GOKON
Neji-Sakura's fic by Park Gyu Mi
Naruto © Kishimoto Masashi
.
.
Chapter 14
.
.
Ketika pertama kali Sai memberitahunya tentang seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya tempo hari, Sakura terkejut. Wanita yang dahulu pernah menjadi anggota tim Sasukesama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya. Awalnya Sakura jelas mengira Sai mungkin salah mengenali orang. Wanita berambut merah tidak hanya seorang di dunia ini, bukan?
Tapi apa yang dilihatnya sekarang menampik segala keraguannya. Wanita itu memang dia.
"K—Karin?"
"Menyenangkan kau masih mengingat namaku, Haruno Sakura," ucapnya dengan seringai di wajahnya, sebelum memasukkan sebutir dango dari tusukan ke dalam mulut. Karin membuat isyarat dengan tangannya agar Sakura duduk.
Sakura memandang kenalan lamanya itu ragu-ragu selama beberapa saat, sebelum memutuskan untuk menerima undangannya untuk bergabung di mejanya. Karin melambaikan tangan memanggil pelayan sementara Sakura duduk.
"Dango untuk dia," Karin memesan, lalu menatap wanita yang duduk di seberangnya, "Dan sake—"
"Tolong ocha saja," Sakura berkata buru-buru pada si gadis pelayan.
Karin memandang wanita di depannya dengan kedua alis terangkat, lalu menyeringai lagi sebelum berkata, "Ocha, kalau begitu."
Sakura bergerak tak nyaman di bangkunya setelah si pelayan pergi untuk mengambilkan pesanannya. Berada dalam satu meja bersama seseorang yang tidak ia kenal dekat, terlebih keberadaan Karin sedikit banyak membawa kembali kenangan menyakitkan akan cinta lamanya, membuatnya merasa amat canggung.
Namun sebaliknya dengan Karin. Wanita itu menampakkan antusiasmenya—walau sedikit—bertemu dengan orang yang ia kenal. Selama beberapa waktu ia hanya mengawasi Sakura dengan sorot keingintahuan di matanya.
"Kau tidak banyak berubah," Karin buka suara, memecah keheningan di antara keduanya, "Masih terlihat sedih seperti dulu. Atau wajahmu memang selalu begitu?"
Sakura mengangkat wajahnya, kendati tidak tahu harus berkomentar apa atas pernyataan Karin. Situasi di mana mereka bertemu memang tidak selalu bisa dibilang menyenangkan. Beberapa tahun yang lalu, saat mereka pertama kali bertemu muka, adalah saat Sakura mencoba membunuh Sasuke—dalam usahanya yang putus asa menyelamatkan pria yang sangat ia cintai itu dari kegelapan yang semakin dalam menelannya—Saat itu Karin menyaksikannya menangis. Karena Sasuke.
Dan sekarang, keadaannya tidak jauh lebih baik dari saat itu.
Sekarang… karena Neji. Meskipun kali ini dirinya tidak menangis seperti dulu.
"Sayang sekali," ucap Karin kemudian, setelah melihat lawan bicaranya tidak kunjung menampakkan tanda-tanda hendak menjawab pertanyaannya. Jemarinya memainkan tusuk dango sejenak sebelum melemparnya ke piring yang sudah kosong. "Padahal wajahmu akan terlihat lumayan kalau tidak semuram itu," ujarnya.
Sakura tersenyum hambar atas kata-kata Karin. "Omong-omong, terimakasih atas pertolonganmu yang waktu itu, Karin. Aku sungguh berhutang budi," ujarnya, jelas-jelas ingin menghindari topik yang hanya akan membuat hatinya sakit. "Mungkin aku sudah mati kalau kau tidak muncul."
"Itu…" Karin terkekeh kecil seraya melambaikan tangannya, seolah-olah menganggap hal itu hanyalah persoalan kecil yang begitu penting. "Anggap saja sebagai balas jasa untuk yang dulu," ujarnya seraya menuang sake ke dalam cawan untuk dirinya sendiri. "Barangkali dulu riwayatku juga sudah tamat di tangan seseorang yang kita tahu kalau kau tidak ada di sana."
