanti kita membuat yang lain menunggu."
Rukia mencoba keluar dari kekacauan air yang terus melayang kearahnya, dia mencapai tepi kolam, menghadap langsung ke pintu masuk. Tidak sengaja matanya melihat siluet seseorang berdiri di luar pintu, hanya terlihat serba hitam dengan rambut pendek, namun ia tidak bisa mengira siapa orang itu karena hanya berupa bayangan hitam.
"Siapa?" seru Rukia yang perlahan keluar dari kolam.
Rangiku, Nell dan Hinamori berhenti perang air, mereka saling tukar pandang, memperhatikan tingkah Rukia.
"Ada apa, Rukia?" tanya Hinamori.
"Ada orang di luar," kata Rukia yang mendekati pintu.
Sosok itu mondar mandir di depan pintu, tampak sangat gelisah.
Rangiku dan Nell serta Hinamori sama-sama melihat orang yang tengah bolak-balik itu.
"Mungkin Gin," ucap Rangiku yang ikut keluar dari kolam.
"Kenapa dia malah mondar-mandir disana? Bukannya mengetuk pintu," sahut Nell heran.
Hinamori dan Nell bertukar pandang curiga. Rukia meraih handle pintu, hendak menggeser pintu itu, namun tepat disaat ia hendak menggeser pintu itu, terdengar suara lolongan anjing, panjang dan mengerikan.
"Apa itu?" tanya Hinamori yang mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, takut makhluk yang melolong itu berada di dekat mereka dan siap menerkam.
"Mungkin anjing penjaga villa," sahut Nell yang masih bisa bersikap tenang.
Rukia melihat kedua temannya yang masih berada dalam kolam saling berhimpitan, memastikan mereka berada dekat satu sama lain dan mereka melihat sekitar dengan waspada, sedangkan Rangiku memeluk dirinya erat, sudah gemetar ketakutan.
"Kalian terlalu berlebihan," komentar Rukia yang kembali mengalihkan perhatian pada pintu, namun sosok itu sudah menghilang, tidak ada lagi orang yang mondar mandir di depan pintu.
"Kemana dia?" bisik Rukia yang bergegas membuka pintu dan melongok keluar, tapi yang ia dapati hanya koridor kosong yang sunyi.
"Siapa?" tanya Rangiku penasaran.
"Tidak ada orang," jawab Rukia yang seketika merasakan bulu kuduknya meremang.
"Kau serius?" Rangiku tidak percaya dengan ucapan Rukia, dia ikut-ikutan melihat koridor yang lowong itu. Matanya membesar, melihat kearah Rukia, berharap Rukia bisa memberikan penjelasan atas keanehan ini.
"Mungkin dia sudah pergi," jawab Rukia yang berusaha berpikir positif.
"Iya, mungkin." Rangiku tersenyum kecut, masih merasakan sekujur tubuhnya meneriakkan ketakutan.
Mereka pun melanjutkan acara mandi mereka dalam kesunyian yang tidak mengenakkan, tegang dan takut. Akhirnya acara mandi mereka malah jadi balik tidak menyenangkan, Rangiku tidak lagi berkoar-koar mengenai tubuh indahnya, dia diam dan membasuh tubuhnya cepat.
Sedangkan Nell tengah memasang telinga penuh waspada, dia takut makhluk yang melolong tadi tiba-tiba melompati pagar pembatas pemandian dengan hutan luar, dan menerkam mereka hingga tak bersisa. Daya khayal Nell jauh diatas yang lain, makanya dia yang paling gemetaran saat mengenakan kimononya.
"Boleh aku bantu Nell?" Rukia menawarkan bantuan karena Nell selalu gagal menyimpulkan obi di kimononya.
Nell mengangguk dalam. Sementara Rukia membantunya, perhatiannya tertuju pada rimbunnya pepohonan yang mengelilingi pemandian, semakin diperhatikan semakin terlihat seperti barisan raksasa hitam yang siap menyerang.
Angin kencang berhembus, membuat suara gesekan dedaunan pohon, menerbangkan daun yang berguguran pada keempat perempuan yang sedang memakai baju itu. Dingin yang amat sangat menggigit kulit, mengirim rasa takut kembali ketenggorokan.
Hinamori berdiri disamping Rangiku, mengapit tangannya erat.
"Kita harus cepat-cepat, aku takut," bisik Hinamori.
"Aku juga," sahut Rangiku.
Angin masih berhembus kencang, bahkan semakin kencang. Rukia yang paling bisa mengendalikan diri malah jadi ikutan takut, ia menyelesaikan ikatan obi Nell, dan meraih tas peralatan mandinya, namun tiba-tiba.
"Brakk!"
"Arghh…" mereka berteriak histeris saat mendengar suara gaduh itu, terdengar sangat dekat.
"Apa itu?" Rukia melihat kearah datangnya suara, memang dari luar area pemandian, namun sangat jelas terdengar, seperti hanya berjarak beberapa meter dari mereka.
"Mungkin ada pohon yang tumbang," sahut Rangiku yang merenggut handuknya erat.
