Another Woman
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Rating : T+
Warning : AU! Typo(s), agak nganu/?
.
Enjoy guise~
.
.
Suasana bar masih sama seperti biasanya, meski Kiba sudah beberapa tahun belakangan menginjakkan kakinya di sini. Mungkin karena sudah terlalu nyaman, Kiba jadi tidak mau berpindah ke bar lain. Meski ada kemungkinan dia akan bertemu Matsuri lagi, ia tidak peduli, yang penting adalah hasratnya untuk melupakan segala masalah yang ada bisa terpenuhi.
Kalau beruntung, Kiba bisa menemukan perempuan lain lagi untuk diajak mengobrol. Seperti malam ini. Ia dapat satu perempuan yang sedari tadi memandanginya dari kejauhan, dan ia langsung saja memanggilnya untuk mendekat.
Persetan dengan patah hati. Dengan wajah tampannya ini, Kiba bisa mendapatkan puluhan perempuan untuk diajak tidur. Lagipula tidur dengan bergonta ganti pasangan bukan masalah yang besar, karena keesokan paginya ia akan melupakan semua orang. Ia tidak akan merasa terlalu bersalah setelahnya.
Entah benar-benar sudah melakukannya atau belum, atau hanya sekedar tidur bersebelahan saja, ia tidak ingat.
Sesungguhnya inilah lubang besar lain yang menggerogoti hidupnya, memori yang hilang akibat terlalu banyak menenggak alkohol.
"Malam, tampan." Si perempuan menampilkan senyum paling menawannya.
"Malam, kau baru pertama kali ke sini?"
Si perempuan menggeleng. "Sudah beberapa kali, memangnya kenapa?"
Kiba menopangkan tangan kiri pada dagunya, ia memandangi wajah perempuan cantik itu lekat-lekat. "Aku sudah lama main ke sini dan baru melihatmu malam ini. Bagaimana bisa aku melewatkan bidadari seindah dirimu?"
Si perempuan tertawa, tangan lentiknya menutupi bibir agar nampak elegan. "Aku pernah melihatmu di sini kok, dengan perempuan. Mungkinkah dia pacarmu? Kenapa kalian tidak ke sini bersama?"
Tangan Kiba terulur untuk merapikan helaian rambut si gadis yang menjuntai ke depan, hampir menutupi wajahnya.
"Tidak, dia bukan pacarku. Hanya kenalan saja."
"Oh, kau rupanya suka berkenalan dengan banyak orang." Si gadis tersenyum lagi, bibirnya yang merah diakui Kiba membuatnya terpana.
"Lalu siapa namamu?"
"Aku Tenten, kau sendiri?"
Kiba terkekeh singkat. "Kiba. Namaku setampan wajahku, bukan?"
Tenten menepuk pundak Kiba sambil terkekeh juga. "Iya, kau memang tampan, tapi sayang masih sendirian saja."
Alis Kiba naik satu saat menyaksikan sendiri tangan Tenten menelusup ke tangannya, minta digenggam.
"Lihat, tangan kita cocok. Tangan kecilku sangat cocok berada di genggamanmu yang besar."
Kiba mengangkat tautan tangan mereka, menatapnya dalam diam. Jujur saja ia tidak tahu cara memperlakukan wanita dengan baik, tapi ia ingin membuat wanita di hadapannya ini terbuai oleh sikap manisnya, jadi segera diciumnya tangan mulus itu.
"Tenten..." Gumamnya lirih.
"Hmm?" Tenten yang baru minum menoleh lagi, merasa dipanggil.
"Tidak, hanya ingin memanggil namamu saja."
Tanpa sadar ucapan Kiba membuat Tenten berdebar sendiri. Ini terlalu manis. Kiba terlalu manis.
Mereka diam sambil menatap satu sama lain. Kiba kembali mengulurkan tangannya untuk membenahi surai kecokelatan Tenten agar tidak menutupi wajah. Lama Kiba melakukan hal itu berulang-ulang, sampai akhirnya ia tidak tahan pada bibir merah yang sedari tadi memanggil-manggil minta dicicipi.
Tangan yang sedari tadi masih berada di atas kepala Tenten tidak ia sia-siakan, jemarinya merambat ke belakang kepala dan menarik perempuan itu ke dalam sebuah ciuman.
.
.
.
Kiba mendongak memandangi Ino yang duduk di sofa sambil memegang remote tv, ia sendiri duduk di karpet bawah.
"Apa?" Ino tidak tahan lagi ditatapi sedari tadi.
"Aku ingin bicara sebentar, tapi kau kelihatan serius sekali menonton acara balapan."
Ino mematikan televisinya. "Baiklah, kau boleh bicara."