Karin mengatakannya dengan nada biasa, seakan kejadian saat itu sama sekali tak berarti baginya. Sakura memang tidak begitu mengenal Karin ketika wanita itu menjadi partner Sasuke setelah lepas dari Orochimaru dahulu, namun beberapa waktu yang telah dihabiskan wanita berambut merah itu tinggal di Konoha pasca serangan Akatsuki cukup bagi Sakura untuk menarik kesimpulan bahwa Karin pernah memiliki perasaan khusus terhadap Sasuke. Perasaan yang entah bagaimana digantikan oleh kemarahan dan rasa jijik—jika dilihat dari cara wanita itu membeberkan pada pihak intel Konoha betapa Sasuke telah memanfaatkan dirinya yang malang—Tampaknya Karin telah melupakan itu semua sekarang. Atau setidaknya, hanya menganggapnya kejadian biasa di masa lalu.
Sementara Sakura, meskipun kenangan itu membuat sebagian kecil hatinya seperti tercubit, berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya lagi. "Kalau begitu kita impas," ucapnya sambil berusaha menyunggingkan senyum setulus yang ia bisa.
"Impas," Karin menyahut, mengangkat cawan sakenya, lalu menenggak isinya hingga tandas.
Perbincangan mereka sejenak disela oleh pelayan yang datang membawakan pesanan Sakura. Karin mengawasi ketika Sakura segera mengangkat cangkir ocha-nya ke bibir dan menghirup isinya, menyadari jemari Sakura yang sedikit bergetar. Senyumnya sudah memudar lagi, digantikan raut muram seperti sebelumnya. Hal itu memperkuat dugaannya bahwa ada yang tidak beres dengan wanita itu semenjak ia melihatnya memasuki kedai. Dirinya tergelitik oleh rasa ingin tahu, namun Karin juga tidak ingin ikut campur. Setidaknya, tidak pada kesempatan pertama.
Ada hal lain yang lebih menggelitik rasa penasarannya sejak pertemuan tak terduga mereka di hutan beberapa hari yang lalu: pria bermata perak yang ada bersamanya waktu itu. Lagipula, setelah melewatkan beberapa tahun berkelana sebagai kunoichi bayaran seorang diri, adalah selingan yang menyenangkan bisa berbincang dengan seseorang yang ia kenal. Barangkali sedikit gosip tentang pria menarik yang memang sangat jarang ia temui bisa mengurangi sedikit rasa bosannya.
"Pria yang saat itu bersamamu," Karin kembali buka suara tak lama kemudian, "Maksudku, saat kau terluka di hutan. Yang berambut panjang dan bermata putih—"
"Hyuuga Neji?" Sakura dengan cepat menyela, setelah menaruh kembali cangkir ocha-nya di atas meja. Dahinya sedikit berkerut mendengar nada penasaran dalam suara Karin terhadap suaminya—dan ia tidak menyukainya.
"Ah, jadi itu namanya?" Senyum di wajah wanita berkacamata itu melebar oleh antusiasme yang lain. Mata ruby-nya berkilat. "Hyuuga, ya? Byakugan… pantas saja…" Karin terkekeh kecil. "Dia punya chakra yang menarik."
"Apa maksudmu?" Sakura tak bisa menahan nada gusar dalam suaranya. Meski begitu tampaknya Karin tidak menyadarinya. Barangkali karena perhatiannya terlalu terpusat pada pria baru yang menarik ini sehingga tidak memerhatikan yang lain.
Karin menghela napas. Bibirnya menyunggingkan senyum menerawang. "Pria dengan chakra menarik dan kemampuan khusus seperti itu tidak boleh dilewatkan begitu saja. Apalagi dia cukup tampan—meskipun tidak setampan Sasuke, tentu saja—Kau pasti setuju denganku."
Sakura tidak menjawab. Melihat wanita lain berbicara tentang suaminya dengan cara seperti yang dilakukan Karin membuatnya tidak tahan. Rasanya ia ingin pergi dari sana saat itu juga. Namun belum sempat ia melakukannya, Karin kembali bersuara,
"Dia temanmu, bukan?"
Sakura segera menyambar pertanyaan ini, "Dia suamiku."
Memenuhi harapan Sakura, Karin tampak terkejut. Namun wanita itu segera dapat menguasai diri. "Wah…" ucapnya dengan nada terkesan dalam suaranya. Ia mengangkat cawan sakenya yang sudah kembali terisi untuk membasahi kerongkongannya sebelum berkata, "Itu… sangat mengejutkan, jujur saja. Kukira kau tipe wanita yang akan menjadi lajang seumur hidup setelah Sasuke—kau tahu maksudku?"