Mereka pun bergegas kabur dari kolam pemandian, setengah berlari menyusuri koridor yang kosong itu. Villa pemandian begitu besar, hingga terasa sangat aneh dan sunyi karena hanya diisi oleh mereka, bahkan mereka tidak melihat pelayan atau pekerja lain dalam villa ini selain Harribel yang tadi menyambut mereka.
"Jangan pikirkan hal macam-macam, nanti jadi takut sendiri," tutur Rukia membantu yang lain agar tidak berpikir yang tidak-tidak.
"Aku maunya juga begitu, tapi bagaimana bisa dalam kondisi seperti ini?" sahut Rangiku. Dia hampir menangis karena ketakutan, matanya bergerak liar melihat sekeliling, mencari sesuatu yang aneh, tapi dalam hati juga berharap tidak melihatnya.
Mereka berbelok menuju ruang keluarga, namun tiba-tiba lampu sepanjang koridor berkedip, jajaran lampu sepanjang koridor mati bergantian, mati sejenak lalu hidup lagi, seperti ada korsleting arus. Mereka menghentikan langkah mereka sejenak, melihat sekeliling, bahkan sempat-sempatnya menoleh kebelakang, ke koridor yang panjang dan gelap.
"Ini villa pemandian air panas atau rumah hantu?" Rangiku menggigil ketakutan.
Nell menarik Rukia hingga merapat padanya.
"Jangan lihat kebelakang, terus jalan saja!" perintah Rukia yang mendorong semua orang agar kembali berjalan dengan tangan mungilnya.
Langkah mereka setengah berlari, ruang kelurga terasa seperti sangat jauh, mereka semua memacu langkah, bahkan berteriak histeris saat Rangiku berlari memimpin didepan dan meninggalkan yang lain dalam koridor gelap, Rukia yang pelari cepat saja sampai kalah.
"Rangiku, tunggu!" teriak Nell panik.
"Gin!" Rangiku berteriak seperti orang gila, menimbulkan suara gaduh karena hantaman langkah kakinya yang keras pada lantai kayu.
Rukia sesekali menoleh kebelakang, diantara remangnya koridor panjang dibelakangnya dia kembali melihat siluet seseorang yang berdiri tegak, diam membeku dengan yukata melekat ditubuhnya, mata Rukia membesar melihat sosok itu, membuatnya kembali diserang ketakutan, dia kembali melihat kedepan, dan saat menoleh lagi kebelakang sosok itu sudah hilang sama sekali, bersamaan dengan suara guntur yang membahana di atasnya.
"Siapa dia?" tanya Rukia dalam hati, cemas bukan main.
Rangiku sampai duluan di ruang keluarga, berhamburan masuk dan meringkuk di pojok ruangan, sekujur tubuhnya gemetar.
"Kalian kenapa?" Grimmjow yang tadi masih duduk santai sambil menonton televisi langsung bangkit menghampiri Nell yang baru masuk dan memeluknya erat, dia kaget mendengar suara berisik dari koridor.
Hitsugaya pun melakukan hal yang sama saat Hinamori mencapai ruang keluarga, karena Hinamori berlari kearahnya dan memeluknya erat.
"Ada apa, Hinamori?" Hitsugaya mencoba membaca wajah Hinamori, tapi Hinamori malah menangis dan terus gemetar ketakutan.
Rukia masuk paling belakang, dan menutup pintu rapat-rapat. Matanya berusaha mencari sosok Byakuya, dadanya naik turun kelelahan mengatur napas.
"Ada apa?" Byakuya baru masuk sambil membawa sebuah cangkir teh ditangannya, matanya mengunci sosok Rukia.
"Kenapa, Rukia?" Byakuya menghampiri Rukia yang masih berdiri membelakangi pintu masuk, tangannya mencengkram pintu dengan kuat, seolah berusaha mencegah siapapun dan apapun masuk.
"Ada seseorang di luar sana," kata Rukia diantara hembusan napasnya yang mengeluarkan uap.
"Siapa?" tanya Grimmjow yang masih berusaha menahan tubuh Nell dalam pelukannya.
Seluruh penghuni ruangan menatap Rukia penuh tanya, mereka mengharap penjelasan Rukia, namun Rukia sendiri belum jelas siapa orang itu.
"Mana Gin dan Ichigo?" mata gelap Rukia menyapu seluruh ruangan itu.
"Kau mencari ku, Rukia?" Ichigo dan Gin muncul dengan botol susu berada di tangan mereka, mereka mengenakan celana pendek dan kaos dengan logo villa pemandian air panas, kaki Ichigo terlihat masih agak basah.
Gin yang mendapati Rangiku berada di pojok ruang keluarga langsung menghampirinya, menangkup wajah Rangiku yang basah oleh air mata.
Rukia menghampiri Gin, melihat mata yang serupa garis lurus itu berubah untuk pertama kalinya, sangat cemas melihat Rangiku yang ketakutan seperti itu.
"Ada apa?" Gin bingung dengan Rukia yang bercucuran keringat. Bahkan Rangiku seperti tidak mau beranjak dari pojok ruangan.