"Kenapa dimatikan? Aku hanya akan bicara sebentar."
"Pembalap jagoanku tidak akan menang, jadi tidak menarik."
Mendapat persetujuan untuk bicara, Kiba lantas naik ke sofa di ruang tamu milik tetangganya ini dan duduk berhadapan dengan Ino. Kaki mereka berdua sama-sama dinaikkan, ditekuk menyila.
"Bicara apa?"
"Ku rasa kau tahu apa yang ingin ku bicarakan denganmu." Kiba menatap Ino penuh selidik.
"Soal apa?"
"Hei, aku ini tidak bodoh. Semalam aku pergi ke bar dan menemui gadis lain. Tapi kenapa aku bisa berakhir di kamarku sendiri."
Ino melotot tidak terima. "Kau menuduhku? Atas dasar apa?"
"Begini Ino. Aku ingat sekali dia mengajakku ke hotel, dan aku menerima tawarannya. Jadi daripada berada di rumah, ku rasa aku seharusnya bangun di hotel, dan masih ada perempuan itu di sampingku."
Ino menghela napas kesal. Sampai kapan ia harus mendengar cerita Kiba dan dayang-dayangnya yang entah siapa saja dan ada berapa itu. Ino muak, selama ini dia sudah diam, tapi rupanya Kiba tidak pernah mencoba memahaminya sedikitpun.
"Kau tidur lagi dengan perempuan? Siapa lagi kali ini? Apa dia mengaku sebagai calon tunanganmu?" Balas Ino sarkastik.
Kiba menggigiti kuku jarinya, ia ragu harus bicara lebih lanjut atau tidak, karena bisa dilihat sekarang ini kalau Ino sedang kesal.
Mungkin Ino kesal karena tahu Kiba masih saja mabuk-mabukan.
"Tidak Ino, aku bersungguh-sungguh. Dia perempuan baik kok."
"Kau mabuk saat diajak ke hotel? Dia mabuk juga?"
Kiba hanya mengangguk lemah. Ia sendiri tidak begitu yakin dengan keadaan Tenten tadi malam. Yang ia tahu dirinya memang mabuk, bahkan sampai muntah di depan bar.
"Perempuan baik mana yang mengajak pria asing ke hotel?"
Kiba tersentak atas kalimat Ino. Ia ingin menangis rasanya. Kali ini Kiba merasa bersalah, entahlah, mungkin tiap kali dijelaskan kesalahannya oleh Ino, Kiba akan selalu sedih dan merasa bersalah.
Tapi itu hanya sebentar, dan Kiba akan lupa lagi setelahnya. Situasinya akan kembali lagi seperti semula, ia akan mabuk dan membawa pulang perempuan lagi.
"Dengarkan aku dulu Ino. Aku punya masalah yang harus diselesaikan di sini. Oke, aku memang sering mabuk-mabukan dan aku bersalah atas itu. Tapi, tidakkah kau sendiri berpikir ini aneh? Kenapa aku bisa masuk ke dalam rumah sementara aku mabuk?"
"Kau memberikan alamatmu ke gadis itu, mungkin?"
Kiba memutar otaknya, mencoba mengingat kembali. Tapi memori itu hilang, seakan tidak mau diraih.
"Ya, mungkin saja. Tapi bagaimana dia membuka pintuku? Bukankah itu pasti kau yang membantunya membukakan pintu?"
Ino melemparkan bantal ke wajah Kiba saking kesalnya. "Aku sudah bilang tidak mau mengganggu waktu berharga kalian, jadi aku tidak keluar."
"Tapi dia tidak punya kunci rumahku, Ino."
Ino mendelik. "Lalu kau pikir aku punya?"
"Aku pernah memberimu kunci cadangan tahun lalu." Kiba masih bertahan pada pendapatnya, berharap Ino mau jujur soal kejadian yang membuatnya pusing ini.
Tidak mungkin kan ada hantu yang selalu mengantarkannya pulang tiap malam?
"Sudah hilang. Lagipula, apakah menurutmu masuk akal kalau gadismu itu punya begitu banyak waktu untuk mampir ke rumah tetanggamu dan meminta kunci cadangan, sementara di sampingnya ada si tuan rumah yang sedang kehilangan kesadaran?"
Ino menyilangkan tangan di depan dada. "Dan juga... bagaimana dia tahu kalau aku punya kunci cadangan atau tidak?"
Kiba menggaruk kepalanya, berpikir lagi-lagi Ino selalu menang setiap kali mereka berdebat. Ini tidak adil karena suara yang Kiba sampaikan selalu kalah, dan berakhir tidak mendapat solusi. Terutama soal para wanita yang ia tiduri.
.
.
.
TBC