"Hidupku harus terus berjalan, Karin," sahut Sakura dingin, "Aku tidak bisa terus-menerus terikat pada masa lalu."
Karin menelengkan kepalanya, tersenyum atas kata-kata Sakura. "Pemikiran yang menarik," komentarnya. Ia meletakkan cawan sakenya di atas meja, melipat kedua lengannya seraya mengawasi Sakura dengan pandangan tertarik. "Jadi kau memilih pria ini—Hyuuga Neji—untuk menggantikan posisi Uchiha Sasuke? Yah… kulihat mereka memiliki banyak kesamaan—kecuali beberapa hal kecil."
Kata-kata Karin membuat Sakura merasa tidak nyaman. "Neji-san adalah Neji-san, dia bukan Sasuke-kun. Neji-san tidak menggantikan posisi siapa-siapa. Aku menikah dengannya bukan karena dia mirip… Sasuke-kun—sama sekali tidak."
Sakura menghirup ocha-nya dengan susah payah. Tenggorokannya serasa tercekat. Memikirkan masalah yang melanda dirinya dan suaminya, sementara teman bicaranya ini terus-menerus mengingatkannya pada Sasuke, sungguh membuat perasaannya tertekan.
"Oh, baiklah. Aku mengerti," ujar Karin lagi sambil tertawa kecil. "Aku membayangkan sesuatu yang romantis di sini. Hmm…" Wanita itu menaikkan posisi kacamata di hidungnya, lalu mengerutkan dahinya dengan lagak seperti sedang berpikir serius, "Kalian berdua sering melewatkan waktu bersama-sama, melakukan misi berdua atau hal-hal semacam itu, sampai akhirnya benih-benih cinta mulai tumbuh. Kalian saling jatuh cinta. Kemudian kelian merasa tidak perlu menunggu terlalu lama untuk meresmikan hubungan kalian dan memutuskan untuk menikah. Dan sekarang kalian sedang menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia selamanya…" Ia mengakhiri kisah klise rekaannya dengan helaan napas panjang.
Seandainya saja ia bisa membenarkan semua yang dikatakan Karin, Sakura membatin getir, itu pasti menjadi kisah yang sempurna untuk mengawali pernikahannya dengan Hyuuga Neji. Namun sayangnya, bahkan Sakura sendiri tidak yakin bagaimana awalnya dirinya bisa berakhir menikahi pria itu. Ia sama sekali tidak bisa mengingat apa pun kejadian malam itu—malam ketika mereka menikah.
"Aku… tidak tahu," gumam Sakura, lebih pada dirinya sendiri.
Karin mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudmu dengan tidak tahu? Apa dia tidak memperlakukanmu dengan baik? Dia suami yang buruk—"
"Tentu saja tidak!" sahut Sakura cepat. Suaranya meninggi tanpa bisa ia tahan. Mendengar celaan terhadap Neji sama sekali tidak bisa ia tolelir—meskipun ia menyadari perkataan Karin tidak sepenuhnya salah. "Neji-san memang bukan pria paling sempurna di dunia, tetapi dia pria yang baik. Sangat baik… mungkin terlalu baik untukku." Suaranya melemah, seakan Sakura tidak begitu yakin apa yang ia katakan. Wanita itu menundukkan kepalanya, memandang pantulan wajahnya dalam permukaan cairan hijau dalam cangkirnya.
"Aku tidak meragukan itu," Karin menanggapi dengan tenang. "Dia sangat melindungimu saat kau terluka di hutan tempo hari. Dia bahkan tidak mengizinkanku menyentuhmu—setidaknya sebelum aku mengatakan padanya kalau kau bisa mati kalau dia masih keras kepala."
Sakura mengembalikan pandangannya pada Karin dan melihatnya menyunggingkan senyum kecil. Ia teringat pada kata-kata Sai dulu, betapa mereka tidak pernah melihat Neji yang begitu ketakutan seperti saat itu. Tapi benarkah itu yang dirasakan Neji? Apakah Neji sungguh-sungguh takut kehilangan dirinya—seperti yang selama ini Sakura duga, dan membuatnya yakin selama beberapa waktu bahwa suaminya itu mencintainya.