"Apa di villa ini ada karyawan atau pekerja pria?" Rukia memberikan sorot mata menyelidik pada Gin, dan Gin menggeleng cepat.
"Karena hari ini tamu sedikit, kami hanya ada memperkerjakan Harribel dan dua orang pelayan lain, yaitu Mila dan Sung-sun. Sekarang mereka sedang menyiapkan makan untuk kita," jawab Gin santai.
Kengerian menyelubungi hati Rukia seketika, dia mundur selangkah mendapati penjelasan Gin.
Lalu siapa yang ia lihat tadi?
"Apa kalian tadi datang ke pemandian perempuan? Salah satu dari kalian?" Rukia masih mencecar penjelasan yang masuk akal baginya.
"Kami berlima langsung kesini begitu selesai mandi," jawab Grimmjow yang ikut heran.
"Hanya Ichigo dan Gin yang pergi mengambil minum tadi," tambah Hitsugaya.
"Iya, dan kami sudah kembali sekarang," jawab Gin.
"Kapan kalian selesai mandi?" Rukia masih belum puas mencari keterangan.
"Sudah lima belas menit sepertinya." Grimmjow melirik jam tangannya.
Rukia melirik kearah Rangiku yang mengintip dari balik lengkungan tangan Gin, mereka sama-sama mengerti bahwa ada yang tidak beres, tidak mungkin mereka hanya berhalusinasi. Lima belas menit, tidak mungkin jika salah satu dari mereka ke pemandian air panas panas, karena setelah mandi mereka langsung berkumpul disini, semua makin tidak masuk akal.
"Kalian yakin?" Rukia kembali meyakinkan jawaban mereka.
"Ada apa sebenarnya, Rukia?" Byakuya membaca jelas ketakutan di mata Rukia.
Rukia tidak menjawab, malah mengisi ruangan dengan ketegangan yang menakutkan semua orang, membuat semua orang berpusat padanya, sekalipun Hinamori, Nell dan Rangiku yang sudah mengerti benar penyebab mereka lari kalang kabut seperti ini.
Rukia menarik napas, matanya beralih pada pintu yang tadi masih ia pegang erat-erat, pintu yang terbuat dari kayu dengan system geser yang sama, hanya saja yang ini dilapisi kertas, akan terlihat jelas pula jika ada yang lewat di depan ruang keluarga.
Satu detik, dua detik, tiga detik, hingga detik kesepuluh tidak terdengar suara apapun, tidak ada satu apapun yang hadir di depan ruang keluarga.
"Kau mencari apa?" Byakuya meraih bahu Rukia, menarik kembali perhatian Rukia agar berpusat padanya.
Rukia menunduk sesaat, melihat lantai yang ia jejak dan meyakinkan diri tidak ada satupun yang aneh. Semua baik-baik saja, tenang… tenang… Dia tidak ingin berpikir ada hantu dalam villa ini, sungguh ironis jika mereka masih harus menghadapi hal menakutkan disaat menyenangkan seperti ini.
Suara guntur kembali menggelegar, lampu di tengah ruangan berkedip namun menyala terang kembali dengan cepat.
"Tadi ada orang mondar mandir di depan pintu pemandian perempuan, kami mengira itu salah satu dari kalian, karena terlihat seperti laki-laki, tapi saat kami mendengar suara berisik orang itu pergi, dan saat kami berjalan menuju ruang ini, lampu koridor korslet. Kami semua berlari, tapi aku melihat orang itu lagi berada di ujung koridor."
Rangiku, Hinamori dan Nell menarik napas ngeri. Mereka tidak tau jika Rukia melihat orang itu lagi, karena mereka hanya berlari secepat kaki mereka sanggup untuk mencapai ruang keluarga.
"Siapa?" Ichigo mendekat pada Rukia, memperhatikan wajah Rukia yang menggelap dan Rukia menggeleng lemah untuk menjawabnnya.
"Aku tidak melihat jelas, tapi orang itu memakai yukata, karena itu aku kira salah satu dari kalian, tapi tidak mungkin kalian jika kalian berada di ruang ini dari tadi."
Keheningan menyelimuti mereka, yang terdengar hanya isak tangis para perempuan kecuali Rukia. Hitsugaya sudah hendak bertanya pada Hinamori saat Byakuya menarik Rukia duduk dan menyorokannya teh yang tadi ia bawa. Hitsugaya melihat bagaimana Byakuya menyibakkan rambut Rukia yang basah oleh keringat sampai membuat rambutnya menempel di wajah, menghapus keringat Rukia dengan lengan yukatanya sementara Rukia meneguk teh untuk menenangkan diri.
"Kau yakin tidak salah melihat?" Hitsugaya buka suara.
"Apa kau mengira aku kena katarak?" sembur Rukia kesal, sudah ketakutan seperti ini malah ditanya seperti itu.
"Ya.. siapa tau." Hitsugaya memutuskan untuk mengunci mulutnya, karena Byakuya ikut melotot kearahnya.
"Sudah, sudah, jangan dibahas lagi, mungkin itu salah satu petugas villa, aku akan telepon Harribel untuk memastikannya." Gin bertindak cukup bijak kali ini, ia meraih ponselnya dan menekan nomor ponsel Harribel.
Tapi hanya terdengar nada sambung, tidak ada jawaban, Gin pun tidak puas hanya mencobanya sekali, dia kembali menekan tombol di ponselnya, tetap tidak ada jawaban.
"Tidak bisa," ucapnya sambil menggeleng.
Belum selesai ketegangan dalam ruangan, mereka dikagetkan dengan suara ketukan di pintu masuk ruang keluarga. Hampir saja mereka berteriak histeris jika suara seorang perempuan terdengar untuk meminta izin masuk.
"Tuan Gin, kami membawa makan malam."
Pintu menggeser terbuka, dua orang perempuan masuk dengan membawa dua buah trolly yang berisi makanan dan minuman untuk mereka. Satu perempuan memiliki rambut selurus penggaris dan yang satu kebalikannya, justru memiliki rambut bergelombang. Gin kenal betul, mereka berdua adalah orang kepercayaan Harribel, yang berambut lurus bernama Sung-sun, dan yang satu lagi adalah Mila.
"Ya, silahkan." Gin memberi isyarat agar penghuni lain dalam ruangan memberi jalan bagi kedua pelayan itu.
"Dimana Harribel?"
Sung-sun mendongakkan wajahnya dari piring yang ia letakkan di tengah meja.
"Tadi beliau pamit ke ruang penyimpanan bahan makanan, memeriksa stock untuk besok. Kebetlulan ponselnya di tinggal di ruang masak. Ada apa, Tuan?"
"Tidak apa," jawab Gin yang mengangguk pelan, sekarang sudah jelas kenapa Harribel tidak mengangkat teleponnya. Dia menoleh pada teman-temannya yang masih memasang wajah tegang.
"Apakah ada pekerja lain selain kalian?"
Gin duduk disisi meja dan meletakkan ponselnya.
Sung-sun melirik Mila, bingung dengan pertanyaan Gin, karena jelas-jelas Gin sendiri yang memerintahkan untuk tidak memperkerjakan banyak orang, karena itu Harribel meminta hanya mereka berdua yang bekerja untuk malam ini.
"Hanya kami berdua. Apakah Tuan membutuhkan banyak tenaga?" tanya Mila yang meletakkan sebotol anggur merah diatas meja.
Rukia mengerutkan alis, berarti memang tidak ada pekerja pria. Semua malah semakin menciptakan tanda tanya besar bagi mereka semua, karena tidak mungkin semua orang berhalusinasi tentang hal yang sama, dalam waktu yang sama pula.
Hitsugaya melirik Byakuya, mereka sama-sama tidak mengerti arah pembahasan ini. Hal apa yang tengah ditakutkan sebenarnya.
Suara angin berhembus dan menerpa pepohonan menciptakan suara gemerisik, diwarnai dengan suara halilintar yang saling menyusul, segera saja hujan mengguyur, memberikan angin butiran hujan dan menciptakan badai.
Sung-sun dan Mila selesai menata semua makanan dan minuman yang mereka bawa, segera saja mereka undur diri setelah menyakan keperluan lain yang mungkin dibutuhkan, tapi Gin menggeleng dan membiarkan mereka pergi.
"Sudahlah, kalian terlalu banyak nonton film horror," canda Grimmjow, tapi Nell mendelik padanya, dia tidak suka kekasihnya bercanda garing disaat suasana seperti ini, karena apa yang ia rasakan benar-benar ketakutan yang merasuk sampai ketulang.
"Sebaiknya kita makan dulu, kalian pasti lapar. Setelah itu saatnya merayakan ulang tahun bintang kita," seloroh Ichigo yang menarik tangan Hitsugaya untuk duduk mengelilingi meja makan.
Mereka menyetujui usul Ichigo, dari pada membiarkan diri sendiri takut seperti ini bukankah sebaiknya mereka melakukan hal yang ramai dan tidak memikirkan orang yang tidak jelas itu.
Ichigo menuangkan anggur merah ke setiap cangkir, dia terlihat sangat bangga bisa memberi traktiran, hadiah yang ia peroleh dari festival memang tidak sedikit. Walikota Urahara tidak pernah menyayangkan uang untuk memberi hadiah pada orang lain, tapi disi lain walikota itu juga terkenal sangat hemat dalam mengeluarkan uang pembangunan, alasannya untuk menghindari korupsi, tapi siapa yang tau kenyataan itu.
Rukia melirik gelasnya, isi gelasnya paling banyak sendiri, sedangkan yang lain hanya setengah. Padahal dia tidak pernah minum sebelumnya, dia tidak bisa membayangkan jika harus meneguk alkohol ini.
"Ichigo, aku tidak minum alkohol," tutur Rukia perlahan, dia tidak ingin menyinggung Ichigo, tapi ia juga takut Ichigo akan jauh lebih marah bila dia tidak menyentuh minumnya sama sekali tanpa alasan.
"Minum sedikit juga tidak apa-apa."
"Tapi aku…"
"Ayolah, Rukia." Ichigo masih berusaha membujuk.