Mengapa sekarang Sakura justru meragukannya? Dengan semua sikapnya yang menunjukkan ketidakpedulian akhir-akhir ini…
"Kupikir tadinya dia hanya kekasihmu atau apa," Sakura bisa mendengar Karin berkata. "Kau tahu, setelah kejadian dengan Sasuke dulu, aku selalu menginginkan seorang pria yang protektif. Dan aku melihatnya dalam diri suamimu." Karin menghela napas keras-keras. "Kalau kalian belum terikat pernikahan, aku bisa saja merebutnya darimu."
"Apa kau selalu berbicara terang-terangan seperti itu?" Sakura berkomentar datar.
Karin terkekeh, mengangkat bahunya. "Dulunya tidak."
Sakura mendengus kecil. "Kurasa bicara terang-terangan lebih baik dari pada main belakang."
"Kata-katamu terdengar sinis, kau tahu?" tanggap Karin sambil melempar pandang heran pada lawan bicaranya.
Sakura tidak menanggapi. Pandangannya kini terarah pada salah satu meja di sudut kedai, mengamati—tanpa benar-benar memerhatikan—sekelompok orang yang sedang bergurau dengan suara keras sambil menikmati kudapan, sementara pikirannya kembali dipenuhi oleh Shion dan Neji. Pembicaraannya dengan Sang Miko… Ekspresi wanita itu ketika ia berbicara tentang suaminya…
Sakura menarik napas dengan susah payah, mencoba menenangkan dirinya dan menepis segala pemikiran yang tidak-tidak tentang mereka.
"Sebenarnya aku ingin bertanya satu hal padamu sejak tadi, Sakura," ujar Karin, memecah keheningan yang lagi-lagi menyusup di antara mereka.
Sakura kembali berpaling padanya, menunjukkan bahwa ia mendengarkan.
"Apa kau masih sering memikirkan Sasuke sampai sekarang?"
Sakura tersentak. Pertanyaan itu menusuknya, membuatnya merasa seperti dipojokkan. Seakan itu belum cukup, kilasan-kilasan adegan dalam mimpi yang selama ini menyiksa dirinya kembali berkelebatan dalam benaknya.
Suara cangkir tembikar yang tiba-tiba pecah mengejutkan hampir semua orang di kedai itu. Berpasang-pasang mata teralih ke meja di mana Sakura dan Karin duduk, terbelalak terkejut. Bahkan Karin pun terkesiap saat melihat Sakura tanpa sengaja memecahkan cangkir dalam genggamannya.
"Ouw…" suara rintihan lepas dari bibir wanita bermata hijau itu. Bukan karena pecahan cangkir yang mengiris kulit di telapak tangannya, atau darah yang menetes-netes dari luka di bagian itu, namun karena nyeri yang mendadak menyerang kepalanya—seperti ditusuk. Tangannya yang tak terluka refleks mencengkeram kepalanya.
"Sakura, kau tidak apa-apa?" seru Karin tampak cemas, melompat bangun dari bangkunya. Tangannya terulur pada Sakura, namun wanita itu menepisnya kasar. Sebelum ia sempat berkata apa pun lagi, Sakura sudah beranjak dari tempatnya dan berlari ke arah pintu, meninggalkan keheningan mendadak yang terjadi di kedai itu.
Karin terhenyak di tempatnya, masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Ia menunduk memandangi pecahan cangkir di atas meja. Setitik noda darah yang bercampur dengan cairan ocha tampak tercecer di sana.
Dengung suara-suara yang berasal dari para pengunjung perlahan kembali memenuhi kedai. Seorang pelayang bergegas menghampiri meja Karin untuk membereskan meja yang berantakan seraya menggerutu tidak senang. Karin mengabaikannya. Pikirannya terlalu disibukkan oleh perilaku aneh Sakura yang semakin membangkitkan rasa penasarannya.
Ada apa dengan perempuan itu?
.
.
Sakura tidak ingat persis apa yang terjadi setelah ia meninggalkan kedai malam itu. Segalanya terasa samar-samar, sementara berbagai macam pemikiran terus berkecamuk dalam kepalanya: semua kesulitan dan kejadian tak menyenangkan yang dialaminya beberapa waktu belakangan, ditambah jarak yang begitu jauh dari Konoha dan teman-temannya, juga dukungan yang tak ia dapatkan dari seseorang yang seharusnya, membuat perasaannya semakin terkekan.
Dan pertemuannya dengan Karin beberapa saat yang lalu sama sekali tidak membantu. Justru membuat kegelisahannya semakin menjadi-jadi.
Ketika akhirnya Sakura tiba di rumah, ia segera berlari ke dapur, satu-satunya tempat yang terpikirkan di mana dirinya bisa menemukan kesibukan untuk mengalihkan perhatiannya dari semua itu. Dengan memasak makan malam—meskipun ia tak yakin suaminya akan pulang lebih awal untuk makan di rumah—ia berharap akan sedikit menghibur hatinya. Akan tetapi tampaknya ia pun tak bisa memfokuskan diri untuk itu.
Putus asa dan marah terhadap dirinya sendiri, Sakura melempar semua masakan gagalnya ke tempat sampah. Ia menjatuhkan tangannya dan merosot di lantai tempatnya menemukan Neji tertidur tempo hari, merasakan semua kegelisahan dan air mata yang selama ini ia tahan kembali menguasai dirinya sepenuhnya.
.
.
Sakura terbangun keesokan paginya oleh perasaan tak nyaman. Tubuhnya terasa kaku dan pegal ketika ia dengan susah payah menarik dirinya duduk. Sakura mengernyit, memandang berkeliling dengan bingung sementara ingatan tentang kejadian malam sebelumnya kembali berputar. Sepertinya semalam ia menangis sampai jatuh tertidur—tetapi Sakura sama sekali tidak ingat kembali ke kamar tadi malam.
Kecuali…
Kepalanya refleks menoleh ke sisi lain ranjang, sisi yang biasa ditempati sang suami. Selintas denyut kekecewaan kembali mengusiknya saat mendapati tempat tersebut kosong. Sakura menghela napas. Memangnya apa yang kuharapkan?
"Aah!"
Baru saja ia hendak bangkit dari ranjang ketika rasa nyeri yang sudah sangat ia kenali mendadak menyerang kepalanya, membuatnya untuk beberapa saat terdistraksi. Lagi-lagi… Namun perhatiannya segera teralih begitu menyadari sesuatu: seseorang telah membalutkan perban di tangannya yang terluka.
Ia tertegun.
"Neji-san…"
.
.
Sakura tidak juga mendapati suaminya ketika ia turun dari kamar tak lama kemudian. Keheningan menyambutnya seperti biasa, hanya diusik oleh suara cicitan burung yang terdengar samar dari arah hutan. Satu-satunya petunjuk bahwa Neji pernah berada di sana adalah dapur yang sudah dalam keadaan bersih. Kekacauan yang Sakura buat semalam sudah tidak tampak lagi. Peralatan masak yang kotor sudah dicuci dan tempat sampah sudah dikosongkan.
Seulas senyum sedih mengambang di bibir Sakura, merasa dirinya istri tidak berguna yang hanya merepotkan suaminya saja. Tidak heran jika Neji meninggalkannya tanpa mengatakan apa-apa pagi ini. Ia bahkan tidak sempat membuatkan sarapan—
Suara-suara dari arah pekarangan belakang rumah mengalihkan perhatian Sakura dari pikiran-pikiran negatif itu. Kelegaan memenuhi hatinya ketika ia mendapati Neji ternyata sama sekali belum meninggalkan rumah. Pria itu bahkan belum bersiap pergi ke istana.
Neji tengah berlatih di pekarangan belakang rumah mereka. Ia mengenakan pakaian training klan Hyuuga, sementara hitaiate absen menutupi segel Bunke di dahinya. Tanda berwarna hijau terang tersebut tampak berkilauan oleh keringat. Betapa pun perlakuan Neji terhadapnya akhir-akhir ini membuat dirinya sakit, namun Sakura tak dapat menahan gelombang kehangatan memenuhi hatinya tatkala melihat pria itu di sana.
Neji menghentikan latihannya dan menoleh ketika menyadari kehadiran sang istri. Ia tidak tampak terkejut. Ekspresinya datar seperti biasa.
"Ohayou, Neji-san," Sakura menyapanya seraya memaksakan senyum, berusaha agar tidak terlihat canggung.
"Aa," Neji menyahut dengan suaranya yang dalam dan tenang. Pria itu berbalik dan berjalan ke arah beranda.