"Dia tidak mau, jangan memaksanya." Byakuya menahan tangan Ichigo yang masih mendorong gelas berisi anggur itu pada Rukia.
Ichigo tersenyum melihat sikap protektif Byakuya.
"Lihat siapa yang bicara…" Ichigo menggeleng sambil berdecak. "Kau bahkan tidak menghormatiku, Byakuya. Kau tau aku tuan rumah kali ini, minumlah barang seteguk. Kau tau anggur ini mahal, aku masih harus membayarnya pada rentenir satu ini!" Ichigo menilik Gin yang malah senyum-senyum bangga, siapapun akan menyangka betapa materialistisnya Gin, sekalipun pada teman sendiri dia sangat perhitungan.
"Baiklah, aku yang minum, tapi hanya seteguk. Rukia tetap tidak akan minum," kata Byakuya tenang.
Ichigo menguarkan senyum senang, melirik Rukia yang menatap Byakuya, memberikan tatapan terima kasih karena sudah menyelamatkannya.
Gin menarik Rangiku hingga sangat dekat dengannya, membiarkan Rangiku bersandar di bahunya, memeluk pingganggnya erat, Rangiku bahkan tidak mengenakan kimono yang ia siapkan karena sudah ketakutan. Dia memberikan Rangiku anggur yang telah dituangkan oleh Ichigo, Rangiku menyesapnya sekali, dan sensasi anggur langsung memenuhi mulutnya dan turun keperut, memerikan sensasi nyaman yang luar biasa.
"Aku akan ambil hadiahmu, kami sudah menyiapkannya."
Grimmjow beranjak dari sisi Nell, karena Nell sudah lebih bisa mengendalikan diri, tidak gemetaran seperti tadi.
Rukia tersenyum melihat betapa teman-temannya sangat perhatian, sudah mempersiapkan pesta perayaan khusus, masih menyiapkan hadiah pula.
Hujan masih deras sekali, tapi syukurlah guntur tidak separah tadi.
"Sebenarnya kita bisa melihat taman yang bagus, sayang saja hujan," jelas Gin, dia menggeser sedikit pintu dibelakangnya, dan benar saja. Terlihat taman bunga yang sangat indah, lengkap dengan air mancur kecil yang terbuat dari batang bambu. Namun karena hujan, keindahan itu tersamar oleh air hujan yang turun dari langit.
Tiba-tiba kilatan petir membutakan mata, Hinamori berteriak keras menutup telinganya saat suara guntur menyusul kilatan cahaya itu. Mereka semua meliaht jelas rindangnya pepohonan yang berbaris sepanjang jarak pandang mereka, tertiup angin, bahkan terlihat jauh menyeramkan dari yang seharusnya.
"Padahal tadi langitnya masih terang," kata Ichigo yang mengisyaratkan Gin agar menutup pintu cepat, jika tidak ingin mendengar teriakan Hinamori lagi.
Grimmjow meletakkan tiga buah kotak yang bertumpuk, paling besar hingga yang paling kecil, dan yang terakhir sebuah kantong kertas, dan sebuah kotak besar yang menyerupai kanvas lukisan, karena ada gantungan disisi atasnya.
Nell menyalakan lilin diatas kue mungil di depan Rukia, Rukia melihat temannya yang satu ini masih agak pucat, tapi berusaha untuk menahan diri. Perlahan Hinamori dan Rangiku ikut serta dalam persiapan, mereka tidak lagi menempel pada pasangan masing-masing, mereka membuang perasaan takut mereka perlahan, dan membantu menggeser makanan yang sudah disajikan.
"Kotak paling kecil adalah hadiah dari kami," ucap Rangiku yang merangkul tangan Gin erat.
"Yang itu dariku," kata Ichigo seraya menunjuk benda yang menyerupai kanvas itu, terbalut kertas berwarna ungu cerah dan berada disebelah kotak hadiah dari Rangiku dan Gin.
"Dan yang kecil itu dari kami."
Grimmjow menunjuk kotak yang paling kecil diantara yang lain, bangga.
Ichigo mendengus mengejek saat Hitsugaya menunjuk sebuah kantong kertas.
"Jangan lihat kemasan, hadiah kami memang beda dari yang lain," jelas Hitsugaya yang mendapat lirikan Ichigo, meledek hadiah yang ia bawa, masih belum puas, padahal ia sudah meledek hadiah itu sejak Hitsugaya menunjukkannya di parkiran Universitas Karakura.
"Kau tau kan yang mana hadiah dari ku?" gumam Byakuya yang tidak ingin repot-repot membanggakan hadiah darinya.
"Terima kasih semuanya," desis Rukia dengan wajah berseri-seri, matanya cerah menatap satu persatu wajah dalam ruangan.
Mereka semua menyanyikan lagu untuk Rukia, sebelum Rukia mengucap sebuah permintaan dalam hati dan meniup lilin yang menyala diatas kue.
"Apa harapanmu, Rukia?" tanya Rangiku, terlalu penasaran.
"Ra-ha-si-a!" jawab Rukia dengan senyum jahil, dia senang membuat si biang gossip penasaran.