Sakura bergegas mengambil handuk yang diletakkan di lantai kayu itu lalu mengangsurkannya pada Neji yang menggumamkan terimakasih. "Kukira kau sudah berangkat ke istana," ujarnya, mengawasi pria itu menyeka peluh di dahinya.
Neji mengambil waktu untuk duduk di beranda sebelum menjawab, "Shion-sama menyuruhku datang lebih siang."
Senyum memudar dari wajah Sakura saat mendengar suaminya menyebut nama Shion. Ia menunduk, merasakan gelombang kecemburuan menyapu dirinya memikirkan kehadiran sang suami lebih lama di rumah adalah karena permintaan Shion dan bukannya atas keinginannya sendiri—namun Sakura berusaha menepis semua prasangka tersebut.
"Kudengar Shion-sama sering bicara denganmu, Neji-san…" ucapnya kemudian. Suaranya terdengar aneh, bahkan di telinganya sendiri.
Neji menoleh, barangkali merasakan perubahan nada bicara Sakura. Untuk beberapa saat pria itu tidak berkata apa pun, hanya menatap wanita di sebelahnya. "Ya," jawabnya akhirnya. Hanya satu kata singkat dan ia kembali berpaling. Neji sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda ingin memberikan penjelasan apa pun pada Sakura. Pria itu juga tidak menyinggung tentang malam sebelumnya ketika ia menemukan Sakura tertidur di dapur dan tangannya yang terluka—meskipun Sakura yakin sekali Neji yang telah membalut lukanya.
"Aku bertemu dengan Karin saat mengunjungi desa kemarin—Kau ingat dia, bukan?" Sakura berkata lagi seraya menengadah memandang suaminya, memaksakan diri agar terdengar lebih ceria. "Walaupun kami dulu tidak pernah dekat, tapi aku senang bisa bertemu dengan orang yang kukenal di sini," lanjutnya, setengah berbohong.
"Kalian pasti mengobrol banyak," komentar Neji.
Entah hanya perasaan Sakura saja atau nada bicara pria itu terdengar agak sinis.
"Tidak juga," jawab Sakura, teringat percakapannya dengan Karin yang tidak bisa dibilang menyenangkan, "Kami hanya berbincang sebentar saja."
"Begitu."
Keheningan tak nyaman menyusup di antara mereka. Tanggapan dingin dari Neji membuat Sakura untuk beberapa saat tidak tahu harus berkata apa. Ia lantas mengamati Neji diam-diam dari sudut matanya. Wajah pria itu terlihat tegang, rahangnya mengeras sementara kedua matanya menatap jauh ke dalam hutan. Kerutan samar tampak di antara kedua alisnya. Ekspresinya seakan ia sedang berpikir keras tentang sesuatu.
"Ada sesuatu yang mengganggumu… Neji-san?" Sakura bertanya ragu.
Neji seperti baru tersadar. "Tidak," sahutnya tanpa memandang Sakura, kemudian beranjak dari duduknya, "Aku harus pergi sekarang."
Sebelum Sakura sempat berkata apa pun lagi, Neji sudah berbalik masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian ia mendengar langkah kaki suaminya menaiki tangga. Sakura menatap kosong tempat di mana pria itu beberapa saat yang lalu berada, tertegun.
Tidak apa-apa… —Sakura memalingkan pandangannya ke arah lain dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Lalu ia pun beranjak menyusul Neji masuk ke dalam rumah untuk melakukan tugasnya: membuat sarapan.
Waktu sarapan pun mereka lewatkan dengan kecanggungan yang sama. Terkadang Sakura berharap Neji akan mengatakan sesuatu untuk mengomentari masakannya, sekedar untuk mencairkan suasana yang kaku. Namun ia tahu itu hanya harapan yang sia-sia. Neji tidak akan melakukannya kecuali jika Sakura yang bertanya langsung padanya—tidak seperti Naruto yang tanpa malu-malu selalu memuji masakan Hinata. Ah, betapa irinya Sakura pada kehidupan rumah tangga saudarinya yang harmonis itu—Namun respon dingin yang ia dapatkan sebelumnya membuatnya ragu untuk memulai perbincangan dengan sang suami. Ia cemas tidak akan bisa menahan diri. Maka Sakura memilih untuk diam.
Sampai Neji sendiri yang memecah keheningan dengan menanyakan tentang luka sayatan di tangan Sakura, bagaimana Sakura bisa mendapatkan luka itu.
"Oh, ini hanya kecelakaan kecil," sahut Sakura agak terlalu bersemangat. Melihat Neji menunjukkan sedikit perhatian memunculkan kembali harapannya, meski tentu saja ia tidak bisa berkata jujur mengenai alasan yang sebenarnya, "Aku terlalu ceroboh saat memasak kemarin. Kurasa belakangan ini aku sedikit kelelahan."
Neji hanya memandangnya dari seberang meja makan, tidak mengatakan apa pun. Maka Sakura melanjutkan, diiringi seulas senyum tulus, "Terimakasih sudah membalutkan lukaku, Neji-san. Sepertinya aku selalu merepotkanmu, ya?"
"Aa." Neji menyudahi sarapannya dan beranjak dari bangku. Kata-kata berikutnya yang meluncur dari bibir pria itu membuat senyum Sakura memudar seketika. "Kupikir keputusanmu dulu untuk mengikutiku kemari kurang bijaksana, Sakura. Kau semakin ceroboh dan instingmu sebagai shinobi menjadi tumpul. Itu merugikan dirimu sendiri."
"Neji-san…"
Neji mengabaikannya. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya—setumpuk lembaran uang—dan meletakkannya di meja, tepat di depan Sakura. Tanpa mengatakan apa pun lagi pada istrinya, ia pergi meninggalkan ruangan.
Sakura memandangi uang yang ditinggalkan Neji di atas meja dengan mata memanas, sementara dirinya bergelut dengan rasa sakit dan kecewa yang disebabkan oleh kata-kata pria itu. Mengapa Neji sampai hati berkata seperti itu padanya? Setelah apa yang mereka jalani dan kerelaan Sakura melepas semua yang ia miliki demi pria itu…
Dan demi Kami-sama, semua itu tidak ia lakukan demi mendapatkan uang!
.
.
Menjelang tengah hari, sesosok wanita asing dengan rambut merah menyala yang diikat menjadi buntut kuda di belakang kepalanya, terlihat menelusuri jalanan lengang menjauhi pusat desa seorang diri. Wanita itu jelas bukan penduduk asli daerah itu, jika dilihat dari caranya berpakaian yang sangat berbeda dengan penduduk kebanyakan—yang sebagian besar menggunakan pakaian tradisional—dan dari reaksi orang-orang yang melihatnya.
Meski begitu, tampaknya wanita tersebut tidak asing lagi dengan wilayah itu. Langkahnya penuh percaya diri seakan sudah tahu ke mana tujuannya—padahal jelas ia belum pernah melewati jalanan itu sebelumnya. Sudut bibirnya terangkat ketika akhirnya sampai di tempat yang menjadi tujuannya. Sebuah rumah yang beberapa waktu yang lalu pernah ia kunjungi dalam sebuah kesempatan yang sebenarnya kurang menyenangkan. Tapi itu tidak penting lagi sekarang.
Sejenak matanya mengamati sekeliling halaman rumah yang terbilang cukup luas. Di salah satu sudut terdapat sebuah kebun kecil yang ditanami sayur-sayuran dan tanaman obat. Tumpukan dedaunan kering yang tampak teronggok di antara petak-petak kebun tersebut menunjukkan bahwa pemiliknya tidak begitu mengurusnya—setidaknya dalam satu dua hari belakangan.
Perhatiannya lalu tertuju pada bangunan utama. Suasananya terlalu sunyi, seakan-akan tidak berpenghuni. Semua pintu tertutup rapat, hanya jendela besar di lantai dua yang tampak terbuka lebar—jendela kamar utama. Meski begitu Karin bisa merasakan penghuninya. Tepatnya, ia bisa merasakan chakra penghuninya, walaupun samar-samar.
Ia kemudian melangkah ke beranda, mengetuk pintunya keras-keras. Tidak ada jawaban dari dalam rumah selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia mendengar langkah kaki mendekat dan pintu menggeser terbuka.
Seraut wajah muram dengan sepasang mata hijau yang tampak redup milik seorang wanita muda mengintip keluar. Mata itu melebar, menampakkan ekspresi terkejut ketika melihat siapa yang bertamu. Namun hanya sesaat sebelum ekspresinya berubah dingin.
"Karin," suara yang terdengar sedikit serak meluncur dari bibir wanita itu.