Rukia melirik Ichigo dan Byakuya bergantian, membuat semua orang bisa membaca harapan Rukia pasti berhubungan dengan kedua orang yang tengah ia tatap sekarang.
"Aku berdo'a agar Ichigo mendapat kebahagian yang membuat ia melupakan duka dalam hatinya. Untuk Byakuya, semoga ia juga bahagia. Ibu, aku akan membuatmu bangga, aku akan menjadi apa yang kau harapkan," bisik Rukia dalam keheningan hatinya.
Grimmjow yang tidak sabar untuk melihat betapa terkejutnya Rukia dengan hadiah pemberiannya, langsung menyodorkan kotak hadiahnya pada Rukia.
"Awas kalau hadiahmu yang aneh-aneh," ancam Rukia dan Grimmjow tersenyum jahil. Nell sendiri tidak setuju dengan usulnya memberikan hadiah ini pada Rukia, takut Rukia akan marah.
Rukia membuka bungkus kotak perlahan, bungkusnya bahkan sampai berlapis-lapis, bosan melihat betapa hati-hatinya Rukia membuka bungkusan, mereka meneguk anggur dari gelas, sambil memakan kue kering yang disediakan.
"Aku saja yang buka, kelamaan. Keburu perang di Libia selesai!" protes Grimmjow gemas, tapi Rukia menarik kotak itu cepat, menghalangi tangan ganas Grimmjow untuk menyentuh hadiahnya.
"Kenapa? Toh aku yang memberikannya padamu," komentarnya yang melihat Rukia malah melotot padanya, menolak bantuannya.
"Ini hadiahku, jadi aku mau apakan terserahku. Lagipula Nell sudah membungkusnya sedemikian rapi, aku kan juga harus menghargainya," kata Rukia sambil menjulurkan lidah.
"Dari mana kau tau Nell yang membungkusnya?" tanya Grimmjow balik.
"Mana mungkin kau yang melakukannya!" sahut Rukia.
Kontan semua penghuni ruangan tertawa, Grimmjow sudah kalah langkah.
Membutuhkan lebih dari lima menit bagi Rukia untuk membuka hadiah dari Grimmjow, hingga ia melihat sebuah buku display yang bertuliskan "History Of Rukia"
Rukia mengerutkan alis, baru membaca judulnya saja sudah mengerikan, sepertinya bukan hal baik yang dicatat oleh Grimmjow.
"Sejak kapan kau menjadi penerbit biografiku?" celetuk Rukia. Dia ragu mau membuka isi buku di tangannya.
"Sejak kau menjadi artis selama beberapa hari," jawab Grimmjow bangga.
Tangan mungil Rukia mulai membalik halaman pertama, dan disana ada foto saat ia masih bayi.
"Dari mana kau dapat foto ini?"
Grimmjow nyengir-nyengir, dan mata birunya melirik Byakuya.
"Kau membantunya?" seru Rukia kesal, melotot pada Byakuya.
"Ibu yang memberikan, dia menyogok ibu dengan seperangkat alat masak. Aku tidak ikut andil." Byakuya menjawab sementara ekor matanya menangkap sosok Grimmjow, memberikan tatapan tajam yang mematikan.
Grimmjow pura-pura kesakitan, merenggut dadanya erat-erat dan jatuh kebelakang perlahan, meledek tatapan Byakuya padanya.
Rukia membalik halaman demi halaman buku setebal ensiklopedi itu. Benar-benar sejarah hidupnya dituangkan dalam buku itu, bahkan ditambahkan komentar-komentar konyol dari Grimmjow dan Nell, akhirnya Rukia memutuskan untuk tidak melihat isi buku itu keseluruhan.
"Aku akan membacanya nanti, dan pastikan aku tidak sedang membawa benda tajam saat membacanya," gumam Rukia yang merapikan kembali kotak hadiah dari Grimmjow dan Nell.
Nell tertawa mendengar komentar Rukia, kondisi sudah kembali mencair.
Rukia meraih kotak hadiah dari Rangiku dan Gin, hadiah yang diberikan mereka berdua adalah sepasang ponsel. Rukia tidak mengerti mengapa ia diberikan hadiah ini, padahal ponselnya juga masih bagus.
"Ponsel pasangan, kau harus menggunakannya kelak dengan pasanganmu," bisik Rangiku genit, matanya jelas-jelas melirik Byakuya.
Rukia melihat Byakuya yang kikuk dibawah tatapan nakal Rangiku. Jarang-jarang melihat Byakuya yang seperti ini.
"Terima kasih, tapi sepertinya aku akan menyimpan ponsel ini dulu. Entah kapan pasanganku muncul," komentar Rukia yang berusaha acuh dan mengabaikan panas yang terasa dipipinya saat Byakuya melihatnya.
"Mungkin tidak selama dugaanmu," Rangiku tetap mempertahankan keyakinannya.
Rukia beralih pada kantong kertas dari Hitsugaya dan Hinamori, kantong kertas yang sangat ringan, Rukia hanya perlu melirik isinya, dan dia tertawa kegirangan sambil menarik keluar selembar kertas yang berada didalamnya.
"Kalian sangat baik," seru Rukia sambil menatap selembar kertas itu dengan mata berbinar senang.
"Kami tau kau sudah menginginkannya sejak lama," kata Hinamori bangga, ternyata pilihannya tidak salah.
Ichigo sampai membungkukkan badannya untuk melihat apa yang tertulis dalam selembar kertas itu, kenapa sangat berharga bagi Rukia? Halnya yangs ama juga dilakukan Grimmjow, Nell, Rangiku, Gin dan Byakuya, mereka penasaran dengan selembar kertas itu.
"Voucher belanja komik selama setahun. Aku bisa membeli semua komik yang aku inginkan dengan voucher ini, aku sudah berusaha memenangkan undian ini selama dua bulan, tapi tidak pernah berhasil."
Rukia sampai menciumi selembar kertas itu karena terlalu senang.
"Ku kira apa," celetuk Rangiku yang kembali ke posisi duduknya.
"Terima kasih, lalu…" Rukia meraih kotak hadiah milik Byakuya. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi dibungkus dengan kertas dengan nuansa abu-abu lembut. Tidak sulit membuka kotak hadiah yang ini, hanya satu lapis, dan Rukia menemukan sepasang sepatu sport dengan merk ternama disana.
"Untuk pertandinganmu," ucap Byakuya yang memalingkan wajah, merasa malu karena sudah memberikan hadiah yang sangat sederhana.
"Jangan sok malu-malu begitu, Byakuya." Ichigo yang duduk disebelahnya menyikutnya pelan, melihat perubahan warna di pipi Byakuya, ini sungguh aneh, dan langka. Byakuya merona!
"Terima kasih, aku pasti akan menggunakannya."
Rukia merapikan sepasang sepatu itu kembali ke kotaknya, bahkan memasukkan kertasnya bersamaan. Terlihat sangat hati-hati, dan terlalu hati-hati hingga terkesan ia mengkhususkan diri untuk menyimpan hadiah dari Byakuya.
"Sekarang giliranku!" Ichigo berseru kegirangan, dia menarik hadiahnya dan menyodorkannya pada Rukia.
"Kau tidak akan bisa menggunakan hadiahku, karena aku membuat sesuatu yang hanya bisa kau pandang," gumam Ichigo. Mata hazelnya berbinar cerah.
Rukia tersenyum, melupakan semua ketakutan yang tadi masih mereka rasakan, bahkan suara guntur tidak lagi membuat Hinamori berteriak, mereka terlalu senang, dan membiarkan ketegangan itu menguap dengan cepat.
"Pasti lukisan kan?" celetuk Grimmjow.
Rukia tidak menunggu lanjutan dialog Grimmjow dan Ichigo, dia menarik kardus yang membungkus rapat, lalu sisi kertas yang membalut kanvas itu. Namun saat kertas terbuka perlahan ia mencium bau anyir, dan amis.
"Bau apa ini?" Hitsugaya mengendus ke udara, dan hidungnya condong pada lukisan yang masih dibuka Rukia.
"Iya, kenapa bau?" Ichigo bingun karena tadi masih baik-baik saja.
Tangan Rukia bergerak cepat membuka bungkus kanvas itu, namun seketika ia melempar kanvas itu dari tangannya. Matanya terbelalak melihat benda yang teronggok di lantai.
"A.. apa maksudnya ini, Ichigo?" Rukia menatap Ichigo tidak percaya. "Kau jangan bercanda, ini tidak lucu."
Semua yang berada dalam ruangan melempar sorot mata mengerikan yang sama kearah Ichigo, mereka melihat kanvas dan Ichigo bergantian.
"Tidak mungkin, tadi tidak seperti ini. Iya kan Gin?" ucap Ichigo meminta dukungan Gin, dan anggukan ia dapatkan tidak hanya dari Gin, tapi juga dari Rangiku.
"Iya, Rukia. Kami membungkusnya tadi sebelum berangkat, aku lihat lukisan itu masih sangat bagus, Ichigo sendiri yang melukisnya." Rangiku membela Ichigo.
Rukia menggeleng lemah, sekujur tubuhnya kembali gemetar menahan kengerian yang menjalar dihatinya. Takut, ngeri.
Byakuya meraih bahu Rukia, berusaha membawa Rukia dalam pelukannya, tidak mengizinkan Rukia kembali melihat benda itu.
Kanvas itu tidak seluruhnya terbuka, namun mereka dapat melihat dengan jelas apa yang terdapat di dalamnya. Lukisan wajah Rukia yang sedang berdiri di tengah taman, mengenakan gaun berwarna oranye pastel, dengan lengan setali, menunjukkan cincin yang sangat indah, bahkan tersenyum pada siapapun yang melihatnya. Namun yang membuat semua orang menjauhi benda itu bukan karena apa yang dilukis, tapi apa yang berbercak di wajah dan sekitar lukisan itu.
Seperti tinta merah, namun orang bodoh sekalipun tau bahwa zat merah itu adalah darah, tersebar di wajah Rukia, di gaun indahnya, di taman indah yang sekarang tampak menyeramkan. Bau anyir darah memenuhi ruang keluarga dalam sekejap, mengirim kengerian itu lagi, dan seketika suara guntur terdengar jauh lebih keras dari sebelumnya.