"Konichiwa!"
Sakura membuka pintu lebih lebar, dan kini Karin bisa melihat lebih jelas pada sosok sang nyonya rumah. Wanita itu masih belum banyak berubah seperti hari sebelumnya—masih terlihat sama muramnya, juga sorot matanya yang seperti terbebani sesuatu. Bahkan rambut merah muda panjang yang terjurai di sisi wajahnya tidak mampu mencerahkan penampilannya, yang entah bagaimana membangkitkan perasaan iba yang sangat jarang ia rasakan.
"Kukira kau orang lain," ujar Sakura, masih dengan nada dingin—dan muram—yang sama. Sepertinya ia belum melupakan pembicaraan tidak menyenangkan dengan sang tamu hari sebelumnya. "Ada perlu apa kemari?"
"Apa begitu caramu menyambut tamu, eh?" Karin menyeringai kecil, mencoba menggoda lawan bicaranya.
Sakura menjawab datar, "Tergantung. Tidak biasanya ada orang asing yang datang kemari."
Wanita berambut merah di hadapannya tersebut mendengus tertawa. "Jelas sekali…" gumamnya.
"Apa maumu, Karin?" tanya Sakura, mengabaikan perkataan Karin sebelumnya, "Dan bagaimana kau bisa sampai di sini?"
Karin berkacak pinggang. Kedua alisnya terangkat tinggi. "Kau lupa, ya? Aku pernah kemari sebelumnya—Oh, yah, aku lupa kau dalam keadaan tidak sadar waktu itu—Lagipula aku adalah ninja tipe sensor, kalau kau belum tahu. Aku bisa pergi ke mana pun, atau mengikuti siapa pun asalkan aku bisa merasakan chakra-nya."
Sakura mengernyit. "Maksudmu kau mengikutiku?"
"Tidak. Aku mengikuti Hyuuga Neji," sahut Karin. Beberapa saat ia menampakkan raut serius di wajahnya, namun kemudian ia terkekeh kecil—terlebih ketika melihat ekspresi Sakura—"Apa kau sungguh-sungguh berpikir aku berniat merebut suamimu, eh? Aku tidak serendah itu, Sakura."
Sakura tidak menjawab.
"Baiklah," Karin menghela napas keras-keras, "Aku minta maaf kalau gurauanku mengganggumu. Juga untuk yang kemarin." Wanita berkacamata itu terdiam sejenak, dan setelah dilihatnya Sakura tidak menunjukkan gelagat menjawab, ia lantas melanjutkan, "Dengar, aku datang kemari tidak ada niat buruk—kalau pun ada aku tidak akan memberitahumu—Anggap saja ini sebagai kunjungan kecil dari seorang kenalan lama. Demi masa lalu. Lagipula kurasa kau benar-benar membutuhkan teman bicara. Bagaimana?"
Sakura tidak langsung menjawab. Ia memandang Karin dengan bimbang. Sudah lama sekali ia tidak memiliki teman wanita yang bisa diajaknya berbicara. Seorang wanita dewasa—dan dalam kondisinya yang sekarang, Sakura merasa sangat membutuhkannya. Walaupun ia merasa Karin tidak cukup cocok dengannya seperti halnya Ino atau Hinata.
Tak lama kemudian, Sakura sudah mengambil keputusan. Ia menggeser pintu membuka lebih lebar, lalu menyingkir untuk memberi jalan. "Masuklah."
Senyum Karin melebar.
.
.
Bersambung…
.
.
Rencananya chapter ini akan dibuat lebih panjang, tapi mengingat akan jadi sulit mecah scene-nya kalau dipanjangin, jadi aku cukupkan segini aja. Yah, aku tau kok kalau banyak yg nganggep konfliknya jalan di tempat. Tahan aja deh nerima kritik kaya gitu. Bukannya aku gak mau dengerin kritikan, hanya saja gak bisa ngubah plot yg dari awal udah disusun—yg emang ber-pace lambat. Aku pinginnya sih emosi dari konflik (yg kebanyakan konflik batin—dan aku payah banget dalam hal ini, gak kaya para senpai) dibangun sedikit-sedikit—Jatuhnya aneh nantinya. (Ini juga udah aneh)
Dan maaf gak bisa apdet cepat. Author bukan mesin tik otomatis. ^^a