"Argh!"
Hinamori kembali berteriak saat lampu padam.
"Jangan ada yang bergerak, aku akan menelepon Harribel!" seru Gin yang meraba-raba meja, mencari ponselnya, membuatnya menjatuhkan gelas anggurnya, dan saat mendapatkan ponselnya ia menekan kembali barisan nomor milik Harribel. Tidak ada yang mengangkat, sampai tiga kali ia mencoba barulah ia mendapat jawaban.
"Helli…"
"Saya Mila, Harribel belum kembali dari tadi. Ponselnya masih tertinggal di ruang masak. Saya khawatir." ucap suara yang gemetaran itu.
"Kenapa dia belum kembali?" tanya Gin.
"Saya tidak…"
"ARGHH…!"
Gin mendengar teriakan dari sambungan teleponnya dengan Mila, seketika lampu kembali menyala. Tidak ada seorangpun yang bergerak, saling berpegangan erat, kecuali Ichigo yang membeku ditempat, masih memperhatikan lukisan yang bernoda darah basah itu.
"Ada apa, Mila?" Gin berteriak pada ponselnya, menuntut penjelasan atas teriakan histeris yang baru saja ia dengar.
Terdengar suara gaduh, dan kemudian sambungan telepon terputus.
"Kalian tunggu disini!"
Gin beranjak dari tempatnya, dan mengantongi ponselnya, namun langkahnya dihadang Ichigo.
"Kau mau kemana?" Ichigo menarik bahu Gin hingga tidak bisa berkutik.
"Aku mendengar suara orang berteriak!" seru Gin kesal, keadaan genting begini masih harus menjelaskan sesuatu.
"Aku ikut!" Rangiku yang sudah ketakutan setengah mati berusaha menempel Gin, meminta perlindungan.
"Aku…"
Gin tidak bisa menolak karena semua orang menuntut ikut bersamanya, dengan pertimbangan mereka harus tetap bersama-sama. Gin pun mengiyakan, seringai diwajahnya sudah hilang sama sekali, berganti dengan kekhawatiran.
Gin berlari ke ruang masak, melewati koridor yang memberikan kesan mencekam, sudah seram seperti ini masih ditambah suara guntur yang tiada henti.
Langkah kaki mereka yang berlari membuat gaduh yang menggema terus menerus, dan saat mereka sampai di ruang masak, mereka mendengar isak tangis.
"Mila? Kau dimana?" seru Gin, suaranya bergema di ruangan yang dipenuhi peralatan masak itu.
"Siapa yang melakukannya?" rengek sebuah suara.
Mereka memutar ke bagian belakang ruang masak, kearah datangnya suara tangisan. Suara itu berasal dari ruang sempit yang biasa dijadikan tempat menyimpan karung-karung bahan makanan untuk sementara waktu. Dia mendapati dua orang dengan postur tubuh bertolak belakang itu sedang berlutut dilantai, meratapi tubuh yang terbaring dilantai ruang masak, tubuh yang bersimbah darah.
"Harribel! Apa yang…"
Kalimat Gin terputus, hidungnya mencium bau darah yang sangat kental dan membuatnya mual, mual karena baunya, tapi juga mual karena melihat tubuh Harribel disana. Kimononya terkoyak dibagian perut, darah memenuhi bagian yang terkoyak itu, dan sebuah pisau tergeletak disebelah tubuhnya, pisau bermandikan darah segar, sementara tubuh Harribel terbujur kaku.
.
.
To Be Continue
.
A/N :
Kok aku jadi merinding gini ya?
Sepertinya aku menciptakan plot yang sangat tidak relevan, jadi ini drama atau horror sih genrenya? *tanya saja pada rumput yang bergoyang, dan rumput yang bergoyang akan menjawab… du du du du du- halah gaje banget sih!*
Silahkan reviewnya, aku tunggu selalu kok…
Sampai jumpa di chap selanjutnya…
Keep The Spirit On ^O^
Pojok obrolan author dengan Harribel
Harribel : "Kenapa kemunculanku sangat singkat? Bahkan berakhir mengenaskan seperti itu."
Nakki : "Kau kan sudah merima tawaranku waktu awal aku menanyakan kesediaanmu ikut dalam fict ini."
Harribel : "Tapi aku tidak tau jika seperti ini."
Nakki : "Kalau begitu kembalikan uang kontraknya, dan akan ku hapus kau dari plot."
Harribel : "Berani kau melakukan hal itu? Kau tau siapa aku?"
Nakki menggeleng cepat.
Harribel semakin marah dan menarik pedangnya cepat, pedang sebesar badannya.
Nakki : "Kau mau menyembelih kerbau?" Nakki pasang tampang innocent yang bikin Harribel enek *huek!*
Harribel berteriak keras, marah karena Nakki sudah menyepelekan pedang mengayunkan pedangnya pada Nakki, namun kali ini -Nakki yang sudah terbiasa teraniaya- bisa melarikan diri dengan mulus *syuuuu-larinya secepat motor Rossi*
